Jurnal Pendidikan Sultan Agung JP-SA Volume 5 Nomor 3. O k t o b e r Tahun 2025 Hal. 479 Ae 489 Nomor E-ISSN: 2775-6335 SK No. 27756335/K. 4/SK. ISSN/2021. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Jl. Kaligawe Raya KM. 4 Kota Semarang 50112 Jawa Tengah Indonesia Alamat website: http://jurnal. id/index. jpsa/index ========================================================================= TRADISI KATOBA SEBAGAI WARISAN BUDAYA DALAM MENGUATKAN PENDIDIKAN ISLAM PADA ANAK DI KABUPATEN MUNA SULAWESI TENGGARA Faldin Baen1 dan Muhammad Ilham2 Universitas Ivet Fakultas Agama Islam, 2IAIN Kendari e-mail: faldinbaen@ivet. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tradisi Katoba dalam membentuk karakter Islam pada anak-anak suku Muna di Kabupaten Muna. Sulawesi Tenggara. Tradisi Katoba ini mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan ajaran Islam dan dilakukan sebelum anak memasuki masa pubertas sebagai bentuk pendidikan moral dan spiritual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian perpustakaan, mengandalkan berbagai sumber sastra seperti buku, artikel, dan jurnal ilmiah untuk mengeksplorasi makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi Katoba. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Katoba mengajarkan nilai-nilai monoteisme, birrul walidain . enghormati orang tu. , serta kejujuran dan tanggung jawab dalam melindungi hak-hak orang lain. Tradisi ini memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak-anak, membimbing mereka untuk memahami hubungan mereka dengan Tuhan, orang tua, dan masyarakat, dan memperkuat internalisasi nilai-nilai Islam sejak usia Oleh karena itu. Katoba berfungsi tidak hanya sebagai sarana pelestarian budaya lokal tetapi juga sebagai media yang efisien untuk pendidikan karakter Islam. Kata Kunci: Tradisi Katoba. Pendidikan Islam. Anak. Kabupaten Muna Abstract This study aims to analyze the role of the Katoba tradition in shaping the Islamic character of Muna children in Muna Regency. Southeast Sulawesi. The Katoba tradition integrates local values with Islamic teachings and is performed before children enter puberty as a form of moral and spiritual This study used a qualitative method with a library research approach, relying on various literary sources such as books, articles, and scientific journals to explore the meaning and values contained in the Katoba procession. The research findings indicate that Katoba teaches the values of monotheism, birrul walidain . espect for parent. , as well as honesty and responsibility in protecting the rights of others. This tradition plays a crucial role in shaping children's personalities, guiding them to understand their relationships with God, their parents, and society, and strengthening the internalization of Islamic values from an early age. Therefore. Katoba serves not only as a means of preserving local culture but also as an efficient medium for Islamic character Keywords: Katoba Tradition. Islamic Education. Children. Muna Regency PENDAHULUAN Dalam lanskap Indonesia yang luas dan kaya budaya, setiap wilayah dan kelompok suku yang berbeda memiliki tradisi unik dan berakar kuat yang ditujukan untuk memberikan nilai-nilai kehidupan esensial kepada anak-anak. Secara khusus, di bagian tengah Indonesia. Faldin Baen dan Muhammad Ilham. Tradisi Katoba sebagai warisan budaya. dan lebih tepatnya di dalam batas-batas geografis Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara, ada tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat Muna, yang telah rajin diturunkan dari generasi ke generasi dan kemudian diperkenalkan ke masyarakat yang lebih luas dengan nama Katoba (Sadiman et al. , 2. Tradisi khusus ini dijalankan oleh suku Muna, yang diakui sebagai salah satu kelompok suku terpadat dan signifikan yang tinggal di Sulawesi Tenggara. Suku Muna menempati berbagai wilayah administrasi di seluruh Sulawesi tenggara, termasuk namun tidak terbatas pada Kabupaten Muna. Kabupaten Muna Barat. Kabupaten Buton Tengah, serta pusat-pusat kota Kota Kendari dan Kota Bau-bau. Khususnya, konsentrasi terbesar populasi Muna ditemukan di Kepulauan Muna dan kota Kendari, di mana jumlah total individu yang termasuk dalam Suku Muna adalah sekitar 332. 437, seperti yang tercatat dalam studi demografis. Menurut temuan yang disajikan oleh Ardianto . , tradisi Katoba berfungsi sebagai ritual siklus hidup yang signifikan dalam komunitas etnis Muna, mewujudkan unsur-unsur penting dari pendidikan karakter yang ditenun secara rumit ke dalam struktur pidato dan pelaksanaan ritual. Masyarakat Muna menganggap Katoba sebagai media komunikasi penting yang melaluinya mereka menanamkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda, dengan penekanan khusus pada menanamkan prinsip-prinsip kebaikan dan perilaku etis pada anak-anak (Hadirman et al. , 2. Tradisi Kegiatan Ritual Katoba merupakan praktik penting konversi atau Islamisasi, yang dengan sungguh-sungguh dilakukan oleh komunitas Muna sebagai sarana untuk memperkuat identitas budaya dan agama mereka. Tradisi penting lainnya, yang dikenal sebagai Kasambu, dilakukan oleh komunitas Muna untuk mengantisipasi kelahiran seorang anak, yang bertujuan untuk memohon berkat dan harmoni bagi ibu hamil dan bayi yang baru Selain itu, ritual Karia Pingitan memiliki arti khusus bagi wanita remaja yang baru mulai menstruasi, berfungsi sebagai ritual peralihan penting sebelum pernikahan mereka Selain itu, daya tarik budaya Ewa Wuna menampilkan keberanian, keahlian, dan kearifan lokal yang kaya yang melekat pada masyarakat Muna, yang mencerminkan warisan budaya dan ekspresi artistik mereka. Terakhir, tradisi Kampua berkaitan dengan upacara pemotongan rambut bayi ketika anak mencapai usia 44 hari, melambangkan berbagai kepercayaan budaya dan spiritual yang terkait dengan anak usia dini. Budaya Katoba menonjol sebagai salah satu dari banyak tradisi khas yang menjadi ciri lanskap budaya Muna, dibedakan oleh atribut dan karakteristiknya yang unik. Praktek budaya khusus ini merupakan penggabungan harmonis dari tradisi asli suku Muna dan nilainilai Islam yang telah diberikan kepada anak-anak dalam komunitas ini (Sulani, 2. Ritual Katoba itu sendiri dapat dipahami sebagai produk dari integrasi dan negosiasi kompleks yang telah terjadi antara ajaran Islam dan adat istiadat setempat suku Muna, sebuah proses yang, meskipun kadang-kadang menyebabkan ketegangan dan perselisihan, tidak menghasilkan konflik fisik apa pun melainkan memupuk integrasi konstruktif ajaran Islam, yang secara efektif dikomunikasikan kepada generasi muda (Aris, 2. Seperti yang dikemukakan oleh Hesti . , pelaksanaan ritual Katoba berfungsi sebagai proses vital dalam membentuk karakter anak-anak, sebuah keyakinan yang sangat tertanam dalam etnis Muna. Nilai-nilai yang dikemas dalam ritual Katoba dimaksudkan untuk memastikan bahwa anak-anak suku Muna mengembangkan pemahaman yang jelas tentang interaksi sosial yang Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 479 - 489 tepat, perilaku etis dalam masyarakat, dan kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Komunitas Muna secara mahir memanfaatkan Katoba sebagai media komunikatif yang ditujukan kepada anak-anak, memanfaatkan tradisi yang secara inheren memiliki fungsi pendidikan untuk memfasilitasi proses pembelajaran (Hadi, 2. Dari perspektif filosofis masyarakat Muna, diakui bahwa anak-anak tidak memiliki kapasitas intrinsik untuk membedakan antara sifat-sifat yang berbudi luhur dan merugikan dalam konteks interaksi sosial. Atas pemahaman mendasar inilah tradisi Katoba menjadi sangat penting bagi anak-anak suku Muna yang berada di ambang memasuki masa dewasa muda (Kahar, 2. Suku Muna bercita-cita agar orang tua memberikan perilaku positif kepada anak-anak mereka baik dalam lingkungan domestik maupun di komunitas yang lebih luas sebelum awal pubertas. Titik fokus pendidikan moral dalam suku Muna diilustrasikan dengan jelas melalui tradisi Katoba, yang telah dilestarikan sebagai praktik turun-temurun untuk setiap keturunan suku Muna dan generasi mendatang mereka. Tujuan menyeluruh adalah untuk memastikan bahwa setiap anggota komunitas Muna tetap berkomitmen untuk menjunjung tinggi tradisi yang ditetapkan oleh nenek moyang mereka sambil secara bersamaan mempraktikkan prinsip-prinsip ajaran Islam (Bauto, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mendirkripsikan makna dan pelaksanaan tradisi Katoba sebagai bagian dari budaya lokal. Tujuan selanjutnya untuk mengidentifikasi nilainilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Katoba. Tradisi yang telah terintegrasi antara nilai-nilai luhur kehidupan suku muna dan nilai-nilai Islam di dalam Al Quran sehingga Peneliti dapat menganalisis peran tradisi Katoba dalam membentuk karakter dan spiritualitas anak sebagai bagian dari pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan memperkenalkan nilai-nilai tradisi Muna kepada generasi muda khusunya dalam penguatan nilai-nilai ketauhidan, moral dan perilaku serta keilmuan Islam. Selain itu. Penelitian ini juga bertujuan memberikan kontribusi ilmiah terhadap kajian interdisipliner antara budaya lokal dan pendidikan Islam sehingga menjadi referesni akademik dalam pengembangan model pendidikan berbasis kearifan lokal khususnya dalam konteks Islam Nusantara. Manfaat praktis lainya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat muna dalam melestarikan tradisi Katoba sebagai sarana dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak. Bagi pendidik dan orang tua dapat memberikan pemahaman tentang integrasi nilai budaya dan agama dalam pendidikan anak secara kontekstual METODE Metodologi yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah kualitatif, memanfaatkan pendekatan penelitian perpustakaan, juga disebut sebagai penelitian library research. Penelitian perpustakaan merupakan kerangka metodologis yang sebagian besar bergantung pada sumber sastra sebagai data utama (Mavodza, 2. Pendekatan ini memungkinkan para sarjana untuk mengekstrak wawasan berharga dan paradigma teoritis dari literatur yang masih ada, sehingga menambah kedalaman dan ketahanan penyelidikan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengeksplorasi secara kritis informasi yang berkaitan dengan tradisi Katoba dalam memperkuat karakter Islam pada anak-anak dengan memeriksa secara sistematis berbagai literatur terkait, termasuk tetapi tidak terbatas pada Faldin Baen dan Muhammad Ilham. Tradisi Katoba sebagai warisan budaya. buku, artikel, jurnal, dan sumber daya tambahan yang dapat diakses di perpustakaan atau melalui platform digital (Jannah, 2. Metode penelitian perpustakaan sangat cocok untuk parameter penyelidikan ini, karena penekanan utamanya adalah pada pengumpulan data yang berasal dari bahan perpustakaan yang sudah ada sebelumnya, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk keterlibatan langsung dengan responden atau pengumpulan data lapangan (Magdalena & Heni, 2. Dalam hal ini, metodologi penelitian perpustakaan dapat memberikan wawasan yang mendalam dan komprehensif mengenai materi pelajaran yang sedang diselidiki, serta memfasilitasi identifikasi kesenjangan dalam literatur yang sudah ada sebelumnya (Hayman. Mengumpulkan Artikel Mengurangi Artikel Menyusun dan mengatur Artikel Mendiskusikan Artikel Gambar 1. Desain Penelitian Sumber data berasal dari Google Scholar yang dicari dengan menggunakan kata kunci AuKatobaAy. Data juga didapatkan melalui aplikasi AI Publish or Perish dengan mengetikan kata Kunci AuKatoba di Kabupaten MunaAy sehingga beberapa artikel ilmiah yang dibutuhkan dapat di download dengan mudah. Untuk memberikan tinjauan literatur yang berkualitas. Peneliti akan melakukan beberapa tahap. Tahap pertama. Peneliti akan mengunduh berbagai Jurnal atau publikasi ilmiah yang relevan dan mengumpulkanya ke dalam 1 folder. Dalam proses penelusuran terkumpul 35 artikel yang relevan terhadap objek penelitian. Tahap kedua, peneliti akan mereduksi atau memilah artikel-artikel yang relevan dengan cara membacanya sehingga memudahkan Peneliti mengkaji artikel tersebut. Artikel yang tidak sesuai dengan objek penelitian tidak digunakan karena dapat memperluas objek penelitian dan membuat penelitian tidak dapat terfokus. Proses beriktunya. Peneliti akan membahas artikel jurnal pustaka dengan cara menghubungkan teori, membandingkan hingga menghubungkan ide-ide yang relevan sehingga dapat mencapai hasil dan kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Istilah AuKatobaAy berasal dari istilah Arab AuToba,Ay yang menandakan ekspresi Dalam arti harfiah, transformasi ini dapat ditafsirkan sebagai manifestasi penyesalan atas semua pelanggaran yang dilakukan, disertai dengan janji untuk menahan Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 479 - 489 diri dari tindakan semacam itu di masa depan. Sebagaimana diartikulasikan oleh Untarti . Katoba ditafsirkan sebagai pemurnian Islam terhadap seorang individu, dimanifestasikan melalui artikulasi dua deklarasi syahadah. Lebih jauh lagi. Katoba dapat diartikan sebagai tindakan menguduskan diri dari pelanggaran sebelumnya. Dalam leksikon Indonesia, istilah AuTaubahAy telah diasimilasi menjadi AutabatAy (Arjun, 2. Sesuai Untarti . , sebelum pelaksanaan upacara Katoba, keluarga atau wali akan melakukan berbagai tindakan persiapan, yang meliputi: Prosesi Katoba Kegiatan Proses Persiapan Keluarga terlibat dalam musyawarah untuk mengatur acara tersebut. Keluarga akan mengumpulkan beberapa barang penting, termasuk kain putih, pisau cukur, lilin, telur ayam, dan saksi yang ditunjuk. Proses Penerapan Tradisi Katoba Awalnya, upacara pembukaan dimulai. Imam akan meminta persetujuan keluarga untuk memulai proses dengan membacakan AuBasmallah. Ay Selanjutnya, anak akan direndam dalam air yang diresapi dengan doa yang bersumber dari Al-Quran, yang dimaksudkan untuk kesejahteraan anak. Setelah ini, anak akan menjalani sunat. Setelah itu. Imam akan memberikan nasihat kepada anak, yang akan menanggapi dengan tegas dengan istilah Auumbe,Ay di hadapan anggota keluarga dan wali. Komponen penting dari upacara Katoba: Imam akan memulai proses dengan membacakan AuAl Fatihah,Ay yang akan digemakan oleh anak, diikuti oleh Imam membacakan AuIstighfarAy tiga kali, juga digemakan oleh anak itu. Setelah itu. Imam akan membimbing anak dalam melaksanakan shalat. Prosesi Katoba Selama segmen ini. Imam akan menyampaikan bimbingan kepada anak, menekankan perlunya memahami dan menerapkan ajaran-ajaran ini untuk masa depan anak, yang dirangkum dalam frasa AuMo-tehie kakawasa,Ay yang menandakan penghormatan terhadap keilahian seseorang dan kepatuhan terhadap perintah-perintah-Nya sambil menghindari semua larangan. Selain itu. AuAngkafie poghauno kamokulamuAy menggarisbawahi pentingnya mematuhi arahan kedua orang tua. AuDo-sosoAy . eminta pengampunan dari Allah SWT) menandakan pengakuan dosa seseorang dan komitmen untuk melakukan reformasi, bercita-cita untuk melampaui kesalahan sebelumnya. AuDopomamasigho ndebali manusiaAy menganjurkan cinta timbal balik, terutama terhadap saudara kandung seseorang, yang memerlukan interaksi jujur dengan diri sendiri dan orang lain sambil menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Membaca Doa Doa yang digunakan termasuk yang sering dibacakan pada akhir doa atau Allah permohonan untuk kesejahteraan keluarga. Swt/Haroa Memperkenalkan nilai ketauhidan kepada anak Praktek adat Katoba menunjukkan keselarasan yang mendalam dengan prinsipprinsip Islam. Pemimpin agama yang ditunjuk oleh keluarga untuk mengawasi tradisi Katoba akan memberikan nilai-nilai kepatuhan kepada anak yang berpartisipasi dalam ritual Dalam kerangka budaya ini, anak akan menerima nasihat dari Imam, yang menjelaskan Faldin Baen dan Muhammad Ilham. Tradisi Katoba sebagai warisan budaya. pentingnya kepatuhan. Imam, yang melayani sebagai penasihat dalam tradisi Katoba, harus mewujudkan kepercayaan Islam. Imam akan membimbing anak suku Muna untuk secara konsisten menavigasi keberadaan mereka sesuai dengan ajaran agama Islam. Para imam memberikan nasihat selama ritual Katoba mengartikulasikan bimbingan seperti Aobha mina bhe ompu, sampu-mpuuno nisomba sapaeno Allah taala. Aobha anabi muhammadhi katudu-tudunono allah taala (Tidak ada dewa yang layak disembah selain Allah, dan Muhammad Saw adalah utusan Alla. Nasihat semacam itu diberikan kepada para pemuda suku Muna untuk memfasilitasi pengakuan mereka terhadap Pencipta mereka. Nilai-nilai kepatuhan ditanamkan dalam diri anak untuk menumbuhkan perilaku moral yang terpuji (Safitri, 2. Etika Islam akan mengarahkan mereka untuk memahami hubungan mereka dengan Allah, diri mereka sendiri, dan orang lain, sehingga meningkatkan perkembangan moral pada anak-anak (Sari & Herdiana, 2. Seperti yang disorot oleh Ardianto . , tradisi Katoba mencakup berbagai ajaran etika yang diberikan kepada anak-anak selama upacara ini, termasuk: Imamu Anak Imamu Anak Imamu Anak Imamu Anak Imamu Anak Sarai maitu toba popaa AoSyarat tobat ada empatAo Uumbe AoIyaAo Totolu ne lahataala Aotiga ada pada Allah SwtAo Uumbe AoIyaAo Seise nemanusia bhainto AoSatu ada sesama manusiaAo Uumbe AoIyaAo bhabhaano dososo Aopertama menyesalAo Uumbe AoIyaAo Maanano dososogho diunto humala nemanusia bhainto ne ompu lahataala Aomaknanya menyesali setiap kesalahan kepada Allah Swt. Ao Uumbe AoIyaAo Suku Muna yang terlibat dalam tradisi Katoba menjalani bentuk pendidikan moral yang dirancang untuk mempromosikan kesadaran awal akan Ilahi. Inisiatif ini bertujuan untuk memelihara karakter anak di seluruh domain etika, spiritual, dan intelektual. Diharapkan bahwa tradisi ini akan memberi anak pemahaman yang mendalam tentang keberadaan Allah Swt. Ungkapan Totolu ne lahataala . iga dosa ada pada Allah Sw. mengartikulasikan bahwa anak harus meminta pengampunan secara eksklusif dari Allah untuk setiap pelanggaran yang dilakukan sepanjang hidup. Katoba berfungsi sebagai peringatan kepada anak bahwa Sowokano weaherati, opindao hintu narumatogho omate damopesuangko welo ifino naraka. (Pembalasan menanti setiap perbuatan jahat di akhirat, jika orang yang meninggal turun ke dalam api nerak. Tradisi ini berfungsi untuk menanamkan pada anak pemahaman awal tentang kesalahan duniawi mereka. Praktik pendidikan semacam itu mendorong anak untuk mengambil bagian dalam introspeksi untuk mencegah perilaku tidak bermoral di masa depan. Nasihat ini sejalan dengan doktrin Islam, di mana Tuhan memerintahkan agar setiap individu menyembah Dia secara eksklusif, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Ikhlas. Tradisi Katoba memiliki potensi untuk berkontribusi secara signifikan terhadap pembentukan karakter anak dan kompas moral, memperkuat peran penting pendidikan agama Islam dalam konteks keluarga (Nurdiana, 2. Melalui pengenalan nilai-nilai Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 479 - 489 kepatuhan, tradisi ini memfasilitasi internalisasi awal ajaran Islam kepada anak-anak (Rufaedah, 2. Lebih jauh lagi, tradisi ini mencontohkan bagaimana struktur masyarakat dapat menyelaraskan nilai-nilai budaya dan agama dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menciptakan hubungan kohesif antara keduanya. Hasil dari tradisi Katoba menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai agama Islam melalui praktik budaya dapat menghasilkan generasi yang lebih toleran dan sadar akan keragaman masyarakat. Menaati nasehat orang tua (Birul WalidaAoi. Dalam kerangka tradisi Katoba, keturunan diinstruksikan untuk menghormati arahan orang tua sesuai dengan dekrit Allah Swt. Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan pada anak pentingnya mematuhi bimbingan orang tua. Seorang anak yang mematuhi nasihat orang tua mereka cenderung berkembang secara positif dan menumbuhkan pola pikir yang Kamokulamu moghane omotehie lansaringano lahataala, kamokulamu robhine omotehie lansaringano anabi muhamadhi, . enghormati orang tua sebagaimana diamanatkan oleh Allah Swt. , menghormati ibu seperti yang ditentukan oleh Nabi Muhamma. berfungsi untuk menyampaikan bahwa anak harus menumbuhkan kasih sayang untuk kedua orang tuanya seperti yang diperintahkan oleh Allah Swt dan ditetapkan oleh Muhammad Saw. Nasehat ini diberikan kepada anak suku Muna dalam tradisi Katoba untuk memastikan bahwa anak memahami bahwa penghormatan terhadap orang tua harus diabadikan secara konsisten. Tidaklah terjadi hanya pada masa perkawinan, kesetiaan anak kepada ayah dan ibu telah terpenuhi, terutama untuk keturunan laki-laki. Demikian pula, status pekerjaan anak tidak berfungsi sebagai pembenaran untuk mengurangi hubungan mereka dengan kedua orang tua. Tradisi Katoba bercita-cita agar anak mempertahankan pengabdian yang tak tergoyahkan kepada kedua orang tuanya, terlepas dari keadaan dan situasi yang dihadapi anak. Selain itu, dalam tradisi Katoba, anak diinstruksikan untuk terlibat dalam komunikasi hormat dengan kedua orang tua. Prosesi Katoba mengartikulasikan nasehat yang disampaikan kepada anak bahwa Dofotola andoa dobhalo merimbae (Jika dipanggil orang tua cepat-cepat kamu menjawa. Ini menandakan bahwa ketika kedua orang tua memanggil anak mereka, anak diharapkan untuk segera menanggapi panggilan keduanya. Selanjutnya, dalam menjawab panggilan kedua orang tua, tanggapan harus dilakukan dengan sopan dan sopan, sesuai dalam prosesi Katoba, bahwa: Imamu : . Ane dofotola andoa mina naemblai dobhaloAy omokohaenoAy AoKalau mereka panggil kita tidak boleh menjawab AuapaAy Anak Imamu Anak Imamu : . Uumbe AoIyaAo : . Natumanda ghole-gholeitu ini AoMulai hari ini : . Uumbe AoIyaAo : . Sadatumolako andoa tabea omoko uumbe AoKapan mereka memanggil harus menjawab iya Uumbe merupakan dialek kompleks yang digunakan oleh suku Muna, yang menandakan penegasan dalam bahasa Indonesia. Dalem, ketika diucapkan dalam bahasa Jawa, menyampaikan makna yang berbeda. Uumbe mencakup implikasi analog dengan Faldin Baen dan Muhammad Ilham. Tradisi Katoba sebagai warisan budaya. prinsip Birul Walidain sebagaimana diartikulasikan dalam Al-Quran. Analog dengan kisah Ibrahim a. s dan Ismail a. s yang terlibat dalam dialog yang sopan, praktik serupa diamati dalam tradisi Katoba. Keturunan didorong untuk menggunakan bahasa hormat terhadap orang tua mereka, baik dalam membantu orang tua mereka, terlibat dalam percakapan, atau memenuhi kewajiban lainnya. Fauziah . berpendapat bahwa pengenalan rasa hormat kepada ayah dan ibu dalam berkomunikasi berfungsi sebagai komponen penting dari pendidikan etika yang harus ditanamkan sejak usia dini. Instruksi melalui kerangka komunikasi budaya yang terpuji dengan orang tua dapat menumbuhkan landasan dan karakter etika anak, sehingga mempengaruhi interaksi mereka dengan orang lain dalam lingkungan sosial. Fazil . menegaskan bahwa pendidikan etis tentang tutur kata dan sopan santun kepada orang tua akan membimbing anak untuk secara konsisten berperilaku sopan kepada orang lain. Akibatnya, anak akan memperoleh etika sosial yang mempersiapkan mereka untuk menavigasi dilema moral yang lebih kompleks di masa depan (Dewi, 2. Prinsip ini disampaikan dalam tradisi Katoba masyarakat Muna kepada anak-anak yang tinggal di Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara. Tidak mengambil hak orang lain Sangat penting bagi anak untuk menerima bimbingan etis yang bertujuan menahan diri dari melanggar hak-hak orang lain. Kebutuhan ini muncul dari fakta bahwa anak adalah individu yang belum mencapai perkembangan emosional dan kognitif penuh, yang dapat menyebabkan kasus di mana anak secara tidak sengaja menyebabkan kerusakan pada teman sebaya selama bermain (Sesmiarni, 2. Pendidikan etika yang kuat akan memfasilitasi pemahaman anak tentang dampak perilaku mereka dan menumbuhkan disposisi empatik terhadap orang lain (Lestari, 2. Dalam tradisi katoba, ada beberapa pesan imam yang diajarkan kepada anak yang mengiktui tradisi ini, diantaranya: Imamu Anak Imamu Anak Popaano hakunasi, panaembali omefunae Aohak orang lain. Tidak boleh kamu ambilAo hintu Uumbe AoIyaAo Ane damefunaa angha, lahae somekorupsino nagha. Mai setampu karoo panembali damalae, setampu deu, sehae maitu? Odeu nopobheramu tamaka panaemblai omalae hintu ane pasoanu hakumu. Otumanda-tandai eemu nagha elae`. AoKalau dipahami itu, siapa yang melakukan korupsi. Biar sepotong siri tidak boleh diambil, sepotong jarum, berapa itu? Jarum sudah patah tetapi tidak boleh kamu ambil kalu bukan hak kamu. Kamu ingat-ingat itu. Uumbe AoIyaAo Prinsip Popaano hakunasi, panaembali omefunae . ak orang lain. Anda tidak boleh berpendapat bahwa seorang anak tidak boleh melanggar hak-hak orang lain. Anak dibimbing untuk melindungi hak-hak orang lain dan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Adalah penting bahwa hak-hak orang lain dihormati secara keseluruhan dan tidak dikurangi dengan cara apa pun. Ane damefunaa angha, lahae somekorupsino nagha. Mai setampu karoo panembali damalae, setampu deu, sehae maitu? Odeu nopobheramu tamaka Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Vol. 5 No. 3 Oktober 2025 hal. 479 - 489 panaemblai omalae hintu ane pasoanu hakumu. Otumanda-tandai eemu nagha elae`(Kalau dipahami itu, siapa yang melakukan korupsi. Biar sepotong siri tidak boleh diambil, sepotong jarum, berapa itu? Jarum sudah patah tetapi tidak boleh kamu ambil kalu bukan hak kamu. Kamu ingat-ingat it. Bimbingan ini menanamkan pada anak keharusan untuk menahan diri dari melanggar hak-hak orang lain. Selanjutnya, nasihat ini berfungsi sebagai pengingat bahwa semua tindakan yang dilakukan di dunia ini akan tunduk pada pengawasan di akhirat. SIMPULAN Tradisi Katoba mewakili aspek penting dari warisan budaya komunitas Muna, ditandai dengan prinsip-prinsip pendidikan dan spiritual yang kuat yang berkontribusi pada pengembangan karakter Islam pada anak. Katoba sebagai ritual yang dilakukan sebelum awal pubertas, berfungsi sebagai saluran komunikasi yang efektif antara orang tua, pemimpin agama, dan anak-anak untuk mengilhami nilai-nilai etika dan agama. Dalam pelaksanaannya. Katoba berhasil memberikan prinsip-prinsip tauhid . esatuan Allah SWT) kepada remaja dan anak suku Muna, menekankan pentingnya birrul walidain . enghormati orang tu. , dan menggarisbawahi larangan melanggar hak orang lain. Di bawah bimbingan otoritas agama (Ima. , anak-anak tidak hanya dihadapkan pada ajaran Islam secara lisan, tetapi juga didorong untuk mengasimilasi nilai-nilai ini ke dalam perilaku sehari-hari Selain itu. Katoba mencontohkan penggabungan harmonis antara tradisi adat dan pendidikan Islam, yang tidak hanya memperkuat identitas budaya penduduk Muna tetapi juga memfasilitasi budidaya generasi muda dengan karakteristik berbudi luhur, religius, dan Akibatnya. Katoba muncul sebagai model pendidikan karakter Islam berbasis kebijaksanaan lokal yang relevan dan signifikan, yang dapat diterapkan dalam perkembangan moral anak-anak. SARAN