Dewan Redaksi SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Editor in Chief Yeni Asmara. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Section Editor Ira Miyarni Sustianingsih. Hum (Universitas PGRI Silampar. Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Sariyatun. Pd. Hum. (Universitas Sebelas Mare. Prof. Kunto Sofianto. Hum. Ph. (Universitas Padjadjara. Dr. Umasih. Hum. (Universitas Negeri Jakart. Administrasi Dr. Viktor Pandra. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dr. Doni Pestalozi. Pd. (Universitas PGRI Silampar. Dewi Angraini. Si. (Universitas PGRI Silampar. Alamat: Jl. Mayor Toha Kel Air Kuti Kec. Lubuklinggau Timur 1 Kota Lubuklinggau 31626 Website: http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index Email: jurnalsindang@gmail. SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH Vol. 7 No. 2 (Juli-Desember 2. Halaman Dewan Redaksi . Daftar Isi . Prasasti Batu Gong : Studi Historis Peninggalan Sejarah Lokal Jember yang Terbengkalai Septian Andi Cahyo. M Agus Gunawan. Moch Lukman Hakim. Ilfiana Firzaq Arifin . Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau Agus Susilo. Warto . Penerapan Model Problem Based Learning Berbatuan Wordwall Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Sejarah Hasanah. Hudaidah. Wardiyah . Analisis Kedudukan Sejarah dalam Studi Hadis dan Ilmu Hadis Ainun Nuriyah R. Zaahidah Aufaa A. Nurwadjah Ahmad. Dendi Yuda S . Analisis Tari Silampari Kayangan Tinggi (Studi Etnografi Di Kota Lubuklingga. Isbandiyah. Supriyanto . Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 38-42 ISSN-P: 2684-8872 ISSN-E: 2623-2065 PRASASTI BATU GONG : STUDI HISTORIS PENINGGALAN SEJARAH LOKAL JEMBER YANG TERBENGKALAI Septian Andi Cahyo1. M Agus Gunawan2. Moch Lukman Hakim3. Ilfiana Firzaq Arifin4 Universitas PGRI Argopuro Alamat korespondensi: septianac2020@gmail. Diterima: 11 September 2024. Direvisi: 05 2025. Disetujui: 13 Juli 2025 Abstract Local history is a branch of history that is interesting to discuss the culture or history of a One of Jember's local historical relics is the stone gong inscription. The Batu Gong Inscription is located in Kaliputh. Rambipuji District. This inscription is thought to have existed since the 7th Ae 8th century AD. This inscription was discovered by Dutch archaeologist Stutterheim and H. Heekeren in 1933. The aim of this research is to analyze the various factors that caused this inscription to receive less attention and outline the historical context of the Batu Gong inscription in the development of local Jember history which reflects the culture and traditions of the community at that time. This research uses literature, observation and interview methods. Factors in which the stone gong inscriptions have been neglected are lack of attention from the government and society, lack of promotion and education, as well as lack of coordination and governance. It can be seen from the literature that the role of government and society is very necessary. The government can be a motivator, facilitator and dynamist in preserving the Batu Gong Inscription. Keywords: Batu Gong Inscription. Local History. Neglected Factors. Rambipuji Abstrak Sejarah lokal merupakan salah satu cabang ilmu sejarah yang menarik untuk didiskusikan mengenai kebudayaan ataupun sejarah dari suatu wilayah. Salah satu peninggalan sejarah lokal Jember adalah prasasti batu gong. Prasasti Batu Gong berlokasi di Kaliputh. Kecamatan Rambipuji. Prasassti ini diperkirakan ada sejak abad 7 M Ae 8 M. Prasasti ini ditemukan oleh arkeolog Belanda W. Stutterheim dan H. Heekeren pada tahun 1933. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk untuk menganalisis berbagai faktor yang menyebabkan prasasti ini kurang mendapatkan perhatian dan menguraikan konteks historis prasasti batu gong dalam perkembangan sejarah lokal Jember yang mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat pada masa itu. Penelitian ini menggunakan metode literatur, observasi, dan wawancara. Faktor terbengkalainya prasasti batu gong adalah kuranngnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat, kurangnya promosi dan edukasi, serta kurangnya koordinasi dan tata kelola. Dapat diketahui dari literatur bahwa peran pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah dapat menjadi motivator, fasilitator, dan dinamisator dalam pelestarian Prasasti Batu Gong. Kata Kunci: Prasasti Batu Gong. Sejarah Lokal. Faktor Terbengkalai. Rambipuji http://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JS/index SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 38-42. PENDAHULUAN Kabupaten Jember merupakan wilayah dengan berbagai sejarah dan budaya yang terletak di ujung selatan Pulau Jawa. Dikelilingi oleh keindahan alam yang memukau, seperti perbukitan hijau, pantai. Berabad-abad peradaban di Jember terus mengalami perkembangan yang berkisar dari masa prasejarah hingga zaman sejarah baik di zaman purbakala, zaman kerajaan maupun pada zaman kolonial hingga pada zaman Hal tersebut mencerminkan perjalanan yang panjang dari kerajaan lokal hingga pengaruh kolonial Belanda yang kuat. Menurut Sidi Gazalba, secara etimologi kata sejarah berasal dari bahasa Arab AuSyajarahAy yang artinya adalah AuPohon KayuAy. Istilah tersebut mengandung keterkaitan dengan Syajarah al-nasab yaitu pohon genealogis yang saat ini bisa disebut sejarah keluarga . amily histor. Dalam pengertian lain syajara memiliki arti to happen, to accur, to develop artinya sesuatu yang akan terus terjadi dan berkembang (Tohir dan Sahidin, 2. Sehingga terjadinya suatu peristiwa dari akar hingga berbagai kejadian atau rekam jejak yang terus berkembang seiring berjalannya zaman (Sukmana, 2. Sejarah sebagai konstruksi masa lalu memerlukan sumbersumber sebagai bukti aktivitas manusia yang membentuk karakter suatu zaman tertentu (Widuatie, 2. Sejarah lokal merupakan salah satu cabang ilmu sejarah yang menarik untuk ataupun sejarah dari suatu wilayah. Sejarah lokal bisa disebut sebagai local history, community history, ataupun neighberhood history (Mareta dan Jamil. Seperti yang kita ketahui bahwa Jember mempunyai jejak sejarah yang beragam dan menarik. Salah satu peninggalan yang ada di Kabupaten Jember adalah Prasasti Batu Gong. Adanya prasasti berkaitan dengan kerajaankerajaan lokal yang ada pada masa lampau. Hal tersebut menjadi tanda adanya kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat sekitar pada zaman tersebut (Suryadi, 2. Penemuan prasasti pada beberapa situs arkeologi menjadi tanda akhir dari zaman prasejarah yaitu babakan pada sejarah kuno yang masyarakatnya masih belum mengerti tulisan (Sukatno. Dalam pengertiannya prasasti adalah suatu dokumen yang dikaitkan dengan tulisan pada benda atau bahan yang keras seperti pada batu nisan. Kata prasasti memiliki arti sebenarnya AupujianAy yang berasal dari bahasa Sansekerta. Namun seiring berkembangnya waktu pada golongan arkeolog prasasti disebut sebagai inskripsi sedangkan di kalangan orang awam prasasti disebut sebagai batu tertulis atau batu bersurat (Sukatno et al. , 2. Pada saat ini masyarakat menggunakan tulisan pada batu sebagai tanda pembukaan atau peresmian suatu proyek pembangunan. Penemuan Prasasti Batu Gong yang ada di Jember berlokasi di Kaliputih. Rambipuji. Lebih tepatnya di kanan jalan yang menuju ke arah Balung. Prasasti tersebut diletakkan di sebuah pondok kecil milik Perhutani (Jawapos, 2. Pada prasasti tersebut Parvvateswara yang mengandung arti Dewa Gunung. Adapun maksud Dewa Gunung adalah simbol Siwa yang diperkirakan kronis pada tahun 650-750. Prasasrti Batu Gong diasumsikan oleh para sejarawan sebagai prasasti tertua di Jember (Farhan. Kondisi Prasasti Batu Gong yang ada di Kaliputih dulunya banyak dikunjungi oleh masyarakat sebagai AuPra Wisata Gumuk GongAy. Menurut masyarakat setempat prasasti tersebut awalnya ada di bukit. Keberadaan Batu Gong tersebut bermanfaat (Kompasiana, 2. Sejarah dan warisan budaya selain menghasilkan profit juga dapat meningkatkan daya tarik daerah (Kinanti et al. , 2. Namun, seiring bertambahnya tahun keberadaan prasasti batu gong semakin Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat setempat (Permatasari et al. , 2. Kurangnya promosi terkait wisata menyebabkan masyarakat masih sedikit yang mengetahui keberadaan suatu cagar budaya. Jadi permasalahan yang dihadapi adalah terkait kurangnya koordinasi dan tata kelola dari berbagai pihak sehingga kondisi situs yang ada di kabupaten Jember menjadi terbengkalai (Hariyadi et al. , 2. Berdasarkan permasalahan terkait kondisi prasasti batu gong saat ini maka dapat dianalisis penyebab ataupun faktor terbengkalainya prasasti batu gong. Adapun tujuan daripada penelitian ini yaitu untuk mendapatkan perhatian dan menguraikan konteks sejarah atau historis prasasti batu gong dalam perkembangan sejarah lokal Jember yang mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat pada zaman itu. Septian Andi Cahyo. M Agus Gunawan. Moch Lukman Hakim. Ilfiana Firzaq Arifin. Prasasti Batu Gong : Studi Historis Peninggalan Sejarah Lokal Jember yang Terbengkalai Metode Penelitian Metode penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode studi literatur, observasi, dan wawancara. Metode studi literatur dilakukan dengan menganalisa dan menelusuri berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti jurnal, buku, artikel ilmiah, baik cetak maupun elektronik yang dapat mendukung untuk memperoleh landasan teoritis yang kuat terkait asal usul dan sejarah prasasti batu gong. Kemudian melakukan observasi langsung ke tempat prasasti batu gong yang ada di Kaliputih untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui kondisi secara langsung sehingga data empiris yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi Selanjutnya, melakukan wawancara dengan masyarakat sekitar atau informan mendapatkan informasi yang lebih detail dan perspektif subyektif yang dapat memperkaya data analisis. Dengan demikian adanya kombinasi dari ketiga metode tersebut diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang lebih valid dan reliabel. Pembahasan Sejarah Prasasti Batu Gong Menurut Himansu Bhusan Sarkar pakar Epigrafi asal India berpendapat bahwa Prasasti Batu Gong di Jember lebih tua prasasti-prasasti Purnawarman di Jawa Barat. Hal tersebut dapat terlihat dari aksara Pallawa yang ada di Prasasti Batu Gong (Sarkar, 1. Negeri Medang Kamulan merupakan sebuah kerajaan Hindu pertama di jawa pada masa purba. Pada abad VII Medang Kamulan mengalami kejayaan. Saat masa pemerintahan Raja Sanna budaya menulis mulai berkembang dan kehidupan di Medang-Mataram amat sangat damai dan Ia juga sangat menghormati negeri leluhurnya di Duplang KamalPandhak (Sukatman dan Siswanto, 2. Dalam sebuah artikel lain disebutkan bahwa prasasti Batu Gong berkaitan dengan Blambangan dan Mataram Kuno. Dalam kajian Duplang Kamal-Pandhak terdapat sebuah narasi tentang daerah swatantra yang saat ini disebut daerah Konon katanya Duplang KamalPandhak adalah sebuah kisah suci tentang negeri atau daerah swatantra yang dibentuk oleh penemu kalender tahun Nusantara mulai melek huruf. Pusat pemerintahan saat itu berada di daerah pegunungan Ijen dan gunung Argopuro. Adanya penetapan daerah swatantra terus berlanjut pada Mataram Kuno dengan dibentuklah prasasti batu gong di Kaliputih. Rambipuji sebagai pembatas 40 Konon katanya masyarakat Mataram mengganggap bahwa negeri Blambangan berada di . sungai dan secara politik dan budaya tidak termasuk Jawa atau Mataram. Dalam hal ini, negeri Blambangan disebut sebagai negeri sabrang yang kemudian penduduknya disebut orang Using. Beberapa daerah yang termasuk Blambangan Raya Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Jember meliputi desa Mbeteng. Kemiri. Glundengan dan beberapa desa di Kecamatan Puger, desa Blendungan di Kabupaten Bondowoso, desa Patoan di Situbondo. Yosowilangundi Lumajang, dan desa Winongan di Kabupaten Pasuruan (Suhalik, 2. Penemuan Prasasti Batu Gong Wilayah tapal kuda di Jawa Timur megalitikum, antara lain Kabupaten Bondowoso. Jember, dan Situbondo. Penemuan dengan tipe watu kenong paling banyak ditemukan dibandingkan dengan temuan megalitikum lainnya. Watu gong di daerah tapal kuda memiliki sedikit kesamaan dengan watu gong yang ada di Situs Watugong Malang (Alghifari et al. Sebutan lain dari batu gong yaitu Auwatu kenongAy atau juga ada yang menyebut dengan Auwatu bonangAy. Sebutan tersebut merujuk pada alat musik gamelan yang biasa digunakan oleh masyarakat ( Cahyono. Namun Batu Gong yang ada di Kaliputih termasuk kedalam sebuah prasasti karena terdapat sebuah tulisan Aksara Pallawa. Prasasti Batu Gong yang terletak di Rambipuji kaliwates atau sungai pembatas. Sungai pembatas yang di maksud adalah Kaliputih. Prasasti Batu Gong ini ditemukan oleh seorang arkeolog yang berasal dari Belanda yaitu W. Stutterheim dan H. Heekeren pada tahun 1933. Penemuan tersebut di dokumentasikan dan dituliskan dalam sebuah buku berjudul AuOudheidkundige Aanteekeningen XLVI: De Oudste Inscriptie Van Oost-JawaAy. Artinya adalah AuPada masa itu. Indonesia masih dalam kuasa BelandaAy. Prasasti Batu Gong memiliki tinggi 120 cm dan panjang 170 cm dengan bidang dasar berbentuk lingkaran yang berdiameter antara 60 Ae 65 cm. Letak prasasti tersebut berada di kanan jalan menuju ke arah Balung yang tidak jauh dengan pertigaan lampu merah Kaliputih. Deskripsi dan Signifikansi Budaya Prasasti Batu Gong Prasasti Batu Gong merupakan bukti penting dari peradaban masa lalu di Jawa Timur yang memberikan wawasan tentang kehidupan masyarakat pada masa itu. Prasasti ini merupakan sumber informasi yang berharga bagi para sejarawan, arkeolog, dan peneliti dalam mempelajari sejarah bahasa dan budaya masa lalu. SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. Vol. No. 2 (Juli-Desember 2. : 38-42. Menurut warga masyarakat setempat prasasti batu gong biasa digunakan oleh orang-orang tertentu untuk melakukan sebuah ritual atau sebuah penghormatan kesejahteraan hidup. Sebelumnya batu gong berada di atas bukit namun konon digulingkan dan dikubur agar tidak terjadi kultus ritual yang berlebihan karena pada masa itu masyarakat mudah tersulut terkait SARA. Kemudian Pada Batu Gong tidak jarang ditemukan sesaji atau upo rampe yang digunakan untuk pemujaan. Selain itu juga terdapat mitos bahwa seringkali batu gong berbunyi setiap Kamis Kliwon dan malam Jumat Legi. Isi Prasasti Batu Gong Pada Prasasti Batu Gong terdapat sebuah tulisan Aksara Pallawa yang berbunyi AuPavAte JAvaAy. Kata tersebut merupakan Bahasa Sansekerta yang artinya AuPawates JawaAy. Dalam Bahasa Indonesia maksudnya adalah AuPerbatasan JawaAy. Kronogram dari Prasasti dapat diketahui berbunyi AuGong Tunggal Sapta AksaraAy. Kata AuGong dan TunggalAy berarti satu, kemudian AuSaptaAy berarti tujuh, dan AuAksaraAy berarti tulisan. Sehingga dapat diperkirakan bahwa prasasti tersebut ditulis pada tahun 711 Saka atau 789 Masehi (Sukatman dan Siswanto, 2. Namun berdasarkan Jawa Pos Radar Jember, penemu batu Gong yaitu Stutterheim batu tersebut memiliki sebuah tulisan yang berbunyi AuParvvasteswaraAy yang memiliki arti sebagai Dewa Gunung. Pemberian nama Batu Gong berasal dari sebuah prasasti yang memiliki bentuk menyerupai alat musik gong. Diperkirakan prasasti itu dibuat antara abad 7 M Ae 8 M. Berdasarkan keduanya memiliki perbedaan penafsiran pada tulisan aksara Pallawa yang terdapat di Prasasti Batu Gong. Namun keduanya diperkirakan sudah ada sejak abad 7 Masehi. Kondisi dan Rekomendasi Pelestarian Prasasti batu Gong merupakan salah satu Cagar Budaya. Cagar budaya adalah bentuk warisan peninggalan leluhur yang mempunyai nilai penting sebagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta sebagai bukti adanya peradaban pada masa tertentu (Hartati et al. , 2. Upaya pelestarian cagar budaya tertuang dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang bermaksud bahwa cagar budaya merupakan kekayaan bangsa yang menjadi wujud pemikiran dan perilaku dilestarikan dan dikelola dengan upaya pemanfaatan untuk menjaga kebudayaan nasional (Ekarini, 2. Prasasti Batu Gong saat ini sedikit Hal itu di sebabkan oleh beberapa hal antara lain kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat setempat, kurangnya promosi dan edukasi terkait prasasti gong serta kurangnya koordinasi dan tata kelola. Menurut masyarakat setempat seharusnya batu gong wajib dijaga bersama Ae sama agar tidak rusak termakan oleh waktu karena kondisi prasasti batu gong saat ini tidak terawat berada di sebuah gubuk atau gazebo yang berada di pinggir jalan. Sebaiknya keberadaan batu gong tersebut harus mendapatkan perhatian dan pemeliharaan yang rutin agar tetap lestari. Prasasti ini memiliki potensi sebagai objek wisata sejarah dan pendidikan, menarik minat mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan budaya lokal. Upaya untuk melestarikan dan mempromosikan prasasti ini sangat penting untuk menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya. Pemerintah infrastruktur yang lebih baik, para tokoh peneliti atau akademisi sebaiknya dapat melakukan penelitian lebih mendalam dan menyeluruh mengenai prasasti ini, karena informasi yang ada terkait prasasti gong masih terbatas. Dalam hal ini pemerintah meningkatkan dan mengembangkan potensi pariwisata yang berada di wilayahnya, menjadi fasilitator sebagai penyedia segala fasilitas, dan menjadi dinamisator untuk memobilisasi sumber daya pembangunan (Pariangu et al. , 2. Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki hak dan kewajiban menjaga dan melestarikan prasasti batu gong baik sebagai wisata perekonomian dengan cara berjualan di sekitar keberadaan prasasti Batu Gong. Kesimpulan Kabupaten Jember, terletak di ujung selatan Pulau Jawa, kaya akan sejarah dan budaya yang berkembang dari masa prasejarah hingga zaman kolonial. Salah satu peninggalan bersejarah di Jember adalah Prasasti Batu Gong yang ditemukan di Kaliputih. Rambipuji. Prasasti ini dianggap lebih tua dari prasasti-prasasti raja Purnawarman di Jawa Barat, dengan aksara Pallawa yang menunjukkan pengaruh Medang Kamulan, kerajaan Hindu pertama di Jawa pada abad VII. Prasasti ini ditemukan oleh arkeolog Belanda W. Stutterheim dan H. Heekeren pada tahun 1933. Prasasti ini memiliki tinggi 120 cm dan panjang 170 cm, dengan dasar berbentuk lingkaran berdiameter 60-65 cm. Septian Andi Cahyo. M Agus Gunawan. Moch Lukman Hakim. Ilfiana Firzaq Arifin. Prasasti Batu Gong : Studi Historis Peninggalan Sejarah Lokal Jember yang Terbengkalai Terdapat tulisan aksara Pallawa yang berbunyi AuParvvateswaraAy artinya Dewa Gunung dan diperkirakan dibuat antara abad 7 Ae 8 Masehi. Namun dalam sebuah artikel lain tulisan tersebut berbunyi AuPavAte JAvaAy. Yang artiny Pawates jawa atau Pembatas Jawa. Sehingga keduanya memiliki tafsiran yang berbeda. Prasasti Batu Gong sampai saat ini oleh masyarakat tertentu digunakan sebagai pemujaan terhadap leluhur, oleh karena itu tidak jarang terdapat Upo Rampe berupa ayam dan taburan bunga diatas Prasasti Namun saat ini keberadaan prasasti tersebut tidak terawat dan promosi terkait adanya wisata edukasi batu gong tersebut masih terbilang kurang. Sehingga akademisi maupun warga masyarakat dapat melestarikan prasasti batu gong dengan lebih baik. Agar keberadaan prasasti batu gong tetap lestari untuk generasi selanjutnya dan tidak hanya menjadi sebuah cerita belaka. Saran