Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 PENERAPAN KONSEP ASTA KOSALA KOSALI DALAM RUMAH SAKA RORAS SEBAGAI OBYEK WISATA BUDAYA I Nyoman Diana1. Desak Putu Ernawati2. Ni Nyoman Sri Astuti3 1,2,3 Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan. Institut Teknologi dan Pendidikan Markandeya Bali. Bangli nyomandiana@markandeyabali. Abstrak Rumah saka roras mempunyai banyak ciri khas yang menjadi keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh jenis rumah tradisional lainnya. Salah satu hal yang paling menonjol dari keunikan rumah saka roras adalah terdapat banyak ruangan didalam rumah saka roras namun memiliki fungsi yang berbeda-beda namun tidak terdapat pada rumah tradisional yang lainnya. Keunikan tersebut menjadi daya Tarik wisatawan untuk Namun keberadaan rumah saka roras tersebut belakangan ini mengalami penurunan yang sangat Berdasarkan uraian tersebut di atas, penelitian ini focus pada 2 permasalahan yang ada yaitu: 1. Apakah konsep asta kosala kosali diterapkan dalam rumah saka roras? 2. Apakah rumah saka roras masih dikunjungi oleh wisatawan? Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang sangat menekankan pada deskripsi sebuah rumah tradisional di Bali yaitu rumah saka roras yang berada di Desa Songan B, kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli-Bali terhadap kunjungan wisatawan. Kata kunci : rumah tradisional, wisatawan, kintamani Abstract Hasil penelitian dilapangan menunjukan bahwa: Penerapan konsep asta kosala kosali dalam rumah saka roras memang sudah diterapkan dalam pembangunannya sampai pada kehidupan sehari-hari yang dilakoni dalam rumah tersebut, hal tersebut telah dapat dibuktikan dengan beberapa hal: 1. Jika melihat dari tata letak ruangan, penempatan ruangan pada rumah saka roras sudah mengacu pada konsep asta kosala kosali, sebagai contoh penempatan pawan atau dapur karena berkaitan dengan api maka ditempatkan di sebelah selatan. Melihat cara pengukurannya, dalam konsep asta kosala kosali menggunakan ukuran anatomi tubuh manusia, begitu pula dengan pengukuran rumah saka roras juga dengan anatomi tubuh manusia yang sama-sama disebut dengan gegulak, hal ini sudah dilakukan dari dulu oleh tetua di Desa Songan B sebelum ada meteran. A3. Bahan bangunan rumah saka roras semuanya didapatkan dari alam sekitar yang mudah didapatkan dan mudah diolah, sehingga pembanguna rumah saka roras di Desa Songan B sangat pesat pada masanya namun ketika memasuki modernisasi yang tinggi rumah saka roras dimodifikasi menjadi rumah yang lebih modern namun masih mengacu pada tata ruang asta kosala kosali. Faktor-faktor penerapan konsep asta kosala dalam rumah saka roras di Desa Songan B seperti faktor ukuran, faktor karang, faktor tata letak ruangan, faktor kepercayaan. Faktor tersebut menambah pembuktian bahwa karena hal tersebutlah rumah saka roras di buat berlandaskan konsep asta kosala kosali yang dipercayai cocok dengan pembangunan rumah saka roras di Desa Songan B. Pembangunan rumah saka roras sangat memperhatikan faktor tersebut untuk meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan pada penghuni rumah tersebut. Wisatawan masih tertarik untuk mengunjungi rumah tersebut sebagai bentuk kegiatan wisata budaya dan menjadikan rumah saka roras sebagai salah satu obyek wisata budaya. Keywords : Traditional House, tourism PENDAHULUAN Indonesia memiliki beberapa daerah yang memiliki ciri khas masing- masing setiap daerah sebagai identitasnya sendiri, namun masih tetap ada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, salah satunya adalah Pulau Bali. Pulau kecil nan indah ini diberi julukan sebagai pulau Dewata, hal ini tampak tidak berlebihan apabila diliihat secara nyata mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu sangat percaya dengan adanya Dewa. Masyarakat secara umum mempunyai kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan. Keyakinan tersebut sangat berbeda pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat. Begitu pula dengan masyarakat Indonesia dan Bali pada kususnya memiliki keyakinan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 Perbedaan tersebut tercermin pada agama yang dianutnya. Menelisik banyaknya ajaran agama Hindu yang kita ketahui, akan membuat kita belajar lebih banyak lagi tentang ajaran tersebut. Setiap ajaran agama Hindu tentu sudah berisi perintah dan larangan yang patut dipahami oleh umat Hindu, salah satu ajaran agama Hindu yang akan dibahas yakni ajaran asta kosala kosali. Ajaran asta kosala kosali diterapkan pada bangunan rumah saka roras sangat di Desa Songan B. Mulai dari fungsi rumah sebagai tempat tinggal, baha rumah yang ramah lingkungan, hingga pengukuran rumah dengan gegulak, hingga konsep yang digunakan berupa konsep asta kosala kosali. Guna berkembangnya bangunan kuno tersebut sebagai daya tarik wisata, perlu adanya acuan yang jelas dalam pembangunan rumah saka roras, dengan melihat pertimbangan tersebut dirasa perlu adanya penelitian yang baik agar terciptanya karya yang dapat dijadikan acuan dalam pembangunan rumah saka roras. METODE Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pospositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah . ebagai lawannya eksperime. dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data dengan triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2013:. Metode Penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data adalah 1. melakukan observasi langsung dengan meninjau secara langsung rumah saka roras yang ada di Desa Songan B. Kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli-Bali. Wawancara. Wawancara dalam penelitian adalah bentuk komunikasi langsung untuk mendapatkan data dari responden, komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya jawab, sehingga gerak dan mimic responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata secara verbal. studi dokumen, studi dokumen yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mendalami, memahami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi pengetahuan yang ada dalam dokumen berupa . uku, foto, gambar, artikel, lontar, monografi desa dan lain-lai. untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan. studi kepustakaan. Metode ini dipergunakan utuk penelusuran berbagai literature dan menelahnya dan kaitannya dengan tema penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut I Nengah Punia dan Wahyu Budi Nugroho . Secara teknis, arsitektur rumah tradisional Bali mem-pertimbangkan tiga hal, yaitu . keselarasan dengan alam, . relief, dan . kerapian struktur ruang. Keselarasan dengan alam diwujudkan dalam bahan-bahan material rumah yang berasal dari alam, seperti batu dan bambu. Relief termanifestasikan dalam ukiran-ukiran yang terpahat pada kayu atau batu. Adapun kerapian struktur ruang terbagi dalam tiga tingkat, yakni utama atau AukepalaAy, madya atau AubadanAy, serta nista atau AukakiAy di mana semua bahan-bahan materialnya diambil dari alam. Filosofi rumah Bali sendiri didasarkan pada Tri Hita Karana yang termuat dalam Asta Kosala Kosali, yakni salah satu bagian dari Wedha yang mengatur tentang tata letak ruang serta bangunan. Asta Kosala Kosali berupaya mewujudkan keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan. Secara konkret, hal-hal yang dianggap suci atau sakral dalam adat Bali berorientasi Sementara. Pura Dalem yang berhubungan dengan kematian berorientasi ke laut. Begitu pula, pada bangunan-bangunan tersebut umumnya ditemui relief yang menggambarkan kehidupan di bumi, berupa. manusia, binatang, dan tumbuhan. Lebih jauh, terkait dengan rumah adat Bali, terdapat beberapa unsur atau bagian-bagian yang harus terdapat di dalamnya, antara lain. angkul-angkul, aling-aling, sanggah atau pamerajan, bale manten, bale dauh, bale sekapat, bale dangin, pawon atau paweregan, serta jineng atau klumpu. Asta kosala kosali merupakan konsep tata letak bangunan di Bali yang telah dipakai sebagai pedoman dalam pembangunan rumah pada masanya, hingga sekarangpun konsep asta kosala kosali masih dipakai dalam pembangunan namun terkadang dilupakan hingga mengakibatkan sesuatu yang tidak diingkan, sebenarnya konsep asta kosala kosali itu adalah sebuah konsep yang mengatur tentang tata letak bangunan, pada penelitian ini menjelaskan tentang sejarah Asta Kosala Kosali, tata letak bangunan dan pemilihan tanah untuk bangunan. Rumah Saka roras merupakan sebutan untuk rumah tradisional yang berada di Desa Songan B dan merupakan hunian untuk rakyat biasa khusunya para petani. Rumah ini bisa ditemukan di seluruh wilayah Songan B bahkan sampai di desa tetangga yang berada diperbukitan kintamani seperti di desa pinggan, belandingan, sukawana dan desa lainya di pegunungan kintamani dan mempunyai ciri khas yang berbeda dari masing-masing desa. Sebagai rumah tradisional Bali, saka roras menggunakan konsep asta kosala kosali yang berkearifan lokal Desa Songan B. Penataan rumah saka roras yang sudah ada sejak dulu adalah sebagai berikut: Ruangan padangina merupakan ruangan yang terletak di kaja kangin atau timur laut dalam rumah saka roras yang berfungsi sebagai tempat melaksanakan ritual atau acara keagamaan yang dilakukan oleh keluarga pemilik rumah tersebut. Ruangan ambe terletak di tenggara rumah saka roras. Ruangan ini sebagai tempat menyimpan pakaian Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 yang digunakan sehari-hari setiap anggota keluarga dalam rumah tersebut, selain itu ruangan ambe juga dipakai sebagai tempat melahirkan pada jaman dulu. Ruangan padawa berposisi di barat laut dalam rumah saka roras, dimana ruangan ini merupakan tempat tidur bagi orang tua. Ruangan Pawan merupakan tempat untuk memasak pada jaman dulu, yang sekarang dikenal sebagai dapur. Ruangan Palemahan ini berposisi ditengah- tenagh rumah yang berfungsi sebagai tempat istirahat sekaligus sebagai jalan keluar masuk karena berada tepat didepan pintu masuk rumah saka roras, alas kaki juga diletakan di ruangan ini ketika anggota keluarga sedang ada didalam rumah saka roras. Ruangan patokan merupakan tempat tidur untuk anak-anak saja atau anggota keluarga yang belum menikah. Rumah saka roras selain menjadi salah satu rumah tradisional bali di Desa Songan B, juga sering dikunjungi oleh wisatawan guna mempelajari salah satu kebudayaan unik yang ada di bali, sehingga sangat perlu adanya usaha untuk tetap melestarikan rumah saka roras itu sebagai warisan bagi generasi selanjutnya. Berdasarkan temuan dilapangan, bahwa memang benar membangun rumah saka roras menggunakan konsep asta kosala kosali, mulai dari pengukurannya yang sama-sama menggunakan anatomi tubuh manusia, jenis karang yang boleh dan tidak boleh untuk dibanguni rumah, termasuk tata letak ruangan yang manggunakan konsep hulu teben. Serta masih menjadi salah satu obyek wisata budaya yang masih dikunjungi oleh wisatawan. Pembangunan rumah saka roras menggunakan konsep asta kosala kosali, dibuktikan dengan pernyataan tersebut diatas, karena pembangunan rumah saka roras masih sangat memperhitungkan keselaran hubungan dengan alam, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembngunan rumah saka roras tersebut menggunakan konsep asta kosala kosali. Faktor-faktor yang mempengaruhi perlunya menggunakan konsep asta kosala kosali dalam pembangunan rumah saka roras adalah, 1. Faktor Ukuran, 2. Faktor Karang. Faktor Tata Letak Ruangan, 4. Faktor Kepercayaan. Semua faktor tersebut jelas telah digunakan dalam pembangunan rumah saka roras, karena terkadang akan membawa hasil buruk jika tidak memperhatikan faktor-faktor tersebut Faktor pendukung lainya seperti faktor bahan juga menjadi pertimbangan untuk menerapkan konsep asta kosala kosali dalam pembangunan rumah saka roras, dimana dalam pembuatan rumah tradisional . alah satunya rumah saka rora. bahannya didapatkan dari alam langsung yang sangat mudah didapatkan dan mudah diolah, dimana pondasi rumah saka roras dibuat dengan tumpukan tanah atau dengan batu yang hanya ditumpuk rapi tanpa campuran semen, dinding rumah saka roras hanya berdinding bambu yang sudah diolah, saka rumah terbuat dari kayu pilihan yang juga mudah ditemukan disekitar kita, atap terbuat dari alang-alang yang juga mudah didapatkan di sekitar pembangunan rumah saka roras. Hal tersebut menjadikan rumah saka roras menjadi daya Tarik wisata budaya yang berada di Desa Songan B sehingga masih banyak wisatawan berkunjung ke rumah saka roras. KESIMPULAN Desa Songan B. Kecamatan Kintamani. Kabupaten Bangli-Bali merupakan desa yang memelihara budaya tradisional dalam berbagai macam bidang. Arsitektur rumah saka roras merupakan salah satu budaya yang masih dijaga sampai sekarang meskipun bentuk dari rumah saka roras tersebut sudah sangat terbatas ditemukan di Desa Songan B, namun pedoman pembuatan rumah modern masih menggunakan pedoman yang sama dengan pembuatan rumah saka roras, ini berarti bahwa arsitek rumah tradisional khususnya arsitek rumah saka roras masih diperhitungkan sampai saat ini di Desa Songan B. Bahkan rumah modern di Songan B pun memasukan beberapa elemen rumah saka roras sehingga terlihat perpaduan gaya modern dengan gaya Penerapan konsep asta kosala kosali dalam rumah saka roras memang sudah diterapkan dalam pembangunannya sampai pada kehidupan sehari-hari yang dilakoni dalam rumah tersebut, hal tersebuttelah dapat dibuktikan dengan beberapa hal: Jika melihat dari tata letak ruangan, penempatan ruangan pada rumah saka roras sudah mengacu pada konsep asta kosala kosali, sebagai contoh penempatan pawan atau dapur karena berkaitan dengan api maka ditempatkan di sebelah selatan Melihat cara pengukurannya, dalam konsep asta kosala kosali menggunakan ukuran anatomi tubuh manusia, begitu pula dengan pengukuran rumah saka roras juga dengan anatomi tubuh manusia yang sama-sama disebut dengan gegulak, hal ini sudah dilakukan dari dulu oleh tetua di Desa Songan B sebelum ada meteran. Bahan bangunan rumah saka roras semuanya didapatkan dari alam sekitar yang mudah didapatkan dan mudah diolah, sehingga pembanguna rumah saka roras di Desa Songan B sangat pesat pada masanya namun ketika memasuki modernisasi yang tinggi rumah saka roras dimodifikasi menjadi rumah yang lebih modern namun masih mengacu pada tata ruang asta kosala kosali Rumah saka roras masih menjadi salah satu obyek wisata budaya di Desa Songan B untuk Jurnal Pengabdian Masyarakat Markandeya E-ISSN : 2828-5018 Vol. No. 1 Februari 2025 mengenal dan memahami salah satu keunikan budaya yang ada di Bali. SARAN Penulisan setiap karya ilmiah tentu memiliki kelemahan yang banyak, memiliki perbedaan cara pandang yang digunakan, hingga pada struktur kalimat, pemilihan kata, struktur penulisan atau penempatan yang berbeda. Hal tersebut tentu memberikan gambaran yang berbeda pula dalam penulisan karya ini, melihat kelemahan penulis dalam menyusun ini tentu terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan yang muncul , karena hal tersebutlah penulis sangat mengaharapkan saran serta kritik dari pembaca, namun yang diharapkan adalah saran dan kritik yang dapat membangun dan penyempurnaan tesis ini, meskipun memiliki keyakinan bahwa tesis ini tidak sesempurna yang diharapkan oleh pembaca, namun setidaknya semoga ini bermanfaat secara teoritis ataupun bermanfaat secara praktis. DAFTAR PUSTAKA