JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga Mufida N Salii1*. Nurul Fitriah Aras1. Zulnuraini1. Dyah Rahmawati1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Tadulako. Indonesia *Corresponding author email: muufidah1212@gmail. Article Info Article history: Received Augustus 30, 2025 Approved September 22, 2025 Keywords: Guided Inquiry Model. Learning Outcomes. Science Subjects. Elementary School Students ABSTRACT This study aims to determine whether there is an influence of the guided inquiry model on the learning outcomes of fourth-grade students of SD Inpres 5 Taipa Laga. The design of this study is a Quasi-experimental design using Two Group Pretest Ae Posttest The population in this study is all fourth-grade students of SD Inpres 5 Taipa Laga, totaling 34 students. The sampling technique used in this study is a purposive sample with a sample size of 34 students from grades IVa and IVb consisting of 17 students in grade IVa as the experimental class and 17 students in grade IVb as the control class. Research data were collected through observation, test administration and documentation. Data were analyzed quantitatively through paired sample t-test. Based on the significant value of the Paired Sample T Test obtained is 0. 000, with a significant value of T-test <0. 000 <0. and a significance level of 5% . then H1 is accepted and Ho is rejected. So it can be concluded that there is an influence of the guided inquiry model on the science learning outcomes of fourthgrade students of SD Inpres 5 Taipa Laga. The guided inquiry learning model makes students active in the learning process so that it is able to improve science learning ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Desain penelitian ini yaitu Quasi eksperimental design dengan menggunakan Two Group Pretest Ae Postest designs. Populasi pada penelitian ini yaitu adalah seluruh siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga yang berjumlah 34 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel purposive sampel dengan jumlah sampel sebanyak 34 siswa dari kelas IVa dan IVb yang terdiri 17 siswa kelas IVa sebagai kelas eksperimen dan 17 siswa pada kelas IVb sebagai kelas kontrol. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, pemberian tes dan dokumentasi. Data dianalisis secara kuantitatif melalui uji beda sampel berpasangan . aired sample ttes. Berdasarkan nilai signifikan Paired Sampel T Test diperoleh adalah 0,000, dengan nilai signifikan T- test < 0,05 . ,000 < 0,. dan taraf sigifikan 5% . , maka H1 diterima dan Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Model pembelajaran inkuiri terbimbing membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran sehingga mampu meningkatkan hasil belajar IPAS. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2435 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. How to cite: Salli. Fitriah Aras. Zulnuraini. , & Rahmawati. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2435Ae2445. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka Belajar adalah kurikulum baru yang diterapkan di Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Menurut Hidayatullah et al . , kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang memungkinkan peserta didik mampu mendalami suatu konsep dan keterampilan yang memadai dengan pembelajaran intrakurikuler yang bergam. Salah satu fokus dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah pengembangan keterampilan abad ke-21, termasuk keterampilan dalam bidang lingkungan hidup. Dalam desain kurikulum merdeka belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial digabung menjadi ilmu pengetahuan alam dan sosial (IPAS) (Suhelayanti et al. , 2023: . Dalam kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. menjadi mata pelajaran utama yang harus diberikan pada siswa. IPAS ialah studi terpadu yang membimbing siswa untuk mengembangkan kapasitas berpikir kritis dan rasional (Anggita et al. , 2. Cakupan IPAS yang dipelajari di sekolah dasar tidak hanya berupa kumpulan fakta saja, akan tetapi juga proses perolehan fakta yang didasarkan pada kemampuan menggunakan pengetahuan dasar IPAS untuk memprediksi atau menjelaskan dan menyelesaikan berbagai fenomena yang berbeda. Pemberian mata pelajaran IPAS pada siswa SD/MI bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan berpikir kreatif dan kritis hingga melahirkan nilai-nilai agama, kejujuran, toleransi, disiplin, bekerja keras, demokrasi, nasionalisme, komunikatif dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab (Suhelayanti et al. , 2023: . Salah satu indikator yang menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPAS ialah tercapainya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar IPAS sebagai produk yaitu pemahaman siswa terhadap fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori dalam keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan hasil belajar IPAS sebagai proses yaitu memiliki keterampilan ilmiah atau kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan menerapkan konsep yang telah diperolehnya untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan mempunyai minat untuk mempelajari benda-benda di lingkungannya, bersikap ingin tahu, tekun, kritis, bertanggung jawab, bekerja sama, serta mengenal dan mencintai alam sekitar. Ketepatan guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran sangat menentukan hasil belajar yang diperoleh siswa. Akan tetapi guru terkadang sulit untuk menentukan model pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran IPAS. Hal ini juga terjadi pada guru-guru di SD Inpres Taipa Laga. Untuk membuktikannya, peneliti melakukan observasi saat pembelajaran berlangsung di SD Inpres 5 Taipa Laga pada tanggal 16 Agustus 2023. Dari hasil observasi, ditemukan permasalahan dalam pembelajaran IPAS, yaitu guru belum mengajak siswa terlibat secara langsung dalam materi-materi tertentu dan hanya berfokus pada penggunaan buku teks. Hal ini membuat siswa menjadi tidak aktif dan kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar. Ketidakaktifan siswa disebabkan oleh model pembelajaran yang diterapkan kurang variatif dan tidak interaktif, kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menarik, serta minimnya kesempatan bagi siswa untuk bereksplorasi dan berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2436 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. bersifat satu arah menyebabkan siswa cepat merasa bosan dan kehilangan fokus. Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar mata pelajaran IPAS di SD Inpres 5 Taipa Laga, di mana dari 28 siswa hanya 12 siswa yang mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minima. Selama pembelajaran IPAS berlangsung, siswa lebih banyak bermain dan tidak memperhatikan penjelasan guru di depan kelas. Guru pun cenderung hanya memberikan tugas dan mengarahkan siswa untuk mengerjakannya berdasarkan buku yang dibagikan, tanpa adanya variasi dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu alternatif penyelesaian permasalahan tersebut ialah melalui penggunaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai pada pembelajaran IPAS. Penerapan model yang tepat akan mampu menarik perhatian dan minat siswa untuk ikut berperan aktif pada saat mengikuti proses Siswa yang berperan aktif pada saat mengikuti pembelajaran akan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mereka akan berusaha untuk mencari tahu dan bukan hanya menunggu diberitahu oleh guru. Oleh karena itu, model pembelajaran yang tepat digunakan adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Menurut Sarumaha & Harefa . , mddel pembelajaran inkuiri terbimbing . uided inquir. adalah suatu model pengajaran yang menekankan pada proses penemuan konsep dan hubungan antar konsep dimana siswa merancang sendiri prosedur percobaan sehingga peran siswa lebih dominan, sedangkan guru membimbing siswa kearah yang tepat/benar. Penelitian ini didukung oleh pendapat Eggen & Kauchak . menyatakan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing guru memberi siswa contoh-contoh spesifik dan membimbing siswa untuk memahami topik tersebut. Model ini efektif untuk mendorong keterlibatan dan motivasi siswa serta membantu siswa mendapatkan pemahaman mendalam tentang topik-topik yang jelas. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran yang tepat seperti model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa termasuk hasil belajar IPAS. Hal ini sesuai dengan penelitian Yani et al . bahwa model pembelajaran inkuri berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar IPAS sebesar 23,71%. Kemudian, dipertegas oleh penelitian Satriani et al . yang menyatakan bahwa pengaruh yang signifikan hasil belajar IPA siswa sebelum dan setelah menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh Model Inkuri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa LagaAoAo METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian ini yaitu Quasi eksperimental design. Menurut Anantasia . , penelitian quasi eksperimen adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk menguji hubungan sebab-akibat antara variabel tanpa melakukan pengacakan secara penuh terhadap subjek penelitian. Penelitian ini menentukan apakah model pembelajaran inkuri terbimbing berpengaruh terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Kecamatan Palu Utara. Kelurahan Taipa, yang berjumlah 34 siswa. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampel yang terdiri dari 17 siswa kelas IVa dan 17 siswa kelas IVb. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran IPAS maka digunakan uji beda sampe berpasangan . aired sample t-tes. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2437 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Hasil Pretest Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, terlebih dahulu siswa diberikan pretest. Definisi kegiatan pretest adalah langkah awal sebelum melakukan treatment atau perlakuan. Tujuan pretest sendiri adalah untuk mengukur kemampuan siswa baik siswa pada kelas eksperimen yang berjumlah 17 orang maupun pada kelas kontrol yang juga berjumlah 17 orang. Hasil analisis pretest disajikan pada tabel 4. 1 sebagai berikut. Tabel 1. Hasil Analisis Pretest Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Data Pretest Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Mean 54,41 55,29 Skor Minimum 35,00 45,00 Skor Maksimum 75,00 70,00 Berdasarkan data pada tabel 4. 1 diketahui bahwa rata Ae rata siswa kelas eksperimen yaitu 54,41, sedangkan pada siswa kelas kontrol memiliki rata Ae rata yaitu 55,29 berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak jauh Hasil pretest kelas eksperimen diperoleh skor minimum 35,00 dan skor maksimum 75,00 sedangkan pada kelas kontrol diperoleh skor minimum 45,00 dan skor maksimum 70,00. Data Hasil Posttest Posttest adalah tes yang dilakukan sebagai penilaian akhir dari treatment yang telah dilakukan, bentuk instrument soal sama dengan instrument soal pretest agar hasil tes dapat berpengaruh dari treatment yang telah digunakan. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah setelah menerima treatment kemampuan siswa pada kelas eksperimen dalam memahami materi Indonesiaku Kaya Budaya akan meningkat dari sebelumnya. Hasil analisis posttest disajikan pada 2 sebagai berikut. Tabel 2. Hasil Analisis Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Data Posttest Statistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Mean 85,59 68,82 Skor Minimum 75,00 50,00 Skor Maksimum 100,00 85,00 Berdasarkan hasil posttest pada kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan model inkuiri terbimbing diperoleh nilai rata Ae rata 85,59, dengan skor minimum 75,00 dan skor maksimum 100,00. Sedangkan pada kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional diperoleh nilai rata Ae rata 68,82, skor minimum 50,00 dan maksimum 85,00. Terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPAS yang diperoleh kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Dengan demikian, sesuai hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mempengaruhi hasil belajar IPAS pada siswa kelas IV SD Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2438 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Inpres 5 Taipa Laga. Perbedaan rata Ae rata skor posttest pada kelas ekperimen dengan kelas kontrol menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing efektif untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPAS di kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Uji Validitas Instrumen Menurut Widodo . , validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada sejauh mana suatu instrument dalam menjalankan fungsi. Dalam penelitian ini, digunakan validitas empiris yang fokus pada instrumen berbentuk tes pilihan ganda yang berjumlah 30 butir. Untuk menguji validitas soal, instrumen terlebih dahulu diujicobakan pada siswa kelas VA SDN Inpres 5 Taipa Laga . Berikut disajikan hasil pengujian validitas instrumen penelitian pada tabel 4. 3 seperti di bawah ini: Tabel 3. Hasil Pengujian Validitas Instrumen Soal Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Soal 5 Soal 6 Soal 7 Soal 8 Soal 9 Soal 10 Soal 11 Soal 12 Soal 13 Soal 14 Soal 15 Soal 16 Soal 17 Soal 18 Soal 19 Soal 20 Soal 21 Soal 22 Soal 23 Soal 24 Soal 25 Soal 26 Soal 27 Soal 28 Soal 29 Soal 30 Rhitung 0,555 0,593 0,764 - 0,57 0,653 0,551 0,257 0,670 0,021 0,764 -0,188 0,690 0,593 0,613 0,136 0,520 0,540 0,618 0,318 0,580 0,593 -0,303 0,595 0,577 0,593 0,551 0,257 -0,154 -0,329 0,540 Rtabel 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 0,444 Signifikansi 0,01 0,006 0,000 0,811 0,002 0,273 0,001 0,930 0,000 0,428 0,001 0,006 0,004 0,567 0,019 0,014 0,004 0,172 0,007 0,006 0,194 0,006 0,008 0,006 0,012 0,237 0,516 0,156 0,014 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 Keterangan Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2439 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Berdasarkan hasil pengujian validitas instrumen yang disajikan dalam tabel 3, diketahui bahwa dari 30 butir soal pilihan ganda yang diuji, terdapat 20 butir soal yang dinyatakan valid yaitu soal pada nomor 1, 2, 3, 5, 6, 8, 10, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 20, 21, 23, 24, 25, 26, dan 30. Hal ini ditentukan berdasarkan perbandingan antara nilai r hitung dan r tabel dengan taraf signifikansi 5% ( = 0,. , di mana r tabel adalah 0,444. Uji Reliabilitas Instrumen Reliabilitas berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Berikut disajikan hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian pada tabel 4. 4 seperti di bawah ini: Tabel 4. Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Cronbach's Alpha 0,842 N of Items Berdasarkan Tabel 4, hasil pengujian reliabilitas instrumen menunjukkan bahwa nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,842 untuk 30 butir soal. Nilai ini berada di atas batas minimal yang ditetapkan, yaitu 0,7, yang merupakan harga kritik untuk menyatakan suatu instrumen reliabel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian ini memiliki tingkat konsistensi internal yang baik dan dapat dipercaya untuk digunakan dalam pengumpulan data. Oleh karena itu, instrumen ini memenuhi syarat reliabilitas dan layak digunakan dalam Uji Normalitas Uji normalitas merupakan sebuah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas data hasil belajar pada mata pelajaran IPAS kelas IVa dan IVb disajikan dalam tabel berikut. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest Hasil Belajar IPAS KolmogorovShapiro-Wilk Smirnova Kelas Statisti df Sig. Statistic df Sig. Pretest Eksperimen 0,147 17 0,200* 0,952 17 0,487 Postest Eksperimen 0,168 17 0,200* 0,939 17 0,308 Pretest Kontrol 0,129 17 0,200 0,945 17 0,378 Postest Kontrol 0,189 17 0,108 0,944 17 0,366 This is a lower bound of the true significance. Lilliefors Significance Correction Pada penelitian ini uji normalitas menggunakan shapiro wilk karena jumlah sampel penelitian kurang dai 100 dan menggunakan taraf signifikan 0,05. Pada tabel diperoleh nilai signifikansi pretest kelas ekperimen sebesar 0,487 dan posttest sebesar 0,308. Hal ini menunjukkan data memiliki nilai signifikan lebih dari 0,05, sehingga data penelitian dapat dikatakan terdistribusi normal. Jika diketahui seluruh data normal, maka dapat dianalisis lebih lanjut. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2440 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Uji Homogenitas Uji homogenitas adalah prosedur uji statistik yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa dua atau lebih kelompok sampel data diambil dari populasi yang memiliki varians yang sama. Hasil uji homogenitas disajikan sebagai berikut. Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas Hasil Belajar IPAS Levene Statistic Sig. Based on Mean 0,705 0,407 Based on Median Based on Median and with adjusted df Based on trimmed 0,450 0,507 0,450 29,115 0,507 0,620 0,437 Tabel di atas menunjukkan bahwa uji homogenitas diperoleh nilai levene statistik 0,407. 0,507. 0,507 dan 0, 437 yang menunjukkan bahwa semua hasil tersebut lebih dari 0,05 yang artinya data pretest dan posttest dari kelas IV ini bersifat homogen. Setelah data dinyatakan normal dan homogen maka dapat dilanjutkan pada pengujian hipotesis. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil analisis inferensial uji asumsi prasyarat dengan melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan homogen. Dengan demikian dapat dilanjutkan dengan menguji hipotesis untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh terhadap hasil belajar setelah menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Hasil uji analisi paired sampel t test sebagai Tabel 7. Hasil Uji Paired Sample t test Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Std. Mean Error Difference Deviation Mean Lower Upper Pretest Eksperimen Pair 1 -30,765 10,022 Postest Eksperimen Pretest Kontrol Pair 2 -13,059 4,802 Postest Kontrol Sig. 2,431 -35,918 -25,612 -12,657 16 ,000 1,165 -15,528 -10,590 -11,213 16 ,000 Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2441 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Data yang tertera pada tabel 7 menunjukkan nilai signifikan paired sample t test adalah 0,000. Oleh karena, nilai signifikan T-test < 0,05 . ,000 < 0,. maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Pembahasan Penelitian ini dilakukan di kelas IV Sekolah Dasar Inpres 5 Taipa Laga dengan melibatkan dua kelas yaitu kelas IVa sebagai eksperimen dan kelas IVb sebagai kontrol. Pada kelas eksperimen diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan pada kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional berupa ceramah dan diskusi dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model inkuiri terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Oleh karena penelitian dilaksanakan untuk menetapkan pengaruh perlakuan tertentu maka penelitian ini termasuk penelitian quasi eksperiment. Menurut Abraham & Supriyati . , quasi eksperiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukuran dampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingan dalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan Perlakuan yang diterapkan peneliti pada kelas eksperimen yaitu model inkuiri terbimbing dapat membantu guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan interaktif, mendorong siswa untuk menjadi lebih terlibat dalam proses belajar, dan meningkatkan pemahaman konsep melalui bimbingan yang tepat. Menurut Aulia et al . , inkuiri terbimbing dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengonstruksikan pengetahuanya sendiri dan menumbuhkembangkan sikap ilmiah dengan sedikit bimbingan dari guru. Model inkuiri terbimbing sangat sesuai diterapkan pada peserta didik usia sekolah dasar. Guru menggunakan metode ini pada saat mengajar agar siswa terangsang oleh tugas yang diberikan, sehingga aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah tersebut. Sesuai hasil pengeolahan data penelitian menunjukkan bahwa penerapan model inkuiri terbimbing memberikan pengaruh terhadap hasil belajar IPAS kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga pada materi Indonesiaku Kaya Budaya, hal ini terbukti pada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa kelas ekspeimen dengan siswa kelas kontrol yang hanya diterapkan metode ceramah dan tanya jawab. Menurut Yanuar & Pius . , model konvensional adalah suatu pembelajaran yang mana dalam proses belajar mengajar dilakukan dengan cara yang lama, yaitu dalam penyampaian pelajaran pengajar masih mengandalkan ceramah. Model pembelajaran ini adalah pembelajaran yang berpusat pada guru, dimana peran guru mengendalikan atas kebanyakan penyajian pembelajaran. Model pembelajaran yang demikian membuat siswa cenderung merasa bosan dan situasi di kelas menjadi monoton. Kekurangan lain dari pembelajaran konvensional cenderung mengkotak kotakkan peserta didik, dan kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada hasil daripada Dampak lain yaitu siswa menjadi pasif dan kurang aktif dalam suatu pembelajaran, disertai hasil belajar kurang maksimal. Berdasarkan hasil pengamatan banyak ditemukan siswa dalam kegiatan belajar masih belum terlibat secara aktif, siswa tidak memperhatikan guru dengan baik, berbicara dengan temannya sendiri, bahkan terkadang terlihat siswa tidak memperdulikan guru (Purnomo, 2. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2442 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Hasil analisis data penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, menunjukkan bahwa nilai hasil belajar IPAS pada pretest atau sebelum diberikan perlakuan pada kelas eksperimen diperoleh nilai rata Ae rata hanya 54,41, akan tetapi mengalami peningkatan setelah diberikan pelakukan dengan menerapkan model inkuiri terbimbing yang nilai rata Ae rata posttest diperoleh 85,59. Jika dikaitkan dengan hasil nilai rata-rata hasil belajar siswa di kelas eksperimen setelah perlakuan maka dapat dilihat bahwa siswa cenderung menyukai proses pembelajaran melalui inkuiri Penerapan model ini merupakan hal baru bagi siswa di kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan lebih Sedangkan hasil analisis data pretest pada kelas kontrol diperoleh nilai rata Ae rata 55,29 kemudian hanya mengalami sedikit peningkatan nilai rata Ae rata setelah diberikan posttest sebesar 68,82. Hal ini terjadi karena siswa pada kelas kontrol kurang menyukai proses pembelajaran yang lebih berpusat pada guru sehingga muncul perasaan bosan dan kurang bersemangat saat mengikuti pembelajaran. Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, hasil belajar IPAS kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik dibandingkan dengan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional yang dapat dilihat dari hasil belajar pada pemberian posttest, dimana kelas ekperimen memperoleh nilai rata Ae rata 85,59 sementara kelas kontrol hanya 68,82. Pendapat ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri et al . yang menyatakan tentang hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik dari pada kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvesional. Menurut Muliani & Wibawa . , terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hasil belajar IPAS kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar IPAS kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional yaitu sebagai berikut. Faktor pertama, proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali pengetahuannya secara mandiri. Pengetahuan siswa akan tergali melalui tayangan berbagai gambar seperti makanan khas, pakaian adat, alat musik tradisional, senjata tradisional, rumah adat, tarian tradisional dan berbagai budaya Indonesia. Hal ini nampak pada saat siswa memperhatikan berbagai tampilan gambar mengenai Indonesiaku Kaya Budaya selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan video, siswa terlihat sangat antusias memperhatikan tayangan yang disajikan kemudian siswa mencatat hal-hal penting yang ditemukan dalam gambar Ae gambar tersebut dan membuat sebuah hipotesis. Tayangan gambar Ae gambar pembelajaran dapat menarik perhatian siswa sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan membantu siswa memahami suatu permasalahan IPAS yang harus diselesaikan serta pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari akan menjadi lebih baik. Faktor kedua, model pembelajaran inkuiri terbimbing akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah IPAS melalui kegiatan penyelidikan sehingga hasil yang ditemukan tidak sekedar diingat melainkan dipahami dan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena siswa aktif membangun pemahamannya secara mandiri. Jawaban dari hipotesis yang diajukan siswa didapat bukan dari hasil mengingat fakta atau konsep-konsep melainkan mencari jawaban atas masalah yang diberikan dari hasil menemukan sendiri. Pemahaman yang dibangun dan ditemukan sendiri oleh siswa akan menjadi pengetahuan yang Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2443 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. Faktor ketiga, siswa yang didorong bekerja secara berkelompok untuk melakukan kegiatan diskusi sebelum dan sesudah memecahkan masalah akan menambah keyakinan siswa terhadap hasil pemikiran dan pemahamannya. Di dalam kegiatan diskusi, siswa akan melakukan kegiatan tanya jawab terkait hasil penyelidikan bersama teman kelompoknya. Kegiatan tanya jawab akan melatih kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan dan memberikan respon terhadap suatu masalah. Faktor keempat, siswa diarahkan untuk memecahkan suatu masalah dengan menerapkan konsep yang ditemukan pada saat proses kegiatan penyelidikan dan negosiasi makna. Suatu latihan dan pemecahan masalah akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan konsep-konsep yang dimilikinya. Mengkaji hasil diskusi yang dilakukan, mengolah informasi yang didapat melalui diskusi dan pemecahan masalah akan melatih siswa untuk kreatif, berpikir kritis dan merealisasikan pemikirannya sehingga siswa dapat membuat suatu kesimpulan. Berbeda halnya dengan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas kontrol yakni menggunakan pembelajaran konvensional yaitu pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam mengajar . idak menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan vide. dalam pembelajaran IPAS. Dalam proses pembelajaran siswa cenderung pasif dalam menggali Pembelajaran yang dilaksanakan cenderung berpusat pada guru . eacher cente. Dalam pembelajaran tersebut guru bertugas untuk mengirimkan apa yang diketahui guru kepada siswa sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang maksimal. Adanya pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS pada siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga dapat diamati melalui hasil analisis uji paired sampel T-test dengan menggunakan aplikasi program IBM SPSS statistick 25 yang menunjukan bahwa nilai signifikan 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis diasumsikan menjadi H1 diterima dan Ho Artinya adanya pengaruh secara signifikan model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS pada siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Satriani et al . yang menyimpulkan bahwa hasil uji Paired Sample T-Tes diperoleh thitung sebesar 21,181. Kemudian nilai thitung dibandingkan dengan ttabel, maka thitung memiliki nilai lebih besar daripada ttabel . ,181 > 2,. Untuk nilai signifikansi adalah 0,000 yang berarti lebih kecil dari . , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPA. KESIMPULAN Adanya pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS pada siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga dapat diamati melalui hasil analisis uji paired sampel T-test dengan menggunakan aplikasi program IBM SPSS statistick 25 yang menunjukan bahwa nilai signifikan 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga hipotesis diasumsikan menjadi H1 diterima dan Ho Artinya adanya pengaruh secara signifikan model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS pada siswa kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas IV SD Inpres 5 Taipa Laga - 2444 Salii et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6. DAFTAR PUSTAKA