ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Modal Kepemimpinan Transformasi Dalam Inovasi Pembangunan Agro Wisata Sumber Celeng Bulurejo Diwek Jombang Supraptini1. Endah Wahyuningsih2. Muhammad Nur Hidayat3 1 Pegiat Pembangunan dan Pemberdayaan Desa Jombang Bulurejo supraptini145@gmail. ABSTRAK Agrowisata Sumber Celeng (ASC) berdiri sejak 2017 berada di Desa Bulurejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang merupakan bagian dari unit usaha milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran kepemimpinan transformatif kepala desa dan implementasi pendekatam kolaborasi katalis yang telah dilaksanakan dalam membangun Agrowisata Sumber Celeng (ASC). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan ditentukan dengan cara purposif yang terdiri dari 7 informan yaitu kepala desa . antan dan yang saat ini menjaba. , staf BUMDesa. Tokoh Masyarakat dan juga perangkat desa. Data diperoleh dengan wawancara, observasi dan dengan dokumen-dokumen yang mendukung penelitian Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles and Haberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala desa memiliki peran yang sentral mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembangunan sampai dengan saat ini serta terus berupaya meningkatkan partisipasi warga dan banyak pihak agar ASC semakin maju dan Selain itu kepala desa juga adalah tokoh yang jujur, terpercaya dan memiliki Kemampuannya dalam membangun jaringan dan komunikasi yang baik membuat mudah dalam menjalin kerjasama untuk kesejakteraan masyarakatnya Kata Kunci : Kepemimpinan. Desa Wisata. Modal Sosial. BUMDesa. ABSTRACT Sumber Celeng Agrotourism (ASC) was established in 2017 in Bulurejo Village. Diwek District. Jombang Regency and is part of a business unit belonging to the local VillageOwned Enterprise (BUMDes. This research aims to find out the transformative leadership role of the village head and the implementation of the catalytic collaboration approach that has been implemented in building Sumber Celeng Agrotourism (ASC). This research was conducted using qualitative research methods. Informants were determined purposively, consisting of 7 informants, namely village heads . ormer and curren. BUMDesa staff, community leaders and also village officials. Data was obtained by interviews, observations and documents that support this research. Data analysis was carried out using the Miles and Haberman model. The research results show that the village head has a central role starting from planning, implementing development up to now and continues to strive to increase participation from residents and many parties so that ASC can progress and develop. Apart from that, the village head is also an honest, trustworthy and caring figure. His ability to build networks and good communication makes it easy to collaborate for the welfare of his community. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Keyword : Leadership. Tourism Village. Social Capital. BUMDesa. PENDAHULUAN Pergeseran model pembangunan di Indonesia telah membawa perubahan dan kemajuan yang luar biasa. Model pembangunan yang dulu top down sekarang telah berubah menjadi button up (Wahyuningsih et al. , 2. Pembangunan dengan model top down yang cenderung sentralistik dianggap sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat Masyarakat kita yang majemuk dan dinamis dengan perkembangannya memerlukan solusi yang sesuai dengan kondisi desanya untuk dapat menciptakan kesejahteraan bagi Model pembangunan button up dianggap lebih realitis untuk menjawab tantangan saat ini. Pemerintah desa yang telah memiliki pengetahuan akan sumber daya yang dimilikinya baik itu sumber daya manusia maupun sumber daya alam akan lebih mampu memberikan solusi terkait dengan geliat ekonomi dan menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya, sehingga hambatan dan ancaman yang menjadi kendala akan bisa diatasi dengan kekuatan dan peluang yang diciptakannya. Kehadiran UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa merupakan peraturan yang memberikan tanggung jawab yang besar pada pemerintah desa untuk mengatur desa. kepercayaan pemerintah ini tidak hanya diberikan dengan memberikan legalitas kekuasaan tetapi juga disertai dengan dana desa yang nilainya sangat tinggi. Tantangan terbesar desa adalah meningkatkan pengetahuan, kapasitas dan kompetensi untuk dapat mengelola pembangunan dengan baik. Selain itu keberadaan kepala desa yang dipilih langung oleh rakyat dalam sebuah pesta demokrasi yang biasa kita kenal dengan pilkades . emilihan kepala des. merupakan proses demokrasi untuk melahirkan pemimpin-pemimpin desa yang berkualitas dan sesuai dengan kemauan Desa wisata adalah salah satu program pemerintah untuk meningkatkan geliat ekonomi di tingkat desa. keindahan alam yang dimiliki negara kita merupakan aset emas yang dapat membawa kesejahteraan bagi warga sekitar. Menurut Medlik yang dimuat dalam (Wahyuningsih et al. , 2. dinyatakan bahwa ada empat aspek yang harus diperhatikan dalam penawaran wisata pada umumnya yaitu: . aya tari. , dimana daerah wisata harus memiliki daya tarik, daya taris tersebut dapat berupa alam, masyarakat maupun budaya. Accessibility . yaitu ketersediaan akses untuk mencapai daerah wisata tersebut baik udara, darat maupun laut. ketersediaan fasilitas akan memberikan rasa nyaman sehingga pengunjung akan lama tinggal dan akan mengunjungi kembali. yaitu terdapat proteksi akan rasa aman. Program desa wisata ini akan dapat terwujud ketika kepala desa memiliki pengetahuan yang cukup dalam menjalankan kepemiminanya. Salah satu kepemimpinan yang saat ini banyak digunakan adalah kepemimpinan trasformatif yang memiliki visi. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 misi dan mencapai tujuan dengan menggunakan konsep manajemen dengan baik. Dalam pelaksanaannya akan melibatkan seluruh anggotanya untuk berkomitmen dan mempunyai loyalitas dalam mewujudkan visi dan misi bersama serta menjadi contoh bagi bawahan mengenai cara-cara mengembangkan potensi dan menyikapi masalah dari perspektif baru. Ay Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memberikan teladan bagi bawahannya dan berusaha mengayomi bawahannya dalam bekerja dan berkolaborasi bersama. Gaya kepemimpinan transformasional dengan kolaborasi katalis secara teoritis mampu memberikan perubahan yang signifikan di wilayahnya. Hal ini merupakan efek dari teknologi yang menyebabkan kemudahan akan akses informasi dan komunikasi dengan orang lain dan banyak pihak. Seorang pemimpin transformasional dengan kompetensi yang dimilikinya diharapkan dapat melakukan kolaborasi katalis untuk melakukan inovasi terhadap kebutuhan daerahnya dan juga proses yang berkelanjutan baik dari aspek ekonomi juga lingkungan. Bahwa pemimpin harus berani melakukan inovasi dan sangat peduli terhadap pembangunan daerahnya meskipun sumber daya yang ada di sana terbatas. Oleh karena itu pemimpin harus melakukan kolaborasi secara katalis dengan beberapa pihak untuk dapat mengoptimalkan semua peluang yang ada demi kemajuan daerah yang dipimpin (Juhro et al. , 2. Selain sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, kepala desa juga memiliki peran yang penting. Selain itu desa dituntut untuk terus mengasah kemampuan dan meningkatkan partisipasi masyarakatnya. Selain itu hal yang tidak kalah penting adalah pemerintah desa harus memiliki kemampuan dalam menggali potensi desa. Hal ini menjadi penting adanya karena dengan assessment yang benar untuk menggali informasi terkait potensi desa maka desa akan mengetahui kekuatan dan kemampuan yang dimiliki dan akan Hal ini merupakan modal dasar dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Modal sosial telah diperdebatkan secara luas dan telah menjadi topik terkait pembangunan yang populer, pertama kali disebutkan dalam studi Robert D Putnam . 3,1995, 2. James Coleman . 0, 1. Fukuyama . 9, 2. , dan bahkan Adam Smith dalam kajian ekonominya juga unsur modal sosial dalam studinya tentang ekonomi yang disebut dengan Ausocial contractAy, yaitu social network, suatu pola hubungan yang menentukan keberhasilan kemajuan dalam pembangunan ekonomi. Fukuyama menegaskan pada perluasan dimensi, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan orang berkumpul dalam mencapai tujuan bersama berdasarkan persatuan maupun tunduk pada nilai dan norma yang tumbuh dan dipatuhi. Sikap berpartisipasi, saling memperdulikan, memberi maupun menerima, saling percaya merupakan nilai dan norma yang menjadi ruh dari modal sosial (Fukuyama, 2. Modal sosial memiliki ukuran yang cukup luas. Pada hakekatnya modal sosial merupakan investasi dalam memperoleh sumber daya baru. Modal sosial dapat dilihat dari potensi suatu kelompok, dari model hubungan/ hubungan . ntar individu atau antar kelompo. dengan memperhatikan nilai dan norma yang berlaku. Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Desa Bulurejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang pada tahun 2017 telah mendirikan Agrowisata Sumber Celeng (ASC) atas inisiasi dari Kepala Desa yang pada saat itu menjabat. Pembangunan wisata ini memiliki tujuan untuk meningkatkan geliat perekonomian masyarakat sehingga berdampak pada kemakmuran dan kesejahteraan. Pada awal pendirian wisata desa ini banyak hambatan dan kedala yang dihadapi akan tetapi pada akhirnya terwujud. Oleh karena itu dalam penelitian ini ingin dilakukan pengkajian tentang kepemimpinan kepala desa sehingga mampu meyakinkan semua pemangku keputusan di desa untuk sepakat mendirikan wisata desa di atas tanah ganjaran kepala desa. selain itu akan juga ditelaah point-point penting yang dimiliki kepala desa dan juga masyarakat dalam proses pembangunan ini yang merupakan modal sosial masyarakat. METODE Artikel ini adalah hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian untuk mengungkap sebuah fakta dengan berdasarkan nilai konstrktif melalui makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu (Creswell, 2. Melalui metode kualitatif ini peneliti akan mengamati fenomena-fenomena yang ada dilapangan baik yang bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih menekankan pada karakteritik, kualitas dan keterkaitan antar kejadian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, obeservasi dan dokumen-dokumen yang mendukung analisa Informan ditentukan dengan teknik purposif yang terdiri dari 7 orang yaitu kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat dan pengurus BUMDesa. Analisa data dilakukan dengan model yang dikemukakan oleh Miles and Haberman yaitu reduction, display and conclusion drawing/ verifikation. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Kepala Desa Dalam Mewujudkan Agrowisata Sumber Celeng Agrowisata Sumber Celeng (ASC) berdiri sejak 2017 berkat tangan dingin kepala desa didirikanlah wisata ini. ASC dikembangkan dari potensi desa yang ada yakni kawasan yang berada ditengah persawahan dengan adanya potensi sumber air melalui saluran irigasi/sungai, disamping dipergunakan untuk pengairan sawah maka sungai yang ada dikembangkan agar bisa dimanfaatkan untuk wisata air, saat ini sudah dikembangkan untuk wisata antara lain: Dayung kano. Becak air dan Pemancingan. Kondisi Agrowisata Sumber Celeng saat ini sebagai tempat berlibur dan refresing yang didukung adanya fasilitas: Gazebo. Toiet. Musholla, warung kopi, lahan parkir yang luas bisa untuk acara Aniversari komunitas, tempat lapangan Voli bal. Badminton, tenis meja, tempat karaoke, bisa untuk outbond sekolah, tempat pelatihan. Gedung serba guna, kolam renang anak 2 . buah, tempat mancing ada 3 tempat. Playgroun anak- anak, dan sudah disediakan wahana edukasi tanam padi untuk anak-anak, permainan kejar ikan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 dilumpur/ wahana kecek . elum maksima. dan tersedia Petik buah klengkeng dengaan luas satu hektar. Sedangkan luas lahan yang akan dikembangkan untuk Wisata Desa tersebut seluas 3 Ha diatas lahan asset Desa Bulurejo. Untuk Pengelolaan Agrowisata Sumber Celeng menjadi Unit dari BUMDes sedangkan untuk Pokdarwis Prabu Muda baru dibentuk tahun 2023, hal itu disebabkan bahwa sebagai pelopor awal berdirinya Agrowisata Sumber Celeng dari inisiatif pemerintah desa saat itu. Menurut penuturan informan AR yang merupakan kepala desa saat itu menjelaskan bahwa inspirasi awal berdirinya ASC dari keikutsertaannya dalam pelatihan yang diikuti Kepala Desa periode 2013 Ae 2019 untuk dengan tema Peningkatan Kapasitas Kepala Desa yang diselenggarakan di Surabaya pada tahun 2013. Setelah itu dalam banyak kesempatan rapat Desa di tingkat kabupaten sering disampaikan pentingnya desa punya wisata dengan harapan agar desa bisa mandiri dan untuk meningkatkan perekonomian serta peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD). Sosialisasi terus disampaikan sejak tahun 2013 sampai tahun 2015, dan masyarakat serta anggota BPD masih belum ada respon membuat wisata desa. Akan tetapi pada tahun 2016 mulai terfikirkan dan mulai fokus serta beberapa kali melakukan studi banding ke desa lain yang telah memiliki wisata desa salah satunya adalah ke Trawas Mojokerto. Informan AR juga menyampaikan bahwa hasil koordinasi dan konsultasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMD) Kabupaten Jombang dan diskusi tentang UU no. 6 Tahun 2024 serta Permendagri No. 1 Tahun 2016 merupakan dasar Pengelolaan Aset Desa untuk kegiatan Wisata Desa di atas tanah aset Desa. Pada tahun 2016 Pemerintah desa Bulurejo mendapat Program Embung dari Pemerintah Pusat melalui aspirasi DPR RI Fraksi Demokrat maka berdirilah ASC yang sampai saat ini masih terus berupaya untuk mengembangkan dan menyempurnakan guna meningkatkan penghasilan asli desa dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Saat ini ASC dikelola oleh BUMDesa Jayamahe Desa Bulurejo. Informasi yang diperoleh dari sumber lain didapatkan bahwa pemberian nama ASC itu diambil dari peta blok sawah dimana letak lokasi Wisata tersebut berada dan dengan satu harapan sebagai Sumber Celengan artinya sumber pendapatan untuk warga sebagai peningkatan perekonomian ataupun pendapatan Asli desa (PAD) dan tidak identik dengan hewan Celeng/babi, dan pada ahirnya semua yang hadir bisa menyetujui dan menyepakatinya, selanjutnya secara resmi nama wisata desa dengan Agrowisata Sumber Celeng (ASC) dengan harapan mengembangkan agro yakni pertanian, buah, sayur dan Selanjutnya proses pembangunan terus berjalan sampai saat ini dengan menggunakan sumber dana dari Dana Desa, bantuan keuangan Kabupaten Jombang dan bantuan keuangan dari Propinsi Jawa Timur, dan itu merupakan program pembangunan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 Kepemimpinan transformasional terlihat dalam kepemimpinan kepala desa untuk mewujudkan dan menjalankan ASC. Dimana dalam kepemimpinan transformasional itu terkandung idealized influence, inspirational motivasional, intelectual stimulation and individual consideration. Keempat konsep tersebut ada dalam proses pembentukan ASC. Karakteristik yang ditampilkan oleh Kades waktu itu tetap menggunakan asas demokrasi yakni meng-inspirasi dan menggerakan serta membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu dukungan masyarakat, artinya tidak menggunakan cara otoriter dalam menggapai tujuan wisata desa. Kepala desa juga memiliki visi dan perencanaan yang baik meskipun pada awalnya mendapatkan penolakan karena ganjaran kepala desa terpotong digunakan sebagai ASC, akan tetapi dukungan tersebut sangat dibutuhkan sebab wisata desa itu berada diatas aset desa walaupun terletak di ganjaran kepala desa akan tetapi dukungan moral sangat penting jangan sampai dikemudian hari hal tersebut jadi gejolak di Dengan menyerahkan ganjaran ke desa ini membuktikan bahwa kepala desa tersebut berani berkorban demi untuk kemajuan desa untuk masa yang akan datang walaupun sampai saat ini masih belum sesuai harapan dari segi peningkatan perekonomian masyarakat dan pendapatan desa, dan program wisata tersebut meruakan program yang berkelanjutan dan terus melakukan diupayakan untuk peningkatan pembangunan fisik maupun menegemen pengelolaanya. Berikut ini adalah point-point penting terkait dengan ciri kepemimpinan Transformasional dalam inovasi Agrowisata Sumber Celeng antara lain . Adanya Visi yang jelas dan menginspirasi. Hal tersebut sesuai dengan penelitian penulis bahwa kepala desa saat itu sebagai pemimpin sudah memiliki Visi kedepan yakni ingin menciptakan wisata desa dengan tujuan untuk kemajuan desa, menuju kesejahteraan masyarakat serta untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD). Dan hal tersebut dapat meng ispirasi bagi desa yang lain. Motivasi Intrinsik, bahwa pembangunan ASC dapat memberikan motivasi secara individu terkait dengan karakter kepala desa saat itu yang telah merelakan dan mengorbankan ganjaranya demi tujuan yang besar dalam mendirikan wisata desa, tentunya bersifat keberlanjutan jangka panjang. Fokus pada pengembangan Individu, berdasarkan pengamatan dan wawancara bahwa bahwa pengembangan individu oleh kepemimpinan saat itu terus dilakukan dan dikordinasikan walaupun belum maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Seperti dalam pelayanan petugas pada pengunjung wisata masih belum maksimal untuk bisa diterima oleh internal petugas wisata sehingga berdampak pada masih kurangnya pengunjung sehingga berdampak kurangnya pendapatan baik pada masyarakat maupun pada Pendapatam Asli desa (PAD). Keteladanan, hal ini terlihat dari keberanian pemimpin untuk mengorbankan sebagian ganjaran untuk kegiatan wisata desa hal tersebut bisa dijadikan teladan yang baik artinya sebagai pemimpin harus berani berkorban demi untuk kepentingan umum dan sebagai catatan sejarah untuk generasi yang akan datang dan dapat meng inspirasi banyak pihak. Fleksibilitas dan Adaptasi, bahwa pemimpin harus bisa fleksibel dalam menjalankan tugas dan kewajibanya dalam hal tersebut pengembangan Agrosiwasata Sumber Celeng dalam pengelolaan dan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 management nya dapat beradaptasi dengan nilai budaya, sosial dan norma yang berlaku di masyarakat hal tersebut di buktikan bahwa Agrosiwasata Sumber Celeng adalah tempat dilaksanakanya kirab budaya, sedekah desa, karnaval tiap tahunnya dan sangat di dukung oleh masyarakat setempat, juga sebagai pusat perlombaan untuk peningkatan prestasi untuk anak sekolah semua tingkatan dan juga dalam pelaksanaanya melibatkan lembaga desa, ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan sebagainya. Modal Sosial Yang Dimiliki Kepala Desa Modal kepemimpinan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah pembangunan desa. Dalam konteks pembangunan ASC terdapat kemampuan Personal . uman capita. dari seorang pemimpin meliputi Pendidikan, pengetahuan dan keahlian. Adanya kemampuan seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan terkait inovasi desa dengan wisata desa untuk tujuan kemandirian desa. Selain itu Aset ekonomi . roduced economic capita. adanya sumberdaya alam dan asset finansial yang mendukung berdirinya Agrowisata Sumber Celeng. Modal alam selain terdapat pemandangan alam yang asri, alam persawahan nan sejuk juga terdapat sumber mata air yang selalu melimpah walaupun di musim kemarau sehingga dapat dimanfaatkan sebagai wahana wisata air sungai. Sedangkan terkait dengan Modal sosial . osial capita. meliputi nilai, norma, kepercayaan, dan nilai sosial lainya yang berkembang di desa Bulurejo. Modal sosial merupakan kunci sukses kepala desa bulurejo dalam membangun Agrowisata Sumber Celeng. James Coleman mendefinisikan modal sosial sebagai sumber daya yang diperoleh individu melalui jaringan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari tata cara dalam mewujudkan ASC dengan beberapa hal antara lain : Membangun Kepercayaan (Trus. Kepercayaan merupakan pondasi dalam interkasi sosial, berbekal kepercayaanlah kepala desa akan memiliki modal sosial yang kuat. Hal ini terlihat dari model kepemimpinannya yang transparan, akuntabel dan Dimana laporan keuangan dilaporkan berkala dalam sebuah laporan pertanggungjawaban disetiap tahunnya, dan juga melibatkan pihak-pihak terkait. Memperkuat jaringan, jaringan yang luas akan memungkinkan kepala desa mengakses informasi, dana dan dukungan. Dalam hal ini terlihat dari keaktifan kepala desa Bulurejo dalam koordinasi dan konsultasi baik dengan DPMD. Bapeda, dan juga partai politik serta pemberi sponsor. Jadi dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat dapat diperoleh. Memfasilitasi kerjasama, kepala desa mampu membangun hubungan baik dengan pihak pemerintah, swasta. LSM, pelaku usaha di desa dan aktif dalam forum kepala desa se-Jombang. Selain itu aktif juga dalam pelatihan dan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan membangun serta memperluas jaringan. Menciptakan norma dan nilai bersama, hal ini terlihat dari jujur, terpercaya, peduli dan tanggung jawab. Hal inilah yang kemudian menumbuhkan kesadaran akan Journal of Public Power ISSN : 2808-9774 E-ISSN : 2807-2782 Vol. 9 No. 1 Tahun 2025 pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan budaya lokal. Selain itu masyarakat juga akan termotivasi dalam pengembangan desa. Modal sosial adalah kunci keberhasilan pembangunan desa wisata. Dengan membangun kepercayaan, jaringan, norma, dan nilai bersama, kepala desa dapat menciptakan desa wisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala desa memiliki peran yang sentral mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembangunan sampai dengan saat ini serta terus berupaya meningkatkan partisipasi warga dan banyak pihak agar ASC semakin maju dan Selain itu kepala desa juga adalah tokoh yang jujur, terpercaya dan memiliki Kemampuannya dalam membangun jaringan dan komunikasi yang baik membuat mudah dalam menjalin kerjasama untuk kesejakteraan masyarakatnya. DAFTAR PUSTAKA