KAFFAH: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan Vol. 3 No. Page 184-191 ISSN: 2985-9662 http://jurnal. id/index. php/kaffah/article/view/924 INTERVENSI KONSELING ISLAM UNTUK MENANGGULANGI PERILAKU LGBT PESERTA DIDIK SEKOLAH Dody Riswanto Universitas Indraprasta PGRI Email: ronaldody32@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menanggulangi perilaku LGBT peserta didik di sekolah dengan intervensi konseling Islam. Strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan penelitian adalah sosialisasi mengenai bahaya LGBT serta layanan konseling yang bersifat sukarela kepada peserta didik sekolah . Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menemukan formulasi baru cara penanganan LGBT yang lebih humanis dengan penggunaan konseling Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah interview, observasi, studi dokumentasi, dan informasi audio visual. Analisis data yang digunakan adalah teknik triangulasi, melakukan sintesa, analisa, interpretasi data, serta membuat kesimpulan akhir berupa proposisi. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa konseling Islam dapat menanggulangi perilaku LGBT peserta didik dengan treatment yaitu sholat 5 waktu, membaca Al-QurAoan, menghafal surah-surah pendek, dan menulis ayat suci Al-QurAoan. Treatment Islam tersebut setidaknya memberikan shock therapy pada peserta didik untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut di kemudian hari. Intervensi juga melibatkan bantuan team guru BK serta wali kelas untuk memonitoring perilaku siswa tersebut. Keterbaharuan penelitian ini adalah intervensi konseling LGBT tidak menggunakan cara kuno seperti memarahi, memaki siswa, atau mem-bully, tetapi lebih bersifat humanis agamis. intervensi konseling yang digunakan adalah menggunakan perpaduan antara teori konseling barat yang konvensional dengan menggunakan teori konseling multikural dan konseling spiritual. Kata kunci: Intervensi. Konseling. Islam. LGBT. ABSTRACT The aim of this research is to overcome LGBT behavior of students at school with Islamic counseling interventions. The strategy used to achieve the research objectives was outreach regarding the dangers of LGBT and voluntary counseling services to school students . The target to be achieved in this research is to find a new formulation of a more humane way of dealing with LGBT using Islamic counseling. The method used in this research is a qualitative The data collection techniques used were interviews, observation, documentation studies, and audio-visual information. The data analysis used is a triangulation technique, carrying out synthesis, analysis, data interpretation, and making final conclusions in the form of The research results describe that Islamic counseling can overcome students' LGBT behavior with treatment, namely praying 5 times a day, reading the Al-Qur'an, memorizing short surahs, and writing holy verses from the Al-Qur'an. This Islamic treatment at least provides shock therapy to students so that they do not repeat these actions in the future. The intervention also involved the help of a team of guidance and counseling teachers and homeroom teachers to monitor the student's behavior. The novelty of this research is that the LGBT counseling intervention does not use old-fashioned methods such as scolding, cursing students, or bullying, but is more religiously humanist in nature. The counseling intervention used is a combination of conventional western counseling theory using multicultural counseling theory and spiritual Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 184 Keywords: Intervention. Counseling. Islam. LGBT. PENDAHULUAN Hakikat manusia adalah berpikir, bersikap, bertindak dan berperilaku sesuai dengan fitrah dan naluri yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Diantara fitrah dan naluri tersebut adalah naluri biologis manusia yang berkaitan dengan orientasi seksual. Orientasi seksual yang dianggap normal adalah menyukai lawan jenis karena merupakan salah satu indikator ciri manusia yang sehat secara mental dan psikologis (Riswanto & Aswar, 2. Orientasi seksual manusia terdiri dari 4 macam, pertama adalah heteroseksual yaitu ketertarikan emosional terhadap lawan jenis, kedua adalah homoseksual yaitu ketertarikan emosional terhadap sesama jenis kelamin, ketiga adalah biseksual yaitu ketertarikan emosional terhadap 2 jenis kelamin sekaligus, keempat adalah aseksual yaitu tidak memiliki ketertarikan emosional terhadap jenis kelamin apapun. Terdapat perbedaan pendapat diantara para akademisi dan ahli psikologi dalam menanggapi perilaku LGBT. Beberapa ahli menganggap bahwa LGBT hanyalah hasil dari konstruksi sosial masyarakat yang harus diterima dalam lingkungan sosial (Adriaens & De Block, 2. (Gibson & Hensley, 2. American Psychiatric Association (APA) tahun 1973 bahkan telah menghapus perilaku homoseksual dari daftar penyakit mental. Kontradiksi pernyataan yang menentang para ahli diatas yang menganggap LGBT bukanlah sebuah penyakit, ditentang para akademisi lain yang tidak setuju terhadap LGBT, bahwa orientasi seksual LGBT merupakan sebuah penyakit menyimpang atau termasuk dalam kelainan jiwa yang harus diobati. LGBT merupakan penyakit kejiwaan yang menyimpang dari fitrah atau naluri manusia sebagai makhluk Tuhan (Mundle et al, 2. (Mizock et al, 2. (Ghorayep & Dalgalarrondo, 2. Diperlukan kompromi untuk menjembatani dua pendapat yang saling kontradiksi tersebut, dan peneliti memilih untuk menyetujui pendapat bahwa LGBT adalah penyimpangan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila (Ikhsan & Riswanto, 2. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa segala bentuk ideologi atau paham yang bertentangan dengan pancasila harus ditentang dan dijauhi oleh seluruh bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang menganut asas spiritualitas dimana nilai-nilai moralitas agama harus dijunjung dan dijadikan pedoman. Hal ini diperkuat dengan pancasila sebagai filosofi negara dimana sila pertama berisi butir nilai-nilai ketuhanan yang maha esa, yang mengandung makna nilai-nilai spiritualitas beragama dalam kehidupan berbangsa dan LGBT membawa paham atau prinsip yang bertentangan dengan pancasila khususnya sila pertama yang memuat nilai ketuhanan. LGBT yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila, harus ditolak dengan cara melakukan sosialisasi pencegahan dan bahaya LGBT kepada seluruh kalangan masyarakat sosial, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Peneliti memilih untuk melakukan sosialisasi Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 185 pencegahan tindakan dan cara penanggulangan LGBT kepada remaja atau siswa peserta didik Peneliti memilih siswa atau peserta didik sebagai bahan observasi, sosialiasi, dan penelitian karena remaja usia sekolah adalah kelompok yang paling rawan dipengaruhi oleh teman sebaya, hal ini mengingat secara psikologis, usia remaja memasuki fase perkembangan yang disebut sebagai tahap transisi, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Jadi remaja usia sekolah sangat rentan terpengaruh oleh hal negatif dari lingkungan disekitarnya. Berdasarkan hasil observasi peneliti di sekolah, hampir semua peserta didik mengetahui tentang bahaya LGBT. Peneliti selanjutnya melakukan penelusuran dan menemukan beberapa fakta di kalangan siswa dan siswi yang terindikasi kuat berperilaku LGBT di Peserta didik tersebut telah terbukti melakukan tindakan penyimpangan seksual yang mengindikasikan perilaku gay dan lesbian. Bukti-bukti yang dikumpulkan oleh konselor sekolah diantaranya percakapan peserta didik pada perangkat gawai, laporan siswa dikelas kepada konselor, saksi mata dari siswa dikelas yang melihat langsung perilaku penyimpangan mereka secara berulang-ulang, hasil penelusuran di akun media sosial, dan isi AostatusAo peserta didik pada perangkat gawai. Hasil penelusuran terhadap bukti-bukti peserta didik yang terindikasi LGBT membuktikan, bahwa perilaku penyimpangan LGBT masih terdapat di sekolah. Karena itu diperlukan langkah-langkah konkrit pencegahan, penanganan, serta penanggulangan perilaku LGBT di sekolah yang diinisiasi oleh konselor serta dibantu oleh guru mapel, wali kelas, serta kepala/wakil kepala sekolah. Peneliti membuat kategorisasi untuk mencirikan perilaku LGBT peserta didik. Kategorisasi yang pertama adalah siswa yang memiliki ciri-ciri berperilaku gay, yang kedua siswi yang memiliki ciri-ciri berperilaku lesbian, dan yang ketiga siswa yang memiliki ciri-ciri berperilaku transgender. Kategorisasi dibuat berdasarkan identifikasi dari hasil temuan terhadap 5 responden peserta didik. Berdasarkan pemaparan yang telah dideskripsikan, peneliti memilih penelitian mengenai LGBT ini berdasarkan tinjauan dan hasil analisis beberapa aspek diantaranya kemudahan lokasi penelitian karena bersetting di sekolah sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi dalam jangka waktu yang lama, isu mengenai LGBT di sekolah yang masih jarang dibahas, serta bagaimana LGBT dapat berkembang pesat di institusi pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menanggulangi perilaku LGBT di sekolah dengan intervensi konseling islam. Teknik penanggulangan perilaku LGBT di sekolah termasuk diantaranya sosialisasi kepada peserta didik, layanan konseling gratis kepada peserta didik di luar jam sekolah yang dilaksanakan oleh guru BK, asas kesukarelaan yang menjadi pedoman guru BK terhadap peserta didik, membuat aturan tata tertib baru yang memungkinkan efek Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 186 jera bagi peserta didik, memberikan peringatan atau konsekuensi yang harus ditanggung oleh peserta didik jika terlibat dalam LGBT, dan lain-lain. Urgensi penelitian ini adalah pentingnya penanganan terhadap peserta didik LGBT di Berdasarkan hasil observasi peneliti, sangat jarang guru BK yang memiliki fokus terhadap permasalahan LGBT peserta didik, sehingga peserta didik yang mengalami gejala penyimpangan LGBT menjadi tidak terurus dan tidak tertangani dengan baik, karena itu penelitian ini dibuat berdasarkan urgensinya permasalahan LGBT di sekolah yang selama ini menjadi fenomena terselubung yang tidak disadari oleh sekolah. Kontribusi penelitian ini terhadap peningkatan hasil dan mutu kependidikan dan keilmuan bimbingan dan konseling adalah menambah khazanah keilmuan baru dalam teknik konseling yaitu intervensi konseling Islam dengan strategi pemecahan masalah berupa ibadah . holat, ngaji Al-QurAoan, menghafal surah-sura. yang harus dilakukan oleh klien. Selama ini strategi konseling lebih menekankan pada konseling barat . sikoanalisis, behavioristik, kogniti. yang cenderung konvensional dan kurang memperhatikan aspek spiritualitas. Karena itulah kontribusi penelitian ini mencoba memasukkan unsur Islami kedalam keilmuan konseling. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Kualitatif adalah jenis pendekatan yang memfokuskan usaha peneliti dalam menginterpretasikan kondisi individu atau suatu kelompok yang mengalami suatu gejala peristiwa atau fenomena tertentu, dengan menggunakan pendekatan eksplorasi sebagai metode ilmiah dalam menghasilkan temuan sementara dan mengembangkan bagaimana pemahaman tentang manusia, tempat, dan jenis kelompok-kelompok tertentu (Johnson & Larry, 2. Lokasi penelitian berada di dua sekolah SLTA di wilayah Jakarta pusat. Sampel diambil menggunakan metode snowball sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini ada 4 Proses pengambilan data di sekolah serta analisisnya dilakukan selama kurang lebih 3 Identitas responden dirahasiakan dengan menyamarkan nama asli, merahasiakan lokasi tempat tinggal responden, identitas keluarga responden, dan identitas orang tua responden. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci dalam melakukan kajian penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah inteview atau wawancara yang dilakukan kepada peserta didik, guru mapel dan wali kelas, observasi atau pengamatan yang dilakukan di sekolah, studi dokumentasi atau pengumpulan dokumen penting, dan informasi audio visual berupa bukti digital seperti perangkat gawai dan akun media sosial. Peneliti kualitatif harus mengumpulkan berbagai data-data penting yaitu interview, observasi, dokumentasi, dan informasi audio visual (Creswell, 2. Analisis data yang digunakan diantaranya melalui beberapa prosedur, yaitu melakukan pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi, melakukan sintesa, analisis, interpretasi data, serta membuat kesimpulan akhir berupa proposisi. Analisis data dalam Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 187 pendekatan kualitatif harus melibatkan teknik pemeriksaan, pemilahan, kategorisasi, evaluasi, membandingkan, membuat sintesa, dan menafsirkan kode dan data serta meninjau data mentah yang telah direkam (Lawrence Neuman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku LGBT disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah . faktor habit atau kebiasaan, . pengalaman masa kecil, . pengaruh lingkungan, . pengaruh teman sebaya, . kekerasan fisik, . hormon dalam tubuh, dan . gaya hidup (Riswanto & Aswar, 2. LGBT disebabkan oleh multifaktor seperti pengaruh hormon, trauma masa lalu, kurangnya perhatian orang tua, minimnya sikap religius, pengalaman hubungan yang tidak menyenangkan, dan pergaulan lingkungan (Verolyna, et al. Secara umum LGBT diakibatkan oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya LGBT pada individu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah: Faktor kelalaian keluarga, 2. Faktor pergaulan dan lingkungan, 3. Faktor biologis, 4. Faktor moral dan akhlak, dan 5. Faktor pengetahuan dan pengamalan agama yang lemah (Nasution. Lubis, & Mukti, 2. (MustiAoah, 2. Faktor lain yang menyebabkan pelaku LGBT semakin terjebak dalam perilaku menyimpang mereka adalah diskriminasi dari lingkungan sosial. Pelaku LGBT sering mendapat persekusi seperti hinaan, cacian, sindiran, bullying, bahkan serangan fisik yang mengarah pada Diskriminasi dan persekusi yang diterima pelaku LGBT ini disebabkan karena secara sosiokultural, mayoritas masyarakat Indonesia tidak dapat menerima keberadaan LGBT. Hasil survey SMRC pada bulan Maret 2016 dan Desember 2017 menyebutkan bahwa 87,6 persen masyarakat Indonesia menilai bahwa perilaku LGBT adalah sebuah ancaman, dan 81,5 persen masyarakat menilai LGBT dilarang dalam agama (Nasional Tempo, 2. Penolakan mayoritas masyarakat Indonesia terhadap fenomena LGBT ini berimbas pada kekerasan yang diterima oleh individu LGBT. Data LSM Arus Pelangi menunjukkan bahwa 89,3% kaum LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan karena identitas gendernya, 79,1% responden menyatakan pernah mengalami bentuk kekerasan psikis, 46,3% responden menyatakan pernah mengalami kekerasan fisik, 26,3% mengalami kekerasan ekonomi, 45,1% mengalami kekerasan seksual, dan 63,3% kekerasan budaya (Arus Pelangi, 2. Persekusi dan diskriminasi yang diterima oleh pelaku LGBT ini pada tahap berikutnya mewujudkan tindakan kamuflase untuk menutupi identitas asli mereka. Individu yang berperilaku LGBT cenderung berkamuflase dengan tujuan untuk memanipulasi lingkungan sosialnya agar identitas aslinya tidak diketahui oleh orang lain. Kamuflase tersebut dilakukan dengan cara berpura-pura menjadi laki-laki atau perempuan normal yang ditunjukkan kepada orang lain (Riswanto & Aswar, 2. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 188 Berdasarkan identifikasi yang telah dipaparkan, dimana klien lebih memilih konseling Islam dibanding konseling konvensional, konselor dituntut untuk memiliki kompetensi multikultural spiritual, khususnya kompetensi multikultural spiritual yang berkaitan dengan pemahaman Islam. Kompetensi multikultural khususnya bagi konselor muslim harus dimaknai sebagai kemampuan melihat kasus LGBT dari berbagai sudut pandang terutama agama (Wahyuni, et al, 2. Pemahaman konselor terhadap kompetensi multikultural spiritual dapat mewujudkan keselarasan antara konseling konvensional dan konseling spiritual, bahwa konseling konvensional dan spiritual dapat saling melengkapi kelebihan pada masing masing terapi Kompetensi multikultural konselor sangat penting dalam proses konseling, khususnya yang berkaitan dengan budaya klien (Riswanto, et al, 2. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa teknik intervensi pikiran dan berlanjut dengan intervensi ibadah keseharian . holat 5 wakt. dapat mereduksi perilaku homoseksual (Aswar, et al, 2. Intervensi pikiran dan ibadah keseharian dimaksudkan untuk meredam dan mereduksi keinginan nafsu seksual menyimpang klien yang seringkali tidak terkendali dan tidak terkontrol. Nafsu menyimpang yang tidak terkontrol akan menjerumuskan klien kembali pada perilaku LGBT. Berdasarkan tinjauan psikologi kepribadian Islam. LGBT merupakan jenis kepribadian ammarah yang didominasi oleh hawa nafsu 55%, dibantu oleh daya akal 30% dan daya qalbu Kepribadian ini cenderung pada tabiat jasad yang lebih suka mengejar prinsip-prinsip kenikmatan (Pratama, et al, 2. Berdasarkan tinjauan psikologi kepribadian Islam tersebut, menjadi jelas bahwa 55% hawa nafsu yang menguasai kepribadian seorang LGBT. Dominasi hawa nafsu sebesar 55% mampu mendominasi akal dan qalbu klien LGBT. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa konselor dapat menggunakan terapi Islam dengan menggabungkan konsep psikoterapi Al-QurAoan, psikoterapi dengan puasa, dan psikoterapi dengan zikir (Martanti, et al, 2. Berdasarkan tinjauan tersebut, intervensi gabungan antara terapi Al-QurAoan, puasa, dan zikir dapat digunakan oleh klien LGBT untuk mereduksi perilaku-perilaku seksual yang menyimpang. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa strategi terapi Islam dapat diterapkan pada korban LGBT. Strategi pertama adalah berfokus pada pengintervensian, yaitu intervensi yang berpusat pada pikiran atau keyakinan. strategi yang kedua adalah pembentukan pribadi ideal, yaitu pengalihan dari pribadi yang menyukai berbuat dosa (LGBT) beralih menuju pribadi yang taat kepada perintah Tuhan. strategi yang ketiga, analisis dan diagnosis, yaitu upaya mengidentifikasi dan menemukan kesalahan dalam rantai persepsi, keyakinan, sex drive, behavior, dan kebiasaan korban LGBT. strategi yang keempat, pencegahan yaitu menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang bermanfaat (Aswar, et al, 2. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa terapi kejiwaan dapat digunakan sebagai salah satu metode penyembuhan bagi LGBT. Terapi kejiwaan efektif digunakan dengan bantuan medis. Kaffah: Jurnal Pendidikan dan Sosio Keagamaan, 3 . , 2024 | 189 psikologis, religius, dan sosial. Terapi kejiwaan dilaksanakan berdasarkan tinjauan aspek hukum Islam dengan menggunakan pendekatan teori maqasid syariah. Bentuk terapi kejiwaan yang dilakukan berdasarkan psikoterapi Islam. Pada kesimpulannya terapi kejiwaan LGBT berdasarkan perspektif maqasid syariah tidak dilarang dalam Islam karena bertujuan untuk kemaslahatan (Ritonga, 2. SIMPULAN LGBT adalah tindakan penyimpangan seksual berdasarkan tinjauan agama Islam dan norma-norma sosial yang berlaku di Indonesia serta tidak sesuai dengan prinsipprinsip ideologi Pancasila. Langkah-langkah intervensi konseling Islam yang dapat dilakukan konselor untuk menanggulangi perilaku LGBT peserta didik di sekolah antara lain: terapi sholat 5 mengaji Al-QurAoan, menghafal surah-surah pendek dan menulis ayat-ayat AlQurAoan. Konselor dalam melakukan upaya /langkah intervensi konseling Islam menggunakan perpaduan antara teori konseling barat yang konvensional dengan menggunakan teori konseling multikural dan konseling spiritual. DAFTAR PUSTAKA