JURNAL BIOLOGI PAPUA Volume 2, Nomor 1 Halaman: 23-31 ISSN: 2086-3314 April 2010 Analisa Vegetasi Jenis Pohon pada Kawasan Hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura ROSYE H.R. TANJUNG*, SUPENI SUFAATI DAN LUCIA RUNGGEARI Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih, Jayapura–Papua Diterima: tanggal 15 Januari 2010 - Disetujui: tanggal 6 Maret 2010 © 2010 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT Tropical rain forest of Papua is very diverse in its floristic composition. Increasing human population cause the loss of forest for farming, urban areas or other human activities which cause deforestation. The objective of this study was to obtain the description of composistion and structure as well as ecological value of forest area at Tablanusu Village, District of Depapre. Study was carried out from January–June 2009. Quadrat plot (50 m x 20 m) were placed at 30 m asl and 200 m asl. Index of Shannon-Wieners was used to determine the level of species diversity and Idex of Similarity to indicate degree of similarity of composition between two different altitudes. Results of the study revealed that at 30 m asl occupied by 25 species that grouped into 18 families of trees (ø > 10 cm) with total 146 trees., sapling (ø 2-10 cm) was consisted of 26 species of 15 families and 74 individuals. While at 200 m asl, there were 18 species of tress (ø > 10 cm) which grouped into 13 families with 93 individuals, 23 species of sapling (ø 2-10 cm) that grouped into 20 families with total number of individu was 82. The value of Similarity indices of the tree at 30 m asl and 200 m asl was 0% (no similarity), on the other hand for sapling its value showed 12,24 %. It means that there was a differences in the species composition on both areas. Furthermore, the species wich has highest Important value at 30 m asl was Cocos nucifera L. (63,84 %) for trees and Kleinhovia hospita L. (37,61 %) for sapling. While at 200 m asl, this highest value for trees was found in Instia bijuga OK. (81,67 %), and Mastixiodendron pachyclados K.Sch (41,31 %) for sapling. Eventhough the regeneration procees in those forest was slow, but it has high ecological value, for example as water suply, preventing erotion, habitat of fauna and maintaining the microclimate. Key words: analysis of forest vegetation, tree species, Tablanusu village, Depapre. PENDAHULUAN Luas hutan di Indonesia yang ada sekarang sebagian besar terdapat di Papua, dimana Papua merupakan kawasan timur Indonesia dengan luas daratan sekitar 410.660 km2, kaya akan keanekaragaman sumber daya hayati (Petocz, 1987). Wilayah hutan Papua mencakup sekitar 80% dari luas daratan Papua dan termasuk hutan *Alamat Korespondensi: Jurusan Biologi FMIPA, Jln. Kamp Wolker, Kampus Baru UNCEN–WAENA, Jayapura Papua. 99358, Telp. (0967) 572115. email: hefmyca@yahoo.com hujan tropik, dimana tegakannya tumbuh dengan komposisi dan struktur hutan yang bervariasi (Remetwa, 1993). Undang-undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus yang berlaku sejak tahun 2002 di Papua, telah memberikan peluang khusus bagi Papua untuk menyusun perencanaan pembangunan berkelanjutan yang diselaraskan dengan upaya konservasi terhadap keberadaan sumber daya hayati termasuk hutan. Potensi sumber daya hayati hendaknya dikelola dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan agar keberadaan dan fungsi hutan tetap terjaga. Pada kenyataannya kini hutan di 24 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 23-31 Papua rentan terhadap kerusakan, salah satunya adalah akibat adanya pembangunan. Pembangunan infrastruktur di berbagai daerah di wilayah Papua terus berlangsung. Degradasi hutan juga akan terus terjadi termasuk di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Adanya degradasi hutan setiap tahun tentunya akan mengurangi nilai keanekaragaman hayati yang dimiliki hutan Papua (Anggraeni & Watopa, 2004). Kampung Tablanusu yang terletak di Distrik Depapre merupakan salah satu bagian dari wilayah Papua, memiliki sumber daya hayati yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik dari keberadaan sumber daya laut maupun hutan. Faktor-faktor yang menunjang degradasi hutan di Kampung Tablanusu antara lain faktor internal seperti kebutuhan pokok masyarakat dan nilai ekonomi hutan, sedangkan faktor eksternal yakni pembangunan infrastruktur seperti pembukaan jalan, perumahan dan lain sebagainya. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian analisa vegetasi meliputi identifikasi jenis-jenis pohon dan secara keseluruhan untuk mengetahui kondisi hutan di sekitar Kampung Tablanusu Distrik Depapre. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi, proses regenerasi dan nilai ekologi dari hutan di sekitar Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. METODE PENELITIAN identifikasi Flora of New Guinea Volume I (Womersley, 1978). Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% dan bagian tanaman yang telah dibuat menjadi spesimen herbarium. Metode Pengumpulan Data Pengumupulan data menggunakan kombinasi dari metoda observasi, metoda kuadrat dan dokumentasi. Analisa Data Data yang diperoleh akan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dombois-Mueller dan Ellenberg (1974) , sebagai berikut: Jumlah total individu Kerapatan = ───────────── Luas contoh Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = ───────────── x 100% Kerapatan seluruh jenis Luas basal area ────────────── Luas contoh Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ────────────── x 100% Dominansi seluruh jenis Dominansi = Jumlah petak ditemukannya suatu jenis Frekuensi = ─────────────────────── Jumlah seluruh petak Frekuensi suatu jenis Frekuensi Relatif = ──────────────── x 100% Frekuensi seluruh jenis Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini telah dilakukan selama 6 bulan yaitu bulan Januari hingga Juni 2009, bertempat di Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Indeks Nilai Penting = Kerapatan relatif + dominansi relatif + frekuensi relatif. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, kamera digital, galah, parang, rol meter (100 m), GPS (Global Positioning System), perlengkapan pembuatan herbarium antara lain gunting stek, papan pengepres, tali rafia, kantong spesimen, etiket gantung, koran bekas, buku Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Index of Diversity) Keanekaragaman jenis yang terdapat dalam komunitas hutan dapat diketahui dengan rumus Indeks Keanekaragaman Jenis dari ShannonWiener yang dijabarkan oleh Odum (1971) sebagai berikut : TANJUNG, et al., Analisis Vegetasi Jenis Pohon H' = −∑ ni ni log N N Dimana : H’= Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener ni = Jumlah individu dari suatu jenis i N = Jumlah total individu seluruh jenis Menurut Fachrul (2007) besarnya Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener dapat didefinisikan sebagai berikut: a. Nilai H’ > 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis adalah melimpah tinggi. b. Nilai H’1 ≤ H’ ≤ 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis adalah sedang melimpah. c. Nilai H’ < 1 menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis adalah sedikit atau rendah. Indeks Kesamaan Komunitas (Index of Similarity) Koefisien untuk menyatakan indeks kesamaan menggunakan rumus yang dijabarkan oleh Bratawinata (2001) dan Fachrul (2007), sebagai berikut : 2C IS = ──── x 100 % A+B Keterangan: IS = Indeks kesamaan jenis Sorensen A = Jumlah jenis tumbuhan di daerah 1 B = Jumlah jenis tumbuhan di daerah 2 C = Jumlah jenis tumbuhan yang sama di kedua daerah 1 dan 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Habitat dan Lokasi Penelitian di Kampung Tablanusu Lokasi penelitian di Kampung Tablanusu termasuk dalam kawasan konservasi Cagar Alam Cycloop dan merupakan daerah perbukitan. Sesuai dengan letak geografi yang berada di pantai utara Kabupaten Jayapura dan teluk Depapre maka potensi darat seperti kayu perahu 25 banyak dijumpai antara lain kayu besi (Intsia bijuga OK.), Grewiya paniculata Juss., Alphitonia incana BL., Callophylum sp. dan lain-lain. Di sekitar lokasi penelitian dijumpai tanaman pertanian seperti singkong (Manihot utilissima Pohl.), sagu (Metroxylon sp.), mangga (Mangifera indica L.), kelapa (Cocos nucifera L.), melinjo (Gnetum gnemon L.), pepaya (Carica papaya L.), dan matoa (Pometia pinnata Forst.). Tutupan tajuk (kanopi) berkisar antara 3060%, sehingga cahaya matahari sangat mudah menembus ke lantai hutan. Berdasarkan ciri vegetasi yang dapat dilihat dari komposisi jenis seperti jenis Macaranga sp., dan Kleinhovia hospita L. maka dapat dikatakan bahwa tipe hutan pada daerah penelitian adalah tipe hutan sekunder. Komposisi Jenis Pohon Hasil penelitian terhadap jenis pohon pada hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura pada ketinggian sekitar 30 m dpl dan 200 m dpl ditemukan 58 jenis yang termasuk dalam 32 famili dengan jumlah individu 395 /0,5 ha dan areal pengambilan sampel masing-masing seluas 0,1 ha (tabel 1). Dari jenisjenis pohon yang ditemukan, beberapa diantaranya memiliki nilai jual secara ekonomi seperti kayu besi (Intsia bijuga OK.), Matoa (Pometia pinnata Forst.), dan kelapa (Cocos nucifera L.). Masyarakat di sekitar hutan Kampung Tablanusu Distrik Depapre menggunakan beberapa jenis untuk berbagai keperluan seperti bahan pembuatan perahu, kayu bakar, dan sebagai bahan bangunan. Jenis seperti Mastixiodendron pachyclados K.Sch. dimanfaatkan sebagai kayu bakar, kayu besi (Intsia bijuga OK.) biasa digunakan sebagai bahan bangunan dan dayung, Dracontomellum edule Meer., Calophyllum neo-ebudicum dimanfaatkan sebagai pembuatan badan perahu, dan Pometia pinnata, rambutan (Nephelium lappaceum) sebagai penghasil buah. Alasan ini yang menyebabkan masyarakat di sekitar hutan melakukan kegiatan pembukaan lahan untuk bercocok tanam maupun memanfaatkan jenis-jenis pohon tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang merubah struktur vegetasi hutan. 26 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 23-31 Tabel 1. Daftar komposisi pohon di hutan Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Famili Anacardiaceae Anacardiaceae Anacardiaceae Apocynaceae Arecaceae Arecaceae Arecaceae Pandanaceae Burseraceae Caesalpiniaceae Clusiaceae Combertaceae Combertaceae Dipterocarpaceae Ebenaceae Elaeocarpaceae Elaeocarpaceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Fabaceae Flacourtiaceae Leeaceae Loganiaceae Malvaceae Meliaceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Myristicaceae Myrtaceae Myrtaceae Nyctaginaceae Nyctaginaceae Oleaceae Rhamnaceae Rhamnaceae Rosaceae Rosaceae Rubiaceae Rubiaceae Nama Jenis Dracontomellum edule Meer. Semecarpus anacardium L. Mangifera indica L. Alstonia scholaris R. Br. Caryota rumphiana Beec. Cocos nucifera L. Hydristele beccariana Burret Pandanus tektorius Park. Canarium hirsutum Willd. Intsia bijuga OK. Calophyllum neo-ebudicum Guill. Terminalia complanata K.Sch. Terminalia sp. Hopea iriana Sloot Diospyros hebecarpa A. Cunn. Elaeocarpus altiseetus M.A Elaeocarpus sphaerieus K.Schum Baccaurca motleyana Burch. Endospermum moluccanum Beec. Macaranga sp. Pimeleodendron amboinicum Hassk. Inocarpus fagiferus (Park.) Fosb. Flacourtia rucam Z.et M. Leea guineensis G. Don Fagraea racemosa Jack. Kleinhovia hospita L. Aglaia sp. Arthocarpus altilis (Park.) Fosb. Arthocarpus integra Meer. Ficus armitii King. Ficus damaropsis L. Ficus capiosa Warb. Ficus hispida L. Knema tomentella (Miq.) Warb. Decaspermum fruticosum Forst. Psidium sp. Pisonia longistris Seem. Pisonia umbellifera Seem. Chionanthus macrophylla Val. Alphitonia incana BL. Alphitonia macrocarpa Mansf. Prunus javanica Miq. Prunus rosaefolius Hook. F Ixora sp. Psychotria sp. Berdasarkan jumlah jenis, famili Moraceae memiliki jumlah jenis terbanyak dimana pada Lokal/Indonesia Kendau/ Dao Mangga Yepa/kayu susu to/ kelapa Pi Kenari Yamau/kayu besi Wakri Ketapang Ketapang Kayu eboni Genitri Kayu raja Mahang kapur Gayang Tembesu Paliasa Wa/ Sukun Nangka Kanya Luwingan Pala hutan Jambu Numbai Jumlah Individu 2 3 1 8 3 31 8 4 11 35 28 2 1 5 1 4 4 13 3 9 7 1 5 1 1 16 11 13 11 1 1 2 11 6 19 1 6 1 2 4 7 3 1 2 4 Ket S/P S S S/P P P S/P S S/P S/P S/P S P S/P S S/P S/P S/P S/P S/P S/P P S/P P S S/P S/P S/P S/P S S P S/P S/P S/P P S/P S S P S/P P P S/P S/P tingkat pohon ditemukan 3 jenis sedangkan pada tingkat sapihan ditemukan 5 jenis, famili TANJUNG, et al., Analisis Vegetasi Jenis Pohon 27 Tabel 1. Lanjutan .................. No 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Famili Rubiaceae Rubiaceae Rubiaceae Rubiaceae Rutaceae Sapindaceae Sapindaceae Sapindaceae Sapotaceae Sapotaceae Tiliaceae Urticaceae Verbenaceae Nama Jenis Mastixiodendron pachyclados K.Sch. Morinda citrifolia L. Neonauclea obversifolia Val. Neonauclea versteeghii Val. Micrumelum minutum W. et A. Alectryon sp. Nephelium lappaceum L. Pometia pinnata Forst. Palaquium lobbianum Burch. Palaquium sp. Grewiya Paniculata Juss Poikilospermum sp. Itoa staphii Sleumer Total Lokal/Indonesia Taku/Lancat Mengkudu Rambutan Matoa Nyatuh Nyatuh Susah Jumlah Individu 17 1 1 1 1 16 5 25 1 1 2 10 1 58 Ket S/P S P P S S/P S/P S/P S S P S/P S 395 Keterangan : P : Tingkat Pohon (ø > 10 cm) S : Tingkat Sapihan (ø 2-10 cm) Euphorbiaceae baik pada tingkat pohon maupun sapihan berjumlah 3 jenis, famili Arecaceae 3 jenis pada tingkat pohon dan 1 jenis pada tingkat sapihan, famili Anacardiaceae 1 jenis pada tingkat pohon dan 3 jenis pada tingkat sapihan, dan famili Sapindaceae ditemukan 2 jenis baik pada tingkat pohon maupun tingkat sapihan. Pada ketinggian 200 m dpl famili Rubiaceae memiliki jumlah jenis terbanyak, dimana ditemukan 5 jenis pada tingkat pohon dan 3 jenis pada tingkat sapihan. Famili Rosaceae ditemukan 2 jenis pada tingkat pohon dan 1 jenis pada tingkat sapihan, famili Euphorbiaceae dan Myristicaceae ditemukan masing-masing 1 jenis pada tingkat pohon dan 1 jenis pada tingkat sapihan, sedangkan famili Sapotaceae memiliki 2 jenis pada tingkat sapihan. Pada kedua ketinggian masing-masing famili yang memiliki jumlah jenis terbanyak adalah famili Moraceae, Euphorbiaceae dan Rubiaceae. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Bratawinata (2001), bahwa hutan hujan tropis dataran rendah banyak dijumpai jenis pohon yang berbuah di batang seperti famili Moraceae dan Euphorbiaceae. Kesamaan komposisi jenis antara dua ketinggian adalah sebesar 12,24% (tingkat kesamaan rendah) pada tingkat sapihan dan 0% (sangat berbeda) pada tingkat pohon (tabel 2). Tabel 2. Perhitungan persamaan komposisi (Similarity indeks) antara dua ketinggian yang berbeda di hutan Kampung Tablanusu Jumlah Jenis (ketinggian) Tingkat pohon Tingkat sapihan Posisi 30 m dpl 25 26 Posisi 200 m dpl ∑ jenis pohon yang sama 18 0 23 3 IS 0% 12,24 % Mengacu pada kriteria Sorensen (1945) dalam Bratawinata (2001) maka dapat dikatakan bahwa indeks kesamaan jenis (IS) antara 2 lokasi penelitian baik tingkat pohon maupun sapihan adalah rendah. Faktor penyebab rendahnya indeks kesamaan anatara lain adalah perbedaan ketinggian yang berpengaruh pada sehingga kondisi habitat terutama kandanungan hara tanah. Pada ketinggian sekitar 30 m dpl merupakan area bekas penebangan yang dijadikan kebun dan mengalami suksesi, sedangkan pada ketinggian 200 m dpl merupakan lokasi yang sangat jarang untuk dijadikan tempat berkebun. JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 23-31 Struktur dan Vegetasi Pohon 1. Tinggi dan Diameter Pohon Pada kawasan hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre tinggi pohon berkisar antara 6-35 m dengan pohon tertinggi adalah Alphitonia incana BL, dan jenis yang memiliki diameter batang terbesar adalah Canarium hirsutum Willd. mencapai 82,48 cm. Pada ketinggian sekitar 30 m dpl diameter batang tingkat pohon berukuran antara 10,05-82,48 cm dengan jumlah individu sebanyak 146. Kelas diameter setinggi dada (1,33 m) pada ketinggian 200 m dpl berkisar antara 10,05 - 47,83 cm dengan jumlah individu sebanyak 93. Harston (1976) dalam Tanjung dkk (1994) membagi penyebaran pohon berdasarkan kelas diameter sebagai berikut : a. Kelas diameter batang 10-17 cm b. Kelas diameter batang 17-33 cm c. Kelas diameter batang 33-47 cm d. Kelas diameter batang 47-63 cm e. Kelas diameter batang 63-78 cm f. Kelas diameter batang di atas 78 cm Ju m lah in d ivid u 28 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 30 m dpl 200 m dpl 10-17 17-33 33-47 47-63 63-78 >78 Kelas diameter batang (cm) Gambar 4. Penyebaran diameter batang pada tingkat pohon (ø>10cm) berdasarkan jumlah individu pada dua ketinggian berbeda yaitu sekitar 30 m dpl dan 200 m dpl. 2. Struktur tegakan Struktur jenis pohon pada kawasan hutan Kampung Tablanusu Distrik Depapre dapat ditentukan berdasarkan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) dan dominansi relatif Berdasarkan pembagian penyebaran pohon (DR), serta Indeks Nilai Penting (INP). Hal ini tersebut, maka dapat dibuat histogram dapat dilihat dari 10 jenis dengan INP tertinggi penyebaran pohon berdasarkan kelas diameter pada masing-masing tingkat pohon di lokasi batang pada kedua ketinggian yang berbeda pengamatan yang berbeda (tabel 3, 4, 5 dan 6). Kerapatan tumbuhan jenis pohon pada (gambar 4). Banyaknya pohon dengan diamater hutan Kampung Tablanusu Distrik Depapre untuk batang kecil (10-33 cm) menunjukkan bahwa hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre tingkat pohon diperoleh 25 jenis (146 individu), masih dalam proses perkembangan untuk sedangkan pada tingkat sapihan sebanyak 26 jenis (74 individu). Kerapatan jenis pohon pada mencapai keadaan klimaks. ketinggian 200 m dpl adalah 18 jenis (93 individu), sedangkan pada tingkat Tabel 3. Sepuluh jenis utama pada tingkat sapihan (ø 2- 10 sapihan ditemukan 23 jenis (82 cm) berdasarkan Indeks Nilai Penting/ INP ( 30 m dpl). individu). KR FR DR INP Jenis Pada ketinggian sekitar 30 m dpl (%) (%) (%) (%) kerapatan per hektar pada tingkat Kleinhovia hospita 12,16 10,76 14,68 37,61 Arthocarpus altilis 12,16 12,3 7,31 31,78 diperoleh sebanyak 486/ha dan pada Baccaurca motleyana 10,81 9,23 6,25 26,29 tingkat sapihan sebanyak 246/ha. Pada Ficus hispida 4,05 4,61 15,35 24,02 ketinggian 200 m dpl kerapatan per Semecarpus anacardium 4,05 4,61 11,47 20,14 hektar pada tingkat pohon 465/ha dan Arthocarpus integra 8,1 6,15 4,85 19,11 pada tingkat sapihan adalah 410/ha. Pisonia longistris 4,05 4,61 9,52 18,19 Pada ketinggian sekitar 30 m dpl dan Aglaia sp. 6,75 6,15 2,97 15,88 200 m dpl, untuk tingkat sapihan Hydriastele beccariana 5,4 6,15 3,73 15,29 kerapatannya tergolong rendah atau Pometia pinnata 5,4 6,15 3,55 15,1 TANJUNG, et al., Analisis Vegetasi Jenis Pohon jarang, apabila dibandingkan dengan hasil pendataan oleh Bratawinata (2001) yang mencatat kerapatan jenis pohon pada tingkat pohon di daerah hutan hujan tropik dataran rendah non Dipterocarpaceae lebih dari 358/ha dan pada tingkat sapihan lebih dari 2.816/ha. Berdasarkan persentase penyebaran jenis pohon pada kedua ketinggian, ditemukan jenisjenis yang memiliki frekuensi relatif tertinggi merupakan jenis dengan nilai kegunaan yang tinggi seperti kayu besi (Intsia bijuga) dan kelapa (Cocos nucifera ). Jenis-jenis yang memiliki nilai frekuensi relatif yang tinggi juga memiliki kerapatan yang tinggi dan cenderung akan menempati area yang luas. Fachrul (2007) menjelaskan bahwa frekuensi menunjukkan pola persebaran dari suatu jenis yang sangat berkaitan erat dengan kapasitas reproduksi dan kemampuan adaptasi, sehingga jenis-jenis yang memiliki nilai frekuensi relatif tinggi memiliki kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang baik. Perbedaan persebaran dari jenis-jenis tersebut merupakan reaksi yang timbul terhadap perbedaan mikro habitatnya seperti kelembaban tanah atau kandungan air. Nilai dominansi suatu jenis sangat dipengaruhi oleh luas bidang dasar. Cocos nucifera, Ficus hispida, Intsia bijuga, Mastixiodendron pachyclados masing-masing memiliki nilai dominansi relatif yang tinggi karena sebagian memiliki luas bidang dasar yang besar serta jumlah individu yang banyak. 3. Indeks Nilai Penting Pada ketinggian sekitar 30 m dpl nilai indeks nilai penting (INP) tertinggi pada tingkat sapihan adalah Kleinhovia hospita (37,61%), Arthocarpus altilis (31,78%), Baccaurca motleyana (26,29%), Ficus hispida (24,02%), Semecarpus anacardium (20,14%), Arthocarpus integra (19,11%), Pisonia longistris (18,19%), Aglaia sp. (15,88%), Hydriastele beccariana (15,29%), dan Pometia pinnata (15,1%). Sedangkan pada tingkat pohon adalah Cocos nucifera (63,84%), diikuti oleh Pometia pinnata (38,51%), Canarium hirsutum (25,94%), Alstonia scholaris (22,13%), Macaranga sp. (15,85%), Ficus hispida (15,59%), Poikilospermum sp. (13,35%), Kleinhovia 29 hospita (11,99%), Alphitonia incana (10,9%), Arthocarpus altilis (10,38%). Pada ketinggian 200 m dpl nilai indeks nilai penting (INP) tertinggi pada tingkat sapihan adalah Mastixiodendron pachyclados (41,31%), diikuti oleh Decaspermum fruticosum (33,64 %), Calophyllum neo-ebudicum (32,41%), Alectryon sp. (31,82%), Alphitonia macrocarpa (17,87%) Knema tomentella (17,59%), Pimeleodendron amboinicum Hassk. (16,3%), Intsia bijuga (14,05%), Psychotria sp. (13,94%), dan Terminalia complanata (9,37 %). Sedangkan pada tingkat pohon adalah Instia bijuga (81,67%), diikuti Calophyllum neo-ebudicum (58,12%), Decaspermum fruticosum (37,37%), Alectryon sp. (19,65%) Mastixiodendron pachyclados (15,72%), Flacourtia rucam (11,11%), Hopea iriana (11,09%), Pimeleodendron amboinicum (9,85%), Elaeocarpus altiseetus (9,42%) dan Prunus javanica (8,59%). Dilihat dari kisaran nilai penting tertinggi maka dapat dikatakan bahwa pada ketinggian sekitar 30 m dpl jenis seperti Cocos nucifera, Pometia pinnata, dan Kleinhovia hospita memiliki pengaruh yang besar dalam area pengamatan. Jenis seperti Pometia pinnata memiliki indeks nilai penting yang tinggi karena didukung oleh karakteristiknya yaitu terdapat di seluruh kepulauan Indonesia, tetapi paling banyak tumbuh secara alami di wilayah Papua dan merupakan jenis penghasil buah (Resosoedarmo dkk, 1993). Pada ketinggian 200 m dpl jenis seperti Instia bijuga, Calophyllum neo-ebudicum, Mastixiodendron pachyclados juga merupakan jenis tumbuhan yang memiliki pengaruh besar dalam area pengamatan. Menurut Indriyanto (2006), perubahan dalam komunitas selalu terjadi, bahkan dalam komunitas yang stabil, seperti pohonpohon yang telah tua akan tumbang dan mati memungkinkan anakan pohon yang terkena penyinaran akan bertumbuh dengan baik. Berdasarkan hasil perhitungan nilai INP terlihat bahwa pada ketinggian sekitar 30 m dpl ada beberapa jenis utama yang hilang (tidak dijumpai) dari tingkat sapihan ke pohon. Jenis tersebut antara lain Cocos nucifera, hal ini terkait dengan nilai ekonomi dari jenis tersebut serta tempat tumbuh yang mudah dijangkau oleh 30 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 23-31 masyarakat. Sedangkan Instia bijuga, Calophyllum neo-ebudicum, Mastixiodendron pachyclados, juga memiliki nilai ekonomi yang penting bagi masyarakat akan tetapi masih dapat dijumpai pada tingkat sapihan dan pohon. Hal ini dikarenakan keberadaannya yang lebih sulit untuk dijangkau oleh masyarakat yakni pada ketinggian 200 m dpl. Melalui pengamatan terhadap proses regenerasi, maka dapat diprediksikan kondisi komunitas hutan di sekitar Kampung Tablanusu diwaktu mendatang akan mengalami perubahan. Sejalan dengan adanya invasi atau masuknya spesies baru seperti tumbuhan pionir yang dibawa oleh satwa, air, dan angin. 4. Indeks Keanekaragaman Jenis Hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis pada ketinggian sekitar 30 m dpl tingkat pohon dengan nilai 1,20 sedangkan pada tingkat sapihan 1,18. Pada ketinggian 200 m dpl pada tingkat pohon indeks keanekaragaman adalah 0,96 dan pada tingkat sapihan adalah 1,19. Dari indeks keanekaragaman jenis pada ketinggian sekitar 30 m dpl baik pada tingkat pohon maupun sapihan adalah sedang melimpah (1≤H’≤3). Pada ketinggian 200 m dpl indeks keanekaragaman untuk tingkat pohon adalah 0,96 menunjukkan bahwa keanekaragaman suatu jenis adalah sedikit atau rendah. Hal ini dikarenakan jumlah jenis yang ditemukan adalah sedikit yakni 18 jenis dengan jumlah individu sebanyak 93, dan sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Irwan (1997) bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis rendah apabila komunitas tersebut mempunyai sedikit jenis dengan jumlah individu yang besar. Keanekaragaman yang tergolong rendah rendah terkait dengan proses regenerasi dari beberapa jenis-jenis tumbuhan serta aktivitas masyarakat di sekitar hutan kampung. Nilai Ekologi Hutan memiliki peranan penting yang menguasai aspek kehidupan mahkluk hidup dimuka bumi antara lain berperan dalam siklus hidrologi, memelihara kesuburan tanah, menjaga kondisi iklim agar tetap stabil, sebagai sumber keanekaragaman genetik, serta mampu mencegah erosi dan banjir. Hutan sebagai penyerap gas CO2 untuk proses fotosintesis, oleh sebab itu keberadaan hutan memiliki peran yang sangat penting terkait dengan kestabilan iklim secara global (Arief, 2001). Hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre berperan penting bagi masyarakat di sekitar kampung sebagai penyuplai air bersih. Arief (2001) mengatakan bahwa hutan sebagai pencegah kekeringan, hutan mampu menyimpan berjuta-juta liter air yang siap dialirkan ke sungai-sungai berupa mata air dan uap air ke udara sebagai proses awal timbulnya hujan. Selain itu, hutan di Kampung Tablanusu Distrik Depapre memiliki nilai ekologi cukup tinggi yakni sebagai tempat hidup bagi beberapa jenis fauna, seperti burung dan kelelawar, serangga seperti kupu-kupu dan semut. Jenis burung yang dapat diamati pada area pengamatan antara lain kakaktua jambul kuning (Cacatua galerita), kasuari (Casuarius sp.), dan nuri bayan (Eclectus roratus), dimana jenis-jenis burung tersebut merupakan burung pemakan biji-bijian sehingga sangat efisien dalam menyebarkan biji-bijian. Wirakusumah (2003) mengatakan bahwa jenis-jenis hewan pemakan biji-bijian sangat berpotensi dalam menyebarkan biji-bijian dengan memakan, mencerna dan mengeluarkan biji-bijian di tempat-tempat yang cocok untuk perkecambahan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan : 1. Dari komposisi dan kerapatan dapat dikatakan bahwa lokasi penelitian termasuk pada jenis hutan hujan dataran rendah sekunder. 2. Struktur tegakan baik pada tingkat pohon maupun tingkat sapihan adalah sebagai berikut : a. Pada ketinggian sekitar 30 m dpl nilai indeks nilai penting (INP) tertinggi pada tingkat pohon adalah Cocos nucifera L. TANJUNG, et al., Analisis Vegetasi Jenis Pohon (63,84%), sedangkan pada tingkat sapihan adalah Kleinhovia hospita L. (37,61%). b. Pada ketinggian 200 m dpl nilai indeks nilai penting (INP) tertinggi adalah Instia bijuga OK. (81,67%), sedangkan pada tingkat sapihan adalah Mastixiodendron pachyclados K.Sch. (41,31%). 3. Proses regenerasi pada lokasi penelitian dapat dikatakan berjalan lambat disebabkan oleh rumpang hutan (pembukaan tajuk hutan) yang terbentuk. Salah satu faktor penyebab terjadinya rumpang diakibatkan oleh adanya aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan potensi hutan. 4. Keanekaragaman jenis pohon pada lokasi penelitian berkisar pada tingkat sedang– sedang melimpah. 5. Nilai ekologi dari hutan di sekitar Kampung Tablanusu Distrik Depapre Kabupaten Jayapura dapat dikatakan cukup tinggi yaitu sebagai penyuplai air bersih bagi masyarakat sekitar kampung, sebagai pencegah longsor, banjir dan erosi, dan juga sebagai habitat beberapa fauna seperti burung, kelelawar, jenis-jenis serangga dan lain sebagainya. 31 DAFTAR PUSTAKA Anggraeni, D dan Y. Watopa. 2004. Kajian Singkat Konservasi dan Ekonomi (RACE) suatu Usaha untuk Memadukan Kepentingan Konservasi dan Pembangunan di Tanah Papua. Conservation International Indonesia. Jakarta. Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisisus. Yokyakarta. Bratawinata, A. 2001. Ekologi Hutan Hujan Tropis dan Metoda Analisis Hutan. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Indonesia Timur. Makasar. Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Irwan, Z. 1997. Prinsip-Prinsip Ekologi. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Mueller-Dombois and Ellenberg, H. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. John Wiley and Sons. New York. Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. Third Edition. W.B. Sounders Co. Philadelphia. Petocz, G. R. 1987. Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya. Pustaka Grafika Press. Jakarta. Remetwa, H. 1993. Keadaan Tegakan Sisa di Kawasan Hutan Manimeri Bintuni-Manokwari. Jurnal Penelitian Kehutanan (Paratropika). 1 : 1-4. Resosoedarmo, S., Kuswata, K dan Aprilani, S. 1993. Pengantar Ekologi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. Womersley, J. S. 1978. Handbooks of the Flora of New Guinea Volume I. Melbourne University Press. JURNAL BIOLOGI PAPUA Volume 2, Nomor 1 Halaman: 32–38 ISSN: 2086-3314 April 2010 REVIEW Perkembangan Penelitian Mikoriza di Papua** VERENA AGUSTINI*, SUHARNO, DAN SUPENI SUFAATI Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih, Jayapura–Papua Diterima: tanggal 25 Nopember 2009 - Disetujui: tanggal 19 Januari 2010 © 2010 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT The mycorrhizas are ‘balanced’ mutualistic associations in which the fungus and plant exchange commodities required for their growth and survival. The are many types of mycorrhizal namely endomycorrhiza, ectomycorrhiza, Orchid-mycorrhiza, ericoid mycorrhiza, and ectendo mycorrhiza. Most research focus on endo and ectomycorrhiza, due to their role in Papua. Research in mycorrhiza has also been done recently. The research started in 2005 with ectomycorrhiza studies conducted by Suharno & Sufaati. Study on endomycorrhiza were begin in 2006 and orchid mycorrhiza in 2007. Exploration study of endomycorrhiza in corn plant at Koya Barat showed that there were 7 species of VAM namely Glomus sp1., Glomus sp2., Glomus sp3., Gigaspora sp., Acaulospora., Scutellospora sp1., and Scutellospora sp2. Similar research have also been done on other agriculture comodity, and the weed as well. Study on the endomycorrhiza associated with matoa (Pometia pinnata) found 13 species. Furthermore, preliminary research on ectomycorrhiza showed that at least four species have been found at Mount Cycloops Nature Reserve, Jayapura. In Papua, there were 18 strain isolates of Scleroderma have been collected and 4 species were already identified. For orchid-mycorrhiza there were only 17 species have been found so far. Among them there species were identified: Rhizoctonia sp., Tulasnella sp., dan Ceratorhiza sp. The potency of mycorrhiza in Papua is high and need to be explored. Some isolate were already tested to variety of the growth of plant. The result showed that the isolate affected significantly. More exploration, compatibility test, and the role of mycorrhiza will be continued to study. The goal of all the study here was to find a good quality of isolate that can be used as a propagule to produce biofertilizer. Key words: endomycorrhiza, ectomycorrhiza, orchid-mycorrhiza, biofertilizer, Papua. PENDAHULUAN Papua mempunyai keanekaragaman sumber daya alam yang sangat tinggi, termasuk sumber daya hayati. Jamur merupakan salah satu organisme dengan tingkat keragaman yang tinggi. *Alamat Korespondensi: Jurusan Biologi FMIPA, Jln. Kamp Wolker, Kampus Baru UNCEN–WAENA, Jayapura Papua. 99358 Telp: +62967572115, email: verena_agustini@yahoo.com. ** Judul yang sama telah disampaikan dalam International Biodiversity Conference (IBC), di Jayapura pada tanggal 11 – 14 Nopember 2009. Oleh karena itu dalam pengelompokan jamur (fungi), organisme ini dimasukkan dalam kelompok dunia tersendiri, disamping tumbuhan, hewan, dan mikrobia. Fungsi utama Jamur adalah sebagai dekomposer, namun sebagian dapat di makan (edibel), banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, penyakit, beracun, ada pula yang bersimbiosis dengan tanaman. Walaupun demikian hingga kini masih banyak kelompok jamur yang belum diketahui fungsinya di alam. Salah satu yang diketahui mampu bersimbiosis dengan sistem perakaran tumbuhan adalah mikoriza. Mikoriza merupakan simbiosis AGUSTINI et al., Perkembangan Penelitian Mikoriza antara jamur dengan akar tanaman yang bersifat saling menguntungkan. Tumbuhan mampu memperoleh sumber nutrisi dari peran jamur yang mampu menyerap unsur hara, sedangkan mikoriza memperoleh nutrien hasil asimilat dari tumbuhan. Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur. Umumnya mikoriza dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu endomikoriza (pada jenis tanaman pertanian), ektomikoriza (pada jenis tanaman kehutanan) dan ektendomikoriza Brundrett (2008). Lebih lanjut, Brundrett (2008) mengelompokkan mikoriza dalam 6 tipe asosiasi berikut ini. Fungi Mycorrhiza Arbuscular (FMA). FMA merupakan mikoriza yang dalam asosiasinya dengan perakaran tanaman dengan membentuk vesikel dan arbuskula. Fungi yang tergolong dalam mikoriza dengan tipe ini umumnya dikenal dengan endomikoriza dan biasanya berasal dari kelompok Zygomycetes, yaitu Glomales. Ectomycorrhiza (ECM) Mikoriza yang dalam asosiasinya dengan perakaran tanaman dengan membentuk mantel yang menutupi permukaan perakaran dan membentuk hartig net di sekeliling sel epidermis dan korteks. Fungi yang tergolong dalam mikoriza dengan tipe ini biasanya berasal dari kelompok Basidiomycetes. Ectendomycorrhiza (Arbutoid) Hampir sama dengan ECM. Hifa fungi dapat masuk ke dalam sel epidermis. Orchid mycorrhiza Mikoriza ini terdapat pada tanaman anggrek, terutama banyak dijumpai pada kecambah anggrek maupun tanaman anggrek dewasa yang klorofilnya kurang baik. Fungi dengan tipe ini membentuk struktur hifa berupa 33 lilitan padat (peloton). Ericoid mycorrhiza Fungi dengan tipe ini biasanya membentuk struktur yang disebut “hair root” pada tanaman Ericales. Thysanotus mycorrhiza Tipe mikoriza ini terdapat pada kelompok tanaman lili (Liliaceae). Fungi ini hanya tumbuh berkembang di bawah sel epidermis perakaran lili. SEJARAH AWAL PENELITIAN MIKORIZA Penelitian awal tentang mikoriza diketahui sejak dilakukan penelitian secara intensif sekitar tahun 1960-an, mengenai endomikoriza. Awal perkembangan penelitian ini setelah adanya publikasi mengenai mikoriza oleh Harley tahun 1969 dengan judul ”the biology of mycorrhiza”. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pada tahun–tahun sebelumnya penelitian ini mengalami kevakuman? Marilah kita simak bersama–sama. Jika kita sedikit melihat beberapa ratus tahun sebelumnya, keberadaan mikoriza arbuskula telah ada yang diungkapkan oleh Nageli (1842) dalam Suharno et al., (2008). Fungi mikoriza arbuskula telah dideskripsi awalnya pada tahun 1842 oleh Nageli (Koide & Mosse, 2004), walaupun penggambarannya mengenai Mikoriza Arbuskula (MA) belum lengkap. Selanjutnya penelitian awal mengenai simbiosis dilakukan oleh Raynor (1926–1927), dan Trappe & Berch (tahun 1985). Penelitian– penelitian mikoriza dari kelompok lain juga dilakukan dengan intensif. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA Sedikit telah disinggung mengenai perkembangan penelitian mikoriza di dunia pada bagian awal. Namun, penelitian di dunia secara intensif dimulai sejak tahun 1960-an. Hingga tahun 2007, telah dilakukan ICOM5 (Konferensi 34 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 32-38 Internasional Mikoriza 5) di Spanyol, yang diikuti oleh sekitar 50 negara, termasuk Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, disajikan sekitar 700-an makalah., baik oral maupun poster. Di Indonesia, perkembangan penelitian mikoriza dimulai secara intensif pada tahun 1990an. Pada tahun 1999 dilakukan Kongres I AMI (Asosiasi Mikoriza Indonesia), dilanjutkan pada tahun 2007 untuk yang kedua kalinya (AMI II) di Bogor. Dari 79 makalah yang dipresentasikan pada AMI II di Bogor, diketahui 91% merupakan makalah yang berhubungan dengan endomikoriza (mikoriza arbuskula), sedangkan sisanya 7 judul (9%) merupakan ektomikoriza. Penelitian mengenai kelompok mikoriza lain masih sangat kurang. PERKEMBANGAN PENELITIAN MIKORIZA DI PAPUA Bagaimana perkembangan penelitian mikoriza ini di Papua ? Keberadaan peneliti menjadi masalah utama perkembangan penelitian di Papua. Sebagian besar pakar mikoriza masih tergolong langka, artinya bahwa kepakaran terhadap suatu bidang ilmu khususnya mikoriza masih belum eksis. Sebagian peneliti masih secara luas mempelajari jamur secara keseluruhan, terutama taksonominya. Bahkan keberadaan Asosiasi Mikoriza Indonesia Cabang Papua belum ada. Hingga saat ini, masih dalam kelompok kerja dan belum mewujudkan rencana pembentukan AMI di Papua, yang sebelumnya telah direncanakan. Penelitian mikoriza di Papua dimulai secara intensif pada tahun 2005 (tidak termasuk di Papua Barat). Beberapa publikasi, melalui acara seminar dan artikel ilmiah di beberapa jurnal mulai muncul. Namun, hasil penelitian masih juga dalam kelompok yang umum, yakni endomikoriza dan ektomikoriza, seperti yang telah dipublikasikan oleh Sufaati & Suharno (2005), Suharno et al. (2006), Sufaati et al. (2008a; 2008b), Suharno et al. (2008), dan Sufaati & Suharno (2009). Tetapi yang perlu dicermati pula adalah telah dilakukannya penelitian mengenai Orchid mycorrhiza (mikoriza anggrek) yang dilakukan oleh Agustini et al. (2008) dan Agustini et al., (2009). ENDOMIKORIZA Penelitian mengenai endomikoriza telah dimulai dengan beberapa survey pada tanaman jagung manis (Zea mays L.) pada lahan pertanian di Koya Barat Jayapura, Papua. Penelitian dilakukan pada tahun 2005, dan dipublikasikan di New Guinea Biological Conference (NGBC) Port Moresby, PNG pada tahun 2006. Metode yang digunakan untuk survey ini adalah metode slide (Brundrett et al., 1996), untuk melihat status keberadaan FMA yang menginfeksi akar tanaman. Akar tanaman diwarnai dengan menggunakan metode Kormanik & Mc.Graw., (1984). Jika terbukti terdapat infeksi maka jenis-jenis endomikoriza diidentifikasi melalui keberadaan spora pada rhizosfer akar tanaman (Supriyanto, 2001) dengan metode menyaringan basah (wet sieving). Gambar 1. Status keberadaan endomikoriza pada tanaman. HI= hifa internal, V= vesikula, S= spora, dan A= arbuskula. AGUSTINI et al., Perkembangan Penelitian Mikoriza Penelitian dilanjutkan pada berbagai jenis tanaman pertanian, baik legum maupun non legum, termasuk juga tumbuhan gulma di lahan yang sama (Sufaati & Suharno, 2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dijumpai asosiasi FMA pada berbagai jenis tumbuhan yang ada di lokasi tersebut. Penelitian pada tumbuhan tingkat tinggi juga dilakukan, terutama pada tumbuhan matoa di Manokwari, Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tanaman jagung ditemukan 7 jenis jamur endomikoriza (FMA), dalam 4 genus, yaitu Glomus sp1., Glomus sp2., Glomus sp3., Gigaspora sp., Acaulospora., Scutellospora sp1., dan Scutellospora sp2., dengan persen infeksi akar pada jagung berumur 20 hari menunjukkan adanya persentase infeksi mikoriza rata–rata 37,80%, sedangkan jagung yang berumur 40 hari mencapai 55,07%. Pada tumbuhan matoa, dijumpai 14 jenis endomikoriza Glomus etunicatum, Glomus sp1., Glomus sp2., Glomus sp3., Glomus sp4., Glomus sp5., Glomus sp6., Glomus sp7., Acaulospora sp1., Acaulospora sp1., Acaulospora sp1., Gigaspora sp1., Gigaspora sp2., dan Scutelospora sp. Beberapa jenis mikoriza juga telah diuji tingkat kompatibilitasnya terhadap beberapa jenis tanaman penting di Papua. Diantaranya adalah jagung, kedelai, tanaman matoa, dan batatas. Dari hasil penelitian terhadap endomikoriza yang diisolasi dari tanaman matoa, diketahui bahwa Glomus etunicatum memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman dari beberapa parameter yang diukur, termasuk reinokulasi pada tanaman matoa. Bahkan pada tanaman kedelai dan jagung, memberikan pengaruh yang signifikan pada hampir semua parameter pertumbuhan. 35 Barat), diketahui terdapat 18 strain ektomikoriza yang diperkirakan masuk dalam 9 jenis, namun baru 4 jenis yang sudah teridentifikasi., yakni: Scleroderma sinamariense, S. flavidum, S. citrinum, S. flavidum dan Geastrum sp.(Gambar 2). EKTOMIKORIZA Perkembangan penelitian ektomikoriza (ECM) di Papua masih sangat kurang. Dari hasil studi awal tentang keberadaan ektomikoriza di Papua, diketahui sedikitnya 4 jenis di Cagar Alam Pegunungan Cycloops., yang masuk dalam genus Scleroderma dan Geastrum. Hingga kini, untuk Genus Scleroderma di Papua (termasuk Papua Gambar 2. Keragaman Fungi Ektomikoriza. A. Scleroderma sinamariense., B. S. citrinum., dan C. Geastrum sp. 36 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 32-38 Scleroderma sinamariense telah diuji reinokulasinya pada tanaman melinjo. Dengan membandingkan dengan strain Bogor., S. sinamariense strain Papua diketahui mampu menginfeksi tanaman melinjo (Gnetum gnemon L.) lebih baik dibandingkan strain Bogor. MIKORIZA ANGGREK (ORCHID-MYCORRHIZA) Perkembangan lain dari penelitian mikoriza di Papua adalah telah dimulainya penelitian pada tanaman anggrek, khususnya anggrek tanah pada tahun 2007 dan telah dipublikasikan oleh Agustini et al. (2008) dan Agustini et al. (2009). Penelitian tentang mikoriza anggrek sangat menarik (Brundrett et al., 2003), karena keragaman jenis anggrek di Papua cukup tinggi, diperkirakan dijumpai kurang lebih 2.500 jenis. Khusus di Jayapura menunjukkan bahwa dijumpai 10 jenis anggrek tanah (Tabel 1). Tabel 1. Jenis-jenis anggrek tanah di Jayapura. No Jenis anggrek 1. Spathoglottis plicata 2. Phaius tankervillae 3. Geodorum sp Hutan kampus, Sentani 4. Calanthe sp1 Sentani 5. Calanthe sp2 Sentani 6. Plocoglottis sp1 Sentani 7. Plocoglottis sp2 Sentani 8. Plocoglottis sp3 Sentani 9. Phapiopedilum violascens Schltr. Sentani 10. Macodes petola Sumber: Agustini et al., (2009). Lokasi Kampus Waena, Kamp. Wolker, Buper Waena Kemiri & Kampung Harapan Kampus Waena, Hutan Kampus Jayapura Survey keberadaan mikoriza anggrek dilakukan dengan metode yang dikembangkan dari teknik Masuhara & Katsuya (1989) menurut Manoch & Lohsomboon (1991) dengan dimodifikasi. Jika dalam pengamatan mikroskop terdapat bentuk hifa coil (peloton), maka potongan akar tersebut ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Selanjutnya pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan morfologi, karakteristik miselia, dan spora/konidia yang terbentuk. Hasil pengamatan mikoriza-anggrek dari 10 jenis yang ditemukan di Jayapura (Tabel 1), dijumpai sekitar 17 jenis. Dari ke-10 jenis anggrek, 8 jenis anggrek berhasil diisolasi mikorizanya, sedangkan 2 jenis lain belum dapat diisolasi. Penelitian sejenis yang dilakukan di Thailand oleh Athypunyakom et al., (2004) hanya menemukan 14 jenis fungi mikoriza dari 11 anggrek tanah. Jenis mikoriza anggrek tersebut diantaranya diidentifikasi sebagai Rhizoctonia globularis, Ceratorhiza sp, dan Tulasnella sp. hasil pengamatan di Papua juga teridentifikasi adanya jenis Rhizochtonia sp, Ceratorhiza sp, dan Tulasnella sp. Namun, jika dibandingkan dengan keragaman dan jumlah, jenis-jenis yang ditemukan di Papua lebih besar dibandingkan dengan Thailand. Peranan mikoriza terhadap tanaman inang sebagai hasil dari proses simbiosis cukup besar, bahkan pada tanaman anggrek, mikoriza berperan terhadap keberhasilan perkecambahan dan perkembangan kecambah untuk menjadi individu yang tumbuh normal dengan nutrisi yang cukup. Hingga kini, mikoriza penting dalam reklamasi lahan–lahan marginal. Sebagian peneliti dan bahkan pemangku berbagai kepentingan di dunia telah mengembangkan pupuk dari mikoriza sebagai pupuk hayati (biofertilizer). Isolasi dari berbagai tanaman pertanian dapat digunakan sebagai pupuk jenis tanaman pertanian, kehutanan, dan perkebunan. Untuk jenis-jenis ektomikoriza, juga dapat dimanfaatkan dengan maksud yang sama, tetapi sebagian besar diaplikasikan pada tanaman perkebunan dan kehutanan. Khusus pada mikoriza anggrek, dapat dikembangkan dan aplikasinya pada tanaman AGUSTINI et al., Perkembangan Penelitian Mikoriza anggrek, terutama dalam usaha budidaya tanaman tersebut. Hingga kini usaha untuk budidaya berbagai macam jenis pertanian di wilayah Papua khususnya, pertumbuhan bidang pertanian terhambat oleh pasokan pupuk yang sangat terbatas. Di lain pihak, pemanfaatan pupuk hayati yang dikembangkan dari berbagai jenis fungi AA 37 sangat ramah lingkungan, karena tidak merusak lingkungan. KESIMPULAN Berdasarkan atas telaah dari beberapa sumber dapat disimpulkan bahwa penelitian mikoriza di Papua belum banyak dilakukan. Berdasarkan atas publikasi ilmiah, penelitian ini baru dimulai pada tahun 2005-an. Mula–mula dilakukan studi awal mengenai potensi fungi ektomikoriza di hutan Kampus Universitas Cenderawasih, dan masih dilakukannya pengembangan koleksinya dibeberapa Kabupaten/Kota di wilayah Papua. Pengamatan keberadaan endomikoriza dilakukan di lahan pertanian Koya Barat, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Selanjutnya perkembangan penelitian berkembang pada endomikoriza pada tanaman matoa, dan hingga saat ini telah dikaji pula mengenai mikoriza-anggrek di Kota Jayapura. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam penelitian mikoriza di Papua. UCAPAN TERIMA KASIH B Penulis menyampaikan terima kasih kepada panitia IBC (International Biodiversity Conference) yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam menyampaikan materi ini dalam forum ilmiah di Jayapura. DAFTAR PUSTAKA C Gambar 2. Beberapa jenis fungi mikoriza anggrek. A. Rizochtonia sp., B. Ceratorhiza sp., dan C. Tulasnella sp. Agustini, V., S. Sufaati dan Suharno. 2009. Mycorrhizal Association of Terrestrial Orchids of Cycloops Nature Reserve, Jayapura. Biodiversitas 10(4): 175–180. Agustini, V., D. Katemba, S. Sufaati and Suharno. 2008. Orchid mycorrhiza associated with Geodorum densiflorum (Lam.) Schltr. at Uncen Campus Waena– Jayapura. Poster Presented on the 9th New Guinea Biology Conference. Jayapura, 24 – 26 Juli 2008. Athipunyakom, P., L. Manoch, and C. Piluek. 2004. Isolation and identification of mycorrhizal fungi from eleven terrestrial orchids. Nat. Sci. 38(2): 216 – 228. Brundrett, M. 2008. Mycorrhizal Associations: The Web 38 JUR NAL B IO L O GI PAP UA 2(1) : 32-38 Resource. Section 1. Introduction (On-line).http:// www.mycorrhizas.info/intro.html, diakses 31 Desember 2008. Brundrett, M., N. Bougher, B. Dell, T. Grove and N. Malajczuk 1996. Working with mycorrhizas in forestry and agriculture. ACIAR Monograph. Brundett, M.C., A. Scade, A.L. Batty, K.W. Dixon, K. Sivasithamparam. 2003. Development of in situ and ex situ seed baiting techniques to detect mycorrhizal fungi from terrestrial orchid habitats. Mycol.Res. 107 (10):1210-1220. Koide, R.T. and B. Mosse. 2004. A history of research on arbuscular mycorrhiza Mycorrhiza. 14: 145–163. Kormanik, P.P. and A.-C. Mc.Graw. 1984. Quantification of vesicular–arbucular Mycorrhizae in palnt roots. In: Methods and Principles of Mycorrhizal Research (N.C. Schenck, Ed.) 1984. The American Phytopathological Society, Minnesota. pp: 37–45. Manoch, L. and P. Lohsomboon. 1991. Isolation of mycorrhizal fungi from orchid roots. In: SEAMEO BIOTROP–Chiang Mai University Regional Training Course on Biology and Technology of Mycorrhiza 2: 5. Sufaati, S. and Suharno. 2005. Potential Ectomycorrhyza of Mount Cyclops Natural Reserve, Jayapura. Paper presented on the 7th Biology Conference. Uncen, 2005. Sufaati, S., Suharno, dan V. Agustini. 2008. Peman-faatan ektomikoriza Scleroderma strain Papua dalam pertumbuhan awal Gnetum sp. Makalah dipresentasikan pada seminar Asosiasi Mikoriza Indonesia di Padang. 12–15 Nopember 2008. Sufaati, S., V. Agustini, dan Suharno. 2008. Keanekaragaman Scleroderma spp di Papua. Makalah dipresentasikan pada seminar Asosiasi Mikoriza Indonesia di Padang. 12–15 Nopember 2008. Sufaati, S. dan Suharno. 2009. Identifikasi endomikoriza pada tanaman pertanian dan gulma serta interaksinya di lahan pertanian daerah transmigrasi Koya Barat, Jayapura. Laporan Penelitian. Universitas Cenderawasih, Jayapura. Suharno, S. Sufaati, dan V. Agustini. 2008. Perkembangan penelitian endomikoriza: Mikoriza dari peneliti untuk masyarakat. SAINS. 8(1): 41–46. Suharno, S. Sufaati and L.Y. Chrystomo. 2006. Status of Vesicular Arbuscular Mycorrhiza (VAM) fungi on sweet corn plantation (Zea mays L.) Koya Barat, Jayapura–Papua. Poster presented on the 8th International New Guinea Biological Conference. Port Moresby. Papua New Guinea. Suharno, S. Sufaati., dan V. Agustini. 2008. Keberadaan endomikoriza pada tanaman matoa (Pometia pinnata Forst.) di Manokwari, Papua Barat. Poster dipresentasikan pada seminar Asosiasi Mikoriza Indonesia di Padang. 12–15 Nopember 2008. Supriyanto. 2001. Spore collection from the soil. Materi Pelatihan Mikoriza. Seameo-Biotrop, Bogor. JURNAL BIOLOGI PAPUA Volume 2, Nomor 1 Halaman: 32–38 ISSN: 2086-3314 April 2010 HALAMAN KOSONG