ISSN: 2597-3851 DOI: https://doi. org/10. 35747/hmj. Homepage: https://journal. id/index. php/healthy Inovasi Sunscreen Stick Berbasis Ekstrak Kulit Kayu Bangkal (Nauclea subdita (Korth. ) Steud. ) sebagai Tabir Surya Hayatus SaAoadah1*. Rosa Riauwati1. Yuli Harianti1 1Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Barito Kuala. Kalimantan Selatan. Indonesia *email: hayatussaadah@umbjm. ABSTRACT Sunscreen is a substance or material that can protect the skin from UV radiation. One of the plants that has the potential as a sunscreen is bangkal bark. Bangkal bark contains compounds in the form of flavonoids as sunscreens. Therefore, researchers are interested in making a sunscreen preparation in the form of a stick from bangkal bark extract. This research was conducted to determine the formulation and evaluation of the physical quality of the preparations which included organoleptic tests, homogeneity, pH, adhesion and melting point. Determine the potential of sunscreen in the preparation of sunscreen sticks of bangkal bark extract in vitro with variations in concentration of F1 extract 0. 001 gr. F2 0. 1 gr and F3 10 gr. The results of this study showed that all formulas in the physical quality evaluation met the requirements and in the sunscreen potency test it was found that formula 1 had an SPF value of 2 with minimal protection, formula 2 had an SPF value of 4 with moderate protection and formula 3 had an SPF value of 6 with extra protection. So it can be concluded that the higher the concentration of the extract, the higher the SPF value. Keywords: Kayu Bangkal. Sunscreen Stick. SPF. Kosmetik. Uji Mutu Fisik Received: June 2025. Accepted: June 2025. Published: June 2025 A2025. Published by Institute for Research and Innovation Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. 0/). LATAR BELAKANG Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari merupakan salah satu faktor utama penyebab kerusakan kulit, termasuk photoaging, hiperpigmentasi, dan kanker kulit. Radiasi UVB . Ae315 n. bertanggung jawab atas eritema kulit . , sementara UVA . Ae400 n. berkontribusi terhadap penuaan kulit melalui peningkatan produksi spesies oksigen reaktif (ROS). Penggunaan tabir surya merupakan langkah preventif yang efektif untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV. Tabir surya umumnya mengandung agen penyerap UV seperti avobenzone, octinoxate, dan oxybenzone. Namun, kekhawatiran terhadap potensi toksisitas dan dampak lingkungan dari bahan sintetis tersebut telah mendorong peningkatan minat pada bahan aktif alami. Ekstrak tumbuhan, terutama yang kaya flavonoid, fenolik, dan alkaloid, diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan kemampuan menyerap sinar UV, sehingga potensial digunakan sebagai bahan aktif dalam tabir surya alami. Salah satu tanaman potensial adalah Nauclea subdita (Korth. ) Steud. , yang dikenal sebagai Bangkal di Kalimantan Selatan. Kulit kayu tanaman ini secara tradisional digunakan dalam berbagai praktik pengobatan, dan studi fitokimia menunjukkan bahwa kulit kayu Bangkal mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, dan triterpenoid. Flavonoid diketahui efektif sebagai agen photoprotektif dengan kemampuan menyerap radiasi UV dan menetralkan ROS. Bentuk sediaan sunscreen juga berpengaruh terhadap kenyamanan penggunaan dan stabilitas produk. Sunscreen stick, dibandingkan lotion dan cream, memiliki keunggulan dari segi portabilitas, kepraktisan aplikasi, dan risiko kontaminasi yang lebih rendah. Formulasi dalam bentuk stick juga memungkinkan penggunaan bahan dasar padat dan semi-padat seperti lilin alami . eeswax, candelilla wa. Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 dan minyak nabati, yang sesuai dengan tren kosmetik hijau aktif sunscreen belum pernah dieksplorasi secara lua. , dan clean beauty. inovasi sediaan . engembangan sunscreen dalam bentuk Di tengah meningkatnya permintaan akan produk stick berbasis bahan alami menawarkan kepraktisan, kosmetik berbahan alami dan keberlanjutan, inovasi dalam stabilitas, dan kenyamanan bagi pengguna, yang berbeda mengembangkan sunscreen stick berbasis ekstrak kulit kayu dari bentuk lotion atau cream yang umum digunakan dan Bangkal berpotensi menjadi terobosan yang tidak hanya pendekatan natural dan sustainable . emperkenalkan mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan hayati lokal tetapi alternatif tabir surya berbahan dasar alami untuk mengurangi juga memenuhi kebutuhan pasar akan produk perawatan ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang berpotensi kulit yang aman dan ramah lingkungan. menyebabkan iritasi atau dampak negatif terhadap Penelitian ini menjadi penting karena hingga saat ini belum terdapat studi yang mengkaji pemanfaatan ekstrak kulit kayu Bangkal dalam formulasi sunscreen stick. Selain meningkatkan inovasi penelitian, pengembangan ini juga dapat berkontribusi pada diversifikasi produk kosmetik berbasis bahan alam khas Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekstrak kulit kayu Bangkal sebagai agen pelindung terhadap sinar UV, merancang dan memformulasi sunscreen stick berbasis ekstrak kulit kayu Bangkal dan melakukan evaluasi terhadap mutu fisik dan efektivitas proteksi UV dari sediaan yang Berbagai penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai bahan aktif dalam sunscreen, seperti ekstrak teh hijau, lidah buaya, dan daun sirih. Ae. Namun, penelitian terkait penggunaan ekstrak kulit kayu Bangkal sebagai bahan tabir surya masih sangat terbatas, bahkan hampir belum ada laporan ilmiah yang mendalam di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, inovasi bentuk sediaan tabir surya dalam bentuk stick sebagian besar masih menggunakan bahan sintetis, dan penelitian tentang formulasi sunscreen stick berbahan alami, khususnya dari tanaman khas Kalimantan Selatan, belum banyak dikembangkan. Oleh karena itu, penelitian ini dapat meningkatkan inovasi dengan pendekatan yang lebih fokus METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang mempunyai tujuan mengkaji potensi ekstrak kulit kayu Bangkal sebagai agen pelindung terhadap sinar UV, merancang dan memformulasi sunscreen stick berbasis ekstrak kulit kayu Bangkal dan melakukan evaluasi terhadap mutu fisik dan efektivitas proteksi UV secara in-vitro. Alat Alat yang akan digunakan yaitu Timbangan Analitik (OHAUS). Mortir dan Stamper. Waterbath (Memmer. Objek Glass, pH Meter (PH-009(I)A). Adhesion Tester (YD-I). Oven, dan Spektrofotometri UV-Vis (Thermo Scientific GENESYS 10S). Bahan Kulit Kayu Bangkal segar dikumpulkan dari Desa Lokbuntar RT 03 RW 02 Kecamatan Haruyan Kota Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan dan diidentifikasi di Laboratorium MIPA Universitas Lambung Mangkurat. Bahan lain yang digunakan meliputi Etanol 70%. Aquades. Cera alba. Lanolin. Vaselin alba. Paraffin Cair. Isopropil miristat dan Propil paraben. Semua bahan yang digunakan adalah jenis cosmetic grade. pada keunikan bahan lokal dan inovasi bentuk sediaan. Kebaruan dari penelitian ini meliputi eksplorasi bahan lokal . emanfaatan ekstrak kulit kayu Bangkal sebagai bahan Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 Prosedur Kerja Determinasi Determinasi tumbuhan kayu bangkal dilakukan Laboratorium Lambung Biologi Mangkurat FMIPA Universitas Banjarbaru. Kalimantan Selatan. Peningkat Penetrasi Pengawet 0,18 0,18 0,18 0,18 Basis Masing-masing bahan ditimbang, kemudian masukkan cera alba, lanolin, vaselin alba kedalam Pembuatan Simplisia glass beaker lalu dileburkan diatas penangas air Tanaman Bangkal yang sudah didapatkan dikuliti hingga bersih lalu Kulit kayu bangkal Kemudian dilakukan sortasi basah dan dilakukan proses pengeringan dengan oven suhu 50AC selama 12 jam. Selama pengeringan harus di bolak balik agar kulit kayu bangkal kering dengan Lalu ditimbang hasil simplisia yang Setelah itu simplisia yang sudah kering diblender hingga menjadi serbuk dan di ayak, kemudian di timbang. paraffin cair dan isopropil miristat. Lalu tambahkan propil paraben dan aduk ad homogen. Apabila semua bahan sudah lebur dan homogen angkat glass beaker dari penangas air, ketika campuran dalam kondisi tidak terlalu panas, tambahkan Ekstrak dengan etanol 70% dengan perbandingan 1:10. Proses maserasi ini dilakukan pada suhu kamar pengadukan kurang lebih 5 menit setiap 24 jam. Lalu dilakukan penyaringan dengan kain planel waterbath suhu 70AC hingga didapatkan ekstrak pekat dengan bobot tetap. Cera Alba Lalu Selanjutnya didiamkan dengan suhu ruang dan tunggu hingga sediaan tercetak dalam wadah. Uji organoleptis dilakukan secara makroskopis dengan memeriksa bau, warna dan konsistensi Memiliki beberapa persyaratan yaitu: memiliki warna seperti zat aktif, memiliki aroma khas zat aktif dan bentuk sediaan yang padat. Homogenitas Uji Homogenitas ini dilakukan dengan cara sediaan sunscreen stick dioleskan pada sekeping kaca transparan lalu diamati. Sediaan harus terlihat adanya butiran kasar. Maka sediaan dapat Tabel 1. Formula sunscreen stick Ekstrak Kulit Kayu Bangkal Paraffin Cair Lanolin Bangkal. menunjukkan susunan yang homogen dan tidak Formulasi Sunscreen Stick Bahan Kayu pengadukan dan dimasukan ke dalam wadah stick. untuk memisahkan ampas simplisia dan maserat. Maserat Kulit Organoleptis Serbuk simplisia yang didapatkan dimaserasi dengan suhu 60AC apabila sudah lebur tambahkan Evaluasi Mutu Fisik Ekstraksi Isopropil Miristat Propil Paraben Vaselin Alba dikatakan Homogen. Fungsi Komposisi (Gra. Zat Aktif 0,001 Emolien Pelembut Peningkat 5,31 5,31 5,31 5,31 Uji pH dilakukan dengan cara mengkalibrasi alat pH stick dengan larutan buffer asam . H . dan larutan buffer basa . H 6,. Kemudian timbang sediaan sebanyak 0,5 gr dan dilarutkan dengan aquades 100 ml kemudian dileburkan dipenangas Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 Apabila sudah lebur tunggu hingga sediaan Tabel 2. Nilai EE X I Dan mulai celupkan pH meter ke dalam No. larutan sediaan. Tunggu hingga nilai pH menetap. Nilai pH larutan uji diharapkan sesuai dengan nilai pH kulit manusia yaitu berkisar antara 4,5-6,5. Daya Lekat Uji Panjang Gelombang . Total EE X I 0,25 gr, lalu Cara mengujinya yaitu dengan menimbang diletakkan diatas gelas objek. Kedua gelas objek sebanyak 1 gr sediaan, kemudian dimasukkan ditempelkan lalu diberi beban seberat 1 kg selama kedalam gelas beaker 250ml dan diencerkan 5 menit. Setelah itu angkat beban dan tarik kuas dengan etanol 70% ad 100ml. Lalu diultrasonikasi alat uji daya lekat kemudian hitung berapa lama selama 30 menit dengan suhu 56AC dan disaring kedua gelas objek tersebut terlepas. Titik Lebur kedalam labu ukur 10ml dan di kocok lalu Uji titik lebur dilakukan dengan cara sediaan Kemudian masukkan sedikit sampel kedalam kuvet, setelah ditimbang kurang lebih 1 gr dalam wadah aluminium, lalu atur suhu oven sebesar 50AC spektrofotometri Uv-Vis. selama 5 menit lalu amati sedian sampel meleleh Analisis Data atau tidak. Lalu suhu dinaikkan 1AC setiap 15 Analisis data pada penelitian ini dilakukan Amati dan catat pada suhu berapa sediaan secara desktiptif dan statistik yang menggunakan meleleh. aplikasi SPSS, dimana data deskritif meliputi uji Uji Efektivitas proteksi UV secara In-Vitro. organoleptis dan homogenitas. Sedangkan analisis Penentuan efektivitas tabir surya dilakukan data secara statistik meliputi pengukuran uji pH dengan menentukan nilai SPF secara in vitro dan uji daya lekat yang mana dilakukan uji dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Berikut normalitas dan homogen terlebih dahulu untuk cara perhitungan nilai SPF secara matematis mengetahui apakah hasil penelitian yang didapat menurut Mansur: terdistribusi secara normal atau tidak. Kemudian SPF Spectrophootometric = CF y Oc320 EE () y I () y Abs () dilakukan analisis One Way Anova yaitu untuk Keterangan: mengetahui apakah ada perbedaan bermakna = Faktor Korelasi . = Efisiensi Eriterma pada sediaan yang didapat. Apabila hasil yang = Spektrum Simulasi Sinar Surya diperoleh pO0,05 maka menunjukkan adanya Abs = Nilai serapan yang terbaca perbedaan bermakna antara formulasi masing- Nilai EE x I merupakan nilai konstan. Nilai dari panjang gelombang 290-320 nm dan setiap interval 5 nm diamati, seperti terlihat pada tabel masing sediaan. Untuk mengetahui formulasi mana yang berbeda maka dapat dilakukan uji selanjutnya yaitu uji Post Hoc untuk melihat perbedaan signifikan pada formula mana yang memiliki perbedaan. Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 HASIL DAN PEMBAHASAN e-ISSN: 2598-2095 semakin besar kontak permukaan partikel simplisia dengan pelarut. Diperoleh serbuk simplisia kering Determinasi Tanaman Bangkal merupakan suatu tanaman yang yaitu sebanyak 5 kg dari berat awal 10 kg. dapat tumbuh dilahan rawa basah tanaman ini didapat di daerah Barabai. Kalimantan Selatan. Kemudian dilakukan detarminasi di Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Kalimantan Selatan. Hasil Detarminasi menyatakan tanaman tersebut merupakan species dari Nauclea subdita (Korth. ) Steud. Berasal dari Family Rubiaceae Nauclea. Dilakukannya tanaman yang akan diuji memiliki tujuan agar mengetahui kebenaran yang berkaitan dengan ciri-ciri morfologi secara makroskopik dari tanaman Bangkal (Nauclea subdita (Korth. ) Steud. ) untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pengumpulan tanaman yang digunakan untuk tahap penelitian. Kulit kayu bangkal (Nauclea subdita (Korth. ) Steu. yang didapatkan dari kota barabai yaitu sebanyak 10 kg sampel, kemudian dilakukan sortasi basah dengan tujuan untuk memisahkan kotoran atau benda asing Sortasi menggunakan air yang mengalir untuk menghilangkan benda-benda Selanjutnya dilakukan proses pengeringan dengan cara menjemur dibawah sinar matahari kurang lebih 2 minggu hingga kulit kayu bangkal mengering dengan sekekali dibolak-balik agar kulit kayu bangkal kering dengan sempurna. Proses pengeringan ini memiliki tujuan untuk mempermudah proses pembuatan serbuk dan mengurangi kadar air agar simplisia tidak ditumbuhi oleh bakteri. Jika kulit kayu bangkal sudah kering, dilakukan sortasi kering untuk memisahkan Ekstraksi Kulit bangkal diekstraksi menggunakan metode maserasi. Pemilihan metode ini karena proses atau metode ekstraksinya yang cukup sederhana ekstraksi dingin. Pada proses ini simplisia dan pelarut tidak mengalami proses pemanasan sehingga dapat Pembuatan Simplisia Gambar 1. Simplisia kulit kayu bangkal Simplisia dihaluskan menggunakan blender yang bertujuan untuk memperluas permukaan partikel sehingga digunakan pada senyawa yang tidak tahan panas. Kekurangan dalam metode ini adalah waktu yang dibutuhkan cukup lama. Pelarut yang dugunakan adalah etanol 70%. Alasan penggunaan etanol dalam proses maserasi dikarenakan etanol relatif tidak toksik dibandingkan dengan aseton dan metanol, biaya murah, dapat digunakan pada berbagai metode ekstraksi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Riwanti . Etanol 70% merupakan pelarut yang lebih polar dari etanol 96% dan lebih non polar dari etanol 50% sehingga senyawa flavonoid yang sifatnya polar akan cenderung terlarut lebih banyak dalam etanol 70%. Pada metode ekstraksi ini dilakukan dengan perbandingan berat:volume . , simplisia sebanyak 300 gram dimasukkan ke dalam toples kaca bening, ditambahkan etanol 70% sebanyak 3000 ml, didiamkan selama 3x24 jam, ditutup menggunakan aluminium foil, dan disimpan ditempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari. Kemudian dilakukan penyaringan dan maserat yang sudah terkumpul Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 Suhu/waktu ekstraksi . ondisi suhu dan lama kontak didapatkan ekstrak kental kulit kayu bangkal (Nauclea mempengaruhi jumlah senyawa yang terekstraks. , subdita (Korth. ) Steu. diperoleh pada tabel berikut: dan kondisi bahan baku (Kadar air, ukuran partikel Tabel 3. Rendemen ekstrak serbuk, dan kondisi penyimpanan bahan simplisia Berat Serbuk . Berat Ekstrak . Randemen (%) 89,62 5,92 dapat mempengaruhi efisiensi ekstraks. Meskipun nilai rendemen ekstrak kental dalam penelitian ini sedikit lebih rendah dibandingkan penelitian pembanding, angka 5,92% masih tergolong efisien dan layak untuk dijadikan bahan baku uji lebih lanjut, seperti formulasi sediaan farmasi atau kosmetik berbasis bahan alam. Selain itu, perbedaan ini juga memberikan gambaran tentang perlunya standarisasi proses ekstraksi untuk mendapatkan hasil yang konsisten dan optimal dalam pengembangan produk Gambar 2. Ekstrak kulit kayu bangkal Ekstraksi rendemen ekstrak kental sebesar 5,92% dari 1500 Nilai menunjukkan jumlah senyawa aktif yang berhasil ditarik dari bahan baku menggunakan metode dan Rendemen merupakan salah satu parameter penting berbasis kulit kayu bangkal. Evaluasi Mutu Fisik Organoleptis Uji Organoleptis dilakukan untuk mengamati sediaan secara visual yang meliputi bentuk, bau dan warna pada sediaan. untuk menilai efisiensi proses ekstraksi, karena berkaitan dengan potensi ketersediaan bahan aktif Jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raharjo, et. , rendemen yang diperoleh dalam penelitian mereka adalah sebesar 6,29%, yang sedikit lebih tinggi daripada hasil penelitian ini. Perbedaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya jenis pelarut yang digunakan . elarut dengan polaritas yang berbeda akan melarutkan senyawa aktif dengan Gambar 3. Sunscreen stick esktrak kulit kayu F0 (A). F1 (B). F2 (C). F3 (D). Hasil pengamatan uji organoleptis sediaan dapat dilihat pada Tabel 4. profil kimia tertent. , metode ekstraksi . eknik ekstraksi seperti maserasi, refluks, soxhletasi, atau ekstraksi modern ultrasonik/mikrogelombang dapat Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 Tabel 4. Hasil uji organoleptik Formula Replikasi Hasil Pengamatan Warna Aroma Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Kuning Khas Basis Khas Ekstrak Padat Coklat Bangkal Khas Ekstrak Padat Coklat Bangkal Khas Ekstrak Padat Coklat Bangkal Bentuk Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Padat Pada uji organoleptis yang dilakukan yaitu dengan melihat hasil observasi yang dilakukan secara visual. Uji ini mencakup pengujian dalam Pada F0. F1 dan F2 memiliki bentuk yang padat, berwarna kuning serta aroma khas Sedangkan untuk F3 sendiri didapatkan bentuk yang padat, memiliki warna coklat serta Gambar 4. Gambar uji homogenitas sunscreen stick esktrak kulit kayu bangkal. F0 (A). F1 (B), F2 (C). F3 (D). Hasil pengamatan uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 5. Hasil uji homogenitas Formula memiliki aroma khas ekstrak kulit kayu bangkal. Dapat dikatakan pada semua formula sesuai penelitian Tahir, et. bahwa pada uji Replikasi Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen Tidak Homogen Tidak Homogen Tidak Homogen organoleptis seharusnya sediaan menghasilkan Pada Uji Homogenitas pada F0. F1 dan F2 warna seperti zat aktif, memiliki aroma khas zat didapatkan hasil yang homogen karena tidak aktif dan bentuk sediaan yang padat. adanya butiran kasar saat sediaan dioleskan Homogenitas glass,hal ketentuan yang mana suatu sediaan harus mengetahui ada atau tidaknya butiran kasar yang menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terdapat pada sediaan. Uji ini bertujuan agar terlihat adanya butiran kasar. Sedangkan mengetahui apakah sediaan yang dibuat sudah pada F3 didapatkan hasil yang tidak homogen tercampur merata atau tidak. atau tidak merata dikarenakan masih terdapat Uji Homogenitas butiran-butiran ekstrak yang mungkin tidak larut saat proses pengadukan pembuatan formula serta bisa juga dikarenakan konsentrasi ekstrak yang terlalu tinggi. Menurut penelitian terdahulu Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 yang telah dilakukan oleh Ambari, et. bahwa data terdistribusi normal dan homogen nilai signifikansi Ou0,05. Sedangkan efektivitas terapi karena berhubungan dengan Analisis One Way Anova yaitu memperoleh hasil kadar zat aktif yang sama pada setiap pemakaian, yang signifikan antara semua formula dengan jika suatu sediaan telah homogen maka kadar zat nilai sig 0,031 (O0,. Maka dapat dikatakan aktif pada saat pemakaian diasumsikan akan bahwa pada semua formula terdapat perbedaan selalu sama. Setiap bagian zat aktif harus pH yang signifikan. Daya Lekat menempati tempat terapi, sebaliknya setiap Pada uji daya lekat dilakukan agar mengetahui bagian tempat terapi memiliki kesempatan yang sama untuk dapat kontak dengan zat aktif, permukaan kulit. Hasil Uji daya lekat dapat dilihat kondisi ini dapat tercapai bila suatu sediaan pada diagram berikut: Rata-rata Daya Lekat (Deti. Uji pH ini dilakukan agar mengetahui nilai pH pada sediaan. Uji ini bertujuan agar tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Hasil Uji pH dapat dilihat pada Diagram berikut: 26,58A3,20 26,77A0,76 27,31A1,59 Rata-rata Nilai pH 77A0,87 5,60A0,15 5,53A0,09 5,43A0,04 5,32A0,04 Gambar 6. Diagram rata-rata daya lekat Pada uji daya lekat semua formula memiliki waktu Ou4 detik yang mana hasil tersebut sudah memenuhi persyaratan daya lekat yang baik. Gambar 5. Diagram rata-rata nilai pH Standar daya lekat Ou4 detik . Daya lekat Pada uji pH menunjukkan bahwa nilai pH pada menggambarkan kemampuan dari suatu sediaan semua formula memiliki pH yang normal dan untuk melekat pada kulit ketika dipakai. Makin memenuhi persyaratan pH kulit manusia yaitu baik daya lekat, berarti makin lama waktu berada pada rentang 4,5-6,5 hal ini sesuai sediaan melekat pada kulit. Hal itu diharapkan dengan penelitian Roosevelt, et. serta memenuhi syarat SNI . ,5-. Apabila nilai pH absorpsi obat pada kulit dan dapat memberikan terlalu tinggi (Ou6,. maka akan menyebabkan aksi terapeutik yang lebih optimal. Parameter kulit kering dan bersisik sedangkan jika nilai pH yang digunakan adalah waktu lekat . terlalu rendah (O4,. maka akan menyebabkan Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk iritasi pada kulit. Berdasarkan hasil analisis dapat lepasnya suatu objek gelas dari objek gelas yang dilihat dari Shopiro-wilk yang menunjukkan lain yang telah diolesi dengan sediaan sunscreen lama bagi Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 stick, kemampuan melekat dari sediaan yang diuji Rata-rata Nilai Titik Lebur (AC) semakin besar. Perubahan daya lekat pada sediaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor Hasil penelitian ini menunjukkan 63A0 bahwa perubahan daya lekat disebabkan adanya perbedaan konsentrasi ekstrak kulit kayu bangkal yang ditambahkan ke dalam masing-masing 60A0 formula sediaan sunscreen. Penambahan kadar ekstrak yang berlainan ini dapat merubah Gambar 7. Diagram rata-rata nilai titik lebur konsistensi dari sediaan. Semakin besar kadar Dari hasil uji titik lebur dapat dilihat pada ekstrak yang ditambahkan, konsistensi dari semua formula memiliki titik lebur yaitu diatas sediaan stick akan semakin padat dan hal ini akan 50AC yang mana hasil ini sesuai dengan ketentuan titik lebur yaitu kisaran 50-70AC. Hal ini lekatnya. Dapat dilihat dari diagram diatas menunjukkan bahwa sediaan akan aman pada suhu ruang dan tidak akan cepat meleleh dan ditambahkan kedalam formula maka semakin lama juga waktu daya lekatnya. Semakin tinggi konsentrasi Berdasarkan hasil analisis normalitas yang ekstrak maka vaselin yang digunakan semakin dapat dilihat dari Shopiro-wilk yang menunjukkan berkurang tetapi jumlah wax seperti cera alba bahwa data terdistribusi normal dan homogen nilai signifikansi Ou0,05. Sedangkan meningkatnya jumlah padatan dalam sediaan Analisis One Way Anova terdapat perbedaan daya lekat yang signifikan. 7,67A0,26 6,18A0,10 Uji titik lebur ini dilakukan agar mengetahui Hasil Uji Titik Lebur dapat dilihat pada diagram berikut: Rata-rata Nilai SPF dapat dikatakan bahwa pada semua formula Titik Lebur Uji Efektivitas proteksi UV secara In-Vitro formula dengan nilai sig O0,05 yaitu 0,000. Maka stick yang menyebabkan titik leleh menjadi tinggi. memperoleh hasil yang signifikan antara semua 4,34A0,24 2,38A0,02 0,03A0,07 Kontrol Gambar 8. Diagram rata-rata nilai SPF Setelah dilakukan evaluasi mutu fisik, sediaan akan dilakukan pengujian tabir surya secara in-vitro Spektrofotometri UV-Vis mengetahui nilai absorbansi dari panjang gelombang 290-320 nm dan kemudian dihitung nilai SPFnya. Pada uji ini menggunakan larutan blanko . tanol 70%) yang Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 berfungsi sebagai pengoreksi absorbansi senyawa kandungan senyawa fenolik khususnya golongan kimia yang akan diukur dan kontrol positif ( ) flavonoid. Berdasarkan penelitian yang telah menggunakan Produk dari Sunsscreen Stick Wardah dilakukan oleh Wardhani dan Akhyar . , senyawa sebagai pembanding. Dibuat juga Formula tanpa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak ekstrak yaitu F0 sebagai pembanding antara sediaan kulit batang bangkal adalah senyawa golongan yang tidak mengandung ekstrak atau kontrol negatif Senyawa fenolik seperti flavonoid dapat (-) dan yang mengandung ekstrak kulit kayu bangkal. berperan sebagai tabir surya untuk mencegah efek Penentuan SPF ditentukan berdasarkan kategori yang merugikan akibat radiasi UV pada kulit. Pada proteksi menurut nilai SPF, yaitu nilai SPF 2-4 kategori flavonoid terdapat gugus kromofor . katan rangkap proteksi minimal, 4-6 kategori proteksi sedang, 6-8 tunggal terkonjugas. yang mempunyai kemampuan kategori proteksi ekstra, 8-15 kategori proteksi menyerap radiasi sinar UV A dan UV B sehingga dapat maksimal dan Ou15 kategori proteksi ultra. mengurangi intensitas sinar UV yang mengenai Pada Formula 0 . anpa ekstra. didapatkan nilai kulit. rata-rata SPF yaitu 0,03A0,07, nilai ini tidak memiliki Berdasarkan hasil analisis normalitas yang dapat efek perlindungan untuk kulit. Pada Formula 1 dengan dilihat dari Shopiro-wilk yang menunjukkan bahwa konsentrasi 0,001 gr didapatkan nilai rata-rata SPF data terdistribusi normal dan homogen dengan nilai yaitu 2,38A0,02, memiliki tingkat kemampuan tabir signifikansi Ou0,05. Sedangkan Analisis dengan One surya dengan proteksi minimal. Pada Formula 2 Way Anova yaitu memperoleh hasil yang signifikan dengan konsentrasi 0,1 gr didapatkan nilai rata-rata antara semua formula dengan nilai sig O0,05 yaitu SPF yaitu 4,34A0,24, memiliki tingkat kemampuan 0,000. Maka dapat dikatakan bahwa pada semua tabir surya dengan proteksi sedang. Pada Formula 3 dengan konsentrasi 10 gr didapatkan nilai rata-rata Berdasarkan uji Post Hoc didapatkan hasil bahwa SPF yaitu 6,18A0,10, memiliki tingkat kemampuan semua formula baik F0. F1. F2. F3 dan kontrol positif tabir surya dengan proteksi Ekstra. Sedangkan pada ( ) memiliki perbedaan yang signifikan pada masing- kontrol dengan nilai rata-rata SPF yaitu 7,67A0,26, masing formula. memiliki tingkat kemampuan tabir surya dengan proteksi Ekstra. Dapat dilihat dari semua formula SPF KESIMPULAN Ekstrak kulit kayu bangkal dapat diformulasikan peningkatan ekstrak. Peningkatan ekstrak dilakukan dalam sediaan sunscreen stick. Serta hasil evaluasi agar dapat memberikan hasil potensi tabir surya yang mutu fisik semua sediaan memiliki hasil yang baik dan lebih besar pada sediaan. sesuai dengan persyaratan yang ada. Semua sediaan Dapat dilihat dari hasil diatas dengan adanya memiliki bentuk, warna dan bau yang sesuai serta peningkatan konsentrasi ekstrak yang diikuti dengan homogen kecuali pada F3 tidak homogen. Memiliki pH meningkatnya absorbansi, sehingga semakin besar yang sesuai dengan pH kulit . ,5-6,. dan daya lekat konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula nilai Sun yang tidak kurang dari 4 detik. Protection Factor (SPF), demikian pula dengan Hal Pada uji tabir surya didapatkan nilai SPF pada F1 SPF 2,38 dengan proteksi minimal. Pada F2 SPF 4,34 dikarenakan dalam tumbuhan tersebut terdapat Healthy-Mu Journal. Vol. 9 No. Juni 2025. Page 64 Ae 75 e-ISSN: 2598-2095 dengan proteksi sedang dan yang paling tinggi berada pada F3 SPF 6,18 dengan proteksi ekstra. Maka dapat 4. :53Ae9. Febrianto Y. Apriliani FN. Formulasi Sediaan disimpulkan bahwa semua formula dapat melindungi Lipstik Menggunakan Ekstrak Kulit Buah Naga kulit dari sinar UV. Merah (Hylocereus Costaricensi. Dengan Kombinasi Beeswax dan Paraffin Wax. J Farm UCAPAN TERIMAKASIH