Urecol Journal. Part B: Economics and Business Vol. 2 No. eISSN: 2797-1902 The Effect of Internal Control System. Firm Size. Leverage and Operating Profit on Audit Delay during the Covid-19 Pandemic Anita Viani. Siti Noor Khikmah . Farida Department of Accounting. Universitas Muhammadiyah Magelang. Indonesia noorkhikmah@ummgl. https://doi. org/10. 53017/ujeb. Received: 15/02/2022 Revised: 26/03/2022 Accepted: 29/03/2022 Abstract Audit delay is the length or time span of the completion of audit which is measured from the closing date of the financial year to the date of issuance of the audit report. This study aims to examine the factors that affect audit delay which include Internal Control System, firm size, leverage and operating profit. The population of this study are consumer cyclicals sector listed on the IDX for the 2019-2020 period. The sampling technique used in the study used purposive sampling method and the type of data used was secondary data. The selected sample is 78 companies or 156 samples through the specified criteria. Statistical analysis in this study using multiple linear regression. The results of the research show that the Internal Control System and operating profit have a negative effect on audit delay. While the leverage and firm size have no effect on audit delay. Keywords: Audit delay. Firm Size. Internal Control System. Leverage. Operating Profit Dampak Sistem Pengendalian Internal. Ukuran Perusahaan. Leverage dan Laba Operasi terhadap Audit Delay pada Masa Pandemi Covid-19 Abstrak Audit delay merupakan lamanya atau rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap audit delay yang meliputi Sistem Pengendalian Internal, ukuran perusahaan, leverage dan laba operasi. Populasi penelitian ini adalah perusahaan sektor barang konsumsi non-primer yang terdaftar di BEI periode 2019-2020. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan jenis data yang digunakan adalah data Sampel yang terpilih sebanyak 78 perusahaan atau 156 sampel melalui kriteria yang Analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Sistem Pengendalian Internal dan laba operasi berpengaruh negatif terhadap audit delay. Sedangkan variabel leverage dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Kata kunci: Audit delay. Laba Operasi. Leverage. Sistem Pengendalian Internal. Ukuran Perusahaan Pendahuluan Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia memberikan dampak yang besar bagi segala aspek kehidupan manusia. Tidak hanya berpengaruh terhadap kelangsungan Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. perekonomian global tetapi juga memberikan perubahan yang signifikan pada kegiatan pemeriksaan auditor. Adanya pandemi Covid-19 membuat perencanan audit dan hal-hal lain yang selama ini dilaksanakan oleh auditor terganggu dan berubah . Belum lagi adanya kebijakan pemerintah yang menghimbau untuk melakukan pekerjaan di rumah (WFH) dan new normal membuat gerak auditor untuk melakukan prosedur audit secara optimal terhambat. Pandemi Covid-19 yang terjadi mempengaruhi hasil audit, misalnya pada kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besa. yang berimbas pada akses dan perjalanan maupun ketersediaan personel dari auditor dan auditee. Menurut . karena pandemi Covid-19 beberapa perusahaan yang go public mempunyai keterlambatan penyelesaian audit yang menyebabkan semakin tingginya audit delay. Audit delay merupakan lamanya atau rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit. Menurut . audit delay merupakan jangka waktu proses penyelesaian audit yang dihitung dari akhir tahun buku sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan dalam memperoleh informasi, sehingga menyulitkan mereka untuk menentukan strategi bisnis untuk tahun berikutnya. Oleh karena itu ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan oleh auditor diperlukan karena mempengaruhi ketepatan waktu perusahaan dalam memberikan pelaporan keuangan kepada investor, masyarakat umum dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setiap perusahaan yang go public diwajibkan menyampaikan laporan keuangan auditan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan stakeholder setiap tahunnya. Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 29/POJK. 04/2016 pasal 7 ayat . tentang laporan tahunan emiten atau perusahaan public, bahwa emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat pada akhir bulan keempat setelah tahun buku berakhir. Apabila ada pihak yang melakukan pelanggaran peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan dikenakan sanksi berupa peringatan tertulis, denda kewajiban membayar sejumlah uang, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha, pembatalan persetujuan, dan pembatalan pendaftaran. Namun pada kenyataanya, masih terdapat perusahaan go public yang terlambat menyampaikan laporan keuangan yang sudah diaudit dari batas waktu yang telah ditetapkan. Data keterlambatan penyampaian laporan keuangan auditan perusahaan go public dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Perusahaan Yang Terlambat Menyampaikan Laporan Keuangan Auditan Tahunan Periode 2019-2020 Sektor Barang Baku Barang Konsumsi Non-Primer Barang Konsumsi Primer Energi Keuangan Kesehatan Perindustrian Infrastruktur Properti dan Real Estate Teknologi Transportasi dan Logistik Sumber: Data yang sudah diolah, 2022 Berdasarkan Tabel 1 bahwa jumlah keterlambatan penyampaian laporan keuangan auditan tahun 2019-2020 pada sektor barang baku, barang konsumsi non-primer, barang Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. konsumsi primer, energi, keuangan, properti, teknologi, dan transportasi mengalami Pada sektor kesehatan dan perindustrian mengalami penurunan, sedangkan pada sektor infrastruktur tidak terjadi perubahan. Adapun sektor barang konsumsi nonprimer merupakan sektor yang mengalami peningkatan paling banyak sebanyak 38% dibandingkan perusahaan lain. Adapun penelitian-penelitian sebelumnya sudah dilakukan . perusahaan dengan Sistem Pengendalian Internal yang lemah memiliki audit delay yang panjang karena auditor membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencari bukti yang lengkap dan kompleks untuk mendukung opininya. Penelitian yang dilakukan oleh . menyatakan bahwa Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap audit delay. Sistem Pengendalian Internal merupakan suatu prosedur yang dirancang untuk memberikan suatu patokan dasar untuk mencapai suatu tujuan manajemen. Perusahaan yang memiliki Sistem Pengendalian Internal yang baik dapat meminimalkan tingkat kesalahan dalam penyajian laporan keuangan, sehingga mempermudah pekerjaan auditor. Namun. Penelitian . menyatakan Sistem Pengendalian Internal tidak berpengaruh terhadap audit delay. Terjadinya audit delay juga dapat disebabkan oleh ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya jumlah aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Perusahaan dengan skala besar cenderung memiliki audit delay yang lebih singkat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan kecil memiliki sumber daya yang sedikit, staf akuntan yang minim, serta pengendalian internal yang lemah sehingga akan memperlambat penyelesaian laporan keuangan. Menurut . semakin besar perusahaan, maka akan menyampaikan laporan keuangan dengan lebih cepat karena perusahaan besar memiliki lebih banyak informasi. Penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay. Namun, penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Keterlambatan pelaporan keuangan juga dapat disebabkan oleh leverage. Leverage merupakan rasio untuk menilai seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi akan membuat auditor lebih berhati-hati dalam mengaudit, hal ini karena dapat memicu resiko kerugian dari perusahaan. Menurut . perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan akan cenderung memiliki audit delay yang lebih lama dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap audit delay. Namun, penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap audit delay. Berdasarkan penelitian sebelumnya masih terdapat hasil yang belum konsisten dan diperlukan penelitian kembali. Perusahaan harus menentukan kelangsungan hidup dimasa yang akan datang, dengan melihat kestabilan laba operasi yang dihasilkan. Laba operasi mencerminkan kinerja dari perusahaan. Besarnya laba yang dihasilkan perusahaan sangat berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan auditan, . Perusahaan yang melaporkan laba cenderung akan mengalami audit delay yang lebih pendek dibandingkan dengan perusahaan yang melaporkan rugi. Perusahaan yang melaporkan laba ingin segera melaporkan kabar baik ke pasar. Penelitian yang dilakukan . menunjukkan hasil laba operasi berpengaruh negatif terhadap audit delay. Penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa laba operasi tidak berpengaruh terhadap audit delay. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. Literatur Review Teori Sinyal Teori sinyal atau signaling theory yang dikembangkan . menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan memiliki informasi lebih baik mengenai perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon investor agar harga saham perusahaannya meningkat. Pada saat informasi diumumkan, pelaku pasar akan menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai sinyal baik . ood new. atau sinyal buruk . ad new. , karena kedua sinyal tersebut yang akan mempengaruhi harga saham suatu perusahaan. Berita buruk yang dilaporkan suatu perusahaan akan memperpanjang audit delay, hal ini akan membuat investor berfikir kembali dalam menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Sebaliknya jika perusahaan memiliki berita baik maka investor akan menanamkan modalnya di perusahaan tersebut karena perusahaan cenderung menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu. Audit Delay Audit delay merupakan lamanya atau rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit. Menurut . audit delay adalah lamanya hari yang dibutuhkan auditor untuk menyelesaikan pekerjaan auditnya, yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal diterbitkannya laporan keuangan auditan. Perusahaan yang go public harus menyerahkan laporan keuangan tahunannya disertai dengan opini auditor kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Keterlambatan informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Menurut . audit delay dapat diukur menggunakan persamaan sebagai berikut: Audit Delay = Tanggal Laporan Audit-Tanggal Laporan Keuangan . Sistem Pengendalian Internal Sistem Pengendalian Internal menurut . adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan entitas lain yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian dalam keandalan pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap hukum yang berlaku. Perusahaan yang memiliki Sistem Pengendalian Internal yang baik dapat meminimalkan tingkat kesalahan dalam penyajian laporan keuangan, sehingga mempermudah pekerjaan auditor. Menurut . perusahaan dengan Sistem Pengendalian Internal yang lemah memiliki audit delay yang panjang karena auditor membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencari bukti yang lengkap dan kompleks untuk mendukung opininya. Menurut . Sistem Pengendalian Internal diukur menggunakan penilaian berupa pendapat yang diberikan oleh auditor atas pelaporan keuangan perusahaan. Perusahaan yang memperoleh penilaian wajar tanpa pengecualian diberi kode dummy Au1Ay dan perusahaan yang memperoleh penilaian selain wajar tanpa pengecualian diberi kode dummy Au0Ay. Penelitian sebelumnya terhadap audit delay yang dilakukan . menyatakan bahwa Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap audit delay. Maka hipotesis kedua yaitu: H1: Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap audit delay Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan menurut . menunjukkan besar kecilnya kekayaan . yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Ukuran perusahaan merupakan salah satu fungsi dari lama atau tidaknya pelaporan keuangan karena semakin besar perusahaan maka semakin Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. banyak informasi yang dibutuhkan dalam membuat laporan keuangan. Selain itu, perusahaan dengan aset besar cenderung memiliki lebih banyak informasi, staf akuntansi dan memiliki sistem informasi yang lebih canggih serta memiliki Sistem Pengendalian Internal yang kuat, sehingga dapat memudahkan auditor dan meminimalisir adanya kesalahan dalam menyusun laporan keuangan yang mempengaruhi audit delay. Menurut . ukuran perusahaan dapat diukur menggunakan rumus sebagai berikut: Ukuran Perusahaan = Ln (Total Ase. Penelitian sebelumnya yang dilakukan . menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay. Hipotesis ketiga penelitian yaitu: H2: Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay Leverage Leverage atau rasio solvabilitas menurut . merupakan rasio yang digunakan dalam mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi rasio leverage suatu perusahaan maka semakin tinggi pula resiko kerugian perusahaan. Menurut . perusahaan dengan tingkat leverage yang rendah akan memiliki audit delay yang Sebaliknya, perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi akan memiliki audit delay yang panjang. Hal ini karena perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi akan mempunyai resiko kerugian yang yang dapat mempengaruhi waktu penyelesaian audit. Menurut . leverage dapat diukur menggunakan rumus sebagai berikut: Debt to Total Assets Ratio = Total Hutang Total Aset Penelitian sebelumnya tentang pengaruh leverage terhadap audit delay yang dilakukan . menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap audit delay. Maka hipotesis pertama yaitu: H3: Leverage berpengaruh positif terhadap audit delay Laba Operasi Laba operasi merupakan pengukuran kinerja operasi perusahaan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dan didapat dari pengurangan antara pendapatan dan biaya-biaya operasi dalam suatu unit usaha, . Laba operasi dapat menunjukkan keberhasilan kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Perusahaan yang mengalami laba akan cenderung menerbitkan laporan keuangannya lebih cepat karena itu merupakan good news bagi perusahaan dan pihak lainnya, . Sedangkan perusahaan yang mengalami laba lebih rendah atau rugi maka akan cenderung menunda publikasi laporan keuangan karena itu adalah bad news bagi pihak tertentu dan perusahaan akan meminta auditor untuk memeriksa kembali laporan keuangannya. Oleh karena itu, perusahaan yang memperoleh laba cenderung mengalami audit delay yang lebih pendek, sedangkan perusahaan yang mengalami kerugian cenderung mengalami audit delay yang lebih panjang. Menurut . laba/rugi merupakan salah satu indikator good news atau bad news atas kinerja atau aktivitas manajerial dalam setahun. Perusahaan yang melaporkan laba diberi kode dummy Au1Ay dan perusahaan yang melaporkan rugi diberi kode dummy Au0Ay. Penelitian sebelumnya tentang pengaruh laba operasi terhadap audit delay yang dilakukan . menyatakan bahwa laba operasi berpengaruh negatif terhadap audit Maka hipotesis keempat yaitu: H4: Laba Operasi berpengaruh negatif terhadap audit delay Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metode Metode Pengambilan Sampel Populasi penelitian ini perusahaan sektor barang konsumsi non-primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling, pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu . Kriteria sampel penelitian sebagai berikut: . Perusahaan sektor barang konsumsi non-primer berturut-turut yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2020. Perusahaan sektor barang konsumsi nonprimer yang telah menerbitkan laporan keuangan selama tahun 2019-2020. Perusahaan sektor barang konsumsi non-primer yang menerbitkan laporan keuangan dalam bentuk mata uang rupiah pada tahun 2019-2020. Perusahaan sektor barang konsumsi nonprimer yang menyampaikan data mengenai total kewajiban, opini audit, total aset, dan laba/rugi operasi secara lengkap berturut-turut serta laporan keuangan tersebut telah Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan jenis penelitian sekunder . yaitu sumber data penelitian ini berasal dari laporan keuangan perusahaan sektor barang konsumsi non-primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2019-2020 yang diperoleh dari website resmi Indonesia Stock Exchange yaitu w. id dan website resmi perusahaan. Alat Analisis Data Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata . , standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan wekness . emencengan distribus. Pengujian ini dilakukan untuk mempermudah dalam memahami variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda, yaitu suatu metode statistik yang umum digunakan untuk meneliti hubungan antara sebuah variabel dependen dengan beberapa variabel Adapun model regresi yang digunakan adalah sebagai berikut: AD = 1 SPI 2 UP 3 LV 4 LO e AD = Audit delay Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. = Konstanta 1- 4 = Koefisien Masing-Masing Variabel X SPI = Sistem Pengendalian Internal UP = Ukuran Perusahaan = Leverage = Laba Operasi = Standar Error Pengujian Hipotesis Koefisien Determinasi (R. Koefisien determinasi (R. digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan model yang menjelaskan variasi variabel independen. Jika terdapat dua atau lebih variabel independen maka yang digunakan adalah Adjusted R2 sebagai koefisien Rentang nilai dari R2 adalah 0-1. Semakin mendekati nol berarti model tidak baik atau variasi model dalam menjelaskan sangat terbatas, sebaliknya jika semakin mendekati satu berarti semakin baik. Uji F Uji F digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir suatu nilai aktual. Uji F menguji apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model secara bersama-sama dapat menjelaskan variabel dependennya. Jika p value < = 0,05, maka model yang digunakan dalam penelitian fit. Jika p value > = 0,05, maka model yang digunakan dalam penelitian tidak fit. Uji t Uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel independen dalam menerangkan variabel dependen. Untuk hipotesis dapat menggunakan kriteria P value < = 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, berarti variabel independen mempunyai pengaruh positif terhadap variabel dependen. Jika P value > = 0,05, maka H0 tidak ditolak dan Ha tidak diterima, berarti variabel independen tidak mempunyai pengaruh positif/negatif terhadap variabel dependen. Hasil dan Pembahasan Kriteria Responden Penjelasan kriteria responden perusahaan dapat dilihat pada Tabel 2: Tabel 2. Sampel Penelitian Keterangan Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang terdaftar di BEI periode 2019-2020 Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang melakukan pencatatan di BEI pada periode 2019-2020 Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang tidak menerbitkan laporan keuangan periode 2019-2020 Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang tidak menyajikan laporan keuangan dalam mata uang rupiah pada periode 2019-2020 Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang tidak menyediakan data secara lengkap pada tahun 2019-2020 Jumlah Perusahaan sektor Barang Konsumsi Non-Primer yang memenuhi kriteria sampel Jumlah sampel penelitian selama 2 tahun y 78 Sumber: Data sekunder, 2022 Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Jumlah . Anita Viani et al. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Hasil analisis statistik deskriptif ditunjukkan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Statistik Deskriptif Audit delay Sistem Pengendalian Internal Ukuran Perusahaan Leverage Laba Operasi Valid N . Sumber: Data diolah, 2022 Min 21,374 ,016 Max 31,511 90,990 Mean 112,98 ,97 27,83249 1,92283 ,49 Std. Deviation 40,635 ,159 1,780206 10,046962 ,501 Berdasarkan Tabel 3 audit delay memiliki nilai minimum sebesar 45 dan nilai maksimum sebesar 330. Nilai mean sebesar 112,98, menunjukkan perusahaan sampel secara rata-rata memiliki rentang waktu 113 hari dari tanggal laporan keuangan sampai tanggal pelaporan audit. Standar deviasi sebesar 40,635 yang berarti terjadi penyimpangan sebesar 40,635 dari nilai mean. Sistem Pengendalian Internal memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1. Nilai mean sebesar 0,97, hal ini berarti perusahaan sampel secara rata-rata mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian yang berarti memiliki Sistem Pengendalian Internal yang baik. Standar deviasi sebesar 0,159 yang berarti terjadi penyimpangan sebesar 0,159 dari nilai mean. Ukuran perusahaan memiliki nilai minimum sebesar 21,374 dan nilai maksimum sebesar 31,511. Nilai mean sebesar 27,83249, hal ini menunjukkan perusahaan sampel secara rata-rata memiliki Ln total aset sebesar 27,83249 sehingga ukuran perusahaan yang dimiliki perusahaan besar. Standar deviasi sebesar 1,780206 yang berarti terjadi penyimpangan sebesar 1,780206 dari nilai mean. Leverage memiliki nilai minimum sebesar 0,016 dan nilai maksimum sebesar 90,990. Nilai mean sebesar 1,92283, bahwa rata-rata perusahaan memiliki total hutang dibanding total aset sebesar 1,92283 sehingga leverage yang dimiliki perusahaan rendah. Standar deviasi sebesar 10,046962 yang berarti terjadi penyimpangan sebesar 10,046962 dari nilai mean. Adapun laba operasi memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 1. Nilai mean sebesar 0,49, dinyatakan bahwa perusahaan sampel secara merata melaporkan laba dan rugi. Standar deviasi sebesar 0,501 yang berarti terjadi penyimpangan sebesar 0,501 dari nilai mean. Analisis Regresi Linier Berganda Hasil uji regresi linier berganda dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Std. Error 2,184 ,205 Sistem Pengendalian Internal Ukuran Perusahaan -,187 ,002 ,073 ,007 Leverage ,001 -,051 ,001 ,024 1 (Constan. Laba Operasi Standardized Coefficients Beta Sig. 10,638 ,000 -,203 ,022 -2,568 ,254 ,011 ,800 ,051 -,173 ,609 -2,122 ,544 ,035 Sumber: Data diolah, 2022 Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. Berdasarkan Tabel 4 Hasil Uji Regresi Linier Berganda diperoleh persamaan sebagai . AD = 2,184 Oe 0,187 SPI 0,002 UP 0,001 LV Oe 0,051 LO 0,205 Pengujian Hipotesis Koefisien Determinasi (R. Hasil uji koefisien determinasi (R. dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Uji Koefisien Determinasi Model R Square ,294a ,086 Sumber: Data diolah, 2022 Adjusted R Square ,062 Std. Error of the Estimate ,14190 Berdasarkan Tabel 5 nilai adjusted R Square sebesar 0,062, menunjukkan kemampuan variabel Sistem Pengendalian Internal, ukuran perusahaan leverage dan laba operasi dalam menjelaskan variabel audit delay sebesar 0,062 atau 6,2% sedangkan sisanya 93,8% . % 6,2%) dijelaskan oleh faktor lainnya diluar model penelitian. Uji F Hasil uji F dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Uji F Model Sum of Squares Regression ,282 Residual 3,046 Total 3,328 Sumber: Data diolah, 2022 Mean Square ,072 ,020 3,574 Sig. ,008b Berdasarkan hasil uji pada Tabel 6 diperoleh bahwa nilai signifikansi sebesar 0,008<0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel Sistem Pengendalian Internal, ukuran perusahaan, leverage dan laba operasi secara baik dan model layak digunakan . Uji t Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Uji t Model Sistem Pengendalian Internal Ukuran Perusahaan Leverage Laba Operasi Sumber: Data diolah, 2022 -2,568 ,254 ,609 -2,122 -1,9753 -1,9753 1,9753 -1,9753 Sig. ,011 ,800 ,544 ,035 Keterangan H1 diterima H2 tidak diterima H3 tidak diterima H4 diterima Berdasarkan Tabel 7 hasil pengujian hipotesis 1 diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,011<0,05, maka H1 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel Sistem Pengendalian Internal memiliki pengaruh negatif terhadap audit delay. Hasil pengujian hipotesis 2 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,800>0,05, dinyatakan H2 tidak diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap audit Hasil pengujian hipotesis 3 menunjukkan nilai signifikansi 0,544>0,05, maka H3 tidak diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel leverage tidak memiliki pengaruh terhadap audit delay. Hasil pengujian hipotesis 4 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,035<0,05. H4 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel laba operasi memiliki pengaruh negatif terhadap audit delay. Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. Pembahasan Pengaruh Sistem Pengendalian Internal Terhadap Audit Delay Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap audit delay. Semakin baik Sistem Pengendalian Internal perusahaan maka semakin pendek audit delay yang dialami perusahaan. Hal ini ketika perusahaan memiliki Sistem Pengendalian Internal yang kurang baik maka audit delay yang dialami perusahaan semakin panjang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa Sistem Pengendalian Internal berpengaruh negatif terhadap audit Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa Sistem Pengendalian Internal tidak berpengaruh terhadap audit delay. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Tidak terdapat perbedaan audit delay antara perusahaan dengan ukuran perusahaan besar maupun kecil. Perusahaan dengan total aset besar maupun kecil mempunyai peluang yang sama dalam keterlambatan penyampaian laporan keuangan, . Hal ini karena perusahaan dengan skala besar maupun kecil mempunyai tekanan yang sama dalam ketepatan penyampaian laporan keuangan yang berasal dari investor, badan pengawas modal, dan pemerintah. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay. Pengaruh Leverage Terhadap Audit Delay Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan leverage tidak berpengaruh terhadap audit Bahwa tidak terdapat perbedaan audit delay antara perusahaan yang memiliki leverage tinggi atau rendah. Perusahaan yang memiliki total hutang besar dengan perusahaan yang memiliki total hutang kecil tidak mempengaruhi proses penyelesaian audit laporan keuangan, karena auditor yang ditunjuk pasti telah menyediakan waktu sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan proses pengauditan utang perusahaan, . Hasil penelitian ini sesuai . bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap audit delay. Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan . menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap audit delay. Pengaruh Laba Operasi Terhadap Audit Delay Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan laba operasi berpengaruh negatif terhadap audit delay. Artinya, perusahaan yang melaporkan laba akan memperpendek audit delay yang dialami perusahaan. Perusahaan yang melaporkan rugi akan memperpanjang audit delay yang dialami perusahaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian . bahwa hasil laba operasi berpengaruh negatif terhadap audit delay. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan . yang menyatakan bahwa laba operasi tidak berpengaruh terhadap audit delay. Kesimpulan Pada masa pandemi covid-19 perusahaan mengalami audit delay yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun faktor yang berpengaruh yaitu Sistem Pengendalian Internal Perusahaan yang mempunyai Sistem Pengendalian Internal baik maka tidak terjadi audit delay, hal ini dapat dilihat dari hasil opini audit yang dihasilkan adalah opini wajar tanpa pengecualian. Faktor lain yang mempengaruhi audit delay yaitu laba operasi. Perusahaan yang menghasilkan laba maka menandakan kondisi perusahaan baik sehingga Urecol Journal. Part B: Economics and Business. Vol. 2 No. Anita Viani et al. auditnya dilakukan tepat waktu. Penelitian ini mempunyai keterbatasan berupa indikator pengukuran variabel pada ukuran perusahaan yang menggunakan Ln total aset dan variabel leverage dengan indikator debt to total asset ratio, hal ini menggambarkan aset yang dimiliki perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan indikator lain seperti jumlah karyawan yang dapat mengukur besarnya perusahaan berdampak pada audit delay. Adapun penelitian ini bermanfaat untuk para pengambil keputusan manajemen agar audit yang dihasilkan tepat waktu. Ucapan Terima Kasih Kami ucapkan terima kasih kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang yang telah memberikan kesempatan dan bantuannya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Referensi