ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK. POLA MAKAN. DAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI KAMPUNG TUA BAKAU SERIP TAHUN 2022 Ibrahim1. Indria Sari2. Muhammad Iqbal Fakhruzzaman3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, ibrahim@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, indriasari@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, iqbal. fakhruzzaman@gmail. ABSTRACT Background: Hypertension is a condition in which there is an increase in diastolic pressure that is more than 90 mmHg and systolic above 140 mmHg or while taking hypertension drugs. Methods: This research method used the Correlation Analytic method with a Cross-sectional Study Sampling in this study using total sampling technique. Results: The results of the analysis of the relationship between physical activity, diet, and smoking with the incidence of hypertension in the elderly using the Spearman test obtained a physical activity score . -value 0. , eating pattern p-value . , and smoking p-value . The results of the multivariate test used multiple logistic regression tests (Multiple Regression Logistic. with the results of physical activity with an OR value of 95% CI . Conclusion: There is a significant relationship between physical activity, diet, and smoking with the incidence of hypertension in the elderly in Kampung Tua Bakau Serip, and multivariate test results found that physical activity is the most dominant factor in the incidence of hypertension in the elderly in Kampung Tua Bakau Serip 2023 . Keywords: Physical Activity. Smoking,Dietary Habit. Hypertension ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi adalah suatu keadaan dimana di jumpai peningkatan tekanan diastolik yang bernilai lebih dari 90 mmHg dan sistolik di atas 140 mmHg Atau sedang menggunakan obat Hipertensi. Metode: Metode penelitian ini dengan metode Analitik Korelasi dengan pendekatan Cross sectional Study. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik Total sampling. Hasil: Hasil analisis hubungan aktivitas fisik, pola makan, dan merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia menggunakan uji spearman test memperoleh angka aktivitas fisik . -value 0,. , pola makan p-value . , dan merokok p-value . Pada hasil uji multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda ( Multiple Regression Logistic ) dengan hasil Aktifitas fisik dengan nilai OR 95% CI . Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik, pola makan, dan merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia pada Lansia di Kampung Tua Bakau Serip, dan hasil uji multivariat ditemukan bahwa aktifitas fisik adalah faktor paling dominan terhadap kejadian hipertensi pada Lansia di Kampung Tua Bakau Serip 2023. Kata kunci: Aktivitas Fisik. Merokok. Pola Makan. Hipertensi Universitas Batam Page 350 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 PENDAHULUAN penyakit koroner. Hipertensi banyak dikaitkan Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh dengan penyakit jantung dan pembuluh darah yang dihasilkan oleh otot rangka yang yang menyebabkan penyakit dan kematian memerlukan pengeluaran energi. Kurangnya yang utama di seluruh dunia dan berdampak pada biaya pengobatan dan biaya sosial yang independen untuk penyakit kronis dan secara Seperempat populasi orang dewasa keseluruhan diperkirakan dapat menyebabkan didunia diperkirakan memiliki hipertensi, kematian secara global (Fadhli,2. Lanjut dengan jumlah hampir satu miliar, dan dengan usia adalah seseorang yang telah memasuki prevalensi hipertensi di seluruh dunia yang lanjut usia mengalami berbagai diproyeksikan meningkat 60% pada tahun perubahan baik secara fisik, mental maupun Pencegahan utama hipertensi telah perubahan yang bersifat fisik antara lain adalah penurunan kekuatan fisik, stamina dan global, pedoman penatalaksanaan hipertensi hal ini dapat menyebabkan beberapa orang menjadi depresi atau merasa aktivitas fisik sebagai sarana untuk mencegah tidak senang saat memasuki masa usia lanjut. mereka menjadi tidak efektif dalam pekerjaan Penyebab hipertensi dapat ini bisa dan peran sosial, jika mereka bergantung pada dibedakan menjadi dua yaitu faktor yang energi fisik yang sekarang tidak dimilikinya tidak dapat dikontrol seperti jenis kelamin, lagi (Azizah,2. Peningkatan umur akan riwayat keluarga, dan usia. Sedangkan faktor menyebabkan beberapa perubahan fisiologis, yang dapat dikontrol adalah pola konsumsi pada usia lanjut terjadi peningkatan resistensi makanan yang di konsumsi sehari hari yang perifer dan aktivitas simpatik. Tekanan darah akan meningkat setelah umur 45- 55 tahun, merokok, minum alkohol, dan kurangnya dinding arteri akan mengalami penebalan oleh aktivitas fisik (Tjandra,2. adanya penumupukan zat kolagen pada lapisan Hipertensi termasuk salah satu faktor resiko yang berpotensi menimbulkan penyakit berangsur-angsur menyempit menjadi kaku. jantung dan pembuluh darah. Hipertensi sering Hal tidak menunjukkan gejala bagi penderita dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia baru disadari setelah adanya gangguan pada (Sulastri,2. organ seperti organ jantung, otak dan ginjal Hipertensi (Fadhli,2. Tekanan darah yang tidak multifaktorial dan multicausal yang ditandai komplikasi, jika salah satu organ yang terkena 90mmH. , biasanya berhubungan dengan jantung yang dapat menimbulkan penyakit 2 gagal jantung kongestif, infark miokard, dan (Ou140 struktural, dan merupakan resiko utama untuk Universitas Batam jantung koroner (Nuraini,2. Page 351 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Hipertensi menjadi masalah kesehatan di lansia di Komunitas Sasana Arjosari Malang seluruh belahan dunia dan sebagai salah satu dengan nilai koefisien kontingensi sebesar faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. 0,689 yang berarti memiliki korelasi yang kuat Hipertensi juga disebut sebagai penyakit tidak antara dua variabel. menular, karena hipertensi tidak ditularkan Menurut World Health Organization dari orang ke orang. Penyakit tidak menular (WHO) tahun 2018 bahwa tercatat 1 milyar adalah penyakit kronis yang tidak dapat orang di dunia menderita hipertensi dan ditularkan ke orang lain. Penyakit tidak diperkirakan terdapat 7,5 juta kematian atau menular masih menjadi salah satu masalah sekitar 12,8% dari seluruh total kematian kesehatan yang menjadi perhatian di Indonesia saat ini. Hal ini dikarenakan munculnya PTM Kesehatan Indonesia menyampaikan bahwa secara umum disebabkan oleh pola hidup setiap individu yang kurang memperhatikan Indonesia. kesehatan (Riskerdas Nasional,2. meningkat dari tahun ke tahun. Hipertensi di Hipertensi Prevalensi Kementrian Penelitian yang dilakukan oleh Norma Indonesia sebesar 34,1 persen tahun 2018. Hanifah Sumarta pada tahun 2020 tentang dengan prevalensi tertinggi di Kalimantan Hubungan Aktivitas Fisik Sehari-hari Dengan Selatan sebesar 44,3 persen dan terendah di Derajat Hipertensi Pada Lansia Di Kota Batu. Provinsi menyatakan bahwa terdapat hubungan antara Sedangkan Provinsi Kepuluan Riau semakin aktivitas fisik sehari-hari dengan derajat tahun mengalami peningkatan sebesar 3,41%. hipertensi pada lansia di kota Batu. Nilai Menurut data dari Profil Kesehatan kota koefesien korelasi yang didapat menunjukkan Batam tahun 2019 peningkatan prevelensi bahwa hubungan antara kedua variabel cukup penyakit hipertensi dengan jumlah kasus Nilai koefisien korelasi yang didapat 081 kasus. bernilai negatif yang berarti bahwa arah Papua Berdasarkan hubungan antara dua variabel tersebut bersifat didapatkan data dinas Kesehatan kota batam berlawanan atau tidak searah, maksudnya dimana salah satu penyakit hipertensi pada semakin meningkatnya aktivitas fisik maka Lansia terbanyak ada di Kampung Tua Bakau Serip. Oleh karena itu berdasarkan latar Penelitian lain yang dilakukan oleh belakang yang telah disebutkan maka peneliti Wita Anugerah Tanjung pada tahun 2020 ingin mengetahui hubungan Aktivitas dengan tentang Hubungan Antara Aktivitas Fisik kejadian Hipertensi Pada Lansia di Kampung Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Di Tua Bakau Serip. Komunitas METODE PENELITIAN Sasana Arjosari Malang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan tekanan darah pada [Type tex. Penelitian penelitian analitik analitik korelasi dengan Page 352 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 pendekatan cross sectional. Populasi dalam memeriksakan penyakitnya. penelitian ini adalah adalah semua lansia yang Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil ada di Kampung Tua Bakau Serip sejumlah 46 penelitian Aristoteles . di Emergency Center Unit Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Teknik Palembang Teknik Total Sampling. pengambilan data menggunakan data primer responden berusia 50-60 tahun . %), yaitu kuisioner pada responden lansia dengan namun berbeda dengan penelitian Widjaya dkk hipertensi di Kampung Tua Bakau Serip pada . di Kecamatan Kresek dan Tegal Angus. Tahun 2023. Analisis data menggunakan Kabupaten Tangerang. Hasil penelitian yang Spearman test. didapatkan dari 115 responden yaitu rata-rata HASIL DAN PEMBAHASAN usia pada rentang usia 18-40 tahun . ,7%). Analisis Univariat Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Karakteristik Responden Tabel 2. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Berdasarkan Usia Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Usia (Tahu. Ou70 Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 1 menunjukkan usia dikelompokan menjadi 3 yaitu lansia yang berusia 55-64 tahun sebanyak 33 orang dengan persentase . 7%), kemudian yang berusia 65-69 tahun sebanyak 12 orang dengan persentase . 1%), dan yang berusia di atas 70 tahun sebanyak 1 orang dengan persentase . 2%). Hasil penelitian ini dapat dimungkinkan karena memang pada usia tersebut tubuh sudah mengalami penurunan fungsi organorgan tubuh akibat proses penuaan, sistem imun sebagai pelindung tubuh pun tidak bekerja sekuat ketika masih muda sehingga menjadi alasan mengapa orang yang masuk . sia Universitas Batam Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Tabel Frekuensi . Persentase (%) dikelompokan menjadi 2 yaitu lansia yang berjenis kelamin laki laki sebanyak 31 orang . 4%) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 15 orang . 6%). Pria sering mengalami tanda Ae tanda hipertensi pada usia akhir empat puluh-an, sedangkan wanita sering mengalami hipertensi setelah Tekanan darah wanita, khususnya sistolik, meningkat lebih tajam sesuai usia. Setelah 55 tahun, wanita memang mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya pola tersebut Peroduksi menurun saat manepouse. Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria hampir sama dengan wanita, namun Wanita Page 353 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Dalam . menunjukkan risiko hipertensi dapat meningkat saat dihubungkan dengan hormone esterogen yang berperan dalam Menurut penelitian Smith, dkk meningkatkan kadar High Density Lipoprotein . menyatakan bahwa status pekerjaan (HDL). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil Status pekerjaan juga sebagai penelitian Elisa Oktavia . di Wilayah prediktor risiko penyakit tertentu. Demikian Kerja Kota dapat disimpulkan bahwa pekerjaan sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan menopause,wanita Puskesmas Banjarmasin. Alalak Dengan Selatan Clougherty, responden berjenis kelamin laki- laki dengan terjadinya peningkatan tekanan darah. 9%) dan responden berjenis Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan kelamin perempuan sebanyak . 1%). oleh Siti Harnung . di Puskesmas Janti Karakteristik Responden Kecamatan Sukun Kota Malang pada Februari Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2020 , yang mendapatkan hasil jenis Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Pekerjaan Nelayan Wiraswasta PNS IRT Tidak Bekerja Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 3 menunjukkan didapatkan data pekerjaan pada lansia yang bekerja sebagai nelayan sebanyak 14 orang . 4%), lansia yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 14 orang . 4%), lansia yang bekerja sebagai PNS sebanyak 4 orang . 7%), lansia yang Petani/Nelayan sebanyak 43 orang . ,8%). IRT sebanyak 4 orang . ,2%). PNS sebanyak 3 orang . ,1%). Wiraswasta sebanyak 16 orang . ,6%), dan yang tidak bekerja sebanyak 6 orang . ,3%). Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aktifitas Fisik Tabel 4. Distribusi Frekuensi Aktiftias Fisik Aktifitas Fisik Ringan Berat Total Frekuensi . Persentase (%) bekerja sebagai IRT sebanyak 10 orang Tabel 4 menunjukkan hasil penelitian . 7%), dan lansia yang tidak bekerja terhadap 46 responden, di dapatkan bahwa 26 sebanyak 4 orang . 7%). 5%) dengan aktifitas fisik yang Pekerjaan kejadian hipertensi, disebabkan tingkat stress . pada masing masing pekerjaan berbeda dan dikatekorikan berat. juga beberapa pekerjaan dapat menyebabkan Pada perorangan memiliki aktifitas fisik yang 5% lansia dengan hipertensi yang melakukan aktifitas fisik yang dikategorikan Universitas Batam Page 354 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Hal ini disebabkan karena sebagian menunjukan bahwa lansia yang memiliki besar responden merupakan pekerja seperti aktivitas ringan sebanyak 21 . ,7%), aktivitas nelayan yang melakukan aktifitas fisik seperti sedang 13 . ,3%) dan mengangkat dan memindahkan ikan pada . ,0%). Dan penelitian ini diperkuat oleh kesehariannya dan penjaga warung yang penelitian yang dilakukan oleh (Effendi D A, minim aktifitas fisik seperti jarang berolahaga, 2. di Jember dengan jumlah 43 terlalu sering duduk, dan pada waktu senggang menunjukan bahwa lansia yang memiliki aktivitas rendah sebanyak 24 . %), aktivitas aktivitas berat 12 mengisinya dengan berolahraga. Sehingga sedang 14 . %) dan aktivitas berat 5 . %) hasil pengisian kuisioner indeks aktifitas fisik Distribusi Frekuensi Berdasarkan dapat dikategorikan memiliki aktifitas fisik Pola Makan Tabel 5. Distribusi Frekuensi Aktiftias Fisik Aktifitas fisik adalah keadaan manusia bergerak dimana usaha tersebut membutuhkan nenergi untuk dapat memenuhi kebutuhan Aktivitas fisik adalah pergerakan Frekuensi . Pola Makan Tidak Baik Baik Total Persentase (%) anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran Tabel 5 menunjukkan hasil penelitian tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan terhadap 46 responden, di dapatkan bahwa 25 responden . 3%) memiliki pola makan yang mempertahankan kualitas hidup agar tetap dikategorikan tidak baik dan 21 responden sehat dan bugar sepanjang hari (Fatmah, . Aktifitas fisik adalah setiap gerakan dikategorikan baik. tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang Pada penelitian ini menunjukan memerlukan pengeluaran energi. Kurangnya mayoritas sebanyak 54. 3% lansia dengan riwayat hipertensi yang mempunyai atau indepeden untuk penyakit kronis dan secara memilki pola makan yang dikategorikan tidak keseluruhan diperkirakan dapat menyebabkan Hal ini terjadi kematian secara global. Pada lansia, ada responden di ambil pada masyarakat yang penurunan massa otot, perubahan distribusi tinggal di Sebagian besar di pesisir pantai darah ke otot, penurunan pH dalam sel otot, sehingga menyebabkan kebanyakan responden otot menjadi lebih kaku, dan ada penurunan mengkonsumsi makanan laut dengan frekuensi kekuatan otot. Hal ini menyebabkan aktifitas yang tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian fisik pada lansia menjadi berkurang dan terdahulu yang menunjukkan bahwa hipertensi cenderung tidak berkatifitas dengan berat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dibandingkan dengan wilayah pegunungan. yang dilakukan oleh (Fitri, 2. di Kabupaten Yang biasa masyarakt konsumsi makanan laut Grobogan Universitas Batam dikarenakan sampel Page 355 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Berperan dalam kecenderungan hipertensi di lemak dan asupan garam disamping itu perlu daerah pesisir pantai (Dedullah RF, 2. meningkatkan makan buah dan sayur. Kebiasaan Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh (Tori Rihiantoro, 2. , yang kecenderungan terjadinya hipertensi pada dimana ditemukan mayoritas dari jumlah 32 daerah pesisir (Rusliafa, 2. kasus hipertensi, sebagian besar memiliki Pola makan adalah suatu cara tertentu dalam kebiasaan pola makan yang buruk yaitu mengatur jumlah dan jenis asupan makanan sebanyak 25 orang dan 7 orang mempunyai pola makan baik. kesehatan, status gizi, serta mencegah dan Pola makan terdiri dari frekuensi makan, jenis makanan dan tingkat konsumsi. Frekuensi makan adalah jumlah makanan dalam sehari-hari secara alamiah makanan pencernaan mulai dari mulut sampai usus Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kebiasaan Merokok Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Merokok Tidak Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 6 menunjukkan hasil penelitian terhadap 46 responden, di dapatkan bahwa 31 tergantung sifat dan jenis makanan. Jika responden . 4%) memiliki kebiasaan untuk dirata-rata, umumnya lambung kosong antara merokok dan 15 responden . 6%) tidak 3-4 jam. Jenis makanan adalah variasi bahan memiliki kebiasaan untuk merokok. makanan yang kalau dimakan, dicerna,dan memiliki pola makan yang dikategorikan baik. diserap akan menghasilkan paling sedikit Pada penelitian ini menunjukan mayoritas 4% lansia dengan hipertensi Lama menyediakan variasi makanan merupakan salah stau cara untuk menghilangkan rasa merokok pada lansia ini sudah berlangsung Seseorang akan merasa bosan apabila dihidangkan menu yang itu-itu saja, sehingga kebiasaan merokok ini dimulai pada masa mengurangi selera makan (Widyaningrum, remaja dan dewasa dan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangan usia Kebiasaan responden hingga lansia. Rata rata responden penyebab terjadinya berbagai penyakit seperti mengkonsumsi rokok 11-31 batang perhari, salah satunya adalah hipertensi. salah satu cara dimulai dari bangun tidur kemudian frekuensi merokok paling banyak dilakukan ketika Pola hipertensi adalah dengan menjaga pola makan sedang bekerja. dengan baik yaitu mengurangi asupan banyak Perilaku merokok adalah menghisap asap [Type tex. Page 356 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 tembakau yang telah menjadi cerutu kemudian hipertensi tingkat berat (Tekanan darah >160 disulut api. Ada dua tipe merokok. Pertama mmH. adalah menghisap rokok secara langsung yang Pada penelitian ini menunjukan mayoritas disebut perokok aktif, dan yang kedua mereka responden sebanyak 58. 7% lansia memiliki yag secara tidak langsung menghisap rokok. hipertensi ketegori berat yaitu dengan hasil Menurut Aula . jumlah konsumsi rokok per hari dapat digunakan sebagai indikator Hipertensi pada lansia dapat dikatakan apabila tingkat merokok seseorang. Dalam penelitian hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan ini kebiasaan merokok dikategorikan menjadi sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan 2 yaitu yang setiap hari merokok dan yang tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg setiap hari tidak merokok. Penyakit Hipertensi (NOC, 2. Faktor penyebab terjadinya dapat dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hipertensi lansia pada penelitian ini adalah hidup seseorang , salah satunya adalah asupan garam dan lemak kolestrol yang kebiasaan merokok. berlebih, kebiasaan merokok dan mayoritas Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Irene Megawati Umbas, dikategorikan ringan. , bahwa dari 74 responden didapatkan Hipertensi yang diderita seseorang erat >160mmHg. kebiasaan merokok dan menderita hipertensi. diastolik atau keduanya secara terus menerus. Dan penelitian yang dilakukan oleh (Harahap. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya 2. , juga menemukan bahwa dari 56 tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi, responden yang diteliti terdapat 29 responden sedangkan tekanan darah diastolik berkaitan yang merokok 19 diantaranya mengidap dengan tekanan arteri pada saat jantung hipertensi dan 10 diantaranya tidak hipertensi Distribusi Diperkirakan 23% wanita dan 14% pria Frekuensi Kejadian Hipertensi Berdasarkan Tingkatnya Tabel 7. Distribusi Frekuensi Tingkat Hipertensi Hipertensi Sedang Berat Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 7 menunjukkan hasil penelitian Prevalensi hipertensi di dunia diperkirakan sekitar 15- 20%. Hipertensi lebih banyak menyerang pada golongan usia 55-64 (Hanum, 2. Penyebab hipertensi pada lansia dikarenakan terhadap 46 responden, di dapatkan bahwa 19 elastisitas dinding aorta menurun, katup . tingkat sedang (Tekanan darah 140 Ae 159 mmH. dan 27 responden . 7%) mengalami menurun, sehingga kontraksi dan volumenya [Type tex. Page 359 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 pun ikut menurun, kehilangan elastisitas dari total 50 responden lanjut usia yang di pembuluh darah karena kurang efektifitas jadikan sampel, 35 responden di antaranya memiliki penyakit hipertensi yang mayoritas berumur 60-74 sebanyak . %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang Analisis Bivariat dilakukan oleh (Mahmudah, 2. , dari 84 Hubungan Aktifitas Fisik dengan responden lansia, didaparkan sebesar 64,3% Kejadian Hipertensi Pada Lansia di lansia mengalami hipertensi. Dan penelitian Kampung Tua Bakau Serip yang dilakukan oleh (Fredy Akbar K, 2. Tabel 8. Analisis Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kejadian Hipertensi Tingkat Hipertensi Sedang AktifitasFisik Ringan Berat Total Berat Korelasi Spearman Total Berdasarkan Tabel 8 diatas didapatkan 25 lansia yang memiliki kategori aktifitas fisik r= -0,867 p= 0,000 n= 46 kejadian hipertensi pada lansia di kampung tua bakau serip, hal ini menunjukan bahwa ringan memiliki kecenderungan mengalami responden yang kurang melakukan aktifitas fisik akan beresiko mengalami hipertensi berat koefisien korelasi spearman sebesar -0. dan nilai p-value sebesar 0,000. Koefisien melakukan aktifitas fisik berat. 867 dari hasil penelitian ini Kegiatan fisik yang dilakukan secara teratur perubahan-perubahan korelasi . yang berarti hubungan sangat kuat misalnya jantung akan bertambah kuat pada otot polosnya sehingga daya tampung besar hipertensi pada lansia dan arah koefisien dan konstruksi atau denyutannya kuat dan korelasi adalah negatif . idak seara. Nilai teratur, selain itu elastisitas pembuluh darah korelasi yang berpola negatif memiliki arti akan bertambah karena adanya relaksasi dan apabila lansia memiliki aktifitas fisik berat, vasodilatasi sehingga timbunan lemak akan maka kejadian hipertensi pada lansia akan berkurang dan meningkatkan kontrksi otot Didapatkan nilai p-value 0. 000 lebih dinding pembuluh darah tersebut. kecil daripada 0. 05 maka keputusan uji adalah Orang yang kurang aktifitas fisik cenderung H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan memiliki curah jantung yang tinggi. Semakin terdapat hubungan aktifitas fisik dengan tinggi curah jantung maka semakin besar [Type tex. Page 359 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 oksigen yang dibutuhkan oleh sel sel tubuh. Pada penelitian yang dilakukan oleh (Nur Kurangnya Afni Karim, 2. , yang menunjukan bahwa kurangnya pembakaran energi oleh tubuh adanya hubungan aktifitas fisik dengan derajat sehingga kelebihan energi dalam tubuh akan Sebagian besar responen yang disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh. melakukan aktifitas kurang memiliki derajat Kemudian penyimpanan lemak dalam tubuh hipertensi stadium II. Kemudian terdapat pula inilah yang akan mengakibatkan hipertensi. hubungan yang signigikan terhadap aktifitas Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan fisik dengan derajat hipertensi dengan hasil oleh (Khasanah, 2. dengan judul penelitian Hubungan aktifitas fisik dengan hipertensi memperoleh p-value 0. 039 yaitu menandakan pada lansia di Puskesmas Sedayu 2 Bantul, hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima. Yaitu menemukan hasil bahwa responden yang terdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan melakukan aktifitas fisik yang adekuat dapat derajat hipertensi pada pasien di wilayah kerja puskesmas tagulandang kabupaten sitaro. responden yang melakukan aktifitas fisik tidak Hubungan Pola chi-square Makan adekuat mengalami hipertensi derajat 2 atau Kejadian Hipertensi Pada Lansia di hipertensi berat. Kampung Tua Bakau Serip Tabel 9. Analisis Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Hipertensi Tingkat Hipertensi Sedang Pola Makan Berat Ringan Berat Total Korelasi Spearman Total r= -0,738 p= 0,000 n= 46 Berdasarkan Tabel 9 diatas 23 lansia yang Nilai korelasi yang berpola negatif baik/buruk memiliki arti apabila lansia memiliki pola memiliki kecederungan mengalami hipertensi makan yang baik, maka kejadian hipertensi tingkat berat dengan angka koefisien korelasi pada lansia akan menurun. Didapatkan nilai p- spearman sebesar -0. 738 dan nilai p-value 000 lebih kecil daripada 0. 05 maka sebesar 0,000. Koefisien korelasi -0. 738 dari keputusan uji adalah H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan pola hubungan koefisien korelasi . yang berarti makan dengan kejadian hipertensi pada lansia hubungan sangat kuat antara pola makan di kampung tua bakau serip, dari penelitian hal dengan kejadian hipertensi pada lansia dan ini menunjukan bahwasannya responden yang arah koefisien korelasi adalah negatif . idak memiliki kebiasaan sehari hari pola makan [Type tex. Page 359 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 tidak baik akan beresiko mengalami hipertensi siap saji, makanan atau minuman yang berat di bandingkan dengan responden yang memiliki kebiasaan pola makan yang baik. Kemudian agar tetap sehat dan bugar serta Dalam tekanan darah yang stabil, lansia dengan . menunjukkan risiko hipertensi hipertensi harus dapat mengontrol pola makan dapat meningkat saat dihubungkan dengan seperti mengkonsumsi beras merah, gandum. Menurut penelitian Smith, dkk kacang-kacangan dan sayuran hijau seperti . menyatakan bahwa status pekerjaan kacang buncis, brokoli, bayam, kol dan yang ada di Polandia memiliki efek negatif pada kesehatan. Status pekerjaan juga sebagai pottasium tinggi seperti kentang, yoghurt, dan prediktor risiko penyakit tertentu. Demikian dapat disimpulkan bahwa pekerjaan sebagai Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan salah satu faktor yang dapat menyebabkan oleh (Subkhi, 2. yang menunjukan bahwa terjadinya peningkatan tekanan darah. Pola sebanyak 52 responden . 3%) memiliki pola makan adalah kebiasaan makan seseorang makan yang cukup baik, namun sebanyak 42 setiap hari dan melihat dari jenis dan frekuensi makan, setiap individu membutuhkan pola hipertensi stadium 1. Pada uji statistik makan yang sehat dan gizi yang seimbang. didapatkan korelasi Rank Spearman = -0. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan nilai signifikansi . dapat disimpulkan terjadinya hipertensi pada Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh lansia disebabkan oleh terdapat kesalahan pada (Oktoruddin, 2. didapatkan sebanyak 84 pola makan. Kesalahan pola makan antara lain responden 27 orang . 1%) memiliki pola makan yang baik dan sebanyak 54 responden Clougherty, mengandung garam atau natrium yang dapat . %) . 3%) memiliki pola makan yang cukup. Hubungan Merokok dengan Kejadian asupan makanan yang tinggi lemak, konsumsi Hipertensi Pada Lansia di Kampung makanan gorengan, makanan dalam bentuk Tua Bakau Serip Tabel 10. Analisis Merokok dengan Kejadian Hipertensi Tingkat Hipertensi Pola Makan Sedang Berat Korelasi Spearman Total Ringan Berat Total [Type tex. r= -0,452 p= 0,002 n= 46 Page 360 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Berdasarkan Tabel 10 diatas 24 lansia yang . ahmatika, 2. menunjukan bahwa terdapat hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian kecederungan mengalami hipertensi tingkat hipertensi, pada perokok terjadi peningkatan jumlah protein c-reaktif dan agen inlamasi spearman sebesar -0. 452 dan nilai p-value alami yang dapat menyebabkan disfungsi sebesar 0,002. Koefisien korelasi -0. 452 dari endotelium, kerusakan pembuluh darah dan kekuatan dinding ateri yang berujung pada hubungan koefisien korelasi . yang berarti kenaikan tekanan darah. Penelitian ini juga sejalan dengan yang merokok dengan kejadian hipertensi pada dilakukan oleh (Saiful, 2. pada masyarakat lansia dan arah koefisien korelasi adalah kelurahan Mangunsuma Ponorogo. Frekuensi negatif . idak seara. Nilai korelasi yang merokok dalam sehari dapat mempengaruhi berpola negatif memiliki arti apabila lansia adanya peningkatan tekanan darah. Hasil tidak memilik kebiasaan merokok, maka kejadian hipertensi pada lansia akan menurun. hubungan ringan dengan koefisien kontigensi Didapatkan nilai p-value 0. 002 lebih kecil 674 artinya mempunyai keeratan 05 maka keputusan uji adalah H0 hubungan ringan terhadap pengaruh rokok ditolak, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan merokok dengan kejadian hipertensi pada lansia di kampung tua bakau serip, hal ini Retnaningsih, 2. yang menunjukan bahwa menunjukan bahwa responden yang merokok terdapat hubungan yang signfikan terhadap akan beresiko mengalami hipertensi berat di perilaku merokok dengan kejadian hipertensi bandingkan dengan responden yang tidak dengan p-value . < 0. 05, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Kemudian (Dwi Penyakit hipertensi atau bisa disebut dengan Analisis Multivariat the silent disease karena kebanyakan orang Untuk mengetahui hubungan lebih dari satu tidak mengetahui dirinya terkena hipetensi variable indenpenden dengan satu variable apabila tidak memeriksa tekanan darah nya. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan dengan analisis multivariat. Uji statistic ini resiko hipertensi adalah rokok. Nikotin pada yang di gunakan yaitu Regressi Multiple rokok dapat mempengaruhi tekanan darah seseorang, bisa melalui pembentukan plak mengetahui variable indenpenden yang mana aterosklerosis, efek langsung nikotin terhadap yang lebih erat hubungannya dengan variable pelepasan hormon epinefrin dan norepinefrin, dependen ( Notoadmojo, 2018 ). ataupun efek CO dalam peningkatan sel darah Analisis Penelitian Universitas Batam Batam Batam . ultiple Page 361 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 memeriksa pola dalam data multidimensi dari analisis data bivariat, yang hanya beberapa variabel data. Ini adalah perluasan Tabel 11. Analisis Multivariat Aktifitas Fisik dan Pola Makan dengan Kejadian Hipertensi No. Variabel Wald Sig. Aktifitas Fisik - 4. Pola Makan - 2. Constant 95% CI Berdasarkan hasil analisis multivariat pada yang lebih tinggi sehingga otot jantung akan tabel 11 di atas, diperoleh nilai koefisien B dan bekerja lebih keras pada setiap konstraksi. Or . dds Rati. , dimana Aktifitas fisik Semakin keras jantung memompa darah maka memiliki nilai Koefisien B . Wald semakin besar pula tekanan yang dibebankan . dan OR . dan memiliki nilai pada dinding arteri sehingga meningkatkan paling tinggi dibandingkan variabel lainnya. tekanan perifer dan menyebabkan tekanan Hasil ini menunjukan bahwa Aktifitas Fisik darah menjadi tinggi. Kementerian Kesehatan merupakan variabel yang paling dominan RI menyatakan bahwa dengan aktivitas fisik yang teratur dapat menurunkan tekanan darah dengan kejadian hipertensi pada lansia di karena pembuluh darah akan melebar sehingga kampung tua bakau serip. aliran darah menjadi lancar (I. Jaya Aktivitas fisik dapat menyebabkan aliran Widyartha, 2. darah meningkat dan diproduksinya nitrit Hasil uji multivariat ini sejalan dengan oksida (NO). Nitrit oksida akan merangsang penelitian yang dilakukan oleh (Aripin, 2. , menunjukkan hubungan kejadian hipertensi factor (EDRF) yang menyebabkan melebarnya dengan beberapa faktor risiko diantaranya: pembuluh arteri. Aktivitas fisik yang teratur aktivitas fisik ringan (OR=24,89. 95%CI: akan menyebabkan pembuluh darah cenderung 4,15-149,. Variabel Aktifitas tahanan perifer. Pada gilirannya juga akan hipertensi adalah aktivitas fisik ringan, stres menyebabkan kerja jantung menjadi lebih sedang dan stres berat. efisien sehingga curah jantung akan berkurang KESIMPULAN dan akan menyebabkan penurunan tekanan Berdasarkan Seseorang dengan aktivitas fisik yang dilakukan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan ringan akan memiliki frekuensi denyut jantung 2021, dapat disimpulkan bahwa : Universitas Batam Page 362 ZONA KEDOKTERAN VOL. 13 NO. 2 MEI 2023 Lebih dari setengah penderita hipertensi Disarankan khusus nya untuk para lansia pada lansia di Kampung Tua Bakau Serip yang ada di Kampung Tua Bakau Serip dan Tahun 2022 adalah hipertensi berat, yaitu Lansia lainnya yang membaca Naskah ini sebanyak 19 . 3%) dengan hipertensi agar lebih memperhatikan aktifitas fisik yang sedang dan sebanyak 27 . 7%) dengan hipertensi berat. daripada duduk, berolaraga secara ringan Didapatkaan mayortias kategori aktifitas maupun sedang, kemudian memanfaatkan fisik pada lansia di Kampung Tua Bakau waktu istirahat untuk tidur 7-8 jam, kemudian Serip Tahun 2022 adalah kategori aktifitas selalu dan rajin memperhatikan pola makan yang ringan, sebanyak 26 . 5%) dengan seperti harus mengurangi makanan berlemak aktifitas fisik ringan dan sebanyak 20 tinggi, makan yang selalu ada di gorengan, . 5%) dengan aktifitas fisik berat. mengonsumsi kafein secara berlebihan, dan Pada Kategori pola makan pada lansia di selalu menambah porsi untuk memakan Kampung Tua Bakau Serip Tahun 2022 sayuran dan buah buahan segar. Serta pada adalah sebanyak 25 . 3%) dengan pola lansia yang mengkonsumsi rokok sangat makan tidak baik dan sebanyak 21 . dengan pola makan yang baik. Pada lansia di Kampung Tua Bakau Serip UCAPAN TERIMA KASIH