Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 CERDAS PANTAU TUMBUH KEMBANG ANAK: IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFORMASI KADER DI CAKUNG Novita M Kana Wadu1*. Sondang R Sianturi2, 1,2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus *Koresponden: Novita M Kana Wadu. Alamat: Alamat: Jalan Salemba Raya 41 78112 Daerah Khusus Ibukota Jakarta Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Email: marcelinanovita4@gmail. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 28 agust Abstrak Latar Belakang: Kader posyandu memiliki peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak, terutama dalam upaya deteksi dini gangguan perkembangan. Namun, keterbatasan pemahaman kader terhadap aspek-aspek tumbuh kembang dan alat bantu seperti KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembanga. dapat menjadi kendala dalam pelaksanaan tugas tersebut. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan informasi kader menjadi elemen penting dalam meningkatkan kualitas layanan di posyandu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebutuhan kader terhadap informasi tumbuh kembang anak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cakung. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain survei cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 15 orang kader posyandu, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Sebagian besar kader membutuhkan informasi tentang tanda dini keterlambatan perkembangan . 3%), perkembangan bahasa . 7%), dan kognitif . %). Sebanyak 80% responden pernah menggunakan KPSP, namun hanya 46. 7% yang memahami cara pengisiannya, dan 30% mampu membaca hasilnya. Sebagian besar kader masih bingung menginterpretasikan hasil KPSP . %). Kebutuhan terhadap media informasi seperti aplikasi mobile . 7%), video edukatif . %), dan pelatihan daring . juga tinggi. Kesimpulan: Kader posyandu memiliki kebutuhan informasi yang tinggi terkait tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek interpretasi KPSP dan media edukasi interaktif. Diperlukan penguatan pelatihan kader dan penyediaan media pembelajaran yang lebih praktis dan aplikatif. Kata Kunci: Kebutuhan informasi, kader posyandu, tumbuh kembang anak. KPSP, media edukatif Latar Belakang hingga usia dua tahun, dikenal sebagai golden period karena Tumbuh kembang anak merupakan fondasi utama merupakan masa yang sangat menentukan terhadap bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Periode pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan 000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan sosial-emosional Kegagalan Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 pemantauan dan intervensi pada masa ini dapat berdampak serta mempercepat proses pemantauan di 964 Posyandu di seluruh Indonesia (Rinawan & Susanti, 2. Hal serupa keterlambatan bicara, kesulitan belajar, hingga gangguan juga ditemukan secara global, di mana implementasi aplikasi Di Indonesia, upaya deteksi dini dilakukan melalui berbasis tablet di Peru yang digunakan oleh community kegiatan Posyandu dengan dukungan kader kesehatan health agents (CHA) berhasil meningkatkan kualitas masyarakat sebagai ujung tombak pelayanan. Salah satu alat pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta bantu skrining yang digunakan adalah Kuesioner Pra meningkatkan pengetahuan orang tua (Westgard et al. Skrining Perkembangan (KPSP), yang dapat membantu mengidentifikasi risiko keterlambatan perkembangan sesuai Namun demikian, hingga kini masih minim kajian usia anak. Namun, efektivitas alat ini sangat bergantung pada yang secara khusus menggambarkan kebutuhan kader kemampuan kader dalam memahami dan menerapkannya dalam mengakses dan memahami informasi tumbuh secara tepat. kembang anak, terutama dalam konteks penggunaan KPSP Namun sayangnya, banyak kader masih memiliki dan aplikasi digital, di wilayah urban padat penduduk seperti keterbatasan pemahaman tentang aspek tumbuh kembang Kecamatan Cakung. Jakarta Timur. Hal ini menjadi tantangan anak, cara membaca grafik pertumbuhan, dan penggunaan tersendiri mengingat beban kerja kader di wilayah padat alat seperti KMS dan KPSP. Studi di Afrika Selatan cenderung lebih tinggi, sementara fasilitas dan pelatihan cenderung belum merata. pentingnya imunisasi dan gizi, mereka mengaku kurang Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini percaya diri dalam memberikan konseling perkembangan penting dilakukan untuk menggambarkan kebutuhan anak karena kurangnya pelatihan mendalam(Moolla & informasi yang dirasakan oleh kader dalam menjalankan Coetzee, 2. Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. tugas pemantauan tumbuh kembang anak. Penelitian ini Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa hanya sekitar diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan intervensi edukatif dan teknologi yang tepat sasaran guna memperkuat menggunakan KMS. Selain itu, hanya sekitar 51% anak usia peran kader dalam mendukung perkembangan anak usia dini yang mendapat stimulasi perkembangan secara cukup dari orang tuanya, yang menunjukkan adanya celah besar Tujuan Penelitian dalam pemantauan dan pendampingan perkembangan anak Untuk mengetahui kebutuhan kader tentang di rumah. Penelitian lokal di Semarang juga menunjukkan informasi tumbuh kembang bahwa pelatihan kader mampu meningkatkan pengetahuan Puskesmas Kecamatan Cakung. anak di wilayah kerja mereka dalam menggunakan KPSP dan KMS, namun tanpa pelatihan lanjutan, pengetahuan ini cenderung menurun (Wulandari et al. , 2. (Kurniasih & Widyawati, 2. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan berbagai institusi telah mengembangkan inovasi berbasis digital untuk mendukung kader. Salah satu contohnya adalah pengembangan aplikasi Posyandu digital yang digunakan untuk pencatatan data pertumbuhan, pengisian KPSP, dan Metode Penelitian Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan kader posyandu terhadap informasi tumbuh kembang anak di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cakung. media edukasi. Studi di Purwakarta menemukan bahwa meningkatkan keterampilan dan akurasi pelaporan kader. Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Populasi dan Sampel kebutuhan informasi kader posyandu mengenai tumbuh Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kader kembang anak. Proses pengolahan dan analisis data posyandu yang aktif menjalankan kegiatan pemantauan dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 25, guna tumbuh kembang anak di wilayah kerja Puskesmas menghasilkan output statistik berupa tabel dan grafik yang Kecamatan Cakung yang berjumlah 15 orang yang bersedia mempermudah interpretasi hasil penelitian. menjadi subyek penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling, mengingat jumlah kader aktif Pertimbangan Etik di wilayah tersebut tidak terlalu besar dan memungkinkan seluruhnya dijadikan responden. Pada tanggal 10 Maret 2025 telah dilakukan uji etik dan telah dinyakan lolos dan telah diterima oleh reviewer. Kriteria inklusi yaitu kader yang telah aktif minimal selama 6 bulan, bersedia menjadi responden, dan dapat Hasil Penelitian membaca dan menulis. Dan kriteria eksklusi yaitu kader Tabel 4. 1 Gambaran Pendidikan Kader Posyandu yang tidak aktif selama 3 bulan terakhir atau sedang cuti. Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang disusun melalui platform Google Form dan diolah Tingkat Pendidikan Frekuensi . Persentase (%) SMA Total menggunakan perangkat laptop dengan bantuan perangkat Seluruh responden memiliki tingkat pendidikan lunak statistik. Kuesioner disusun berdasarkan sejumlah terakhir SMA . %). Hal ini menunjukkan bahwa kader pernyataan yang dijawab secara mandiri oleh responden. yang terlibat dalam penelitian ini telah mencapai tingkat Instrumen yang digunakan merupakan skala kebutuhan pendidikan menengah, yang sesuai dengan standar minimal informasi kader yang disesuaikan dengan indikator dari kompetensi kader dalam memahami materi penyuluhan, teori kebutuhan informasi kesehatan masyarakat menurut mengisi instrumen pemantauan seperti KMS dan KPSP, serta Wilson . , yang kemudian diadaptasi oleh Fitriani et al. mengikuti pelatihan dari puskesmas. Latar belakang . dalam konteks kader posyandu. pendidikan ini memberikan landasan yang cukup untuk menerima informasi baru dan menyampaikan kembali edukasi kepada masyarakat secara efektif. Pengumpulan Data Pengumpulan Data dilakukan pada bulan Mei-Juni Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tabel 4. 2 Gambaran Pekerjaan Kader Posyandu Kecamatan Cakung. Jakarta Timur. Pekerjaan Analisa Data Menurut Sugiyono . , analisis univariat Frekuensi . Persentase (%) Ibu Rumah Tangga (IRT) Total Seluruh responden dalam penelitian ini merupakan menggambarkan atau menjelaskan karakteristik dari satu Ibu Rumah Tangga (IRT) yang juga aktif sebagai kader variabel secara tunggal, tanpa dikaitkan dengan variabel posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Cakung. Analisis ini umumnya digunakan dalam penelitian Keterlibatan IRT sebagai kader posyandu mencerminkan deskriptif untuk menyajikan data dalam bentuk distribusi peran ganda perempuan dalam lingkungan domestik dan frekuensi dan persentase. Dalam penelitian ini, digunakan analisis univariat Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Tabel 4. 3 Gambaran Usia Kader Posyandu Rentang Usia (Tahu. Frekuensi . Persentase (%) Tabel 4. 5 Pemahaman Kader Terhadap KPSP 35Ae39 Aspek Pemahaman KPSP 40Ae44 45Ae50 Total Mayoritas responden berada pada rentang usia 40Ae 44 tahun . %), diikuti oleh 35Ae39 tahun . 3%), dan 45Ae 50 tahun . 7%). Seluruh kader termasuk dalam usia Pernah menggunakan KPSP Paham cara pengisian KPSP Bisa membaca hasil KPSP dewasa produktif, yang umumnya memiliki kematangan Bingung membaca hasil emosional dan komitmen tinggi, sehingga dianggap ideal KPSP untuk menjalankan peran sebagai kader posyandu. Frekuensi Persentase . (%) Meskipun 60% kader pernah menggunakan KPSP, 7% yang memahami cara pengisiannya dan 30% Tabel 4. 4 Jenis Informasi Tumbuh Kembang Anak yang yang mampu membaca hasilnya dengan benar. Sebaliknya. Dibutuhkan Kader 80% kader masih bingung saat menginterpretasikan hasil Frekuensi Persentase KPSP. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kader . (%) belum memiliki pemahaman yang memadai terhadap Motorik kasar Bahasa dan komunikasi Kognitif Tabel 4. 6 Kebutuhan terhadap Media atau Aplikasi Sosial emosional Pendukung Stimulasi di rumah Jenis Informasi lanjut yang praktis dan berkelanjutan. Media Informasi yang Dibutuhkan Deteksi dini keterlambatan Sebagian penggunaan KPSP, sehingga diperlukan pelatihan lebih Frekuensi Persentase (%) Aplikasi mobile . Video edukatif Pelatihan daring Buku saku / leaflet Infografis cetak membutuhkan informasi terkait deteksi dini keterlambatan perkembangan, menunjukkan bahwa kader sadar akan pentingnya mengenali gangguan perkembangan sejak awal. Selanjutnya, 86. 7% membutuhkan informasi tentang bahasa dan komunikasi anak, dan 80% membutuhkan informasi Sebagian besar kader sangat menginginkan media kognitif, yang mencerminkan kebutuhan kader akan berbasis digital, seperti aplikasi mobile . 7%) dan video pemahaman mendalam pada aspek perkembangan non-fisik edukatif . %). Ini menunjukkan kesiapan dan minat kader yang sering kali luput dari perhatian. Informasi tentang dalam mengadopsi metode pembelajaran berbasis teknologi, stimulasi di rumah menjadi kebutuhan terendah . %), asalkan konten yang disediakan sederhana dan aplikatif. meskipun masih tergolong tinggi, menunjukkan bahwa Pelatihan daring juga diminati oleh 73. 3% kader, yang kader juga membutuhkan panduan bagaimana menstimulasi berarti penyampaian materi melalui Zoom atau video anak melalui peran keluarga. berbasis WhatsApp bisa menjadi alternatif pelatihan yang Media cetak seperti buku saku . 7%) dan infografis Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 . %) masih relevan untuk memperkuat penyampaian temuan ini, yang menunjukkan bahwa kader yang teredukasi pesan di lapangan. dengan baik tentang perkembangan anak dapat lebih efektif Pembahasan dalam memberikan dukungan kepada orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh Namun, responden memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA menggunakan KPSP, hanya 46. 7% yang memahami cara . %). Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan pengisiannya dan 30% yang mampu membaca hasilnya bahwa pendidikan yang memadai merupakan salah satu dengan benar. Ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam faktor penting dalam meningkatkan kompetensi kader pemahaman yang perlu diatasi melalui pelatihan yang lebih dalam memahami materi penyuluhan dan instrumen praktis dan berkelanjutan (Setiawan & Sari, 2. pemantauan Sari & Indriyani . Pendidikan yang baik Penelitian terbaru oleh Setiawan et al. juga menemukan bahwa banyak kader yang merasa bingung dalam menginterpretasikan hasil KPSP, yang menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dalam pelatihan. merupakan salah satu tugas utama mereka. Namun, meskipun kader memiliki latar belakang Sebagian besar kader menunjukkan minat yang pendidikan yang cukup, tantangan tetap ada dalam hal tinggi terhadap media berbasis digital, seperti aplikasi mobile . 7%) dan video edukatif . %). Hal ini sejalan Penelitian oleh Pratiwi & Setiawan . dengan tren global yang menunjukkan bahwa teknologi bahwa meskipun kader memiliki pendidikan yang baik, dapat menjadi alat yang efektif dalam pendidikan kesehatan mereka sering kali mengalami kesulitan dalam menerapkan (Kusuma & Lestari, 2. Penelitian Nursyam et al. , . pengetahuan tersebut dalam praktik sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media digital dalam menunjukkan perlunya pelatihan yang lebih terfokus dan pelatihan kader dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mereka dalam program kesehatan. Namun, meskipun media digital sangat diminati, keterampilan kader. Seluruh responden dalam penelitian ini adalah Ibu media cetak seperti buku saku dan infografis masih relevan Rumah Tangga (IRT) yang juga berperan sebagai kader untuk memperkuat penyampaian pesan di lapangan. Hal ini Keterlibatan IRT dalam peran ganda ini mencerminkan dinamika sosial yang ada di masyarakat, di mana perempuan sering kali memegang peran penting menjangkau berbagai kalangan masyarakat (Hidayati & dalam kesehatan keluarga dan masyarakat Hidayati & Sari. Novita, 2. Penelitian oleh Wulandari & Adespin, . menunjukkan bahwa IRT yang berperan sebagai kader Kesimpulan posyandu dapat meningkatkan kesadaran kesehatan di Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kader komunitas mereka, tetapi juga menghadapi tantangan dalam posyandu memiliki latar belakang pendidikan yang baik, membagi waktu antara tanggung jawab domestik dan tugas tetapi masih menghadapi tantangan dalam pemahaman dan sebagai kader. penerapan pengetahuan. Keterlibatan IRT sebagai kader posyandu mencerminkan peran penting perempuan dalam membutuhkan informasi terkait deteksi dini keterlambatan Sebagian . kesehatan masyarakat. Kebutuhan akan informasi dan perkembangan anak. Hal ini menunjukkan kesadaran kader pelatihan yang lebih baik, serta penggunaan media digital, akan pentingnya mengenali gangguan perkembangan sejak menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas kader dalam Penelitian oleh Rahmawati et al. mendukung menjalankan tugas mereka. Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Rinawan. , & Susanti. Understanding mobile Referensi