ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 222-238 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Menghadirkan Ruang Bercerita dalam Konteks Liturgi Generasi Z Gloria Tesalonika Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Email: tesalonika_gloria@yahoo. Submitted: 04-09-2024 Accepted: 24-10-2024 Published: 23-12-2024 Abstract Liturgy is often interpreted as a form of worship in the church. This interpretation is not entirely However, liturgy has a much broader understanding. Liturgy is an encounter between humans and God. There is two-way communication in this encounter: God takes the initiative to meet humans, and humans respond to God's touch that greets them. God's touch amid the struggling situations faced should be visible in the liturgy that is compiled. The liturgy needs to address the needs of everyone involved. This forms the basis for writing this article. The author focuses on the liturgy of young people belonging to Generation Z, born between 1995 and 2010, as they have unique struggles and challenges. The church needs to recognize the importance of the presence of young people and pay attention to their worship-related needs. This should be reflected in the liturgy to acknowledge their struggles and make storytelling space that is expressed, allowing them to experience an encounter with God. The method used is qualitative, with data collection techniques consisting of literature studies and interviews with young congregants attending worship services. This article offers a liturgical renewal by providing space for storytelling for Generation Z. Keywords: Liturgy. Encounter. Generation Z. Storytelling space. Abstrak Liturgi kerap dimaknai sebatas tata ibadah dalam gereja. Pemaknaan ini tak sepenuhnya keliru. Akan tetapi, liturgi sesungguhnya memiliki pemahaman yang jauh lebih luas. Liturgi adalah sebuah perjumpaan antara manusia dengan Allah. Dalam perjumpaan, terjalin komunikasi dua arah. Allah berinisiatif menjumpai manusia, dan manusia merespons sentuhan Allah yang menyapanya. Sentuhan Allah di tengah situasi pergumulan yang dihadapi semestinya tampak dalam liturgi yang Liturgi perlu menjawab kebutuhan setiap umat yang ada dan terlibat di dalamnya. Hal ini yang melatarbelakangi penulisan artikel ini. Penulis berfokus pada liturgi bagi kaum muda generasi Z saat ini, yang lahir pada tahun 1995-2010, karena mereka memiliki pergumulan dan tantangannya Gereja perlu menyadari pentingnya kehadiran kaum muda dan memperhatikan kebutuhan mereka terkait dengan peribadatan. Hal ini tampak dalam liturgi yang perlu mendengar pergumulan mereka dan memberi ruang dalam cerita yang diungkapkan, sehingga mereka merasakan perjumpaan dengan Allah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan Teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan wawancara kepada umat pemuda yang hadir dalam ibadah. Artikel ini memberikan tawaran pembaruan liturgi melalui liturgi yang memberi ruang bercerita bagi kaum muda generasi Z. Kata-kata Kunci: Liturgi. Perjumpaan. Generasi Z. Ruang Bercerita. @ Copyright: Author 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Menghilangnya generasi muda dari gereja sempat menjadi topik yang ramai Sebuah tulisan berjudul You Lost Me karya David Kinnaman membahas secara mendalam tentang pergumulan tersebut. Menariknya, ungkapan You Lost Me menjadi kesimpulan Kinnaman terhadap suara para pemuda Augereja meninggalkan aku. Ay Dalam penelitiannya. Kinnaman menyebutkan ada enam hal yang membuat kaum muda merasa bahwa gereja meninggalkan mereka, antara lain: . gereja yang overprotective terhadap budaya-budaya yang ada di luarnya, . jawaban-jawaban yang terlalu dangkal terhadap persoalan yang mereka hadapi, . anti ilmu pengetahuan . nti scienc. , . represif atau adanya aturan agama yang mengekang, . eksklusif, dan . tidak ada ruang bagi pemuda untuk menyampaikan kegalauan dan keraguannya . etika memiliki keraguraguan, hal itu dianggap sebagai orang yang tidak berima. Penelitian Kinnaman yang berfokus pada generasi Y atau generasi Milenial, memang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, pergumulan ini tanpa disadari terjadi dan masih relevan pada generasi selanjutnya, yaitu generasi Z. Penulis merujuk pada teori generasi yang dikemukakan oleh Graeme Codrington dan Sue Grant-Marshall, yang membagi 5 generasi berdasarkan tahun kelahirannya: . Generasi Baby Boomer yang lahir pada tahun 1946-1964. Generasi X, yang lahir tahun 1965-1980. Generasi Y disebut juga dengan generasi Milenial, yang lahir tahun 1981-1994. Generasi Z, yang lahir tahun dan . Generasi Alfa, yaitu mereka yang lahir tahun 2011-2025. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa pendekatan gereja terhadap generasi Z tidak dengan sendirinya menjadi penghalang. Akan tetapi, tantangan tidak bisa dihindari, terlebih persepsi yang menyatakan bahwa gereja terlalu mengutamakan kekuasaan, politik, bahkan terlalu fokus dengan aturan. 3 Pergumulan ini semakin bertambah ketika terdapat keterbatasan ruang bagi kaum muda untuk menyuarakan pergumulan di tengah usia mereka. Andrew Root dalam Revisiting Relational Youth Ministry: From a Strategy of Influence to a Theology of Incarnation menyatakan bahwa umat muda yang menjadi kelompok generasi Z, merindukan adanya ruang untuk menyampaikan kesulitan David Kinnaman. AuYou Lost Me: Why Young Christians Are Leaving Church. and Rethinking F Aith,Ay in You Lost Me: Why Young Christians Are Leaving Church. and Rethinking Faith (Grand Rapids: Baker Books, 2. , 56Ae57. Shanty Komalasari et al. AuPrinsip Character of A Leader Pada Generasi Z,Ay PHILANTHROPY: Journal of Psychology 6, no. 1 (June 20, 2. : 77, doi:10. 26623/philanthropy. James Emery White. Meet Generation Z: Understanding and Reaching the New Post- Christian (Amerika: Baker Books, 2. , 35. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika dan tantangan yang mereka hadapi. Gereja perlu memperhatikan kebutuhan ini dalam pelayanan bagi mereka. 4 Hal ini penting, agar gereja tetap relevan bagi kaum muda. Secara konteks, apa yang dipaparkan ini memang berbeda dengan Indonesia. Akan tetapi, pergumulan menurunnya kehadiran kaum muda dalam ibadah di gereja menjadi sebuah kenyataan yang tak terhindari. Barna Group dan Bilangan Research Centre dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2017 kepada 1500 responden pada rentang usia 1835 tahun dari 25 negara, menyajikan sebuah data yang mencengangkan. Hasil yang diperoleh adalah hanya 47% dari seluruh responden masih mempercayai hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Dalam konteks Indonesia, sebanyak 75% anak-anak muda di Indonesia percaya hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Hal ini berarti bahwa seperempat anak muda di Indonesia, sudah tidak percaya pada hal yang berkaitan dengan Pergumulan ini juga menjadi pergumulan gereja di mana penulis terlibat dan melayani, yaitu Gereja Kristen Indonesia (GKI). Stephen Suleeman dalam penelitian yang pernah dilakukan pada Bulan Maret-April 2015 di GKI Sinode Wilayah (SW) Jawa Barat, mengenai AuPotret Pemuda GKI SW Jabar,Ay mengemukakan sebuah data tentang kehidupan spiritualitas kaum muda GKI, rentang usia 15-32 tahun. Penelitian dilakukan kepada 8 klasis, 77 Jemaat GKI SW Jawa Barat, dengan total jumlah keseluruhan 1841 responden. Data ini menunjukkan bahwa dari target 2000 responden, penelitian ini berhasil 1% responden. Ketika ditanyakan apakah mereka masih beribadah di gereja setiap minggunya, diperoleh informasi 36,5% responden menjawab bahwa mereka tidak pergi ke gereja manapun, melainkan ada di rumah. Dalam analisis data, dituliskan bahwa jumlah ini cukup tinggi, bahkan di salah satu klasis yaitu klasis Jakarta Barat, jumlah responden yang memilih jawaban ini jauh lebih tinggi, melampaui jawaban yang diberikan oleh para pemuda dalam penelitian ini yaitu sebesar 42,2%. Pemaparan ini menimbulkan pergumulan bagi gereja. Apakah yang menjadi alasan situasi problematik ini terjadi? Berdasarkan pertanyaan dalam penelitian tersebut, salah satu hal yang penulis soroti adalah terkait dengan ibadah dan bagaimana ibadah tersebut menjawab kebutuhan kaum muda. Penelitian AuPotret Pemuda GKI SW JabarAy menunjukkan Andrew Root. Revisiting Relational Youth Ministry: From a Strategy of Influence to a Theology of Incarnation (Downers Grove: Inter Varsity Press, 2. , 135. Adhika Tri Subowo. AuMembangun Spiritualitas Digital Bagi Generasi Z,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 5, no. 2 (April 19, 2. : 381, doi:10. 30648/dun. Stephen dan PPDI GKI SW Jabar Suleeman. AuPotret Pemuda GKI SW Jabar: Pergumulan Dan HarapannyaAy (Jakarta: GKI SW Jawa Barat, 2. , 14. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. bahwa ada kerinduan untuk melakukan pembaruan dalam hal ibadah, sehingga ibadah menjadi menarik bagi kaum muda. Menarik disini tentu bukan berarti ibadah menjadi sebuah pertunjukkan atau show, namun sebuah pengalaman spiritual yang menyenangkan dan mengisi kebutuhan rohani para pemuda, khususnya setelah kesibukan yang harus mereka jalani selama satu minggu dalam kegiatan belajar, bekerja, dll. 7 Hal ini diuraikan kembali dalam penelitian lanjutan pada tahun 2017 dengan judul AuPergumulan dan Harapan Pemuda GKI SW Jabar. Ay Dalam salah satu bagian yang membahas harapan pemuda GKI, diperoleh jawaban bahwa pemuda mengharapkan pembaruan-pembaruan dalam liturgi. Pembaruan-pembaruan tersebut terkait dengan adanya variasi dalam ibadah, yaitu pada nyanyian dalam ibadah, keterbukaan pada bentuk ibadah yang kreatif, hingga keterlibatan kaum muda secara aktif dalam ibadah tersebut. Chandra Julianto dalam tulisannya Liturgi Gerejawi dalam Dunia Post-Modern, menuliskan bahwa gereja menghadapi tantangan yang baru dalam memasuki zaman postmodern. Salah satunya adalah perdebatan antara adaptasi liturgi, apakah tetap bertahan kepada liturgi yang lama, atau beralih kepada zaman yang baru. Ketegangan tersebut selalu terjadi setiap kali gereja memasuki zaman yang baru. Adaptasi yang dapat dilakukan adalah dengan mempertimbangkan tentang generasi penerus, dalam hal ini kaum muda. mengatakan bahwa masa depan gereja juga ada di tangan mereka. Oleh karenanya kita harus memberikan porsi yang cukup bagi mereka untuk membentuk liturgi yang relevan dan dapat menentukan arah gereja ke depan. Gereja membutuhkan adanya pembaruan dalam Adapun bentuk liturgi dalam semangat post-modern mengarah pada esensi penyembahan yang tradisional. Hal ini terjadi karena orang-orang di zaman post-modern memiliki kerinduan untuk berhubungan langsung dengan Allah, sebagaimana kisah para tokoh Alkitab yang berbicara tentang Allah dari pengalaman yang sangat personal. Julianto, mengutip Kenda Creasy Dean dalam tulisannya Mashing for JesusAdolescence as a Cultural Context for Worship, menguraikan bahwa kaum muda usia remaja, pergi ke gereja untuk merasakan pergerakan emosi, untuk merasakan bahwa mereka diubahkan, untuk merasakan Tuhan, dan untuk merasakan sesuatu. Mereka mau mendengar Firman Tuhan secara objektif, tetapi mereka juga butuh merasakan yang objektif itu secara Ibid. , 13. Ibid. , 116Ae18. Chandra Julianto. AuLiturgi Gerejawi Dalam Dunia Post-Modern,Ay Jurnal Youth Ministry 3, no. (November 1, 2. : 72, doi:10. 47901/jym. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika Mereka perlu menjadikan yang objektif itu sebagai milik dan pengalaman mereka secara pribadi. 10 Penyembahan kontemporer dan tradisional memiliki perbedaan yang signifikan, yaitu dalam hal-hal eksternal seperti aransemen dan instrumen musik yang digunakan serta tampilan luar dari liturgi. Julianto melanjutkan bahwa adaptasi liturgi ke dalam konteks post-modern sebenarnya adalah perubahan hal-hal eksternal yang dilakukan justru untuk menambah yang internal. Adaptasi ini dilakukan bukan untuk mengaburkan esensi penyembahan, melainkan untuk memperkuatnya. Pemaparan ibadah dan contohnya dalam konteks saat ini, ditegaskan oleh Firman Panjaitan dan Marthin Steven Lumingkewas dalam tulisannya Ibadah Jemaat Kristen Kontemporer Abad 21 dan Tinjauan Kritis-Liturgis. Cukup banyak umat usia muda yang merasa tidak cocok lagi untuk beribadah dalam corak tradisional, karena corak ibadah tradisional dirasa kurang memenuhi kebutuhan rohani dan batin mereka, serta dipandang tidak membangun unsur religiositas. Kaum muda mencari corak ibadah yang sesuai dengan jiwa mereka. Mereka cenderung menyukai ibadah jenis kontemporer yang mengakomodasi karakteristik gaya hidup kaum muda maupun elemen-elemen kultur pop, seperti interaksi yang lebih cair antara worship leader dan pengkhotbah dengan umat, pemakaian alat musik band, pemakaian nyanyian rohani populer, ekspresi jemaat yang lebih bebas . epuk tangan, angkat tangan dan gerakan menari. , serta penggunaan multimedia. Perkembangan ini selaras dengan perkembangan kebudayaan manusia, karena perkembangan budaya itu senantiasa diikuti dengan perkembangan musik yang didukung oleh penemuan teknologi baru di samping derasnya arus informasi dan komunikasi antar kelompok manusia di dunia 12 Melalui pemaparan tersebut, penulis melihat bahwa pembaruan liturgi bagi kaum muda yang diusulkan adalah pembaruan liturgi dengan mengikuti konteks budaya populer, karena hal itu diyakini disukai oleh generasi masa kini. Jika penelitian yang telah dilakukan sebelumnya memberi fokus pada pembaruan liturgi terkait dengan variasi yang mengarah pada unsur-unsur liturgi, seperti nyanyian, penggunaan alat musik, penyembahan yang bersifat personal, maka artikel ini akan memperhatikan pergumulan kaum muda. Penulis mengutip Neil Pembroke dalam Ibid. , 74. Ibid. Firman Panjaitan and Marthin Steven Lumingkewas. AuIbadah Jemaat Kristen Kontemporer Abad 21 Dan Tinjauan Kritis-Liturgis,Ay FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 2, no. 1 (June 18, 2. 165Ae67, doi:10. 34081/fidei. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. tulisannya Pastoral Care in Worship: Liturgy and Psychology in Dialogue yang menyatakan bahwa ketika menyusun sebuah liturgi, unsur pastoral perlu mendapat perhatian di dalamnya. 13 Dimensi pastoral yang dimaksud adalah semua ekspresi dan tindakan liturgis, yang dalam suasana ibadah diungkapkan sebagai bentuk bakti kepada Tuhan. Ekspresi dan tindakan liturgis tersebut diyakini mampu menghadirkan dampak pastoral bagi mereka yang hadir dan berpartisipasi dalam ibadah. 14 Berangkat dari situasi ini, maka terdapat urgensi untuk membarui liturgi, sehingga ibadah dapat berwajah pastoral. Pembaruan liturgi diperlukan karena peran penting liturgi sebagai proses pendewasaan dan menolong manusia untuk melewati masa-masa sulit atau masa transisi. 15 Umat akan belajar, bertumbuh dan juga dibentuk oleh Tuhan sebagai komunitas orang beriman ketika beribadah di saat-saat tidak mudah tersebut. Dalam hal inilah kita dapat melihat bahwa salah satu fungsi ibadah adalah sebagai bentuk pendampingan pastoral pada masa krisis. Bessly Messakh dalam tulisannya yang membahas Kepekaan Pastoral dalam Liturgi: Menuju Ibadah yang Berwajah Pastoral mengungkapkan bahwa ibadah yang berwajah pastoral mampu merespons kebutuhan emosional-psikologis manusia dan kemudian dijadikan dimensi pastoral yang mewarnai berbagai ekspresi serta tindakan liturgis dalam Ibadah yang berwajah pastoral juga adalah ibadah yang mampu memberikan respons yang tepat atas kebutuhan manusia seperti kebutuhan akan keadilan, persamaan hak, pembebasan dan lain-lain. Respons atas kebutuhan tersebut juga dapat dihadirkan sebagai dimensi pastoral melalui berbagai ekspresi dan tindakan liturgis, dalam berbagai Pembaruan liturgi yang berwajah pastoral dan berangkat dari pergumulan kaum muda akan diuraikan melalui artikel ini. Secara spesifik penulis akan berfokus pada umat usia pemuda yang berada dalam rentang tahun kelahiran 1995-2010, dan termasuk dalam generasi Z. Hal ini penting, mengingat kaum muda generasi Z memiliki pergumulannya Liturgi perlu memberi Auruang berceritaAy melalui ungkapan pergumulan yang Neil Pembroke. Pastoral Care in Worship: Liturgy and Psychology in Dialogue (Edinburgh. Scotland: T&T Clark International, 2. , 3. Howard W Roberts. Pastoral Care Through Worship (Macon. GA: Smyth & Helwys, 1. , 11. Kathleen S Smith. Stilling the Storm: Worship and Congregational Leadership in Difficult Times (Herndon. Virginia: The Alban Institute, 2. , 13. Ibid. , 34. Besly Yermy Tungaoly Messakh. AuKepekaan Pastoral Dalam Liturgi,Ay Theologia in Loco 2, no. (October 31, 2. : 195, doi:10. 55935/thilo. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika dihadapi oleh kaum muda generasi Z, sehingga pada akhirnya liturgi dapat menjawab kebutuhan mereka. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan dan wawancara mendalam. Penulis menggunakan sumber-sumber dari berbagai literatur yaitu buku, artikel, dan jurnal-jurnal online, yang berfokus pada pemahaman tentang liturgi yang berupaya menjawab pergumulan kaum muda generasi Z. Penulis juga melakukan penelitian lapangan melalui wawancara mendalam dengan para informan. Informasi ini sangat penting untuk melihat bagaimana respons mereka terhadap liturgi kaum muda setiap minggunya. Penulis membatasi pada jemaat GKI Perumahan Citra 1, tempat di mana penulis melayani. Ada sepuluh informan yang penulis wawancara, lima informan mewakili pemuda yang rutin beribadah, dan lima informan lain adalah mereka yang tidak rutin beribadah di kebaktian Data kehadiran umat pemuda usia 20-30 tahun18 berdasarkan Lembar Kinerja Kehidupan Jemaat (LKKJ) dari April-September 2024 adalah 52 orang. Kehadiran ini masih minim dibandingkan dengan jumlah Anggota Jemaat usia pemuda yang terdaftar yaitu 317 orang . umat pria, 143 umat wanit. 19 Penulis juga melakukan wawancara kepada dua orang penatua yang mendampingi Komisi Pemuda (KP) di GKI Perumahan Citra 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Liturgi: Perjumpaan. Keterbukaan dan Undangan Kata liturgi berasal dari kata berbahasa Yunani leitourgia. Asal kata leitourgia adalah laos . rtinya rakyat, bangsa, publik, masyaraka. dan ergon . rtinya bekerja, melayan. Dalam dunia Yunani kuno, kata ini mengarah pada pekerjaan publik yang dilakukan untuk kepentingan kota dan negara. Arti ini sama seperti membayar pajak, tetapi liturgi dapat melibatkan pelayanan yang diberikan secara sukarela, sama halnya seperti pajak. Sementara itu. Paulus berbicara tentang pemerintahan Romawi secara harfiah sebagai liturgist GKI Perumahan Citra 1 membagi kategori usia mengacu pada Konsepsi Pembinaan Menyeluruh dan Sinambung (KPMS) GKI, sebagai berikut: anak-tunas remaja . -15 tahu. -19 tahu. -30 tahu. -59 tahu. tahun ke ata. GKI Perumahan Citra 1. AuLaporan Kinerja Dan Kehidupan Jemaat,Ay 2024. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. of God . elayan-pelayan Alla. Paulus menyebut dirinya sebagai seorang pelayan Kristus, bagi bangsa-bangsa Yahudi (Rm 15:. , bahkan ia pun menyebut para penarik pajak sebagai leitourgia Allah (Rm 13:. 20 Dari berbagai definisi ini, dapat disimpulkan bahwa liturgi tidak terbatas pada tata cara ibadah dalam gereja, dan liturgi merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk melayani dan berbakti kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ibadah Kristen, liturgi adalah kegiatan peribadatan dimana seluruh anggota jemaat terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Penggunaan kata Aubekerja bersama,Ay AumenyembahAy dan AumemuliakanAy Tuhan dalam arti ibadah, menjelaskan bahwa ibadah adalah sesuatu yang aktif dan dinamis, karena bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, memindahkan sesuatu, atau menggerakkan sebuah proyek secara bersama. Tanpa ada kedinamisan, tidak mungkin liturgi hadir sebagai pekerjaan bersama dalam kehidupan komunitas. Keaktifan dan kedinamisan inilah yang menjelaskan bahwa dalam liturgi terkandung misi melayani Allah melalui hidup yang menyembah dan berpartisipasi pada pekerjaan Allah di tengah dunia sebagai bentuk pelayanan yang aktif. Penegasan liturgi sebagai wujud misional ibadah menunjukkan bahwa liturgi merupakan bentuk perjumpaan. Leitourgia sejatinya adalah terjadinya sebuah perjumpaan antara manusia dengan Tuhan. Dalam perjumpaan, ada sebuah komunikasi dua arah . Martasudjita menguraikan bahwa dialog adalah salah satu dimensi dalam liturgi. Liturgi mencakup komunikasi dua arah sekaligus, yaitu Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia . isebut sebagai katabatis, yaitu gerakan dari Allah ke manusi. , dan manusia merespons pengudusan Allah itu dengan memuliakan Dia . isebut sebagai anabatis, yaitu gerakan dari manusia kepada Alla. 22 Perspektif katabatis hendak menjelaskan bahwa Allah, melalui Kristus, yang memanggil, mengumpulkan, dan memilih jemaat untuk menjadi umat-Nya. Disini kita melihat bahwa peran Allah dalam perspektif katabatis menunjukkan terjadinya sebuah liturgi merupakan inisiatif Allah secara pribadi. Sementara itu, dalam segi anabatis, manusia menanggapi karya Allah yang menyelamatkan dengan memuji dan memuliakan-Nya. Dimensi anabatis dalam liturgi membuat umat berperan James F White. Pengantar Ibadah Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 13Ae14. Clayton J Schmit. Worship That Changes Lives: Multidisciplinary and Congregational Perspectives on Spiritual Transformation, ed. Alexis D. Abernethy (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 31. Emanuel Martasudjita. Liturgi: Pengantar Untuk Studi Dan Praksis Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 29. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika aktif dalam liturgi. Peran aktif umat dalam liturgi merupakan respons atas anugerah yang telah Allah berikan. Berangkat dari pemaknaan inilah, maka liturgi perlu hadir sebagai liturgi yang terbuka dan mengundang. Makna terbuka di sini adalah liturgi harus tampil ramah, dapat dipahami dan diikuti bagi setiap orang yang hadir di dalamnya. Liturgi juga mengundang, artinya seperti halnya sebuah undangan, liturgi hanyalah tawaran bagi umat untuk berperan serta dalam hidup Allah. Inilah dimensi anabatis dalam liturgi. Dalam kehidupan manusia, dimensi ini juga berbicara tentang manusia yang mau menyuarakan pengalaman Hal ini terjadi semata-mata karena manusia mempercayakan hidupnya kepada Allah. Pergumulan yang terjadi, seringkali dimensi anabatis ini kurang terasa dalam Liturgi hanya menampilkan dimensi katabatis yang berfungsi mengajarkan Ketika perjumpaan tidak dilakukan seimbang antara katabatis dan anabatis, liturgi menjauhkan dirinya dari sifat dinamis. Keadaan tanpa perjumpaan dan cenderung statis dapat membuat liturgi jauh dan asing dari kehidupan kaum muda. Namun, ketika kaum muda merasakan sebuah liturgi yang utuh, dinamis, dan dialogis, mereka akan memaknai dan terlibat dalam berliturgi. 24 Oleh karena itu, merumuskan liturgi yang menyuarakan pengalaman dan pergumulan kehidupan kaum muda, secara khusus pada mereka yang termasuk dalam kategori generasi Z menjadi hal penting yang perlu terus Generasi Z dan Kebutuhan untuk Didengar Generasi Z, disebut dengan iGeneration, generasi internet, atau Augen net,Ay lahir dan bertumbuh di tengah perkembangan teknologi digital di berbagai aspek. Generasi ini mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu bersamaan, seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan Sebagai iGeneration, apapun yang mereka lakukan amat berhubungan dengan dunia maya. David Stillman dan Jonah Stillman menyebut generasi ini Aufigital,Ay . ari kata AuphygitalAy yaitu fisik dan digita. Stillman mengartikan figital adalah sebuah situasi di mana penghalang antara fisik dan digital sudah dihilangkan. Dalam sebuah penelitian yang diadakan oleh Pew Research, ketika generasi Z yang pertama dilahirkan, hanya 14% di Hizkia Anugrah Gunawan. AuLiturgi Yang Mendengar: Sebuah Upaya Alternatif GKI Untuk Memperjumpakan Pemuda Dengan Allah Dalam Tata Liturgi Yang Memberdayakan,Ay Jurnal Teologi Dan Gereja 17 . : 23. Ibid. , 24. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. antara mereka yang mempunyai akses terhadap internet. Akan tetapi pada tahun 2014, angka itu meningkat dengan pesat menjadi 87%. 25 Hal ini berarti mereka yang termasuk dalam generasi ini selalu terkoneksi, namun lebih dari sekadar pionir digital, mereka adalah digital native atau penduduk asli dunia digital. Istilah digital native diperkenalkan oleh Marc Prensky pada tahun 2001. Menurutnya, digital natives adalah orang yang lahir ke dunia yang sudah sarat dengan teknologi digital, karenanya mereka sangat fasih menggunakan teknologi tersebut. Konteks yang demikian tentu mempengaruhi dan membentuk karakter individu 27 Mereka berada dalam masa transisi dan kerap menghadapi kebingungan dalam berbagai hal. Psikolog Elizabeth Santoso dalam bukunya Raising Children in Digital Era mengemukakan tujuh karakteristik dominan generasi Z . -generation/kids jaman no. yang lahir di era digital ini: memiliki ambisi besar untuk sukses. berperilaku instan atau menyukai segala sesuatu yang serba praktis. cinta pada kebebasan . ebebasan berpendapat, berkreasi dan berekspres. percaya diri. menyukai hal detail . enderung kritis dalam berpikir dan detail mencermati suatu permasalaha. keinginan mendapat pengakuan dalam bentuk reward, seperti pujian, hadiah, sertifikat, penghargaan. digital dan teknologi. Generasi Z tumbuh dan berkembang dalam konteks perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Kendati hal tersebut di satu sisi memberi manfaat yang besar, penggunaan media sosial yang berlebihan memberi dampak yang negatif, termasuk pada kesejahteraan mental. Vicki Dwi Purnomo dalam Krisis Mental Gen Z di Era Gempuran Digital menuliskan bahwa generasi Z seringkali menghadapi ketidakpastian baik dalam hal ekonomi, pendidikan, dan persaingan ketat dalam dunia kerja. Hal ini dapat menciptakan tekanan dan kekhawatiran tentang masa depan. Mereka memiliki tingkat stres yang cukup tinggi, terutama ketika menghadapi tekanan dan pergumulan tersebut. 29 Oleh karena itu, keterlibatan dan peran positif orang-orang di sekitar secara khusus orangtua untuk hadir, mendampingi, dan mendengarkan anak atau anak-anak mereka menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan. Generasi Z sebenarnya masih memiliki ketergantungan dan David dan Jonah Stillman. Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru Yang Akan Mengubah Dunia Kerja. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 56. IDN Times. Au5 Ciri Digital Natives. Apakah Kamu Salah Satunya?,Ay n. https://w. com/life/inspiration/dentista-puspita/5-ciri-digital-natives-c1c2?page=all. Galih Sakitri. AuSelamat Datang Gen Z. Sang Penggerak Inovasi,Ay Journal Prasetiya Mulya 35 . : 1. Merensiana Hale. AuPeran Orang Tua Dalam Mendampingi Generasi Z,Ay Discreet: Journal Didache of Christian Education 2, no. 1 (June 11, 2. : 4Ae5, doi:10. 52960/jd. Vicki Purnomo. AuKrisis Mental Gen Z Di Era Gempuran DigitalAy Vol. 2 No. (October 21, 2. : 1. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika membutuhkan pendampingan dari orang tua mereka, baik dalam hal keagamaan maupun pembentukan karakter positif. Kebutuhan untuk didengarkan di tengah pergumulan, merupakan salah satu hal yang tidak dapat diabaikan bagi generasi Z. Persoalannya, sering kali yang terjadi mereka justru merasakan bahwa tidak ada yang memahami dan mengerti akan pergumulan mereka. Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi yang tepat dalam pendampingan bagi kaum muda. Salah satu tawarannya adalah keberadaan pemimpin kaum muda dan komunitas yang Dasar teologis pelayanan yang mendengarkan adalah pada pribadi Allah yang Mendengarkan merupakan sebuah tindakan Ilahi yang dilakukan oleh Allah kepada umat-Nya (Mazmur 62:9 Aucurahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya. Sebagaimana Allah mendengar umat-Nya, para pemimpin kaum muda dan komunitas dapat mendengarkan kisah seseorang, serta memahami pergumulan kaum muda dengan kompleksitas yang ada. Mendengar bukan hanya menerima kisah seseorang dalam humanitas, tetapi perlu membawa orang tersebut melihat kisah hidupnya dalam bingkai teologis yang membungkus seluruh kisah dalam kasih karunia, anugerah, serta desain Allah yang utuh dan sempurna. Mendengar pergumulan dan kisah mereka, amat dibutuhkan untuk memahami keberadaan mereka, sehingga dapat memberikan bimbingan yang tepat dan Ketika mereka didengar, mereka merasakan topangan yang meneguhkan dan dapat memotivasi mereka untuk bangkit dan menghadapi pergumulan di tengah usia mereka. Kerinduan untuk memiliki ruang dan menceritakan pergumulan di tengah usia muda dan kebutuhan untuk didengarkan, inilah yang diungkapkan oleh enam dari sepuluh informan yang penulis wawancarai. Dari percakapan tersebut, mereka mengatakan bahwa ruang untuk berbagi cerita masih amat terbatas (NL, dkk. Wawancara, 2. Hal ini juga diungkapkan oleh LV dan VG. Penatua pendamping Komisi Pemuda. LV mengatakan bahwa sejauh ini ruang bagi pemuda untuk menyampaikan cerita dan pergumulan dalam kebaktian masih terbatas dalam khotbah. Ketika pelayan Firman menyampaikan pertanyaan, mereka diberi ruang untuk menjawab dan bercerita. Hal tersebut pun dilakukan hanya kepada beberapa orang umat pemuda (LV. Wawancara, 2. Sementara itu. VG menyatakan bahwa ruang untuk bercerita dan berbagi pergumulan lebih relevan Hale. AuPeran Orang Tua Dalam Mendampingi Generasi Z,Ay 3. Johannes Lie Han Ing. AuAoMendengarAo Sebagai Pelayanan Pendampingan Bagi Kaum Muda,Ay Jurnal Youth Ministry 4, no. 1 (May 1, 2. : 64Ae65, doi:10. 47901/jym. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. disampaikan dalam kelompok kecil dibandingkan dalam kebaktian pemuda (VG. Wawancara, 2. Kesempatan untuk berbagi dan berdiskusi ini memang telah terjadi dalam kebaktian bina jemaat yang diadakan tiga bulan sekali. Dalam kebaktian tersebut, umat pemuda diberi ruang untuk berdiskusi dalam kelompok. Akan tetapi, ruang berdiskusi tersebut dibatasi oleh waktu. Berdasarkan observasi penulis dan ungkapan para pemuda, keterbatasan waktu yang ada membuat umat pemuda tidak dapat memiliki keterbukaan satu dengan yang lain. Mereka merasa kurang nyaman untuk menceritakan kisah dan pergumulan hidup mereka, kendati tema-tema khotbah, liturgi yang telah dipersiapkan oleh tim, dirasa sudah cukup relevan dengan kebutuhan mereka (CH, dkk. Wawancara, 2. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komisi Pemuda adalah memfasilitasi pergumulan tersebut dengan mengadakan kegiatan yang dinamakan Growth Group. Dalam Growth Group, umat pemuda dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, dipimpin oleh pemimpin kelompok . isebut GG leader. , yang sebelumnya telah diperlengkapi oleh pendeta melalui serangkaian pembinaan. Dalam Growth Group yang berlangsung rutin di luar kebaktian minggu, umat pemuda membaca Alkitab dan menemukan pesan di dalamnya, saling berbagi cerita pengalaman kehidupan, kebersamaan dan saling mendoakan satu dengan yang lain. Kegiatan ini cukup efektif dan menjadi wadah bagi umat pemuda untuk bertumbuh bersama dalam persekutuan. Larry Osborne dalam bukunya Sticky Church menguraikan bahwa small groups . elompok keci. adalah sebuah langkah untuk menghidupi visi gereja yang memiliki daya lekat. Komitmen dalam kelompok kecil akan memberi dampak dalam pertumbuhan spiritual. Kelompok kecil memberi ruang pada upaya memberdayakan para pemimpin awam untuk melayani. Kelompok kecil juga dapat menolong gereja menjadi lebih otentik dalam hubungannya dan jauh lebih disiplin dalam 32 Disiplin spiritual tampak ketika mereka dapat berinteraksi secara rutin dan bertumbuh melalui setiap hal yang dibagikan termasuk pembahasan khotbah dan refleksi Firman Tuhan, serta apa yang dialami di tengah kehidupan sehari-hari. Tawaran Liturgi yang AuMendengarAy Pergumulan Kaum Muda Generasi Z Larry Osborne. Sticky Church (Grand Rapids. MI: Zondervan, 2. , 53. Ibid. , 62. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika Dalam bagian ini penulis memberikan tawaran bagaimana menghadirkan dan merespons pengalaman manusia dalam liturgi bagi generasi Z, sehingga liturgi dapat menjawab kebutuhan mereka. Ada tiga hal yang dapat diupayakan: Pertama, kaum muda perlu memiliki pemahaman liturgi sebagai sebuah perjumpaan antara Allah dan manusia. Pemahaman ini amat penting, karena tak terhindari beberapa pemuda memahami liturgi sebatas urutan tata ibadah di gereja. Inilah yang diungkapkan dalam jawaban mayoritas informan. Ada dua informan yang berupaya memahami liturgi secara komprehensif. Keduanya mengatakan bahwa liturgi merupakan tata ibadah yang dibuat untuk menjadi sarana perjumpaan umat dengan Tuhan. Liturgi juga dibuat untuk merangkul dan melibatkan umat dalam pelayanan. Akan tetapi, delapan responden lainnya menyampaikan bahwa liturgi adalah susunan atau tata ibadah bersama (NL, dkk. Wawancara, 2. Pemahaman ini tentu tidak sepenuhnya keliru. Akan tetapi, pemuda perlu memaknai liturgi sejatinya adalah sebuah perjumpaan Allah dan manusia. Dimensi ini perlu tampak dalam liturgi yang disusun dan dipersiapkan. Liturgi perlu menampilkan suara Allah kepada manusia, yaitu ketika Allah memberikan nasihat dan anugerah-Nya kepada manusia. Demikian sebaliknya, liturgi juga perlu menampilkan suara manusia kepada Allah: ketika manusia memuji dan memuliakan Allah, tetapi juga ketika manusia menyuarakan pengalaman serta pergumulannya kepada Allah. 34 Dalam hal ini, liturgi idealnya dirancang oleh sebuah tim dan memberi ruang bagi kaum muda untuk mengemukakan ide dan pergumulannya. Tata liturgi yang dipersiapkan merupakan hasil brainstorming suara mereka mengenai kehidupannya. Hasil brainstorming dapat menolong untuk menyusun tema-tema dalam ibadah, narasi, nyanyian jemaat, aksi bersama komunitas kaum muda, sebagai respons ibadah tersebut. Salah satu contoh adalah pemilihan tema yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum muda, misalnya tema tentang relasi, pekerjaan. Semua berangkat dari hasil brainstorming pergumulan yang dihadapi oleh Uraian ini semakin menegaskan bahwa liturgi kaum muda generasi Z, perlu memperhatikan aspek pastoral sesuai dengan kebutuhan mereka. Penulis mengutip Pembroke yang telah berupaya meneliti berbagai dimensi pastoral dalam ibadah minggu. Salah satu fokus yang diangkat adalah dengan mempertimbangkan pengalaman manusia dan meresponsnya secara pastoral melalui elemen ekspresi dan tindakan liturgis. Sebagai contoh. Pembroke menghadirkan penderitaan sebagai Gunawan. AuLiturgi Yang Mendengar: Sebuah Upaya Alternatif GKI Untuk Memperjumpakan Pemuda Dengan Allah Dalam Tata Liturgi Yang Memberdayakan. Ay Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. pengalaman manusia, yang perlu direspons melalui ungkapan ratapan dalam liturgi. Hal ini menjadi sebuah respons yang ramah terhadap mereka yang ada dalam pergumulan akan penderitaan yang sedang dialami. 35 Dalam tulisannya. Pembroke menggunakan contoh teks Mazmur 22:1-2 dan Mazmur 27:9 ketika menjelaskan tentang ungkapan ratapan dan penderitaan yang dialami. Pemazmur dalam Mazmur 22:1-2 menyampaikan ratapannya kepada Allah AuAllahku. Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Ay36 Mazmur AuJanganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka. Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!Ay37 Ketika hal ini coba diterapkan pada liturgi pemuda, maka liturgi yang disusun perlu menghadirkan ungkapan ratapan sehingga mampu menjawab berbagai persoalan dan penderitaan yang dialami oleh manusia. Hal ini bertujuan untuk memberi ruang bagi umat dalam ibadah, sehingga dapat mengekspresikan dan berbicara tentang penderitaan mereka di hadapan Tuhan. Melalui liturgi yang memberi ruang untuk meratap, orang tersebut dibawa ke dalam penghayatan akan penderitaan realita kehidupan dan posisi kerapuhan manusia yang sedang dialami. Secara psikologis, ruang untuk mengekspresikan dan bercerita, menolong umat untuk mengalami proses pemulihan. Unsur ratapan ini dapat dihadirkan melalui berbagai respons liturgi gerejawi, seperti nyanyian, pendarasan mazmur, khotbah dan lainnya. Kedua, pentingnya mengenali nilai-nilai hidup dan karakteristik kaum muda generasi Pengenalan ini bertujuan agar ibadah kaum muda menjadi kontekstual dengan mereka. Tata ibadah kaum muda disusun secara dinamis, mengalir dan ekspresif, mengedepankan pengalaman mereka secara personal. Penulis mengacu pada Linna Gunawan dalam Ibadah Pemuda: Antara Nilai dan Bentuk, yang menyatakan bahwa ada empat hal utama yang perlu diperhatikan ketika menyusun liturgi bagi kaum muda, yaitu: experiential . , participatory . , image-driven . erbasis gamba. , connected . Pembroke. Pastoral Care in Worship: Liturgy and Psychology in Dialogue, 47Ae48. Ibid. , 57. Ibid. , 62. Linna Gunawan. AuIbadah Kaum Muda,Ay Jurnal Youth Ministry 2, no. 2 (November 1, 2. : 133, doi:10. 47901/jym. Menghadirkan Ruang Bercerita Dalam Konteks Liturgi Generazi Z Gloria Tesalonika Gunawan, mengutip Rachel Held Evans dalam CNN blogs menuliskan bahwa kaum muda membutuhkan hadirnya kepedulian, belas kasihan, penerimaan, rekonsiliasi, pengampunan, termasuk dalam komunitas gereja. Hal ini berarti bahwa ibadah kaum muda bukan persoalan bentuk, melainkan nilai-nilai yang dibangun di dalamnya. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana merancang bentuk ibadah yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan kaum muda di gereja di mana mereka berada. Bagaimanapun bentuknya, selama nilai-nilai ibadah tersebut dapat menjadi sebuah perjumpaan kaum muda dengan Kristus yang terbuka, peduli, bersahabat, dan terhubung dengan pergumulan mereka, maka ibadah tersebut dapat membangun iman kaum muda dan menjawab kebutuhan mereka. Ketiga, penulis menawarkan pentingnya menghadirkan iklim yang bersahabat dalam Ronelle Sonnenberg dan Marcel Barnard dalam tulisannya Youth Worship as Recreation, menggunakan istilah rekreasi dalam menggambarkan penghayatan liturgi. Ini berangkat dari penelitian yang mereka lakukan kepada para pemuda, di mana hasil yang ditemukan adalah kerinduan para pemuda adanya sebuah liturgi yang informal dan menempatkan pengalaman sebagai nilai utama dalam liturgi. Seperti halnya rekreasi yang dimaknai sebagai kesempatan untuk keluar sejenak dari tekanan pergumulan melalui aktivitas yang menyenangkan, menggembirakan, bahkan dalam keheningan sekalipun, maka penghayatan liturgi juga membawa seseorang pada semangat untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. 40 Miroslav Volf, sebagaimana dikutip Schmit menegaskan bahwa ibadah berlangsung dalam siklus mingguan yang berada pada dua lokasi, yaitu perjumpaan di dalam gedung gereja pada hari Minggu dan melayani selama satu minggu tersebut di tengah dunia. Konsep rekreasi hendak menunjukkan kerinduan kaum muda terhadap liturgi yang menghadirkan suasana persahabatan. Dengan suasana tersebut, para pemuda dapat mengeluarkan segala pergumulan melalui aktivitas yang memberi ruang kebebasan kepada Beberapa hal yang dilakukan adalah menghargai momen hening, menghadirkan suasana liturgi yang akrab . elalui bahasa, sapaan yang meneduhkan dan bersahabat kepada setiap umat yang hadi. , memberikan ruang terhadap pengalaman sehari-hari sebagai bahan utama dalam menyusun dan mempersiapkan liturgi. Berbagai langkah Ibid. , 134. Ronelle Sonnenberg and Marcel Barnard. AuYouth Worship as Recreation,Ay International Journal of Practical Theology 19, no. 1 (January 15, 2. : 140, doi:10. 1515/ijpt-2014-0024. Schmit. Worship That Changes Lives: Multidisciplinary and Congregational Perspectives on Spiritual Transformation, 29Ae30. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. konkret yang ditawarkan diharapkan dapat menjawab kebutuhan liturgi yang mendengarkan pergumulan dan memberi ruang bagi kaum muda generasi Z. KESIMPULAN Kaum muda generasi Z memiliki pergumulan dan dinamikanya tersendiri. Melalui penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa liturgi perlu memiliki kepekaan pada situasi dan pergumulan kaum muda. Oleh karenanya, pembaruan liturgi yang menekankan aspek pastoral bagi kaum muda, yaitu menghadirkan ruang bercerita, mendengar cerita dan pergumulan kaum muda generasi Z, telah menjadi kebutuhan penting yang patut diperhatikan oleh gereja. Melalui pembaruan liturgi tersebut, diharapkan umat pemuda, terutama generasi Z, dapat mengalami perjumpaan dengan Allah dan pada akhirnya mentransformasi hidup mereka. DAFTAR PUSTAKA