Indonesian Journal for Social Responsibility (IJSR) Vol. No. 01, . , pp. https://doi. org/10. 36782/ijsr. Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk Intan Aprilia Seno1*. Pranti Sayekti2. Fariza Wahyu Arizal1 Program Studi Desain Komunikasi Visual, 2Departemen Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Jl. Cakrawala No. Lowokwaru. Kota Malang. Jawa Timur, 65145. Indonesia E-mail: intanapriliaseno@gmail. com*, pranti. fs@um. id, fariza. fs@um. Received: December 12, 2023 | Revised: November 19, 2024 | Accepted: November 30, 2024 Abstrak Desa Sambimulyo adalah sebuah desa di Kecamatan Bangorejo. Kabupaten Banyuwangi, yang memiliki potensi perkebuan buah jeruk yang membutuhkan program branding untuk membentuk identitasnya sebagai destinasi wisata. Program branding ini dilakukan dengan membentuk identitas visual, pengembangan aktivitas wisata, pengembangan produk khas, pengembangan area, dan pemberdayaan sumber daya manusia untuk mengatur regulasi Perancangan program branding dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan model Wheeler yang dimulai dari penentuan topik, riset permasalahan, strategi klarifikasi melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil perancangan program branding ini diimplementasikan dalam desain identitas berupa logo dan Graphic Standard Manual (GSM) yang diterapkan pada media promosi berupa spanduk, billboard, brosur, konten media sosial, dan web. Pengembangan area dan aktivitas wisata yang didukung dengan pembuatan desain signage, backdrop, tiket reguler, tiket festival, dan poster festival. Pembuatan produk khas yang didukung dengan desain buku menu, packaging produk, dan Masyarakat sekitar juga turut diberdayakan dengan mensosialisasikan program branding, memberikan pelatihan, dan berkoordinasi untuk mengelola wisata. Kata kunci: Branding. Desa Sambimulyo. Destinasi Wisata. Kabupaten Banyuwangi. Wisata Kebun Jeruk Abstract Sambimulyo Village is a village in Bangorejo Sub-district. Banyuwangi Regency that has the potential of citrus fruit farming which requires a branding program to form its identity as a tourist destination. This branding program is carried out by forming a visual identity, developing tourism activities, developing typical products, developing areas, and empowering human resources to regulate tourism regulations. The design of the branding program was carried out using a qualitative method with the 2013 Alina Wheeler model starting from determining the topic, researching problems, clarifying strategies through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The results of this branding program design are implemented in identity design in the form of a logo, and GSM (Graphic Standard Manua. which is applied to promotional media in the form of banners, billboards, brochures, social media content, and websites. Development of tourist areas and activities supported by making signage designs, backdrops, regular tickets, festival tickets, and festival posters. Making typical products supported by menu book design, product packaging, merchandise. And empowering Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk the surrounding community by socializing the branding program, providing training, and coordinating to manage tourism. Keywords: Banyuwangi Regency. Branding. Citrus Garden Tourism. Sambimulyo Village. Tourism Destination Pendahuluan Desa Sambimulyo, yang terletak di Kecamatan Bangorejo. Kabupaten Banyuwangi, dikenal sebagai salah satu desa dengan produksi jeruk siam terbanyak di Jawa Timur. Produksi jeruk di desa ini terus meningkat, dengan pertumbuhan mencapai 7,27% selama periode 2018-2019 (Badan Pusat Statistik, 2. Desa Sambimulyo memiliki destinasi Wisata Kebun Jeruk yang diresmikan pada tahun 2017 dan mendapat kunjungan dari wisatawan luar kota seperti Bali. Pasuruan. Jember, dan Sidoarjo (Kurniasanti, 2. Kurangnya branding dan upaya promosi yang belum maksimal menyebabkan objek wisata ini kurang dikenal. Akibatnya, seiring waktu, jumlah pengunjung terus menurun. Kemunculan destinasi serupa turut menjadi salah satu alasan menurunnya jumlah pengunjung di destinasi wisata ini. Upaya branding perlu dilakukan untuk membangun identitas Desa Sambimulyo sebagai destinasi Wisata Kebun Jeruk yang memiliki nilai keunikan tersendiri (Wirdayanti, dkk. , 2. Hal ini dapat menjadi pembeda dari destinasi lain dan menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Sejak Covid-19 melalui Program Banyuwangi Rebound. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi perekonomian masyarakat dengan pengoptimalan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) dan desa wisata. Dukungan dari pemerintah kabupaten itu membuat Pemerintah Desa Sambimulyo berinisiatif untuk mengembangkan destinasi Wisata Kebun Jeruk. Melihat kondisi Wisata Kebun Jeruk di Desa Sambimulyo yang belum memiliki branding sehingga kurang dikenal oleh masyarakat, diperlukan upaya branding untuk meningkatkan visibilitas dan memperkenalkan Desa Sambimulyo sebagai destinasi Wisata Kebun Jeruk kepada khalayak luas melalui pengembangan program branding. Program branding berguna untuk membentuk strategi dalam pembentukan identitas Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo, pengembangan area wisata kebun jeruk, pengembangan aktivitas wisata, pengembangan produk khas, dan pengaturan pengelolaan wisata dengan pemberdayaan sumber daya manusia Desa Sambimulyo (Yoeti, 2. Sehingga perancangan ini diharapkan bisa menjadi solusi dari permasalahan terhadap penurunan jumlah pengunjung dan kurangnya eksistensi dari Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo dalam bentuk identitas brand. Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Tinjauan karya terdahulu berguna sebagai masukan dan perbandingan dari branding yang akan dilakukan, beberapa karya terdahulu yang dijadikan acuan meliputi karya Saifurrohman . Wahyuningtyas . dan Azzahra . Ketiga karya tersebut membahas tentang proses perancangan identitas visual pada destinasi wisata yang bertujuan untuk memperkuat identitas brand dari destinasi wisata. Namun ketiganya memiliki perbedaan pada strategi media yang digunakan. Tiga perancangan di atas menjadi acuan dalam merancang branding Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo dengan menonjolkan nilai keunikan yang menjadi pembeda dari destinasi wisata serupa. Dengan adanya tiga referensi karya terdahulu ini perancang menerapkan bagaimana menentukan strategi branding dan pemilihan media yang tepat dalam membentuk identitas Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo. Metodologi Perancangan branding Desa Sambimulyo menerapkan metode penelitian kualitatif terstruktur model Wheeler . , model perancangan ini memiliki tujuan yang sesuai dengan perancangan yang akan dilakukan yaitu untuk merancang identitas brand. Penelitian kualitatif tidak selalu bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat, melainkan lebih untuk menggali pemahaman tentang situasi atau kondisi tertentu (Moleong, 2. Metode kualitatif diterapkan untuk memperoleh data yang mendalam, yaitu data yang memiliki makna yang signifikan (Sugiyono, 2. Prosedur yang digunakan pada model perancangan ini menggariskan tahapan yang harus diikuti dari langkah awal yaitu penentuan objek penelitian sampai akhir publikasi desain dan dinilai lebih efektif untuk diterapkan dalam menghasilkan identitas brand Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo. Berikut prosedur perancangan model Wheeler: Menentukan Topik Perancangan Menentukan topik dan judul perancangan yaitu AyBranding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk di Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi Jawa TimurAy. Mengumpulkan Data Melakukan research untuk mengumpulkan data. Pada perancangan ini penggalian data dilakukan melalui observasi lapangan dan melalui internet. Melakukan wawancara kepada beberapa narasumber utama yaitu Andik Santoso selaku Kepala Desa Sambimulyo yang mengerti kondisi dari Desa Sambimulyo. Wisata Kebun Jeruk, dan kondisi masyarakat Desa Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk Sambimulyo. Praktisi bidang branding yang diwawancarai pada perancangan ini adalah para founder dari studio Urupake. Wawancara ini dilakukan untuk membantu penulis dalam menentukan strategi media yang tepat untuk digunakan dalam program branding. Penyebaran kuesioner juga dilakukan kepada wisatawan khususnya yang pernah datang ke destinasi wisata berbasis desa dengan rentang usia 11-45 tahun, memiliki ketertarikan terhadap destinasi wisata, memiliki latar belakang pelajar, pekerja, atau ibu rumah tangga dengan status sosial menengah kebawah. Hasil dari kuesioner berguna sebagai data pendukung untuk menentukan strategi branding dan media yang akan digunakan. Dokumentai berupa foto, video dan berkas terkait juga dilakukan pada saat penggalian Identifikasi Strategi Menganalisis dan menyintesis data yang ada untuk merumuskan strategi branding yang akan diterapkan. Perancangan ini menggunakan metode Strengths. Weaknesses. Opportunities, and Threats (SWOT) untuk menganalisis data (Fatimah, 2. Analisis SWOT dilakukan dengan menganalia faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dari Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo serta faktor eksternal berupa peluang dan juga ancaman yang bisa terjadi terhadap Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo. Merancang Identitas Proses kreatif yang dilakukan dengan penggalian ide dengan brainstorming, pembuatan thumbnail sketch, rough layout, dan juga comprehensive layout. Membuat Desain Final Menyempurnakan mengimplementasikan desain pada strategi media yang telah dipilih. Mengelola Aset Pengelolaan aset dengan melakukan publikasi desain kepada masyarakat. Pada perancangan ini perancang melakukan publikasi dengan pameran yang dilakukan dengan menampilkan mockup dari strategi media yang dipilih. Selain itu perancang menampilkan poster infografis yang memberikan gambaran proses yang dilakukan dari awal hingga akhir dari pengabdian. Pameran dilakukan secara kolektif bersama dengan perancang lain yang dinamakan sebagai Pameran UMAKARTA yang dilaksanakan di Gedung D. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Hasil dan Pembahasan Penggalian data yang dilakukan melalui observasi, wawancara, penyebaran kuesioner dan juga dokumentasi menghasilkan data bahwa Desa Sambimulyo sudah menjadi desa penghasil jeruk jenis siam sejak masa kepresidenan Soeharto pada tahun 1970-an (Pesona Sambimulyo. Pengelolaan lahan perkebunan dilakukan secara mandiri oleh pemilik lahan, namun untuk bibitnya kebanyakan petani masih mendatangkan dari wilayah Tulungagung dan Blitar. Tidak sedikit juga warga yang memilih untuk menyewakan lahannya dengan sistem bagi hasil kepada tengkulak, namun biasanya pohon jeruk bisa bertahan lebih lama jika dikelola secara Perkebunan buah jeruk yang disewakan biasanya hanya bisa memproduksi buah dengan baik dalam jangka waktu kurang lebih 5 tahun saja, sedangkan ketika dikelola sendiri perkebunan dapat bertahan hingga 11 tahun. Sehingga harapan Pemerintah Desa Sambimulyo dalam membangun Wisata Kebun Jeruk adalah agar bisa memberi semangat kepada masyarakat untuk mengelola perkebunannya secara mandiri. Pemerintah Desa Sambimulyo berusaha untuk membangun kembali wisata dengan manggaet sekolah-sekolah dan agen perjalanan . ravel agen. untuk mengadakan kunjungan. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengelola perkebunannya. Pemerintah desa juga mengupayakan promosi dengan memanfaatkan media sosial desa yaitu Instagram. Facebook, dan juga web desa. Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo ingin dikembangkan dengan mengunggulkan produk yang khas dan kuliner tradisional Banyuwangi, tidak hanya menyajikan wisata petik buah. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung bisa datang dan menikmati suasana pedesaan yang asri dan mengunjungi perkebunan tidak hanya pada musim panen saja, sehingga diharapkan jumlah kunjungan bisa tetap stabil. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan metode SWOT yaitu, mengidentifikasi kelebihan . , kelemahan . , peluang . , dan juga ancaman . terhadap Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo. Berikut hasil dari analisis SWOT: Kekuatan (Strength. Desa Sambimulyo menjadi jalur lintas wisatawan ketika ingin mengunjungi wisata di wilayah selatan Banyuwangi seperti Pantai Pulau Merah dan Teluk Hijau sehingga Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk wisatawan yang melintas berpotensi untuk mampir, berkunjung, atau sekedar membeli oleh-oleh. Desa Sambimulyo memiliki akses yang sangat mudah, baik itu menggunakan mobil maupun motor. Area Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo memiliki fasilitas yang lengkap berupa kamar mandi, gazebo, musala, warung, dan juga jaringan internet nirkabel . i-f. yang bisa digunakan oleh pengunjung. Pemerintah Desa Sambimulyo aktif update berita desa di platform sosial media dan juga web desa. Kelemahan . Meskipun menjadi jalur lintas wisata namun banyak masyarakat yang lewat tidak mengetahui wisata tersebut karena tidak ada penanda sehingga eksistensi wisata tersebut masih hanya diketahui dari mulut ke mulut saja dan dari sosial media. Meskipun sudah memiliki nama yaitu Wisata Kebun Jeruk, namun identitas tersebut belum dikenal masyarakat sehingga perlu dilakukan branding dan upaya promosi (Wesfix, 2. Fasilitas yang ada di area wisata sudah lengkap namun masih terkesan sederhana dan tradisional, yang mana bahan yang digunakan masih menggunakan bahan baku yang mudah rusak seperti triplek, kayu, dan bambu. Kapasitas musala juga sangat minim hanya bisa digunakan untuk 2-3 orang saja. Diperlukan perbaikan agar pengunjung merasa nyaman ketika menggunakan fasilitas yang ada di area wisata. Dengan konsep wisata yang ingin diangkat Wisata Kebun Jeruk Sambimulyo belum memiliki kemasan produk. Peluang . Jeruk merupakan tanaman dengan pohon yang mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, pohon jeruk memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah setiap tahun secara konsisten (Endarto & Martini, 2. Keunggulan ini membuat kebun jeruk sangat ideal untuk dijadikan destinasi agrowisata dimana pengunjung dapat menikmati keindahan kebun, belajar tentang proses penanaman, dan perawatan jeruk, serta memetik buah jeruk secara langsung (Saad, dkk. , 2. Dengan pengelolaan yang tepat kebun jeruk memiliki potensi untuk menjadi destinasi yang menarik. Diperlukan perawatan yang baik dan strategi pemasaran yang efektif. Wisata Kebun Jeruk dapat menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung. Selain pengunjung bisa menikmati pemandangan kebun, pengunjung juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan memetik jeruk, mengikuti tur edukatif, dan mencicipi produk khas olahan jeruk. Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Kabupaten Banyuwangi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang kental dengan budaya, dan tradisi hal ini menjadikan Banyuwangi sebagai tujuan destinasi yang menarik untuk merasakan budaya lokal. Letak Kabupaten Banyuwangi dekat dengan Pulau Bali sehingga tidak jarang wisatawan dari Bali datang ke Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sangat mendukung perkembangan destinasi wisata khususnya desa dalam membangun infrastruktur, dan promosi wisata untuk membangun perekonomian masyarakat desa. Melihat potensi peningkatan ekonomi warga yang sudah mengetahui potensi wisata ini banyak yang ingin berpartisipasi mengizinkan lahannya untuk dikunjungi Ancaman . Di Kabupaten Banyuwangi wisata kebun jeruk bukan satu-satunya destinasi agrowisata terdapat beberap kompetitor serupa seperti Agrowisata Petik Jeruk Desa Temurejo dan Agrowisata Kampung Kebun Kopi Gombengsari, sehingga diperlukan penguatan identitas untuk membedakannya dengan kompetitor. Masyarakat pada umumnya mengenal wisata agro hanya sebagai wisata petik buah saja sehingga membuat wisatawan kurang tertarik untuk berkunjung. Strategi Branding Berdasarkan analisis data, strategi branding yang akan diterapkan berfokus pada pengembangan berbagai elemen penting yang mendukung keberhasilan konsep wisata yang Elemen-elemen tersebut meliputi identitas wisata, aktivitas wisata, produk khas, kawasan wisata, serta keterlibatan sumber daya manusia melalui koordinasi masyarakat untuk mendukung proses aktivasi destinasi wisata yang direncanakan. Branding Desa Sambimulyo sebagai destinasi Wisata Kebun Jeruk mengacu pada 5 program pengembangan yaitu: Program Pengembangan Identitas Visual Identitas visual Wisata Kebun Jeruk dirancang dengan penggalian ide melalui proses brainstorming (Gambar . dengan pemetaan kata dalam bentuk pemetaan pikiran . ind mappin. dan menghasilkan tiga kata sebagai kunci utama yaitu jeruk, kebun, dan matahari terbit. Dari ketiga kata kunci dilakukan studi visual buah jeruk, perkebunan, dan juga matahari terbit (Gambar . untuk mempelajari karakter visual dari ketiga kata kunci yang selanjutnya dijadikan thumbnail atau ikon yang lebih sederhana untuk dijadikan logogram (Gambar . Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk Gambar 1. Brainstorming Gambar 2. Studi Visual dan Bentuk Gambar 3. Thumbnail Thumbnail yang telah dibuat dan pilih kemudian dibuat sketsa kasar manual yang memperjelas rancangan dari logogram dan juga logotype yang akan digunakan. Thumbnail dibuat berdasarkan bentuk visual dari kata kunci yang telah disederhanakan menjadi sebuah simbol dan digabungkan. Sketsa buah jeruk di simbolkan dalam bentuk lingkaran dengan daun yang ada diatasnya, bentuk matahari terbit disimbolkan dengan bentuk setengah lingkaran, dan perkebunan disimbolkan dengan garis-garis yang merupakan bentuk pematang berkebunan. Tahap digitalisasi menggunakan perangkat lunak . pengolah gambar 2 dimensi . D) yaitu Adobe Illustrator. Pada tahap ini pemilihan font dan warna dilakukan. Pemilihan font dilakukan dengan pertimbangan keterbacaan nama brand dan juga kesesuaian karakteristik font dengan bentuk logo yang dipilih (Gambar . Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Gambar 4. Comprehensive Jenis font yang digunakan pada logo Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo adalah Fredoka One Reguler dan RemissisSB-Regular dengan pertimbangan karakter yang sesuai dengan logogram, yaitu jelas namun tidak tajam, memiliki kesan tebal, dan rounded pada sudut hurufnya. Fredoka juga memiliki tingkat keterbacaan . yang tinggi. Inisial logotype AyWKJAy menggunakan font Fredoka One Regular sedangkan logotype AyWisata Kebun Jeruk SambimulyoAy menggunakan font RemissisSB-Regular. Font ini dipilih karena memiliki keserasian dan kemiripan yang sama, namun font RemissisSB memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi ketika digunakan dalam sebuah kalimat karena karakternya yang lebih tipis dari Fredoka. Perbandingan kedua font dapat diamanti pada Gambar 5. Gambar 5. Logotype Warna yang digunakan pada identitas visual Wisata Kebun Jeruk Desa Sambimulyo menggunakan warna yang selaras dengan warna alam untuk menyesuaikan dengan logogram-nya. Warna hijau, kuning, oranye, dan biru dipilih karena memberikan kesan alami, sejuk, keramahan, kenyamanan, dan keceriaan. Satu kesatuan yang akan disimbolkan dari logo memberi kesan sebuah wisata perkebunan yang asri, alami, nyaman, dan mengesankan keberagaman rasa yang menarik untuk dikunjungi. Logo yang telah difinalisasi dapat diamati pada Gambar 6. Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk Gambar 6. Logo Final Setelah dilakukan finalisasi logo, tahap selanjutnya yaitu pembuatan asset visual atau komponen visual berupa pattern (Gambar . dan supergrafik . yang berguna sebagai elemen penghias yang menjadi ciri khas dari brand. Gambar 7. Pattern Supergrafik diambil dari celah negatif pada logogram (Gambar . Supergrafik pada brand WKJ (Wisata Kebun Jeru. berguna sebagai elemen penghias yang menjadi pembatas antara area pattern dengan area copywriting atau logo. Penerapan warna pada supergrafik bisa disesuaikan dengan menggunakan warna turunan dari brand. Gambar 8. Supergrafik Penggunaan bahasa atau brand voice pada brand WKJ menggunakan bahasa yang melokal yaitu Bahasa Indonesia yang menyenangkan dan bersahabat. Slogan pada brand WKJ adalah AyKunjungi Kebunnya. Nikmati ProduknyaAy, slogan ini diambil dari konsep wisata yang ingin mengunggulkan ragam produk wisata yang ingin ditawarkan kepada Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Pada program pengembangan identitas visual, strategi penggunaan media menerapkan Graphic Standard Manual (GSM) sebagai alat untuk standardisasi identitas yang telah dirancang. Brosur, baliho, dan konten sosial media berguna sebagai media pendukung promosi dan web sebagai media yang menunjang profesionalitas dari brand (Gambar . Gambar 9. Implementasi identitas visual Program Pengembangan Atraksi/Aktivitas Kegiatan wisata dikembangkan untuk menarik minat wisatawan dan mempromosikan wisata agro yang tidak hanya menawarkan kegiatan memetik buah saja. Kegiatan wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam rangka branding Desa Sambimulyo sebagai Wisata Kebun Jeruk meliputi acara festival panen jeruk yang diselenggarakan secara tahunan setiap musim panen. wisata kuliner yang menawarkan produk olahan khas dari Kebun Jeruk Sambimulyo dan makanan khas Banyuwangi. wisata edukasi yang mencakup pengenalan tanaman jeruk, pembibitan, perawatan, dan pengelolaan hasil serta kegiatan gerak sehat yang bertujuan untuk mendorong masyarakat agar tetap aktif, sehat, serta memperkuat kebersamaan di antara warga Desa Sambimulyo. Pada program pengembangan aktivitas, strategi media yang dipilih adalah menggunakan banner spanduk, poster, buku menu, serta tiket masuk wisata, dan festival (Gambar . Program Pengembangan Produk Khas Pengembangan produk khas dilakukan sebagai upaya menambah daya tarik dan daya Penjualan dari produk khas ini bisa meningkatkan pendapatan wisata yang dapat dialokasikan untuk memperbaiki fasilitas kedepannya. Produk olahan yang bisa dikembangkan adalah sirup jeruk dan selai jeruk. Adapun untuk sampah kulit jeruk dapat diolah lebih lanjut menjadi minyak esensial. Produk lainnya adalah souvenir berupa kaos, totebag, gantungan kunci, dan stiker (Gambar . Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk Gambar 10. Implementasi Desain pada Program Pengembangan Atraksi/Aktivitas Program Pengembangan Area Terdapat dua area lokasi yang dapat dikembangkan di Desa Sambimulyo untuk menunjang aktivitas wisata yaitu Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Saung Ampera yang sudah memiliki fasilitas lengkap namun masih sederhana sehingga masih diperlukan pembangunan untuk memperbaikinya. Selain pembangunan di area lokasi wisata diperlukan tanda pengenal sehingga strategi media yang digunakan adalah pembuatan Environmental Graphic Design (EGD) berupa rambu . informasi, identifikasi, dan juga arah. Pembuatan mural juga berguna untuk membangun suasana pada lokasi wisata (Gambar . Gambar 11. Implementasi Desain pada Program Pengembangan Produk Khas Intan Aprilia Seno. Pranti Sayekti. Fariza Wahyu Arizal Gambar 12. Implementasi Desain pada Program Pengembangan Area Program Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Peran masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program branding yang dijalankan, oleh karena itu diperlukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait serta sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi peningkatan ekonomi yang dapat Pelatihan berupa pembuatan produk khas dan pengeloaan wisata diperlukan guna persiapan aktivasi. Kegiatan wisata berjalan diperlukan evaluasi rutin untuk memperbaiki kualitas wisata kedepannya. Kesimpulan Hasil perancangan branding menunjukkan bahwa setiap desa memiliki potensi yang berbeda, yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Pada perancangan ini Desa Sambimulyo memiliki potensi perkebunan jeruk yang luas yang bisa dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata, namun belum adanya identitas branding yang dapat dikenalkan kepada masyarakat luas dan juga promosi yang masih minim dilakukan menjadikan wisata ini kurang dikenal. Strategi branding yang diterapkan pada perancangan ini adalah melalui program pengembangan area, program pengembangan atraksi/kegiatan wisata, program pengembangan produk khas, dan program pemberdayaan sumber daya manusia Desa Sambimulyo. Setiap program dirancang beberapa media branding untuk mendukung berjalannya program branding yaitu logo. GSM, billboard, brosur, konten media sosial, web. Branding Desa Sambimulyo sebagai Destinasi Wisata Kebun Jeruk desain signage, backdrop, tiket, poster, buku menu, packaging, dan merchandise. Perancangan ini diharapkan bisa menjadi referensi dalam mengembangkan potensi dan mengenalkan identitas desa. Ucapan Terima Kasih Terima kasih penulisa sampaikan kepada Dr. Pranti Sayekti. Sn. Si dan Fariza Wahyu Arizal. Sn. Sn. , yang telah membimbing dalam proses perancangan. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Andik Santoso selaku Kepala Desa Sambimulyo yang membantu selama proses penggalian data, observasi, dan wawancara. Terima kasih yang teramat dalam disampaikan kepada Bapak Seno Prawoto dan Ibu Sulastri selaku orang tua perancang yang mendukung secara mental dan materi, serta Elvin Ariadi dan Iwank Mareselino Trimaulid selaku saudara yang selalu memberikan semangat. Daftar Pustaka