TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 Pengetahuan Ibu Hamil tentang Gizi Masa Kehamilan sebagai Upaya Pencegahan Stunting Chori Elsera1*. Soniya2. Marwanti3. Devi Permatasari4. Sri Sat Titi Hamranani5 1,2,3,4,5Fakultas Kesehatan Dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Klaten Email: chorielsera@umkla. id1*, soniya@gmail. com2, marwantimarwa150@gmail. devisari_07@yahoo. com4, titihamranani@yahoo. Abstract In recent years, stunting has still been a health problem that has been highlighted and received priority for immediate treatment. Various factors influence the increase in the incidence of stunting, starting from internal and external factors. Knowledge is one of the internal factors that can influence the increase in stunting This research was conducted with the aim of knowing the level of knowledge of pregnant women about nutrition during pregnancy in an effort to prevent stunting. This research method is quantitative with a cross sectional approach on a sample of 60 pregnant women using a simple random sampling technique. The results of this research are that the majority of pregnant women have insufficient knowledge . 7%) about the nutrition of pregnant women in the context of preventing stunting. The conclusion of this research is that the majority of pregnant women have insufficient knowledge about the nutrition of pregnant women in efforts to prevent stunting. Keyword: Knowledge, nutrition of pregnant women, stunting Abstrak Beberapa tahun terakhir. Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang disorot dan mendapat prioritas untuk segera ditangani. Berbagai faktor mempengaruhi peningkatan kejadian stunting mulai dari faktor internal dan eksternal. Pengetahuan merupakan salah satu faktor internal yang bisa mempengaruhi peningkatan kejadian stunting. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi selama masa kehamilan dalam upaya pencegahan kejadian stunting. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada sampel sejumlah 60 ibu hamil dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian ini adalah sebagaian besar ibu hamil memiliki pengetahuan kurang . ,7%) tentang gizi ibu hamil dalam rangka pencegahan stunting. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan kurang tentang gizi ibu hamil dalam upaya pencegahan stunting. Kata Kunci: Pengetahuan, gizi ibu hamil, stunting Pendahuluan Stunting merupakan suatu masalah kekurangan gizi yang dialami oleh anak karena pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai dengan anak seusianya . Malnutrisi jangka panjang adalah akar penyebab dari stunting, yaitu suatu kondisi kronis yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan. Stunting didefinisikan oleh Standar Pertumbuhan Anak WHO dengan batas Z-score kurang dari -2 SD dan terbagi dalam dua kategori yaitu panjang badan dibandingkan usia (PB/U) atau tinggi badan dibandingkan usia (TB/U). Stunting pada anak dapat meningkatkan jumlah angka kematian, menurnnya kemampuan kognitif, mengganggu perkembangan motorik, dan menyebabkan ketidakseimbangan fungsi tubuh . Masalah gizi buruk berupa stunting dan gizi buruk akut berupa anak kurus akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian. Kehamilan, ibu menyusui, bayi, dan anak di bawah usia dua tahun semuanya berterkaitan erat dengan masalah ini . Menurut statistik WHO, terdapat 162 juta balita stunting di seluruh dunia, dengan 56% berasal dari Asia. Indonesia memiliki prevalensi stunting tertinggi pada anak di bawah usia lima tahun jika dibandingkan sejumlah negara, antara lain Myanmar . %). Vietnam . %). Malaysia . %). Thailand . %), dan Singapura . %) . Pada penelitian Global Nutrition Report tahun 2014 yang dikutip oleh . menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu 17 negara dari 117 negara yang memiliki tiga masalah gizi, termasuk stunting. Di Indonesia, lebih dari 8,8 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami kekurangan gizi, dan 36,4% dari anak tersebut mengalami stunting. Indonesia merupakan negara kedua di Asia Tenggara yang paling banyak mengalami stunting pada anak di bawah usia lima tahun, setelah Laos, dengan tingkat prevalensi 43,8%. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 yang dikutip oleh . menyatakan bahwa Prevalensi stunting Di Indonesia pada tahun 2018 adalah 12,8% dan 17,1%. Di Jawa Tengah angka stunting saat ini mencapai 20,9 persen atau sekitar 54. 000 anak mengalami stunting. Sedangkan di Kabupaten Boyolali angka stunting mencapai 4. 182 anak dengan angka tertinggi di Kecamatan Wonosamodro sebanyak 449 anak mengalami stunting dan Kecamatan Tamansari sendiri sebanyak 128 anak yang mengalami stunting. Kurangnya pengetahuan tentang gizi sebelum dan selama kehamilan, kurangnya akses pelayanan ANC (Ante Natal Car. , kurangnya akses rumah tangga/keluarga terhadap makanan bergizi, serta kurangnya air bersih dan sanitasi menjadi penyebab stunting. Pertumbuhan dan kemungkinan stunting dapat dipengaruhi oleh masalah gizi dan kesehatan sebelum, selama, dan setelah kehamilan. Stunting mulai terjadi ketika seorang remaja menjadi ibu yang mengalami kekurangan gizi serta anemia dan kondisi tersebut dapat menjadi parah ketika hamil jika asupan gizi tidak mencukupi kebutuhan dan kondisi tersebut dapat berdampak pada bayi yang dilahirkan . Sehingga masih adanya balita yang menderita stunting dan gizi buruk, dikarenakan kurangnya kesadaran ibu hamil pada balita dan kurangnya cakupan kemiskinan, yang menyebabkan semuanya mengganggu tumbuh kembang balita dan berdampak pada kesehatan secara keseluruhan . Faktor langsung dan tidak langsung adalah dua jenis faktor yang berkontribusi terhadap Kekurangan nutrisi, kelahiran prematur, pemberian makan yang tidak memadai, pemberian ASI non-eksklusif, dan infeksi merupakan faktor langsung. Sedangkan pendidikan, status ekonomi keluarga, status gizi ibu selama hamil, air dan sanitasi lingkungan, serta pengetahuan BBLR dari ibu dan keluarga merupakan faktor tidak langsung . Pengetahuan tentang gizi ibu merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam menentukan konsumsi pangan keluarga. Orang yang mempunyai pengetahuan gizi yang baik akan mempunyai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan gizi dalam pemilihan dan pengolahan pangan sehingga dapat diharapkan asupan makan yang lebih terjamin, baik dalam menggunakan alokasi pendapatan rumah tangga untuk memilih pangan yang baik dan mampu memperhatikan gizi yang baik untuk anak dan keluarganya. Pengetahuan gizi orang tua membantu anak mencapai kematangan tumbuh kembang dengan meningkatkan status gizinya. Masalah kesehatan baik fisik maupun psikis sering muncul pada anak stunting. Akibatnya, tidak semua anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya, beberapa anak menghadapi hambatan dan kelainan . Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang dialami oleh anak karena pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai dengan anak seusianya karena Kurangnya pengetahuan tentang gizi sebelum dan selama kehamilan. Salah satu faktor penting dalam menentukan asupan makan seorang anak adalah pengetahuan gizi ibu. Orang yang paham akan gizi dapat menggunakan pengetahuannya tentang gizi saat memilih dan menyiapkan makanan, sehingga ketahanan pangan meningkat dan mampu memprioritaskan makanan sehat untuk anak dan keluarganya serta dapat mengalokasikan pendapatan rumah tangga. Pengetahuan ibu yang baik tentang gizi pada masa kehamilan diharapkan berdampak positif pada sikap dan perilaku ibu hamil untuk meningkatkan asupan gizi yang cukup. Sehingga janin yang tumbuh dikandungan ibu tentu mendapatkan nutrisi yang seimbang. Pertumbuhan dan perkembangan janin dapat optimal, dan terhindar dari risiko terjadinya stunting pada masa pertumbuhan dan perkembangannya setelah dilahirkan. Dari latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan gizi pada ibu hamil dalam pencegahan Stunting. Metode Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan deskriptif, menggunakan pendekatan cross sectional untuk mendeskripsikan Pengetahuan Gizi Pada Ibu Hamil Dalam Pencegahan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Tamansari. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Tamansari Kabupaten Boyolali dengan sampel 60 org. Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi: Ibu hamil dari Trimester I-i yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali dan Ibu hamil yang tinggal TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 di wilayah Puskesmas Kecamatan Tamansari. Responden bisa baca tulis. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : Ibu hamil yang tidak bersedia menjadi responden. Penelitian ini menggunakan tekhnik simple random sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara undian nomor dari 149 populasi diambil sebanyak 60 undian. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Hasil penelitian Pengetahuan Gizi Pada Ibu Hamil Dalam Pencegahan Stunting terlihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut: Tabel 1. Rerata umur responden Variable Min Max Mean Umur Tabel 2. Analisa univariat Variabel Presentase (%) Pendidikan SMP SMK/SMA Perguruan Tinggi Jumlah Gravida Primi Gravida Multi Gravida Jumlah Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Swasta Wiraswasta Buruh Jumlah Penghasilan keluarga <1. >1. Jumlah Pengetahuan Kurang Cukup Baik Jumlah 2 Pembahasan Umur. Berdasarkan Tabel 1 diatas rerata umur responden adalah 27 tahun dengan umur minimal 19 tahun dan umur maksimal 40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ada ibu hamil dengan usia risiko yaitu lebih dari 35 tahun. umur yang aman bagi wanita untuk hamil dan persalinan adalah rentang umur 20-35 tahun, dimana pada usia rentang ini kemampuan reproduksi masih bekerja dengan sangat baik dan terjadinya komplikasi akan lebih rendah. Sedangkan usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun akan lebih berisiko untuk hamil dan melahirkan karena pada usia ini morbiditas dan mortalitas akan sangat tinggi, selain itu komplikasi yang terjadi akan sangat berat . Hasil Penelitian Muayyadah . menunjukkan bahwa dari 32 ibu yang memiliki status gizi kurang berdasarkan umur 35 tahun tidak terdapat sampel. Berdasarkan indikator IMT, status gizi kurang terbanyak didapatkan pada umur 20-35 tahun yaitu 26 orang . ,3 %) dan status gizi kurang paling sedikit terdapat pada umur < 20 tahun yaitu 6 orang . ,7 %). bahwa ibu yang beresiko mengalami status gizi kurang dapat dikarenakan organ-organ reproduksi dan fungsi TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 fisiologisnya belum optimal, sehingga akan berdampak pada pemeliharaan kesehatan dan perkembangan janin yang dikandungnya. Usia reproduksi sehat berkisar antara 20 s/d 35 tahun hal tersebut terkait dengan maturitas atau kematangan organ reproduksi perempuan. Selain itu, pada usia tersebut diharapkan seorang Perempuan atau ibu telah mendapatkan banyak informasi serta pengetahuan terkait proses kehamilan, persalinan dan pengasuhan Dimana didalamnya termuat pengetahuan tentag gizi selama periode kahamilan. Selain itu, usia tersebut dianggap telah siap secara materi, telah menyelesaikan Pendidikan dasar menengah, berpikir lebih matang atau dewasa sehingga mampu mengambil Keputusan secara tepat. Sedangkan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun memiliki risiko lebih besar selain pada kesiapan organ reproduksi namun juga pertimbangan kesehatan secara menyeluruh. Pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan pendidikan ibu hamil di Puskesmas Tamansari menunjukan 28 orang . 7%) berpendidikan SMP, sebanyak 7 orang . 7%) berpendidikan SD, dan 28 orang . 3%) berpendidikan SMK/SMA. Pengetahuan seseorang sangat berperan dalam perilaku kesehatan masyarakat. Pengetahuan dapat diperoleh dari pendidikan formal dan informal, sehingga dapat menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan . Selain itu, pendidikan ibu juga merupakan hal dasar bagi tercapainya perkembangan dan pertumbuhan yang baik pada saat kehamilan. Tingkat pendidikan ibu tersebut terkait dengan kemudahan ibu dalam menerima informasi tentang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam kandungan. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mudah menerima informasi dari luar, dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian . bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Ibu yang memiliki pendidikan rendah lebih banyak memiliki balita yang mengalami stunting sebab di masyarakat luas masih memiliki pemahaman jika pendidikan tidak terlau penting juga dari dukungan keluarga masih kurang optimal untuk mengambil pendidikan yang lebih tinggi. Pengetahuan ibu tentang kesehatan terutama mengenai gizi secara tidak langsung dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Sebagian besar responden tidak menyelesaikan pendidikan menengah atas, ada beberapa responden yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal tersebut menunjukkan tingkat pendidikan ibu termasuk pendidikan menengah. Yang artinya masa belajar resposden belum optimal. Hal tersebut memungkinkan kurangnya periode bertukar informasi dengan sesama siswa atau Informasi yang diterima bisa jadi berasal dari peer group atau circle dimana mereka biasa Riwayat Kehamilan (Gravid. Hasil penelitian didapatkan status gravida sebanyak 35 responden yaitu multi gravida . 3%). Multi gravida adalah kehamilan lebih dari 2 kali, ibu hamil di wilayah Puskesmas Tamanasari hal ini sesuai dengan penelitian . yang menunjukkan bahwa ibu yang paritasnya lebih dari satu memiliki pengalaman selama kehamilan sehingga mampu mengaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari dibandingkan dengan ibu yang belum memiliki anak. Pengalaman kehamilan sebelumnya memiliki peran penting sebagai pengalaman yang Pernah hamil atau melahirkan sebelumnya tentu menjadi media belajar yang Namun meski demikian, apabila seseorang memang tidak memahami pentingnya gizi selama kehamilan untuk mencegah terjadinya stunting, maka hal tersebut tidak akan menjadi Seseorang tetap akan melakukan perilaku seperti mind set yang mereka pahami atau persepsi mereka masing masing. Pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden bekerja sebagai IRT yaitu sebanyak 32 orang . 3 %). Pekerjaan juga salah satu faktor yang memengaruhi sosial ekonomi sebuah keluarga. Orang tua yang bekerja tentunya dapat menambah pendapatan bagi keluarga, nantinya juga turut berperan dalam menentukan status ekonomi keluarga. Dengan berperannya ibu dalam menambah pendapatan keluarga, maka kesempatan pemenuhan gizi ibu hamil dapat memengaruhi status gizi saat kehamilan . Hasil penelitian . menunjukkan bahwa dari 32 ibu yang mempunyai status gizi kurang berdasarkan pekerjaan pada Wiraswasta terdapat 3 orang . ,4%), dan IRT terdapat 29 sampel TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 . ,6%). Berdasarkan indikator IMT, status gizi kurang terbanyak terdapat pada tingkat pekerjaan IRT yaitu 29 orang . ,6%) dan status gizi kurang yang paling sedikit terdapat pada tingkat pekerjaan Wiraswasta yaitu 3 orang . ,4%). Dimana bahwa ibu yang tidak bekerja memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dapat mempengaruhi sebagian kehidupan untuk memenuhi kebutuhan gizinya sedangkan ibu yang bekerja lebih sedikit waktunya untuk memenuhi kebutuhan gizinya di karenakan kesibukan dalam bekerja. Ibu rumah tangga menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan anak anak, dari segi peluang, mereka memiliki kesempatan lebih banyak untuk menyiapkan menu makanan atau hidangan di rumah. Namun sering kali ibu rumah tangga justru sangat sibuk dengan berbagai aktifitas rumah tangga mulai dari beres beres rumah bahkan momong anak anak yang lainnya, selain itu mereka juga harus menyiapkan keperluan pasangannya. Sehingga mereka tidak menyadari bahwa kebutuhan nutrisi mereka selama hamil kurang tercukupi. Selain itu kurangnya sharing atau masukan informasi tentang gizi selama kehamilan juga berdampak pada kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi selama kehamilan dalam Upaya mencegah stunting. Penghasilan Keluarga. Penghasilan keluarga ibu hamil di Puskesmas Tamansari sebanyak 24 responden . %) yang berpenghasilan cukup dan 38,3 % berpenghasilan kurang. Hasil penelitian . menunjukkan bahwa keseluruhan dari 37 sampel memiliki pendapatan dibawah upah minumum rata-rata (UMR). Hal ini mungkin terjadi karena dilihat dari jenis pekerjaan terbanyak adalah sebagian Ibu Rumah Tangga dan hanya suami saja yang bekerja. Kemampuan keluarga untuk membeli makanan bergizi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pendapatan keluarga. Pendapatan tingi memungkinkan terpenuhinya kebutuhan makan seluruh anggota keluarga. Sebaliknya, tingkat pendapatan rendah mengakibatkan kurangnya daya beli pangan keluarga. Apabila daya beli pangan rendah menyebabkan kurang terpenuhinya kebutuhan gizi . Sebagaian besar responden adalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan. Pendapatan mutlak hanya diperoleh dari ayah atau kepala rumah tangga. Sumber penghasilan Tunggal dengan besaran rata rata kurang dari upah minimum daerah tentu menjadi salah satu kendala keluarga untuk mencukupi kebutuhannya, apalagi dengan jumlah anggota keluarga yang cukup banyak. Hal tersebut merupakan salah satu permasalahan yang dapat berdampak pada kurangnya motivasi seseorang untuk bergaul . ertukar pikiran dengan banyak oran. , merasa minder sehingga kurang paparan tentang informasi gizi selama masa kehamilan. Pengetahuan. Pengetahuan ibu merupakan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi. Sedangkan faktor langsung yang mempengaruhi status gizi adalah asupan makan dan penyakit infeksi. Berdasarakan data diatas dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan gizi pada ibu hamil dalam pencegahan stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Tamansari mayoritas berpengetahuan kurang dengan sebanyak 21 ibu hamil . %). Pada penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas ibu hamil memiliki pengetahuan dengan kategori kurang. Dalam kuesioner ditampilkan beberapa pertanyaan terkait penilaian pengetahuan repsonden tentang gizi selama periode kehamilan yang berkaitan dengan pencegahan stunting. Adapun beberapa pertanyaan yang dijawab tidak tepat oleh Sebagian responden antara lain tentang pentingnya konsumsi tablet besi selama kehamilan. Selain itu juga terkait kebutuhan nutrisi selama kehamilan dibandingkan dengan masa sebelum hamil atau sedang tidak hamil. Beberapa pertanyaan yang dijawab Sebagian besar responden dengan benar adalah terkait dampak dari kurang gizi, pentingnya kalsium dan penyakit infeksi dapat menyebabkan masalah Pengetahuan gizi ibu meliputi pengetahuan tentang pemilihan bahan makanan dan konsumsi sehari-hari dengan baik dan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal Pemilihan dan konsumsi bahan makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi apabila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang dibutuhkan Status gizi kurang tejadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi Sedangkan status gizi lebih terjadi apabila tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang berlebihan sehingga menimbulkan efek yang membahayakan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan . bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu hamil dengan status gizi anak stunting di TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 2 Desember 2023. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685Ae1660 Puskesmas Lohia Kabupaten Muna. Gangguan gizi sering terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan makanan tambahan bergizi serta ketidaktahuan ibu hamil dalam menyiapkan dan menyediakan makanan yang bergizi saat kehamilan. Ibu hamil yang memiliki pengetahuan gizi kurang berpeluang memiliki anak yang berstatus gizi lebih, gizi kurang dan gizi buruk, hal ini berkaitan dengan peranan ibu terhadap pembentukan kebiasaan makanan bergizi saat kehamilan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Tamansari tentang Gambaran Pengetahuan Gizi Pada Ibu Hamil Dalam Pencegahan Stunting didapatkan hasil bahwa mayoritas umur ibu hamil 27 tahun, sebanyak 46,7% berpendidikan SMP. Riwayat kehamilan (Gravid. 58,3% Multi Gravida. Sebesar 53% merupakan Ibu rumah tangga dan berpenghasilan cukup 40%. Sebagian besar ibu hamil di wilayah Puskesmas Tamansari masih memiliki pengetahuan kurang tentang gizi dalam pencegahan stunting sebesar 41. Daftar Pustaka