Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Analisis dimensi berpikir kritikal dalam program membaca ekstensif Stella Pranciscaa,1. Ana Fergina b,2. Muhammad Ainur Rizkyc,3. Fajar Aminullahd,4. Decky Y. Ndaumanue,5. Endah Setya Ningsihf,6 ab FKIP Universitas Tanjungpura. Jalan Prof Dr H. Hadari Nawawi. Pontianak 78124. Indonesia cdef UPT Bahasa Universitas Tanjungpura. Jalan Prof Dr H. Hadari Nawawi. Pontianak 78124. Indonesia 1 stellaguru123@untan. 2 anafergina@untan. 3 ainurrizqi89@untan. fajar1991@gmail. 5deckynd@untan. esn@untan. INFO ARTIKEL Sejarah Artikel: Diterima: 4 April 2023 Direvisi: 18 Juni 2023 Disetujui: 20 September 2023 Tersedia Daring: 1 Januari 2024 Kata Kunci: Berpikir Kritis Membaca Ekstensif Reading Log Keywords: Critical Thinking Extensive Reading Reading Log ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi berpikir kritis dalam program membaca ekstensif. Metode penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian akan terdiri dari siswa-siswa pada tingkat pendidikan tertentu yang mengikuti program membaca ekstensif di sekolah-sekolah terpilih. Pengumpulan data akan dilakukan melalui tes yang menguji kemampuan berpikir kritis siswa dan reading logs. Data yang terkumpul dari tes berpikir kritis kemudian dianalisis secara statistik, sedangkan data reading log diolah dengan menggunakan pendekatan analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan hasil tes berpikir kritis siswa sebelum dan setelah mengikuti program membaca ekstensif. Program membaca ekstensif yang diterapkan oleh peneliti mungkin tidak secara langsung menciptakan perubahan yang signifikan dari segi nilai rata-rata, namun hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa program tersebut secara efektif meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Oleh karena itu, meskipun hasil uji signifikansi mampu memberikan gambaran tentang apakah perubahan yang terjadi antara Pre-Test dan Post-Test bersifat acak atau tidak, hasil analisis Ho lebih menyoroti dampak substansial yang dicapai melalui treatment yang peneliti berikan. ABSTRACT This research aims to analyze the dimensions of critical thinking in an extensive reading program. The research method that will be used is qualitative research with a case study approach. The research subjects will consist of students at certain educational levels who take part in extensive reading programs at selected schools. Data collection will be carried out through tests that test students' critical thinking skills and reading logs. The data collected from the critical thinking test was then analyzed statistically, while the reading log data was processed using a qualitative analysis The results of this research show that there are differences in students' critical thinking test results before and after participating in the extensive reading program. The extensive reading program implemented by researchers may not directly create significant changes in terms of average grades, but the results obtained show that the program effectively increases students' understanding and critical thinking abilities. Therefore, although the results of the significance test are able to provide an idea of whether the changes that occurred between the Pre-Test and Post-Test were random or not, the results of the Ho analysis further highlight the substantial impact achieved through the treatment that the researcher provided. A2024. Stella Prancisca. Ana Fergina. Muhammad Ainur Rizky. Fajar Aminullah. Decky Y. Ndaumanu. Endah Setya Ningsih This is an open access article under CC BY-SA license Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: xx-xx ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Pendahuluan Pendidikan abad 21 menuntut pembelajar untuk memiliki keterampilan yang berbeda dengan pembelajaran dimasa sebelumnya. Banyak pakar percaya bahwa ada empat keterampilan yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran abad 21. Empat keterampilan tersebut dikenal sebagai 4Cs. P21 Partnership for 21st Century Learning, . yaitu keterampilan berpikir kritis . ritical thinkin. , komunikasi . , kolaborasi . , dan kreativitas . Berdasarkan studi yang dilakukan oleh beberapa pakar Facione, . Amabile, . dijelaskan bahwa 4Cs menjadi keterampilan yang sangat penting diabad ke-21 karena dapat menyiapkan pembelajar untuk menghadapi tantangan dan perubahan yang lebih dinamis di masa depan. Oleh karena itu, melatih keempat kemampuan tersebut di dalam dunia pendidikan dinilai sangat penting saat ini. Dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi, banyak pakar percaya bahwa kemampuan berpikir kritis . ritical thinkin. merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki dan dilakukan oleh para pembelajar/mahasiswa dalam menghadapi tuntutan pembelajaran di Menurut penelitian yang dilakukan oleh Facione . , keterampilan kritis mempengaruhi kemampuan seorang pembelajar untuk memecahkan masalah dan isu di berbagai bidang ilmu lewat kemampuan memproses informasi secara kritis dan analitis. Hal ini didukung oleh Ennis . dalam konteks pendidikan, mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan lebih mampu menghadapi berbagai masalah akademik dan memecahkannya dengan cara yang lebih efektif. Dengan memiliki tingkat berpikir kritis yang tinggi, mereka juga mampu untuk mengembangkan argumen yang kuat Paul & Elder, . dan memiliki toleransi yang tinggi dalam menghadapi perbedaan perspektif dalam diskusi akademik (Bailin, 2. Melihat besarnya pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap pengembangan intelektual pembelajar, beberapa pendidik telah menjadikan kemampuan berpikir kritis sebagai landasan penting dalam pendidikan (Elder & Paul, 2. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengaruh daya berpikir kritis pembelajar terhadap perkembangan belajar bahasa Inggris, khususnya dalam kemampuan membaca . eading comprehensio. dalam menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat inferensi dan menarik kesimpulan (Aloqaili, 2. meningkatkan kemampuan membaca . eading comprehensio. pada pelajar bahasa Inggris dalam konteks English as a Foreign Language (EFL) Fahim & SaAoeepour, . dan meningkatkan interaksi dengan bacaan (Handayani, 2. Mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan lebih memahami materi yang disampaikan oleh dosen dan membaca teks akademik dengan lebih efektif (Halpern, 2. Menimbang urgensi untuk melatih keterampilan berpikir kritikal. Wilson . mengatakan keterampilan tersebut dapat dikembangkan dengan melatih kemampuan membaca dalam jumlah input yang besar. Salah satu cara untuk memberikan input bahasa dalam jumlah yang besar adalah dengan melalui program membaca ekstensif . xtensive readin. Program membaca ekstensif adalah pendekatan pembelajaran bahasa kedua dimana pembelajar harus membaca buku dengan jumlah yang besar (Day, 2. Program membaca ekstensif telah menjadi fokus perhatian di dunia pendidikan bahasa Inggris dalam konteks English as Second Language (ESL) dan English as a Foreign Language (EFL) selama beberapa dekade terakhir. Salah satu alasan utama adalah bahwa program ini terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi membaca dan kuantitas bacaan (Ro, 2. , meningkatkan kemampuan membaca teks akademik Nhapulo. Simon, & Herreweghe, . , dan meningkatkan kemampuan kebahasaan (Day, 2015. Jeon & Day, 2016. Liu & Zhang, 2018. Rodrigo et al. , 2016. Suk. Yamashita, 2. Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan pengaruh positif membaca ekstensif terhadap perkembangan kompetensi kebahasaan pembelajar, masih ditemukan sedikit penelitian yang membahas tentang pengaruh membaca ekstensif terhadap perkembangan keterampilan berpikir kritis bagi pembelajar. Salah satu diantaranya adalah studi yang dikembangkan oleh Husna . terhadap 40 mahasiswa S1 pendidikan bahasa Inggris. Penelitiannya menunjukkan bahwa ada potensi besar jika dapat mengintegrasikan aktivitas yang dapat mengasah keterampilan berpikir kritis ke dalam membaca ekstensif. Dalam penelitian tersebut disebutkan beberapa aktivitas yang dilakukan untuk mengasah keterampilan berpikir kritis seperti membuat tanggapan terhadap buku yang dibaca . , membuat ringkasan . , dan presentasi . dilakukan berulang kali dan diperlukan peran aktif dan kreatif pengajar sebagai fasilitator. Dimana pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan aktivitas book review dan membuat ringkasan . Sebagai penguat untuk melaksanakan penelitian ini, dalam bagian diskusi dinyatakan bahwa mahasiswa yang melaksanakan aktivitas yang mengasah keterampilan berpikir kritis seharusnya menerima instruksi yang jelas tentang bagaimana cara melaksanakan aktivitas tersebut dengan benar, tetapi aktivitas ini tidak dapat dilakukan hanya dalam satu kali sesi saja (Husna, 2. Selain memberikan maanfaat kebahasaan bagi pembaca, program membaca ekstensif dalam kelas bahasa Inggris juga dapat memberikan beragam perspektif tentang permasalahan yang terdapat dalam buku bacaan. Saat membaca, imaginasi dan pikiran pembaca akan masuk ke dalam karakter dan permasalahan di buku dan mengaktifkan aspek kognitif yang mana akan meningkatkan kreatifitas, imaginasi dan kepercayaan diri. Manfaat terhadap meningkatnya kemampuan berpikir kritis akan bertambah dengan melakukan aktivitas tambahan setelah membaca yaitu book review. Dengan melakukan book review, pengajar yang mengintegrasikan literatur di dalam kelas bahasa akan memiliki kekuatan untuk meningkatkan daya pikir di kalangan peserta didik. Hal ini berasal dari input membaca yang mengandung imajinasi dan kreatifitas yang membantu pembelajar meningkatkan kemampuan berpikir dan kekuatan inovatif mereka (Khonamri & Farzanegan, 2. Dalam melatih kemampuan berpikir kritikal diperlukan waktu yang panjang dan instruksi yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik dan guru (Husna, 2. Studi Korelasi tentang hubungan berpikir kritis dengan membaca ekstensif di kelas EFL juga dilakukan terhadap 40 mahasiswa universitas di Iran. Penelitian yang dilaksanakan dalam 4 minggu dengan mengimplementasikan program membaca ekstensif dengan dua buku pilihan dan pertanyaan berpikir kritikal menunjukkan korelasi yang tinggi antara indeks berpikir kritis dan membaca ekstensif yait. dengan derajat kebebasan (N-1 = . (Eftekhary & Kalayeh. Penelitian yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritikal ini dipandang sangat penting bagi mahasiswa karena kurangnya perhatian terhadap kemampuan ini ditingkat pendidikan tinggi. Penelitian ini telah menunjukkan kemampuan berpikir kritikal mampu meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa dan menilai kelemahan dan kekuatan Dengan melihat urgensi tentang melatih keterampilan berpikir kritis, penelitian kali ini mencoba untuk menganalis kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam kegiatan membaca Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, nantinya para pembelajar akan membaca beberapa buku yang mereka pilih dan diminta untuk membuat respon yang menguji daya berpikir kritis mereka. Penelitian ini juga akan melihat aspek berpikir kritis pembelajar mana yang berkembang signifikan dalam merespon bacaan yang diberikan. Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Berdasarkan research gap yang telah dipaparkan diatas, peneliti memformulasikan 2 pertanyaan penelitian seperti berikut: Dimensi berpikir kritis apa saja yang terlihat saat mahasiswa melakukan membaca Apa aspek berpikir kritis yang paling signifikan diperlihatkan oleh mahasiswa saat melakukan membaca ekstensif? Metode Penelitian ini menginvestigasi dimensi berpikir kritis apa saja yang akan terlatih dan mendominasi saat partisipan melakukan program membaca ekstensif. Oleh karena itu, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif guna mendapatkan gambaran menyeluruh dan informasi tanggapan partisipan dalam menggunakan kemampuan berpikir kritikal mereka dalam proses membaca ekstensif. Dalam konteks penelitian ini, pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi dan memahami dimensi berpikir kritis yang muncul dari data yang terkumpul (Creswell, 2. Dengan demikian, peneliti dapat menghasilkan wawasan yang mendalam tentang dinamika dimensi berpikir kritis yang terlatih dalam program membaca ekstensif secara holistik dan kontekstual. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Barat. Indonesia. Penelitian ini melibatkan satu kelas yang berisi 50 orang mahasiswa yang berasal dari program studi non-bahasa Inggris. Mahasiswa kelas ini melaksanakan program membaca ektensif selama satu semester. Jumlah bacaan mereka dalam satu minggu adalah 1 buku. Untuk kebutuhan riset, mereka diberi 15 buku pilihan dan mereka diminta memilih 10 buku untuk Dari sisi kemampuan berbahasa Inggris, para mahasiswa ini telah mengikuti tes pemetaan kemampuan bahasa Inggris melalui tes seperti TOEFL dengan rata-rata skor mereka adalah dibawah nilai 425 yang juga bisa dianggap berada dikategori kemampuan bahasa Inggris yang rendah. Dalam penelitian ini, data diambil dari satu set soal yang menguji kemampuan berpikir kritis siswa. Tes yang berisi 30 pertanyaan ganda ini diambil dari Learning Express LLC (Starkey, 2. Setelah mengikuti tes, peserta akan mengikuti program membaca ekstensif (ER) di mana peserta akan membaca sebanyak minimal 4 buku dalam 1 bulan. Untuk penelitian ini, kriteria buku yang dipilih adalah buku bergenre fiksi, memiliki level yang mudah . , terdapat alur narasi dan konflik cerita didalamnya. Setiap minggu, peserta harus membaca satu buku bacaan lalu menjawab pertanyaan dalam online reading journal melalui google form yang disediakan. Setelah membaca, mereka diminta menjawab beberapa pertanyaan open-ended questions dimana pertanyaan ini berfungsi melatih kemampuan berpikir kritis partisipan. Setelah semua data terkumpul, penelitian ini kembali memberikan tes kemampuan berpikir kritis seperti di awal. Data yang telah dikumpulkan terdiri dari dua jenis. Data pertama dihasilkan dari dua kali tes berpikir kritis, sebelum dan setelah program dilaksanakan. Hasil tes ini akan diolah secara statistik untuk mengetahui apakah hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa berbeda antara sebelum dan setelah partisipan mengikuti program ER. Kemudian, hasil reading logs siswa diolah secara kualitatif untuk mendukung atau memvalidasi hasil pada perhitungan statistik. Hasil dan Pembahasan Hasil Tes berpikir kritis dilakukan sebelum dan setelah program membaca ekstensif berjalan. Terdapat tiga puluh pertanyaan dalam setiap tes, dan tingkat kepercayaan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah 95%, dengan tingkat alpha sebesar 0,05. Artinya, hasil perhitungan Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. statistik ini memiliki 5% kemungkinan kesalahan dan dapat diterima dengan tingkat kepastian Untuk mengetahui berapa perbedaan antara pre-test dan post-test, perhitungan mean dilakukan terlebih dahulu. Hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation Std. Error Mean PRE TEST POST TEST Tabel 1 menunjukkan nilai rata-rata Post Test yang dilakukan terhadap 29 mahasiswa adalah sebesar 16,27. Hasil ini lebih tinggi dibandingkan nilai Pre Test yaitu sebesar 11,86. Terdapat peningkatan skor rata-rata sebelum dan setelah mahasiswa mendapatkan treatment sebesar 4,41. Hal ini menunjukkan bahwa program membaca ekstensif meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun, perhitungan tambahan diperlukan untuk menentukan apakah peningkatan tersebut signifikan. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 2. Tabel. 2 Paired Samples Correlation Pair 1 PRE TEST & POST TEST Correlation Sig. KRITERIA A Nilai signifikansi . -taile. < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dengan nilai Post Test. A Nilai signifikansi . -taile. > 0,05 menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dengan nilai Post Test. Namun, untuk mengukur kebermaknaan hasil ini, dilakukan uji signifikansi dengan nilai p=0,598. Kriteria yang digunakan menyatakan bahwa jika nilai signifikansi . -taile. < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dan Post Test. Namun, dalam kasus ini, nilai signifikansi yang diperoleh . lebih besar dari batas signifikansi yang Oleh karena itu, hipotesis nol diterima, dan dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dan Post Test mahasiswa di kelas Tabel 3. Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Mean Pair 1 PRE TEST POST TEST -4,41379 Std. Deviation Std. Error Mean 6,71096 1,24619 Lower Upper -6,96650 -1,86108 -3,542 Sig. ,001 HIPOTESIS Ho : tidak ada perbedaan nilai sebelum dan sesudah dilakukan treatment Ho : nilai sebelum dan sesudah treatment sama Ha : ada perbedaan nilai sebelum dan sesudah dilakukan treatment Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Ha : sebelum tidak sama dengan sesudah . ebelum < sesuda. , . ebelum>sesuda. Ae 2 KRITERIA A Ho ditolak bila nilai t. diluar t. A Ho ditolak bila nilai sig 2 tailed < 0. Namun, analisis ini tidak berhenti pada penolakan atau penerimaan hipotesis nol. Melalui uji hipotesis. Ho diterima karena nilai sig 2 tailed . < 0,025, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai sebelum dan setelah mahasiswa mendapatkan Hasil ini memberikan perspektif yang berbeda dan mengindikasikan bahwa, meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dan Post Test, namun terdapat dampak yang signifikan dari treatment yang diterapkan. Hal ini juga dapat ditunjukkan oleh kutipan verbatim mahasiswa yang diperoleh dari jurnal membaca yang diisi mahasiswa setelah melakukan aktivitas membaca. Secara umum, sebagian besar mahasiswa telah menunjukkan kemampuan berpikir kritis mereka dari segi mengevaluasi cerita, meskipun belum banyak yang menunjukkan kemampuan memberikan alasan dan argumen yang jelas. Meskipun demikian, dapat disimpulkan program membaca ekstensif yang diterapkan oleh peneliti terhadap mahasiwa di kelas tersebut dinyatakan Student 1 Pada siang hari yang cerah kakek mengajak Ben dan Rosie ke Museum. Sesampainya dibioskop Ben dan Rosie bertemu dengan teman kakeknya Ben dan Rosie pun mulai melihat lihat sekeliling dari musium itu. Ben tertarik sama vas tua bewarna biru. Ben menunjuk sebuah gambar besar, ia dan Clunk menyukai warna warni pada gambar itu. kemudian mereka bertiga mendengar dan melihat seseorang dijendela museum itu. ternyata itu merupakan dua orang perampok yang akan mencuri karya seni di museum itu. salah satu perampok itu telah memegang vas biru dan mereka tertarik pada patung patung, saat ia mendekati patung itu clunk pun berbicara, mereka pun terkejut dan tak sengaja menjatuhkan vas biru dari tangan Clunk dengan sigap menangkap vas itu, kedua perampok itu pun melarikan diri kearah kakek, bill bersama polisi pun datang dan menangkap perampok itu. Bil berterima kasih pada Clunk karena telah menyelamatkan vas tua itu setelah itu mereka pun pulang. Kesimpulan: Dari cerita ini dapat disimpulkan kakek Ben Rosie dan Clunk pergi ke museum. Saat melihat sekeliling museum itu mereka bertiga melihat 2 orang prampok yang akan mencuri karya seni di museum, aksi perampokan itu pun dapat digagalkan oleh mereka, bill bill berterima kasih karena mereka telah menyelamatkan karya seni itu. Diakhir cerita , seharusnya Ben . Rosie , dan clunk tidak mengetahui perampok yang ingin mencuri karya seni museum , kemudian kedua perampok berhasil mencuri karya seni museum tersebut dan menjualnya . Dan berita kehilangan karya seni museum pun viral kemudian kedua perampok itu menjadi buronan dan tak lama kemudian perampok itu di tangkap oleh polisi. Student 2 Ali Baba menemukan markas pencuri, lalu Dia mengambil barang milik pencuri, dia di incar oleh para pencuri namun para pencuri itu digagalkan oleh pelayan Ali Baba. Dari cerita ini Ali Baba mendapat banyak harta dari pencuri. Alternatif akhir cerita: Ali Baba tidak dibantu oleh pelayannya, malah sebaliknya dia dikhianati dan terbunuh. Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Student 3 Buku yang berjudul "Peach Boy" ini menceritakan sebuah kisah kehidupan antara seorang pria dan wanita tua yang menemukan buah besar berupa buah persik. Namun, ketika dibuka ternyata isinya adalah seorang bayi lalu dipanggil dengan Momotaro yang sangat kuat sehingga pada suatu hari datang para ogre yaitu yang merusak desa dan mengambil harta rakyat, lalu si Momotaro ingin melawannya dengan meminta pangsit dan tongkat besar kepada pria dan wanita tua tadi dan mengajak anjing, burung pegar dan monyet untuk bersama melawan para ogre dan semuanya pun berkelahi dan pada akhirnya para ogre pun kalah dan Momotaro pun membawa semua harta ke Desa. Dari buku yang saya baca dapat disimpulkan bahwa kejadian-kejadian pada cerita dongeng tersebut adalah cukup menarik dikarenakan di dalam buah terdapat seorang bayi yang sangat kuat yang ingin melawan pemberontak dengan meminta pangsit kepada pria dan wanita yang telah membesarkannya sehingga akhirnya pun menang. Akhir cerita yang ingin saya buat ketika para ogre menyerang adalah si Momotaro langsung menyerang para pemberontak sendirian dengan memakan pangsit terlebih dahulu dan membawa tongkat besar dengan langsung menyerang sendirian dan diakhiri dengan kemenangan. Pembahasan Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi dampak program membaca ekstensif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hasil analisis data menunjukkan beberapa temuan yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut terkait efektivitas metode yang diterapkan oleh peneliti dalam program membaca ekstensif. Dari data yang dikumpulkan, terlihat bahwa nilai rata-rata Post Test yang dilakukan terhadap 29 mahasiswa adalah sebesar 16,27, yang mengalami peningkatan signifikan dari nilai Pre Test sebesar 11,86. Peningkatan skor rata-rata antara sebelum dan setelah mahasiswa mendapatkan treatment membaca ekstensif adalah sebesar 4,41, menunjukkan bahwa program membaca ekstensif yang diterapkan oleh peneliti dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa setelah diberikan program membaca ekstensif (Husna, 2. Meskipun dari hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai Pre Test dan Post Test mahasiswa di kelas tersebut, namun terdapat dampak yang signifikan dari program membaca ekstensif yang diterapkan. Hal ini ditunjukkan dengan sebagian besar mahasiswa mampu merangkum dan menyimpulkan isi cerita dengan menggunakan kata-katanya sendiri dalam jurnal membaca yang diberikan. Selain itu, contoh lain yang menunjukkan dampak membaca ekstensif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa adalah sebagian besar dari mereka mampu memberikan alternatif akhir cerita versi mereka sendiri, meskipun belum banyak yang memberikan alasan mengapa akhir cerita versi mereka lebih baik dari pada versi aslinya. Hasil ini merupakan bagian dari kriteria penilaian untuk menunjukkan bahwa program membaca ekstensif telah mendukung mahasiswa untuk melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa dari dimensi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan pengontrolan diri yang digagas oleh (Facione, 2. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa program membaca ekstensif yang diterapkan oleh peneliti mungkin tidak secara langsung menciptakan perbedaan yang signifikan dalam nilai rata-rata, tetapi secara efektif meningkatkan pemahaman atau keterampilan berpikir kritis mahasiswa secara keseluruhan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kompleksitas materi cerita. Gaya belajar mahasiswa, atau metode evaluasi yang digunakan. Oleh karena itu, sementara uji signifikansi memberikan pandangan tentang apakah perbedaan antara Pre Test dan Post Test bersifat acak atau tidak, analisis Ho menyoroti dampak substansial yang telah dicapai melalui treatment. Stella Prancisca et. al (Analisis Dimensi Berpikir Kritikal. Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2024. Page: 438-447 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Dalam konteks ini, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mungkin memengaruhi hasil. Selain itu, penelitian lebih lanjut dapat diarahkan untuk mengeksplorasi bagaimana program membaca ekstensif dapat disesuaikan atau ditingkatkan agar dapat memberikan perbedaan yang signifikan dalam hasil evaluasi mahasiswa. Dengan demikian, penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk merinci dan memahami lebih lanjut dampak program membaca ekstensif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Kesimpulan Program membaca ekstensif yang diterapkan oleh peneliti mungkin tidak secara langsung menciptakan perubahan yang signifikan dari segi nilai rata-rata, namun hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa program tersebut secara efektif meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara keseluruhan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya kompleksitas materi cerita, gaya belajar mahasiswa, ataupun metode evaluasi yang digunakan. Oleh karena itu, meskipun hasil uji signifikansi mampu memberikan gambaran tentang apakah perubahan yang terjadi antara Pre-Test dan Post-Test bersifat acak atau tidak, hasil analisis Ho lebih menyoroti dampak substansial yang dicapai melalui treatment yang peneliti berikan. Evaluasi lebih lanjut dirasa sangat diperlukan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi, dan penelitian lanjutan dapat lebih mengeksplorasi bagaimana program membaca ekstensif dapat disesuaikan kembali atau ditingkatkan lagi untuk menghasilkan perubahan yang lebih signifikan dalam evaluasi Dengan demikian, penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk merincikan dan memahami lebih jauh dampak program membaca ekstensif terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian lebih lanjut harus diarahkan untuk mengeksplorasi bagaimana program membaca ekstensif dapat diadaptasi atau ditingkatkan untuk memberikan perubahan yang signifikan dalam evaluasi siswa. Meskipun tidak terlihat perubahan yang signifikan dari nilai Pre-Test dan Post-Test, namun program membaca ekstensif telah menunjukkan dampak yang signifikan pada mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian di masa depan harus fokus pada penyempurnaan dan peningkatan program membaca ekstensif untuk lebih meningkatkan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Hal ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan program untuk gaya belajar yang berbeda dan menggunakan metode evaluasi yang berbeda. Dengan demikian, pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dampak program membaca ekstensif terhadap kemampuan berpikir kritis dapat dicapai. Daftar Pustaka