ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MENGGUNTING DENGAN KOMBINASI MODEL PROJECT BASED LEARNING. DIRECT INSTRUCTION DAN MEDIA KERTAS BERGAMBAR Nor Anisa1. Sulistiyana2 Universitas Lambung Mangkurat1,2 e-mail: 2110126220020@mhs. id, sulis. bk@ulm. ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan motorik halus pada kegiatan menggunting sesuai pola pada Kelompok B solusi pemecahan masalah ini yaitu dengan menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Direct Instruction dengan media kertas bergambar. Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan aktivtas guru, aktivitas anak dan hasil perkembangan motorik halus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 4 kali pertemuan. Analisis data menunjukkan bahwa aktivitas guru mencapai skor 40 dengan kriteria AuSangat BaikAy. Aktivitas anak mencapai skor 90% dengan kriteria AuSangat AktifAy, dan hasil perkembangan motorik halus mencapai skor 90% dengan kriteria AuBerhasil BerkembangAy. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model Project Based Learning. Direct Instruction dengan media kertas bergambar dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivtas anak, perkembangan motorik halus Maka penelitian ini dapat menjadikan inovasi pembelajaran dalam pemilihan model serta media yang tepat untuk mengembangkan keterampilan menggunting sesuai pola. Kata Kunci: Project Based Learning. Direct Instruction. Kertas Bergambar ABSTRACT This research is based on the low fine motor ability in scissors activities according to the pattern in Group B, the solution to solve this problem is by using a combination of Project Based Learning. Direct Instruction models with illustrated paper media. The purpose of this study is to describe teacher activities, children's activities and the results of children's fine motor The approach used is a qualitative approach with the type of Classroom Action Research (PTK) with 4 meetings. Data analysis showed that teachers' activities achieved a score of 40 with the criterion of "Excellent". The child's activity achieved a score of 90% with the criterion of "Very Active", and the results of fine motor development reached a score of 90% with the criterion of "Successfully Developing". Based on the results of the study, it can be concluded that the Project Based Learning. Direct Instruction model with illustrated paper media can increase teacher activities, children's activities, and children's fine motor So this research can make learning innovations in the selection of the right models and media to develop scissor skills according to patterns. Keywords: Project Based Learning. Direct Instruction. Picture Paper PENDAHULUAN Pada era globalisasi sekarang kita selalu dituntut untuk terus melakukan perubahan dan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Dengan itu maka pendidikan adalah kebutuhan yang penting bagi setiap manusia karena dengan pendidikan setiap orang dapat memperoleh berbagai macam pengetahuan, pengalaman dan keterampilan. Pendidikan dapat diartikan sebagai upaya membimbing, melindungi, dan mendukung anakanak hingga mereka menjadi dewasa, atau dengan kata lain, membantu mereka agar mandiri dalam menjalani kehidupannya tanpa bergantung pada orang lain (Aslamiah, 2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangatlah penting karena menjadi fondasi kuat dalam membentuk Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action generasi cerdas. PAUD berfokus pada pembangunan dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, meliputi aspek fisik . oordinasi motori. , kecerdasan . aya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi dan spiritua. , sosial-emosional . ikap, perilaku, dan agam. , serta bahasa dan komunikasi. Semua ini disesuaikan dengan keunikan dan tahap perkembangan masing-masing anak (Muslihatoen, 2. Pendidikan anak usia dini adalah dasar utama dalam pengembangan kepribadian anak baik karakter, kemampuan, motorik, kognitif, bahas sosial emosional, disiplin nilai agama dan moral, disiplin diri maupun kemandirian. Maka dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak harus memperhatikan karakteristik dan cara belajar serta cara bermain anak yang merupakan upaya pembinaan yang dilakukan sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut (Mulyasa, 2. Namun masih banyak anak yang mengalami keterlambatan dalam pengembangan aspek tersebut. Hal ini dikarenakan seringnya dijumpai pendidik yang masih berpaku pada metode pembelajaran zaman dulu, terlebih lagi anak yang dituntut harus bisa membaca, menulis dan berhitung karena masih banyak anak yang belum mampu dan siap untuk menerima pembelajaran tersebut sehingga suasana kelas menjadi kurang kondusif dan mengakibatkan pembelajaran menjadi tidak efektif. Pembelajaran efektif tersebut dapat ditandai dengan aktifnya anak dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Berkaitan dengan beberapa aspek perkembangan dalam hidup anak, salah satunya yaitu aspek fisik motorik yang mana aspek ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak yang aktif pastinya mendapat stimulus yang baik dalam perkembangan aspek motoriknya, hal ini dapat dilihat dari aktivitas kesehariannya, aktivitas belajar saat disekolah dan bagaimana ia mampu mengerjakan serta menyelesaikan suatu kegiatan pembelajaran. Kemampuan motorik anak usia 5-6 tahun mempunyai perbedaan dengan orang dewasa contohnya dalam hal memegang, berjalan, menyepak/menendang. Anakanak usia prasekolah mencapai kemampuannya melalui tiga proses perkembangan utama. Pertama, mereka mengembangkan keterampilan motorik kasar . erakan otot besar seperti berjalan dan berlar. sebelum menguasai motorik halus . erakan otot kecil seperti menulis atau mengancingkan baj. Kedua, terdapat perkembangan cephalocaudal, di mana pertumbuhan dan kontrol tubuh bergerak dari kepala ke kaki. Ini berarti anak akan terlebih dahulu mampu mengendalikan kepala, lalu tubuh bagian atas, hingga akhirnya kaki. Ketiga, ada perkembangan proximodistal, yaitu pertumbuhan dari bagian tengah tubuh ke arah luar. Sebagai contoh, anak akan lebih dulu bisa menggerakkan lengan dan bahu, baru kemudian mampu menggerakkan jari-jemari dengan lebih terampil (Sjarkawi, 2. Hal yang sering kali kurang terstimulasi pada anak yaitu aspek motorik halus, sehingga mempengaruhi aktivitas anak dalam menjalani kesehariannya. Perkembangan motorik halus meliputi perkembangan otot halus dan fungsinya. Otot halus tersebut berfungsi untuk melakukan kegiatan-kegiatan serta gerakan tubuh yang lebih spesifik seperti menulis, melipat, menggunting, dan mengancing baju. Permasalahan yang dihadapi tersebut dapat dilihat dari keseharian dan tingkah laku anak serta keluhan-keluhan yang sering kali disampaikan oleh orang sekitar. Hambatan perkembangan motorik halus anak ini dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sekitar anak yang kerap kali kurang memperhatikan perkembangan aspek tersebut . Perkembangan motorik halus telah dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia perihal Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini pada Peraturan Menteri No. 137 Tahun 2014 yang menjelaskan bahwa motorik halus anak pada usia 5-6 tahun salah satunya yaitu anak mampu menggunting sesuai pola guna meningkatkan otot tangan dan motorik halus anak (Permendikbud, 2. Menggunting sesuai pola dalam Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action pembelajaran anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai macam kegiatan seperti menggunting awan yang bergelombang, menggunting lingkaran dengan dilanjutkan menempel dan menjadikan sebuah kreasi yang menggemaskan sesuai dengan karakteristik anak yang menyukai hal-hal yang menarik. Namun di lapangan pada kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin keterampilan menggunting sesuai pola tersebut belum mampu mengembangkan aspek motorik halus anak dan belum sesuai standar nasional yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Peraturan Menteri No. 137 Tahun 2014. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 05 Februari 2025 di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin melalui wawancara dengan guru kelas menerangkan mengenai aktivitas dan keterampilan menggunting sesuai pola masih banyak anak yang belum berkembang sesuai dengan tingkat pencapaian. Beberapa anak masih belum mampu memegang gunting dengan benar dan masih banyak anak yang kurang aktif serta enggan mengerjakan Hal tersebut dapat dilihat melalui penilaian yang telah dilakukan dengan jumlah anak 20 orang yang terdiri dari 11 anak laki-laki dan 9 anak perempuan, 40% anak kurang aktif selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan 60% anak yang belum berkembang kemampuan motorik halusnya. Hal itu dikarenakan pembelajaran yang dengan metode yang monoton, kurangnya inovasi pada media pembelajaran, fokus anak yang mudah teralih serta kurangnya kegiatan menggunting sesuai pola. Jika permasalahan tersebut tidak diatasi akan berdampak pada aktivitas anak di kehidupan sehari-hari mereka. Apabila terhambatnya perkembangan motorik halus anak, anak akan sulit menggunakan otot-otot jari yang ada ditangannya karna kurangnya stimulus yang diberikan dan juga dapat berpengaruh terhadap kehidupannya dimasa yang akan datang. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut yaitu dengan menggunakan model Project Based Learning. Direct Instruction, dan media kertas bergambar (Artika, 2. Model pembelajaran Project Based Learning (PBL) bisa diterapkan untuk anak usia dini, asalkan desainnya sederhana dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka. PBL menawarkan pengalaman belajar baru yang memungkinkan anak berlatih memecahkan masalah menggunakan berbagai teknik dan media pendukung (Norhikmah et al. , 2. Kelebihan model pembelajaran Project based learning adalah peserta didik yang menjadi pembelajar aktif, menjadikan anak multiaktif dan terarah, guru yang berperan sebagai fasilitator, dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengelola sendiri penyelesaian tugas agar lebih mandiri, dan dapat memberikan pemahaman konsep dan pengetahuan lebih dalam kepada peserta didik (Mulyasa. Agar kemampuan motorik halus anak dapat berkembang lebih optimal peneliti mengombinasikan model Project Based Learning dengan model Direct Instruction. Model pembelajaran Direct Instruction merupakan model pembelajaran yang dirancang secara khusus agar dapat menunjang proses pembelajaran peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan dan dapat dilakukan dengan pola kegiatan yang bertahap. Karakteristik model pembelajaran langsung yaitu tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian belajar, terdapat pola keseluruhan atau alur kegiatan, model pembelajaran yang memerhatikan variabel pada lingkungan seperti fokus akademik, waktu dan dampak netral terhadap pembelajaran (Mulyasa, 2. Penerapan model pembelajaran Direct Instruction dapat diterapkan kembali dalam kegiatan belajar mengajar selanjutnya. Agar dapat memperoleh hasil yang optimal, peneliti menyempurnakan model-model pembelajaran dengan memilih media kertas bergambar yang mana kertas tersebut memberikan informasi yang jelas dan akurat karena kertas bergambar ini merupakan media yang nyata sehingga menarik perhatian anak dalam proses kegiatan Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action METODE PENELITIAN Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan dan menganalisis fenomena atau peristiwa, baik yang terjadi pada individu maupun kelompok. Jenis penelitian yang dipilih adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berfokus pada dinamika di dalam kelas atau pada prosedur pengajaran yang sedang berlangsung (Arikunto, 2. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan 4 kali pertemuan yang di mana kegiatan penelitian tindakan kelas yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Populasi penelitian ini adalah kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin pada tahun ajaran 2024/2025 semester II, sedangkan sampel penelitian adalah 20 anak yang terdiri dari11 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Data dikumpulkan berupa keterangan aktivitas guru dan aktivitas anak dalam kegiatan pembelajaran melalui pengamatan dalam penilaian lembar observasi. Selanjutnya dilakukan kegiatan proyek guna mendapatkan data hasil capaian perkembangan motorik halus anak menggunakan model kombinasi project Based Learning. Direct Instruction dengan media kertas bergambar. Analisis data dalam penelitian ini melibatkan penggabungan dan kajian terhadap respons yang didapatkan selama proses pengajaran. Data awal diperoleh melalui studi pendahuluan, yang kemudian didukung oleh wawancara untuk menguatkan informasi tersebut. Selain itu, dokumentasi atau arsip juga akan digunakan untuk mendapatkan data yang akurat. Penilaian akan dilakukan dengan menggunakan rubrik dan lembar observasi untuk mengamati aktivitas guru dan anak. Indikator kemajuan Aktivitas guru dikatakan berhasil apabila dapat melaksanakan kegiatan mencapai skor 33-40 dengan kriteria Ausangat baikAy, aktivitas anak secara individu menerima skor 13-16 serta kriteria AuSangat AktifAy dan secara klasikal Ou82% dengan kriteria AuSeluruh anak aktifAy serta hasil perkembangan motorik halus secara individu anak mendapat skor 13-16 dengan kategori BSB dan secara klasikal mencapai 82%-100% dengan kategori AuBerkembang Sangat BaikAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan model kombinasi project Based Learning. Direct Instruction dengan media kertas bergambar di kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan berdasarkan aktivitas guru, aktivitas anak, maupun reaksi jangkauan keterampilan menggunting sesuai pola pada anak adanya pengembangan. Hasil Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Gambar 1. Perbandingan Hasil Aktivitas Guru Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action Berlandaskan gambar 1 diperoleh bahwa masing-masing pertemuan yang dilangsungkan ada kenaikan secara signifikan pada aktivitas guru, dari pertemuan 1 mendapatkan skor 25 . %) dengan kriteria AuCukup BaikAy, pada pertemuan 2 terdapat peningkatan dengan jumlah skor 27 . %) dengan kriteria AuBaikAy, pada pertemuan 3 terdapat peningkatan dengan jumlah skor 34 . %) dengan kriteria AuSangat BaikAy, kemudian pada pertemuan 4 meningkat lagi yaitu dengan jumlah skor 38 . %) dengan kriteria AuSangat BaikAy. Selain itu, peningkatan aktivitas anak dari masing-masing pertemuan, yang ditunjukkan pada Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Gambar 2. Perbandingan Hasil Aktivitas Anak Berdasarkan Gambar 2, terlihat adanya peningkatan aktivitas anak di setiap pertemuan. Pada pertemuan pertama, aktivitas anak mencapai 45%. Angka ini kemudian meningkat menjadi 50% pada pertemuan kedua, lalu melonjak signifikan menjadi 75% di pertemuan Puncaknya, pada pertemuan keempat, aktivitas anak mencapai 90%. Kenaikan yang konsisten ini menunjukkan bahwa aktivitas anak berhasil memenuhi indikator yang telah Sementara itu, untuk melihat kecenderungan perkembangan aspek motorik halus anak, bisa merujuk pada Gambar 3. Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3 Pertemuan 4 Gambar 3. Perbandingan Hasil Perkembangan Motorik Halus Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action Gambar 3 menunjukkan adanya peningkatan reaksi perkembangan motorik halus anak dalam kegiatan menggunting sesuai pola di setiap pertemuan, dan berhasil mencapai indikator kemajuan yang ditetapkan. Selanjutnya, kecenderungan ketiga variabel yang diamati yaitu aktivitas guru, aktivitas anak, dan capaian perkembangan kognitif anak dalam mengenal huruf dapat dilihat pada Gambar 4. Aktivitas Guru Aktivitas Anak Hasil Perkembangan Mororik Halus Gambar 4. Kecenderungan Grafik Berdasarkan gambar 4 dapat dilihat bahwa kecenderungan grafik mengalami kenaikan baik dari aktivitas guru, aktivitas anak, dan hasil pengembangan motorik anak. Pada grafik kecenderungan aktivitas guru, aktivitas anak dan hasil pengembangan motorik halus anak secara signifikan meningkat pada setiap pertemuannya. Hal tersebut dikarenakan aktivitas yang dilakukan guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru mampu membuat anak menjadi lebih aktif dari pada pertemuan sebelumnya. Dengan adanya peningkatan pada hasil aktivitas guru, dan anak tentunya akan sangat berpengaruh dengan hasil perkembangan motorik halus dalam kegiatan menggunting sesuai pola dengan menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Direct Instruction dan media kertas bergambar, semakin optimal aktivitas guru dalam proses pembelajaran maka aktivitas anak dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran akan semakin aktif dalam setiap pertemuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas guru, aktivitas anak, dan hasil perkembangan motorik halus sangat berkaitan satu sama lain. Pembahasan Berdasarkan hasil perkembangan motorik halus dalam kegiatan menggunting sesuai pola dengan menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Direct instruction dan media kertas bergambar selama 4 pertemuan maka hal tersebut sesuai dengan hipotesis Tindakan dalam penelitian Tindakan kelas yang menyatakan bahwa jika pembelajaran menggunakan kombinasi model Project Based Learning. Direct instruction dan media kertas bergambar, maka keterampilan aspek motorik halus dalam kegiatan menggunting sesuai pola pada Kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin akan berkembang sangat baik (BSB) sehingga hipotesis diterima. Penerapan kombinasi sudah tercapai menemui peningkatan penelaahan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 pada Kelompok B dengan baik. Terdapat beberapa variabel yang meningkatkan aktivitas guru di masing-masing pertemuan. Secara sederhana, ini berarti melakukan refleksi terhadap seluruh kegiatan pembelajaran yang sudah berjalan, guna mengevaluasi apakah tujuan pengajaran telah tercapai atau belum. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kekurangan, sehingga guru bisa meningkatkan metode pengajarannya. Seiring dengan peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action guru juga bertugas membekali anak dengan pengetahuan, sikap, nilai . , dan keterampilan . Guru memiliki tanggung jawab besar dalam mengamati dan memfasilitasi setiap aspek yang terjadi di kelas untuk mendukung perkembangan anak. Seorang guru yang efektif adalah mereka yang mampu menyelesaikan seluruh tugas selama kegiatan pembelajaran. Peningkatan kualitas belajar-mengajar guru tak lepas dari perannya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menyenangkan bagi anak. Aktivitas pembelajaran di kelas mencakup pengelolaan kelas, penggunaan alat dan pemicu pembelajaran, serta penerapan strategi di kelas (Pratesi, 2. Guru TK hendaknya merencanakan kegiatan sehari-hari dengan matang untuk memajukan semua aspek perkembangan anak usia dini. Penting bagi guru untuk tidak hanya meningkatkan proses pembelajaran secara keseluruhan, tetapi juga memperbaiki dan meningkatkan kegiatan belajar harian demi memaksimalkan potensi kecerdasan anak didiknya. Peran guru sebagai individu dalam mengelola lingkungan belajar yang nyaman sangat memengaruhi terciptanya suasana belajar yang mendukung efektivitas dan efisiensi belajar Sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, guru wajib memahami dengan baik tugas dan fungsi yang harus dikuasai dalam menjalankan lingkungan belajar yang tersedia di sekolah (Maryana & Rachmawati, 2. Mencapai hasil belajar yang optimal memerlukan guru yang kreatif, inovatif, dan aktif untuk terus meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar di kelas. Peningkatan ini sangat penting dan salah satu solusinya adalah melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK memungkinkan guru untuk mengidentifikasi kesalahan dan kekurangan dalam proses belajarmengajar, sehingga dapat menemukan solusi yang tepat (Cardona & Maimunah, 2. Pendapat ini sejalan dengan Agusta & Suriansyah . yang menyatakan bahwa pembelajaran ideal mampu memotivasi semua anak untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan, baik secara fisik maupun mental. Dengan demikian, guru bertujuan menciptakan aktivitas pengajaran yang efektif, bermanfaat, dan menyenangkan. Hal ini didukung oleh peningkatan kualitas pengajaran guru dalam membimbing, memotivasi, dan mengembangkan kemampuan anak. Guru berperan sebagai fasilitator, membantu anak menemukan pengetahuannya sendiri. Ini terjadi karena guru sudah berhasil mengintegrasikan model pembelajaran dengan media flashcard sebagai bagian dari evaluasi pada lembar observasi. Guru juga sudah mahir menerapkan langkah-langkah Project Based Learning dan Direct Instruction dengan media kertas bergambar. Selain itu, guru juga sangat baik dalam memimpin kelas. Dengan demikian, penilaian terhadap kinerja guru sudah optimal, sehingga tidak diperlukan perbaikan lebih lanjut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model proyek merupakan model pembelajaran yang membantu anak dalam memperoleh ilmu baru serta memiliki tujuan umum untuk mencapai proses pembelajaran. Tujuan model project based learning dapat meningkatkan kemampuan anak agar dapat berpikir kritis dan aktif dalam pembelajaran dan mampu meningkatkan siswa dalam memecahkan permasalahan (Haryanti & Febriyanto, 2. Model pembelajaran langsung (Direct Intructio. adalah salah satu model pembelajaran berpusat pada guru. Saat menerapkan model ini guru diharuskan untuk mendemonstrasikan pengetahuan serta keterampilan yang akan dipaparkan kepada siswa secara Model pembelajaran ini dirancang guna memberikan keterampilan terhadap pengetahuan secara prosedural. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat membantu dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif, efisien dan efektif. Dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau bahan pembelajaran sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan anak dalam kegiatan belajar. Copyright . 2025 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah ACTION : Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol. 5 No. 3 Tahun 2025 E-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Online Journal System: https://jurnalp4i. com/index. php/action KESIMPULAN Berdasarkan kegiatan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan diperoleh bahwa penggunaan kombinasi model project based learning, direct Intruction dengan media kertas bergambar pada kelompok B di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 31 Banjarmasin mengalami peningkatan dan perkembangan dari pertemuan 1 hingga pertemuan 4. Aktivitas guru terwujud dan mencapai kriteria sangat baik. Sedangkan pada aktivitas anak mencapai kriteria sangat aktif, serta capaian perkembangan keterampilan menggunting sesuai pola mencapai kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB). Disarankan memfasilitasi pembelajaran dengan lebih baik terutama pada sarana prasarana di kelas contohnya Alat Peraga Edukatif (APE) serta guna mengembangkan aspek motorik halus anak. DAFTAR PUSTAKA