Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. 47 - 54 p-ISSN: 2302-0261, e-ISSN: 2303-3363 Pengembangan Sistem Kontrol Redundansi Chiller pada MRI Berbasis Internet-of-Things Santo Wijaya1*. Nita Winda Sari2. Dwiky Firnanda Dewa3 Program Studi Teknik Industri. Politeknik Meta Industri Cikarang. Indonesia Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak. Politeknik Meta Industri Cikarang. Indonesia Email: 1santo. wijaya@politeknikmeta. id, 2nita@politeknikmeta. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Histori artikel: Abstract- Modern hospitals utilize technologies such as Magnetic Resonance Imaging (MRI) for medical diagnostics. however, challenges persist in the cooling system for superconducting magnets due to manual and limited-access chiller controls. These issues can lead to operational delays, cooling system failures, and even permanent damage to MRI equipmentAiresulting in postponed diagnostics and negatively impacting patient care. This study develops an automated control system based on a Programmable Logic Controller (PLC), integrated with a Virtual Human Machine Interface (HMI) and Mobile HMI for efficient, real-time monitoring and user-friendly Testing using Black-box and White-box methods demonstrated 100% validation, while a user satisfaction survey showed a high acceptance rate of 96. The system is also plug-and-play, allowing easy deployment to other MRI units with minimal electrical adjustments. The implementation significantly improves the reliability and efficiency of MRI cooling operations, accelerates technician response to failures, and reduces the risk of equipment Ultimately, the system contributes to uninterrupted medical imaging services, minimizes patient waiting times, and enhances diagnostic reliability in hospital environments. Naskah masuk, 23 September 2019 Direvisi, 23 September 2019 Diterima, 23 September 2019 Kata Kunci: Magnetic Resonance Imaging. Chiller. Sistem kontrol. Redundancy. Programmable Logic Controller. Internet-of-Things Abstrak- Rumah sakit modern memanfaatkan teknologi seperti MRI untuk diagnosis medis, namun masih ditemukan kendala pada sistem pendinginan magnet superkonduktor akibat kontrol chiller yang manual dan terbatas. Masalah ini dapat menyebabkan keterlambatan operasi, kegagalan sistem pendingin, hingga risiko kerusakan permanen pada perangkat MRI yang berdampak pada penundaan diagnosis pasien. Penelitian ini mengembangkan sistem kontrol otomatis berbasis PLC yang dilengkapi dengan Virtual HMI dan Mobile HMI untuk pemantauan real-time yang efisien dan mudah digunakan. Hasil pengujian dengan metode Black-box dan White-box menunjukkan validasi 100%, sementara survei kepuasan pengguna mencatat tingkat kepuasan sebesar 96,36%. Sistem ini juga bersifat plug and play, sehingga dapat diterapkan pada unit MRI lain dengan penyesuaian minimal. Implementasi sistem terbukti meningkatkan keandalan dan efisiensi operasional pendinginan, mempercepat respons teknis terhadap kegagalan sistem, serta mengurangi risiko downtime MRI. Dampak nyatanya adalah meningkatnya kontinuitas layanan pencitraan medis di rumah sakit, meminimalkan waktu tunggu pasien, serta menjaga kualitas diagnosis secara Copyright A 2025 LPPM - STMIK IKMI Cirebon This is an open access article under the CC-BY license Penulis Korespondensi: Santo Wijaya Program Studi Teknik Industri. Politeknik Meta Industri Cikarang Jl. Inti I No. 7 Blok C1. Cibatu. Cikarang Sel. Kabupaten Bekasi. Jawa Barat Email: santo. wijaya@politeknikmeta. https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. Pendahuluan Dalam dunia medis. MRI adalah teknik pencitraan non-invasif yang menghasilkan gambar penampang tubuh dengan memanfaatkan medan magnet kuat dan gelombang radio. Prinsip kerja MRI bergantung pada resonansi inti atom hidrogen dalam tubuh manusia. Ketika tubuh ditempatkan dalam medan magnet tinggi, inti hidrogen akan sejajar mengikuti medan tersebut. Kemudian, gelombang radio dikirim untuk mengganggu kesejajaran tersebut, dan saat inti kembali ke posisi semula, energi yang dilepaskan ditangkap oleh sistem dan dikonversi menjadi gambar detail jaringan lunak tubuh. Keunggulan metode ini adalah akurasi tinggi tanpa paparan radiasi ionisasi seperti pada CT Scan, sehingga aman untuk berbagai diagnosis penyakit dalam . Ae. Agar proses pencitraan dapat berjalan optimal. MRI menggunakan magnet superkonduktor yang harus dijaga pada suhu sangat rendah . ekitar 4Ae 6 AC). Magnet superkonduktor ini didinginkan menggunakan helium cair, dan untuk menjaga helium tetap dalam bentuk cair, sistem membutuhkan pendingin tambahan, yaitu chiller. Fungsi utama chiller adalah membuang panas berlebih dari cold head yang mengondensasi kembali helium ke bentuk cair. Apabila proses pendinginan terganggu, helium dapat menguap, menyebabkan quench dan berpotensi merusak magnet MRI secara permanen. Selain mahal, proses pengisian ulang helium juga memerlukan waktu dan biaya yang besar, serta menyebabkan penundaan layanan terhadap pasien . Ae. Sistem chiller MRI yang masih dikendalikan secara manual menimbulkan berbagai kendala seperti keterlambatan dalam pergantian unit chiller cadangan, keterbatasan kontrol hanya dari panel lokal, serta minimnya notifikasi real-time. Oleh karena itu, diperlukan sistem kontrol otomatis yang dapat diakses secara lokal maupun jarak jauh . , agar proses pendinginan berjalan stabil dan efisien, memungkinkan pemantauan kondisi secara real-time, serta mendukung pelaksanaan pemeliharaan preventif dengan lebih baik . , . Arsitektur MRI seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Rieger et al. mengembangkan sistem pendingin suhu terkontrol untuk pemindaian MRI post-mortem yang akurat, terutama pada jaringan yang belum difiksasi. Masalah utama dalam pemindaian post-mortem adalah naiknya suhu jaringan akibat energi dari pemindaian, yang mengubah nilai parameter MRI seperti T1. T2, dan ADC, sehingga hasil menjadi bias. Sistem yang dikembangkan menggunakan pendingin air dan cooling pad yang membungkus sampel untuk menjaga suhu stabil selama pemindaian hingga 7 https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 Uji coba menunjukkan bahwa tanpa pendingin suhu jaringan naik >13AC, sedangkan dengan pendingin hanya naik 2AC . Liao mengusulkan metode kontrol prediktif hibrida untuk sistem chiller guna mengurangi switching yang tidak perlu dan meningkatkan efisiensi energi. Dengan menggabungkan prediksi beban pendingin berbasis model ARX, sistem dapat mengevaluasi ulang kebutuhan nyala/ mati chiller secara lebih cermat. Hasil simulasi menunjukkan pengurangan jumlah switching hingga 31,9% dan penghematan biaya operasional hingga 4,25% tanpa mengorbankan kenyamanan termal. Metode ini sederhana dan praktis untuk diterapkan dalam sistem HVAC nyata . Gambar 1. Arsitektur sistem MRI . Beberapa penelitian terkait MRI yang menggunakan teknologi Internet-of-Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan deteksi awal kegagalan sistem. Diantaranya seperti yang diusulkan oleh Guissi et al. mengembangkan sistem prediktif berbasis IoT untuk pemeliharaan preventif peralatan medis kritis, khususnya pompa pendingin sistem MRI. Sistem ini menggunakan sensor getaran (ADXL. yang terhubung ke Raspberry Pi untuk memantau kondisi pompa cold head pada MRI secara real-time. Data getaran dianalisis menggunakan algoritma machine learning, termasuk Artificial Neural Network (ANN) dan Convolutional Neural Network (CNN). Tujuan utamanya adalah mendeteksi dini potensi kerusakan dan mencegah kegagalan mendadak, sehingga meningkatkan efisiensi, mengurangi downtime, dan menurunkan biaya perawatan. Hasil pengujian di klinik menunjukkan bahwa sistem mampu mengklasifikasikan kondisi pompa dengan akurasi >98%, terutama dengan model CNN . Elallam mengembangkan alat monitoring jarak jauh berbasis Arduino untuk mendeteksi kerusakan sistem pendingin mesin MRI. Alat ini mudah dipasang, murah, dan efisien, hanya membutuhkan satu koneksi ke kompresor helium melalui port DB25. Dengan bantuan sensor suhu dan kelembaban, sistem bisa mendeteksi potensi kejadian quench . enguapan helium cai. dan mengirim notifikasi Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. SMS dan email otomatis ke tim teknisi. Hasil pengujian menunjukkan sistem ini berhasil mendeteksi berbagai skenario kerusakan dan quench . Penelitian ini dilakukan di salah satu Rumah Sakit (RS) internasional XYZ yang berlokasi di Bali. RS XYZ juga menggunakan sistem chiller redundant dikarenakan selama proses MRI berlangsung chiller tidak boleh berhenti. Sistem redundant chiller MRI yang ada saat ini masih pengoperasiannya kurang optimal. Beberapa kelemahan yang ditemukan antara lain: . Terjadi delay saat perpindahan dari chiller 1 ke chiller 2, . Akses kontrol terbatas karena hanya bisa dilakukan dari panel lokal, . Kegagalan salah satu grup chiller tidak langsung teratasi, . Tidak adanya tampilan status dan alarm secara real-time. Kondisi ini sangat berisiko karena kegagalan pendinginan akan menyebabkan penguapan helium cair dalam MRI, yang harus segera diisi ulang. Mengingat satu unit MRI memerlukan empat tabung helium, dan harga per tabung sangat mahal, maka kegagalan sistem akan menimbulkan kerugian besar dan waktu penggantian yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mengusulkan pengembangan sistem kontrol otomatis berbasis Internet-of-Things (IoT) yang dilengkapi dengan fitur mobile control serta virtual Human Machine Interface (HMI) yang mampu menampilkan status dan alarm secara real-time. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan keandalan sistem chiller MRI serta efisiensi operasional dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan rekayasa sistem berbasis IoT dan PLC untuk merancang sistem kontrol redundan chiller MRI. Pemilihan metode ini diawali dengan identifikasi permasalahan di RS XYZ Bali yang masih menggunakan kontrol manual pada sistem chiller, sehingga rawan keterlambatan, sulit dimonitor secara real-time, dan minim notifikasi kegagalan. Pemilihan PLC dan IoT didasarkan pada beberapa keunggulan dibanding pendekatan konvensional (Arduin. SCADA tradisional, atau sistem berbasis PC standalone, yaitu reliabilitas dan daya tahan, kemudahan integrasi dengan sistem eksisting, keunggulan IoT dalam pemantauan dan kontrol jarak jauh. Selain itu, pemilihan ini juga merupakan salah satu dari permintaan yang diajukan oleh pihak RS XYZ Bali. Sistematika metode penelitian yang dilakukan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Penelitian diawali dengan perumusan masalah yang dihadapi pada sistem chiller MRI yang masih menggunakan https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 kontrol manual di RS XYZ yang berlokasi di Bali, serta tujuan untuk mengembangkan sistem kontrol otomatis dengan antarmuka modern dan portable berbasis IoT. Tahap analisa kebutuhan, sistem & data mencakup identifikasi lokasi sistem MRI dan chiller nya yang terpasang serta pengumpulan data teknis sistem eksisting. Dilakukan studi terhadap sistem kelistrikan, skema kontrol eksisting, serta kondisi aktual operasional chiller dan tantangan teknis yang dihadapi. Analisis ini penting untuk memahami kebutuhan pengembangan sistem otomatis yang sesuai dengan kondisi lapangan. Tahap desain sistem kontrol & IoT dimulai berdasarkan analisa kebutuhan, dilakukan desain sistem kontrol otomatis menggunakan PLC Haiwell dengan fitur IoT dan virtual HMI. Desain juga mencakup pembuatan wiring diagram baru, pemrograman sekuensial sistem kontrol otomatis, perancangan dashboard monitoring real-time, serta penyusunan sistem alarm dan indikator berbasis cloud dan mobile. Tahap ujicoba sistem melibatkan dua jenis pengujian fungsional melalui: . Blackbox testing untuk menguji output berdasarkan input tanpa melihat struktur kode ataupun sekuensial sistem kontrol, . White-box testing untuk menguji alur logika dan program sekuensial sistem kontrol di dalam PLC. Pengujian dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh fungsi kontrol bekerja sesuai skenario . Ae. Tahap survei hasil penelitian dilakukan untuk evaluasi hasil penelitian dari sisi pengguna dengan menyebarkan kuesioner kepuasan pengguna kepada tim terkait di RS XYZ Bali dan pihak rekanan. Survei ini menilai aspek efektivitas sistem, kemudahan penggunaan, kecepatan akses, dan peningkatan efisiensi kerja secara keseluruhan. Nilai kepuasan pengguna digunakan sebagai indikator keberhasilan implementasi sistem. Setelah seluruh tahapan dilalui, penelitian ditutup dengan dokumentasi hasil, penyerahan sistem, serta pelatihan penggunaan sistem. Gambar 2. Sistematika metode penelitian Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. Hasil dan Pembahasan Identifikasi lokasi penelitian dan sistem dilakukan pada Juni 2023. Di RS XYZ Bali terdapat 2 unit sistem MRI dan 4 unit chiller redundant terpasang. Unit eksisting terpasang kurang lebih 5 tahun. RS XYZ juga menggunakan sistem chiller redundant dikarenakan selama proses MRI berlangsung chiller tidak boleh berhenti. Sistem redundant chiller MRI yang ada saat ini masih menggunakan kontrol manual, sehingga pengoperasiannya kurang optimal. Beberapa kelemahan yang ditemukan antara lain: . Terjadi delay saat perpindahan dari chiller 1 ke chiller 2, . Akses kontrol terbatas karena hanya bisa dilakukan dari panel lokal, . Kegagalan salah satu grup chiller tidak langsung teratasi, . Tidak adanya tampilan status dan alarm secara real-time. Desain sistem kontrol otomatis dibuat untuk menghilangkan operasi perpindahan antar chiller secara manual. Diagram alur sekuensial sistem kontrol otomatis ditunjukkan pada Gambar 3. Sistem kontrol otomatis chiller MRI bekerja secara berurutan dan redundant untuk memastikan pendinginan berjalan stabil dan aman. Proses diawali dengan pemilihan grup chiller (CHILLER. CHWP, dan SWP) yang akan diaktifkan. Sistem kemudian menghidupkan pompa air dingin (CHWP), dan setelah verifikasi berhasil, dilanjutkan dengan aktivasi unit chiller. Jika chiller menyala dengan sukses, pompa distribusi (SWP) dinyalakan untuk mengalirkan air dingin ke unit MRI. Setiap tahap dilengkapi dengan logika verifikasi status menyala . apabila suatu perangkat gagal menyala dalam waktu yang ditentukan, sistem langsung masuk ke proses fault dan mencoba mengalihkan operasi ke grup cadangan secara otomatis. Dengan urutan logika ini, sistem menjamin operasi pendinginan MRI tetap berjalan tanpa gangguan meskipun terjadi kerusakan pada salah satu unit. Semua proses dikontrol oleh PLC dan dimonitor melalui virtual HMI serta Mobile UI secara real-time, termasuk alarm dan notifikasi jika terjadi kegagalan. Panel kontrol dan sistem kelistrikan yang menghubungkan PLC dengan perangkat sensor serta aktuator di lapangan seperti ditunjukkan pada Gambar 4. Tampilan virtual HMI sistem kontrol chiller MRI seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Tampilan ini berfungsi sebagai pusat kendali digital sistem chiller MRI, memungkinkan teknisi untuk memantau status setiap komponen, suhu, tekanan, serta merespons alarm secara cepat. Interface ini mendukung sistem redundant dan meningkatkan efisiensi serta keamanan operasional unit MRI secara real-time. p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi Gambar 3. Diagram alur sistem kontrol otomatis Gambar 4. Desain panel kontrol. Aktual sistem panel kontrol terpasang Gambar 5. Tampilan dashboard HMI sistem kontrol chiller MRI Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. Gambar 6. Arsitektur sistem IoT Arsitektur sistem IoT yang diimplementasikan pada penelitian ini untuk konektivitas data dari PLC ke mobile UI dan instruksi kontrol dari mobile UI ke PLC seperti ditunjukkan pada Gambar 6. Arsitektur sistem kontrol redundansi chiller MRI berbasis Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk memastikan kestabilan pendinginan magnet superkonduktor pada perangkat MRI yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Sistem ini terdiri dari dua panel PLC Haiwell yang masing-masing mengontrol unit chiller utama dan cadangan, dengan konektivitas ke cloud yang disediakan oleh vendor Haiwell. Setiap panel PLC mengirimkan data suhu, status operasi, dan alarm ke sistem cloud secara real-time melalui jaringan internet, memungkinkan pemantauan jarak jauh oleh operator menggunakan perangkat mobile maupun Di sisi lokal, jaringan internal menghubungkan kedua panel ke sebuah Network Hub Manager yang berada di ruang jaringan, yang selanjutnya terhubung ke ruang kontrol tempat operator dapat mengakses data dan melakukan kontrol sistem secara langsung. Integrasi ini memungkinkan otomatisasi dalam pergantian unit chiller saat terjadi kegagalan, meningkatkan keandalan sistem pendingin, serta mendukung kegiatan pemeliharaan preventif melalui notifikasi dan data historis yang tersedia secara daring dan Arsitektur ini memadukan kontrol lokal dan remote berbasis cloud untuk menciptakan sistem yang responsif, efisien, dan siap menghadapi kegagalan operasional secara otomatis. Untuk sistem notifikasi alarm seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Gambar antarmuka sistem menunjukkan tampilan Alarm History berbasis HMI yang berfungsi mencatat dan menampilkan riwayat alarm secara real-time pada sistem kontrol chiller MRI. Dalam tampilan ini, ditunjukkan adanya alarm dengan pesan AufaultAy bertipe AualertAy yang berasal dari variabel A8_PLC. Chiller_1_Trip, dengan waktu konfirmasi tercatat pada 21 Februari 2025 pukul 00:46:35. Antarmuka ini terdiri dari beberapa tab navigasi seperti Real Time. Unconfirm. Confirmed, dan History, yang memudahkan operator dalam https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 memfilter dan melacak status alarm sesuai Selain itu, terdapat tombol navigasi tambahan di bagian bawah seperti GRAPH PLANT. RUNNING HOUR, dan LOGGING yang memungkinkan integrasi pemantauan data historis, jam operasi mesin, serta pencatatan aktivitas sistem, mendukung pelaksanaan pemeliharaan berbasis kondisi . ondition-based maintenanc. Tampilan ini merupakan bagian integral dari sistem IoT yang dikembangkan untuk meningkatkan visibilitas operasional dan respons terhadap kondisi kritis chiller MRI. Gambar 7. Sistem notifikasi alarm Selanjutnya dilakukan pengujian black-box dengan teknik equivalence partitioning technique dengan membagi data input menjadi dua bagian, yaitu nilai valid atau invalid, dan dilakukan pengujian secara terpisah. Kedua bagian tersebut harus menunjukkan perilaku yang sama untuk dinyatakan pengujian berhasil. Jika nilai valid maka pengujian berhasil, dan sebaliknya. Pengujian dilakukan pada beberapa variabel Input/ Output (I/O) yang penting di dalam sistem kontrol. Input disini dapat diartikan sebagai instruksi perintah pada logic sistem yang telah dibuat. Sedangkan output dapat diartikan sebagai hasil atau efek dari perintah yang diharapkan. Sehingga akan dilakukan proses validasi proses apakah output yang terjadi sesuai dengan perintah input yang diberikan pada sistem ini. Hasil pengujian black-box seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Dari total 11 variabel I/O yang ada semua mendapatkan hasil yang valid, sehingga dapat disimpulkan pengujian sistem ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan ketika menggunakan metode ini. Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. Gambar 8. Hasil pengujian black-box terhadap variabel I/O yang ditentukan Gambar 9. Hasil pengujian white-box terhadap variabel I/O yang ditentukan Pengujian white-box menggunakan teknik one path yang akan dilakukan yaitu dengan melihat proses yang terjadi dalam program. Proses ini akan berjalan ketika mendapat perintah input dan akan selesai dengan hasil output. Ketiga hal ini saling berkaitan, tetapi dalam pengujiannya pada metode ini akan berfokus pada proses sequence yang Sehingga akan dilakukan proses validasi proses yang berjalan mendapati atau ditemukannya bug atau anomaly sequence, serta output yang https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 terjadi sesuai dengan perintah input yang diberikan pada sistem ini. Hasil pengujian white-box seperti ditunjukkan pada Gambar 9. Dari pengujian menggunakan metode white-box penelitian ini mendapatkan hasil yang sesuai yang diharapkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode white-box pada pengujian variabel yang ada pada sistem chiller MRI ini berhasil. Survei hasil penelitian dilakukan untuk mendapatkan tingkat kepuasan pengguna. Metode ini diterapkan untuk mengetahui tingkat perubahan atau kesesuaian kebutuhan pengguna terhadap sistem baru. Survei dilakukan terhadap 2 pihak instansi, yaitu: RS XYZ Bali dan rekanan instalasi hardware PT TRV. Tabel 1 menunjukkan pihak yang berhak memberikan jawaban merupakan orang atau badan instansi pengguna atau user dalam sistem chiller MRI ini. Terdapat 11 pertanyaan survei, diantaranya: . Apakah Anda telah berinteraksi dengan aplikasi pengendalian chiller MRI yang baru ini?. Apakah Anda merasa bahwa aplikasi ini telah memudahkan Anda dalam memantau dan mengendalikan kinerja chiller MRI?. Sejauh mana Anda merasa bahwa aplikasi ini telah meningkatkan efisiensi dan kinerja chiller MRI?. Sejauh mana Anda merasa bahwa aplikasi ini telah meningkatkan efisiensi dan kinerja chiller MRI?. Bagaimana kecepatan response dari aplikasi yang baru ini?. Bagaimana Anda menilai antarmuka pengguna (UI) dari aplikasi ini, apakah mudah digunakan dan . Apakah pemilihan dan penggunaan warna dalam User Interface sudah sesuai?. Dari segi keamanan, apakah aplikasi ini sudah bisa memberikan fitur keamanan yang memadai?. Apakah Anda merasa bahwa Anda telah menerima pelatihan yang memadai untuk menggunakan aplikasi ini?. Bagaimana pendapat Anda tentang kualitas pendinginan yang dihasilkan oleh chiller MRI dengan penggunaan aplikasi ini dibandingkan dengan sebelumnya?. Apakah Anda merasa bahwa penggunaan aplikasi ini telah meningkatkan keandalan dan keamanan operasi MRI?. Masing-masing mempunyai 5 pilihan skor angka, dimana skor angka 1 = sangat buruk, 2 = buruk, 3 = normal, 4 = baik dan skor angka 5 = sangat baik. Tabel 1. Daftar Responden dan Jabatan Total Responden Jabatan Instansi 1 orang Marketing PT TRV 1 orang Engineering PT TRV 1 orang Engineering RS XYZ 1 orang Electrical Staff RS XYZ Hasil perhitungan survei seperti ditampilkan pada Tabel 2. Peneliti menghitung hasil kuesioner dengan rumus: p = ( f / N ) y 100%, dimana p Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. adalah persentase nilai yang dievaluasi, f adalah total nilai aktual dari seluruh pengguna. N adalah skor maksimum yang mungkin dari seluruh Hasil dari p menunjukkan persentase nilai penilaian pada setiap pertanyaan, dimana kategori 0% Ae 20% : Sangat Buruk. 01% Ae 40% : Buruk. 01% Ae 60% : Cukup. 01% Ae 80% : Baik. 01% Ae 100% : Sangat Baik. Dari perhitungan tersebut mendapatkan hasil Sangat Baik dengan perolehan persentase 96. dari rata-rata hasil 11 pertanyaan. Hasil ini dapat mengartikan bahwa kepuasan pengguna terhadap sistem yang dibuat. Tabel 2. Hasil Perhitungan Akhir Survei Pertanyaan Total Skor Persentase Kategori 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik 00% Sangat Baik Average 36% Sangat Baik Tabel 3. Hasil Evaluasi Teknis Akhir Deskripsi Sebelum Sesudah Delay perpindahan >10 menit <10 menit Mobilitas akses Mengharuskan Bisa dilakukan monitoring dan teknisi ke kontrol yang lokal kontrol Fault/ Kegagalan Hanya bisa Teratasi dengan chiller yang tidak teratasi secara auto kontrol cepat teratasi manual oleh Indikasi alarm Indikasi hanya Indikasi bisa yang masih sangat di lokal panel dilihat di virtual HMI dan mobile UI Berdasarkan hasil implementasi sistem yang telah dikembangkan, evaluasi teknis dilakukan dengan membandingkan kondisi sistem sebelum dan sesudah penerapan solusi yang ditawarkan dalam penelitian ini. Evaluasi ini difokuskan pada empat aspek utama yang menjadi persoalan pada sistem eksisting dan merepresentasikan kinerja serta keefektifan sistem chiller dalam mendukung operasi unit MRI, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3. Secara keseluruhan, evaluasi ini menunjukkan bahwa sistem hasil penelitian memberikan perbaikan signifikan dalam aspek kecepatan, fleksibilitas, kontinuitas operasional, dan kemudahan pemantauan sistem, yang secara https://ejournal. id/index. php/jict-ikmi p-ISSN: 2302-0261 e-ISSN: 2303-3363 teknis meningkatkan keandalan dan efektivitas kontrol pendinginan unit MRI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan sistem kontrol otomatis berbasis IoT pada chiller MRI berhasil mengatasi berbagai kelemahan dari sistem eksisting, terutama dalam hal kecepatan pergantian unit chiller, fleksibilitas akses kontrol, serta penyediaan notifikasi dan alarm secara real-time. Sistem yang dikembangkan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga mendapatkan penilaian sangat baik dari sisi pengguna dengan tingkat kepuasan mencapai 96,36%. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan penelitian Guissi et al. , yang memanfaatkan sensor getaran dan algoritma machine learning (CNN) untuk deteksi dini kerusakan pada pompa cold head MRI, fokus utama penelitian tersebut adalah pada aspek prediksi dan pemeliharaan Sementara itu, penelitian ini lebih menitikberatkan pada peningkatan efisiensi dan kontinuitas operasional melalui sistem kontrol otomatis dan auto redundancy. Keduanya saling melengkapiAiGuissi lebih menonjolkan sisi prediktif dan deteksi dini, sedangkan penelitian ini mengutamakan tanggapan otomatis saat terjadi gangguan untuk menjaga kelangsungan sistem Penelitian oleh Elallam dan Hamlich . juga relevan karena mengembangkan sistem monitoring jarak jauh berbasis Arduino untuk deteksi kerusakan pada sistem pendingin MRI. Namun, penelitian tersebut menggunakan arsitektur yang lebih sederhana dan metode notifikasi berbasis SMS dan email, sedangkan sistem pada penelitian ini telah terintegrasi dalam satu ekosistem dashboard UI dan virtual HMI, yang memberikan kemudahan kontrol sekaligus monitoring secara bersamaan dalam satu platform. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi unik berupa sistem kontrol redundan berbasis IoT yang lengkapAimeliputi auto switching, notifikasi real-time, dan kontrol mobileAiyang sangat sesuai diterapkan dalam lingkungan medis yang memerlukan kestabilan operasional tinggi seperti MRI. Dibandingkan dengan penelitian sejenis lainnya, sistem yang dikembangkan tidak hanya fokus pada satu aspek . onitoring, prediksi, atau kontro. , tetapi mengintegrasikan keseluruhan elemen tersebut dalam satu solusi yang adaptif dan scalable. Keterbatasan dalam penelitian ini diantaranya, skalabilitas sistem tergantung vendor PLC, ketergantungan pada konektivitas internet, fokus hanya pada kontrol dan belum mengarah ke analisa data untuk prediksi kegagalan sistem. Jurnal ICT : Information Communication & Technology Vol. N0. Juli 2025, pp. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan berhasil secara signifikan mengurangi delay dalam proses pergantian chiller saat terjadi gangguan, sehingga menjaga kelangsungan operasi dan mengurangi potensi lost time pada sistem pendinginan MRI. Sistem ini dilengkapi dengan dua antarmuka kontrol dan monitoring, yaitu virtual HMI untuk kontrol lokal dan dashboard mobile yang meningkatkan fleksibilitas serta mobilitas teknisi. Selain itu, penerapan kontrol semi-redundant dengan auto sequence memungkinkan sistem tetap berjalan meskipun terjadi gangguan non-fatal, sehingga mencegah kematian total pada sistem pendinginan, meningkatkan efisiensi energi, dan mengurangi risiko kerusakan serta biaya perawatan. Fitur notifikasi dan antarmuka pengguna real-time juga mendukung pengawasan dan kontrol jarak jauh secara praktis, efisien, dan responsif, memberikan kemudahan bagi teknisi dalam menjalankan tugasnya kapan pun dan di mana pun. Daftar Pustaka