Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) Vol. 3 (No. : Halaman 51 - 70. Bulan Juni Tahun 2023 Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE Rudy Lesmana1. Pingky Steffi2. Terssia Putri Sari3. Bong Kim Sin4. Raden Yusepha5 1STIE Mulia Singkawang. Indonesia 2STIE Mulia Singkawang. Indonesia 3STIE Mulia Singkawang. Indonesia 4STIE Mulia Singkawang. Indonesia 5STIE Mulia Singkawang. Indonesia ABSTRACT Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh signifikan WCTAR. DER. WCTO dan SG terhadap ROE secara parsial dan simultan pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020. Metode penelitian yang digunakan adalah metode riset kausal. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dari populasi berjumlah 48 perusahaan menjadi enam perusahaan sebagai Alat analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program aplikasi SPSS versi 22. Hasil penelitian menyatakan bahwa . WCTAR berpengaruh signifikan negatif terhadap ROE, . DER berpengaruh signifikan negatif terhadap ROE, . WCTO tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE, . SG berpengaruh signifikan positif terhadap ROE. Dapat disimpulkan bahwa variabel WCTAR. DER. WCTO dan SG memberi pengaruh variabel ROE sebesar 61,9 persen sedangkan sisanya sebesar 38,1 persen dipengaruhi oleh faktorfaktor/variabel-variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Kata kunciAiWorking Capital to Total Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Working Capital Turnover. Sales Growth. Return on Equity The purpose of this research is to analyze the significant effect of WCTAR. DER. WCTO and SG on ROE partially and simultaneously in wholesale trade companies listed on Indonesia Stock Exchange in 20162020. The research method used was causal research method. The data collection method was carried out by documentation method. The data collection technique used secondary data. The sampling technique used purposive sampling from a population of 48 companies to six companies as respondents. The data analysis tool used multiple linear regression analysis. The data analysis done using the SPSS version 22 application program. The result of the research state that . WCTAR has a significant negative effect on ROE, . DER has a significant negative effect on ROE, . WCTO has no significant effect on ROE, . SG has a significant positive effect on ROE. It can be concluded that the variables WCTAR. DER. WCTO and SG affected the ROE variable by 61. 9 percent whereas the remaining 38. percent affected by other factors/variables that are not used in this research. KeywordsAiWorking Capital to Total Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Working Capital Turnover. Sales Growth. Return on Equity PENDAHULUAN Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-. memberikan pengaruh yang luar biasa kepada dinamika perekonomian dunia 2020, termasuk Indonesia. Sebagaimana kondisi dunia, gejolak bersumber dari permasalahan kesehatan dan kemanusiaan, yang kemudian merambat ke permasalahan ekonomi. Respon segera Pemerintah untuk mengurangi penyebaran Covid-19 melalui PSBB tidak dapat dihindari menurunkan kinerja perekonomian. Kebijakan untuk mengatasi penyebaran Covid-19 telah mengurangi mobilitas manusia serta aktivitas barang dan jasa. Konsumsi, investasi, transportasi, pariwisata, produksi, dan keyakinan pelaku ekonomi menurun signifikan, yang pada akhirnya membuat pertumbuhan ekonomi turun dengan tajam. Perekonomian yang lemah menjadi perhatian bersama karena bila tidak ditangani dengan segera akan berisiko mengganggu stabilitas perekonomian dan stabilitas sistem keuangan, dan menahan upaya percepatan menjadi negara maju . Perekonomian Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen. Lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam di antaranya Transportasi dan Pergudangan sebesar 15,04 persen. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,22 persen. Jasa Perusahaan sebesar 5,44 persen. Jasa Lainnya sebesar 4,10 persen. dan Perdagangan Besar dan Eceran. Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 3,72 persen. Sebaliknya, beberapa lapangan usaha masih mengalami pertumbuhan positif, di antaranya. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 11,60 persen. Informasi dan Komunikasi sebesar 10,58 persen. Pengadaan Air. Pengelolaan Sampah. Limbah dan Daur Ulang sebesar 4,94 persen. Real Estat sebesar 2,32 persen. dan Pertanian. Kehutanan dan Perikanan sebesar 1,75 persen . Perekonomian Indonesia tahun 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp15. 434,2 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp56,9 juta atau US$3,911. Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2020 tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Industri Pengolahan sebesar 19,88 persen. diikuti oleh Pertanian. Kehutanan dan Perikanan sebesar 13,70 Perdagangan Besar-Eceran. Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 12,93 persen. Konstruksi sebesar 10,71 persen. serta Pertambangan dan Penggalian sebesar 6,44 persen. Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia mencapai 63,66 persen . Berikut ini dipaparkan grafik rata-rata pertumbuhan laba bersih pada enam perusahaan wholesale trade yang merupakan sampel penelitian dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2016-2020 yang disajikan pada Gambar 1 sebagai berikut: Sumber: Data Olahan, 2021 Gambar 1. Pertumbuhan Rata-rata Laba Bersih pada Perusahaan Wholesale Trade Tahun 2016-2020 Berdasarkan Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa perusahaan wholesale trade dalam rentang waktu lima tahun memiliki kinerja keuangan yang berfluktuasi. Dapat dilihat pada tahun 2016-2018 terjadi peningkatan laba bersih setiap tahunnya di mana pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 36,70 persen dibanding tahun 2016 dan pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 43,23 persen dibanding tahun 2017. Kemudian pada tahun 2019-2020 terjadi penurunan laba bersih Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) setiap tahunnya di mana pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 9,15 persen dibanding tahun 2018 dan pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 43,61 persen dibanding tahun 2019 pada perusahaan wholesale trade. Perusahaan wholesale trade ini memiliki nilai rata-rata pertumbuhan laba bersih pada tahun 2016-2020 yaitu sebesar Rp1. 963,00. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu oleh beberapa peneliti, masing-masing variabel yang digunakan secara parsial memiliki pengaruh yang berbeda terhadap profitabilitas perusahaan (Return on Equit. Seperti pada penelitian yang telah dilakukan oleh Hisar dan Suharna . menjelaskan bahwa variabel Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity, hasil penelitian Hendri . menjelaskan bahwa variabel Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity, hasil penelitian Azizah . menjelaskan bahwa variabel struktur modal (Debt to Equity Rati. berpengaruh signifikan negatif terhadap profitabilitas (Return on Equit. , hasil penelitian Sari . menjelaskan bahwa variabel Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity (ROE) dan hasil penelitian Novianti . menjelaskan bahwa variabel Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity. Kemudian penelitian yang telah dilakukan oleh Hisar dan Suharna . menjelaskan bahwa variabel Working Capital Turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity, hasil penelitian Jelie . menjelaskan bahwa variabel perputaran modal kerja (Working Capital Turnove. tidak berpengaruh terhadap Return on Equity, hasil penelitian Novianti . menjelaskan bahwa variabel Working Capital Turnover tidak berpengaruh terhadap Return on Equity dan hasil penelitian Kusjono dan Rohman . menjelaskan bahwa variabel Working Capital Turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Equity. Dan juga penelitian yang telah dilakukan oleh Wulandari . menjelaskan bahwa variabel pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA maupun ROE dan hasil penelitian Novianti . menjelaskan bahwa variabel Growth of Sales berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity. Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuProfitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROEAy. KAJIAN TEORI 1 Teori Sinyal (Signaling Theor. Menurut Fahmi dalam Rohman . 0: . : AuSignaling theory menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi adalah untuk mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang dibandingkan dengan pihak luar. Asimetri informasi merupakan keadaan di mana para investor tidak memiliki cukup informasi mengenai prospek perusahaan, sedangkan pihak manajemen memiliki banyak informasi mengenai prospek perusahaan. Asimetri informasi perlu diminimalkan agar informasi mengenai prospek perusahaan dapat disampaikan secara transparan kepada para investorAy. Menurut Stephen A. Ross dalam Kurniawan . 3: 29-. : Ketika perusahaan menerbitkan utang baru, menjadi tanda atau sinyal bagi pemegang saham dan investor potensial tentang prospek perusahaan di masa mendatang mengalami peningkatan. Perusahaan dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan utang yang melebihi target struktur modal yang normal. Perusahaan dengan prospek yang kurang menguntungkan akan cenderung untuk menjual sahamnya. Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE Pengumuman emisi saham oleh suatu perusahaan umumnya merupakan suatu sinyal bahwa manajemen memandang prospek perusahaan tersebut suram. 2 Teori Modal Kerja Menurut Munawir dalam Putri . 5: . : Terdapat tiga konsep modal kerja, yaitu: Konsep Kuantitatif Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang tertanam dalam unsurunsur aktiva lancar di mana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva di mana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto . ross working capita. Konsep Kualitatif Apabila konsep kuantitatif modal kerja dikaitkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang harus segera dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari aktiva lancar ini harus disediakan untuk memenuhi kewajiban financial yang harus segera dilakukan, di mana bagian dari aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasi perusahaan karena untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karenanya maka modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa menggangu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto . et working capita. Konsep Fungsional Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan . dari usaha pokok perusahaan. 3 Teori Struktur Modal (Capital Structure Theor. 1 Trade Off Theory Menurut Kurniawan . 3: 25-. : Biaya kesulitan keuangan adalah biaya kebangkrutan atau reorganization, dan biaya keagenan yang meningkat akibat dari turunnya kredibilitas suatu perusahaan. Teori trade off dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan dan biaya kesulitan keuangan tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan utang. Tingkat utang yang optimal tercapai ketika penghematan pajak mencapai jumlah yang maksimal terhadap biaya kesulitan keuangan. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi tentu akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio utangnya, sehingga tambahan utang tersebut akan mengurangi 2 Pecking Order Theory Menurut Kurniawan . 3: . : Teori pecking order dikenalkan pertama kali oleh Donaldson pada tahun 1961, kemudian dikembangkan oleh Stewart C. Myers dan Majluf pada tahun 1984. Myers mempublikasikan sebuah artikel dengan judul AuThe Capital Structure PuzzleAy dalam Journal of Finance volume 39. Artikel ini menyatakan bahwa ada semacam tata urutan bagi perusahaan dalam menggunakan modal. Teorinya menjelaskan bahwa perusahaan lebih mengutamakan pendanaan ekuitas internal . enggunakan laba yang ditaha. daripada pendanaan ekuitas eksternal . enerbitkan saham bar. Hal itu disebabkan penggunaan laba yang ditahan lebih murah dan tidak perlu mengungkapkan sejumlah informasi perusahaan . ang harus diungkapkan dalam Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) prospektus saat menerbitkan obligasi dan saham bar. Utang adalah pilihan kedua setelah pendanaan internal, apabila perusahaan membutuhkan pendanaan eksternal. Perusahaan akan menerbitkan utang sebelum memutuskan untuk menerbitkan saham Penerbitan saham baru menduduki urutan terakhir sebab penerbitan saham baru merupakan tanda atau sinyal bagi pemegang saham dan calon investor tentang kondisi perusahaan saat sekarang dan prospek mendatang yang tidak baik. Menurut Husnan dan Pudjiastuti dalam Rohman . 0: . : AuPecking order theory menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan yang mempunyai profit tinggi umumnya mempunyai jumlah pinjaman yang sedikit. Hal tersebut bukan disebabkan karena mempunyai target Debt Ratio yang rendah, tetapi karena memerlukan pendanaan dari luar yang sedikit. Perusahaan yang kurang profitable akan cenderung mempunyai utang yang lebih besar karena dua alasan, yaitu dana yang tidak cukup dan utang merupakan sumber dana yang lebih disukaiAy. 4 Economic of Scale Theory Menurut Christensen dan Greene dalam Wulandari . 7: . : AuEconomic of scale merupakan peningkatan relatif suatu output yang dihasilkan dari penambahan secara proporsional dari seluruh input . ncreasing return to scal. Ay. 5 Pengaruh X1 terhadap Y Rasio likuiditas (Working Capital to Total Asset Rati. menekankan pada kemampuan perusahaan dalam mengelola likuiditas total aset dan posisi modal kerjanya yang dapat digunakan untuk membayar utang jangka pendeknya dan membiayai operasional perusahaan. Semakin tinggi Working Capital to Total Asset Ratio menunjukkan semakin tinggi jumlah modal kerja bersih dari total aktiva yang dapat digunakan oleh perusahaan yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan atau profitabilitas perusahaan. Hal ini sesuai dengan teori modal kerja . onsep kualitati. yang menyatakan bahwa sebagian dari aktiva lancar yang benarbenar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa menggangu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini telah diuji oleh Sari . yang menyatakan bahwa Working Capital to Total Assets (WCTA) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity (ROE). H1: X1 (Working Capital to Total Asset Rati. berpengaruh signifikan positif terhadap Y (Return on Equit. 6 Pengaruh X2 terhadap Y Rasio leverage/solvabilitas (Debt to Equity Rati. menekankan pada kemampuan perusahaan dalam mengelola ekuitas yang dimilikinya dalam memenuhi seluruh kewajibannya antara lain kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Semakin rendah Debt to Equity Ratio menunjukkan bahwa semakin rendah total kewajiban yang dibiayai oleh modal sendiri yang kemudian dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Hal ini didukung oleh hipotesis yang telah diuji oleh Azizah . dan Sari . yang menyatakan bahwa struktur modal (Debt to Equity Rati. berpengaruh signifikan negatif terhadap profitabilitas (Return on Equit. Hal ini sesuai dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai profit tinggi umumnya mempunyai jumlah pinjaman . yang sedikit. Kemudian hipotesis ini juga telah diuji oleh Novianti . yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity. Hal ini sesuai dengan trade off theory yang menyatakan bahwa perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung memiliki rasio utang yang tinggi dan signaling theory yang menyatakan bahwa utang yang tinggi memberikan sinyal positif karena mencerminkan nilai perusahaan yang tinggi. Sedangkan hipotesis penelitian yang telah diuji oleh Hisar & Suharna Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE . dan Hendri . yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity. H2: X2 (Debt to Equity Rati. berpengaruh signifikan negatif terhadap Y (Return on Equit. 7 Pengaruh X3 terhadap Y Rasio aktivitas (Working Capital Turnover atau rasio perputaran modal kerj. menekankan pada kemampuan perusahaan dalam mengelola modal kerja bersih untuk memperoleh penjualan bersih atau pendapatan. Semakin tinggi rasio Working Capital Turnover menunjukkan bahwa semakin tinggi modal kerja bersih mampu menghasilkan penjualan bersih yang lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan laba/profitabilitas perusahaan. Hal ini didukung oleh hipotesis yang telah diuji oleh Kusjono dan Rohman . yang menyatakan bahwa Working Capital Turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Equity. Hal ini sesuai dengan teori modal kerja . onsep fungsiona. yang menyatakan bahwa konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan . dari usaha pokok perusahaan. Sedangkan hipotesis penelitian yang telah diuji oleh Hisar & Suharna . Jelie . dan Novianti . menyatakan bahwa perputaran modal kerja (Working Capital Turnove. tidak berpengaruh terhadap Return on Equity. H3: X3 (Working Capital Turnove. berpengaruh signifikan positif terhadap Y (Return on Equit. 8 Pengaruh X4 terhadap Y Rasio pertumbuhan (Sales Growth atau rasio pertumbuhan penjuala. menekankan pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan perusahaan dari waktu ke Semakin tinggi rasio Sales Growth menunjukkan bahwa semakin tinggi penjualan perusahaan dari waktu ke waktu yang akan berpengaruh pada peningkatan profit/laba yang lebih besar. Hal ini didukung oleh hipotesis yang telah diuji oleh Novianti . yang menyatakan bahwa Growth of Sales berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity. Hal ini sesuai dengan economic of scale theory yang menyatakan bahwa biaya produksi per unit . dapat menurun seiring bertambahnya volume produksi . dengan melakukan efisiensi di mana peningkatan produksi menjadi tanda bahwa perusahaan mengalami perkembangan yang pesat dan signaling theory yang menyatakan bahwa perusahaan memberikan informasi laporan keuangan yang meningkatkan nilai perusahaan akan menjadi sinyal positif bagi investor. Sedangkan hipotesis penelitian yang telah diuji oleh Wulandari . menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. H4: X4 (Sales Growt. berpengaruh signifikan positif terhadap Y (Return on Equit. 9 Pengaruh X1. X2. X3. X4 terhadap Y Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR). Debt to Equity Ratio (DER). Working Capital Turnover (WCTO) dan Sales Growth memiliki pengaruh signifikan terhadap Return on Equity (ROE) dikarenakan rasio WCTAR. WCTO dan Sales Growth yang tinggi dan rasio DER yang rendah akan menyebabkan profitabilitas perusahaan meningkat. H5: X1. X2. X3. X4 (Working Capital to Total Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Working Capital Turnover dan Sales Growt. berpengaruh signifikan terhadap Y (Return on Equit. secara Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) Sumber: Data Olahan, 2021 Gambar 2. Model Penelitian Berdasarkan Gambar 2 menunjukkan bahwa Working Capital to Total Asset Ratio berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity artinya semakin tinggi Working Capital to Total Asset Ratio maka kemampuan perusahaan untuk menghasilkan penjualan bersih atau pendapatan semakin tinggi yang pada akhirnya akan meningkatkan profit/laba. Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity artinya semakin tinggi Debt to Equity Ratio maka Return on Equity akan menurun dikarenakan perusahaan harus mengeluarkan modal yang dimiliki untuk memenuhi seluruh kewajibannya baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Working Capital Turnover berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity artinya semakin tinggi Working Capital Turnover maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan atau penjualan bersih semakin tinggi sehingga laba yang diperoleh juga akan meningkat. Sales Growth berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity artinya semakin tinggi Sales Growth maka kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan semakin tinggi yang menunjukkan kinerja perusahaan dalam mendapatkan laba juga meningkat. METODE PENELITIAN 1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode riset kausal. Riset kausal adalah suatu jenis riset yang tujuannya digunakan untuk memperoleh bukti mengenai hubungan kausal atau hubungan sebab-akibat antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). 2 Metode Pengumpulan Data dan Teknik Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi yang dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan data yang sudah tersedia dan berhubungan dengan variabel yang akan diteliti dalam bentuk laporan keuangan tahun 2016-2020 pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data Data sekunder ini diperoleh dari laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan oleh perusahaan melalui situs w. com dan w. 3 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini yaitu sebanyak 48 perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berikut ini adalah daftar perusahaan wholesale trade yang merupakan populasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE Tabel 1. Daftar Populasi Perusahaan Wholesale Trade yang Terdaftar di BEI No. Kode AGAR AIMS AKRA APII AYLS BLUE BMSR BOGA CARS CLPI CNKO DPUM DWGL EPMT FISH HADE HDIT HEXA HKMU INPS INTA INTD IRRA KAYU KMDS KOBX KONI LFLO LTLS MDRN MICE MPMX OKAS PMJS SDPC SGER SPTO SQMI SUGI TFAS TGKA TIRA TRIL TURI Tanggal IPO PT Asia Sejahtera Mina Tbk 02/12/2019 Akbar Indomakmur Stimec Tbk 20/07/2001 PT AKR Corporindo Tbk 03/10/1994 PT Arita Prima Indonesia Tbk 29/10/2013 PT Agro Yasa Lestari Tbk 12/02/2020 PT Berkah Prima Perkasa Tbk 08/07/2019 Bintang Mitra Semestaraya Tbk 29/12/1999 PT Bintang Oto Global Tbk 19/12/2016 PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk 10/04/2017 PT Colorpak Indonesia Tbk 30/11/2001 Exploitasi Energi Indonesia Tbk 21/11/2001 PT Dua Putra Utama Makmur Tbk 08/12/2015 PT Dwi Guna Laksana Tbk 13/12/2017 PT Enseval Putera Megatrading Tbk 01/08/1994 FKS Multi Agro Tbk 18/01/2002 PT Himalaya Energi Perkasa Tbk 12/04/2004 PT Hensel Davest Indonesia Tbk 12/07/2019 Hexindo Adiperkasa Tbk 13/02/1995 PT HK Metals Utama Tbk 09/10/2018 PT Indah Prakasa Sentosa Tbk 06/04/2018 Intraco Penta Tbk 23/08/1993 Inter-Delta Tbk 18/12/1989 PT Itama Ranoraya Tbk 15/10/2019 PT Darmi Bersaudara Tbk 04/07/2019 PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk 07/09/2020 Kobexindo Tractors Tbk 05/07/2012 Perdana Bangun Pusaka Tbk 22/08/1995 PT Imago Mulia Persada Tbk 05/04/2021 PT Lautan Luas Tbk 21/07/1997 Modern Internasional Tbk 16/07/1991 Multi Indocitra Tbk 21/12/2005 PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk 29/05/2013 Ancora Indonesia Resources Tbk 17/04/2006 PT Putra Mandiri Jembar Tbk 18/12/2019 PT Millennium Pharmacon International Tbk 07/05/1990 PT Sumber Global Energy Tbk 10/08/2020 PT Surya Pertiwi Tbk 14/05/2018 Wilton Makmur Indonesia Tbk 15/07/2004 Sugih Energy Tbk 19/06/2002 PT Telefast Indonesia Tbk 17/09/2019 Tigaraksa Satria Tbk 11/06/1990 Tira Austenite Tbk 27/07/1993 Triwira Insanlestari Tbk 28/01/2008 PT Tunas Ridean Tbk 16/05/1995 Nama Perusahaan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) 45 UNTR PT United Tractors Tbk 19/09/1989 46 WAPO Wahana Pronatural Tbk 22/06/2001 47 WICO Wicaksana Overseas International Tbk 08/08/1994 48 ZBRA Zebra Nusantara Tbk 01/08/1991 Sumber: w. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciriciri khusus yang dianggap mewakili seluruh populasi sesuai dengan tujuan penelitian yang diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Sampel ini diambil berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan sebagai berikut: Perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 20162020. Perusahaan wholesale trade yang tidak mengalami delisting di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2016-2020. Perusahaan wholesale trade yang tidak mengalami kerugian selama lima tahun berturutturut dari tahun 2016-2020. Perusahaan wholesale trade yang telah mempublikasikan laporan keuangan tahunan di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2016-2020. Laporan keuangan perusahaan wholesale trade yang disajikan dalam mata uang Rupiah dari tahun 2016-2020. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel di atas maka sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu sebanyak enam perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sampel dari jumlah populasi 48 perusahaan menjadi enam perusahaan salah satunya dikarenakan banyaknya laporan keuangan perusahaan wholesale trade tahun 2020 yang belum diterbitkan di Bursa Efek Indonesia pada saat dilakukan pengambilan Hal ini bukan karena perusahaan terlambat menerbitkan laporan keuangan tetapi karena adanya peraturan baru semenjak pandemi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperpanjang relaksasi jangka waktu berlakunya laporan keuangan emiten atau perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dokumen aksi korporasi yang diajukan emiten, dari sebelumnya paling lambat enam bulan menjadi delapan bulan. Sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian ini menjadi enam perusahaan. Berikut ini adalah daftar perusahaan wholesale trade yang dijadikan sampel dalam penelitian ini: Tabel 2. Daftar Sampel Perusahaan Wholesale Trade yang Terdaftar di BEI No. Kode Nama Perusahaan Tanggal IPO AKRA PT AKR Corporindo Tbk 03/10/1994 CLPI PT Colorpak Indonesia Tbk 30/11/2001 EPMT PT Enseval Putera Megatrading Tbk 01/08/1994 SDPC PT Millennium Pharmacon International Tbk 07/05/1990 TURI PT Tunas Ridean Tbk 16/05/1995 UNTR PT United Tractors Tbk 19/09/1989 Sumber: Data Olahan, 2021 4 Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut: 1 Variabel terikat/dependen . ependent variabl. Definisi operasional dari variabel terikat/dependen . ependent variabl. yaitu Return on Equity (ROE). Return on Equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola ekuitas yang dimilikinya dalam memperoleh profit/laba yang kemudian dapat diformulasikan sebagai berikut: Variabel bebas/independen . ndependent variabl. Definisi operasional dari variabel bebas/independen . ndependent variabl. yang terbagi menjadi empat variabel yang masing-masing didefinisikan sebagai . Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR) atau rasio modal kerja terhadap total aset adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola likuiditas total aset dan posisi modal kerja bersih yang dapat digunakan untuk membiayai operasional perusahaan yang kemudian dapat diformulasikan sebagai berikut: Debt to Equity Ratio (DER) atau rasio utang terhadap modal adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola ekuitas yang dimilikinya dalam memenuhi seluruh kewajibannya yaitu kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang yang kemudian dapat diformulasikan sebagai berikut: Working Capital Turnover atau rasio perputaran modal kerja adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola modal kerja bersih untuk memperoleh penjualan bersih atau pendapatan yang kemudian dapat diformulasikan sebagai berikut: Sales Growth atau rasio pertumbuhan penjualan adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik pertumbuhan penjualan perusahaan dari waktu ke waktu yang kemudian dapat diformulasikan sebagai berikut: 5 Model Regresi Persamaan regresi linier berganda yaitu dinyatakan sebagai berikut: = b1X1 b2X2 b3X3 b4X4 A Keterangan: = Return on Equity (ROE) = konstanta = koefisien regresi = Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR) = Debt to Equity Ratio (DER) = Working Capital Turnover (WCTO) = Sales Growth = Koefisien error HASIL DAN PEMBAHASAN Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) 1 Uji Asumsi Klasik 1 Uji Normalitas Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Unstandardized Residual Keterangan Asymp. Sig. -taile. 0,194 Berdistribusi Normal Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji normalitas didapatkan hasil yaitu nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,194 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi berdistribusi normal sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji asumsi klasik 2 Uji Multikolinieritas Tabel 4. Hasil Uji Multikolinieritas Variabel Collinearity Statistics Tolerance VIF Working Capital to Total Asset Ratio 0,481 2,081 Debt to Equity Ratio 0,645 1,550 Working Capital Turnover 0,410 2,440 Sales Growth 0,953 1,049 Keterangan Tidak terjadi Multikolinieritas Tidak terjadi Multikolinieritas Tidak terjadi Multikolinieritas Tidak terjadi Multikolinieritas Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji multikolinieritas didapatkan hasil yaitu nilai tolerance > 0,10 pada variabel Nilai tolerance pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio (X. sebesar 0,481 > 0,10. Debt to Equity Ratio (X. sebesar 0,645 > 0,10. Working Capital Turnover (X. sebesar 0,410 > 0,10 dan Sales Growth (X. sebesar 0,953 > 0,10. Kemudian dengan menggunakan uji multikolinieritas juga didapatkan hasil yaitu nilai VIF < 10 pada variabel independen. Nilai VIF pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio (X. sebesar 2,081 < 10. Debt to Equity Ratio (X. sebesar 1,550 < 10. Working Capital Turnover (X. sebesar 2,440 < 10 dan Sales Growth (X. sebesar 1,049 < 10. Maka dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi tidak terjadi multikolinieritas karena nilai tolerance di atas 0,10 atau nilai VIF (Variance Inflation Facto. di bawah sepuluh sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji asumsi klasik selanjutnya. 3 Uji Heteroskedastisitas Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas Variabel Working Capital to Total Asset Ratio Debt to Equity Ratio Working Capital Turnover Sales Growth -1,256 0,584 -1,446 -0,592 Sig. 0,221 0,565 0,161 0,559 Keterangan Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Homoskedastisitas Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji heteroskedastisitas didapatkan hasil yaitu nilai signifikansi > 0,05 pada variabel Nilai signifikansi pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio (X. sebesar 0,221 > 0,05. Debt to Equity Ratio (X. sebesar 0,565 > 0,05. Working Capital Turnover (X. sebesar 0,161 > 0,05 dan Sales Growth (X. sebesar 0,559 > 0,05. Maka dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas karena nilai signifikansi di atas 0,05 sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji asumsi klasik selanjutnya. 4 Uji Autokorelasi Tabel 6. Hasil Uji Autokorelasi 0,787 R Square 0,619 Adjusted R Std. Error of Square the Estimate 0,558 32,87207 DurbinWatson Keterangan 1,876 Tidak terjadi Autokorelasi Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji autokorelasi didapatkan hasil yaitu nilai Durbin-Watson sebesar 1,876 yang berada di antara -2 dan 2 ( -2 O 1,876 O . maka dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi tidak terjadi autokorelasi sehingga penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan uji koefisien determinasi (R. 2 Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Adjusted Std. Error of R Square the Estimate 0,787 0,619 0,558 32,87207 Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji koefisien determinasi (R. didapatkan hasil yaitu nilai R2 sebesar 0,619. Maka dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa besarnya kemampuan variabel Working Capital to Total Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Working Capital Turnover dan Sales Growth memberi pengaruh atau menjelaskan varian terjadinya variabel Return on Equity yaitu sebesar 61,9 persen sedangkan sisanya sebesar 38,1 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor/variabelvariabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. 3 Uji Regresi Linier Berganda Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linier Berganda R Square Variabel Working Capital to Total Asset Ratio Debt to Equity Ratio Working Capital Turnover Sales Growth Sumber: Data Olahan, 2021 Unstandardized Coefficients Std. Error -0,110 0,049 -0,030 0,006 0,001 0,001 0,151 0,035 Sig. -2,236 0,035 -5,107 0,000 0,628 0,536 4,262 0,000 Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) Berdasarkan pada Tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan dengan menggunakan uji regresi linier berganda dapat dibuat model persamaan regresi linier berganda sebagai berikut: ROE = 160,964 Ae 0,110WCTAR Ae 0,030DER 0,001WCTO 0,151SG Dari model persamaan regresi linier berganda di atas maka dapat dijelaskan bahwa: Koefisien regresi pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio yaitu sebesar -0,110. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Working Capital to Total Asset Ratio mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami penurunan sebesar 0,110. Koefisien regresi yang bernilai negatif memiliki arti bahwa Working Capital to Total Asset Ratio memiliki hubungan negatif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Working Capital to Total Asset Ratio maka semakin rendah nilai Return on Equity. Koefisien regresi pada variabel Debt to Equity Ratio yaitu sebesar -0,030. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Debt to Equity Ratio mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami penurunan sebesar 0,030. Koefisien regresi yang bernilai negatif memiliki arti bahwa Debt to Equity Ratio memiliki hubungan negatif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio maka semakin rendah nilai Return on Equity. Koefisien regresi pada variabel Working Capital Turnover yaitu sebesar 0,001. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Working Capital Turnover mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami peningkatan sebesar 0,001. Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti bahwa Working Capital Turnover memiliki hubungan positif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Working Capital Turnover maka semakin tinggi juga nilai Return on Equity. Koefisien regresi pada variabel Sales Growth yaitu sebesar 0,151. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Sales Growth mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami peningkatan sebesar 0,151. Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti bahwa Sales Growth memiliki hubungan positif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Sales Growth maka semakin tinggi juga nilai Return on Equity. 4 Uji Hipotesis 1 Uji Statistik F Tabel 9. Hasil Uji Statistik F Sig. Keterangan Regression Residual 25 10,160 0,000 Berpengaruh Total Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 9 di atas dapat dilihat bahwa dengan menggunakan uji statistik F didapatkan hasil yaitu nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak. Dengan nilai signifikansi uji statistik F kurang dari lima persen atau 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan Working Capital to Total Asset Ratio Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE (WCTAR). Debt to Equity Ratio (DER). Working Capital Turnover (WCTO) dan Sales Growth terhadap Return on Equity (ROE) secara simultan. Uji Statistik t Tabel 10. Hasil Uji Statistik t Variabel Sig. Keterangan Working Capital to Total Asset Ratio -2,236 0,035 Berpengaruh Debt to Equity Ratio -5,107 0,000 Berpengaruh Working Capital Turnover 0,628 0,536 Tidak Berpengaruh Sales Growth 4,262 0,000 Berpengaruh Sumber: Data Olahan, 2021 Berdasarkan pada Tabel 10 di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan dengan menggunakan uji statistik t maka dapat dijelaskan bahwa: Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR) Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio yaitu sebesar 0,035 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu sebesar -0,110 maka H1 ditolak. Dengan nilai signifikansi uji statistik t kurang dari lima persen atau 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan negatif Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR) terhadap Return on Equity (ROE) secara parsial. Debt to Equity Ratio (DER) Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Debt to Equity Ratio yaitu sebesar 0,000 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu sebesar -0,030 maka H2 diterima. Dengan nilai signifikansi uji statistik t kurang dari lima persen atau 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan negatif Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return on Equity (ROE) secara parsial. Working Capital Turnover (WCTO) Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Working Capital Turnover yaitu sebesar 0,536 > 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai positif yaitu sebesar 0,001 maka H3 ditolak. Dengan nilai signifikansi uji statistik t lebih dari lima persen atau 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan Working Capital Turnover (WCTO) terhadap Return on Equity (ROE) secara parsial. Sales Growth Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Sales Growth yaitu sebesar 0,000 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai positif yaitu sebesar 0,151 maka H4 diterima. Dengan nilai signifikansi uji statistik t kurang dari lima persen atau 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan positif Sales Growth terhadap Return on Equity (ROE) secara parsial. 5 Pembahasan 1 Pengaruh Working Capital to Total Asset Ratio terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020 Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa nilai signifikansi pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio yaitu sebesar 0,035 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu sebesar -0,110 maka hipotesis H1 yang menyatakan bahwa diduga ada pengaruh signifikan positif Working Capital to Total Asset Ratio (WCTAR) terhadap Return on Equity (ROE) ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Working Capital to Total Asset Ratio berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity. Hal ini bertentangan Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) dengan teori modal kerja . onsep kualitati. yang menyatakan bahwa sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa menggangu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas utang lancarnya. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Sari . yang menunjukkan bahwa Working Capital to Total Assets (WCTA) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity (ROE) di mana variabel Working Capital to Total Assets (WCTA) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,071 > 0,05. Working Capital to Total Asset Ratio atau rasio modal kerja terhadap total aset merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola likuiditas total aset dan posisi modal kerjanya yang dapat digunakan untuk membayar utang jangka pendek dan membiayai operasional perusahaan yang dapat diukur dengan membandingkan modal kerja bersih terhadap total aktiva yang dimiliki suatu perusahaan. Modal kerja bersih yaitu selisih antara aktiva lancar dikurangi dengan utang lancar. Semakin tinggi Working Capital to Total Asset Ratio menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah modal kerja bersih dari total aktiva yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk membayar utang jangka pendek. Akan tetapi Working Capital to Total Asset Ratio yang tinggi juga tidak terlalu baik karena aktiva lancar umumnya terdiri dari akun kas dan setara kas, efek, piutang dan persediaan sehingga tingginya Working Capital to Total Asset Ratio bukan berarti bahwa perusahaan memiliki kas yang mencukupi untuk membayar utang jangka pendeknya yang jatuh tempo tetapi tingginya Working Capital to Total Asset Ratio dapat disebabkan oleh tingginya piutang yang tidak tertagih dan tingginya persediaan yang tidak terjual. Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020 Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa nilai signifikansi pada variabel Debt to Equity Ratio yaitu sebesar 0,000 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu sebesar -0,030 maka hipotesis H2 yang menyatakan bahwa diduga ada pengaruh signifikan negatif Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return on Equity (ROE) diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity. Hal ini sesuai dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai profit tinggi umumnya mempunyai jumlah pinjaman . yang sedikit. Namun hal ini bertentangan dengan trade off theory yang menyatakan bahwa perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung memiliki rasio utang yang tinggi dan signaling theory yang menyatakan bahwa utang yang tinggi memberikan sinyal positif karena mencerminkan nilai perusahaan yang tinggi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Azizah . yang menunjukkan bahwa struktur modal (Debt to Equity Rati. berpengaruh signifikan negatif terhadap profitabilitas (Return on Equit. di mana variabel Debt to Equity Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0,014 < 0,05. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Sari . yang menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity (ROE) di mana variabel Debt to Equity Ratio (DER) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Akan tetapi hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang telah diuji oleh Novianti . yang menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity di mana variabel Debt to Equity Ratio memiliki nilai Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Sedangkan penelitian yang telah diuji oleh Hisar & Suharna . yang menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity di mana variabel Debt to Equity Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0,776 > 0,05 dan penelitian yang telah diuji oleh Hendri . menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity di mana variabel Debt to Equity Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0,325 > 0,05. Debt to Equity Ratio atau rasio utang terhadap modal merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola ekuitas yang dimilikinya dalam memenuhi seluruh kewajibannya antara lain kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. Semakin tinggi Debt to Equity Ratio menunjukkan bahwa semakin tinggi total kewajiban yang dibiayai oleh modal sendiri sehingga risiko kegagalan dalam melunasi seluruh kewajiban juga lebih tinggi dan berpotensi mengalami kerugian. Sedangkan semakin rendah Debt to Equity Ratio maka semakin baik dikarenakan hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah total kewajiban yang dibiayai oleh modal sendiri sehingga risiko kegagalan dalam melunasi seluruh kewajiban juga lebih rendah dan dapat mengindikasikan bahwa profitabilitas perusahaan meningkat karena mampu melunasi seluruh kewajibannya. Pengaruh Working Capital Turnover terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020 Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa nilai signifikansi pada variabel Working Capital Turnover yaitu sebesar 0,536 > 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai positif yaitu sebesar 0,001 maka hipotesis H3 yang menyatakan bahwa diduga ada pengaruh signifikan positif Working Capital Turnover (WCTO) terhadap Return on Equity (ROE) Sehingga dapat disimpulkan bahwa Working Capital Turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity. Hal ini bertentangan dengan teori modal kerja . onsep fungsiona. yang menyatakan bahwa konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan . dari usaha pokok Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Hisar dan Suharna . menunjukkan bahwa Working Capital Turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity di mana variabel Working Capital Turnover memiliki nilai signifikansi sebesar 0,540 > 0,05. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Jelie . yang menunjukkan bahwa perputaran modal kerja (Working Capital Turnove. tidak berpengaruh terhadap Return on Equity di mana variabel Working Capital Turnover memiliki nilai signifikansi sebesar 0,139 > 0,05. Dan juga ini sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Novianti . yang menunjukkan bahwa Working Capital Turnover tidak berpengaruh terhadap Return on Equity di mana variabel Working Capital Turnover memiliki nilai signifikansi sebesar 0,360 > 0,05. Akan tetapi hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang telah diuji oleh Kusjono dan Rohman . yang menunjukkan bahwa Working Capital Turnover berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Equity di mana variabel Working Capital Turnover memiliki nilai signifikansi sebesar 0,006 < 0,05. Working Capital Turnover atau rasio perputaran modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam mengelola modal kerja bersih untuk memperoleh penjualan bersih atau pendapatan yang dapat diukur dengan membandingkan penjualan bersih dengan modal kerja Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) Modal kerja bersih merupakan selisih aktiva lancar dikurangi utang lancar. Semakin tinggi rasio Working Capital Turnover maka semakin baik dikarenakan hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi modal kerja bersih mampu menghasilkan penjualan bersih yang lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan laba/profitabilitas Akan tetapi Working Capital Turnover yang tinggi juga tidak terlalu baik karena aktiva lancar umumnya terdiri dari akun kas dan setara kas, efek, piutang dan persediaan sehingga tingginya Working Capital Turnover bukan berarti bahwa perusahaan memiliki persediaan yang mencukupi untuk menghasilkan penjualan tetapi tingginya Working Capital Turnover dapat disebabkan oleh tingginya piutang yang tidak tertagih dan rendahnya utang lancar yang akan jatuh tempo pada saat itu. Pengaruh Sales Growth terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020 Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa nilai signifikansi pada variabel Sales Growth yaitu sebesar 0,000 < 0,05 disertai dengan koefisien regresi yang bernilai positif yaitu sebesar 0,151 maka hipotesis H4 yang menyatakan bahwa diduga ada pengaruh signifikan positif Sales Growth terhadap Return on Equity (ROE) diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Sales Growth berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity. Hal ini sesuai dengan economic of scale theory yang menyatakan bahwa biaya produksi per unit . dapat menurun seiring bertambahnya volume produksi . dengan melakukan efisiensi di mana peningkatan produksi menjadi tanda bahwa perusahaan mengalami perkembangan yang pesat dan signaling theory yang menyatakan bahwa perusahaan memberikan informasi laporan keuangan yang meningkatkan nilai perusahaan akan menjadi sinyal positif bagi investor. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah diuji oleh Novianti . yang menunjukkan bahwa Growth of Sales berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity di mana variabel Growth of Sales memiliki nilai signifikansi sebesar 0,002 < 0,05. Akan tetapi hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang telah diuji oleh Wulandari . yang menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE di mana variabel pertumbuhan penjualan memiliki nilai p value sebesar 0,2706 > 0,05. Sales Growth atau rasio pertumbuhan penjualan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa baik kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan perusahaan dari waktu ke waktu yang dapat diukur dengan membandingkan penjualan tahun ini terhadap penjualan tahun sebelumnya. Semakin rendah rasio Sales Growth menunjukkan bahwa semakin rendah penjualan perusahaan dari waktu ke waktu yang mengindikasikan bahwa profit/laba yang diperoleh perusahaan juga semakin menurun sehingga investor/pemegang saham enggan untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Sedangkan semakin tinggi rasio Sales Growth maka semakin baik dikarenakan hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi penjualan perusahaan dari waktu ke waktu yang mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan profit/laba yang lebih tinggi sehingga akan menarik perhatian investor/pemegang saham untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan landasan teoritis, analisis data penelitian, pengujian data dan interpretasi hasil penelitian yang telah dilakukan dalam penelitian ini maka dapat dibuat kesimpulan sebagai Rudy Lesmana | Profitabilitas dalam Industri Wholesale Trade: Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap ROE 1 Koefisien regresi pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio yaitu sebesar -0,110. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Working Capital to Total Asset Ratio mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami penurunan sebesar 0,110. Koefisien regresi yang bernilai negatif memiliki arti bahwa Working Capital to Total Asset Ratio memiliki hubungan negatif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Working Capital to Total Asset Ratio maka semakin rendah nilai Return on Equity. Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Working Capital to Total Asset Ratio yaitu sebesar 0,035 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Working Capital to Total Asset Ratio berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020. 2 Koefisien regresi pada variabel Debt to Equity Ratio yaitu sebesar -0,030. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Debt to Equity Ratio mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami penurunan sebesar 0,030. Koefisien regresi yang bernilai negatif memiliki arti bahwa Debt to Equity Ratio memiliki hubungan negatif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Debt to Equity Ratio maka semakin rendah nilai Return on Equity. Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Debt to Equity Ratio yaitu sebesar 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan negatif terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2020. 3 Koefisien regresi pada variabel Working Capital Turnover yaitu sebesar 0,001. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Working Capital Turnover mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami peningkatan sebesar 0,001. Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti bahwa Working Capital Turnover memiliki hubungan positif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Working Capital Turnover maka semakin tinggi juga nilai Return on Equity. Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Working Capital Turnover yaitu sebesar 0,536 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Working Capital Turnover tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 20162020. 4 Koefisien regresi pada variabel Sales Growth yaitu sebesar 0,151. Hal ini memiliki arti bahwa jika variabel bebas/independen lainnya tidak mengalami perubahan dan variabel Sales Growth mengalami peningkatan satu kali maka variabel Return on Equity akan mengalami peningkatan sebesar 0,151. Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti bahwa Sales Growth memiliki hubungan positif terhadap Return on Equity. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Sales Growth maka semakin tinggi juga nilai Return on Equity. Nilai signifikansi uji statistik t pada variabel Sales Growth yaitu sebesar 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara parsial Sales Growth berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Equity pada perusahaan wholesale trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 20162020. SARAN Setelah melakukan analisis data penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini maka terdapat beberapa saran yang bisa disampaikan untuk penelitian selanjutnya yaitu sebagai berikut: Vol. No. Bulan Juni Tahun 2023 | Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan (FINTECH) 1 Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi (R. didapatkan hasil yaitu nilai R2 sebesar 0,619 maka dapat disimpulkan bahwa besarnya kemampuan variabel Working Capital to Total Asset Ratio. Debt to Equity Ratio. Working Capital Turnover dan Sales Growth memberi pengaruh atau menjelaskan varian terjadinya variabel Return on Equity yaitu sebesar 61,9 persen sedangkan sisanya sebesar 38,1 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor/variabel-variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, untuk penelitian selanjutnya disarankan menggunakan variabel-variabel independen lainnya yang dapat memberi pengaruh atau menjelaskan varian terjadinya variabel Return on Equity misalnya variabel Net Profit Margin. Return on Working Capital. Value Added Capital Employed. Value Added Human Capital dan Structural Capital Value Added. 2 Untuk penelitian selanjutnya disarankan menggunakan industri sektor atau subsektor lainnya yang terdapat lebih banyak populasi perusahaan misalnya industri transportasi, properti dan perumahan, tambang batu bara dan pariwisata, restoran dan hotel. 3 Untuk penelitian selanjutnya juga disarankan untuk menggunakan periode waktu penelitian yang lebih lama yaitu lebih dari lima tahun dan disarankan untuk menggunakan tahun penelitian yang terbaru. DAFTAR PUSTAKA