e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. MENDEKATKAN NUANSA NEGERI SAKURA DI SMA NEGERI 1 PURWAREJA KLAMPOK MELALUI PENGENALAN BUDAYA DAN BAHASA Ika Hervina Widyaningtyas1. Islami Fatwa2. Trisfayani3. Nurul Fadieny4. Wahyu Isnanda Nasution5 1,3Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Malikussaleh 2Pendidikan Vokasional Teknik Mesin. Universitas Malikussaleh 4Pendidikan Fisika. Universitas Malikussaleh 5Agribisnis. Universitas Malikussaleh ikahervina@unimal. Islamifatwa@unimal. Trisfayani@unimal. fadieny@unimal. id4, wahyuisnanda@unimal. ABSTRAK Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan demi kemajuan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang kepada siswa SMA Negeri 1 Purwareja Klampok sebagai upaya untuk membuka wawasan global dan meningkatkan kompetensi lintas budaya. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendidikan masyarakat berupa pelatihan interaktif yang mencakup pengenalan dasar bahasa Jepang serta pengenalan budaya Jepang secara umum. Kegiatan berlangsung pada 25 Februari 2026 00 WIB di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok dan diikuti oleh 36 siswa kelas X-H. Hasil kegiataan menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para peserta, yang terlihat dari partisipasi aktif selam sesi Kegiatan ini juga menjadi sarana kolaborasi multidisiplin antara dosen bahasa Jepang, bahasa Indonesia, pendidikan fisika, dan agribisnis, yang memperkaya perspektif pengabdian. Kesimpulannya, pengenalan bahasa dan budaya asing sejak dini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global, dan kolaborasi lintas keilmuan memperkuat dampak positif dari kegiatan pengabdian. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi program berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pihak di masa depan. Kata Kunci : Bahasa Jepang, budaya Jepang, pengabdian masyarakat. SMA Negeri 1 Purwareja Klampok ABSTRACT Community service is one of the main pillars of the Tri Dharma of Higher Education which aims to apply science and technology for the advancement of society. This activity aims to introduce Japanese language and culture to students of SMA Negeri 1 Purwareja Klampok as an effort to broaden global insights and improve cross-cultural competence. The implementation method uses a community education approach through interactive training that includes basic Japanese language introduction and general Japanese cultural The activity took place on February 25, 2026 at 10. 00 WIB at SMA Negeri 1 Purwareja Klampok and was attended by 36 students of class X-H. The results showed high enthusiasm from the participants, as seen from their active participation during the training sessions. This activity also served as a multidisciplinary collaboration between lecturers of Japanese language, vocational education. Indonesian language, physics education, and agribusiness, which enriched the perspective of community service. conclusion, the introduction of foreign languages and cultures from an early age is very beneficial to prepare the younger generation to face global challenges, and cross-disciplinary collaboration strengthens the positive impact of community service activities. This activity is expected to become a sustainable program and involve more parties in the future. Keywords: Japanese language. Japanese culture, community service. SMA Negeri 1 Purwareja Klampok e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENDAHULUAN Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mewajibkan setiap perguruan tinggi untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni guna membantu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat (Aritonang dkk. , 2. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan riil yang ada di masyarakat, sehingga dosen dan mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata di luar lingkungan kampus. Melalui pengabdian, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak hanya menjadi teori semata, tetapi dapat diimplementasikan untukmemecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat (Nugroho dkk. , 2. Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk terus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat, dan pengabdian adalah salah satu wujud nyata dari tanggung jawab tersebut. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi secara tegas menyatakan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar kegiatan sukarela, melainkan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan tinggi nasional yang harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis. Dalam konteks ini, dosen memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya bertugas mengajar dan meneliti, tetapi juga harus mampu menerapkan keilmuannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat luas. Pengabdian masyarakat yang berkualitas adalah pengabdian yang mampu memberikan solusi nyata dan berkelanjutan bagi mitra yang dilayani. Salah satu bentuk pengabdian yang semakin relevan di era globalisasi adalah pengenalan bahasa dan budaya asing kepada generasi muda. Bahasa dan budaya merupakan dua aspek yang saling terkait erat dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah alat komunikasi yang memungkinkan manusia untuk berinteraksi, sementara budaya adalah sistem nilai dan norma yang membentuk cara pandang dan perilaku suatu Pemahaman lintas budaya menjadi kompetensi yang sangat penting di tengah masyarakat global yang semakin terhubung (Sakariah & Widiandari, 2. Di era digital saat ini, batas-batas antar Negara menjadi semakin kabur, dan interaksi antarbudaya terjadi setiap hari melalui berbagai platform media social dan digital lainnya. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali dengan kemampuan untuk memahami dan menghargai perbedaan budaya agar dapat bersaing dan berkolaborasi di kancah global. Melalui pengenalan budaya asing sejak dini, generasi muda dapat memiliki perspektif yang lebih luas tentang keragaman dunia serta mampu menghargai perbedaan yang ada. Pemahaman lintas budaya tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan akademis, tetapi juga untuk pengembangan pribadi dan profesional. Seseorang yang memiliki kompetensi lintas budaya cenderung lebih adaptif, lebih mudah berempati, dan lebih mampu bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan nasional tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berwawasan global. Bahasa Jepang menjadi salah satu bahasa asing yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pelajar di Indonesia. Berdasarkan data dari Japan Foundation. Indonesia menduduki peringkat kedua dunia sebagai negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbanyak setelah Republik Rakyat Tiongkok, dengan jumlah 603 orang pada tahun 2018 (Aprilani dkk. , 2. Angka ini menunjukkan bahwa bahasa Jepang memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan Indonesia, baik di tingkat sekolah menengah atas maupun sekolah menengah kejuruan. Jumlah pembelajar bahasa Jepang di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, mencerminkan minat yang besar dari masyarakat Indonesia terhadap bahasa dan budaya Jepang. Fenomena ini tidak terlepas dari kuatnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang yang telah berlangsung selama puluhan tahun di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan. Permintaan terhadap pembelajaran bahasa Jepang juga didorong oleh minat siswa terhadap budaya populer Jepang seperti manga, anime. J-pop, dan fashion yang telah menjadi fenomena global (Aprilani dkk. Budaya populer Jepang telah berhasil menembus pasar global dan diterima oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda. Anime dan manga, misalnya, telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak remaja di Indonesia. Serial-serial anime seperti Naruto. One Piece. Attack on Titan, dan Demon Slayer e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. memiliki penggemar yang sangat banyak di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa minat menonton anime berkorelasi positif dengan kemampuan menyimak bahasa Jepang, terutama dalam hal pemahaman kosakata dan pengucapan (Wardani & Setiawati, 2. Selain itu, anime juga dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk memperkenalkan folklor dan budaya tradisional Jepang kepada pelajar (Ulah & Suryawati, 2. Ketertarikan terhadap budaya populer ini sering kali menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mempelajari lebih dalam tentang bahasa dan budaya Jepang secara keseluruhan. Fenomena ini merupakan peluang besar bagi para pendidik untuk memanfaatkan minat tersebut sebagai media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Fenomena budaya populer Jepang yang dikenal dengan istilah pop culture telah menyebar luas di kalangan remaja Indonesia. Anime, manga, dan berbagai produk budaya Jepang lainnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak siswa SMA. Ketertarikan ini dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang secara lebih mendalam (Suherman, 2. Dengan memanfaatkan minat yang sudah ada, proses pembelajaran bahasa dan budaya Jepang menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang berangkat dari minat siswa akan cenderung lebih efektif karena siswa merasa terlibat secara emosional dan memiliki motivasi intrinsik untuk belajar. Pendidik dapat menggunakan berbagai konten budaya populer sebagai bahan ajar, seperti menggunakan cuplikan anime untuk mengajarkan kosakata atau menggunakan lagu J-pop untuk mengajarkan pengucapan. Selain itu, pengenalan bahasa Jepang juga membuka peluang bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja di Jepang, mengingat banyaknya perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia dan kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Jepang merupakan salah satu mitra dagang terpenting bagi Indonesia. Banyak perusahaan multinasional Jepang yang telah berinvestasi dan membangun pabrik-pabrik di Indonesia, seperti Toyota. Honda. Panasonic, dan Mitsubishi. Perusahaanperusahaan ini membutuhkan tenaga kerja lokal yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Jepang untuk menjembatani komunikasi antara manajemen Jepang dan karyawan Indonesia. Oleh karena itu, penguasaanbahasa Jepang menjadi nilai tambah yang signifikan bagi pencari kerja di Indonesia. Selain itu. Jepang juga membuka peluang bagi tenaga kerja asing melalui berbagai program seperti Technical Intern Training Program (TITP) dan Specified Skilled Worker (SSW) yang membutuhkan kemampuan bahasa Jepang sebagai salah satu syaratnya. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang telah terjalin dengan erat selama lebih dari enam dekade. Kedua negara telah menjalin kerja sama di berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam bidang pendidikan. Jepang secara rutin menawarkan berbagai beasiswa bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi di universitas-universitas Jepang, seperti beasiswa MEXT (Ministry of Education. Culture. Sports. Science and Technolog. dan beasiswa dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Programprogram ini memberikan kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk mendapatkan pendidikan berkualitas di Jepang sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang budaya Jepang. Di sisi lain. Indonesia juga menjadi tujuan favorit bagi wisatawan dan pelajar Jepang yang ingin mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Hubungan timbal balik ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan bagi kedua SMA Negeri 1 Purwareja Klampok dipilih sebagai mitra dalam kegiatan pengabdian ini karena memiliki potensi siswa yang antusias terhadap pengenalan budaya asing. Sekolah yang terletak di Jalan Raya Purwareja Klampok. Dusun Sidodadi. Purworejo. Kecamatan Purwareja Klampok. Kabupaten Banjarnegara. Jawa Tengah ini memiliki lingkungan belajar yang kondusif dan guru-guru yang mendukung pengembangan wawasan siswa di luar kurikulum formal. SMA Negeri 1 Purwareja Klampok, yang akrab disapa SMANSA Perjaka, berdiri pada tanggal 9 November 1983 dan telah berusia lebih dari 40 tahun. Sekolah ini telah terakreditasi A dan memiliki jumlah siswa sebanyak 1. 053 siswa yang dibimbing oleh 52 guru profesional. Jumlah siswa yang besar ini menunjukkan bahwa sekolah memiliki kapasitas dan daya tampung yang memadai untuk berbagai program pengembangan, termasuk program pengenalan bahasa dan budaya asing. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh tim pengabdi, siswa-siswi di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok memiliki ketertarikan yang cukup tinggi terhadap budaya Jepang, terutama melalui konsumsi produk-produk budaya populer seperti anime dan manga. Ketertarikan ini terlihat dari adanya komunitas pecinta anime dan manga di kalangan siswa, serta seringnya mereka berdiskusi tentang berbagai serial anime e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Beberapa siswa bahkan telah memiliki kemampuan dasar bahasa Jepang yang mereka peroleh secara otodidak melalui tontonan anime dan lagu-lagu J-pop. Hal ini menjadi modal dasar yang baik untuk melaksanakan kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang secara lebih terstruktur dan mendalam. Dengan memanfaatkan minat yang sudah ada, kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan bagi pengembangan kompetensi siswa. Kegiatan pengabdian ini melibatkan kolaborasi antar dosen dari lima bidang keilmuan yang berbeda. Dosen pendidikan vokasional berperan dalam mengarahkan keterampilan praktis yang dapat diaplikasikan oleh siswa, serta menghubungkan materi pengenalan budaya Jepang dengan kompetensi kejuruan yang dimiliki siswa. Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam membekali peserta didik dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga integrasi antara pengenalan budaya asing dan keterampilan vokasional menjadi sangat penting (Taufiq dkk. , 2. Sementara itu. Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia memberikan perspektif tentang pentingnya pelestarian bahasa dan budaya Indonesia sebagai bagian dari dialog lintas budaya yang sehat. Dosen pendidikan fisika memberikan pendekatan ilmiah dan analitis dalam pemahaman budaya dan bahasa. Dosen agribisnis memberikan wawasan tentang potensi ekonomi dan peluang usaha yang berkaitan dengan budaya Jepang. Pendekatan multidisipliner ini memungkinkan kegiatan pengabdian tidak hanya berfokus pada pengenalan budaya asing, tetapi juga mempertimbangkan aspek keterampilan terapan . ife skill. , nilai-nilai budaya lokal, dan peluang ekonomi (Theresa dkk. , 2. Kolaborasi lintas disiplin dalam pengabdian masyarakat bukanlah hal yang baru, tetapi semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pendekatan multidisipliner menghasilkan dampak yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dibandingkan dengan pendekatan Dalam konteks pengenalan bahasa dan budaya asing, kolaborasi dengan dosen pendidikan vokasional memungkinkan siswa untuk melihat hubungan antara penguasaan bahasa asing dengan peluang karir di masa depan. Sementara itu, kolaborasi dengan dosen pendidikan bahasa Indonesia memastikan bahwa kegiatan pengenalan budaya asing tidak mengancam eksistensi budaya lokal, tetapi justru memperkayapemahaman siswa tentang keragaman budaya secara keseluruhan. Penelitian tentang pengenalan bahasa dan budaya Jepang di lingkungan pendidikan telah banyak dilakukan oleh para akademisi. Aritonang dkk. melaksanakan kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang kepada siswa sekolah dasar di SD Saraswati 2 Denpasar. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengenalan budaya asing sejak usia dini sangat efektif untuk membangun kesadaran lintas budaya dan meningkatkan minat siswa terhadap bahasa asing. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa siswa sangat antusias mengikuti sesi pengenalan bahasa Jepang dan praktik budaya yang diberikan. Anak-anak sekolah dasar menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menyerap kosakata baru dan mengikuti instruksi dalam bahasa Jepang. Hal ini membuktikan bahwa usia dini adalah masa yang tepat untuk memperkenalkan bahasa dan budaya asing. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Nugroho dkk. yang melaksanakan pemberdayaan masyarakat lokal melalui edukasi budaya Jepang sebagai daya tarik wisata di Kampung Sakura. Kota Batu. Jawa Timur. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengenalan budaya Jepang tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan sumber daya manusia, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya. Kampung Sakura yang mengusung tema budaya Jepang berhasil menarik wisatawan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Keberhasilan Kampung Sakura menunjukkan bahwa budaya Jepang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia, dan potensi ini dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini relevan dengan kegiatan pengabdian yang dilakukan karena siswa SMA yang menjadi peserta memiliki potensi untuk mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan di sektor pariwisata. Sakariah dan Widiandari . dalam penelitiannya tentang integrasi pembelajaran budaya sapaan Jepang melalui bahasa untuk meningkatkan pemahaman siswa SMA terhadap keberagaman budaya menemukan bahwa pengenalan budaya sapaan dalam bahasa Jepang dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun kesadaran tentang keberagaman budaya. Siswa yang mengikuti kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan dan berkomunikasi secara efektif dalam konteks lintas budaya. Penelitian ini juga menemukan bahwa siswa menjadi lebih reflektif terhadap budaya e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. mereka sendiri setelah mempelajari budaya orang lain. Proses refleksi ini penting untuk membangun identitas budaya yang kuat dan sikap toleran terhadap perbedaan. Suherman . melaksanakan pengenalan bahasa dan budaya Jepang untuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) di Kepulauan Seribu. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melayani wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan dari Jepang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penguasaan dasar-dasar bahasa Jepang dan pemahaman tentang budaya Jepang sangat membantu masyarakat dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan Jepang yang berkunjung. Kegiatan ini membuktikan bahwa pengenalan bahasa dan budaya Jepang tidak hanya bermanfaat dalam konteks pendidikan formal, tetapi juga memiliki aplikasi praktis dalam pengembangan sektor pariwisata dan perekonomian Hal ini memperkuat argumen bahwa pengenalan bahasa dan budaya Jepang memiliki nilai strategis yang luas bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Theresa dkk. dalam penelitiannya tentang kolaborasi lintas disiplin dalam mewujudkan pembangunan desa berkelanjutan menunjukkan bahwa pendekatan multidisipliner dalam kegiatan pengabdian masyarakat memberikan dampak yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Kolaborasi antar berbagai bidang keilmuan memungkinkan pengabdian untuk menjangkau berbagai aspek permasalahan masyarakat secara lebih holistik. Penelitian ini relevan dengan kegiatan yang dilakukan karena melibatkan kolaborasi antar dosen dari berbagai disiplin ilmu. Keberhasilan kegiatan pengabdian yang melibatkan kolaborasi lintas disiplin ini menjadi inspirasi dan model bagi kegiatan pengabdian lainnya di masa depan. Berdasarkan uraian di atas, kegiatan pengabdian ini memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai. Pertama, memperkenalkan dasar-dasar bahasa Jepang kepada siswa SMA Negeri 1 Purwareja Klampok melalui pelatihan kosakata dasar, ungkapan sapaan . , dan percakapan sederhana. Kedua, memberikanwawasan tentang budaya Jepang secara umum melalui pengenalan berbagai aspek budaya yang menarik dan mudah dipahami oleh siswa, termasuk budaya populer seperti anime dan manga serta budaya tradisional Jepang. Ketiga, menjalin kerjasama yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan sekolah menengah atas dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keempat, mengimplementasikan kolaborasi lintas disiplin antara dosen dari lima bidang keilmuan yang berbeda dalam kegiatan pengabdian Manfaat dari kegiatan pengabdian ini sangat beragam, baik bagi siswa, sekolah, maupun tim pengabdi. Bagi siswa, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan wawasan baru yang dapat membuka peluang di masa depan, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk memasuki dunia kerja. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkaya program ekstrakurikuler dan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi. Bagi tim pengabdi, kegiatan ini menjadi ajang untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki serta memperluas jaringan kerjasama dengan institusi pendidikan lainnya. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi kegiatan pengabdian serupa di sekolah-sekolah lain, baik di Kabupaten Banjarnegara maupun di daerah lainnya di Indonesia. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pendidikan masyarakat yang meliputi pelatihan dan demonstrasi interaktif. Metode ini dipilih karena dinilai paling efektif untuk memberikan pemahaman dan keterampilan secara langsung kepada peserta. Pendekatan interaktif memungkinkan siswa untuk tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap sesi Selain itu, metode ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi sehingga pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan menjadi lebih mendalam. 1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok yang beralamat di Jalan Raya Purwareja Klampok. Dusun Sidodadi. Purworejo. Kecamatan Purwareja Klampok. Kabupaten Banjarnegara. Jawa Tengah 53474. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada potensi siswa yang memiliki minat terhadap budaya Jepang dan kesediaan pihak sekolah untuk menjadi mitra dalam kegiatan pengabdian. Kegiatan berlangsung pada 25 Februari 2026 pukul 10. 00 - 12. 00 WIB. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. 2 Peserta Kegiatan. Peserta kegiatan adalah siswa kelas X-H SMA Negeri 1 Purwareja Klampok yang berjumlah 36 siswa. Pemilihan peserta didasarkan pada rekomendasi dari guru pendamping di sekolah yang menilai bahwa siswasiswa tersebut memiliki minat yang tinggi terhadap pengenalan budaya asing. Seluruh peserta hadir dan mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Daftar nama peserta telah didokumentasikan dan dikonfirmasi oleh pihak sekolah melalui Surat Keterangan Pelaksanaan yang ditandatangani oleh Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Ibu Linovia Karmelita. Sos. 3 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang telah dirancang secara sistematis dalam durasi 2 jam. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: Tahap 1: Pembukaan dan Perkenalan . 00 - 10. 20 WIB) Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang dipandu oleh tim pengabdi. Pada sesi ini, tim pengabdi memperkenalkan diri dan menyampaikan latar belakang serta tujuan dari kegiatan pengabdian. Siswa juga diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri secara singkat. Sesi pembukaan ini bertujuan untuk membangun hubungan yang akrab antara tim pengabdi dan peserta, sehingga siswa merasa nyaman untuk berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Ibu Linovia Karmelita. Sos. , memberikan sambutan dan menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini di sekolahnya. Tahap 2: Pengenalan Bahasa Jepang Dasar . 20 - 10. 50 WIB) Pada tahap ini, siswa diberikan pelatihan tentang dasar-dasar bahasa Jepang. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan huruf hiragana dasar, kosakata umum dalam bahasa Jepang, serta ungkapan sapaan . yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak untuk mempraktikkan langsung pengucapan kata-kata dalam bahasa Jepang dengan bimbingan dari dosen bahasa Jepang. Untuk mempermudah pemahaman, materi disampaikan dengan menggunakan media visual berupa slide PowerPoint. Tahap 3: Pengenalan Budaya Jepang . 50 - 11. 30 WIB) Pada tahap ini, siswa dikenalkan dengan berbagai aspek budaya Jepang yang menarik dan mudah Materi yang disampaikan mencakup budaya populer seperti anime dan manga, serta budaya tradisional Jepang secara umum. Pemaparan materi dilakukan menggunakan slide PowerPoint yang dilengkapi dengan gambar-gambar menarik untuk meningkatkan pemahaman dan minat siswa. Setelah pemaparan, siswa diajak untuk berdiskusi dan bertanya seputar budaya Jepang yang telah Tahap 4: Sesi Tanya Jawab dan Diskusi . 30 - 11. 50 WIB) Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif. Siswa diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan atau tentang Jepang secara umum. Tim pengabdi memberikan jawaban dan penjelasan yang Sesi ini juga dimanfaatkan untuk menggali pemahaman siswa tentang pentingnya menghargai keberagaman budaya dan bagaimana budaya lokal tetap dijaga di tengah arus budaya Diskusi ini dipandu oleh dosen pendidikan bahasa Indonesia yang memberikan perspektif tentang pentingnya keseimbangan antara apresiasi terhadap budaya asing dan pelestarian budaya Tahap 5: Penutupan . 50 - 12. 00 WIB) Kegiatan diakhiri dengan sesi penutupan yang berisi kesimpulan dari seluruh rangkaian kegiatan. Tim pengabdi menyampaikan pesan-pesan motivasi kepada siswa tentang pentingnya memiliki wawasan global tanpa melupakan identitas budaya sendiri. 4 Peran Kolaborator Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan tiga dosen dari bidang keilmuan yang berbeda. Peran masingmasing dosen dalam kegiatan adalah sebagai berikut: Ika Hervina Widyaningtyas (Pendidikan Bahasa Jepan. : Bertanggung jawab sebagai pemateri utama e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. dalam sesi pengenalan bahasa Jepang dan budaya Jepang. Dosen ini merancang materi pelatihan, menyusun slide presentasi, dan memandu sesi pelatihan bahasa Jepang serta sesi pengenalan budaya Jepang secara umum. Islami Fatwa (Pendidikan Vokasional Teknik Mesi. : Berperan dalam mengarahkan keterampilan praktis yang dapat diaplikasikan oleh siswa. Dosen ini membantu menghubungkan materi pengenalan bahasa dan budaya Jepang dengan kompetensi kejuruan siswa, serta memberikan wawasan tentang peluang kerja di industri yang berhubungan dengan Jepang. Trisfayani (Pendidikan Bahasa Indonesi. : Berperan dalam memberikan perspektif tentang pentingnya pelestarian bahasa dan budaya Indonesia di tengah arus globalisasi. Dosen ini memandu sesi diskusi tentang keseimbangan antara apresiasi budaya asing dan cinta terhadap budaya sendiri, serta membantu siswa merefleksikan nilai-nilai budaya lokal. Nurul Fadieny (Pendidikan Fisik. : Berperan dalam memberikan pendekatan ilmiah dan analitis dalam pemahaman budaya dan bahasa. Dosen ini membantu siswa memahami keterkaitan antara sains dan budaya, serta memberikan perspektif tentang pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam mempelajari bahasa asing. Wahyu Isnanda Nasution (Agribisni. : Berperan dalam memberikan wawasan tentang potensi ekonomi dan peluang usaha yang berkaitan dengan budaya Jepang, seperti sektor pariwisata, kuliner, dan industri kreatif. Dosen ini membantu siswa melihat peluang pengembangan usaha berbasis budaya asing. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok pada 25 Februari 2026 pukul 10. 00 WIB berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang sangat positif dari pihak sekolah maupun para peserta. Berdasarkan data yang dihimpun dari daftar hadir, seluruh 36 siswa kelas X-H yang terdaftar hadir dan mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ini mendapatkan perhatian dan antusiasme yang tinggi dari siswa. 1 Materi yang Disampaikan dalam Pelatihan Materi pelatihan disampaikan melalui presentasi PowerPoint yang mencakup pengenalan huruf Jepang (Hiragana. Katakana, dan Kanj. , kosakata dasar, serta pengenalan budaya Jepang secara umum. Beberapa slide yang digunakan dalam sesi pelatihan disajikan pada Gambar 1. Gambar 2, dan Gambar 3 Gambar 1. Slide Materi Pengenalan Huruf Jepang (Hiragana. Katakana. Kanj. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Gambar 2. Slide Materi Pengenalan Kosakata Makanan Jepang (Tabemon. Gambar 3. Slide Materi Pengenalan Budaya Populer Jepang (Anim. 2 Antusiasme dan Partisipasi Peserta Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi. Hal ini terlihat dari keaktifan siswa dalam setiap sesi, baik sesi pemaparan materi, sesi tanya jawab, maupun sesi diskusi. Pada sesi pengenalan bahasa Jepang, siswa dengan antusias mengikuti pengucapan kata-kata dan ungkapan dalam bahasa Jepang. Beberapa siswa bahkan terlihat mencatat dengan tekun materi yang disampaikan. Pada sesi pengenalan budaya Jepang, siswa terlihat sangat tertarik dengan materi yang disampaikan, terutama terkait budaya populer Jepang seperti anime dan manga yang sudah akrab di telinga mereka. Antusiasme siswa juga terlihat pada sesi tanya jawab dan diskusi. Banyak siswa yang mengajukan pertanyaan menarik seputar bahasa Jepang, budaya populer Jepang, hingga peluang studi dan bekerja di Jepang. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menunjukkan bahwa siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sudah mulai memikirkan masa depan mereka. Dosen pendidikan bahasa Indonesia yang memandu sesi diskusi berhasil mengarahkan siswa untuk tidak hanya berfokus pada budaya Jepang, tetapi juga merefleksikan kekayaan budaya Indonesia yang tidak kalah menariknya. Diskusi ini berjalan dengan dinamis e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. dan memberikan wawasan baru bagi siswa tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara apresiasi terhadap budaya asing dan pelestarian budaya sendiri. 3 Manfaat dan Dampak Kegiatan Kegiatan pengabdian ini memberikan berbagai manfaat yang signifikan bagi siswa, sekolah, dan tim Bagi siswa, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan wawasan baru yang dapat membuka peluang di masa depan. Pengenalan bahasa Jepang dasar memberikan bekal awal bagi siswa yang tertarik untuk mempelajari bahasa Jepang lebih lanjut. Sementara itu, pengenalan budaya Jepang secara umum memberikan pemahaman tentang keragaman budaya dunia dan meningkatkan apresiasi siswa terhadap perbedaan budaya. Siswa juga mendapatkan wawasan tentang pentingnya memiliki kompetensi lintas budaya di era globalisasi. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkaya program ekstrakurikuler dan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi. Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Ibu Linovia Karmelita. Sos. , menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap kerjasama serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan di masa depan. Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa kegiatan pengenalan bahasa dan budaya asing sangat bermanfaat untuk membentuk karakter siswa yang berwawasan global dan siap menghadapi tantangan di era masyarakat global. Bagi tim pengabdi, kegiatan ini menjadi ajang untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki serta memperluas jaringan kerjasama dengan institusi pendidikan lainnya. Kolaborasi lintas disiplin yang terjalin dalam kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga tentang pentingnya pendekatan multidisipliner dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat. 4 Sinergi Kolaborasi Lintas Disiplin Salah Salah satu aspek yang membuat kegiatan ini berbeda dari kegiatan pengabdian pada umumnya adalah adanya kolaborasi antar dosen dari lima bidang keilmuan yang berbeda, yaitu bahasa Jepang, pendidikan vokasional, pendidikan bahasa Indonesia, pendidikan fisika, dan agribisnis. Kolaborasi ini terbukti memperkaya pelaksanaan kegiatan dan memberikan dampak yang lebih komprehensif bagi Pendekatan multidisipliner ini memungkinkan kegiatan pengabdian tidak hanya berfokus pada satu aspek keilmuan, tetapi juga mempertimbangkan berbagai dimensi seperti keterampilan praktis . ife skill. , nilai-nilai budaya lokal, dan peluang ekonomi (Theresa dkk. , 2. Dosen bahasa Jepang berperan sebagai pemateri utama yang memberikan pengetahuan tentang bahasa dan budaya Jepang. Keahlian ini menjadi inti dari kegiatan pengabdian yang dilaksanakan. Namun, tanpa adanya kontribusi dari dosen pendidikan vokasional, kegiatan ini mungkin hanya akan berhenti pada aspek pengetahuan tanpa memberikan gambaran tentang aplikasi praktisnya. Dosen pendidikan vokasional berhasil menjembatani materi pengenalan budaya Jepang dengan kompetensi kejuruan siswa, seperti potensi karir di bidang pariwisata, perhotelan, atau industri kreatif yang berhubungan dengan Jepang. Sementara itu, dosen pendidikan bahasa Indonesia berperan penting dalam memberikan Di tengah maraknya budaya populer Jepang yang digemari siswa, dosen pendidikan bahasa Indonesia mengingatkan siswa tentang pentingnya tidak melupakan kekayaan budaya Indonesia sendiri. Diskusi yang dipandu oleh dosen ini membuka mata siswa bahwa apresiasi terhadap budaya asing harus diimbangi dengan cinta dan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Dosen pendidikan fisika memberikan pendekatan ilmiah yang membantu siswa memahami budaya secara lebih analitis, sedangkan dosen agribisnis membuka wawasan siswa tentang peluang ekonomi yang dapat dikembangkan dari pemahaman budaya e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Tabel 1. Hasil Evaluasi Kegiatan Pengabdian 5 Refleksi dan Pembelajaran Setelah melaksanakan kegiatan ini, tim pengabdi melakukan refleksi terhadap seluruh proses yang telah Beberapa hal yang menjadi pembelajaran penting dari kegiatan ini adalah: pertama, pentingnya persiapan yang matang, terutama dalam hal koordinasi dengan pihak sekolah dan penyiapan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Kedua, pentingnya melibatkan siswa secara aktif melalui metode interaktif dan diskusi, karena metode ini terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan minat siswa. Ketiga, kolaborasi lintas disiplin terbukti memberikan nilai tambah yang signifikan, sehingga perlu dipertahankan dan bahkan diperluas di kegiatan-kegiatan selanjutnya. Keempat, durasi 2 jam terbukti cukup untuk menyampaikan materi dan diskusi, meskipun untuk pengembangan ke depan dapat ditambah menjadi 3 jam agar sesi diskusi lebih maksimal. KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH 1 Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok pada 25 Februari 2026 pukul 10. 00 WIB, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Kegiatan pengenalan bahasa dan budaya Jepang di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok berhasi dilaksanakan dengan baik dan diikuti oleh 36 siswa kelas X-H. Seluruh siswa hadir dan mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan penuh antusiasme. Metode pendidikan masyarakat berupa pelatihan interaktif dan diskusi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap bahasa dan budaya Jepang. Siswa menunjukkan partisipasi aktif dalam setiap sesi kegiatan. Tujuan kegiatan yang meliputi pengenalan dasar-dasar bahasa Jepang, pemberian wawasan tentang budaya Jepang secara umum, dan penjalinan kerjasama antara perguruan tinggi dan sekolah tercapai dengan baik. Siswa mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru yang bermanfaat, sementara sekolah mendapatkan program tambahan yang memperkaya kurikulum mereka. Kolaborasi lintas disiplin antara dosen bahasa Jepang, pendidikan vokasional, pendidikan bahasa Indonesia, pendidikan fisika, dan agribisnis terbukti memberikan nilai tambah dan memperkuat dampak Pendekatan multidisipliner memungkinkan kegiatan pengabdian memberikan manfaat yang lebih komprehensif bagi peserta. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2026. Vol. 5 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Durasi 2 jam . 00 WIB) terbukti cukup untuk melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan, meskipun untuk pengembangan ke depan dapat dipertimbangkan penambahan waktu untuk sesi diskusi yang lebih mendalam. 2 Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada: Kepala SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Ibu Linovia Karmelita. Sos. , beserta seluruh jajaran yang telah memberikan izin, dukungan, dan fasilitas sehingga kegiatan pengabdian ini dapat berjalan dengan lancar. Bapak/Ibu guru pendamping yang telah membantu koordinasi kegiatan dan mendampingi siswa selama pelaksanaan kegiatan. Seluruh 36 siswa kelas X-H SMA Negeri 1 Purwareja Klampok yang telah berpartisipasi dengan antusias dalam kegiatan ini. Daftar Pustaka