Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN: 2599-154X E-ISSN: 2745-6587 Efektivitas Dosis Ekstrak Akar Tuba (Paraderris elliptic. Terhadap Laju Konsumsi Oksigen Ikan Mas Koki (Carassius auratu. Pada Transportasi Sistem Tertutup Effectiveness of Tuba Root Extract Dosage (Paraderris elliptic. to Gold Fish Oxygen Consumption Rate (Carassius auratu. on Transportation Closed Khairul Devani1. Suri Purnama Febri1*. Teuku Fadlon Haser1. Ika Rezvani Aprita2. Suraiya Nazlia3. Antoni Harahap4. Afdhal Fuadi5. Fauziah Azmi1 Program Studi Akuakultur. Fakultas Pertanian. Universitas Samudra. Aceh. Indonesia Program Studi Agroindustri. Politeknik Indonesia Venezuela. Aceh. Indonesia Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Kelautan dan Perikanan. Universitas Syiah Kuala. Aceh. Indonesia Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat. Indonesia Prodi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia *Korespondensi: suripurnamafebri@unsam. Article Information Abstract Chef carp (Carassius auratu. is a freshwater ornamental fish that is one of the ornamental fish that is widely cultivated because it has a diverse body shape and has a variety of colors. The problem often faced by carp suppliers in the process of distributing fish Keywords : Anesthesia, tubal root, with a closed fish transportation system is low survival pass. The Carassius auratus, oxygen use of such anesthesia materials is quite effective in closed consumption rate, closed transport systems. One of the natural compounds that can be used as an anesthetic agent is rotenon. The roots of tubal plants contain system transport rotenon, a powerful poison for fish and insects. The method used in this study is an experimental method, this study uses Complete Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repeats. The dose of tubal root extract used was P1 . P2 . 10 ml / L). P3 . 15 ml / L). P4 . 20 ml / L). The density of fish per plastic bag amounts to 10 heads with a transportation time of 9 hours. The parameters observed were length of intoxication time, survival rate, length of time recovered consciously, oxygen consumption rate and water quality. Giving doses of tubal root extract with different doses had a significant effect (P<0. The highest survival rate value in P2 treatment with a dose of 0. 10 ml and saving the rate of oxygen consumption with the right dose is in P4 with a dose of 0. 20 ml / L ranging from 0. 039 mg O2 / Submitted Revised Accepted Published 25/09/2024 17/10/2024 15/01/2025 17/01/2025 Devani. Febri. Haser. Aprita. Nazlia. Harahap. Fuadi. , & Azmi. Efektivitas dosis ekstrak akar Tuba (Paraderris Elliptic. terhadap laju konsumsi oksigen ikan Mas koki (Carassius Auratu. pada transportasi sistem tertutup. Jurnal Perikanan Terpadu 5. : 23-37. Page . Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 PENDAHULUAN Ikan mas koki (Carassius auratu. merupakan salah satu jenis ikan hias yang digemari serta banyak dibudidayakan oleh masyarakat (Fazil et al. , 2. Jenis ikan ini memiliki bentuk tubuh dan warna yang sangat bervariasi, hal ini yang menyebabkan permintaan konsumen penggemar ikan hias terutama jenis ikan Mas koki terus meningkat (Uly et al. , 2. Permasalahan yang sering dihadapi oleh pemasok ikan Mas koki dalam proses pendistribusian ikan adalah kelulushidupan yang rendah yang disebabkan oleh penurunan kualitas air selama proses pengangkutan atau transportasi. Penyebab penurunan kualitas air diantaranya tingginya kadar CO2, akumulasi amoniak, ikan terlalu aktif, infeksi bakteri dan luka fisik akibat penanganan yang kasar, serta dibutuhkannya waktu yang lama dalam proses pendistribusian ikan ke daerah tujuan (Ilhami et al. , 2. Proses transportasi ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam proses transportasi sampai ke tempat tujuan. Pada jarak yang dekat tidak membutuhkan perlakuan khusus pada proses transportasi ikan, akan tetapi perlakuan - perlakuan khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan akan dibutuhkan pada proses transportasi yang memiliki jarak jauh dan dalam waktu lama (Madyowati et al. , 2. Permasalahan jarak dan lama waktu transportasi ikan dapat mempengaruhi kelulushidupan, kepuasan dan penilaian yang kurang baik oleh konsumen, sehingga diperlukan suatu teknik transportasi yang baik. Teknik transportasi yang dapat dilakukan dalam bidang perikanan ialah dengan sistem basah dan sistem kering. Transportasi sistem basah dibagi menjadi dua lingkup pengangkutan yaitu sistem tertutup dan sistem terbuka. Transportasi sistem tertutup biasanya diterapkan pada jarak yang jauh, sedangkan transportasi sistem terbuka biasanya diterapkan pada jarak yang pendek (Santoso et al. , 2. Plastik menjadi wadah pengangkutan yang umum digunakan dalam dalam penggunaan sistem tertutup dalam sistem transportasi ikan. Penurunan kualitas seperti berkurangnya konsentrasi oksigen, tingginya temperatur, tingginya konsentrasi karbondioksida serta terakumulasinya hasil metabolisme yang beracun seperti amoniak dalam media transportasi yang dapat menyebabkan kematian pada ikan selama transportasi menjadi Kelemahan dalam sistem transportasi sistem tertutup (Hasan et al. , 2. Permasalahan yang sering dihadapi dalam sistem transportasi tertutup ialah mortalitas yang cukup tinggi, hal ini disebabkan karena biota mengalami tekanan fisiologis akibat guncangan dan perubahan kondisi kualitas air (Tanbiyaskur et al, 2. peningkatan laju metabolisme (Bakrie & Olgani, 2020. Rohendi et al. , 2020. Putri et al, 2. Selain itu juga terjadinya kanibalisme karena saat transportasi berlangsung biota tidak diberi makan (Arifin et al. , 2. Usaha atau perlakuan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya seperti penurunan suhu air untuk menekan metabolisme dan aktivitas ikan (Suwandi et al. , 2. , memuasakan ikan Page | 24 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 sebelum diangkut dan menambah sedikit larutan sodium (Miniartini et al. , 2. Penambahan bahan anestasi . bat biu. kedalam media pengangkutan (Septiarrusli et al. , 2. Penggunaan bahan-bahan anestasi tersebut cukup efektif pada sistem pengangkutan tertutup (Suwandi et al. , 2. Bahan - bahan anestesi alami yang dapat digunakan berupa alga laut (Caulerpa racemos. (Sukarsa et al. , 2. , minyak sereh (Cymbopogon sp. ) (Siregar et al. , 2. , minyak cengkeh (Syzygium aromaticu. (Mikhsalmina et al. , 2. , daun jambu (Psidium guajav. (Pasaribu et , 2. , dan infusum daun durian (Munandar et al. , 2. Salah satu senyawa alami yang dapat digunakan sebagai bahan anestesi adalah rotenon. Akar tanaman tuba memiliki kandungan rotenon, sejenis racun kuat untuk ikan dan Akar tuba memiliki kandungan senyawa berupa rotenone . ,3-12%), dequelin . ,152,9%), eliptone . ,35-4,6%), toxicarol . -4,4%). Rotenon ditemukan pada tumbuhan tuba dengan kadar antara 0,3 - 12%, kandungan paling tinggi terdapat pada bagian akar dengan kadar 5 Ae 12% (Monica et al, 2. Prasetyo et al . , menyatakan bahwa Akar tuba dapat digunakan sebagai bahan anastesi karena memenuhi kriteria, yaitu memiliki volume kecil, ringan, mampu menurunkan metabolisme, murah, dan mudah diperoleh. Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, pemberian ekstrak akar tuba berpotensial untuk digunakan sebagai bahan anastesi dalam pengangkutan benih ikan Mas koki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis ekstrak akar tuba yang berbeda pada pengangkutan benih ikan Mas koki pada pengangkutan sistem tertutup. METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada Januari 2023 di Laboratorium Percobaan Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Samudra. Perjalanan yang dilakukan pada saat transportasi yaitu selama 9 jam. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan yaitu benih ikan Mas koki yang berukuran panjang 4-5 cm, ekstrak akar tuba dan pakan pelet PF 800. Alat yang digunakan yaitu toples ukuran 25 liter, gelas ukur, aerator, kantong plastik, tabung oksigen, sterofoam, kertas lebel, spuit 1cc, seser. DO meter, pH meter dan thermometer, stopwatch, seser, buku tulis dan kebutuhan lainnya. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu P1= Kontrol . anpa pemberian ekstrak akar tub. P2= pemberian ekstrak akar tuba dengan dosis 0,10 ml/1 liter air. P3= pemberian ekstrak akar tuba dengan dosis 0,15 ml/1 liter air. P4= pemberian ekstrak akar tuba dengan dosis 0,20 ml/1 liter air. Page | 25 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Prosedur Penelitian Aklimatisasi ikan Mas koki Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian pada kondisi lingkungan yang berbeda, sehingga kondisi tersebut tidak menimbulkan stres bagi ikan. Hal ini dapat dilakukan dikarenakan setiap organisme memiliki kemampuan mengatur morfologi pada tubuh mereka sehingga dapat menyatu dengan lingkungan hidup yang baru. Aklimatisasi ikan dilakukan selama 5-7 hari, selanjutnya dilakukan percobaan sesuai dengan dosis perlakuan. Pembuatan ekstrak akar tuba Pada proses pembuatan ekstrak akar tuba. Bahan uji yang diperlukan 1 kg akar tuba kering yang diperoleh dari Kecamatan Salak. Kabupaten Pakpak Bharat. Sumatra Utara. Akar tuba terlebih dahulu dikeringkan selama 7 hari dalam suhu ruangan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air. Setelah akar tuba kering selanjutnya akar tuba dipotong kecil-kecil dan dihaluskan atau diblender menjadi serbuk. Setelah itu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol Setelah itu dilakukan filtrasi, kemudian dievaporasi yang berfungsi untuk mengubah sebagian atau keseluruhan pelarut dari campuran larutan cair menjadi uap. Hasil akhir berupa ekstrak cair sebanyak 40 ml dan disimpan dalam suhu ruangan. Metode ekstraksi akar tuba mengacu pada penelitian Prasetyo et al. yang telah dimodifikasi. Persiapan Wadah Wadah pengemasan Wadah yang digunakan berupa kantong plastik yang berukuran 5 kg sebanyak 12 kantong. Kemudian plastik tersebut diisi dengan air bersih sebanyak 1 L/wadah. Setelah wadah diisi dengan air, lalu dimasukan ekstrak akar tuba dan kemudian dimasukan ikan Mas koki. Kemudian dilakukan pengisian oksigen dengan perbandingan 1:2 dan wadah diikat rapat dengan menggunakan karet Kantong plastik dimasukkan kedalam styrofoam yang berisi es untuk menjaga kestabilan Wadah pemeliharaan Wadah pemeliharaan yang digunakan yaitu toples berukuran 25 L. Toples terlebih dahulu dicuci hingga bersih. Kemudian dikeringkan selama 12 jam di bawah sinar matahari, setelah toples kering lalu diisi air yang steril sebanyak 10L/wadah. Kemudian wadah diberi aerator untuk mensuplai oksigen terlarut di dalam air. Pemeliharaan ikan Mas koki dilakukan selama 7 hari. Persiapan Ikan Ikan Mas koki yang berukuran 4-5 cm yang diproleh dari Aceh Tamiang. Aceh. Sebelum ikan diteliti terlebih dahulu ikan Mas koki harus dipuasakan selama 24 jam pada wadah Jumlah ikan Mas koki yang dipelihara sebanyak 120 ekor. Setiap perlakuan berjumlah 10 ekor ikan/wadah. Page | 26 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Pengujian Transportasi Tertutup Pengujian transportasi tertutup atau basah dilakukan selama 9 jam menggunakan mobil. Setelah selesai melakukan pengamatan morfologis serta dihitung kelulusan hidup ikan Mas koki, kemudian dilakukan pemeliharaan selama 7 hari untuk melihat dampak lanjutan dari pemberian bahan anestesi terhadap ikan yang digunakan sebagai ikan uji, selanjutnya mencatat kondisi kelulushidupan benih ikan Mas koki. Pemeliharaan Pasca Pengangkutan Setelah pasca pengangkutan yang dilakukan adalah permeliharaan untuk memastikan bahwa ikan yang diuji coba tidak memiliki efek yang tidak diinginkan, seperti kematian pada ikan. Perlakuan dilakukan dengan memelihara ikan pada wadah yang sudah disterilkan. Pemeliharaan dilakukan selama 7 hari yang dilakukan untuk melihat pengaruh dari ekstrak akar tuba (Paraderris Pemberian pakan berupa pakan komersial dengan pemberian pakan 3 kali sehari dengan metode satiation. Parameter Penelitian Tingkat kelangsungan hidup Parameter presentase ikan yang hidup dilakukan pada saat pasca transportasi dan sesudah pemeliharaan selama 7 hari. untuk menghitung tingkat kelangsungan hidup (TKH) dapat menggunakan rumus (Phonna et al, 2. yaeyaOyaN = yasya yayaya yasya Keterangan : TKH= ingkat Kelangsungan Hidup (%). Nt =Jumlah benih yang hidup pada akhir pemeliharaan . No = Jumlah benih yang hidup pada awal pemeliharaan . Lama waktu pemingsanan Lama waktu pemingsanan mulai diukur pada saat ikan dimasukkan kedalam wadah yang telah diberi ekstrak akar tuba hingga pingsan . Ikan mulai kehilangan sadar ditandai dengan kehilangan keseimbangan tubuh, kehilangan refleks dan ikan bergerak lambat . idak akti. Perhitungan lama waktu pemingsanan didasarkan pada (Ahsan et al. , 2. Lama waktu pulih sadar Waktu pulih yaitu waktu yang diperlukan ikan uji agar pulih dan kembali hingga normal. Parameter ini mulai diukur pada saat ikan uji tersebut masih dalam keadaan pingsan, lalu disadarkan kembali setelah transportasi dengan memasukkan ikan kedalam wadah toples yang diberi aerator. Page | 27 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Laju konsumsi oksigen Laju konsumsi oksigen dapat diukur dan dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut menggunakan rumus (Prihadi et al, 2. ycycyc = . cycyeCyeoyeCyes Oe ycycyeCyeUyeOyeOyee ) y yc yc Keterangan: LKO = Laju konsumsi oksigen . gO2/meni. DO awal = Konsentrasi oksigen terlarut pada awal Percobaan . g/L). DO akhir = Konsentrasi oksigen terlarut pada akhir percobaan . g/L). =Volume air (L). = Durasi saat mengukur konsumsi oksigen . Kualitas air Parameter kualitas air memiliki faktor penting dalam mempengaruhi kelulushidupan ikan pada saat melakukan transportasi. Parameter kualitas air yang di uji adalah suhu. DO. Amonia dan Pengukuran dilakukan pada saat sebelum melakukan transportasi dan sesudah dilakukan HASIL DAN PEMBAHASAN Lama waktu Pemingsanan Lama waktu pemingsanan diamati pada awal ikan dimasukkan kedalam plastik pengemasan yang sudah diberikan ekstrak akar tuba dengan dosis yang berbeda. Waktu yang dibutuhkan benih ikan Mas koki pingsan disajikan pada Tabel 1. Hasil uji anova menunjukan bahwa dosis ekstrak akar tuba berpengaruh terhadap lama waktu pemingsanan ikan (P<0,. Table 1. Stunning time of fish Treatment Stunning time of fish . Oa 27,11 A 0. 23,08 A 0. 14,41 A 0,55b Berdasarkan Tabel 1 diatas terlihat bahwa waktu pemingsanan yang diperoleh hasil perlakuan P4 berbeda nyata dengan perlakuan lainnya P1. P2. P3. Lama waktu pemingsanan benih ikan Mas koki dengan dosis ekstrak akar tuba yang tercepat yaitu pada perlakukan P4 . ,20 m. dengan lama waktu pemingsanan rata-rata 14,41 menit. Semakin tinggi dosis ekstrak akar tuba yang digunakan maka waktu pemingsanan benih ikan Mas koki semakin cepat. Hal ini sesuai dengan penyataan Putri et al, . Page | 28 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 yang menyatakan bahwa semakin tingginya konsentrasi bahan anestesi sehingga waktu pemingsanan yang diperlukan untuk ikan pingsan juga akan lebih cepat. Menurut Arlanda et al, . , bahwa dosis akar tuba yang semakin tinggi dapat menyebabkan waktu pemingsanan pada ikan semakin cepat, hal ini disebabkan adanya kandungan senyawa aktif yaitu rotenon yang terserap oleh tubuh ikan saat dianestesi semakin banyak. Cara kerja senyawa rotenon dapat masuk melalui insang ikan sehingga ikan tidak dapat melakukan respirasi (Hinson. Penggunaan obat bius pada ikan dengan dosis yang berbeda dan lama kontak dengan obat bius mempengaruhi tingkat kesadaran ikan, melalui proses pelemahan syaraf ikan, sehingga menurunkan laju respirasinya (Hasan et al, 2. Lama Waktu Pulih Sadar Lama waktu pulih sadar adalah waktu yang dibutuhkan oleh ikan Mas koki setelah kegiatan transportasi selesai dan ikan makoki telah dimasukkan kedalam air bersih dan menggunakan aerator sehingga ikan kembali pulih (Tabel . Hasil uji anova menunjukan bahwa dosis ekstrak akar tuba berpengaruh nyata terhadap waktu pulih sadar ikan Mas koki (P<0,. Table 2. Time to recover Treatment Time to recover . 0,0 A 0,00a 543 A 0. 546 A 0. 551 A 1,00d Waktu pulih sadar diperoleh hasil perlakuan P2 berbeda nyata dengan hasil perlakuan P3, dan P4. Berdasarkan hasil pengamatan waktu pulih sadar ikan Mas koki pasca transpsortasi yaitu pada perlakuan P2 . ,10 m. dengan waktu pulih sadar selama 543 menit. Rendahnya dosis ekstrak akar tuba menyebabkan ikan Mas koki kembali pulih dengan cepat dibandingkan dengan dosis ekstrak tuba pada perlakuan P3 dan Perlakuan P4. Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa semakin tinggi dosis ekstrak akar tuba yang diberikan pada ikan maka waktu pulih sadar ikan semakin lama. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Edison et al, . yang menyatakan bahwa perbedaan waktu sadar disebabkan oleh semakin tinggi jumlah kosentrasi anestesi yang diberikan pada ikan maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk ikan kembali pulih yaitu pada saat sebelum diberikan bahan anestesi. Hal tersebut terjadi karena zat metabolit sekunder dari bahan anestesi yang masuk ke dalam tubuh ikan lebih banyak maka diperlukan waktu yang lebih lama lagi bagi ikan untuk menetralisasi senyawa metabolit sekunder (Putri et al, 2. Waktu pulih sadar ikan Mas koki dipengaruhi oleh kualitas air dan kondisi ikan. Kualitas air yang optimal dapat mempercepat waktu pemulihan sadar ikan Mas koki (Aini et al. , 2. Air yang mengandung banyak oksigen sangat membantu kerja organ tubuh ikan dalam membersikan Page | 29 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 sisa bahan anestesi. Air yang masuk melalui insang akan diteruskan ke dalam aliran pembuluh darah dengan membawa kandungan sisa bahan anestesi menuju saluran pembuangan (Ilhami et al, 2. Kondisi ikan Mas koki setelah pasca transportasi selama 9 jam masih dalam keadaan baik secara fisik dan pemulihan ikan berlangsung dengan waktu yang cepat. Ikan yang sehat waktu pemulihan akan cepat dibandingkan dengan ikan yang kurang sehat. Tingkat Kelangsungan Hidup Pasca Trasportasi Rata-rata tingkat kelangsungan hidup benih ikan Mas koki pasca transportasi dapat dilihat pada Gambar 1. Uji Anova menunjukan hasil kelangsungan hidup benih ikan Mas koki pasca transportasi yang dilakukan selama 9 jam menunjukan perlakuan yang di berikan berpengaruh nyata (P<0,. 93 A 5,7c 76,6 A 5,7ab 87A 0,0bc 70A 10a Kontrol Control 0,10 ml/l 0,15 ml/l 0,20 ml/l Figure 1. Survival rates after transport Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup yang tertinggi benih ikan Mas koki terdapat pada perlakuan P2 . ,10 ml/L) yaitu 93% berbeda nyata dengan perlakuan lainnya yaitu P1. P3 dan P4. Hal ini disebabkan karena pengaruh dari dosis ekstrak akar tuba berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan Mas koki pasca transportasi. Tingginya tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan P2 disebabkan dosis yang diberikan masih berada pada dosis yang optimal. Hal tersebut karena penggunaan ekstrak akar tuba dengan dosis yang tepat. dapat menurunkan aktivitas ikan dan metabolisme ikan sehingga tingkat ikan stress pada saat transportasi menurun dan menyebabkan tingkat kematian pada ikan berkurang (Tanbiyaskur et al, 2. Rendahnya kelangsungan hidup pada perlakuan P1 disebakan oleh tidak adanya zat anestesi atau tanpa pemberian ekstrak akar tuba sehingga benih ikan Mas koki tidak mengalami fase pingsan selama perjalanan. Pada saat perjalanan metabolisme ikan tetap berjalan seperti biasanya ikan banyak mengkonsumsi oksigen dan menyebabkan terjadinya penurunan oksigen, akibatnya pada saat perjalanan ikan mengalami stress karena adanya goncangan pada saat transportasi sehingga dapat menyebabkan kematian pada ikan. Peningkatan metabolisme menyebabkan hipoksia pada Page | 30 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Hipoksia adalah kondisi dimana terjadi kekurangan oksigen pada jaringan tubuh. Hipoksia da pat menyebabkan hormon katekolamin merangsang peningkatan membuka dan menutupnya operkulum dan meningkatnya gerakan peristaltik usus pada ikan (Ahsan et al, 2. Neiffer dan Stamper . menyatakan bahwa pemberian anestesi akan menghasilkan tingkat stress lebih rendah dibandingkan tanpa pemberian zat anestesi pada saat transportasi. Pemberian dosis yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan overdosis dan kematian pada organisme yang di paparkan (Arliansyah, 2. Penggunan bahan anestesi yang terlalu banyak juga dapat mengakibatkan kerusakan pada beberapa organ, misalnya seperti ins ang, saraf, ginjal, maupun otak dan dapat berakibatkan kematian pada ikan (Saskia et al. , 2. Gambar 1 menunjukkan bahwa pada perlakuan P2. P3 dan P4 memperlihatkan rata-rata tingkat kelangsungan hidup benih ikan Mas koki yang semakin menurun. Hal ini diduga konsentrasi bahan anastasi yang semakin tinggi pada perlakuan P4 dengan dosis 0. 20 ml/l yang menyebabkan proses pingsan lebih lama yang membuat daya tahan ikan menurun, ikan menjadi lemah selama transportasi hal ini dianggap dosis yang diberikan terlalu berlebihan untuk digunakan karena daya anestesi yang diberikan terlalu besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Madyowati et al, . , dimana dosis yang lebih tinggi dari bahan anestesi dapat menghasilkan induksi anestesi secara signifikan lebih pendek dan waktu pemulihan lebih lama. Tingkat kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh media transportasi. Hal ini menunjukan bahwa semakin rendah konsentrasi minyak sereh yang digunakan maka kelangsungan hidup hewan uji akan tinggi dan semakin tinggi konsentrasi minyak sereh yang digunakan maka kelangsungan hidup ikan uji semakin rendah (Siregar et al, 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Pasca Pemeliharaan Rata-rata Tingkat kelangsungan hidup ikan Mas koki pasca pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil Uji anova menunjukan bahwa kelangsungan hidup benih ikan Mas koki pasca pemeliharaan yang dilakukan selama 7 hari berpengaruh nyata (P<0,. 82,66 A 6. Kontrol Control 89,33 A 0. 0,10ml/L 84,66 A5. 0,15ml/L 71 A 4. 0,20ml/L Figure 2. Post-rearing survival rates Page | 31 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Pada Gambar 2 di atas memperlihatkan hasil bahwa tingkat kelangsungan hidup pasca pemeliharaan menunjukan bahwa perlakuan P4 berbeda nyata dengan perlakuan P1. P2, dan P3 namun P1 tidak berbeda nyata dengan P2 dan P3. Hal ini menunjukan bahwa pemberian dosis ekstak akar tuba berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup pasca pemeliharaan dimana nilai tingkat kelangsungan hidup yang terbaik di temukan pada perlakuan P2 yaitu 89,33% dan kelangsungan hidup terendah yaitu pada perlakuan P4 yaitu 71%. Penurunan tingkat kelangsungan hidup ikan Mas koki pasca pemeliharaan disebabkan oleh dosis ekstrak akar tuba yang diberikan belum bisa meredam stres pasca transportasi hal ini dapat dilihat bahwa ikan yang dipelihara masih mengalami kematian setelah dipelihara. Rendahnya tingkat kelangsungan hidup ikan Mas koki pada perlakuan P4 disebabkan ekstrak akar tuba teresidu di dalam tubuh ikan dan merusak kinerja organ dalam ikan sehingga ikan mengalami kesulitan pernapasan dan terjadi gangguan keseimbangan pola berenang, kemudian mengalami kematian (Tanbisyakur et al, 2. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Pellu et al, . yang menyatakan bahwa semakin tinggi dosis anestesi dapat mengganggu keseimbangan ionic dalam otak ikan yang secara spontan sehingg tidak dapat memberikan waktu untuk beradaptasi. Kemudian gangguan ini akan mempengaruhi kerja syaraf motorik dan pernapasan, sehingga menyebabkan kematian pada ikan. Laju Konsumsi Oksigen Oksigen terlarut merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam perairan dalam penggunaannya sebagai media pemeliharaan. Hasil uji Anova menunjukan bahwa dosis ekstrak akar tuba berpengaruh terhadap laju konsumsi oksigen ikan Mas koki (P<0,. Rata-rata nilai laju konsumsi oksigen ikan mas koki dapat disajikan pada Tabel 3. Table 3. Oxygen consumption rate Perlakuan LKO . gO2/meni. 0,049 A 0,057c 0,042 A 0,011b 0,040 A 0,057a 0,039 A 0,057a Berdasarkan Tabel 3 diatas menunjukan bahwa konsumsi oksigen yang terendah pada perlakuan P4 yaitu 0,039 dan P3 yaitu 0,040 tidak berbeda nyata. Selanjutnya diikuti dengan P2 yaitu 0,042 dan laju konsumsi oksigen tertinggi terdapat pada perlakuan P1. yaitu 0,049. Rendahnya konsumsi oksigen pada perlakuan P4 dan P3 dikarenankan penggunaan dosis ekstrak akar tuba dapat sebagai bahan pembiusan memberikan efek tenang ataupun ikan tidak melakukan banyak pergerakan sehingga aktivitas metabolismenya berkurang, kemudian laju konsumsi oksigen ikan Mas koki menjadi rendah. Ikan dapat menyerap bahan anestesi melalui jaringan otot atau saluran pencernaan dengan cara injeksi atau melalui insang. Page | 32 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Hal ini sesuai dengan pendapat Tahe . , bahwa anestesi pada umumnya digunakan untuk menenangkan ikan sehingga aktivitas ikan berkurang dan metabolismenya berkurang, sehingga mengurangi konsumsi oksigen, mengurangi karbondioksida yang mudah terurai dan tidak menimbulkan efek yang negatif pada ikan. Selanjutnya laju konsumsi oksigen yang tinggi terdapat pada perlakuan P0 . dikarenakan ikan dalam keadaan sadar sehingga ikan banyak melakukan pergerakan yang menyebabkan meningkatnya aktivitas metabolisme tubuh pada ikan Mas koki sehingga ikan Mas koki banyak mengkonsumsi oksigen dan terjadinya penurunan oksigen pada ikan atau hipoksia sehingga terjadi kematian pada ikan Mas koki. Oksigen sangat dibutuhkan ikan untuk bernafas, ketersediaan oksigen di dalam air sangat menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan, disamping itu kandungan oksigen terlarut sangat mempengaruhi metabolisme tubuh ikan (Febri et al. , 2. Prihadi et al. , . menambahkan beberapa ikan golongan Cyprinidae memiliki karakteristik konsumsi oksigen lebih banyak dibandingkan dengan ikan jenis lainnya, kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas ikan yang aktif memanfaatkan oksigen dalam kegiatan metabolisme dan pemeliharaan atau aktivitas Parameter Kualitas Air Kualitas air menjadi faktor pembatas bagi kehidupan mahluk-mahluk hidup dalam air baik yang termasuk dalam faktor kimia, fisika maupun biologi (Purba et al. , 2. Faktor penting yang berhubungan dengan kualitas air yang perlu diperhatikan antara lain suhu air, kadar oksigen terlarut (DO), derajat keasaman . H) dan kadar amoniak. Selama penelitian, suhu air sebelum melakukan transportasi dan pasca transportasi berada pada kisaran 26,4-26,7oC dan 26,4-26,6oC. Kisaran suhu yg didapatkan pada penelitian ini masih optimal untuk pertumbuhan ikan Mas koki dimana suhu air optimum pada pemeliharaan ikan mas koki berkisar antara 25,7 a 29,7oC (Fazil et al. , 2. Pengukuran kualitas air DO yang diukur sebelum transportasi berkisar anatara 5,5-5,7 ppm dan sesudah transportasi 5,3-5,6. Jumlah konsumsi oksigen selama transportasi ikan yang menggunakan dosis ekstrak akar tuba lebih sedikit dibandingkan dengan tidak menggunakan dosis ekstrak akar tuba atau kontrol. Hal ini dikarenakan ikan yang diberikan dosis ekstrak akar tuba pada saat transportasi tidak memiliki banyak aktivitas atau dalam fase pingsan sehingga ikan tidak mengkonsumsi banyak oksigen. Akan tetapi semua nilai DO yang diperoleh hasil pada kisarannya optimal bagi ikan Mas koki. Pemanfaatan oksigen oleh ikan dan aktivitas ikan yang lincah yang menyebabkan suhu air di dalam media pemingsanan semakin meningkat bersamaan dengan jumlah oksigen terlarut yang terdapat didalam air menurun, hal ini yang menyebabkan terjadinya penurunan nilai DO setelah pemingsanan ikan. Ikan pada saat beradaptasi dengan lingkungan yang baru membutuh oksigen yang lebih tinggi dari lingkungan normal (Sofarini, 2. Page | 33 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 23-37 Berdasarkan hasil pengukuran pH sebelum dan sesudah melakukan transportasi ikan Mas koki berkisar 7,5-7,7 dan 6,9-7,1 kisaran pH ini masih dalam kisaran optimal untuk kelangsungan hidup ikan Mas koki. Nilai pH air media ikan mas koki yang diukur cenderung stabil. pH yang sesuai untuk hidup dan tumbuh dengan baik pada ikan budidaya adalah kisran 7-8. pH yang sangat rendah atau sangat asam dapat menyebabkan kematian ikan dengan gejala gerakannya tidak teratur, tutup insang bergerak aktif, dan berenang sangat cepat di permukaan air, keadaan air yang sangat basa juga menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat (Simbolon et al. , 2. Kualitas air, suhu dan pH erat kaitannya dengan tingkat konsumsi oksigen, kualitas air pada kisaran yang tidak optimal seperti terlalu tinggi atau rendahnya kualitas air dapat menimbulkan rendahnya kemampuan ikan untuk mengkonsumsi oksigen dapat mengakibatkan stress sehingga berpengaruh pada kelangsungan hidup ikan (Pellu et al. , 2. Kadar amonia pada masing-masing perlakuan masih dalam keadaan toleransi ikan Mas koki. Kadar amonia ikan Mas koki yaitu berkisar 0,011-0,028 mg/l. Rendahnya kadar amonia disebabkan oleh ikan dipuasakan selama 24 jam sebelum melakukan transportasi. Silaban et al. , . menyatakan bahwa nilai standar amonia yang diperbolehkan dalam budidaya ikan yaitu 0,5 mg/L, sedangkan jika angka diatas nilai tersebut dapat menyebabkan timbulnya keracunan pada ikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dosis ekstrak akar tuba berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan Mas koki, lama waktu pemingsanan ikan Mas koki, lama waktu pulih sadar ikan mas koki dan laju konsumsi oksigen ikan Mas koki pada transportasi sistem tertutup. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan P4 yaitu dengan dosis ekstrak akar tuba sebesar 0,20 mL/L ikan mas koki hanya mengkonsumsi oksigen sebesar 0,039 mg O2/menit. DAFTAR PUSTAKA