STRATEGI ORANG TUA DALAM MENGAJARKAN PUASA KEPADA ANAK USIA DINI : STUDI KASUS DI SUKOHARJO DAN SRAGEN Siti Saroh1. Anissa Affakih Qulbi 2. Khasan Ubaidillah3 Pendidikan Islam Anak Usia Dini e-mail: 1sitisaroh17@gmail. com ,2 affakihanissa135@gmail. ubaidillah@staff. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang diterapkan oleh orang tua dalam mengajarkan praktik puasa kepada anak usia dini, serta mengidentifikasi kendala dan faktor pendukung yang dihadapi di dua lokasi, yakni Desa Pucangan. Sukoharjo, dan Desa Pilang. Sragen. Metode yang digunakan adalah observasi langsung dan wawancara mendalam dengan pendekatan kualitatif untuk memperoleh data yang kaya dan kontekstual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi utama yang digunakan oleh orang tua meliputi pendekatan bercerita untuk menanamkan nilai-nilai spiritual, memberikan teladan nyata melalui praktik sehari-hari, serta penggunaan sistem penghargaan sebagai bentuk motivasi. Kendala yang sering dihadapi mencakup kesulitan dalam membangunkan anak saat sahur dan menjaga konsistensi anak untuk menjalankan puasa sepanjang hari. Namun, penelitian juga menemukan adanya faktor pendukung yang signifikan, seperti penggunaan media digital untuk menyampaikan informasi religius secara kreatif dan adanya dukungan dari anggota keluarga lainnya yang memperkuat proses pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterlibatan aktif orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan berpuasa sejak dini, yang tidak hanya melibatkan aspek pembelajaran teknis tetapi juga penanaman nilai-nilai moral dan spiritual. Keywords: pengenalan,puasa,anak Abstract. This study aims to analyze the strategies employed by parents in teaching fasting practices to young children, as well as to identify the challenges and supporting factors encountered in two locations: Pucangan Village. Sukoharjo, and Pilang Village. Sragen. The research utilized direct observation and in-depth interviews within a qualitative framework to gather rich and contextual The findings reveal that parents primarily use storytelling approaches to instill spiritual values, provide real-life examples through daily practices, and employ reward systems as a form of The main challenges include difficulties in waking children for pre-dawn meals . and maintaining their consistency in fasting throughout the day. However, the study also highlights significant supporting factors, such as the use of digital media to creatively convey religious information and support from other family members, which reinforces the learning process. This research concludes that active parental involvement is crucial in developing early fasting habits, encompassing not only technical teaching aspects but also the cultivation of moral and spiritual Keywords: introduction, fasting, children Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah PENDAHULUAN Orang tua memainkan peran penting sebagai pendidik pertama bagi anakanak, terutama dalam membentuk kebiasaan dan menanamkan nilai-nilai agama. Tanggung jawab ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk pengenalan terhadap praktik ibadah seperti puasa. Ibadah puasa bukan hanya merupakan kewajiban religius, tetapi juga sarana pembentukan karakter melalui pengendalian diri, disiplin, dan kesadaran spiritual. Oleh karena itu, keberhasilan pengenalan puasa pada anak-anak sangat bergantung pada pendekatan yang diterapkan oleh orang tua (Harnita. , & Arbi. , 2. Pada usia dini, anak-anak berada dalam fase emas perkembangan, yaitu periode di mana kemampuan kognitif, emosional, dan moral berkembang pesat. Fase ini menawarkan peluang emas bagi orang tua untuk menanamkan kebiasaan positif yang dapat bertahan hingga dewasa (Busriyah. RufiAoah. Saniti. & Prasetiya. , 2. Dalam konteks pengenalan puasa, stimulasi yang diberikan pada masa ini dapat membantu anak memahami esensi ibadah dan menumbuhkan motivasi untuk menjalankannya. Dengan demikian, strategi pengajaran yang tepat menjadi faktor kunci dalam membentuk pengalaman berpuasa yang positif bagi anak (Hasanah. Purnama Sari. , & Azwar. , 2024. Farmawaty. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya yang dilakukan oleh orang tua dalam mengenalkan praktik puasa kepada anak usia dini. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada tantangan yang dihadapi orang tua selama proses Pemahaman yang lebih mendalam tentang upaya dan kendala tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi orang tua dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung pendidikan religius pada anak usia dini. Studi ini dilakukan di dua lokasi, yaitu Desa Pucangan di Sukoharjo dan Desa Pilang di Sragen, yang memiliki konteks sosial dan budaya berbeda. Kedua wilayah ini dipilih karena memberikan gambaran beragam tentang praktik pengasuhan dan pendekatan orang tua dalam mengajarkan puasa. Observasi dan wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data yang kaya dan relevan untuk memahami dinamika pengenalan ibadah puasa pada anak. Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah Dengan memahami strategi, tantangan, dan faktor pendukung yang dihadapi orang tua, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pendidikan agama yang lebih efektif untuk anak usia dini. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi para orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam mendesain program pembelajaran yang mendukung pembentukan kebiasaan religius sejak dini. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami secara mendalam strategi, tantangan, dan faktor pendukung orang tua dalam mengajarkan praktik puasa kepada anak usia dini (Assyakurrohim. Ikhram. Sirodj. , & Afgani. , 2. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti menggali pengalaman dan pandangan subjek penelitian secara kontekstual dan mendalam (Sugiyono, 2. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, yang dilakukan dengan 10 orang tua yang tinggal di Desa Pucangan. Sukoharjo, dan Desa Pilang. Sragen, pada tanggal 11Ae13 April 2023. Teknik wawancara semi-terstruktur memungkinkan peneliti untuk memiliki kerangka pertanyaan yang terarah, namun tetap memberikan fleksibilitas bagi responden untuk berbagi pandangan dan pengalaman mereka secara lebih luas. Pertanyaan yang diajukan mencakup topiktopik seperti metode yang digunakan orang tua untuk mengenalkan puasa, tantangan yang dihadapi, dan dukungan yang dirasakan selama proses tersebut. Proses wawancara dilakukan di rumah responden untuk menciptakan suasana nyaman dan mendorong kejujuran dalam menjawab pertanyaan. Selain wawancara, observasi partisipatif dilakukan untuk melihat langsung bagaimana orang tua menerapkan strategi pengajaran puasa kepada anak-anak Observasi ini mencakup aktivitas harian seperti membangunkan anak saat sahur, memberikan motivasi untuk tetap berpuasa, dan cara orang tua mendampingi anak dalam menjalankan ibadah ini. Observasi bertujuan untuk melengkapi data dari wawancara dengan fakta empiris yang diamati langsung di lapangan. Catatan lapangan dibuat secara rinci untuk mendokumentasikan aktivitas, interaksi, dan konteks lingkungan keluarga. Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Proses analisis dimulai dengan transkripsi hasil wawancara dan catatan observasi, yang kemudian diolah melalui proses pengkodean untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang relevan. Langkah-langkah analisis mencakup membaca berulang data mentah untuk menemukan pola, menyusun kategori tematik berdasarkan kemunculan tema tertentu, dan menginterpretasikan hubungan antar tema untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pendekatan ini membantu peneliti dalam mengorganisasi data yang kompleks menjadi temuan yang bermakna dan Adapun Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa . Upaya Orang Tua dalam melatih anaknya untuk berpuasa di desa Pucangan Kartasura Sukoharjo dan di Desa Pilang Masaran Sragen, dengan mengajarkannya tata cara berpuasa dan pada saat itu pula anak sudah di latih untuk berpuasa semampunya dulu, dan apabila ia mampu melakukan puasa maka anak tersebut akan diberi hadiah oleh orang tuanya . Program orang tua dalam mengajarkan anak tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa Ramadhan di Desa Pucangan Kartasura dan di Desa Pilang Masaran Sragen, dengan mengajarkannya tata cara berpuasa dengan metode yang midah dipahami oleh anak . Kendala dan penunjang orang tua dalam melatih anak berpuasa Ramadhan di Desa Pucangan Kartasura dan di Desa Pilang Masaran Sragen, kendala baginya dalam melatih anak berpuasa Ramadhan pertama susah di bangunkan sahur kedua selalu minta berbuka kalau sudah siang sedang penunjangnya berpuasa adalah diberikan hadiah, apabila puasa penuh satu bulan maka diberi hadiah, karena orang tua berperan dalam proses perkembangan anak terutama dalam berpuasa. Keseluruhan proses penelitian ini dirancang untuk memastikan validitas dan kredibilitas data. Triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi guna mengurangi bias dan memperkuat temuan. Hasil dari analisis ini diharapkan memberikan wawasan yang mendalam tentang peran dan tantangan orang tua dalam membentuk kebiasaan berpuasa pada anak usia dini. Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua di Desa Pucangan dan Desa Pilang menggunakan berbagai strategi dalam mengenalkan puasa kepada anak-anak Strategi utama yang digunakan meliputi bercerita, memberikan contoh langsung, menggunakan video edukatif, serta memberikan penghargaan (Khoiriah, . Sutarto. , & Wanto. , 2. Ibu Erna, misalnya, mengajarkan nilai-nilai puasa melalui cerita dan video, yang memicu rasa ingin tahu anak terhadap puasa. Selain itu, orang tua menciptakan suasana menyenangkan untuk mengenalkan puasa secara bertahap, seperti melatih anak berpuasa setengah hari sebelum memperpanjang durasi secara bertahap (Lestari. ,2. Pendekatan ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial dari Bandura, yang menekankan pentingnya pengamatan dan peniruan terhadap perilaku model. Penerapan penghargaan untuk memotivasi anak juga sesuai dengan teori operant conditioning dari Skinner, yang menyoroti pentingnya penguatan positif dalam membentuk perilaku. Namun, orang tua juga menghadapi beberapa kendala dalam melatih anak Kendala utama adalah kesulitan membangunkan anak untuk sahur dan ketidakmampuan anak menahan lapar atau haus sepanjang hari. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Amelia dan Ibu Esti, anak-anak sering kali menolak bangun dini hari, sehingga mengganggu rutinitas sahur. Selain itu, permintaan anak untuk makan atau minum sebelum berbuka menjadi tantangan yang memerlukan kesabaran ekstra dari orang tua. Kendala ini sesuai dengan teori perkembangan kognitif Piaget, yang menyebutkan bahwa anak usia dini masih berada pada tahap pra-operasional, sehingga kemampuan mereka untuk memahami konsep abstrak seperti pengorbanan dan kesabaran belum berkembang sepenuhnya (Setiawan. Apri Irianto. , & Rusminati. , 2. Meskipun demikian, terdapat beberapa faktor pendukung yang membantu proses pengajaran puasa kepada anak. Pemanfaatan teknologi digital, seperti video edukasi, mempermudah orang tua dalam menjelaskan konsep puasa dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh anak. Selain itu, dukungan lingkungan keluarga, termasuk peran kakak atau anggota keluarga lainnya, menciptakan suasana kolektif yang mendukung anak dalam menjalankan ibadah puasa. Pemanfaatan teknologi ini sesuai dengan teori pembelajaran multimedia dari Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah Mayer, yang menyatakan bahwa penggunaan elemen visual dan audio dapat meningkatkan pemahaman. Dukungan keluarga juga sejalan dengan teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner, yang menekankan pentingnya lingkungan mikro dalam pembentukan kebiasaan anak (Nadiatussidqa. , 2. Mengajarkan puasa kepada anak sejak dini memberikan berbagai manfaat, seperti melatih kesabaran, membangun disiplin, menumbuhkan rasa syukur, dan melatih kejujuran. Anak belajar menahan diri dari lapar dan haus, menghargai makanan yang disediakan saat berbuka, serta berusaha jujur dalam menjalankan ibadah tanpa melakukan kecurangan. Pendekatan bertahap yang diterapkan orang tua, seperti melatih anak berpuasa setengah hari sebelum memperpanjang durasi puasa, membantu anak memahami esensi puasa secara perlahan. Manfaat ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pembiasaan ibadah sejak dini sebagai upaya membangun kepribadian takwa, sebagaimana diungkapkan oleh Slamet Abidin yang menyoroti pentingnya pembiasaan untuk mendisiplinkan diri dan meningkatkan rasa syukur. KESIMPULAN Melatih anak berpuasa sejak dini adalah langkah penting untuk membangun kesadaran religius dan karakter positif, seperti kesabaran, kedisiplinan, dan rasa Orang tua menggunakan strategi seperti bercerita, memberi teladan, memanfaatkan media digital, serta memberikan penghargaan untuk memotivasi Tantangan utama meliputi kesulitan membangunkan anak untuk sahur dan menjaga konsistensi mereka dalam berpuasa, namun dukungan keluarga dan penggunaan teknologi digital membantu menjadikan proses ini lebih menarik. Pendekatan bertahap, seperti melatih anak berpuasa setengah hari, serta melibatkan mereka dalam aktivitas Ramadan, seperti shalat tarawih atau membaca Al-Qur'an, dapat memperkaya pengalaman dan pemahaman mereka. Orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan dan kesiapan anak, memastikan puasa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membangun, bukan beban, sehingga anak lebih siap menjalankan kewajiban puasa saat dewasa. Siti Saroh. Anissa Affakih Qulbi, dan Khasan Ubaidillah UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada narasumber yang sudah memberikan informasi terkait pengenalan puasa kepada anak. Informasi yang kami dapatkan di olah menjadi jurnal, yang bermanfaat bagi para pembaca lainnya dan memotivasi para pendidik, orang tua ataupun para remaja dalam pentingnya pengenalan puasa kepada anak sejak dini. DAFTAR PUSTAKA