ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 3 . Desember 2024, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Pengaruh Pengunaan Metode Nesting dan Posisi Prone terhadap Perubahan Status Oksigenasi pada Bayi Berat Lahir Rendah The Effect of Using the Nesting Method and Prone Position on Changes in Oxygenation Status in Low Birth Weight Babies Melti Suriya1*. Ikha prastiwi1. Lina Marlina1. Zuriati1 STIKes Bhakti Husada Cikarang *Correspondence: Benhard Latuminase. Address: Jalan RE. Martadinata. Karangbaru. Kec. Cikarang Utara. Kabupaten Bekasi. Jawa Barat 17530. Email: meltisuriya09@gmail. Responsible Editor: Marisna Eka Yulianita. Kep. Ns. Kep Received: 24 November 2024 U Revised: 26 Desember 2024 U Accepted: 30 Desember 2024 ABSTRACT Low birth weight babies is a public health problem because it is one of the causes of the high infant mortality rate (AKB). Prematurity is the 2nd cause of death in babies aged 0 - 6 days, which is caused by immaturity of almost all organs of the baby's body. Babies with BBLR are one of the risk factors that have various complications. Low birth weight babies who are quite large and susceptible to impaired vital functions that can affect the growth and development of the baby require proper The use of nesting is one of the recommended treatments for BBLR. This study aims to determine the effect of the use of nesting and prone position in premature infants on changes in oxygen saturation at Bhakti Husada Purwakarta Hospital This study is a quantitative research using the quasi-experiment design method type one group pretest-posttest with a total of 15 respondents in the BBLR in the control group and 15 respondents in the intervention group. The conclusion of this study is that there is an effect of nesting and prone position on changes in oxygen saturation in BBLR. There was no significant effect of nesting on pulse frequency and BBLR breath rate. The use of nesting and prone positions can be used as a form of nursing intervention. ABSTRAK Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi (AKB). Prematuritas merupakan penyebab kematian ke-2 pada bayi 0 - 6 hari, yang diakibatkan karena immaturitasnya hampir seluruh organ tubuh bayi. Bayi dengan BBLR merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai berbagai macam komplikasi. Bayi berat badan lahir rendah yang cukup besar dan rentan terhadap gangguan fungsi vital yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi membutuhkan penanganan yang Penggunaan nesting menjadi salah satu penanganan pada BBLR yang dianjurkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan nesting dan posisi prone pada bayi prematur terhadap perubahan saturasi oksigen di RS Bhakti Husada Purwakarta tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode quasi experiment design tipe one group pretest-posttest . es awal-tes akhir kelompok tungga. dengan jumlah responden sebanyak 15 pada BBLR pada kelompok kontrol dan 15 responden pada kelompok intervensi. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat pengaruh nesting dan posisi prone terhadap perubahan saturasi oksigen pada BBLR. Tidak terdapat pengaruh signifikan nesting terhadap frekuensi nadi dan frekuensi nafas BBLR. Penggunaan nesting dan posisi prone dapat digunakan sebagai salah satu bentuk intervensi keperawatan. Keywords: nesting. prone position. LBW. oxygen saturation Pendahuluan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan < 2500 BBLR merupakan salah satu indikator untuk melihat bagaimana derajat atau status 61 | E-ISSN: 2963-6434 kesehatan anak, sehingga berperan penting untuk memantau bagaimana status kesehatan anak sejak dilahirkan, apakah anak tersebut status kesehatannya baik atau tidak. BBLR menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan A 2024 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Melti Suriya . AACENDIKIA: Journal of Nursing salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi (AKB) (Sistriani, 2. Menurut laporan UNICEF tahun 2021 terdapat 54 kematian bayi neonatal . sia 0- 28 har. 000 kelahiran hidup di seluruh dunia pada 2020. Angka kematian bayi (AKB) neonatal tertinggi pada 2020 ditemukan di wilayah Afrika Sub-Sahara, yaitu 27 kematian per 1. 000 kelahiran hidup, wilayah Asia Selatan dengan 23 kematian. Oseania . i luar Australia & Selandia Bar. 19 kematian. Afrika Utara 15 kematian, dan Asia Tenggara 12 kematian per 1. 000 kelahiran hidup (UNICEF. Berdasarkan data Kemenkes RI AKB pada tahun 2019 sekitar 26. 000 kasus, meningkat hampir 40 persen menjadi 44. 000 kasus pada AKB meningkat pesat karena adanya pandemi COVID-19 pada awal tahun 2020. Dari jumlah itu, sebanyak 20. 266 balita . ,97%) meninggal dalam rentang usia 0-28 hari . Sebanyak 35,2% kematian balita neonatal karena berat badan lahir rendah (BBLR) (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan hasil data di Provinsi jawa Barat mempunyai angka kematian bayi sebesar 30/1. 000 kelahiran hidup. Berdasarkan pencatatan dan pelaporan di Provinsi Jawa Barat tahun 2017 terdapat 3. 077 bayi meningkat 5 orang dibandingkan tahun 2016 yang 072 kematian bayi (Dinkes Jawa Barat. Masalah pernafasan merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi. Masalah pernafasan pada bayi sering dihubungkan dengan kondisi Respiratory Distress Syndrome (RDS) merupakan penyebab terbanyak dari angka kesakitan dan kematian pada bayi prematur Ventilasi mekanik merupakan salah satu tindakan untuk memberikan suplai oksigen pada bayi yang mengalami Respiratory distress syndrome (RDS) disebut juga hyaline membrane didease (HMD), merupakan sindrom gawat nafas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang (Honrubia & Star. Manifestasi dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerusakan sel dan selanjutnya menyebabkan bocornya serum protein ke dalam alveoli sehingga menghambat fungsi Surfaktan merupakan suatu zat yang dapat menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Pertumbuhan surfaktan paru mencapai maksimum pada minggu ke 35 kehamilan. Defisiensi surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap akhir ekspirasi sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan tekana negative intoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat. Tanda klinis sindrom gawat nafas adalah pernafasan cepat, sianosis perioral, merintih waktu ekspirasi, retraksi substernal dan interkostal. Kejadian RDS sekitar 5-10% didapatkan pada bayi kurang bulan, 50% pada bayi berat 500-1500 gram (Lemons, 2000, dalam Nur, 2. Bayi yang dilahirkan secara prematur alat tubuhnya belum lengkap seperti bayi matur, oleh karena itu ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Jika usia kehamilannya pendek maka makin kurang sempurna pertumbuhannya, hal tersebut akan mengakibatkan mudah terjadinya komplikasi atau gangguan pada sistem kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem urogenita, system neurology, sistem pembuluh darah, system imunologik, dan sistem imaturitas (Septiani. Gangguan pada sistem pernafasan yang dialami oleh BBLR dikarenakan ketidak stabilan fungsi fisiologis yaitu suhu, denyut jantung dan saturasi oksigen, hal ini akan berdampak kepada bayi seperti hipotermi, denyut jantung meningkat, frekuensi pernafasan menurun akan meyebabkan apnoe berulang, presentase hemoglobin yang diikat oleh oksigen (SpO. cenderung menurun (Bera et al, 2. Penatalaksanaan utama pada bayi RDS yaitu terapi oksigen yang meliputi ventilasi mekanik, pemberian surfaktan, inhalasi Nitric Oxide . NO), dan dukungan nutrisi. Ventilasi mekanik adalah tindakan yang sering dibutuhkan pada perawatan bayi baru lahir yang mengalami suatu penyakit https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 62 Melti Suriya . dan masalah pernafasan termasuk pada bayi Ventilasi mekanik ini diberikan dalam waktu yang singkat atau sering juga diberikan dalam jangka waktu yang lama (Balaguer. Escribano & Figuls, 2. Ventilasi mekanik merupakan salah satu tindakan untuk memberikan suplai oksigen pada bayi yang mengalami hipoksemia. Tindakan noninvasive juga di lakukan untuk meningkatkan efektivitas ventilasi dan perfusi. Tindakan noninvasive ini dilakukan sebagai dukungan terhadap tindakan invasive seperti pada pemasangan ventilasi mekanik bayi yang mengalami masalah pernafasan. Salah satu tindakan noninvasif yang menyokong terapi (Kusumaningrum, 2. Posisi yang terbaik untuk bayi prematur adalah posisi fleksi karena dapat membantu mengurangi metabolisme dalam tubuh. Posisi ekstensi dapat meningkatkan stress pada bayi prematur dan secara otomatis akan mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh neonatus seperti fungsi pernafasan dan kardiovaskuler yang dapat dipantau melaui saturasi oksigen dan frekuensi Posisi bayi ternyata berpengaruh terhadap kondisi fisiologis dan neurologis bayi. Telah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa posisi supine . dapat mengurangi kematian bayi diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Russel, et. yang mengungkapkan bahwa posisi supine dapat menurunkan 40% kematian bayi akibat sudden infant death syndrome (SIDS). Namun pada penelitian yang sama Russel menyebutkan bahwa posisi prone . terutama pada otot-otot leher dan kepala. prone dapat meningkatkan kualitas tidur dan menurunkan tingkat stress pada bayi (Chang, et al. Penelitian lain menyebutkan bahwa posisi prone sangat mempengaruhi perbaikan saturasi oksigen, pengembangan paru, pengembangan 63 | E-ISSN: 2963-6434 dinding dada dan penurunan insiden apnea pada bayi premature (Wilawan & Chavee, 2. Konsep keperawatan di ruang NICU terkini bertujuan untuk memberikan perawatan yang mendukung perkembangan . upportive care developmentall. yaitu perawatan yang dapat meningkatkan kemampuan perkembangan fisik, emosional dan intelektual saat bayi premature di rawat di ruangan NICU (Davis & Stein, 2. Development care adalah konsep pengembangan perawatan neonatus yang dapat meningkatkan eksplorasi tumbuh kembang pada neonatus (Kenner & McGarth, 2. Perawatan di ruang NICU bertujuan pula untuk meminimalkan hal-hal yang mempengaruhi respon bayi yang di sebabkan karena immaturitas sistem neurologisnya. Tindakan yang dapat mendukung tujuan tersebut diantaranya dengan memberikan cahaya yang redup, suara yang rendah, kehangatan, sentuhan lembut, control nyeri, lampin, dan nesting (Davis & Stein, 2. Nesting adalah penggunaan alat berbentuk seperti kondisi dalam rahim ibu yang terbuat dari bahan phlanyl yang memiliki panjang sekitar 121- 132 cm dan dapat disesuaikan dengan panjang tubuh Alat ini diletakkan sebagai pelindung posisi bayi, menjaga perubahan posisi bayi yang diakibatkan karena gravitasi. Nesting merupakan salah satu intervensi keperawatan dalam memberikan posisi yang tepat pada neonatus. Nesting dapat memfasilitasi perkembangan bayi prematur berupa kondisi fisiologis dan neurologis (Goldsmith & Karotkin, 2. Nesting merupakan penyanggah pada posisi tidur pada bayi sehingga tetap dalam posisi fleksi, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perubahan posisi yang drastis pada bayi yang dapat mengakibtkan hilangnya banyak energi dari tubuh neonatus, sehingga menjadi salah satu tindakan keperawatan yang menerapkan prisip konsep Kemampuan melakukan adaptasi baik secara integritas struktur, integritas personal, integritas sosial, dan energy Melti Suriya . AACENDIKIA: Journal of Nursing Nesting merupakan penyanggah pada posisi tidur pada bayi sehingga tetap dalam posisi fleksi, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perubahan posisi yang drastis pada bayi yang dapat mengakibtkan hilangnya banyak energi dari tubuh neonatus. Nesting merupakan salah satu tindakan keperawatan yang menerapkan prisip konsep konservasi energy yang dikemukakan oleh Levine. Levine menyatakan bahwa manusia akan perubahan yang terjadi pada lingkungan Kemampuan manusia melakukan adaptasi baik secara integritas struktur, integritas personal, integritas sosial, dan energy akan menghasilkan konservasi (Tomey & Alligood. Nesting dilakukan dengan harapan bisa menstabilkan postur tubuh bayi, memfasilitasi posisi kepala bayi saat fleksi dan semi fleksi dan posisi kepala bayi bisa kearah garis tengah. membantu mencegah jika ada gerakan yang dilakukan oleh bayi secara tiba tiba, sehinga bentuk nesting menyerupai bentuk oval yang terbuat dari kain atau terbuat dari gulungan selimut yang diletakan didalam incubator (Naghavi et al, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan nesting dan posisi prone pada bayi prematur terhadap perubahan saturasi oksigen di RS Bhakti Husada Purwakarta tahun 2024. Metode Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif, yaitu penelitian yang datanya berupa angka-angka . core, nila. atau pernyataan yang diangkakan dan dianalisis dengan analisis statistik. Studi yang digunakan adalah studi quasi eksperimen atau percobaan . xperimental researc. yaitu suatu penelitian dengan melakukan kegiatan percobaan . yang bertujuan untuk mengetahui gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu atau eksperimen Perlakuan terhadap responden tentang perbedaan sebelum dan sesudah pengunaan metode nesting dan posisi prone terhadap perubahan status oksigenasi pada bayi berat lahir rendah. Reponden akan dibagi menjadi dua kelompok yakni sebagian responden akan dilakukan intervensi kelompok dan kelompok kontrol pengunaan metode nesting dan posisi prone terhadap perubahan saturasi oksigen pada bayi berat lahir rendah. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dengan menggunakan lembar observasi. Pada lembar observasi dilakukan pemantauan tandatanda vital bayi seperti suhu, nadi dan pernafasan. Pemasangan pulse oxymetri dilakukan untuk pemantauan SPO2 bayi. Pemantauan nadi dan SPO2 dilakukan setiap satu jam sedangkan pemantauan suhu dan pernafasan dilakukan setiap tiga jam. Pemantauan pemakaian alat bantu nafas juga di lakukan, meliputi jenis alat bantu nafas dan lama penggunaannya. Bayi menggunakan gulungan dua kain bedung dari bahan phlanyl yang halus kemudian dibuat bulatan dengan perekat plester tissue. Bulatan bedung tadi diletakkan di atas kain dari bahan phlanyl dengan ukuran 30x40 cm memiliki perekat di bawahnya, bagian bawah dari bahan phlanyl tersebut dibuat tali sebanyak dua dengan ukuran 50 cm dan di bagian bawahnya diberi perekat yang digunakan untuk fiksasi pada bayi. Fiksasi terpasang di dua tempat yaitu di bagian lengan atas/dada bayi dan pada kaki bayi. Nesting dengan fiksasi dilakukan pada bayi gawat nafas yang gelisah dan memakai alat bantu pernafasan, sedangkan pada bayi gawat nafas yang tidak gelisah dilakukan nesting tanpa Setelah terpasang nesting dengan fiksasi kemudian dilakukan pemantauan stabilitas saturasi oksigen dan nadi setiap satu jam sedangkan pemantauan suhu dan prekuensi pernafasan dilakukan setiap tiga jam. Pemantauan juga dilakukan pada pemakaian alat bantu pernafasan. Pemantauan dilakukan pada bayi selama 4 Ae 10 https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 64 Melti Suriya . Hasil Tabel 1. Distrtibusi Responden Berdasarkan Peritas. Pendidikan. Pekerjaan, dan Riwayat persalinan Kontrol Variabel Paritas Primipara Multipara Pendidikan Rendah Tinggi Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Riwayat persalinan Normal Intervensi Tabel 1 diketahui bahwa pada paritas ibu responden kelompok intervensi memiliki lebih banyak multipara . %) dibandingkan kelompok kontrol . 3%). Sebaliknya, kelompok kontrol memiliki lebih banyak primipara . dibandingkan intervensi . %). Untuk pendidikan ibu responden mayoritas responden kelompok kontrol memiliki pendidikan rendah . 3%), sementara mayoritas kelompok intervensi memiliki pendidikan tinggi . %). Untuk riwayat pekerjaan ibu respoinden kedua kelompok didominasi oleh responden yang bekerja, dengan kelompok intervensi memiliki proporsi yang lebih tinggi . %) dibandingkan kontrol . 7%). Untuk riwayat persalinan kedua kelompok memiliki distribusi yang sama dalam riwayat persalinan, dengan 60% responden memiliki riwayat persalinan normal dan 40% memiliki riwayat SC. Dapat disimpulkan bahwa kelompok kontrol memiliki proporsi primipara dan responden berpendidikan rendah yang lebih tinggi dibandingkan intervensi. Kelompok intervensi memiliki lebih banyak multipara, responden berpendidikan tinggi, dan pekerja. Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Bayi Prematur Variabel Jenis Kelamin Kelompok Laki-Laki Perempuan Kontrol Intervensi Tabel 2 dapat diketahui bahwa jumlah responden adalah 15 baik pada kelompok kontrol ataupun kelompok intervensi, sementara jumlah responden laki-laki lebih banyak dibanding bayi perempuan baik pada kelompok kontrol ataupun kelompok intervensi, yaitu 60% dibandingkan 65 | E-ISSN: 2963-6434 54% pada kelompok kontrol dan 50% dibandingkan 40% pada kelompok intervensi. Berdasarkan data pada table tersebut diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa adanya kesetaraan antara kelompok kontrol dengan kelompok Melti Suriya . AACENDIKIA: Journal of Nursing Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan BB Bayi. Saturasi Oksigen. Frekuensi nadi. Usia gestasi, dan Umur Bayi . di Rs. Bhakti Husada Purwakarta Variabel BB sebelum . BB setelah . Saturasi Saturasi FN sebelum FN setelah Usia gestasi . Umur bayi . Kelompok Mean Median Standar Deviasi Min-Maks 95%Ci Kontrol Kontrol Intervensi Kontrol Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Intervensi Tabel Analisis membandingkan antara saturasi oksigen awal pendataan dan akhir setelah responden diistirahatkan selama 20 menit pada kelompok Pada tabel 4. 3 terlihat bahwa ada perbedaan yang signifikan saturasi oksigen pada awal pengamatan dengan setelah 20 menit Rerata saturasi oksigen sebelum dan sesudah pengamatan mempunyai nilai yang lebih kecil yaitu dari 91,13% menjadi 96,13%. Terlihat nilai selisih mean antara pengukuran sebelum intervensi dengan setelah intervensi dengan standar deviasi sebelum tindakan yaitu 326 dan setelah tindakan 1. 642, maka dapat Pembahasan Hasil penelitian Purwanto et all bahwa secara biologis berat badan bayi semakin bertambah sesuai dengan umur kehamilan. Umur kehamilan mempengaruhi kejadian BBLR karena semakin berkurang umur kehamilan ibu maka semakin kurang sempurna perkembangan alat-alat organ tubuh bayi sehingga turut mempengaruhi berat badan bayi. Bayi kurang bulan umumnya disebabkan karena lepasnya plsenta lebih cepat. Bayi yang lahir kurang bulan mempunyai alat tubuh dan organ yang belum berfungsi normal disimpulkan bahwa ada perbedaan bermakna terhadap saturasi oksigen antara sebelum dan sesudah penggunaan nesting dan posisi prone dengan p value < 0,05. Analisis berikutnya adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan nesting dan posisi prone terhadap frekuensi nadi pada kelompok intervensi bahwa rerata frekuensi nadi sebelum pengamatan 20 menit yaitu 134. kali/menit, sesudah pengamatan sebesar 145. kali/menit, didapatkan ada perbedaan yang signifikan frekuensi nadi antara sebelum dan sesudah pengamatan selama 20 menit pada kelompok kontrol dengan p value <0. untuk bertahan hidup di luar rahim. Fungsi organ tubuh semakin kurang sempurna dan prognosis nya semakin kurang baik sejalan dengan semakin muda umur kehamilan (Purwanto et all 2. Hasil penelitian Marfiyana Adinada yang menunjukkan hasil penelitiannya bahwa pada kehamilan kurang bulan pematangan organ yang belum sempurna dan kurang efektifitas penyaluran nutrisi dan oksigenisasi membuat pertumbuhan janin tidak optimal, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya kelahiran premature dan bayi dengan berat badan lahir rendah sehingga usia kehamilan pada persalinan adalah penentu https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 66 Melti Suriya . paling sigifikan dari berat badan bayi baru lahir (Saputri,2. Bayi yang dilahirkan secara prematur alat tubuhnya belum lengkap seperti bayi matur, oleh karena itu ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Jika usia kehamilannya pendek maka makin kurang sempurna pertumbuhannya, hal tersebut akan mengakibatkan mudah terjadinya komplikasi atau gangguan pada sistem kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem urogenita, system neurology, sistem pembuluh darah, system imunologik, dan sistem imaturitas (Septiani. Gangguan pada sistem pernafasan yang dialami oleh BBLR dikarenakan ketidakstabilan fungsi fisiologis yaitu suhu, denyut jantung dan saturasi oksigen, hal ini akan berdampak kepada bayi seperti hipotermi, denyut jantung meningkat, frekuensi pernafasan menurun akan meyebabkan apnoe berulang, presentase hemoglobin yang diikat oleh oksigen (SpO. cenderung menurun (Bera et al, 2. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) memiliki kemungkinan mengalami masalah dalam ketidakstabilan faktor-faktor Faktor faktor fisiolgis tersebut diantaranya adalah frekuensi nadi, suhu tubuh. Ketidakstabilan faktor-faktor dikarenakan belum sempurnanya sistem organ bayi seperti paru-paru, ginjal, jantung, sistem saraf serta sistem pencernaan sehingga rentan terkena stress, mengalami gangguan pernapasan dan kesulitan untuk bertahan hidup (Rundjan, 2. Nesting adalah penggunaan alat yang bentuknya mirip dengan keadaan rahim ibu, alat ini bahannya terbuat dari phlanyl lembut dan berisikan selembar kain . eperti polieste. Panjang nesting 121-132 cm yang bisa disesuaikan dengan panjang badan bayi. Nesting ditempatkan untuk melindungi posisi bayi, agar tidak dalam keadaan meregang dan menjaga bayi tidak berubah-ubah posisinya. Nesting adalah salah satu intervensi keperawatan untuk 67 | E-ISSN: 2963-6434 memberikan posisi yang benar pada bayi baru Nesting dapat meningkatkan perkembangan bayi prematur dalam bentuk penyakit neurologis dan fisiologis (Ganong, 2. Menurut hasil analisis data Asriyani . , nesting secara signifikan berpengaruh terhadap saturasi oksigen, yaitu nilai p 0,000, dan nesting berpengaruh signifikan terhadap berat badan bayi prematur, dengan p-value 0,000. Penelitian yang dilakuan ini merekomendasikan perawatan nesting untuk perawatan bayi prematur agar saturasi oksigen meningkat serta meningkatkan berat badan (Asriyani, 2. Efendi, 2019 yang menjelaskan bahwa saturasi oksigen merupakan salah satu indikator kecukupan pasokan oksigen pada bayi. Salah satu upaya untuk meningkatkan saturasi oksigen pada bayi BBLR yaitu dengan menggunakan metode baby nesting. Adanya peningkatan saturasi oksigen pada BBLR dikarenakan saat penggunaan nesting, bayi dalam keadaan nyaman karena bersikap fleksi sehingga mengurangi stress dan menurunkan metabolisme Sedangkan Posisi prone dapat meningkatkan fungsi paru, meningkatkan fungsi tidur tenang, dan tidur aktif pada bayi baru lahir. Nesting merupakan penyanggah pada posisi tidur pada bayi sehingga tetap dalam posisi fleksi, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi perubahan posisi yang drastis pada bayi yang dapat mengakibtkan hilangnya banyak energi dari tubuh Nesting merupakan salah satu tindakan keperawatan yang menerapkan prisip konsep konservasi energy yang dikemukakan oleh Levine. Levine menyatakan bahwa manusia akan perubahan yang terjadi pada lingkungan Kemampuan manusia melakukan adaptasi baik secara integritas struktur, integritas personal, integritas sosial, dan energy akan menghasilkan konservasi (Tomey & Alligood. Mengingat konservasi energy ini penting pada bayi premature, maka konsep ini perlu Melti Suriya . AACENDIKIA: Journal of Nursing diaplikasikan di ruang perinatologi. Studi eksperimen oleh Poulose, et al. mengenai pemberian posisi nyaman pada bayi menggunakan AunestAy membantu memaksimal kan postur bayi BBLR, yaitu bayi yang diberikan AunestAy memiliki postur yang lebih tinggi. Pemberian posisi fleksi fisiologis dan midline orientation memberikan lingkungan layaknya di dalam uterus. Setelah perlakuan nesting, rata-rata suhu tubuh, saturasi oksigen dan denyut nadi berat badan BBLR semuanya meningkat, dan masingmasing p value <0,05. Penyusunan berat badan berkesinambungan di dalam ruangan dapat membantu memulihkan dan menstabilkan tandatanda vital bayi berat badan lahir rendah. (Saprudin & Sari, 2. Penelitian lain menyebutkan bahwa posisi prone sangat mempengaruhi perbaikan saturasi oksigen, pengembangan paru, pengembangan dinding dada dan penurunan insiden apnea pada bayi premature (Wilawan & Chavee, 2. Intervensi pemberian posisi merupakan intevensi yang penting bagi optimalisasi fungsi sistem organ pada bayi Selain itu, kondisi ini mendukung optimalisasi perkembangan postur karena positioning menggunakan nest mendukung body pada bayi dan memberikan kenyamanan pada bayi sehingga dapat menyimpan energi pertumbuhan (Jarus, et al. , 2. Berbagai model pemberian posisi diatas mem butuhkan penyangga yang sering disebut dengan AunestAy. Neonatus memiliki respon tonus dan kekuatan otot yang sangat lemah sehingga pemberian posisi pada neonatus seringkali mengakibatkan extended positioning (Madlinger Lewis, et al. , 2. Extended kemampuan makan oral, gangguan perkembangan kemampuan motorik, dan menghambat regulasi diri (Madlinger-Lewis, et al. , 2. Oleh karena itu, agar bayi dapat mempertahankan posisi sesuai dengan yang diindikasikan diperlukan AunestingAy untuk me nyangga posisi bayi. Hasil dari penelitian dari berbagai negara mengoptimalisasi fungsi paru pada bayi prematur (Gouna, et al. , 2013. Joanna Briggs Institution, 2. , meningktkan kualitas tidur bayi (Jarus, et , 2. , menurunkan stres dan distres (Madlinger-lewis, et al. , 2. , peningkatan ke tepatan postur tubuh, perkembangan fungsi otonomi (Poulose, et al. , 2. Intervensi pemberian posisi pronasi mampu meningkatkan fungsi paru dan penurunan distres pernapasan pada bayi prematur. Studi yang dilakukan Gourna et al . , menunjukkan hasil bahwa posisi pronasi meningkatkan outcome fungsi pernapasan yang ditandai dengan peningkatan volumetidal (V. , saturasi oksigen (SPO. dan penurunan tekanan karbondioksida (Pa CO. Peningkatan luaran fungsi pernafasan ini terjadi karena pada posisi pronasi dan lateral dinding dada tersta bilisasi dan sinkronisasi pergerakan thoraco abdominal sehingga menghasilkan pola napas yang efektif yang berdampak pada efisiensi ventilasi paru-paru. Posisi prone menurunkan kompresi paru oleh jantung dan memaksimalkan expansi paru di region dorsal sebagai akibat dari berkurangnya tekanan paru region dorsal oleh organ abdomen (Gourna, et al. , 2. Pemberian posisi ini membutuhkan perawat dengan keahlian agar dapat menciptakan posisi yang membuat bayi terlihat lebih nyaman. Studi eksperimen oleh Poulose, et al. mengenai pemberian posisi nyaman pada bayi menggunakan AunestAy membantu memaksimal kan postur bayi BBLR, yaitu bayi yang dibe rikan AunestAy memiliki postur yang lebih tinggi. Pemberian posisi fleksi fisiologis dan midline orientation memberikan lingkungan layaknya di dalam uterus. Kondisi midline orientation dapat menstabilkan hemodinamik dalam otak sehingga (Madlinger-Lewis, et al. , 2. Selain itu, kondisi ini mendukung optimalisasi per kembangan postur karena positioning meng gunakan nest mendukung body allignment pada bayi dan memberikan kenyamanan pada bayi sehingga https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 68 Melti Suriya . dapat menyimpan energi untuk opti malisasi pertumbuhan (Jarus, et al. , 2. Kesimpulan Terdapat perbedaan yang signifikan saturasi oksigen pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan p value < alpha. Peneliti menyumpulican bahwa penggunaan nestig dan posisi prone efektif mempengaruhi saturasi Nilai saturas oksigen pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi sifatnya setara, hal ini memudahkan dalam menentukan hipotesa yang didapatkan karena perbedaan perlakukan antara kelompok kontrol dan intervensi sehingga dapat ditentukan pengaruh atau tidaknya intervensi yang dilakukan pada kelompok Frekuensi nadi pada kelompok kontrol dan intervensi juga sifatnya setara yang juga akan mempermudah penegakkan hipotesa jika dikaitkan dengan interventi yang dilakukan. Referensi