Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pengaruh Kepribadian Terhadap Kreativitas Generasi Alpha Sendi Alfiansa1. Syiva Safitri2. Aslamiah3 Pendidikan Agama Islam. Fakultas Agama Islam. Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Sendialfiansa03@gmail. Submitted: 19-09-2. Reviewed: 20-09-2024 | Accepted: 01-10-2024 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tipe kepribadian berdasarkan pedoman big five theory personality terhadap kreativitas generasi alpha. Jenis penelitian inikuantitatif ex post facto. Penelitian diadakan di SMP Negeri 19 Kota Bekasi dengan strategi pengambilan sampel peneliti menggunakan stratified random sampling, dan didapatkan 128 sampel dari 27 kelas di tiga tingkat Teknik pengumpulan data peneliti disini menggunakan angket dengan instrument kepribadian BFI . ig five instrumen. dan instrument kreativitas yang dikembangkan sendiri yang telah dinyatakan valid dan reliabel, dan selanjutnya dianalisa dengan analisis regresi linear berganda. Hasil menunjukkan terdapat pengaruh kepribadian Openness, concientisness dan Agreeablenes terhadap kreativitas generasi Alpha dengan nilai (Sig. ) . < 0,. dan tidak terdapat pengaruh kepribadian Extraversion dan Neuroticism terhadap kreativitas generasi alpha dengan nilai (Sig. ) . > 0,. Kemudian R square (R. yang diperoleh adalah sebesar 0,416. Ini menunjukan bahwa lima kepribadian dari big five (Openness. Conscientiousness. Extraversion. Agreeableness, dan Neuroticis. mempengaruhi kreativitas sebesar 41,6%. Sementara itu, sisa 58,4% variasi disebabkan oleh faktor-faktor lain. Kata Kunci: kepribadian big five, kreativitas, pembelajaran pendidikan agama islam ABSTRACT This study aims to examine the impact of personality types based on the Big Five Theory of Personality on the creativity of Generation Alpha. This is a quantitative ex post facto study conducted at SMP Negeri 19 Kota Bekasi. The sampling strategy used is stratified random sampling, resulting in 128 samples from 27 classes across three grade levels. Data collection involved questionnaires with the Big Five Instrument (BFI) for personality and a self-developed creativity instrument that has been validated and reliable. The data were analyzed using multiple linear regression. The results indicate that there is an effect of the personality traits Openness. Conscientiousness, and Agreeableness on the creativity of Generation Alpha with a significance value (Sig. ) . < 0. , while there is no effect of Extraversion and Neuroticism on creativity with a significance value (Sig. ) . > 0. The obtained R square (RA) is 0. 416, indicating that the Big Five personality traits (Openness. Conscientiousness. Extraversion. Agreeableness, and Neuroticis. account for 41. 6% of the variance in creativity, while the remaining 58. 4% is attributed to other factors. Keywords: Big Five Personality. Creativity. Islamic Education Learning PENDAHULUAN Pendidikan di Indonesia telah mendapatkan perhatian khusus, yang dapat ditinjau di dalam preambule Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 secara ekplisit dincantumkan bahwa yang memiliki tanggung jawab terbesar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tugas negara (Khoirul Ainia, 2. Pendidikan dipandang sebagai cara untuk memaksimalkan dan mengembangkan potensi alami siswa. Nilai-nilai yang ada di JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 masyarakat dan budaya negara memungkinkan perkembangan potensi tersebut (Ambarita. Dalam Sisdiknas, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi alami siswa sehingga mereka menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan, terampil, kreatif, dan mandiri. Mereka juga harus menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan bertanggung jawab (Sisdiknas, 2. Lebih dari itu Pendidikan Islam, secara general sama dengan pendidikan umum yaitu mengusahakan membentuk karakter peserta didik dengan proses pembelajaran yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar (Ramayulis, 2. Dewasa ini Dunia pendidikan khususnya indonesia di hadapkan dengan permasalahan dalam mendidik generasi alpaha. Generasi Alpha mengacu pada kelompok demografis yang lahir mulai tahun 2010 dan seterusnya. Generasi ini adalah penerus dari Generasi Z dan merupakan generasi pertama yang sepenuhnya lahir di abad ke-21. Generasi Alpha dikenal karena keterkaitan mereka yang erat dengan teknologi digital sejak usia dini. Mereka tumbuh di tengah-tengah kemajuan pesat teknologi, seperti smartphone, tablet, dan internet, yang membentuk cara mereka belajar, bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka (McCrindle, 2. Lebih lanjut Mc Crindle memprediksi bahwa generasi Alpha memiliki karakteristik keterikatan yang kuat terhadap smartphone, minim bersosialisasi sehingga menjadi generasi individuales dan tidak kreatif. (Fadlurrohim et al. , 2. Pendidikan untuk Generasi Alpha sering kali memerlukan pendekatan yang berbeda, seperti pembelajaran berbasis teknologi atau gamifikasi, untuk memenuhi kebutuhan dan minat mereka. Penelitian oleh Twenge . menunjukkan bahwa Generasi Alpha cenderung memiliki rentang perhatian yang lebih pendek tetapi memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik karena terbiasa dengan lingkungan yang serba cepat dan interaktif (Twenge, 2. Lebih dari itu Generasi ini juga dikenal karena keterampilan kreatif dan kolaboratif mereka yang kuat. Mereka memiliki akses ke alat digital yang memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri dan berkolaborasi dengan orang lain di seluruh dunia, yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya (Haber, 2. Kreativitas merupakan poin penting sekali untuk dimiliki oleh para peserta didik . enerasi alph. , karena kreativitas itu diibaratkan sebagai kuncinya pintu kesuksesan dan keberhasilan dalam pembelajaran (Ahmad & Mawarni, 2. Kreativitas memungkinkan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 seseorang untuk berpikir luas dalam mengembangkan ide-ide baru, memberikan kontribusi dalam menciptakan gagasan inovatif yang berkualitas (Faizah. Zaenudi & (STAINU Temanggung, 2. Kreativitas sendiri diartikan sebagai suatu proses mental yang dilakukan oleh individu dalam membuat ide atau produk yang baru, atau bisa juga mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya (Rahmawati & Kurniati, 2. Sejalan dengan itu kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghsilkan karya yang tidak terduga dan bermanfaat, mampu beradaptasi terhadap kendala dalam menjalankan tugas (Sternberg & Lubart, 1. Dalam segi penelitian kreativitas merupakan pembahasan berskala luas dan penting bagi individu dan social untuk berbagai wilayah tugas yang beragam (Iswantara, 2. Dalam konteks operasional, kreativitas terbagi kedalam beberapa kemampuan yaitu, menunjukkan kelancaran . , kegesitan . , keaslian dalam berpikir . , bersama dengan kemampuan untuk merinci dan memperkaya gagasan . Aspek-aspek kreativitas ini sering dikenal dengan istilah kemampuan berpikir kreatif (Lestari & Zakiah, 2019. Ulger, 2. Dalam hal kepribadian, peneliti tertarik dengan konsep teori kepribadian big five yang di populerkan oleh Goldberg, menyatakan bahwa Big Five Personality atau Mode Lima Besar Kepribadian mengidentifikasi lima dimensi utama yang menggambarkan ciri-ciri kepribadian manusia (Randy J & David M, 2. Ini meliputi Neuroticism (Neuroticism. Extraversion . Openness to Experience . erbuka terhadap pengalama. Agreeableness . , dan Conscientiousness . (Feist et al. , 2. Dalam hal ini tipe kepribadian ditujukkan sebagai kluster dalam prediktor kreativitas generasi Alpha. Tipe Kepribadian Openness Singkatan OConscientiousness Korelasi Empiris (Skala dan Ite. Estetis, pencapaian melalui kemandirian, perubahan, kreatif, penasaran, fleksibel, humoris, imajinatif, cerdas, terbuka, berpikiran terbuka, orisinal, sensitif, berwawasan, minat luas. Konvensional, tidak fleksibel, kaku, terintegrasi secara Hati-hati, waspada, teliti, terkontrol, daya tahan, teliti, teratur, gigih, dapat diandalkan, bertanggung jawab, pengendalian diri. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Ekspresi kebutuhan langsung, penyimpangan psikopat. Extraversion Berprestasi, aktif, petualang . , ambisius, tegas, mandiri, kapasitas untuk status, percaya diri, siklotimik, dominan, enerjik, antusias, ekshibisionis, ekspresif, ekstrover, suka bergaul, hipomanik, impulsif, independen, inisiatif, pemimpin . , butuh pengakuan, berorientasi kekuasaan, emosi positif, menerima diri sendiri, yakin pada diri sendiri, percaya diri, harga diri, mandiri, pencari sensasi, sosial, hadir secara sosial, surgent. EMerendahkan diri, hormat, bergantung, depresi, internalitas, introvert, radikal, reflektif, pendiam, introversi sosial, penurut, tidak ambisius, tidak sosial, tidak petualang. Agreeableness Afiliasi, menyenangkan, komunal, kooperatif, santai, empatik, feminin, ramah, murah hati, introspektif, pengasuhan, orang tua yang mengasuh, damai, mendukung, hangat. AAgresif, suka berdebat, sinis, egois, eksploitasi, keras kepala, bermusuhan, maskulin, psikotik, curiga. Neuroticism Cemas, defensif, depresi, emosional, mudah tersulut, rentan merasa bersalah, hipokondria, tidak aman, labil, neurotik, psikasthenia, skizofrenia, cerdik, suka menolong, tegang, suka khawatir. NPencapaian melalui kepatuhan, penyesuaian diri, tenang, kekuatan ego, kesan baik, bebas dari rasa bersalah, bahagia, efisiensi intelektual, penyesuaian pribadi, kesejahteraan pribadi, berpikiran psikologis, stabil. Berdasarkan pemaparan diatas maka dalam penelitian ini akan berfokus terhadap membuktikan apakah terdapat pengaruh dari kepribadian terhadap kreativitas generasi Alpha, yang nantinya akan di anylisis lebih lanjut akan keterpengaruhan dan sumbangsihnya kepribadian terhadap kreativitas. Artikel ini menawarkan keunggulan dengan fokus pada Generasi Alpha, kelompok yang tumbuh di era digital dan dipengaruhi teknologi canggih. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi bagaimana dimensi kepribadian mendukung atau menghambat kreativitas, dan menyoroti interaksi antara faktor internal . dan eksternal . ingkungan digita. Kebaruannya terletak pada pendekatan lintas-disiplin yang menggabungkan teori kepribadian dengan studi generasi, memberikan wawasan holistik tentang pengembangan kreativitas pada Generasi Alpha yang masih minim penelitian. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif deskriptif dengan uji analisis regresi linear berganda dikarenakan pada penelitian ini variabel independen yaitu kepribadian terbagi menjadi lima bagian yang disesuaikan dengan kepribadian dari sampel yang ada, yang mana secara kumulatif maupun secara mandiri akan diuji pengaruhnya terhadap kreativitas sebagai variabel dependen. Pendekatan ini dipilih untuk menyelidiki populasi atau sampel tertentu dengan menggunakan alat-alat penelitian dan menganalisis data secara kuantitatif atau statistik. Tujuan utamanya adalah untuk menggambarkan dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan Melalui pendekatan ini, penelitian berusaha untuk memetakan fenomena yang diteliti dengan menggunakan angka dan statistik. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen penelitian yang telah teruji, seperti kuesioner atau instrumen pengamatan, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik statistik yang relevan. (Sugiyono, 2. Penelitian ini jika ditinjau dari alat analisisnya yaitu menggunakan penelitian ex post facto . ausal researc. , yang bertujuan untuk menginvestigasi apakah satu atau lebih kondisi yang telah ada sebelumnya dapat menjadi pemicu perbedaan yang terjadi selanjutnya dalam kelompok subjek. Populasi dalam penelitian ini iyalah seluruh peserta didik SMP Negeri 19 Kota Bekasi yang berjumlah 1. 170 peserta didik . elahiran 2010,2011 dan 2. , dan yang nantinya dijadikan sampel sebanyak 128 responden dari 27 kelas di tiga tingkatan . elas vii,vi dan i. yang dipilih secara stratified random sampling, metode ini merupakan teknik pengambilan sampel di mana populasi dibagi menjadi subkelompok atau strata yang homogen berdasarkan karakteristik tertentu, seperti usia, jenis kelamin, atau kelas (Sugiyono, 2. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini berdasar kepada pendapatnya Suharsimi Arikunto, apabila populasi penelitian cukup besar, yaitu lebih dari 100 individu, maka dapat diambil sampel sebesar 10-15%, 20-25%, atau bahkan lebih dari populasi tersebut (Arikunto, 2. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini sendiri, untuk variabel independennya menggunakan BFI . ig five instrume. yang dikembangkan oleh John. , & Srivastava. dan untuk variabel dependennya menggunakan instrument yang oeneliti kembangkan sendiri berdasarkan empat indikator kreativitas diatas, dengan hasil uji coba dari 46 instrumen JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 26 dinyatakan valid. Dan memiliki nilai uji reliabelitas cronbachAos alpha o,825. Yang selanjutnya digunakan dalam pengambilan sampel utama. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan olahan data yang didapatkan, berikut pengelompokkan responden berdasarkan tipe kepribadian dan jenis kelamin. Tabel 1. Sampel Berdasarkan Kepribadian dan Gender Tipe Kepribadian Sampel Male Female Persent Openness Conscientiousness Extraversion Agreeableness Neurotism Dari analisis tabel 1, dapat disimpulkan bahwa distribusi tipe kepribadian dalam sampel menunjukkan variasi yang menarik berdasarkan gender. Secara keseluruhan, distribusi gender cukup seimbang, dengan 51% pria dan 49% wanita dari total 128 sampel. Tipe kepribadian yang paling dominan dalam sampel adalah Agreeableness . , yang mencakup 39% dari total, dengan sedikit lebih banyak pria . dibandingkan wanita . Tipe kepribadian Conscientiousness . juga cukup signifikan, mewakili 19% dari sampel, dan memiliki distribusi gender yang hampir seimbang. Sementara itu. Extraversion lebih sering ditemukan pada pria . dibandingkan wanita . , dan Neuroticism lebih banyak ditemukan pada wanita . dibandingkan pria . , prihal ini sesuai dengan beberapa penelitian terdahulu(Costa et al. , 2001. Schmitt et al. , 2009. Weisberg et al. , 2. Tipe kepribadian Openness . memiliki distribusi gender yang cukup merata. Kesimpulan ini menunjukkan adanya perbedaan yang cukup jelas dalam distribusi tipe kepribadian tertentu berdasarkan gender, dengan beberapa tipe lebih cenderung didominasi oleh salah satu gender. Sebelum pengolahan data untuk uji hipotesis, uji prasyarat yang dilakukan untuk menentukkan uji hipotesis nantinya. Didapatkan nilai signifikansi . -valu. sebesar 0,731 > 0,05 untuk Uji Kolmogorov-Smirnov, nilai signifikansi . -valu. sebesar 0,243 > 0,05 untuk Uji Levene, dan . -valu. signifikansi dari deviation from linearity yaitu ( Openness 0,432. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Conscientiousness 0,256. Extraversion 0,892. Agreeableness 0,441, dan Neuroticism 0,601, p > 0,05 ) untuk uji linearitas. Dari hasil ini dapat dipastikan data maupun variabel mendukung dalam uji hipotesis dengan analisis regresi berganda. Tabel 3. Uji F Model Sum of Squares Mean Square Sig. Regression 3012,454 602,491 17,396 Residual 4225,265 34,633 Total 7237,719 Tabel 2 menegaskan akan pengaruhnya faktor kepribadian secara kumulatif terhadap kreativitas generasi alpha di SMP Negeri 19 Kota Bekasi. Ini sesuai dengan teori dari Feist dan Feist . jika ditinjau berdasarkan indikator-indikator kepribadian yang mana kelima dari tipe kepribadian memiliki pengaruhnya terhadap kreativitas, tetapi tidak semua tipe kepribadian memiliki pengaruh yang positif terhadap kreativitas (Feist et al. , 2. Tabel 4. Uji T Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Beta Sig. Std. Error (Constan. 7,201 8,143 Openness 1,066 0,267 0,742 3,995 Concientiousness 0,984 0,346 0,51 2,844 Extraversion 0,984 0,582 0,425 1,691 Agreeableness 1,184 0,139 0,777 8,544 Neuroticism 0,31 0,385 0,173 Tabel 3. menunjukkan beberapa hasil yang menunjukkan pengaruh tidaknya tipe kepribadian terhadap kreativitas generasi alpha, yang mana untuk tipe Openness menunjukkan pengaruhnya terhadap kreativitas . ,002 < 0,. Hasil ini sejalan dengan banyak penelitian terdahulu, seperti Xu . , yang mana dalam hasil penelitiannya menjelaskan pengaruh personality terhadap kreativitas khususnya tipe Openness sebagai prediktor dari munculnya kreativitas dalam konteks pendidikan (Hornberg & Reiter-Palmon, 2017. Xu, 2. Concientiousness juga menunjukkan pengaruhnya terhadap kreativitas . ,009 < 0,. Hasil ini memperkuat penelitian sebelumnya yang mengungkapkan pengaruhnya tipe kepribadian Openness dan concientiousness dengan kreativitas (Chen, 2016. Hu et al. , 2. Tipe agreablenness juga mencatat bahwa keikutertaannya dalam mempengaruhi kreativitas . ,000 < 0,. ini bertentanggan dengan beberapa penelitian terdahulu, yang mendeskripsikan bahwa JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 keramahan akan menghambat kreativitas dikarenakan menghindarkan konflik akibat perbedaan ide (Hornberg & Reiter-Palmon, 2. , tetapi dalam beberapa faktor, keramahan dapat membantu seseorang dalam mengelaborasi ide. Sedangkan dengan tipe Extraversion dan Neuroticism menunjukkan tidak memiliki pengaruh terhadap kreativitas . ,115, 430 < 0,. , hasil ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang mana kedua tipe kepribadian tersebut tidak sejalan dengan kreativitas (Guo et al. , 2023. Noviana, 2. Tabel 5. Uji Koefisien Determinan R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 0,416 0,392 5,885 Nilai R square (R ) yang diperoleh dalam analisis ini sebesar 0,416 atau 41,6%. Ini menunjukan bahwa dari lima kepribadian dari big five mempengaruhi kreativitas sebesar 41,6%. Sementara itu, sisa 58,4% variasi disebabkan oleh faktor-faktor lain Pembahasan Kepribadian Openness sangat penting bagi Generasi Alpha, yang sering kali terpapar pada informasi berlimpah dan beragam pilihan dalam dunia digital. Namun, tantangan muncul ketika akses tak terbatas terhadap informasi dapat menyebabkan over-stimulasi dan penurunan fokus, yang justru bisa menghambat eksplorasi ide yang mendalam. Lingkungan belajar yang terlalu terstruktur atau, sebaliknya, terlalu bebas tanpa panduan dapat memengaruhi bagaimana Openness berkembang menjadi kreativitas sejati (Beghetto & Kaufman, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang mendukung eksplorasi terarah dan fleksibilitas kognitif (Anderson et al. , 2014. Zhou & Hoever, 2. , sehingga Openness dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kreativitas Generasi Alpha. Kedisiplinan dan ketelitian relevan dalam mengembangkan kreativitas. Generasi Alpha, yang sering kali terbiasa dengan hiburan instan dan gangguan digital, mungkin menghadapi kesulitan dalam memupuk ketekunan dan kedisiplinan yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya kreatif yang matang (Hyfrovy et al. , 2024. Nur & Rusnali, 2. Ini menciptakan paradoks di mana Conscientiousness, yang di satu sisi bisa menjadi penghambat kreativitas karena kecenderungan terhadap kepatuhan, di sisi lain justru menjadi aset dalam konteks yang terstruktur (Spielmann et al. , 2. Penerapan pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan tugas kreatif terorganisir dengan elemen kebebasan dapat membantu JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Generasi Alpha menemukan keseimbangan antara kreativitas dan struktur (Hardiman, 2. , mengoptimalkan potensi kepribadian Conscientiousness dalam menghasilkan karya inovatif (Kim et al. , 2. Generasi Alpha, yang tumbuh dengan media sosial dan platform digital yang mendorong interaksi, sering kali mengembangkan keterampilan interpersonal sejak dini (Amabile, 2. Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kerjasama dan orisinalitas ide, karena Agreeableness kadang-kadang dapat menyebabkan konformitas yang menghambat inovasi (Jessica et al. , 2. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi diskusi terbuka dan penerimaan terhadap perbedaan ide, sehingga keramahan dapat menjadi pendorong, bukan penghambat kreativitas (Nijstad & Stroebe, 2. Meskipun Extraversion mendorong interaksi sosial yang aktif, kreativitas lebih terkait dengan proses internal seperti refleksi dan imajinasi, yang mungkin tidak selalu tercapai melalui interaksi eksternal yang intens. Tantangan bagi Generasi Alpha adalah menjaga keseimbangan antara stimulasi eksternal dari interaksi sosial digital dan kebutuhan untuk waktu tenang dan refleksi (De Dreu & West, 2. Sementara itu. Neuroticism yang berkaitan dengan emosi negatif dapat mengganggu proses kreatif, meskipun beberapa penelitian menyebutkan bahwa kecemasan dalam dosis moderat dapat memicu kreativitas (Gino & Ariely, 2. Generasi Alpha, yang terpapar tekanan sosial media dan standar kesempurnaan yang tinggi, perlu dukungan untuk mengelola stres dan emosi negatif agar tidak menghalangi, melainkan memicu kreativitas mereka (Beghetto & Kaufman, 2. KESIMPULAN Pengembangan kreativitas Generasi Alpha sangat dipengaruhi oleh interaksi kepribadian mereka dengan lingkungan digital dan sosial yang unik. Openness, meskipun penting untuk eksplorasi ide-ide baru, perlu diarahkan secara strategis agar tidak tersesat dalam gangguan informasi. Pendidikan yang seimbang antara fleksibilitas dan struktur dapat mendukung keterbukaan yang terarah, mendorong kreativitas mendalam. Conscientiousness, meskipun dapat membatasi kreativitas jika terlalu fokus pada kepatuhan, dapat menjadi kekuatan apabila diintegrasikan dengan kebebasan kreatif yang terorganisir. Sementara itu. Agreeableness perlu dikelola untuk mencegah konformitas berlebihan, dengan menciptakan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 3 . , 2023. Page 42-53 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 ruang diskusi yang menghargai perbedaan ide guna mendorong inovasi. Extraversion memerlukan keseimbangan antara stimulasi sosial dan refleksi internal untuk menghasilkan kreativitas yang optimal, sementara Neuroticism memerlukan pengelolaan yang hati-hati, agar kecemasan tidak menghambat, melainkan memicu kreativitas dalam takaran yang tepat. Secara keseluruhan, pendidikan yang dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan karakter kepribadian ini dapat memaksimalkan potensi kreativitas Generasi Alpha dalam menghadapi tantangan era digital. Untuk penelitian selanjutnya dapat digali lebih mendalam aspek-aspek yang dapat meningkatkan kreativitas sekaligus relevan dengan generasi Alpha serta cara-cara meningkatkan kualitas softskils generasi Alpha ini. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih tim peneliti ucapkan kepada Allah SWT, yang senantiasa memberikan kesehatan kepada tim peneliti sehingga kegiatan penelitian ini berjalan dengan optimal. Terimakasih kepada kepala sekolah SMP Negeri 19 kota bekasi yang telah berkenan kepada tim untuk melakukan penelitian dan juga terimakasih kepada seluruh guru-guru yang terlibat dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA