Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Evaluasi Penggunaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur Sugiyanto Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik. Universitas Sunan Bonang Tuban Jawa Timur Email: ciptakaryagemilang@ymail. DOI: http://dx. org/10. 31869/rtj. Abstrak: Lokasi yang menjadi obyek penelitian adalah di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang terdapat di Kecamatan Widang, tepatnya di Jalan Raya Widang KM 30 Tuban Jawa Timur. JPO tersebut melintas di atas jalan raya yang tergolong dalam kategori jalan nasional, dimana jalan tersebut diperuntukkan untuk pengguna jalan yang menempuh perjalanan jarak jauh dan dengan kecepatan tinggi. Jalan Raya Widang yang merupakan kategori jalan nasional merupakan jalan arteri dan kolektor dalam sistem jaringan primer yang menghubungkan ibukota propinsi, jalan strategis nasional, dan jalan tol. Rata-rata volume kendaraan yang melintas di tempat obyek penelitian baik pada hari biasa, maupun hari akhir pekan di atas 1. 500 kendaraan/jam. Jumlah kendaraan yang melintas tersebut terdiri dari jenis kendaraan tak bermotor dengan persentase 2%, jenis kendaraan sepeda motor dengan persentase 35%, jenis kendaraan ringan dengan persentase 34%, dan jenis kendaraan berat dengan persentase 29%. Berdasarkan atas Direktorat Jenderal Bina Marga tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan sudah memenuhi syarat penyediaan fasilitas tipe Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). JPO merupakan fasilitas penyeberangan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk melakukan aktifitas penyeberangan jalan, dimana pada JPO tidak ada pertemuan sebidang antara arus pejalan kaki dengan arus lalu lintas, sehingga sangat aman dan tidak menyebabkan tundaan lalu lintas/kemacetan. Berdasarkan atas perhitungan Time headway diperoleh hasil kurang dari 2. kendaraan/detik , dengan demikian arus lalu lintas kendaraan pada tempat obyek penelitian masuk dalam kategori kepadatan tinggi dan juga memenuhi persyaratan adanya fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO). Pada pengamatan volume pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan di tempat penelitian, diperoleh dari penjumlahan pejalan kaki yang menggunakan JPO dan tidak menggunakan JPO memenuhi 93,2% dari batasan Direktorat Jenderal Bina Marga tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, sehingga adanya fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di lokasi tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan atas penelitian ini diketahui bahwa hanya 40% pejalan kaki yang menyeberang jalan menggunakan JPO, sehingga ditinjau dari efektifitas penggunaan JPO tergolong tidak efektif dan berdasarkan tingkat pemanfaatannya juga masuk dalam kategoti tidak bermanfaat. Berdasarkan hasil wawancara/kuesioner terhadap responden yang melakukan penyeberangan diperoleh 57% mengaku malas menggunakan JPO karena jarak bertambah jauh, 30% karena malas ketinggian, 10% karena kondisi bertambah panas, dan hanya 10% yang mengatakan lokasi tidak cocok. Kata Kunci: JPO. Kepadatan kendaraan. Time headway, dan Pejalan kaki. PENDAHULUAN Keberadaan pejalan kaki di jalan memerlukan fasilitas bagi pejalan kaki, salah satunya adalah fasilitas penyeberangan jalan seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). JPO tersebut dipasang sehingga tidak ada pertemuan sebidang antara arus pejalan kaki dengan arus lalu lintas. Namun demikian, agar pejalan kaki mau untuk menggunakan JPO, menyeberang juga harus menarik minat para pejalan kaki untuk menggunakan fasilitas Pemerintah Kecamatan Widang telah menyediakan JPO bagi pejalan kaki, yang dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat setempat melakukan kegiatan penyeberangan jalan dengan aman. Berdasarkan pengamatan, tingkat penggunaan JPO di Kecamatan Widang oleh masyarakat setempat masih tergolong rendah. Masih terdapat para pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan tidak menggunakan fasilitas JPO tersebut sehingga sangat membahayakan keselamatan diri Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Seperti kita ketahui pada lokasi dibangunnya JPO tersebut, selain bagi menghubungkan antara lokasi Pondok Pesantren Langitan di utara dan selatan jalan. Dengan demikian, tidak hanya masyarakat sekitar yang melakukan penyeberangan tapi juga oleh santri-santri pondok pesantren yang bisa memanfaatkan JPO tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan bukanlah satu-satunya indikator yang berpengaruh pemilihan penggunaan jembatan penyeberangan orang. Masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyeberang jalan dalam jembatan penyeberangan, sehingga diperlukan analisis secara mendalam mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi pejalan kaki untuk menggunakan JPO. Seperti kita ketahui bahwa membangun fasilitas JPO pasti memerlukan biaya yang tidak murah, sehingga adanya fasilitas tersebut selain efektif untuk mengurangi adanya kemacetan lalu lintas juga harus dimanfaatkan secara optimal oleh Oleh karena itulah, diperlukan penelitian tentang evaluasi penggunaan jembatan penyeberangan orang (JPO) di Kecamatan Widang Kabupaten Tuban. Dengan diadakannya penelitian efektifitas penggunaan JPO dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyeberang jalan dalam menggunakannya, dapat dijadikan masukan dalam peningkatan fungsi penyediaan JPO yang diminati oleh masyarakat setempat. METODE PENELITIAN Parameter. Efektifitas, dan Tingkat Pemanfaatan Jembatan Penyeberangan Orang Berdasakan Surat Keputusan Dinas Pekerjaan Umum mengenai Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki . , penyeberangan bagi pejalan kaki dalam melakukan penyeberangan bagi pejalan kaki dapat memperhitungkan ketentuan sebagai Didasarkan pada rumus empiris (P. dimana P adalah arus pejalan kaki yang menyeberang ruas jalan sepanjang 100 meter tiap jam-nya . ejalan kaki/ja. dan ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Rang Teknik Journal V adalah arus kendaraan tiap jam dalam 2 . endaraan/ja. P dan V merupakan arus rata-rata pejalan kaki dan kendaraan pada 4 jam sibuk. Berdasarkan atas perhitungan rumus empiris arus pejalan kaki (P) dan arus kendaraan (V), maka rekomendasi pemilihan fasilitas penyeberangan ditunjukkan pada Tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Rekomendasi Pemilihan Fasilitas Penyeberangan. PV2 > 108 Volume Penyeberan (P) (Orang/ja. > 2x108 > 108 > 10 Volume Tipe fasilitas Kendara (V) 300-500 Zebra Cross (Kend/ja (ZC) 400-750 Zebra Cross >500 Pelican (P) >1100 >300 Pelican (P) >750 Pelican > 2x108 >1100 >400 Pelican > 2x108 >1100 >750 Jembatan Penyeberanga > 2x10 Sumber: DPU Direktorat Jenderal Bina Marga. Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan . Seperti tampak pada Tabel 1 di atas, maka untuk volume penyeberang 50 orang/jam sampai maksimal 1100 orang/jam orang dan volume kendaraan 300 buah/jam sampai maksimal 750 buah/jam, butuh penyeberangan sebidang terdiri zebra cross dan pelican. Adapun untuk volume penyeberang di atas 1100 orang/jam dan volume kendaraan di atas 750 buah/jam, butuh tidak sebidang berupa jembatan penyeberangan. Berdasarkan penjelasan dari TRRL . dan Bruce . dalam Setyawan . bahwa idealnya fasilitas penyeberangan jalan memang harus dipisahkan dari arus Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL kendaraan berupa jembatan penyeberangan . verpass/crossingbridge/footbridg. penyeberangan bawah tanah . sehingga tidak terjadi konflik antara pejalan menimbulkan tundaan bagi kendaraan. Selain itu. TRRL . dan Bruce . dalam Setyawan . menambahkan bahwa, fasilitas penyeberangan tidak sebidang mampu menjamin keselamatan penyeberang jalan, namun fasilitas tersebut kurang dimanfaatkan karena pejalan kaki cenderung enggan untuk mengubah level ketinggian jalur yang dilewatinya, dimana pejalam kaki dominan tidak menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang jalan. Bruce . dalam Setyawan . penyeberangan mempunyai lebih banyak keunggulan dari pada penyeberangan bawah Pembangunannya lebih mudah dan lebih murah dibanding penyeberangan bawah Selain itu, penyeberangan bawah tanah sering mengalami masalah antara lain: keamanan, ventilasi, pencahayaan dan Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan Efektifitas penggunaan jembatan penyeberangan dapat menjadi indikator JPO Efektifitas penyeberangan dihitung dengan persamaan sebagai berikut: Efektifitas Jembatan Penyeberangan (%) = A/B x 100% Dimana: A = Jumlah pejalan kaki yang menyeberang memakai jembatan penyeberangan. B = Jumlah pejalan kaki seluruhnya yang menyeberang jalan. Berdasarkan atas rumus di atas, maka Hariman . memberikan pedoman tentang penyeberangan dengan klasifikasi efektifitas jembatan penyeberangan orang secara lebih rinci tampak pada Tabel 2 di bawah ini. Rang Teknik Journal Prosentasi (%) Kategori 0 - 20 Sangat tidak efektif 21 - 40 Tidak efektif 41 - 60 Cukup efektif 61 - 80 Efektif 81 - 100 Sangat efektif Adanya jembatan penyeberangan orang diharapkan akan memberikan manfaat bagi warga sekitar, khususnya para pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan jalan. Hankin dan Wright . dalam Rahmani dan Hudan . memberikan pedoman penilaian tingkat pemanfaatan jembatan penyeberangan orang oleh pejalan seperti tampak pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Kriteria Tingkat Jembatan Penyeberangan. Tingkat Pemanfaat Memakai Jembatan Penyeberang an (%) Sangat 0 - 20 Tidak Bermanfaat Tidak 21 - 40 Bermanfaat Cukup 41 - 60 Bermanfaat Bermanfaat 61 - 80 Sangat 81 - 100 Bermanfaat Sumber: Hankin dan Wright Rahmani dan Hudan . Pemanfaatan Tidak Memakai Jembatan Penyeberang an (%) 100 - 80 79 Ae 60 59 Ae 40 39 Ae 20 19 - 0 dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Time Headway Pada penelitian ini, time headway dihitung untuk menentukan tingkat kepadatan arus kendaraan diperoleh berdasarkan data pengamatan volume kendaraan di tempat obyek penelitian, baik pada hari biasa maupun Tabel 2. Klasifikasi Efektifitas Jembatan pada hari akhir pekan. Berdasarkan data rataPenyeberangan. rata volume kendaraan, maka hasil Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal perhitungan angka time headway dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini: Tabel 4. Time headway antar kendaraan berdasarkan rata-rata volume kendaraan. Rata-rata volume kendaraan/jam Waktu . Hari Biasa Akhir Pekan Time headway 2,593 detik/kendaraan 2,392 detik/kendaraan Pada Tabel 4 di atas diperlihatkan 5 detik/kendaraa. Hal ini menunjukan bahwa waktu dalam perhitungan satu jam bahwa berdasarkan arus lalu lintas di tempat adalah 3600 detik, kemudian dibagi jumlah obyek penelitian pada hari akhir pekan sudah rata-rata volume kendaraan per jam akan memenuhi persyaratan adanya fasilitas diperoleh time headway pada hari biasa 2,593 jembatan penyeberangan orang (JPO). detik/kendaraan dan pada akhir pekan 2,392 detik/kendaraan. Berdasarkan atas kriteria Hubungan P (Pejalan Kak. dan V penentuan kategori arus lalu lintas oleh (Volume Kendaraa. Munawar dan Achmad . , maka volume kendaraan pada hari biasa termasuk dalam Hubungan parameter P dan V pada kategori kepadatan sedang . tandar 2,5 Ae 9 pengamatan pada penelitian ini, dapat dilihat detik/kendaraa. dan pada akhir pekan pada perhitungan pada Tabel 5 di bawah ini: termasuk kategori kepadatan tinggi . tandar< Tabel 5. Hubungan P. Waktu Pagi Siang Sore Malam ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Jam Jumlah Penyeberang (P) Jumlah Kendaraa n (V) 4 x107 2 x108 8 x108 1 x109 1 x109 9 x108 6 x108 1 x109 8 x108 5 x108 4 x107 2 x108 3 x108 Fakultas Teknik UMSB 2 x108 2 x108 1 x108 5 x107 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Dini Total Rata-rata P. Pada Tabel 5 diperoleh data penyeberang jalan (P) dan volume kendaraan tertinggi (V) pada 4 jam sibuk: = . 356 350 . / 4 = 342 pejalan kaki/jam = . 4 1829 1819 1. / 4 = 846kendaraan/jam V2 = 1. Berdasarkan Surat Keputusan Dinas Pekerjaan Umum mengenai Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki . diperoleh adalah sebagai berikut: Tabel 6. Standar tata cara perencanaan fasilitas JPO bagi pejalan kaki. N Paramet Hasil Stand Evaluasi Perhitung ar <1. 10 Tidak Memen >750 Memen >2x1 Memen Berdasarkan atas hasil penghitungan parameter terhadap standar terpenuhinya adanya fasilitas JPO di tempat obyek penelitian, maka terpenuhi untuk volume Rang Teknik Journal 5 x108 kendaraan (V) dengan pencapaian 146% dibanding standar dan P. V2 dengan pencapaian 110% dibanding standar. Adapun untuk jumlah pejalan kaki tidak terpenuhi dan hanya mencapai 30% dari standar. Meskipun demikian, adanya fasilitas JPO di tempat obyek penelitian sudah sangat tepat dengan pertimbangan bahwa tingkat kepadatan kendaraan yang sangat tinggi terutama di akhir pekan, sehingga keselamatan jiwa para pejalan kaki menjadi prioritas utama. Karakteristik Penyeberang Jalan Data hasil penelitian jumlah rata-rata penyeberang jalan yang menggunakan fasilitas JPO di tempat penelitian didapatkan bahwa volume pejalan kaki yang melakukan aktivitas penyeberangan dalam perhitungan waktu selama 24 jam dengan dua arah jalur penyeberangan . ari arah selatan dan dari arah utar. , pada hari biasa total 3. 196 orang . dengan rata-rata per jam 228 orang . dan pada akhir pekan 583 orang . dengan ratarata per jam 113 orang . Adapun untuk meggambarkan terjadinya variasi volume penyeberang pejalan kaki berdasarkan waktu pengamatan, maka dapat disajikan pada Gambar 1 di bawah ini: Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Hari Biasa Akhir Pekan Pagi hari Siang hari Sore hari Rata rata jam/hari Gambar 1. Rata-rata volume penyeberang jalan pada hari biasa dan akhir pekan. Adapun data tertinggi pejalan kaki yang Pada Gambar 1 terlihat bahwa menyeberang jalan menggunakan JPO dan volume pejalan kaki menyeberang jalan baik tidak menggunakan JPO dapat disajikan pada pada hari biasa maupun akhir pekan. Tabel 7 berikut ini. terbanyak pada waktu pagi dan siang hari. Tabel 7. Data tertinggi jumlah penyeberang pejalan kaki. Jumlah Total Pakai Jumlah Tertinggi Batasan Pencapaian Hari Tertinggi JPO dan Tidak Pakai JPO Kemenhub (%) Pakai JPO Tidak Biasa Akhir Pada Tabel 7 di atas ditunjukkan bahwa jumlah penyeberang pejalan kaki, terdiri dari yang menggunakan JPO ditambah dengan yang tidak menggunakan JPO jumlahnya mencapai 627 orang pada hari di akhir pekan dan 1025 orang di hari biasa. Hal ini sudah hampir memenuhi batasan dari Kemenhub pada hari biasa terpenuhi 93,2% terhadap batasan kemenhub sehingga adanya fasilitas JPO di tempat penelitian tersebut sudah sesuai dengan syarat tata cara perencanaan fasilitas JPO. 93,2% 57,0% Pengguna jembatan penyeberangan di lokasi penelitian dengan prosentase penggunaan hanya sebesar 40% mengindiksakian bahwa keberadaan JPO kurang diminati penyeberang Berdasarkan Hariman . dinyatakan penggunaan jembatan penyeberangan orang diklasifikasikan menjadi 5 . kategori seperti disajikan pada Tabel 8 di bawah ini. Tabel 8. Efektifitas penggunaan jembatan penyeberangan orang. Persentase (%) Kategori Efektifitas dan Tingat Pemanfaatan Jembatan Penyeberangan Orang 0 - 20 Berdasarkan pengamaan di lapangan didapatkan bahwa mayoritas penyeberang 21 - 40 jalan pada ruas jalan di Kecamatan Widang KM 30 Kabupaten Tuban lebih memilih 41 - 60 menyeberang langsung di badan jalan. ISSN 2599-2081 Fakultas Teknik UMSB EISSN 2599-2090 Sangat tidak efektif Tidak efektif Cukup efektif Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal Widang, termasuk dalam kriteria Tidak Efektif. Berdasarkan atas kenyataan yang telah pada pelaksanaan ini, diperkirakan 81 - 100 Sangat efektif ada hal-hal lain yang menyebabkan adanya JPO Sumber: Hariman . penyeberang jalan. Oleh karena itu, perlu Berdasarkan adanya langkah pendalaman terhadap perilaku pengamatan di lokasi yang menjadi obyek penyeberang jalan yang menyebabkan mereka enggan menggunakan fasilitas JPO tersebut. penggunaan JPO dan kemudian dibandingkan Hasil pengamatan terhadap tingkat dengan efektivitas penggunaan JPO seperti pemanfaatan jembatan penyeberangan orang di ditampilkan pada Tabel 8 di atas, maka dapat lokasi penelitian disajikan pada Tabel 9 di diketahui bahwa efektifitas penggunaan bawah ini. jembatan penyeberangan orang di Kecamatan Tabel 9. Tingkat pemanfaatan jembatan penyeberangan. 61 - 80 Efektif Pengguna JPO Tidak menggunakan JPO Waktu Total Penyeberang Jumlah Persen Jumlah Persen Pagi Hari Siang Hari Sore Hari Berdasarkan Hankin dan Wright . dalam Rahmani dan Hudan . dinyatakan bahwa pedoman penilaian tingkat pemanfaatan jembatan penyeberangan orang oleh pejalan kaki terdiri dari 5 . kriteria sebagai berikut ini: Penggunaan JPO : 0 Ae 20%, kriteria Penggunaan JPO : 21 Ae 40%, kriteria tidak Penggunaan JPO : 41 Ae 60%, kriteria cukup Penggunaan JPO : 61 Ae 80%, kriteria Penggunaan JPO : 81 Ae 100%, kriteria sangat Berdasarkan atas pedoman kriteria di atas dan hasil pengamatan di lokasi obyek penelitian penyeberangan orang, didapatkan bahwa pada waktu pagi dan siang hari masuk kriteria tidak bermanfaat dan hanya pada sore hari masuk kriteria cukup bermanfaat. Dengan rendahnya tingkat pemanfaatan atas adanya fasilitas penyeberangan tersebut, maka diperlukan upaya-upaya yang lebih kongkrit bagi meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan fasilitas tersebut. Hasil Wawancara Penyeberang Wawancara dilakukan pada hari yang berbeda-beda dengan target 50 responden, dengan data meliputi jenis kelamin dan usia serta pertanyaan alasan tidak menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO). Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang dilakukan pada tempat obyek penelitian, diperoleh data responden pejalan kaki yang melakukan aktivitas penyeberangan tidak menggunakan JPO dapat diperinci berdasarkan penggolongan umur terdiri: umur 14 tahun sebesar 18%, umur 15 tahun sebesar 12%, umur 16 tahun sebesar 22%, umur 17 tahun sebesar 34%, dan umur <17 tahun sebesar 14%. Berdasarkan atas data umur dari para pejalan kaki tersebut, ternyata rata-rata pejalan kaki yang melakukan penyeberangan termasuk dalam kategori usia muda. Hal ini terkait status mereka yang tergolong dalam usia sekolah dan diduga merasa mempunyai kelicahan dalam bergerak sehingga merasa yakin melintasi jalan dengan tanpa JPO. Fakultas Teknik UMSB ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL Rang Teknik Journal meskipun hal tersebut dalam kondisi yang bisa alasan tidak menggunakan JPO disajikan membahayakan keselamatan jiwanya. Hasil dalam tabel sebagai berikut : kuisioner/wawancara responden terhadap Tabel 10. Data hasil kuisioner pejalan kaki tidak menggunakan JPO. NO. ALASAN PEJALAN KAKI TIDAK MENGGUNAKAN JPO JUMLAH Jarak bertambah jauh, artinya pejalan kaki menempuh perjalanan lebih jauh. Malas ketinggian, artinya ada kemalasan karena takut Elevasi/kemiringan tinggi, artinya tingkat kelandaian terlalu menukik mendekati 90 derajat. Lokasi jauh/tidak cocok, artinya penempatan JPO tidak berada pada tempat yang strategis. Susah diakses/dijangkau, artinya untuk menuju JPO harus melewati obyek lain/halaman rumah orang. Tambah panas ketika siang hari, artinya kondisi saat melintas di atas JPO menjadi lebih panas karena terik matahari. Tidak menarik, artinya tidak mempunyai ketertarikan karena desain JPO kurang cocok. Alasan lain, artinya pejalan kaki punya alasan sendiri selain nomer 1sampai 7. (Tulis sendiri di bawa. Jumlah responden peserta kuisioner/wawancara yang tidak menggunakan JPO ketika menyeberang jalan Berdasarkan pada hasil tabel diatas menunjukkan bahwa alasan orang tidak penyeberangan orang adalah karena jarak bertambah jauh sebesar 27 orang . %), malas ketinggian 15 orang . %), lokasi jauh/tidak cocok 3 orang . %), dan kondisi bertambah panas ketika siang hari sebanyak 5 orang . %). PENUTUP Berdasarkan atas hasil pelaksanaan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan antara lain adalah sebagai berikut ini: Berdasarkan atas perhitungan Time headway, arus lalu lintas kendaraan pada tempat obyek penelitian masuk dalam kategori kepadatan tinggi dan juga ISSN 2599-2081 EISSN 2599-2090 memenuhi persyaratan adanya fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO). Pada pengamatan volume pejalan kaki yang melakukan aktifitas penyeberangan di tempat penelitian, diperoleh dari JPO menggunakan JPO memenuhi 93,2% dari batasan Direktorat Jenderal Bina Marga tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, sehingga adanya fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di lokasi tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan atas penelitian ini diketahui bahwa hanya 40% pejalan kaki yang menyeberang jalan menggunakan JPO. Fakultas Teknik UMSB Vol. 3 No. 2 Juni 2020 http://jurnal. id/index. php/RANGTEKNIKJOURNAL penggunaan JPO tergolong tidak efektif dan berdasarkan tingkat pemanfaatannya juga masuk dalam kategoti tidak Berdasarkan hasil wawancara/kuesioner terhadap responden yang melakukan penyeberangan diperoleh 57% mengaku malas menggunakan JPO karena jarak bertambah jauh, 30% karena malas ketinggian, 10% karena kondisi bertambah panas, dan hanya 10% yang mengatakan lokasi tidak cocok. DAFTAR PUSTAKA