Jurnal Ilmiah Sosio Agribis (JISA) Volume 25. Nomor 2 : 400-407 ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . IMPLEMENTASI BANTUAN POMPANISASI PROGRAM PERLUASAN AREAL TANAM (PAT) TERHADAP PRODUKTIVITAS USAHA TANI PADI DI KECAMATAN LAPPARIAJA KABUPATEN BONE Implementation of The Pump Irrigation Assistance Program for The Expansion of Planting Areas (PAT) and its Impact on Rice Farming Produktivity in Lappariaja District Bone Regency Titin Nuryadin1. Syamsinar2*. Majdah M. Zain3. Helda Ibrahim4 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Makassar *Correspondence Author: Syamsinar Email: syamsinar. dpk@uim-makassar. 1,2*,3,4 ABSTRACT This study aims to describe the implementation of pumping assistance in the Planting Area Expansion Program (PAT) and analyze the role of agricultural institutions in supporting increased rice farming productivity in Lappariaja District. Bone Regency. A descriptivecomparative quantitative method was used with a sample of 145 farmers receiving pump assistance and key informants from related agencies. Data were collected through questionnaires, interviews, and documentation. The results showed that the implementation of pump assistance was carried out according to procedures, including data collection, verification, and distribution of 54 pump units to nine villages. This program successfully increased planting intensity and rice productivity, despite technical constraints such as fuel availability and limited maintenance skills. The active role of the Agriculture Service. BPP, and farmer groups proved crucial in the program's success, thus supporting increased rice farming productivity and regional food security. Keywords: Implementation. Pump Irrigation. PAT Program. Productivity. Rice Farming. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi bantuan pompanisasi dalam Program Perluasan Areal Tanam (PAT) serta menganalisis peran kelembagaan pertanian dalam mendukung peningkatan produktivitas usahatani padi di Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone. Metode kuantitatif deskriptif-komparatif digunakan dengan sampel 145 petani penerima bantuan pompa dan informan kunci dari instansi terkait. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi bantuan pompa telah dilaksanakan sesuai prosedur, mencakup tahap pendataan, verifikasi, dan penyaluran 54 unit pompa ke sembilan desa. Program ini berhasil meningkatkan intensitas tanam dan produktivitas padi, meski terdapat kendala teknis seperti ketersediaan bahan bakar dan keterampilan perawatan yang terbatas. Peran aktif Dinas Pertanian. BPP, dan kelompok tani terbukti krusial dalam keberhasilan program, sehingga mendukung peningkatan produktivitas usahatani padi dan ketahanan pangan wilayah. Kata kunci: Implementasi. Pompanisasi. Program PAT. Produktivitas. Usaha Tani Padi. PENDAHULUAN Sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan, memiliki peranan strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Padi merupakan komoditas pangan utama yang berperan penting sebagai sumber pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun demikian, produktivitas usaha tani padi masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan ketersediaan air irigasi pada lahan sawah tadah hujan. Keterbatasan pasokan air ini berpotensi menurunkan hasil panen, mengurangi intensitas tanam, serta berdampak pada menurunnya pendapatan petani (Simmons et al. , 2. Titin Nuryadin, dkk Ae Implementasi Bantuan Pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam . Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah melalui Program Perluasan Areal Tanam (PAT) meluncurkan berbagai bentuk bantuan, salah satunya berupa bantuan Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan air bagi petani secara lebih merata, khususnya pada musim kemarau, sehingga lahan yang sebelumnya tidak dapat ditanami padi dapat dimanfaatkan secara produktif. Dengan demikian, pelaksanaan program ini diharapkan mampu mendukung peningkatan produktivitas usaha tani padi serta memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani (Anyanwu et al. , 2. Kabupaten Bone merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, baik dari segi luas lahan maupun ketersediaan tenaga kerja. Meskipun demikian, keterbatasan air irigasi masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan produktivitas Dalam konteks tersebut, bantuan pompanisasi dipandang sebagai bentuk intervensi strategis untuk mendukung keberhasilan Program PAT melalui peningkatan intensitas tanam, efisiensi penggunaan air, serta perbaikan pola tanam petani. Salah satu wilayah yang menjadi fokus program adalah Kecamatan Lappariaja, yang didominasi oleh lahan sawah tadah hujan 086,5 hektar hampir dua kali lipat dibandingkan luas sawah irigasi yang hanya 2. Kecamatan ini menerima bantuan pompanisasi sebanyak 54 unit dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone, yang disalurkan ke sembilan desa penerima. Bantuan tersebut ditujukan untuk memperkuat implementasi Program PAT agar petani di wilayah ini memperoleh akses air irigasi yang lebih optimal dan berkelanjutan (Sarma & Rahman, 2. Namun demikian, implementasi program bantuan pemerintah kerap menghadapi berbagai tantangan di tingkat lapangan, baik dalam hal mekanisme distribusi, pemeliharaan sarana, maupun pemanfaatannya oleh petani. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa bantuan pertanian yang tidak disertai dengan pendampingan dan pengawasan yang memadai cenderung kurang optimal dalam mencapai tujuan program, bahkan berpotensi menimbulkan ketergantungan baru bagi petani. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji sejauh mana implementasi bantuan pompanisasi Program PAT benar-benar terlaksana sesuai ketentuan dan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas usaha tani padi (Rejeki et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini difokuskan untuk menganalisis implementasi bantuan pompanisasi dalam Program Perluasan Areal Tanam (PAT) di Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone, guna memperoleh gambaran komprehensif mengenai pelaksanaan program, peran lembaga terkait, serta kendala yang dihadapi. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan masukan empiris bagi pengambil kebijakan dalam upaya peningkatan efektivitas program pembangunan pertanian yang berkelanjutan di tingkat daerah. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, atau gambaran implementasi pelaksanaan bantuan pompanisasi. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yakni pada bulan Juni-Juli 2025 di Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone. Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive . dengan mempertimbangkan beberapa alasan. Pertama. Kecamatan Lappariaja merupakan wilayah kerja peneliti sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sehingga memudahkan akses terhadap data, khususnya kelompok tani penerima bantuan Kedua, kemudahan akses ini memungkinkan peneliti memperoleh data yang lengkap, valid dan relevan untuk mendukung pencapaian tujuan penelitian. Ketiga, karakteristik agroekosistem di Kecamatan Lappariaja mencerminkan kondisi umum lahan tadah hujan di wilayah Kabupaten Bone, sehingga hasil penelitian diharapkan memiliki keterwakilan . dan dapat dijadikan sebagai rujukan atau perbandingan untuk wilayah lain dengan kondisi serupa. Data penelitian yang valid haruslah representatif, maksudnya adalah data penelitian yang didapatkan tersebutmewakili permasalahan secara jelas atau menjelaskan faktafakta yang ada di masyarakat secara luas (Ramdhan, 2. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 400-407 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang terdaftar sebagai penerima bantuan pompanisasi program PAT tahun 2025 di Kecamatan Lappariaja yang tergabung ke dalam kelompok tani yang umumnya mengolah lahan sawah tadah hujan. Adapun penentuan sampel dilakukan dengan kriteria tertentu yaitu petani yang tergabung ke dalam kelompok tani yang terdaftar pada aplikasi Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN) serta terdaftar dalam Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tahun 2024. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin karena jumlah populasi diketahui secara pasti, yaitu sebanyak 2. 039 orang petani di Kecamatan Lappariaja. Untuk memperoleh sampel yang representative namun tetap mempertimbangkan waktu dan sumber daya dalam pelaksanaan penelitian, maka digunakan margin of error sebesar 8%. Rumus Slovin sebagai yea= ycA . a ycA. eI)^ya ) Keterangan : : Sampel : Populasi : margin of error . ingkat kesalahan yang dapat ditolerans. Dengan total populasi N = 2. 039, maka: ycu= 1 2. 039 ycu 0,0064 ycu= 1 13,0496 ycu= 14,0496 ycu OO 145,13 ycu= Jadi diperoleh sampel sebanyak 145 petani yang dianggap cukup mewakili populasi 039 orang dengan tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi sebesar 8%. Selain sampel dari petani, dalam penelitian ini juga digunakan responden yang berasalh dari Dinas Tanaman Pangan. Hortikultira dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Bone yang bertanggung jawab dalam pompanisasi ini yakni bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) sebanyak 1 orang. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) 1 orang dan 3 orang penyuluh pertanian di Kecamatan Lappariaja serta 3 orang toko masyarakat. Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab tujuan penelitian yakni pelaksanaan bantuan pompanisasi dalam program PAT yaitu menggunakan analisis deskriptif dengan cara melakukan wawancara dan observasi kepada responden . ihak terkait dalam pelaksanaan, penyuluh pertanian dan pemerintah setempat di lokasi penelitia. , untuk menjelaskan bagaimana proses distribusi, pemamfaatan, dan peran pihak terkait dalam Instrument Penelitian Pengumpulan data adalah berbagai cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data, menghimpun, mengambil, atau menjaring data penelitian. Beberapa pengumpulan data menggunakan metode wawancara, pengamatan, angket, pengetesan, arsip, kuisioner, dan dokumentasi (Purnia & Alawiyah, 2. Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Kuisioner: Penelitian ini akan dilakuakn dengan menggunakan instrument penelitian kuisioner,yang akan terdapat beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pelaksanaan, dan pemanfaatan bantuan pompanisasi. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Titin Nuryadin, dkk Ae Implementasi Bantuan Pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam . Wawancara: Wawancara digunakan untuk mengonfirmasi dari serangkaian pertayaan yang telah disiapkan dalam wawancara menggunakan teknik pengumpulan data, bagi peneliti atau pengumpul data telah mengetahui pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh (Agung & Yuesti, 2. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrument peneltian berupa pertayaan-pertanyaan tertulis beserta jawabanya. Dokumentasi: Dokumentasi merupakan proses pengumpulan,pemilihan ,pengolahan, dan penyimpanan informasi terkait dengan penelitian sehingga danya bukti dari keterangan seperti gambar yang telah diambil selama proses penelitian berlangsung (Ibrahim et al. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Wejang Mawe Kecamatan Lamba Leda Timur Kabupaten Manggarai Timur. Lokasi penelitian ini dipilih secara acak dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut terdapat potensi dalam berusahatani kopi tetapi minimnya atau kurangnya perhatian dalam pendampingan dari pihak penyuluh Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis data primer dan sekunder. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan, pelaksanaan bantuan pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam (PAT) di Kecamatan Lappariaja secara umum telah mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Pada tingkat kecamatan dilaksanakan tudang sipulung untuk menentukan kelompok tani mana saja yang memerlukan pompanisasi yang memiliki sumber air. Selanjutnya pada tahap pendataan. Pimpinan Pertanian Kecamatan (PPK) kemudian mencatat kelompok yang membutuhkan pompanisasi ataupun alsintan lainnya. Setelah itu. PPK membuat rekapan kelompok yang membutuhkan pompanisasi yang lengkap dengan jenis pompa yang dibutuhkan, ukuran/volume pompa . yang disesuaikan dengan sumber air yang akan mengaliri. Sebagai pengusulan di tingkat kecamatan, selanjutnya rekapan pengusulan kebutuhan pompanisasi di tingkat kecamatan ini disampaikan kepada Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone melalui rapat atau pertemuan yang datanya dibuat dalam bentuk CPCL (Calon Petani Calon Lokas. yang lengkap dengan titik koordinat kelompok dan polygon kelompok. Selanjutnya untuk pengusulan skala kabupaten, dinas mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertanian yang ditujukan kepada dirjen PSP (Prasarana dan Sarana Pertania. yang telah di tandatangani oeh Kadis. Kemudian kementerian mengatur sesuai dengan anggaran yang tersedia di kementerian. Hal ini disampaikan oleh Andi Zakiyah selaku responden dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone bagian Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian dalam penelitian ini yang mengatakan bahwa: AuUntuk mencapai semua permintaan kemungkinan tidak bisa, sampai di kabupaten dipilih-pilih kembali siapa yang betul-betul butuh ini pompa misalnya ada sumber air lainnya, kemudian diproses, barangnya datang direalisasikan sesuai kebutuhan. Ay Mekanisme distribusi dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lappariaja, dan penyuluh pertanian lapangan. Sosialisasi program dilakukan sebelum penyaluran bantuan untuk memberikan pemahaman terkait tujuan, manfaat, dan tata cara penggunaan pompa. Penyuluh pertanian memegang peranan penting dalam memfasilitasi serta membimbing petani agar dapat memberikan yang terbaik dalam pengelolaan usaha tani yang dilakukannya (Rejeki et , 2. Selain distribusi, pendampingan teknis juga diberikan oleh penyuluh kepada petani terkait pengoperasian, perawatan, dan pengaturan jadwal penggunaan bersama. Keterlibatan pihak terkait cukup aktif, terlihat dari koordinasi rutin antara penyuluh, ketua kelompok tani, dan pihak dinas dalam memantau pemanfaatan pompa. Namun, di beberapa lokasi ditemukan kendala seperti keterbatasan bahan bakar dan kondisi sumber air yang tidak merata sehingga memengaruhi intensitas pemakaian. Seperti yang dikatakan seorang responden dalam penelitian ini terkait pembagian waktu penggunaan yakni: JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 400-407 AuKendala yang dihadapi, pembagian waktu penggunaan pompa air yang terkadang terlalu lama oleh anggota pada musim kemarau sehingga pergiliran tidak efektif dan harapan kami sebaiknya jumlah bantuan pompa air bisa ditambah agar bisa digunakan secara efektif. Ay Selain itu, responden lain dalam penelitian ini terkait bahan bakar mengatakan bahwa: AuKadang bahan bakarnya susah didapatkan, harus mengambil surat keterangan usaha dan surat permohonan dari kantor desa kemudian mengajukan surat rekomendasi di kantor pertanian. Ay Dari segi penerimaan sosial, sebagian besar petani menyatakan bantuan ini tepat sasaran dan sangat membantu mengatasi masalah kekurangan air, meskipun masih ada masukan terkait pemerataan waktu penggunaan antaranggota kelompok. Seperti yang dikatakan salah seorang responden petani penerima bantuan pompanisasi dalam penelitian ini yaitu: AuTidak ada kendala, justru sangat membantu setelah adanya bantuan pompanisasi karena sawah yang tidak kena irigasi kita perlu pompanisasi. Ay Secara keseluruhan, hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa pelaksanaan bantuan pompanisasi di Kecamatan Lappariaja telah berjalan dengan baik, meskipun masih diperlukan optimalisasi pada aspek ketersediaan input pendukung dan pengelolaan penggunaan pompa secara kolektif. Proses Distribusi Pelaksanaan distribusi bantuan pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam (PAT) di Kecamatan Lappariaja dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lappariaja, serta kelompok tani penerima bantuan. Data calon penerima diverifikasi melalui Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone bagian Bidang PSP, yang kemudian dibuatkan jadwal per kecamatan setelah menghubungi PPK untuk mengkonfirmasi poktan yang menjadi prioritas penerima bantuan dengan melengkapi kelengkapan administrasi seperti proposal yang lengkap dengan CPCL, daftar anggota, luas lahan masing-masing anggota, yang tekah ditanda tangani oleh ketua kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan, diketahui dan ditandatangani oleh PPK. Kepala Desa dan Camat setempat. Setelah ini, kelompok tani yang telah menyelesaikan proposal permohonan bantuannya diverifikasi oleh Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone bagian Penyuluhan unntuk kemudian dibuatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) untuk menghindari kelompok-kelompok yang terbentuk hanya untuk kepentingan penerimaan bantuan. SKT ini ditandatangani oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone. Selanjutnya. Bidang PSP kemudian merekap kembali data tersebut untuk memastikan kelompok tersebut belum pernah menerima bantuan pompanisasi di tahun sebelumnya untuk menghindari penerimaan bantuan pompanisasi secara berulang. Penyaluran bantuan dilakukan dalam bentuk barang berupa unit pompa beserta perlengkapannya, bukan dalam bentuk uang, sehingga meminimalkan risiko penyalahgunaan. Proses distribusi dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan didahului oleh kegiatan sosialisasi di tingkat kelompok tani. Sebanyak 54 unit pompa diserahkan kepada kelompok penerima yang tersebar di sembilan desa, dengan mekanisme serah terima yang melibatkan pihak dinas, penyuluh, dan perwakilan kelompok tani. Ketua kelompok tani penerima melakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima barang (BAST) yang bermaterai setelah proposal permohonan bantuannya dinyatakan berhak menerima bantuan, kemudian penjemputan barang di Gudang dan dilakukan foto sebagai dokumentasi penyerahan bantuan. BAST ini berisi tentang detail mesin pompa air yang diterima oleh kelompok tani seperti merek, nomor mesin, nomor rangka dan ukuran pompa air tersebut. Selain itu, di BAST tertera ketentuan dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh petani penerima bantuan Secara umum, distribusi berjalan lancar dan sesuai prosedur, meskipun di beberapa desa terdapat kendala minor seperti keterlambatan pengiriman akibat faktor cuaca dan akses JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Titin Nuryadin, dkk Ae Implementasi Bantuan Pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam . Pemanfaatan Bantuan Pompanisasi Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, pemanfaatan bantuan pompanisasi di Kecamatan Lappariaja telah memberikan dampak positif bagi peningkatan intensitas tanam, khususnya di lahan sawah tadah hujan. Petani penerima menggunakan pompa untuk mengairi lahan pada musim kemarau maupun pada jeda tanam, sehingga memungkinkan penanaman padi hingga dua sampai tiga kali setahun. Penggunaan pompa dilakukan secara bergiliran sesuai jadwal yang disepakati dalam kelompok, dengan pengaturan waktu operasi yang mempertimbangkan luas lahan dan ketersediaan air di sumber terdekat. Namun, tingkat pemanfaatan bervariasi antar kelompok, dipengaruhi oleh faktor jarak sumber air, ketersediaan bahan bakar, dan kondisi Pada kelompok yang memiliki akses air melimpah, frekuensi penggunaan relatif tinggi, sedangkan pada kelompok dengan sumber air terbatas, penggunaan lebih jarang dan bersifat prioritas untuk lahan yang sedang masa kritis air. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi bantuan pompanisasi tidak hanya bergantung pada penyediaan sarana, tetapi juga pada kemampuan dan karakteristik petani dalam mengelola teknologi tersebut. Hal ini sejalan dengan temuan yang ada, bahwa pendidikan dan skala usaha berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani padi di Sidoarjo (Patiung et , 2. Peran Pihak Terkait dalam Pelaksanaan Peran kelembagaan petani, khususnya kelompok tani, memiliki kontribusi yang nyata terhadap keberhasilan implementasi bantuan pompanisasi. Kelompok tani berfungsi tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran, sarana kerjasama, dan unit produksi yang memperkuat kemampuan petani dalam mengelola usaha taninya. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa peran kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan produksi padi dengan kontribusi sebesar 53,2% (Sasmita et al. , 2. Adapun pada Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura, dan Perkebunan bertanggung jawab dalam penentuan alokasi bantuan, verifikasi penerima, pengawasan umum program dan monitoring dan evaluasi program. Monitoring dan evaluasi dilakukan setelah satu tahun penggunaan bantuan tersebut. Format isian monitoring dan evaluasi diberikan kepada Pimpinan Pertanian Kecamatan masing-masing yang kemudian form isian tersebut diteruskan kepada penyuluh pertanian untuk dilakukan di kelompok tani penerima bantuan. Untuk bantuan pompanisasi itu sendiri di Kecamatan Lappariaja akan mulai dilakukan monitoring dan evaluasi di tahun 2025 ini. Selain itu, di Dinas Tanaman Pangan. Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone bidan Prasarana dan Sarana Pertanian melakukan penginputan semua jenis alat dan mesin pertanian yang tersalurkan ke kecamatan pada aplikasi BAST Online DITA dan melampirkan semua bukti pendukung seperti BAST, foto penyerahan, nomor rekening penerima, merek dan jenis alsintan yang diterima, dan lain-lain (Baharuddin et al. , 2. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) berperan sebagai penghubung antara dinas dan kelompok tani, memastikan distribusi tepat sasaran, serta memantau pemanfaatan di lapangan. Penyuluh pertanian lapangan (PPL) menjadi aktor kunci yang memberikan pendampingan teknis termasuk penyaluran, pendampingan kepada petani untuk mengoperasikan dan merawat pompa. Selain itu, kelompok tani berperan dalam mengatur pembagian waktu penggunaan, menjaga keamanan alat, dan memastikan pompa digunakan sesuai tujuan program. Keterlibatan aktif seluruh pihak ini berkontribusi terhadap kelancaran implementasi, walaupun masih diperlukan Peran kelembagaan lokal seperti Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), kelompok tani, dan pemerintah desa sangat menentukan efektivitas implementasi bantuan pompanisasi. Kelembagaan yang memiliki sistem manajemen kinerja yang baik akan mampu mendukung keberlanjutan program melalui koordinasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penerapan Balanced Scorecard pada BUMDes dapat meningkatkan kinerja lembaga melalui penguatan aspek keuangan, proses internal, dan kapasitas sumber daya manusia (Sari & Hariputra. JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Jurnal Ilmiah Sosio Agribis. Volume 25 (Nomor . , 2025: 400-407 Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi bantuan pompanisasi berjalan efektif karena didukung oleh koordinasi antara lembaga pemerintah, penyuluh pertanian, dan kelompok Keberhasilan implementasi program ini tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga oleh efektivitas komunikasi antar pelaksana, kapasitas sumber daya, serta dukungan kelembagaan di tingkat lokal. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa keberhasilan kelompok pembudidaya ikan dalam mengembangkan usaha pengolahan lele sangat dipengaruhi oleh efektivitas kelembagaan, kemitraan antaraktor, serta dukungan pemerintah daerah melalui pendekatan model bisnis yang terstruktur (Aras et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan teori implementasi kebijakan yang menekankan bahwa efektivitas implementasi sangat dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu policy design, organizational arrangement, dan interaction process antara pelaksana dan penerima kebijakan (Hill & Hupe, 2. Selain itu, keberhasilan implementasi kebijakan publik sangat bergantung pada kesesuaian antara tujuan kebijakan, mekanisme pelaksanaan, serta komitmen para aktor yang terlibat (Howlett & Cashore, 2. Dengan demikian, keberhasilan implementasi bantuan pompanisasi dalam Program PAT di Kecamatan Lappariaja menunjukkan bahwa sinergi kelembagaan dan komunikasi antar pelaksana berperan penting dalam memastikan kebijakan pertanian dapat berjalan secara efektif di tingkat lapangan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Implementasi bantuan pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam (PAT) di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, mulai dari pendataan, verifikasi, hingga distribusi kepada kelompok tani penerima. Keterlibatan aktif Dinas Pertanian. Balai Penyuluhan Pertanian, dan kelompok tani berperan penting dalam kelancaran pelaksanaan program. Bantuan pompanisasi memberikan dampak positif terhadap peningkatan intensitas tanam dan produktivitas padi di lahan tadah hujan. Namun, kendala seperti keterbatasan bahan bakar dan keterampilan teknis petani masih perlu mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, keberlanjutan program dapat ditingkatkan melalui pendampingan teknis yang berkelanjutan dan pengelolaan kolektif yang lebih baik di tingkat kelompok tani. Keberlanjutan implementasi bantuan pompanisasi di masa mendatang perlu mempertimbangkan aspek regenerasi petani, sejalan dengan temuan yang menekankan pentingnya peningkatan minat generasi muda dalam sektor pertanian. Saran Bagi Pemerintah Daerah dan Dinas Terkait: Diperlukan peningkatan intensitas pendampingan teknis kepada kelompok tani penerima bantuan pompanisasi, terutama dalam hal perawatan, pengoperasian, dan pengelolaan pompa secara kolektif agar pemanfaatan sarana lebih optimal dan berkelanjutan. Selain itu, perlu dilakukan pengawasan dan evaluasi rutin untuk memastikan keberlanjutan fungsi alat serta pemerataan akses antar kelompok. Bagi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Penyuluh Lapangan: Perlu memperkuat peran penyuluh sebagai fasilitator dan pembimbing petani dalam manajemen penggunaan air dan efisiensi energi, serta membantu kelompok tani dalam menyusun jadwal penggunaan pompa yang adil dan efektif. Pelatihan teknis sederhana mengenai perawatan alat juga sangat dianjurkan. Bagi Kelompok Tani: Disarankan untuk meningkatkan koordinasi dan kedisiplinan dalam pengaturan jadwal penggunaan pompa, serta membentuk sistem iuran kelompok untuk biaya operasional seperti pembelian bahan bakar dan perawatan alat agar keberlanjutan pemanfaatan pompa dapat terjamin. Bagi Peneliti Selanjutnya: Penelitian mendatang disarankan untuk menganalisis dampak ekonomi dan efisiensi biaya dari program pompanisasi terhadap pendapatan petani, serta mengkaji faktor sosial dan kelembagaan yang memengaruhi keberlanjutan program di tingkat Diharapkan Penyuluh pertanian untuk lebih memperhatikan peningkatan pengetahuan petani mengenai pengolahan tanaman kopi yang efisien agar mampu memperoleh produksi kopi JISA. ISSN: 1412-1816 . ISSN: 2614-4549 . Titin Nuryadin, dkk Ae Implementasi Bantuan Pompanisasi Program Perluasan Areal Tanam . dengan maksimal dan bagi penelitian selanjutnya dapat dikembangkan serta dijadikan pedoman dalam melakukan penelitian yang berjudul peran penyuluh pertanian dalam meningkatkan produksi kopi. DAFTAR PUSTAKA