Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Efektifitas Abu Sabut Kelapa dan Kapur Dalam Menstabilkan Tanah Lempung Misbah1. Juli Murdika Windi2 Dosen Program Studi Teknik Sipil. Institut Teknologi Padang1. Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil. Institut Teknologi Padang DOI: http://dx. org/10. 31869/rtj. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu sabut kelapa dan kapur terhadap tanah lempung. Tanah yang diuji pada penelitian ini berasal dari Perumahan Taman Asri, desa Sungai Sapih. Kecamatan Kuranji. Kota Padang. Pencampuran tanah lempung dengan abu sabut kelapa dilakukan sebesar 0%, 6%, 9%, 12%, dan kapur 6% terhadap berat kering tanah. Hasil penelitian menunjukkan pengujian saringan dan hidrometer tidak mengalami perubahan yang berarti. Untuk pengujian batas-batas konsistensi nilai batas cair dan indeks plastis menurun sebaliknya nilai batas plastis dan batas susut meningkat. Hasil uji pengembangan dan tekanan pengembangan nilai Untuk pemadatan hasil terbaik diperoleh pada pencampuran 6% abu sabut dan 6% kapur. Kata Kunci : Tanah lempung. Abu sabut kelapa. Kapur. Sifat fisis dan Mekanis tanah lempung. segera di tangani, misalnya jenis tanah PENDAHULUAN Jalan merupakan fasilitas transportasi yang Salah satu wilayah di Sumatra Barat paling sering digunakan oleh sebagian besar khususnya kota Padang yang memiliki masyarakat, sehingga mempengaruhi aktivitas karakteristik tanah lempung yaitu di desa sehari-hari masyarakat. Kerusakan jalan yang Sungai Sapih. Kecamatan Kuranji. Kota terjadi diberbagai daerah saat ini merupakan Padang. Sudah banyak penelitian yang permasalahan yang kompleks dan kerugian dilakukan dalam memperbaiki sifat-sifat tanah yang diderita sungguh besar terutama bagi lempung dengan mencampurkan bahan-bahan para pengguna jalan, seperti waktu tempuh organik dan kimia. Pada kesempatan ini yang lama, terjadinya kemacetan lalu lintas, penulis menggunakan campuran serat sabut kecelakaan lalu lintas dan lain-lain. Faktor kelapa dan kapur dalam menstabilisasi tanah penyebab kerusakan jalan adalah kurang lempung, karena abu sabut kelapa dan kapur diperhatikan lapisan tanah pada dasar pondasi belum termanfaatkan secara optimal dalam jalan itu sendiri. Material yang sangat penting menstabiliasi tanah lempung. dalam perencanaan Struktur Jalan adalah tanah, terutama sebagai dasar pondasi. TINJAUAN PUSTAKA sehingga mutlak diperlukan tanah yang Kadar air optimum tertinggi terdapat pada memiliki kuat dukung tinggi dan penurunan presentase campuran kapur 8% yaitu = 31,8%, sekecil mungkin. Oleh karena itu, diperlukan dan juga dapat dilihat bahwa penambahan analisis kuat dukung tanah dan perancangan seksama agar tidak terjadi kegagalan stuktur menghasilkan penurunan kohesi (Haras M, jalan akibat runtuhnya tanah dasar pada dkk 2. Penambahan Kapur dan Abu pondasi dan berakibat rusaknya stuktur jalan Sekam padi dengan campuran 2%, 4%, dan diatasnya, karena pada tanah inilah suatu 6% dari berat kering tanah yang digunakan bidang jalan bertumpu, tetapi tidak semua dapat menghasilkan nilai CBR yang lebih jenis tanah yang ada memiliki kondisi yang tinggi dari pada tanah yang dipadatkan pada baik untuk digunakan sebagai penumpu jalan, kondisi OMC dan kondisi basah (Muntohar hal ini di sebabkan terdapat beberapa jenis AS, 2. Penggunaan fly ash dalam tanah tanah dasar yang bermasalah baik dari segi lempung dapat menigkatkan nilai CBR tanah dasar dan meningkatkan klasifikasi tanah . (Apriyanti A, 2. Pencampuran Kapur Disamping itu terdapat banyak karakteristik sebanyak 3% dan Spent Katalyst dengan variasi 1,5%, 3%, 4,5% yang di peram selama pembangunan kontruksi jalan apabila tidak 7 hari dapat meningkatkan nilai UCS (Gunarti ISSN 2599-2081 Fakultas Teknik UMSB EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL ASS, 2. Sedangkan tanah lempung dicampur dengan abu limbah kertas menunjukan semakin tinggi persentase abu limbah kertas didalam kandungan tanah, nilainilai batas plastis, batas susut dan kepadatan tanah meningkat, sedangkan nilai-nilai batas cair, indeks plastisitas, pengembangan dan tekanan pengembangan cenderung menurun (Herman. Sari OP, 2. LANDASAN TEORI Bahan yang digunakan sebagai stabilisasi Abu Sabut Kelapa Abu sabut kelapa berasal dari pengolahan limbah sabut kelapa yang telah dibakar terlebih dahulu dengan menggunakan suhu tertentu sehingga menghasilkan abu. Abu sabut kelapa mengandung alumina, silika dan kalsium yang bersifat pozolan sehingga mempercepat waktu ikat semennya dikarenakan sifat pozolan tersebut dapat memperkecil pori-pori dalam pasta semen, mengisi rongga antar partikel. Komposisi senyawa dari abu sabut kelapa . alam satuan persen bera. terdiri dari unsur SiO2 = 42,98%. Al2O3 = 2,26%, dan Fe2O3 = 1,66%. Pengelolaan abu sabut kelapa sangat mudah, cukup di bakar dengan panas tertentu hingga membentuk abu-abu, lalu disaring hingga mendapatkan abu yang benar-benar halus (Trikalina E, 2. Gambar 1 Abu Sabut Kelapa Kapur Kapur dihasilkan dari pembakaran Kalsium Karbonat (CaCO. atau batu kapur alam (Natural Limeston. dengan pemanasan 980 oC karbon dioksidanya dilepaskan sehingga tinggal kapurnya saja (CaO). Kalsium oksida yang diperoleh dari proses pembakaran tersebut dikenal dengan quick Kapur dari hasil pembakaran bila ditambah air akan mengembang dan retakretak. Banyaknya panas yang keluar selama Rang Teknik Journal proses ini akan menghasilkan kalsium hidroksida (Ca(OH). Proses ini disebut slaking adapun hasilnya disebut slaked lime atau hydrated lime. Gambar 2 Kapur Lolos Saringan 200 METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Institut Teknologi Padang. Sampel tanah berasal dari desa Sungai Sapih. Kecamatan Kuranji. Kota Padang, pada kedalaman 20 - 30 cm dari muka tanah dan kapur diambil dari ex toko bangunan HAPDI. Abu sabut kelapa diambil dari limbah pembakaran Kue Bika di Jln Raya Tepi Bandar. Batang Kapas. Pesisir Selatan. Pencampuran Abu Sabut Kelapa adalah 0%, 6%, 9%, 12% dan kapur 6% terhadap berat kering tanah. Prosedur Penelitian Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan ini terdiri dari uji sifat fisis dan sifat mekanis tanah yang Pengujian kadar air, prosedur pengujian mengacu pada ASTM D2216. Pengujian specific gravity, prosedur pengujian mengacu pada ASTM D854 Pengujian distribusi ukuran butiran tanah, prosedur pengujian mengacu pada ASTM D421 Dan D422 Pengujian batas konsistensi, prosedur pengujian mengacu pada ASTM D4318 Pengujian pengujian mengacu pada ASTM D698 Pengujian pengembangan dan tekanan pengembangan, prosedur pengujian mengacu pada ASTM D4546 Penelitian Utama Penelitian utama terdiri dari uji sifat fisis dan mekanis tanah yang telah dicampur dengan abu sabut kelapa dan kapur. Untuk lebih jelas prosedur penelitian dapat dilihat Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL pada bagan alir penelitian (Gambar . dibawah ini : Tabel 4 Hasil Pengujian Sifat Mekanis Tanah Asli No. Jenis Penelitian Hasil Berat jenis (Specific gravity. Batas cair (Liquid limit. LL) Batas plastis (Plastic limit. PL) Batas susut (Shrinkage limit. SL) Plasticity indeks (PI) Uji saringan dan hydrometer - Lolos saringan No 200 - Tertahan saringan No 200 6,29 % D10 D30 D60 Gradasi Tanah Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 Gambar 3 Aliran Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pendahuluan Hasil pemeriksaan uji sifat tanah asli, abu sabut kelapa, kapur dan uji sifat mekanis tanah asli tercantum pada : Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 1 Hasil Pengujian Sifat Fisis Tanah Asli Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 Tabel 3 Hasil Pengujian Berat Jenis Abu Sabut Kelapa Hasil Jenis Penelitian Berat jenis (Specific gravity. Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 Buruk Hasil Penelitian Utama Hasil pemeriksaan uji sifat fisis dan mekanis tanah yang telah dicampur dengan abu sabut kelapa dan kapur, tercantum pada : Tabel 5 dan Tabel 6. Tabel 5 Hasil Uji Sifat Fisis tanah yang di beri campuran abu sabut kelapa dan Tabel 2 Hasil Pengujian Berat Jenis kapur Hasil Jenis Penelitian Berat jenis (Specific gravity. Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Rang Teknik Journal Jenis Penelitian Berat volume kering maksimum . maks Kadar air optimum (Wop. Persen Pengembangan Tekanan pengembangan Hasil g/cm3 155 kPa Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal = . dibulatkan menjadi 32 Tabel 6 Hasil Pengujian Sifat Mekanis Campuran Tanah, abu sabut kelapa, dan kapur. Hasil Asli Asli Jenis Penelitian Asli 6% 9% kapu kapu r 6% r 6% Berat volume 22g/ 1. Kadar air optimum (Wop. Pengembangan Tekanan Sumber: Data Hasil Penelitian 2019 PEMBAHASAN Tanah Asli Hasil penelitian nilai persentase lolos saringan 200 sebesar 93,71% > 50%, maka tanah termasuk jenis tanah berbutir halus, nilai batas cair Liquid Limit (LL) adalah 72,16% > 50% menunjukan bahwa tanah termasuk tanah berbutir halus, dan jika dilihat dari harga Plasticity index, (PI) adalah 24,07%, jika nilainilai ini diplot pada kurva plastisitas jatuh pada MH berarti tanah adalah lanau tak organik dengan plastisitas tinggi (Unified Soil Clasification System atau USCS). Hasil Asli No abu Jenis Penelitian 12% 16 Berat jenis 1 3 (Specific gravity, g/ cm Batas cair 49 (Liquid limit, % LL) Batas plastis 0,02 (Plastic limit. PL) 47kPa Batas susut (Shrinkage limit. SL) 5 Plasticity indeks (PI) Uji saringan dan - Lolos saringan No 200 - Tertahan saringan No 200 D10 D30 D60 Gradasi Tanah Asli r 6% Asli Asli Asli Buruk Buruk Buru Buru Menurut AASHTO persentase lolos saringan 200 sebesar 93,71% > 35%, maka tanah termasuk jenis tanah lanau atau lempung, nilai batas cair (LL) adalah 72,16% > 41% Dilihat dari hasil nilai GI, dapat disimpulkan menunjukkan bahwa tanah termasuk A-5. A-7, bahwa tanah ini masuk dalam kelompok pada dari nilai Plasticity index, (PI) adalah 24,07% A-7-5 . yaitu kelompok tanah buruk . idak > 11% maka tanah termasuk A-7, berdasarkan bai. jika dimanfaatkan sebagai tanah dasar Plastic Limit, (PL) adalah 48,10 > 30% maka pada pekerjaan jalan. tanah termasuk A-7-5, (ASSHTO) GI = . ,10 Ae . ,2 0,005 . ,16 Ae Tanah Yang Telah dicampur Abu Sabut ] 0,01 . ,71 Ae . ,07 Ae Kelapa dan Kapur Pencampuran Abu Sabut Kelapa dan Kapur = . terhadap tanah asli dapat merubah sifat fisis . dan sifat mekanis tanah asli. Hasil uji tanah = . yang telah di campur dengan 6% kapur dan Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal yang telah di tambah dengan berbagai variasi abu sabut kelapa seperti hasil di bawah ini: Butiran lolos saringan no. Dari hasil pengujian saringan dan hidrometer menunjukan kurva cenderung mendatar, artinya kapur dan abu tidak menunjukan perubahan yang signifikan, hal ini disebabkan oleh karena masa perawatan yang singkat . tidak cukup bagi kapur untuk mengikat butiran tanah. Pada pencampuran 6% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai persen lolos saringan no. 61% sedangkan nilai persen lolos saringan no. 200 tanah asli adalah 71%, terjadi kenaikan 0. 9 atau 0. dari nilai lolos saringan no. 200 tanah asli. Pada peningkatam abu selanjutnya nilai ini cenderung menurun, pada percampuran tanah dengan abu sabut kelapa 12% dan 6% kapur, nilai persen lolos saringan 200 ialah 08% jika dibandingkan dengan persen lolos saringan no. 200 tanah asli 93. terjadi penurunan 0. 63 atau 0. 67% dari lolos saringan no. 200 tanah asli. Hal ini terjadi ikatan antara butiran tanah, abu sabut kelapa dan kapur, tetapi pada % abu yang sedikit hal ini belum terlihat. Gambar 5 Grafik Pengaruh Persentase Abu Sabut Kelapa dan Kapur Terhadap Nilai Berat Jenis (G. Pada kurva pencampuran tanah, kapur, dan abu sabut kelapa nilai berat jenis (G. cenderung menurun. Hasil pencampuran tanah dengan 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai berat jenisnya adalah 2. Jika dibandingkan dengan nilai berat jenis (G. tanah asli nilainya adalah 2. terjadi penurunan 0. 05 atau 1. 95% dari nilai berat jenis tanah asli. Penurunan ini disebabkan karena berat jenis (G. abu sabut kelapa dan kapur lebih rendah dari tanah asli, sehingga berat jenis tanah dicampur abu sabut kelapa dan kapur menjadi menurun. Batas - batas Attereberg Hasil pengujian batas-batas konsistensi tanah asli dan tanah yang sudah dicampur dengan berbagi variasi persentase abu sabut kelapa dan 6% kapur, seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 3 dan Gambar 6 berikut ini Gambar 4 Grafik Pengaruh Variasi Persentase Abu Sabut Kelapa dan Kapur Terhadap % Butiran Lolos Saringan no. Berat Jenis (Specific Gravity ( Gs ) Hasil uji Specific Gravity ( Gs ) tanah asli dengan tanah yang telah dicampur dengan variasi persentase kapur tercantum pada Tabel 1. Tabel 2. Tabel 5 dan Gambar 5. Gambar 6 Grafik Nilai Batas-Batas Attereberg Pencampuran Abu Sabut Kelapa dan Kapur Kurva menunjukan bahwa persentase variasi abu sabut kelapa dan kapur dalam perubahan nilai-nilai Batas Cair (LL). Batas ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Plastis (PL). Batas Susut (SL) dan Indeks Plastisitas (PI). Pada pencampuran tanah dengan variasi abu sabut kelapa dan kapur nilai Batas Cair (LL) cenderung menurun. Pencampuran tanah dengan 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai batas cairnya 43%, jika nilai ini dibandingkan dengan nilai Batas Cair (LL) tanah asli nilainya 72,16% terjadi penurunan 5. 94% terhadap nilai batas cair tanah Hal ini di sebabkan karena abu sabut kelapa dan kapur menghalangi ikatan antar butiran melalui ikatan ion, sehinga ikatan butiran menjadi lemah. Kurva juga menunjukkan pencampuran tanah dengan berbagai variasi persen abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai Batas Plastis (PL) terjadi kenaikan. Pada pencampuran tanah 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai Batas Plastisnya adalah 57,20 %. Jika di bandingkan dengan nilai Batas Plastis (PL) tanah asli nilainya 48,10% terjadi kenaikan 9. 1% atau 18. terhadap nilai batas plastis tanah asli. Hal ini disebabkan karena menurunnya plastisitas tanah sehingga tanah lebih Nilai Plasticity Indeks (PI) cenderung menurun. Pencampuran tanah dengan 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai Indeks Plastisnya adalah 9. 23 %. Jika di bandingkan dengan nilai Indeks Plastis (PI) tanah asli nilainya 24. 07% terjadi 84 atau 61% terhadap nilai indeks plastis tanah asli. Hal ini di mengikuti besaran batas cair dan batas Nilai Batas Susut (SL) cenderung pada pencampuran tanah 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai Batas Susutnya adalah 43. Jika di bandingkan dengan nilai Batas Susut (SL) tanah asli nilainya 34. 66% terjadi kenaikan 98 atau 25. 90% terhadap nilai batas susut tanah asli. Hal ini disebabkan oleh penambahan abu sabut kelapa dan kapur, butiran semakin kasar . apat di lihat dari uji saringa. , semakin kasar butiran penyusutannya semakin kecil, hal ini Rang Teknik Journal Pemadatan (Compactio. Hasil uji pemadatan standar dari tanah asli dan tanah yang telah dicampur abu sabut kelapa dan kapur dengan beberapa variasi persentase, tercantum pada Tabel 2. Tabel 4 dan Gambar 7. Gambar 8. Gambar 7 Grafik Pengaruh Persentase Abu Sabut Kelapa dan Kapur Terhadap Nilai Berat Volume Kering Maksimum (MDD) Gambar 8 Grafik Pengaruh Persentase Abu Sabut Kelapa dan Kapur Terhadap Nilai Kadar Air Optimum (OMC) Dari hasil uji pemadatan ini menunjukkan bahwa penambahan persentase abu sabut memperlihatkan adanya perubahan nilai dari berat volume kering maksimum (MDD) dan nilai kadar air optimum (OMC). Pada persentase 6% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai berat volume kering maksimumnya (MDD) 1. 22 gr/cmA, jika dibandingkan dengan nilai berat volume kering maksimum (MDD) tanah asli yaitu sebesar 1. 182 gr/cmA, terjadi peningkatan sebesar 0,038 gr/cmA atau 21% dari berat volume kering maksimum tanah asli. Sebaliknya, nilai kadar air optimumnya (OMC) menurun, pada persentase abu sabut kelapa 6% dan kapur 6% mengalami penurunan dengan nilai Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL kadar air optimum (OMC) 20. 25 %. Nilai ini jika dibandingkan dengan nilai kadar air optimum (OMC) tanah asli yaitu sebesar 39%, terjadi penurunan sebesar 18. 75 atau 07% dari nilai kadar air optimum tanah Hal ini disebabkan karena abu sabut kelapa dan kapur mengisi rongga pori disaat pemadatan sehingga pemadatan meningkat, mengecilnya rongga pori mengakibatkan sebagian air keluar meninggalkan rongga, keluarnya air pori mengidentifikasikan kadar air optimum Pada penambahan abu selanjutnya kadar air optimum meningkat, akibatnya rongga yang tadinya terisi butiran halus digantikan dengan air, sehingga rongga membesar dan akibatnya kepadatan menurun. Pengembangan Tekanan Pengembangan Hasil uji Pengembangan dan Tekanan pengembangan dari tanah asli dan tanah yang telah dicampur variasi abu sabut kelapa dan 6% kapur, tercantum pada Tabel 2. Tabel 4 dan Gambar 9. Gambar Rang Teknik Journal Pada kurva terlihat nilai pengembangan dan menurun, seiring dengan meningkatnya persentase abu sabut kelapa didalam tanah nilai itu sama, hasil uji pengembangan menunjukkan pada tanah asli terjadi pengembangan sebesar 0,59%, dan pada penambahan 12% abu sabut kelapa dan 6% dibandingkan dengan nilai pengembangan tanah asli adalah 0,59% terjadi penurunan 57 atau 96,61%. Dari nilai tekanan pengembangan pada pencampuran variasi abu sabut kelapa dan 6% kapur nilainya cenderung menurun, pada pencampuran 12% abu sabut kelapa dan 6% kapur nilai tekanan pengembangannya adalah 47 kpa pengembangan tanah asli adalah 155 kpa terjadi penurunan sebesar 108 kpa atau 69,67%. Hal ini disebabkan karena menurunnya plastisitas tanah. Dari hasil analisa diatas diperoleh kondisi yang terbaik pada pencampuran 6% abu sabut kelapa dan 6% kapur terhadap tanah. dimana tanah masih MH (USCS) atau A-75 . AASHTO, tetapi stabiltas tanah sudah meningkat dengan menurunnya nilai pengembangan dan tekanan pengembangan PENUTUP Simpulan Dari hasil penelitan dan analisa penulis, secara umum dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu : Gambar 9 Pengaruh Abu Sabut Kelapa Menurut kedua klasifikasi tanah dan Kapur Terhadap Persen yaitu USCS dan AASHTO, tanah Pengembangan Tanah yang di uji masuk dalam kategori tanah MH yaitu tanah Anorganik dengan plastisitas tinggi (USCS) A-7-5 (AASHTO) yaitu jenis tanah lanau atau lempung yang tidak tepat dijadikan sebagai tanah dasar . jalan raya. Hasil uji sifat fisis tanah yang terdiri dari uji saringan, uji specific gravity, uji batas atterberg, menunjukkan Gambar 10 Pengaruh Abu Sabut Kelapa bahwa semakin tinggi persentase abu dan Kapur Terhadap Tekanan sabut kelapa dan 6% kapur, dapat Pengembangan Tanah meningkatkan nilai batas susut, batas plastis, dan menurunnya, indeks ISSN 2599-2081 Fakultas Teknik UMSB EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL plastisitas, batas cair, sedangkan nilai lolos sarinhgan 200 cenderung konstan, hasil uji sifat mekanis tanah meningkat persentase abu sabut kelapa dan 6% kapur dalam tanah menunjukkan nilai pengembangan menurun, sedangkan nilai kepadatan meningkat pada saat pencampuran 6% abu sabut kelapa dan 6% kapur, seiring dengan peningkatan abu sabut kelapa nilai kepadatannya Saran Untuk beberapa kali supaya didapatkan data yang lebih baik. Agar diperoleh hasil yang baik, maka melaksanakan penelitian, sebaiknya tanah sebagai sampel diuji langsung di lokasi pengambilan untuk memastikan tanah itu benar-benar Rang Teknik Journal Haras M, 2017. Pengaruh Penambahan Kapur Terhadap Kuat Geser Tanah Lempung. Tekno Vol. 15, 2017 Herman. Sari. PO. AuPengaruh Abu Limbah Kertas terhadap Kembang Susut Tanah LempungAy. Jurnal Teknik Sipil ITP. Vol. 5 No. Januari Indahyani T, 2011. Pemenfaatan Limbah Sabut Kelapa pada Perencanaan Interior Furniture Berdampak pada Pemberdayaan Masyarakat Miskin. Jakarta. Vol. Muntohar AS, 2016. Desain Nilai CBR Tanah Dasar Jalan dengan Perbaikan Kapur dan Abu Sekam Padi. ISSN : 2459-9727. Safriani M, 2016. Analisa Pengaruh Penggunaan Abu Sabut Kelapa sebagai filler pada Campuran Aspal Retona Plend. Vol. 2 No. 2, 2016 Trikarlina E, dkk, 2017. Pemanfaatan Abu Sabut Kelapa (Cocos Nucifer. dan Pengaruh Penambahan Sikacik pada Pembuatan Batako. Vol. 6 No. 1, 2017. DAFTAR PUSTAKA