JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2023 Volume 10 Nomor 2 Analisis Struktur Penyajian Musik Tanji Dalam Kesenian Bangreng Grup Sari Endah di Desa Conggeang Kabupaten Sumedang Alfi Munajab Badar. Denden Setiaji. Arni Apriani Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya E-mail: alfimunajab@gmail. ABSTRAK Tanji merupakan kesenian khas Jawa Barat yang merupakan versi pentatonik dari kesenian Tanjidor, walaupun memiliki nama yang hampir sama dengan kesenian Tanjidor, tetapi musik Tanji ini memiliki sejarah yang berbeda dengan Tanjidor, musik Tanji lahir dan berkembang pada abad pertengahan sekitar dekade 1960an di daerah Bojongloa. Buahdua,Sumedang. Musik Tanji merupakan musik pengiring untuk kesenian bangreng, dasar pemikiran yang melatarbelakangi masalah penelitian ini adalah bagaimana struktur penyajian musik Tanji dari grup Sari Endah serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh grup Sari Endah. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Bagaimana struktur penyajian musik Tanji yang dibawakan grup Sari Endah dalam kesenian bangreng? Bagaimana upaya pelestarian grup Sari Endah untuk menjaga eksistensinya hingga sekarang?. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan struktur penyajian musik Tanji dan upaya pelestarian yang dilakukan oleh grup sri endah. Kajian teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori struktur dan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu peneliti berusaha memaparkan semua hasil penelitian yang ada di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi, dan teknik analisis Struktur penyajian musik grup Sari Endah memiliki tiga bagian dalam Grup Sari Endah memiliki dua buah lagu wajib yang biasa dibawakan oleh grup Sari Endah. Kata kunci : Struktur Penyajian. Musik Tanji. Sari Endah. Bangreng ABSTRACT Tanji is a typical West Javanese art which is a pentatonic version of Tanjidor art, although it has almost the same name as Tanjidor art, but Tanji music has a different history from Tanjidor. Tanji music was born and developed in the middle century around the 1960s in the Bojongloa area. Buahdua. Sumedang. Tanji music is an accompaniment music for bangreng art, the rationale behind this research Jurnal Awilara. 159 problem is how the presentation structure of Tanji music from the Sari Endah group and the preservation efforts made by the Sari Endah group. The problems raised in this study are: How is the presentation structure of Tanji music performed by the Sari Endah group in Bangreng art? How are the preservation efforts of the Sari Endah group to maintain its existence until now? The purpose of this research is to describe the structure of Tanji music presentation and preservation efforts made by the Sari Endah group. This research uses a qualitative method with a descriptive analysis approach, namely researchers try to explain all the results of research in the field. The data collection techniques used are observation, interviews, literature study, documentation, and data analysis techniques. The musical presentation structure of the Sari Endah group has three charts in its The Sari Endah group has two mandatory songs that are usually performed by the Sari Endah group. Keywords: Presentation Structure. Tanji Music. Sari Endah. Bangreng PENDAHULUAN Kesenian dalam perkembangannya sudah menjadi bagian dari s kehidupan yang tak terpisahkan dalam masyarakat, baik di dunia ataupun khususnya di negeri kita ini. Di Tanah air kita Indonesia, budaya di Indonesia menyebabkan banyak hal munculnya hasil-hasil kreatif dari berbagai daerah. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, beberapa kelompok masyarakatnya memiliki budaya hidup yang sudah ada dan diwariskan secara turun temurun, terdiri dari unsur agama, politik, adat istiadat, peralatan, bahasa, bangunan, pakaian dan karya seni, kata kebudayaan seringkali kita dengar dalam berbagai situasi sebagai kebiasaan sosial Kesenian tradisional tercipta dari sebuah ungkapan perasaan yang indah naluri manusia dengan latar belakang tradisi atau sistem budaya masyarakat terdahulu yang terwujud dalam sebuah karya dan juga tingkah laku dalam kehidupan, kesenian tersebut biasanya diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi, lalu kesenian juga telah menempati tempat tersendiri sebagai salah satu bidang yang diakui dalam masyarakat, baik itu kesenian tradisional (Karawita. maupun kesenian modern atau kontemporer, menurut Asep . 4, . kesenian tradisional adalah hasil karya manusia yang diciptakan Jurnal Awilara. 160 dalam sebuah masyarakat yang memiliki fungsi terhadap masyarakat tersebut dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dengan demikian, kesenian tradisional adalah kesenian yang sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun sehingga bisa terus hidup dan berkembang di suatu daerah. Daerah Jawa Barat dikenal sangat kaya dengan ragam jenis kesenian Kesenian tradisional itu merupakan kesenian daerah yang hidup tersebar hampir di seluruh Jawa Barat, kehadirannya sebagai sarana hiburan, masih diminati dan digemari oleh masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu tidak heran jika alat-alat kesenian yang dipergunakan dalam seni pertunjukan Jawa Barat, sangat beragam dan banyak jenisnya. Ragam seni tradisional Jawa Barat merupakan kumpulan berbagai jenis alam yang sangat indah dengan daya tarik budaya yang mempesona. Keanekaragaman budaya yang ada ditunjukkan melalui keanekaragaman kesenian yang dipentaskan. Kesenian ini merupakan ungkapan pikiran, perasaan, dan gagasan manusia yang berbeda lingkungan dan pengalamannya. Seiring dengan berkembangnya zaman, semakin berkembang pula keragaman hasil seni yang diciptakan manusia, begitu pula dengan berbagai bentuk jenis karya seni. Dengan demikian adapun yang disebut seni arakAearakan serta seni pertunjukan lainnya di Salah satu kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat adalah kesenian bangreng, bangreng adalah jenis kesenian terbang yang menggunakan ronggeng, yaitu wanita yang menjadi juru sekar/penyanyi. Jenis kesenian ini ada di Kabupaten Sumedang, awalnya kesenian Bangreng yang berasal dari kata Terbang dan ronggeng tersebut, pada abad XV bernama Terbang karena alat yang digunakan adalah Terbang. Seni Terbang dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam, oleh Sunan Gunung Jati dan keempat utusannya. Untuk memudahkan masyarakat menerima ajaran agama Islam. Eyang Wangsakusumah, salah satu utusan Sunan Gunung Jati menggambarkan bahwa kata Terbang yang terdiri atas 7 huruf menggambarkan 7 hari (Senin. Selasa. Jurnal Awilara. 161 Rabu. Kamis. Jumat. Sabtu, dan Mingg. agar melaksanakan sholat 5 waktu. Dalam menyebarkan agama Islam tersebut Eyang Wangsakusumah menyelingi dengan lagu-lagu Islam seperti sholawat. Pada abad XVII seni Terebang mengalami perkembangan dan dipentaskan di acara - acara keagamaan. Adapun grup Bangreng yang bernama Sari Endah yang berasal dari Sumedang ini menggunakan salah satu unsur kesenian yang bernama AuTanjiAy. Tanji ini merupakan musik tradisional Sunda yang kental dengan instrumen instrumen Barat. Dari pemaparan diatas peneliti tertarik dan memutuskan untuk mengkaji dan meneliti lebih dalam mengenai kesenian musik Tanji dalam kesenian Bangreng yang dibawakan oleh grup Sari Endah di desa Conggeang Kabupaten Sumedang, untuk itu peneliti mengangkat sebuah penelitian yang berjudul AuAnalisis Struktur Penyajian Musik Tanji Dalam Kesenian Bangreng Grup AuSari EndahAy di Desa Conggeang Kabupaten SumedangAy. METODE Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penggunaan metode ini dengan tujuan untuk memaparkan atau mendeskripsikan peristiwa pada saat penelitian berlangsung, dengan dokumentasi, dan studi pustaka. Observasi adalah pengamatan secara langsung oleh peneliti ke lapangan saat kegiatan sedang berlangsung, wawancara merupakan merupakan teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab lisan yang berlangsung satu arah, studi dokumentasi merupakan metode yang cara pengumpulan datanya memanfaatkan data-data berupa buku, catatan . berbentuk tulisan maupun dokumen bentuk lain. Untuk dapat melakukan teknik pengumpulan data studi literatur peneliti melakukan pengumpulan studi literatur yang memiliki relevansi dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk menunjang penelitian, seperti melalui buku-buku, jurnal, artikel, makalah, karya ilmiah maupun Jurnal Awilara. 162 penelitian terdahulu mengenai struktur penyajian musik Tanji, baik yang diperoleh melalui perpustakaan atau referensi. Studi ini diperlukan yang berguna untuk memperkuat hasil penelitian dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi agar dari hasil data yang dikumpulkan tersebut dapat dikuatkan dan dikaitkan dengan teori-teori yang ada. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu sebagai berikut: Tahap Persiapan merupakan tahap awal dalam melakukan Langkah yang dilakukan pada tahap ini yaitu penyusunan proposal yang berisi rancangan penelitian, pada langkah ini peneliti dibimbing oleh dosen pendampingan yang kemudian disetujui dan selanjutnya dapat dikembangkan oleh penulis baik sesuai teori maupun metode penelitian yang digunakan penelitian yang digunakan, tahap pelaksanaan adalah tahap penggalian informasi data secara mendalam dari pihak-pihak yang terkait, dengan pegangan pedoman wawancara dan pedoman observasi yang dibuat pada tahap persiapan penulis mengenal objek lebih dalam, dalam pedoman wawancara dan pedoman observasi peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan dan panduan observasi yang sesuai dengan tujuan dan pertanyaan dari peneliti yang disetujui oleh dosen pembimbing, setelah semua data telah terkumpul maka akan dilaksanakan analisis data, tahap pelaporan pada tahap pelaporan ini peneliti melakukan kegiatan triangulasi data yang merupakan pengecekan atau pemeriksaan dari data yang diperoleh agar memperoleh data yang valid, peneliti melakukan penyusunan laporan hasil pengumpulan data yaitu hasil observasi dan wawancara, setelah penyusunan laporan ini maka didapatkan hasil penelitian dalam menyusun laporan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan maksud dan tujuan penelitian yang kemudian disusun secara sistematis berdasarkan prosedur pelaporan. Jurnal Awilara. 163 C. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian akhirnya peneliti mendapatkan beberapa temuan tentang struktur penyajian musik Tanji dan hasil analisis struktur penyajian musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah di Desa Conggeang Kabupaten Sumedang. Sejarah Musik Tanji dan grup Sari Endah Musik Tanji berkembang pada pertengahan dekade 1960-an di daerah bojongloa, buahdua, kabupaten sumedang, kesenian musik Tanji ini adalah kesenian khas Jawa Barat yang merupakan versi pentatonic dari kesenian Tanjidor, musik Tanji ini juga merupakan salah satu kesenian yang juga melengkapi sebuah atraksi Kuda Renggong. Kesenian musik Tanji ini memiliki kaitan atau hubungan yang erat dengan kesenian Tanjidor dari Karena pada zaman dulu, tepatnya pada tahun 1956 Ae 1957 di kecamatan Buahdua kabupaten Sumedang memiliki banyak grup kesenian Kuda Renggong, namun grup Ae grup ini belum mempunyai musik sebagai pengiring dalam pertunjukannya, karena itu para pelaku seni, pendukung, dan juga masyarakat merasa ada yang kurang dari pertunjukan keseniannya, pada saat itu para seniman Kuda Renggong mengundang grup Tanjidor dari Karawang untuk berpartisipasi dalam acara pementasan kesenian Kuda Renggong, setelah pementasan itu selesai para pelaku seni kesenian Kuda Renggong pun memiliki inisiatif atau pemikiran untuk mencoba menggabungkan kesenian Tanjidor dan juga kesenian Kuda Renggong dan menjadikan kesenian Tanjidor ini sebagai pengiring musik dari kesenian Kuda Renggong. Setelah mencoba menggabungkan sebagai musik pengiring dari kesenian Kuda Renggong ternyata terasa belum memenuhi rasa musikal dari masyarakat setempat, sejak saat itu dicoba lah ditambahkan beberapa waditra yang lain seperti piston, trombone, dan juga clarinet. Yaitu beberapa waditra yang berasal dari Barat, sejak saat itu kesenian nya pun memiliki Jurnal Awilara. 164 nama kesenian Tanji dan menjadi salah satu kesenian tradisional bagi masyarakat setempat. Kesenian musik Tanji terus berkembang sampai sekarang dengan beberapa waditra yang berkembang juga pada saat ini. Grup Sari Endah dulunya mempunyai nama lain sebelum berubah menjadi Sari Endah yaitu pusaka wangi, pusaka wangi atau yang sekarang dikenal sebagai Sari Endah ini berdiri pada tahun 1981 yang seiring berjalannya waktu berganti lah namanya menjadi Sari Endah pada tahun 1995 sampai sekarang menggunakan nama Sari Endah dan dengan pemain atau personil yang terus beregenerasi dan grup ini masih eksis sampai Grup Sari Endah ini memiliki anggota tetap yaitu 14 orang karena pada zaman sekarang sudah banyak permintaan menggunakan sinden berbeda dengan dahulu ketika masih bernama pusaka wangi yang permintaannya jarang menggunakan sinden, karena lebih sering menggunakan terompet batok atau clarinet, dan alat Ae alat lain yang digunakan oleh grup Sari Endah adalah : piston, tambur, bedug, suling, kecrek, boning, goong, trombon. Awal dari terbentuknya grup Sari Endah ini karena pada awalnya orang tua dari Abah Endun memiliki sebuah hewan peliharaan yaitu kuda yang biasa dipakai dalam kesenian Kuda Renggong, pada saat itu karena banyaknya permintaan pertunjukan Kuda Renggong tetapi tidak ada yang menjadi pengiring musiknya. Abah Endung berinisiatif untuk grup musik Tanji yang dulunya bernama pusaka wangi dan yang sekarang dikenal sebagai grup Sari Endah. Setelah itu Abah Endun membeli beberapa alat musik, selain itu juga kenapa Abah Endun berinisiatif untuk membuat grup Sari Endah ini karena pada saat itu masih belum banyak grup pengiring dari musik Kuda Renggong, seiring berjalannya waktu sekarang ini sudah banyak grup pengiring musik Kuda Renggong atau biasa disebut grup musik Tanji, bahkan hampir setiap kecamatan sekarang memiliki grup musik Tanji ini. Jurnal Awilara. 165 Sebelum membentuk grup Sari Endah ini Abah Endun memulai belajar musik Tanji secara otodidak, dimulai dari beberapa alat musik sambil melihat beberapa pemain orang Ae orang dahulu yang khususnya berada di Tonjong Buahdua hingga akhirnya Abah Endun Pun sering diajak oleh beberapa grup lain yang memiliki kekurangan anggota dan juga karena Abah Endun ini sangat terampil dan permainannya sangat bagus, dank arena beberapa hasil pengalaman dan pembelajaran itu pun akhirnya Abah Endun memutuskan untuk membuat grupnya sendiri dengan Abah Endun menjadi pendiri sekaligus menjadi ketua dari grup musik Tanji ini sampai saat ini. Pada awal pembuatan anggota dari grup Sari Endah ini hanya beranggotakan dari sanak saudara atau dari keluarga saja tetapi seiring berjalannya waktu dan nama Sari Endah pun semakin dikenal banyak orang banyak juga orang Ae orang yang antusias ingin menjadi anggota dari grup Sari Endah ini, kemudian karena banyaknya permintaan seperti itu Abah Endun pun mulai membuka perekrutan dan juga latihanAelatihan yang rutin untuk melihat dan memilah mana yang bisa menjadi anggota dari grup Sari Endah. Grup Sari Endah ini juga di masa sekarang memiliki banyak keunikan atau kekhasan yang dijaga sampai saat ini dari awal berdirinya grup Sari Endah ini, mulai dari alat Ae alat yang digunakan sekarang ini yang masih menjaga kekhasan musik Tanji nya karna pada saat ini grup Ae grup lain sudah memodifikasi atau mengganti beberapa alatAealat yang digunakan dalam membawakan Tanji seperti menggunakan gitar listrik untuk pengganti vokal yang pada Tanji itu menggunakan terompet Sunda, clarinet, atau juga Selain dari alat Ae alat musik yang masih khas ini keterampilan tabuhan dari grup Sari Endah juga menjadi pembeda dari grup Ae grup yang Pada awal terbentuknya grup Sari Endah ini, tidak menggunakan sinden atau vocal karna grup musik Tanji biasanya hanya sebagai pengiring Jurnal Awilara. 166 dan musik saja yang dipakai, tetapi seiring berjalannya waktu dan juga banyaknya permintaan dari beberapa pelanggan akhirnya grup Sari Endah pun menggunakan sinden atau vokal, tetapi tetap menyesuaikan terkadang ada juga permintaan yang tidak ingin menggunakan vokal hanya musik nya Struktur Penyajian Musik Tanji grup Sari Endah Struktur merupakan bagian bagian dari suatu objek yang dalam hal ini adalah musik Tanji, dalam penyajian pertunjukan musik Tanji atau sebagai pengiring, musik Tanji ini memiliki beberapa struktur penyajian musik yang diantaranya adalah persiapan, penempatan posisi, pembukaan, lalu dilanjutkan dengan arakAearakan dan penutup. Persiapan yang dilakukan grup Sari Endah ini dalam penyajian musik Tanji yang akan dibawakan biasanya mereka melakukan latihanAelatihan kecil atau mengingat beberapa lagu atau bagan yang akan dibawakan, selain itu mengecek beberapa alat yang akan digunakan dikarenakan biasanya grup ini mendapat pesanan yang jauh, grup ini selalu berangkat sehari sebelum acara berlangsung jika waktu memungkinkan jadi karena hal ini alat musik yang digunakan di cek kembali sebelum pertunjukan dimulai karena didiamkan satu malam, dan juga ada beberapa alat seperti sound atau pengeras suara yang bersifat elektrik yang harus di cek. Setelah beberapa persiapan itu selesai grup Sari Endah melaksanakan doa bersama agar sajian musik yang dibawakan bisa berjalan lancar. Setelah tahap persiapan selesai para personil Sari Endah langsung menempati posisi yang sudah diatur oleh Abah Endun yakni ketua dari grup ini karena penyajian nya akan dilakukan sambil berjalan dan sifatnya arakAe arakan makan posisi ini menjadi hal yang penting untuk menciptakan efisiensi dalam pertunjukan musik Tanji saat arak Ae arakan. Setelah persiapan dan pengaturan posisi sudah selesai dilanjutkan dengan pembukaan, pada tahap ini sudah termasuk dari serangkaian Jurnal Awilara. 167 pertunjukan yakni sebagai pembuka dari acara yang akan dibawakan, dalam pembukaan ini grup Sari Endah memainkan lagu yang berjudul Kembang Gadung, dan Ayun Ambing , lagu ini merupakan lagu yang selalu dan menjadi wajib untuk pembukaan dalam setiap acara yang akan dibawakan oleh grup Sari Endah. Pada saat membawakan lagu pada pembukaan, di sisi lain digunakan para seniman Kuda Renggong untuk mengatur posisi dari kuda Ae kuda yang akan melaksanakan arak Ae arakan. Setelah semuanya siap dan pembukaan sudah selesai dilanjutkan dengan arak Ae arakan mengelilingi rute yang sudah ditentukan, dalam proses berjalannya arak Ae arakan grup musik Sari Endah berperan sebagai pengiring dan berjalan di belakang rombongan Kuda Renggong, terdapat beberapa lagu yang dibawakan dengan durasi yang tidak menentu atau sudah disesuaikan dengan rute yang akan ditempuh. Dalam arak Ae arakan karena biasanya memakan jarak yang sangat jauh maka grup Sari Endah dan semua rombongan biasanya melakukan istirahat di pertengahan rute, setelah istirahat nya selesai sebelum berangkat kembali menuntaskan rute sisanya biasanya mereka melakukan pertunjukan di tempat dahulu sebelum lanjut menuntaskan arak Ae arakan tersebut, setela pertunjukan ditempat selesai karena biasanya tidak lama, semua rombongan langsung melanjutkan arak Ae arakan, tetapi apabila jarak tempuh nya tidak terlalu jauh maka istirahat ini tidak diadakan oleh grup Sari Endah, selanjutnya arak-arakan dilanjutkan sampai kembali ke awal rute atau biasa disebut bale yaitu titik awal biasanya rumah dari orang yang memiliki acara, pada akhir pertunjukan ada dua alternatif yang biasa dilakukan oleh grup Sari Endah, yang pertama apabila penutupan dilakukan sambil berjalan kembali ke Bale, biasanya grup Sari Endah membawakan lagu yang berjudul pileuleuyan untuk penutupan atau pertanda akan berakhirnya arak-arakan, untuk alternatif yang kedua biasanya grup Sari Endah melakukan penutupan di atas panggung yang sudah di siapkan di bale Jurnal Awilara. 168 di akhir rute arak-arakan tersebut, biasanya pada penutupan ini grup Sari Endah membawakan lagu AumitraAy dengan menggunakan kedang duduk, tetapi terkadang juga menggunakan tambur dan bedug tergantung permintaan dari penyewa grup Sari Endah. Bentuk garapan yang dibawakan oleh grup Sari Endah dalam penyajian musik Tanji adalah pertunjukan musik berjalan atau biasa disebut dengan arak Ae arakan, diawali dengan pertunjukan pembukaan yang dilakukan di awal atau start dari rute arakAearakan dengan membawakan lagu yang biasa wajib dibawakan dalam pertunjukan musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah, lagu yang dibawakan itu adalah lagu yang berjudul AuKuda SumedangAy, dalam garapan musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah ini masih khas dengan Tanji yang kental karena masih menggunakan alat Ae alat Tanji yang lama atau yang asli seperti clarinet, trombone, dan juga piston sampai saat ini. Grup Sari Endah dalam pertunjukannya memiliki beberapa lagu yang sering dibawakan karena beberapa lagu ini bersifat wajib seperti pada saat pembukaan dan juga pada awal dimulainya arakAearakan, laguAelagu yang biasa atau wajib dibawakan dalam kesenian musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah ini antara lain dalam pembukaan ada dua yaitu lagu Kembang Gadung dan Ayun Ambing, selain dua lagu itu grup Sari Endah juga memiliki satu lagu wajib yang harus selalu dibawakan dalam arak Ae arakannya yaitu lagu AuKuda SumedangAy. Struktur musik dari lagu Ae lagu yang dibawakan oleh grup Sari Endah bersifat fleksibel dikarenakan harus menyesuaikan dengan waktu dan jarak yang akan ditempuh oleh grup Sari Endah dan disini peneliti mencoba menggambarkan struktur musik yang dibawakan oleh grup Sari Endah dalam bentuk partitur dari lagu Ae lagu yang bersifat wajib dibawakan saat pertunjukan penyajian musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah. Jurnal Awilara. 169 Analisis Struktur Penyajian Musik Tanji yang Dibawakan oleh Grup Sari Endah Dari struktur penyajian yang sudah dibahas sebelumnya peneliti melakukan beberapa analisis dan menemukan beberapa temuan yang terdapat dalam struktur penyajian musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah ini. Dalam pembukaan pertunjukan Sari Endah membawakan dua buah lagu yaitu kembang gadung dan ayun ambing dua lagu ini menjadi lagu wajib yang selalu dibawakan oleh grup Sari Endah, alasan dari grup Sari Endah menjadikan lagu ini wajib dalam setiap pembukaan karena kedua lagu itu memiliki kaitan yang erat dengan daerah sumedang, karena kedua lagu tersebut dipercaya merupakan lagu-lagu yang disukai oleh para karuhun atau leluhur di Sumedang, oleh karena itu kedua lagu ini bersifat wajib dibawakan dalam pembukaan setiap acara Kuda Renggong dan arakarakan oleh grup Sari Endah, dipercaya apabila pembukaan tidak menggunakan kedua lagu tersebut biasa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian mistis kesurupan karena dipercaya para karuhun atau leluhur disana tidak suka atau marah, maka kedua lagu tersebut yaitu kembang gadung dan ayun ambing menjadi lagu wajib yang dibawakan oleh grup Sari Endah pada setiap pementasan. Arak-arakan dalam kesenian Bangreng sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat sumedang, pada awalnya arak-arakan menaiki kuda dalam kesenian bangreng ini bertujuan untuk merayu seorang anak agar mau melakukan khitanan atau gusaran, pada zaman itu arak-arakan menaiki kuda menjadi alternatif yang efisien dalam membujuk anak-anak agar mau di sunat, tidak hanya untuk khitanan saja bahkan biasanya arak-arakan menaiki kuda ini digunakan dalam pernikahan karena tujuan dari arakarakan ini merupakan sebuah rasa syukur dan juga sebuah cara untuk ngabungahkeun atau membuat senang orang yang diarak, dan bahkan seiring berkembangnya zaman saat ini tidak hanya untuk khitanan dan Jurnal Awilara. 170 nikahan saja, bisa untuk acara tertentu bahkan ulang tahun pun biasanya ada yang ingin di arak menaiki kuda dengan diiringi musik Tanji. Penutupan pada acara kesenian bangreng dan musik Tanji biasa dilakukan dengan sebuah pertunjukan musik Tanji di atas panggung atau juga di akhir arak-arakan langsung ditutup menggunakan lagu pileuleuyan, namun ada sebuah daerah di Cisemet buahdua ada sebuah tradisi yang bernama Autradisi rebutanAy di daerah tersebut tradisi ini menjadi hal wajib dilakukan dalam penutupan kesenian bangreng atau arak-arakan tersebut, tradisi ini dilakukan untuk penutupan dimana rombongan arak-arakan Kuda Renggong memutari area lapang sambil diiringi oleh musik Tanji yang ditengahnya dilangsungkan tradisi rebutan, tradisi ini mirip seperti acara panjat pinang ketika hari Nasional, kuda yang berkeliling di pinggirnya dan musik Tanji yang mengiringinya ini tidak berhenti sampai tradisi rebutan ini selesai, tradisi ini menjadi alternatif lain untuk penutup acara arak-arakan biasa dilakukan di daerah Cisemet. Buahdua. Sumedang. KESIMPULAN Musik Tanji merupakan sebuah kesenian musik yang terlahir karena tidak adanya pengiring musik bagi kesenian bangreng di Sumedang pada saat itu, musik Tanji lahir dan berkembang pada tahun 1960-an di daerah Bojongloa. Buahdua, kabupaten Sumedang, musik Tanji ini merupakan sebuah kesenian khas Jawa Barat yang memiliki keterkaitan erat dengan kesenian Tanjidor dari karawang, dikarenakan musik Tanji ini merupakan versi pentatonik dari kesenian Tanjidor, struktur penyajian musik Tanji yang dibawakan oleh grup Sari Endah memiliki tiga urutan atau tiga bagian yaitu pembukaan dengan membawakan dua lagu wajib yang biasa dibawakan oleh grup Sari Endah yaitu kembang gadung dan ayun ambing, dilanjutkan dengan kegiatan arak-arakan dari titik awal hingga kembali lagi ke tempat awal dengan rute yang tidak menentu. Lalu bagian terakhir dari struktur penyajian musik Tanji adalah penutupan yang dimana pada Jurnal Awilara. 171 penutupan ini memiliki dua alternatif atau pilihan yang berbeda dan bahkan pada suatu daerah memiliki cara sendiri yang wajib dilakukan dan sudah menjadi tradisi dalam melakukan penutupan acara. DAFTAR PUSTAKA