JVK JURNAL VOKASI KESEHATAN http://ejournal. poltekkes-pontianak. id/index. php/JVK PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG SASARAN KESELAMATAN PASIEN STROKE DI RUMAH SAKIT KOTA BANJARBARU Halimah AssaAodiah1. Agianto2nC. Herry Setiawan 3. Nanang Miftakhul Wakhdi4. Bernadetta Germia Aridamayanti5 1,2,3,5 Program Studi Keperawatan. Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia RSD Idaman Kota Banjarbaru. Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima Disetujui Di Publikasi Keywords: Knowledge. Nurses. Stroke. Patient Safety Abstrak Di Indonesia, angka kejadian stroke masih cukup tinggi dengan prevalensi 10,9 per mil. Stroke merupakan penyakit yang memiliki ketergantungan yang tinggi dalam perawatan. Keselamatan pasien stroke adalah komponen penting yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit oleh Tingkat pengetahuan perawat mengenai keselamatan pasien stroke merupakan indikator penting yang mendasari pelaksanaan program keselamatan Indikator ini dapat diukur melalui pemahaman terhadap enam sasaran keselamatan pasien yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke di rumah sakit Kota Banjarbaru. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 112 perawat di 5 ruang rawat inap pasien stroke RSD Idaman Kota Banjarbaru. Pengambilan data menggunakan kuesioner karakteristik responden dan kuesioner tingkat pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke. Analisis data menggunakan analisis univariat. Responden memliki pengetahuan yang baik terhadap sasaran keselamatan pasien stroke yaitu sebanyak 100% perawat. Perawat yang memiliki pengetahuan yang baik terhadap keselamatan pasien stroke berpeluang besar dalam meminimalkan terjadinya komplikasi pada Pengetahuan yang baik dalam menerapkan keselamatan pasien stroke dapat berdampak positif pada peningkatan kualitas mutu pelayanan rumah sakit dan kepercayaan masyarakat. NURSES' KNOWLEDGE ABOUT THE PATIENT SAFETY TARGETS FOR STROKE IN BANJARBARU CITY HOSPITAL Abstract In Indonesia, the incidence of strokes remains quite high with a prevalence of 9 per thousand. Stroke is a disease that heavily relies on treatment. The safety of stroke patients is a crucial component used to assess the quality of healthcare in hospitals by nurses. The level of nurses' knowledge regarding the safety of stroke patients is a vital indicator underlying the implementation of patient safety programs. This indicator can be measured through understanding the six patient safety targets that have been established. This study aimed to determine nurses' knowledge about the patient safety tergets for stroke in Banjarbaru City The research method employed was quantitative descriptive using total sampling techniques, with a sample size of 112 nurses across 5 stroke patient wards at RSD Idaman Hospital in Banjarbaru City. This research utilized a quantitative descriptive method with total sampling technique involving 112 nurses from 5 stroke patient wards at Idaman Hospital. Banjarbaru City. Data collection was done through questionnaires covering respondent characteristics and nurses' knowledge levels regarding stroke patient safety. Data analysis employed univariate analysis. The respondents exhibited good knowledge regarding stroke patient safety targets, accounting for 100% of the nurses. Nurses with a good understanding of stroke patient safety have a significant opportunity to minimize complications in patients. Proficiency in implementing stroke patient safety measures can have a positive impact on improving the quality of hospital services and community trust. A 2023 Poltekkes Kemenkes Pontianak nC Alamat korespondensi: Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru . Indonesia Email: agianto@ulm. Pendahuluan Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan yang signifikan di seluruh dunia, serta menempati urutan ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. Angka kejadian dan jumlah orang yang meninggal karena stroke bertambah sejalan dengan modernisasi dan angka harapan hidup (Sonya et al. , 2. Pada tahun 2017, diketahui prevalensi stroke secara global mencapai 104,2 juta kasus (Santoso et al. , 2. Di Indonesia, angka kejadian stroke masih cukup tinggi, dengan prevalensi 10,9 per mil dan Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi tertinggi yaitu 9,7 per seribu populasi penduduk (Byna & Basit, 2. Tingginya angka kejadian stroke menjadi perhatian utama, terutama dengan temuan bahwa antara tahun 1995-2005 di Amerika, sekitar 67% 900 kasus kejadian tidak diharapkan (KTD) disebabkan oleh masalah komunikasi (Sobirin Mohtar et al. , 2. Lebih lanjut, penelitian di Amerika menunjukkan bahwa pasien stroke yang dirawat di rumah sakit rentan terkena infeksi dekubitus yakni sekitar 3-10%, dengan 2,7% memiliki peluang mengembangkan dekubitus baru (Masitoh et al. , 2. Selain itu, penelitian Mutmainnah pada tahun 2005 mengungkapkan adanya kesalahan dalam pemberian obat pada pasien stroke, seperti kesalahan dalam penulisan resep . ,09%), teknik pemberian yang salah . ,12%), dan kesalahan dalam pemantauan . ,90%) (Tomm et al. , 2. Data dari penelitian Teasell tahun 2002 juga menunjukkan bahwa dari 238 responden pasien stroke, 37% mengalami sekali kejadian jatuh, 19% mengalami dua kali kejadian jatuh, dan 22% dari kejadian jatuh tersebut menyebabkan cedera pada pasien stroke (Maun et al. , 2. Tingginya angka kejadian stroke dan dampak yang ditimbulkan menyebabkan tingkat risiko dan ISSN 2442-5478 ketergantungan yang tinggi dalam perawatan. Biar bagaimanapun, pasien stroke memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan terutama perawat, sehingga penting sekali perawatan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta bermutu untuk meningkatkan keselamatan pada pasien stroke. Keselamatan pasien stroke merupakan suatu sistem di rumah sakit yang berfokus memberikan asuhan keperawatan yang lebih aman kepada Hal ini ditimbulkan karena tingginya risiko komplikasi yang muncul pada pasien stroke, kompleksitas layanan serta kurangnya pengelolaan di rumah sakit dapat memicu terjadinya kejadian tidak diharapkan (KTD) pada pasien stroke (Iskandar, 2. Kementerian Kesehatan RI telah menerapkan program keselamatan pasien yang disebut dengan 6 Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) yakni mencakup identifikasi pasien dengan tepat, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatan keamanan obat yang harus diwaspadai, kepastian lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar dan pengurangan risiko infeksi akibat pelayanan kesehatan serta pengurangan risiko cedera akibat jatuh (Sari et al. , 2. Terkait pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien stroke didapatkan bahwa 17 orang . ,5%) memiliki pengetahuan pada tingkat baik, sementara 14 orang . ,3%) memiliki pengetahuan pada tingkat kurang (W. Lestari. Adapun penerapan keselamatan pasien oleh perawat yaitu berada pada kategori baik dan sedang yaitu sebanyak 16 orang . ,1%). Namun, terdapat juga tingkat penerapan dengan kategori kurang yakni berjumlah 10 orang . ,8%) (W. Lestari, 2. Hal ini didukung juga dari hasil wawancara dengan Sub Komite Mutu RSD Idaman Kota Banjarbaru diketahui pada tahun 2019 terdapat 29 IKP yang terdiri dari 2 kasus KPC, 20 KNC, dan 7 KTC. Namun, terjadi penurunan pada tahun 2020 dengah hanya 3 kasus KTD dari total 15 IKP yang Meski demikian, hasil pelaporan menunjukkan bahwa masih banyak IKP yang tidak dilaporkan oleh perawat (Sari et al. , 2. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan perawat dalam melaporkan insiden-insiden tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke di RSD Idaman Kota Banjarbaru. Metode Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik total sampling . perawat di 5 ruang rawat inap pasien stroke RSD Idaman Kota Banjarbar. Penelitian dilaksanakan dari bulan AgustusSeptember 2023. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner karakteristik responden dan kuesioner tingkat pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke. Peneliti telah melakukan uji expert . ontent validit. dengan hasil nilai CVI 0,74. Kemudian instrumen ini juga telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas di RSUD H. Boejasin Pelaihari dengan hasil dari 31 item pertanyaan terdapat 25 item valid dan dinyatakan reliabel dengan nilai 0,841. Analisis data menggunakan analisis univariat. Peneliti telah dinyatakan lulus etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan RSD Idaman Kota Banjarbaru Nomor: RS00262/KEPKRSDI/08/2023. Hasil dan Pembahasan Gambaran Karakteristik Responden Tabel 1. Karakteristik demografi perawat di RSD Idaman Banjarbaru berdasarkan usia dan lama bekerja . Karakteristik Usia . Lama bekerja . Min Max Mean 32,86 5,296 7,28 5,368 Tabel 1 menunjukkan bahwa usia perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru yang mengasuh pasien stroke berada diantara usia 23-46 tahun. Kemudian untuk masa kerja perawat yang pernah mengasuh pasien stroke di RSD Idaman Kota Banjarbaru berada dalam rentang 1-25 tahun. Hal ini menunjukkan adanya keberagaman responden dalam segi usia dan lama bekerja. Tabel Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, mengikuti sosialisasi, dan sumber informasi Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Frekuensi Persentase (%) 40,2% Perempuan 59,8% Jumlah Tingkat pendidikan Di 57,1% Keperawatan DIV 1,8% Keperawatan DIV Ners 3,6% Keperawatan 37,5% Ners Jumlah Mengikuti Sosialisasi Keselamatan Pasien Pernah 84,8% Belum Pernah 15,2% Jumlah Sumber Informasi Keselamatan Pasien Media . martphone, 13,4% komputer, dan lain-lain Media cetak . uku, jurnal, 14,3% SOP) Pelatihan atau 67,0% Sosialisasi Teman sejawat 5,4% Jumlah Tabel 2 berdasarkan usia sebagian besar didominasi oleh perawat perempuan yaitu 67 orang . ,8%) dibandingkan perawat laki-laki 45 orang . ,2%). Sebagian besar dari responden memiliki pendidikan terakhir Di Keperawatan, yakni berjumlah 64 orang . ,1%) responden. Kemudian hampir seluruh responden sudah pernah mengikuti sosialisasi terkait sasaran keselamatan pasien yakni sebesar 95 orang . ,8%) dan yang belum pernah sebanyak 17 orang . ,2%). Lalu sebagian besar dari responden yakni 75 orang . %) mendapatkan sumber informasi melalui pelatihan dan sosialisasi, sedangkan sisanya ada yang melalui media elektronik, media cetak, dan teman sejawat. Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Sasaran Keselamatan Pasien Stroke Tabel 3. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke di RSD Idaman Banjarbaru Agustus 2023 . Tingkat Pengetahuan Sasaran Keselamatan Pasien Stroke Baik Jumlah Frekuensi . Persentase (%) Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 25 item pertanyaan mengenai sasaran keselamatan pasien stroke, diketahui seluruh responden berada pada kategori tingkat pengetahuan baik dengan total 112 orang . %) responden. Berdasarkan pengetahuan di atas, maka peneliti melakukan analisis lebih lanjut terhadap masing-masing domain sasaran keselamatan pasien. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan kebanyakan responden terhadap kelima SKP. Hasil analisis diuraikan pada tabel berikut: Tabel 4. Distribusi frekuensi pengetahuan perawat tentang sasaran keselamatan pasien stroke berdasarkan item kuesioner . mengidentifikasi pasien secara benar dan SKP 3 meningkatkan keamanan obat berisiko tinggi termasuk kategori pengetahuan baik karena seluruh responden 112 orang . %) perawat mampu menjawab seluruh item pernyataan dengan benar dan tepat. Pada SKP 2 meningkatkan komunikasi efektif hampir dari seluruh responden yakni 110 orang . ,2%) perawat memiliki pengetahuan kategori baik dan sebagian kecil yakni 1 orang . ,9%) perawat masuk dalam kategori cukup dan kurang. Pada SKP 5 pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan hampir dari seluruh responden yakni 109 orang . ,3%) perawat masuk kategori pengetahuan baik dan sebagian kecil dari responden memiliki pengetahuan cukup yakni 3 orang . ,7%) perawat. Kemudian pada SKP 6 pengurangan risiko pasien jatuh sebagian besar dari responden yakni 70 orang . ,5%) perawat masuk kategori pengetahuan baik serta hampir setengah dari responden 39 orang . ,8%) perawat masuk kategori pengetahuan cukup dan sebagian kecil yaitu 3 orang . ,7%) perawat masuk dalam kategori pengetahuan kurang. PEMBAHASAN Hasil penelitian dibahas dengan merujuk pada analisis dan uji statistik, data dari kuesioner, dan tinjauan pustaka guna mengidentifikasi alasan-alasan yang memperkuat temuan penelitian. Usia Item Kuesioner Mengidentifi kasi pasien secara benar (SKP . Peningkatan (SKP. Peningkatan obat berisiko tinggi (SKP. Pengurangan risiko infeksi (SKP . Pencegahan risiko pasien jatuh (SKP Frekuensi dan persentase Baik Cukup Kurang (%) (%) (%) . %) . %) . %) . ,2%) . ,9%) . ,9%) . ,3%) ,7%) ,5%) ,8%) ,7%) Pada tabel 4 tergambarkan bagaimana pengetahuan perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru tentang sasaran keselamatan pasien stroke berdasarkan dari masing-masing domain SKP Hasil penelitian menunjukkan usia perawat yang pernah mengasuh pasien stroke di RSD Idaman Kota Banjarbaru rata-rata berusia 32,86 tahun atau jika dibulatkan yakni menjadi 33 tahun dengan usia paling muda yaitu 23 tahun dan usia paling tua 46 tahun. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Utami & Yulia . yang menunjukkan usia perawat berada di rentang umur 20-35 tahun, pada usia tersebut masuk dalam kategori dewasa muda. Penelitian Anggoro et al . mengungkapkan bahwa usia memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja perawat untuk bertindak caring dalam mengasuh pasien sehingga semakin tua usia seorang perawat maka saat menerima sebuah pekerjaan akan semakin bertanggung jawab dan berpengalaman. Semakin seseorang bertambah usia, ia akan lebih bijaksana dalam pemikiran dan tindakan serta kesiapan dalam mengutamakan keselamatan pasien (Sriningsih & Marlina, 2. Hal tersebut dapat memengaruhi seorang perawat dalam melaksanakan sasaran keselamatan pasien stroke karena dengan pengalaman serta kedewasaan berpikir dapat meminimalkan risiko terjadinya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit. Lama Kerja Berdasarkan karakteristik lama bekerja diketahui rata-rata lama bekerja responden yakni 7,28 tahun yakni jika dibulatkan menjadi 7 tahun dengan lama bekerja terendah 1 tahun sedangkan lama kerja tertinggi yaitu 25 tahun. Harus & Sutriningsih . mengatakan pengalaman bekerja memiliki peran sentral dalam menjaga keselamatan pasien di rumah sakit. Pengalaman bekerja tidak hanya berdampak pada kualitas asuhan keperawatan yang diberikan namun juga berkorelasi dengan tingkat insiden keselamatan pasien hal ini dikarenakan ada kecenderungan bahwa perawat yang telah berkarir lama di rumah sakit cenderung memiliki keterampilan yang lebih kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman bagi pasien termasuk pada pasien Namun Robbins dalam Fadriyanti & Suryarinilsih . mengungkapkan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang telah berkarir lama akan menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi daripada individu yang baru bergabung dalam pekerjaan. Jenis Kelamin Berdasarkan karakteristik jenis kelamin, sebagian besar perawat dengan jenis kelamin perempuan lebih mendominasi yakni sebanyak 67 orang . ,8%) daripada perawat laki-laki 45 orang . ,2%). Hasil penelitian Pambudi . menunjukkan bahwa meskipun perempuan memiliki proporsi yang lebih besar dalam populasi yakni . ,9%), namun yang baik dalam menerapkan sasaran keselamatan pasien hanya . ,1%). Sahputra dalam Sari, et al. , . berpendapat distribusi perawat yang sebagian besar adalah perempuan dipengaruhi oleh karakteristik alami perempuan yang cenderung ramah, lembut, sabar, telaten, dan peduli. Hal ini sesuai dengan ciri khas yang dimiliki oleh profesi perawat sehingga perempuan lebih banyak berminat berkarir di bidang keperawatan. Pendidikan Terakhir Berdasarkan terakhir diperoleh bahwa sebagian besar perawat memiliki pendidikan terakhir Di Keperawatan yakni 63 orang . ,1%), sisanya DIV Keperawatan sebanyak 2 orang . ,8%). DIV Ners sebanyak 4 orang . ,6%), dan S1 Keperawatan Ners sebanyak 42 orang . ,5%). Hal ini berbanding terbalik dengan penelitan Sari et al. yang menunjukkan tingkat pendidikan S1 Keperawatan Ners lebih mendominasi di rumah Peneliti berasumsi adanya perbedaan ini dikarenakan latar belakang responden penelitian yang berbeda baik dari segi usia, jenis kelamin, dan lain-lain. Hughes dalam Fadriyanti & Suryarinilsih . mengungkapkan tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan pengetahuan perawat, sehingga mereka dapat menerapkan pedoman sasaran keselamatan pasien dan mengurangi insiden yang tidak diinginkan (KTD). Maka dari itu, pendidikan yang lebih tinggi dapat memengaruhi kemampuan perawat dalam mengatasi masalah yang dihadapi termasuk dalam memberikan asuhan pada pasien Mengikuti Sosialisasi Keselamatan Pasien Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan hampir seluruh dari responden pernah ikut serta dalam sosialisasi keselamatan pasien yaitu sebanyak 95 orang . ,8%) sedangkan yang belum pernah mengikuti . ,2%). Menurut Notoatmodjo dalam Ririhena et al . pengetahuan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang, tindakan yang tidak didasari oleh pengetahuan yang memadai tidak akan menghasilkan hal yang baik. Tunny & Tauran . berpendapat sosialisasi menjadi faktor kunci yang bisa meningkatkan pemahaman serta keahlian perawat dalam menjaga keselamatan pasien . atient safet. Oleh karena itu, peneliti berasumsi bahwa adanya pengalaman mengikuti sosialisasi merupakan salah satu faktor penting yang akan meningkatkan pengetahuan perawat menjadi lebih baik sehingga akan terdapat perbedaan pengetahuan antara perawat yang sudah pernah mengikuti sosialisasi dengan perawat yang belum pernah mengikuti dalam penerapan budaya keselamatan pasien terutama pada pasien stroke. Dalam penelitian ini, ditemukan sebuah data menarik di mana satu responden menunjukkan pengetahuan yang baik tentang keselamatan pasien stroke meskipun tidak pernah mengikuti pelatihan atau sosialisasi terkait keselamatan pasien. Hal ini terbukti dari keseluruhan jawaban responden yang tepat saat mengisi kuesioner. Peneliti mengasumsikan bahwa kondisi ini berkaitan dengan usia responden yang merupakan usia tertua di antara semua responden lainnya serta memiliki pengalaman kerja paling lama dibandingkan dengan responden lain dalam penelitian tersebut. Hal ini memberikan informasi yang penting tentang bagaimana faktor-faktor seperti usia dan pengalaman kerja dapat memengaruhi pengetahuan seseorang terkait dengan keselamatan pasien tidak hanya pengalaman berupa pelatihan ataupun sosialisasi Sumber Informasi Keselamatan Pasien Berdasarkan karakteristik sumber informasi keselamatan pasien diperoleh bahwa sebagian besar responden mendapatkan informasi berasal dari pelatihan atau sosialisasi yakni sebesar 75 orang . %), sisanya media elektronik sebanyak 15 orang . ,4%), media cetak sebanyak 16 orang . ,3%), dan teman sejawat 6 orang . ,4%). Hal ini sesuai dengan penelitian Irawan . dari mendapatkan informasi dari sosialisasi atau Menurut Tristantia . diperlukan usaha untuk mengembangkan dan membina SDM . umber daya manusi. di rumah sakit, yang bisa dilakukan melalui pelatihan terkait keselamatan pasien yang diadakan secara berkala. Maka dari itu pelatihan atau sosialisasi keselamatan pasien khususnya pada pasien stroke memiliki pengaruh yang sangat penting untuk mendukung pencapaian pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermutu serta meningkatkan pengetahuan perawat. Gambaran Pengetahuan Perawat tentang Sasaran Keselamatan Pasien Stroke Menurut Notoatmodjo dalam Arfebi et al. pengetahuan yang berkualitas akan Pengetahuan perawat mengenai keselamatan pasien memiliki dampak besar pada kinerja mereka dalam menerapkan tindakan yang mendukung keselamatan pasien di rumah sakit (Arfebi et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh responden yakni sebesar 112 orang . %) perawat RSD Idaman Kota Banjarbaru memiliki pengetahuan dengan kategori baik dalam menerapkan sasaran keselamatan pasien stroke. Penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian Lestari . yang menyatakan bahwa dari 42 responden hanya terdapat 17 orang . ,5%) perawat yang berpengetahuan kategori baik dalam menerapkan keselamatan pasien stoke. Adanya kemungkinan terjadi akibat adanya perbedaan pada karakteristik responden masing-masing penelitian baik dari segi usia, lama bekerja, jenis kelamin, pengalaman mengikuti sosialisasi, dan Hasil evaluasi dari setiap item yang dijawab oleh responden menunjukkan bahwa hampir semua item dijawab dengan benar, kecuali ada beberapa item pernyataan yang mendapat jawaban kurang tepat. Terutama, pernyataan yang paling sering dijawab tidak tepat adalah pada indikator SKP 6 (Pengurangan risiko jatuh pada pasien Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Sesrianty . yang juga menyoroti indikator SKP 6 pengetahuan perawat terkait pencegahan risiko jatuh pada pasien stroke yakni terdapat kesamaan kurangnya efektivitas sosialisasi yang telah dilakukan, yang dianggap sebagai penyebab dari kurangnya pengetahuan yang mereka miliki. Hasil penelitian ini juga didukung oleh studi lain yang dilakukan oleh Sari et al. , yang mencatat bahwa pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah Sakit Idaman Banjarbaru masih belum mencapai tingkat maksimal. Dari temuan ini, peneliti berasumsi bahwa kurangnya keakuratan jawaban responden dalam menjawab kuesioner tentang pengetahuan keselamatan pasien stroke terutama pada indikator SKP 6 disebabkan oleh belum adanya sosialisasi atau pelatihan keselamatan pasien yang mengkhususkan pada topik stroke ataupun pencegahan risiko jatuh di RSD Idaman Banjarbaru. Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Identifikasi Pasien Stroke dengan Benar (SKP . Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh responden yakni 112 orang . %) memiliki pengetahuan yang baik terkait penerapan SKP 1 yakni identifikasi pasien stroke dengan Penelitian ini sejalan dengan penelitian Iskandar . yang menyatakan bahwa identifikasi pasien stroke sudah dilakukan dengan baik oleh perawat yaitu tercapai sebanyak 82,14. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Irawan . yang mengungkapkan dari 122 perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru terdapat 119 orang . ,5%) perawat memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai Identifikasi pasien dengan benar. Kesamaan kedua penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti ialah perawat sudah memiliki pengetahuan yang memadai terkait penerapan identifikasi pasien yang benar salah satunya seperti mengkonfirmasi identitas pasien secara verbal dan visual. Identifikasi menetapkan identitas seseorang. Identifikasi pasien bertujuan untuk memastikan pengenalan yang akurat, mencegah kesalahan medis, seperti diagnosis yang tidak tepat, tindakan yang salah, atau kesalahan dalam pemberian obat, yang dapat membahayakan pasien (Solehudin et al. , 2. Dalam konteks keselamatan pasien stroke, pengetahuan perawat dalam identifikasi pasien dengan benar memainkan peran penting mengingat pasien stroke memiliki banyak komplikasi yang bisa menjadi penghambat bagi perawat dalam mengidentifikasi pasien terutama dalam hal mengkonfirmasi identitas misalnya dibeberapa kasus pasien stroke mengalami penurunan kesadaran dan ada yang mengalami afasia berat. Maka dari itu pengetahuan perawat yang baik terkait identifikasi pasien dengan benar sangat penting untuk mencegah terjadinya prosedur medis yang tidak sesuai dan potensi cedera pada pasien stroke. Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Komunikasi Secara Efektif pada Pasien Stroke (SKP . Komunikasi keperawatan adalah suatu usaha sistematis untuk memengaruhi secara positif perilaku yang berhubungan erat dengan asuhan keperawatan. Komunikasi efektif merupakan faktor utama dalam upaya menjaga keselamatan pasien, sebab seringkali masalah keselamatan pasien berasal dari masalah komunikasi (R. Lestari & Erianti, 2. Penelitian Astuti dalam Krisnawati & Yanti . menyatakan sekitar 70% dari kejadian sentinel atau kesalahan medis yang menghasilkan KTD di rumah sakit berasal dari kegagalan dalam komunikasi dan 75% dari situasi tersebut menyebabkan kematian. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hampir dari seluruh responden yakni 110 orang . ,2%) memiliki pengetahuan yang baik terkait penerapan SKP 2 yakni meningkatkan komunikasi efektif, sisanya sebanyak 1 orang . ,9%) memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 1 orang . ,9%) memiliki pengetahuan kurang. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Irawan . yang menyatakan bahwa hampir seluruh perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru memiliki tingkat pengetahuan kategori baik terkait SKP 2 peningkatan komunikasi secara efektif yakni sebesar 98,4%. Namun penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian Iskandar . yang menyatakan bahwa penerapan komunikasi efektif pada pasien stroke masih kurang baik karena hanya tercapai sebagian yakni sebesar 57,13% perbedaan penelitian ini terjadi karena pada penelitian yang dilakukan iskandar tindakan konfirmasi ulang instruksi via telepon seringkali memberikan stempel pada catatan terintegrasi sedangkan pada hasil penelitian yang dilakukan peneliti menunjukkan seluruh responden memiliki pengetahuan yang baik terkait penerapan konfirmasi ulang terhadap instruksi via telepon. Perawat yang mengasuh pasien stroke di RSD Idaman Kota Banjarbaru menggunakan SBAR (Situation. Background. Assessment. Recommendatio. dalam proses timbang terima antar shift, transfer pasien antar unit, dan pelaporan kritis pasien stroke. Krisnawati & Yanti . berpendapat pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh perawat mempunyai peran penting dalam mendukung kesuksesan pelaksanaan SBAR. Hasil analisis data menunjukkan hampir seluruh responden memiliki pengetahuan yang baik terkait komunikasi efektif pada pasien stroke hal ini dapat meminimalisir terjadinya miskomunikasi yang mengakibatkan insiden keselamatan pasien seperti kesalahan pemberian intervensi atau obat oleh Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Peningkatan Keamanan Obat Berisiko Tinggi Pada Pasien Stroke (SKP . High alert medication adalah obat yang memiliki risiko tinggi terjadinya kesalahan saat diberikan kepada pasien. Hal ini disebabkan oleh kesamaan dalam penyebutan maupun penamaan beberapa jenis obat (Kholillurrahman et al. , 2. Obat-obatan kategori high alert ini memiliki risiko lebih tinggi menimbulkan insiden jika manajemennya tidak dilakukan dengan benar dan tepat Sakinah, et al. , . Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa seluruh responden yakni 112 orang . %) memiliki pengetahuan yang baik terkait SKP 3 peningkatan keamanan obat berisiko tinggi pada pasien stroke. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irawan . yang menyatakan bahwa seluruh responden perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru mempunyai pengetahuan yang baik terkait peningkatan keamanan obat berisiko tinggi yakni sebanyak 122 orang . %). Hal ini Ini disebabkan oleh kesamaan dalam karakteristik responden yang diteliti, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan faktor-faktor lainnya yang mirip dengan penelitian sebelumnya. Namun penelitian ini berbanding terbalik Iskandar penerapan obat berisko tinggi pada pasien stroke masih kurang baik yakni hanya sebanyak 55,56% dari keseluruhan responden. Hal ini terjadi karena pada penelitian Iskandar tahun 2017 perawat belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang obat-obatan LASA karena di rumah sakit belum tersedia daftar obat LASA dan stiker NORUM hanya dipasang di farmasi. Selain itu, obat-obatan high alert di ruangan masih disimpan bersama dengan obat lainnya dan tidak terpisah di tempat penyimpanan obat pasien. Sedangkan manajemen penyimpanan obat di rumah sakit idaman Banjarbaru sudah cukup baik terbukti dari wawancara yang dilakukan ketika studi pendahuluan yakni perawat mengungkapkan bahwa penyimpanan obat LASA sudah ada peraturannya dan setiap pasien memiliki loker obat masing-masing untuk mencegah terjadinya medication error. Hal ini diperkuat juga dari hasil penelitian pengetahuan perawat yang baik terkait penerapan SKP meningkatkan keamanan obat berisiko tinggi. Obat-obatan NORUM kerap digunakan oleh pasien stroke, terutama insulin yang sering diberikan kepada pasien stroke yang juga menderita diabetes melitus. Akan tetapi, obat high alert seperti insulin masih sering disimpan bersama dengan obat-obat lainnya di dalam ruangan, bahkan di tempat penyimpanan obat pasien itu sendiri Iskandar . Keberadaan obat high alert yang bercampur dengan obat lain ini membawa risiko kesalahan pengambilan obat yang dapat berpotensi menyebabkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) atau Sentinel event jika manajemennya tidak dilakukan secara hati-hati. Maka dari itu dengan pengetahuan perawat yang memadai terkait peningkatan keamanan obat berisiko tinggi akan meminimalkan terjadinya risiko medication error pada pasien stroke dan akan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Mengurangi Risiko Infeksi pada Pasien Stroke (SKP . Pasien dengan stroke memiliki risiko tinggi untuk mengalami infeksi. Beberapa riset menunjukkan perbedaan tingkat kejadian ulkus dekubitus pada kelompok populasi yang berbeda. Studi di Singapura mencatat bahwa 0,7 persen dari 140 pasien stroke mengalami infeksi ulkus dekubitus sedangkan studi di Skotlandia dan Inggris mencatat bahwa 18 persen dari 607 pasien dan 4,3 persen dari 600 pasien yang dirawat mengalami ulkus dekubitus. Di Indonesia, sebuah penelitian di Pontianak menemukan tingkat kejadian infeksi ulkus dekubitus pada pasien stroke mencapai sekitar 33,4 persen dari 105 Pada tahun 2011, penelitian di rumah sakit pusat stroke di Indonesia juga menunjukkan bahwa 28 persen pasien stroke mengalami ulkus dekubitus Amirsyah et al. , . Infeksi ulkus dekubitus terjadi akibat dari tirah baring yang terlalu lama karena lumpuh sehingga menimbulkan luka atau lecet pada bagian tubuh yang menjadi tumpuan ketika berbaring. Perawatan kulit memiliki peran krusial dalam mencegah dekubitus . uka karena tekana. dan infeksi kulit. Hutagalung . mengungkapkan adanya dekubitus dan infeksi pada luka menandakan bahwa perawatan pasien stroke tidak Kedua hal tersebut sebaiknya dihindari karena dekubitus bisa menyebabkan rasa sakit dan proses penyembuhan luka yang lambat. Jika terinfeksi, luka tersebut dapat menjadi ancaman serius bagi nyawa (Hutagalung, 2. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan intervensi keperawatan seperti miring kanan dan kiri setiap dua jam serta memberikan bed antidecubitus pada pasien stroke. Berdasarkan hasil analisis pengetahuan perawat terkait SKP 5 pencegahan risiko infeksi pada pasien stroke didapatkan hampir dari seluruh responden memiliki pengetahuan kategori baik yakni sebanyak 109 orang . ,3%) dan sisanya sebagian kecil dari responden yaitu sebesar 3 orang . ,7%) memiliki pengetahuan cukup. Meskipun begitu, hampir setengah dari responden masih ada yang kurang tepat dalam menjawab item pernyataan terkait kegiatan dekontaminasi, pre-cleaning, cleaning, disinfeksi, dan sterilisasi yakni 52 orang . ,4%). Peneliti menduga hal ini terjadi karena sebagian responden kurang teliti dalam menjawab pertanyaan pada item kuesioner tersebut sehingga mengalami kekeliruan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Iskandar . yang menyatakan bahwa pengetahuan perawat dalam menerapkan pencegahan risiko infeksi sudah baik yakni sebesar 92,86%. Penelitian ini juga didukung Irawan mengungkapkan bahwa dari 122 responden terdapat setengah dari responden memiliki pengetahuan baik terkait pencegahan risiko infeksi yakni sebesar 55,7%. Kesamaan kedua penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti ialah karena perawat sudah memiliki pengetahuan yang baik terkait pencegahan risiko infeksi pasien stroke di pelayanan kesehatan baik dari segi cuci tangan yang benar, lima momen mencuci tangan, penerapan tindakan dekontaminasi, dan edukasi pencegahan risiko infeksi pada keluarga yang Sumaryati . meyakini bahwa semakin tinggi pengetahuan seseorang maka semakin baik pula pelayanan yang mereka berikan pada pasien, terutama dalam menjaga penyebaran infeksi. Hal ini diperkuat oleh faktor-faktor lain, seperti kesadaran perawat yang bersangkutan. Oleh karena itu dengan tingginya pengetahuan perawat dalam menerapkan pencegahan infeksi pada pasien termasuk pasien stroke akan mengurangi angka terjadinya komplikasi yang serius sehingga kualitas pelayanan rumah sakit akan meningkat. Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat tentang Mengurangi Risiko Jatuh pada Pasien Stroke (SKP . Perubahan psikologis pada pasien pasca stroke, seperti kurangnya motivasi, ketidakstabilan meningkatkan risiko jatuh dalam aktivitas seharihari, sehingga dukungan keluarga serta peran perawat sangat penting dalam mengurangi risiko tersebut Khaerotib & Indasah . Oleh karena itu pengetahuan perawat dalam pencegahan risiko jatuh pada pasien stroke sangat penting. Boushon dalam Nur et al. , . mengungkapkan perawat sering mengabaikan pelaksanaan asesmen risiko jatuh, yang mengakibatkan pelaksanaan asesmen ini tidak Ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk ketiadaan standar prosedur dan panduan manajemen risiko jatuh, kurangnya pelatihan khusus, perawat sering kesulitan mengidentifikasi pasien dengan peningkatan risiko jatuh, kesulitan dalam mengelola asesmen, penundaan dalam mengelola asesmen, kendala waktu yang tidak konsisten untuk mengevaluasi kondisi pasien, serta kegagalan perawat dalam mengenali batasan alat skrining risiko jatuh dan mengevaluasi kembali kondisi pasien selama perawatan di rumah sakit. Hasil pada penelitian tingkat pengetahuan terkait SKP 6 mengurangi risiko jatuh pada pasien stroke menunjukkan bahwa dari 112 orang sebagian besar responden memiliki pengetahuan kategori baik yakni sejumlah 70 orang . ,5%), sisanya hampir setengah dari responden yakni 39 orang . ,8%) memiliki pengetahuan kategori cukup dan sebagian kecil dari responden memiliki pengetahuan kurang yakni sebesar 3 orang . ,7%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irawan . yang menyatakan bahwa dari 122 perawat di RSD Idaman Kota banjarbaru sebanyak 77% responden sudah memiliki pengetahuan yang baik dalam pencegahan risiko jatuh. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian dari Iskandar . yang menyatakan bahwa pengetahuan perawat terkait penerapan pencegahan risiko jatuh pada pasien stroke sudah baik yakni sebanyak 88,89%. Adanya kesamaan kedua penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti ialah didapatkannya pengetahuan perawat yang baik terkait berbagai macam pencegahan risiko jatuh yang telah diterapkan di rumah sakit seperti adanya pemasangan tanda risiko jatuh ditempat tidur pasien dan tindakan monitoring. Meskipun menunjukkan sebagian besar perawat yang mengasuh pasien stroke memiliki pengetahuan yang baik dalam pencegahan risiko jatuh. Namun masih ditemukan sebagian kecil dari responden menjawab salah sebesar 18 orang . ,1%) pada item pertanyaan terkait skrining risiko jatuh dan sebanyak 25 orang . ,3%) menjawab kurang tepat pada item pertanyaan terkait pemberian edukasi pencegahan cidera risiko jatuh. Peneliti berasumsi bahwa hal ini terjadi karena sebagian perawat masih ada yang belum memahami terkait skrining risiko jatuh pasien stroke dan masih memberikan edukasi pencegahan risiko jatuh pada keluarga yang mendampingi pasien sehingga diperlukannya sosialisasi atau pelatihan khusus terkait kedua hal ini agar pengetahuan dan kesadaran perawat dalam menerapkan pencegahan risiko jatuh pasien menjadi lebih meningkat sehingga budaya keselamatan pasien dapat terus dilaksanakan dengan optimal. Penutup Penelitian ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar perawat di RSD Idaman Kota Banjarbaru memiliki pengetahuan yang baik yakni 100% terkait sasaran keselamatan pasien stroke, namun dalam aspek pengurangan risiko jatuh diketahui masih belum optimal. Diharapkan adanya upaya berkelanjutan dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran perawat terhadap keselamatan pasien untuk mencapai tingkat pengetahuan yang lebih baik. Daftar Pustaka