IMPLEMENTASI METODE GRAPH COLORING UNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN KRIMINAL I Made Ari Santosa1 . I Putu Ramayasa2. Gusti Ayu Sinar Wahyuni3 Program Studi Sistem Komputer. , . Program Studi Sistem Informasi2 Fakulltas Informatika dan Komputer. Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali1,2,3 arisantosamade@gmail. com1, rama@stikom-bali. id2 sinwhyni@gmail. ABSTRACT Data and information about the number of criminal acts in an area can be used to describe security conditions, law and order, and also the level of crime-prone in that area. The absence of a support system that can provide complete data and information about crime-prone areas is a fairly basic problem. For this reason, an information system is needed so that it can assist in providing complete data and information, and map crime-prone areas within a certain legal area. In this study, we apply the graph coloring method to a Geographic Information System (GIS) to map crime-prone areas in the jurisdiction of the State District Court. Jembrana district. Bali Province. This system can display data and information related to crime in an area, as well as map crimeprone area. The test results with the Blackbox method show that this system can work as expected. Keywords : Crime-prone area. Graph Coloring, mapping system ABSTRAK Data dan informasi tentang banyaknya tindak kriminal pada suatu wilayah dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi keamanan, ketertiban dan juga tingkat kerawanan pada wilayah tersebut. Belum adanya sistem pendukung yang dapat memberikan data dan informasi yang lengkap tentang daerah rawan kriminalitas merupakan permasalahan yang cukup mendasar. Untuk itu, diperlukan suatu sistem informasi agar dapat membantu dalam memberikan data dan informasi yang lengkap, serta dapat memetakan daerah rawan kriminalitas dalam suatu wilayah hukum tertentu. Pada penelitian ini, kami menerapkan metode graph coloring pada suatu Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan daerah rawan kriminal pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Negara, kabupaten Jembrana. Provinsi Bali. Sistem yang dibangun dapat menampilkan data dan informasi terkait tindak kriminal di suatu wilayah, serta dapat memetakan daerah Ae daerah yang rawan terhadap tindak kriminal. Hasil pengujian dengan metode Blackbox menunjukan bahwa sistem yang dibangun dapat bekerja dengan baik. Kata kunci: Daerah Rawan Kriminalitas. Graph Coloring. Sistem Pemetaan PENDAHULUAN Angka kriminalitas di Indonesia masih cenderung tinggi. Berdasarkan rilis dari World Bank pada tahun 2015. Indonesia menduduki peringkat ke-68 sebagai negara dengan Indeks Kejahatan tertinggi dari 147 negara (Edwart dan Azhar, 2. Tingginya angka kriminalitas akan menimbulkan kehidupan di dalam tatanan bermasyarakat menjadi tidak nyaman dan juga tidak aman. Jika dilihat secara lebih detail, data dan informasi tentang banyaknya tindak ketertiban dan juga tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap tindak kriminal (Badan Pusat Statistik. , 2. Selain itu informasi ini juga sangat berguna bagi aparat penegak hukum sebagai bahan antisipasi dan juga sebagai bahan pertimbangan dan analisis dalam mengambil keputusan (Hilman, et al. Sebagaimana telah kita ketahui, terjadinya tindak kriminal yang semakin meningkat merupakan akibat dari kurangnya pendidikan serta pemahaman masyarakat tentang hukum dan kemanusiaan, dan juga karena lemahnya penegakan hukum itu sendiri (Edwart, 2. 422 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 7. Nomor 4. Oktober 2021 Selain itu, salah satu permasalahan yang cukup mendasar adalah belum adanya sistem pendukung yang dapat membantu mengolah, memetakan, serta memberikan informasi yang lengkap tentang data krimilatas dan daerah rawan kriminalitas dalam satu wilayah hukum. Selama ini data dan informasi tersebut masih berbentuk dokumen atau working paper. Datan dan informasi tersebut diolah secara manual sehingga efektifitas dan efisiensi kerja menjadi terhambat. Belum adanya sistem pendukung yang dapat memberikan data dan informasi yang cepat dan lengkap tentang daerah rawan kriminalitas merupakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh aparat penegak hukum saat ini. Untuk itu, diperlukan suatu sistem pendukung agar dapat membantu dalam peng-input-an, penyimpanan dan analisis data, yang dapat memberikan informasi cepat dan lengkap tentang daerah rawan kriminalitas di suatu daerah . ilayah Mengingat teknologi informasi dan komputer yang pemanfaatan teknologi informasi dapat menjadi salah satu solusi agar data dan informasi tersebut dapat terintegrasi dengan Selain itu, dengan memanfaatkan bantuan teknologi informasi, analisa dan dilakukan dengan lebih cepat dan terukur (Santosa, 2. Terkait dengan masalah pemetaan dilakukan adalah dengan memanfaatkan suatu sistem pemetaan yang berbasis komputer atau sistem informasi geografis. Sementara itu, metode pewarnaan graf . raph colorin. dapat dimanfaatkan untuk menentukan tingkat kriminalitas dari masingAemasing wilyah yang dipetakan. Graph coloring merupakan salah satu metode penyelesaian masalah yang cukup kompleks tentang bagaimana caranya mewarnai graph atau wilayah . egion colorin. dengan warna berbeda untuk setiap node atau wilayah yang berdekatan. Sebagai mana disebutkan oleh (Aldous, et , 2. terdapat 3 jenis metode pewarnaan graf . raph colorin. , yaitu : metode pewarnaan titik . , metode pewarnaan sisi . , dan metode pewarnaan wilayah . Metode graph coloring ini dapat dijadikan suatu solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah pemetaan wilayah, . kriminalitas (Saidatuz, et al. , 2. Dengan adanya suatu sistem pemetaan daerah rawan kriminalitas dalam suatu wilayah hukum yang berbasis komputer dengan menggunakan metode graph coloring, maka akan dapat membantu dalam pengintegrasian dan pengolahan data dan informasi kriminalitas, yang nantinya dapat dianalisa dan selanjutnya dipetakan sehingga dapat mengetahui daerah yang memiliki tingkat kerawanan paling tinggi. Pada menerapkan metode graph coloring pada suatu sistem informasi geografis untuk memetakan daerah rawan kriminal pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Negara, kabupaten Jembrana. Provinsi Bali. KAJIAN PUSTAKA. Teori Graph Teori Graph pertama kali dipakai oleh Leonard Euler, seorang ahli matematika dari Swiss pada tahun 1736 untuk Kcnigsberg. Secara umum, graph adalah pasangan himpunan (V,E) dimana V adalah himpunan tidak kosong dari simpul-simpul . ertex atau nodes atau titi. dan E adalah himpunan sisi . dges atau arcs atau gari. yang menghubungkan sepasang simpul pada graph tersebut atau dapat ditulis dengan notasi G = (V,E). Graph digunakan untuk merepresentasikan objek-objek diskrit dan hubungan antara objek-objek tersebut (Deo. Pewarnaan Graph Sebagai mana disebutkan oleh (Aldous et al. , 2. yang terangkum dalam (Saidatuz, et al. , 2. , konsep utama dari pewarnaan graf . raph colorin. adalah pemberian warna yang berbeda pada setiap wilayah, supaya tidak ada wilayah yang saling bersebelahan memiliki warna yang Santosa. Ramayasa. Wahyuni. Implementasi Metode Pemetaan Graph ColoringA 423 Penelitian Terkait Beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan tema yang diambil dalam penelitian ini, antara lain telah dilakukan oleh (Ramadhani, . , yang mengangkat permasalahan pemetaan wilayah dengan metode graph coloring untuk menentukan tingkat strategis suatu kecamatan di kabupaten Kediri. Penelitian sejenis juga telah dilakukan oleh (Saidatuz, et al. , 2. dimana dalam penelitian tersebut, peneliti mengangkat permasalahan penjadwalan perkuliahan agar tidak tumpang tindih dengan menerapkan metode graph coloring dan pewarnaan sisi. Terkait dengan pemetaan daerah rawan kriminalitas, penelitian sejenis telah dilakukan oleh (Hilman, et al. , 2. Pada penelitian tersebut, peneliti memetakan memanfaatkan metode clustering. Penelitian serupa dengan cakupan area yang lebih luas dilakukan oleh (Hapsari, dan Widodo. Dengan memanfaatkan metode KMeans Clustering, peneliti melakukan analisa dan pengelompokan daerah rawan kriminalitas di Indonesia. Selain itu, ada juga penelitian dari (Sudarsono, et al. , 2. yang mengangkat tema pemetaan daerah rawan kriminal di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tasik Malaya, dengan menerapkan Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis web. Pada memanfaatkan fitur Google Maps API yang sudah disediakan oleh flatform Google untuk memetakan daerah yang dianggap rawan Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh (Edwart, dan Azhar, 2. , pendidikan dan kepadatan penduduk, serta adanya hubungan antara ketimpangan tingkat pendapatan penduduk dalam suatu wilayah, terhadap tingkat kriminalitas. Ada juga penelitian yang dilakukan oleh (Supuwiningsih, et al. , 2. yang mengkaji permasalahan terkait implementasi sistem informasi geografis untuk memetakan sebaran perguruan tinggi di wilayah provinsi Bali. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian merupakan uraian dari berbagai tahapan yang dilakukan . dalam suatu proses penelitian. Metode penelitian yang digunakan meliputi beberapa tahapan yang dimulai dari perumusan masalah, yang dilanjutkan dengan studi literatur, pengumpulan data, implementasi sistem, serta pengujian dan evaluasi, dan selanjutnya diakhiri dengan pengambilan kesimpulan (Santosa, 2. Adapun gambaran umum . erangka berpiki. dari proses penelitian ini, digambarkan ke dalam diagram alur . seperti yang disajikan pada gambar 1 berikut : Mulai Selesai Perumusan Masalah Kesimpulan Studi Literatur Pengujian Evaluasi Pengumpulan Data Implementasi Sistem Analisa Data Perancangan Sistem Gambar 1. Diagram alur proses penelitian ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM Analisa sistem dapat diartikan sebagai suatu teknik pemecahan masalah yang menguraikan bagian - bagian . dari sistem dengan mempelajari seberapa bagus bagian komponen tersebut bekerja dan berinterkasi untuk mencapai tujuan mereka (Rahayu, et al. , 2. Pada tahap analisa sistem dilakukan observasi atau pengamatan pada kantor Pengadilan Negeri Negara. Dari analisa sistem ditemukan bahwa Pengadilan Negeri Negara (Kabupaten Jembran. belum memetakan daerah rawan kriminalitas. Kondisi ini mempersulit pihak terkait dalam mengetahui maupun mencari lokasi tempat 424 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 7. Nomor 4. Oktober 2021 terjadinya perkara (TKP) dari kasus atau perkara yang telah diputus. Untuk mempermudah pengguna dalam memahami konsep dasar dalam menggunakan System flow komputerisasi untuk membuat model sistem yang menggambarkan hubungan antara input, proses, dan output yang nantinya dapat System flow komputerisasi dari sistem pemetaan daerah rawan kriminalitas wilayah hukum Pengadilan Negeri Negara menggunakan metode graph coloring dapat digambarkan sebagai berikut: Diagram konteks merupakan bagian dari DFD yang memberikan gambaran aliran sistem secara umum, yang menunjukan batasan sistem dan juga entitas eksternal yang terlibat di dalam sistem tersebut (Valacich dan George, 2. Diagram konteks merupakan diagram yang dapat keseluruhan sistem yang telah dibuat dan digunakan untuk menjelaskan mekanisme kerja dari sistem tersebut. Diagram konteks dari sistem yang dibangun dapat dilihat pada dt_admin info_dt_admin dt_provinsi info_dt_provinsi Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa Jenis pidana Catatan Pidana Manual input Manual input Manual input Manual input Manual input Manual input Maintenance Maintenance Maintenance Maintenance desa Maintenance jenis Maintenance catatan pidana Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa Jenis pidana Catatan pidana Print laporan Laporan Gambar 2. System flow komputerisasi Pada penelitian ini, untuk melakukan pemodelan aliran data digunakan alat bantu perancangan berupa Data Flow Diagram (DFD). DFD adalah alat bantu perancangan sistem yang dapat menggambarkan sebuah sistem sebagai suatu jaringan dari proses proses fungsional, yang menghubungkan satu entitas dengan entitas lainnya. DFD merupakan alat perancangan sistem yang berorientasi pada alur data dengan konsep dekomposisi yang dapat digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan sistem (Valacich dan George, 2. Admin dt_kabupaten info_dt_kabupaten dt_kecamatan info_dt_kecamatan dt_desa Sistem Pemetaan PN Negara info_dt_desa dt_narapidana info_dt_narapidana dt_jenispidana info_dt_jenispidana dt_catatanpidana info_catatanpidana dt_layer info_dt_layer Gambar 3. Diagram Konteks Untuk memahami dan menggambarkan urutan serta alur menu . dari aplikasi yang dibangun, maka struktur menu perlu dirancang . secara cermat. Adapun desain struktur menu dari aplikasi yang dibangun dapat dilihat pada gambar 4 berikut : Santosa. Ramayasa. Wahyuni. Implementasi Metode Pemetaan Graph ColoringA 425 Login Tampilan dari menu utama dapat dilihat pada gambar berikut : Menu Utama Master Data Master Kecamatan Master Desa Master Pidana Master Narapidana Master User Catatan Pidana Form Catatan Pidana Cetak Laporan Keluar Gambar 4. Struktur Menu IMPLEMENTASI SISTEM Implementasi berdasarkan pada desain atau rancangan yang telah dibuat. Implementasi sistem pemetaan yang dibangun merupakan aplikasi sistem berbasis desktop. Tampilan Menu Login Menu Login digunakan oleh user untuk masuk agar dapat mengakses serta menjalankan sistem. Tampilan menu Login disajikan pada gamber berikut : Gambar 6. Tampilan Menu Utama Pada bagian pojok kiri bawah Menu Utama disajikan keterangan . warna yang menunjukan tingkat kasus pidana yang Terdapat 6 warna yang menunjukan tingkat kasus pidana di suatu wilayah. Keenam warna tersebut adalah, warna putih . , ungu . angat renda. , biru . , hijau . , kuning . dan merah . angat tingg. Pada Menu Utama juga terdapat tab Filter yang berfungsi memfilter penelusuran . peta berdasarkan kecamatan, desa, dan pidana. Gambar 7. Filter berdasarkan kecamatan Gambar 5. Menu Login Tampilan Menu Utama Menu utama dari aplikasi ini memiliki 4 sub menu yaitu Master Data. Catatan Pidana. Cetak Laporan dan menu Keluar untuk pengguna yang sedang aktif. Pada gambar 7 di atas, disajikan tampilan filter peta berdasarkan wilayah Pada peta tersebut terlihat proses pewarnaan wilayah . , dimana region yang bersebelahan memiliki warna yang Proses pewarnaan . ini berdasarkan pada tingkat . kasus pidana pada masing-masing kecamatan 426 Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer. Volume 7. Nomor 4. Oktober 2021 seperti yang terlihat pada legenda peta. Apabila region yang bersebelahan atau bertetangga memiliki jumlah kasus pidana yang sama, maka akan dibedakan berdasarkan pattern. Tampilan Master Data Sub menu Master Data digunakan untuk mengelola data penunjang dalam Administrator dapat memilih data mana yang akan dikelola dengan menekan . menu Master Data yang ada pada bagian pojok kiri atas form utama. Berikut adalah beberapa form master yang ada pada master Berikut adalah tampilan beberapa form master yang terdapat pada sub menu Master Data. Tampilan Sub Menu Catatan Pidana Sub menu Catatan Pidana digunakan untuk mengelola data catatan pidana yang terdata di wilayah hukum Pengadilan Negeri Negara. Untuk pengelolaan data catatan pidana, administrator sistem dapat memilih Sub Menu Catatan Pidana. Gambar 10. Sub Menu Catatan Pidana Gambar 8. Sub menu Master Data Tampilan Sub Menu Cetak Laporan Sub Menu Cetak Laporan berfungsi untuk mencetak laporan pidana agar dapat menampilkan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Cetak laporan ini hanya mencetak kode catatan pidana, desa, pidana, nama tersangka, dan putusan. Pada gambar Berikut ditampilkan Sub Menu Cetak Laporan. Pada sub menu Master Data, terdapat beberapa sub menu lagi, yaitu : Master Kecamatan. Master Desa. Master Pidana. Master Narapidana. Master User. Pada berikut disajikan tampilan sub Master Kecamatan, menampilkan data kecamatan yang terdapat di Kabupaten Jembrana. Gambar 11. Sub menu Cetak Laporan Menu Keluar (Logou. Apabila administrator sistem ingin keluar . dari sistem, maka administrator dapat menekan tombol . keluar yang ada pada pojok kanan atas menu Setelah menekan tombol keluar maka akan muncul kotak dialog yang bertujuan Gambar 9. Sub menu Master Kecamatan Santosa. Ramayasa. Wahyuni. Implementasi Metode Pemetaan Graph ColoringA 427 untuk mengkonfirmasi apakah administrator ingin keluar atau tidak. Cetak Laporan Berhasil dan mencetak catatan pidana Mengacu pada hasil pengujian blackbox yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa sistem yang dibangun dapat berjalan sesuai dengan yang Gambar 12. Menu Keluar PENGUJIAN SISTEM Metode pengujian yang digunakan pada sistem yang dibangun adalah metode pengujian Blackbox. Hasil pengujian dengan metode Blackbock disajikan pada tabel Tabel 1. Hasil pengujian Blacbox Yang Login ke Menu Utama Filter atau Data Master Data Catatan Pidana Hasil Pengujian Berhasil Menu Utama beserta subsub menu yang terdapat pada Menu Utama Berhasil fiter atau desa, tindak Berhasil data master, tambah data, ubah data dan hapus data Berhasil data catatan pidana, serta menglola data catatan pidana Kesimpulan SIMPULAN Metode pewarnaan graf . raph colorin. dapat diterapkan pada Sistem Informasi Geografis untuk pemetaan wilayah rawan kriminal pada wilayah Pengadilan Negeri Negara, kabupaten Jembrana. Provinsi Bali. Sistem yang dibangun dapat menampilkan data dan informasi terkait tindak pidana yang terjadi di wilayah hukum tersebut. Sistem ini juga dapat menampilkan tingkat kerawanan suatu wilayah berdasarkan pada jumlah kasus pidana yang terjadi. Hasil pengujian dengan metode blackbox menunjukan bahwa sistem dapat bekerja sesua dengan yang Sesuai DAFTAR PUSTAKA