Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 PENERAPAN EDUKASI DIET SEIMBANG UNTUK MENGATASI KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH DI RS UKI & PUSDIKKES JAKARTA Yanti AnggrainiA. Felicia Vanny MayoanA Dosen Prodi Sarjana Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia1 Alumni Program Studi Di Keperawatan Fakultas Vokasi Universitas Kristen IndonesiaA *Koresponden: Yanti Anggraini. Alamat: Jl. Mayjen Sutoyo No 2. Cawang UKI Jakarta Timur, 13630. Email: yanti. anggraini@uki. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 09 sept Abstrak Di dunia pasien diabetes mellitus Ada sekitar 111,2 juta individu berusia antara 65 dan 79 tahun, dan 463 juta orang berusia antara 20 dan 79 tahun. Fakta bahwa banyak pasien dan keluarga mereka masih kurang memahami diabetes melitus dan tidak menjalankan diet ketat merupakan salah satu masalah yang ditemukan selama rawat inap. Hal ini ditunjukkan dengan kebiasaan makan yang tidak sesuai dengan anjuran dan fakta bahwa beberapa pasien terus mengonsumsi makanan yang menyebabkan kadar gula darah jauh di atas normal. Penatalaksanaan non-farmakologis diabetes melitus yaitu, melakukan edukasi diet seimbang pada pasien dan keluarganya. Tujuan : untuk meneliti bagaimana dua individu dengan diabetes melitus tipe II diajarkan tentang diet seimbang. Metode: Melalui empat hari instruksi gizi seimbang, studi kasus ini menggunakan metode deskriptif untuk memandu proses keperawatan keluarga. Hasil: Setelah dilakukan penerapan edukasi diet DM seimbang selama 4 hari terjadi peningkatan nafsu makan dan menurunnya hasil GDS pada kedua pasien. Pasien 1 mengalami peningkatan nafsu makan dari 8 sendok menjadi 1 porsi, tidak ada keluhan mual dan muntah serta terjadi penurunan hasil GDS dari 400 mg/dl menjadi 141 mg/dl, sedangkan pada pasien 2 juga mengalami peningkatan nafsu makan dari 4 sendok menjadi 1 porsi, ada keluhan mual dan muntah dan penurunan hasil GDS dari 246 mg/dl menjadi 110 mg/dl. Kesimpulan : edukasi diet seimbang DM efektif menurunkan hasil gula darah, meningkatkan nafsu makan dan mengurangi keluhan mual dan muntah pada pasien diabetes mellitus. Direkomendasikan agar perawat agar tetap memberikan edukasi diet seimbang DM pada pasien diabetes mellitus. Kata Kunci: Diabetes Mellitus. Diet Seimbang. GDS Latar Belakang tidak menular yang berkontribusi terhadap beban penyakit pernapasan kronis, diabetes melitus, global (Aritonang dkk, 2. Kondisi kronis yang dikenal kanker, dan penyakit kardiovaskular adalah contoh penyakit sebagai diabetes melitus disebabkan oleh tubuh yang Kondisi Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 menggunakan insulin secara tidak efisien atau pankreas yang Berdasarkan hasil Riskesdas . Dari 10,5 juta memproduksi insulin dalam jumlah yang tidak memadai. Jakarta. Hormon insulin mengatur glukosa, atau gula darah. Di antara meningkat menjadi 3,4%, atau sekitar 250. 000 orang yang empat penyakit tidak menular yang telah ditekankan oleh mengidap penyakit ini. Karena jumlah penduduknya yang para pemimpin internasional untuk ditangani adalah diabetes sangat besar dan banyaknya fasilitas pemeriksaan gula darah melitus, menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang yang tersebar di seluruh kota. Jakarta memiliki prevalensi serius (WHO, 2. diabetes melitus tertinggi di antara provinsi-provinsi lainnya. Menurut International Diabetic Foundation/IDF Sebanyak 32. 400 orang di Jakarta Timur menderita diabetes . Diperkirakan 463 juta orang berusia antara 20 dan 79 Setelah Jakarta Selatan. Jakarta Timur memiliki tahun di seluruh dunia menderita diabetes melitus. Pada jumlah penderita diabetes melitus tertinggi kedua (Riskesdas, tahun 2019, 9,3% penduduk di semua kelompok usia menderita diabetes melitus. Menurut perkiraan, pada tahun Penderita diabetes melitus mengalami peningkatan 2019, 9% perempuan dan 9,65% laki-laki menderita diabetes rasa haus . , peningkatan frekuensi buang air kecil Seiring bertambahnya usia penduduk, diperkirakan . , dan, seiring memburuknya kondisi, penurunan akan ada tambahan 111,2 juta orang berusia antara 65 dan 79 berat badan meskipun keinginan buang air kecil meningkat tahun yang menderita diabetes. Prevalensi ini diperkirakan . Komplikasi jangka panjang akibat diabetes melitus akan terus meningkat, mencapai 700 juta pada tahun 2045 dan 578 juta pada tahun 2030. Pendapat dari Center For Disease control and retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati sensorik prevention / CDC . , prevalensi penderita diabetes . ang memengaruhi ekstremita. , proteinuria, serta penyakit melitus di Amerika Serikat secara keseluruhan diperkirakan makrovaskular dan mikrovaskular (Black & Hawks, 2014 hal pada tahun 2018 adalah, 34,2 juta orang untuk semua usia : . dengan 10,5%. Prevalensi pada penderita diabetes melitus Pada pasien diabetes melitus untuk pengobatannya yang berusia 18 tahun ke atas sebanyak 34,1 juta. Presentasi orang dewasa dengan diabetes melitus meningkat seiring bertambahnya usia mencapai 26,8% di antara mereka yang farmakologis pada diabetes mellitus yaitu terdiri dari obat berusia 65 tahun keatas. oral dan suntikan. Seperti antidiabetes oral, antihiperglikemia Penatalaksanaan Menurut International Diabetic Foundation South oral dan terapi insulin. Kemudian penatalaksanaan non- East Asia . , prevalensi di Asia Tenggara sebesar 88 juta farmakologis diabetes melitus yaitu, melakukan edukasi pada usia dewasa beraktivitas bersama diabetes pada periode pasien dan keluarganya, terapi diet, mengajarkan teknik Pada tahun 2045, angka tersebut diperkirakan bisa relaksasi, dan latihan atau olahraga yang membantu dalam mengalami kenaikan keangka 153 juta. Pada tahun 2007, melakukan pemulihan pada pasien penderita diabetes melitus 5,7% penduduk Indonesia menderita diabetes melitus. (Black &Hawks, 2014 hal : . tahun 2013, angka tersebut naik ke angka 6,9%, atau sebesar Pasien diabetes melitus dapat mengalami masalah 9,1 juta orang. Menurut temuan terbaru dari Federasi keperawatan seperti kadar gula darah yang berfluktuasi. Diabetes Internasional (IDF) pada tahun 2017, 10,3 juta asupan nutrisi dan hidrasi yang tidak memadai, risiko infeksi, warga negara Indonesia mengalami diabetes melitus, gangguan integritas kulit, kelelahan, dan ketidaktahuan. menempatkan negara ini di peringkat keenam di dunia Masalah utama bagi perawat adalah ketidakstabilan glukosa (Kemenkes RI, 2. Setiap perubahan kadar gula darah, baik meningkat Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 maupun menurun dari kisaran stabil, disebut sebagai kesehatan menggunakan spanduk mengenai edukasi diet ketidakstabilan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2. seimbang pada pasien diabetes melitus baik di lingkungan layanan kesehatan, perkantoran umum serta lingkungan masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa pada Tindakan Aspek preventif sebagai educator atau pemberi penderita diabetes melitus yakni melaui, kaji tanda serta informasi dimana petugas medis menyampaikann informasi gejala hiperglikemia, kaji kadar glukosa darah sesuai indikasi. Aspek kuratif yakni berperan dalam care giver monitor status cairan termasuk input dan output sesuai dalam pemberian asuhan keperawatan sesuai standar asuhan (Mubarak Chayatin. Dalam hiperglikemia, edukasi diet seimbang, dan kolaborasi meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pasien terhadap pemberian cairan IV dan pemberian insulin. Dengan tindakan kondisi pasien diabetes melitus akan lebih efektif di lakukan edukasi diet seimbang tersebut diharapkan pasien memahami dengan memberikan edukasi kesehatan oleh perawat tentang program diet dan pola makan yang seimbang yang diet seimbang pada pasien diabetes melitus. Merujuk pada hal disesuaikan dengan jumlah makanan, jenis makanan, dan di atas maka penulis tertarik melaksanakan penelitian yang jadwal makan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2. berjudul AuPenerapan edukasi diet seimbang untuk mengatasi Salah satu aspek krusial perawatan dan pengobatan diabetes bagi penderita diabetes melitus adalah kontrol pola ketidakstabilan kadar glukosa di RS UKI dan Pusdikkes JakartaAy. Dengan mengubah kebiasaan makan, manajemen nutrisi bertujuan untuk membantu pasien diabetes melitus Tujuan Penelitian meningkatkan kontrol metabolik. Berdasarkan kemampuan untuk meneliti bagaimana dua individu dengan diabetes dan keinginan penderita diabetes melitus, evaluasi nutrisi melitus tipe II diajarkan tentang diet seimbang dilakukan untuk mengevaluasi kebutuhan nutrisi (Black & Hawks, 2014 hal : . Metode Penelitian Terdapat penderita yang tetap mengonsumsi makanan yang menyebabkan kadar gula darah menyimpang dari normal serta frekuensi makan yang tidak sesuai dengan anjuran, menunjukkan bahwa masih banyak pasien dan keluarganya yang belum menyadari tentang penyakit diabetes melitus serta belum bersedia dan belum mampu Desain Penelitian Studi kasus menggunakan teknik deskriptif dan strategi kerja perawat yang melibatkan pemeriksaan fisik, observasi, dan wawancara untuk melihat masalah dan kondisi yang dihadapi, yang dipandang secara objektif. Subjek penelitian adalah 2 orang pasien yang didiagnosis Diabetes Mellitus oleh dokter. melaksanakan kepatuhan diet, berdasarkan pengamatan penulis selama praktik di ruang perawatan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Thresia, dkk . , terhadap 48 responden diabetes melitus di Puskesmas Sudiang Raya Kota Makassar, menunjukkan bahwa umumnya responden tidak patuh terhadap kepatuhan diet diabetes melitus sebanyak 44 orang . ,1%). Perawat Populasi dan Sampel Populasi studi kasus ini terdiri dari 2 orang pasien. Kriteria inklusi: lansia berusia > 20 tahun dengan diagnosis medis gejala Diabetes Mellitus dan Pasien baru dirawat inap selama 3 hari dengan diagnosis yang sama. Pasien dan keluarga yang kurang memahami tentang edukasi diabetes mellitus dan penanganan pasien diabetes melitus dengan memberikan asuhan keperawatan dari aspek promotif, preventif, kuratif. Kriteria Ekslusif: Pasien yang menolak informed consent, tidak memiliki rekam medis lengkap, pasien yang pulang saat penelitian dan pasien yang mengalami komplikasi dan rehabilitative. Aspek promotif dilakukan oleh tenaga Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 diabetis ketoasidosis, sindrom hiperglikemik hyperosmolar Pemberian edukasi diet seimbang pada pasien diabetes nonketotic dan gangguan mikrovaskular dan makrovaskular. mellitus dengan masalah keperawatan ketidakstabilan kadar Hasil Penelitian glukosa darah akan dijelaskan sebagai berikut: Langkah pertama dalam memberikan perawatan adalah Pasien 1 dari hasil anamnesis keluhan utama nafsu makan Wawancara pasien dan keluarga, observasi, berkurang 2 minggu SMRS, mual dan muntah 5 kali, pemeriksaan fisik, data laboratorium, rontgen tulang mengalami penurunan berat badan 10 kg dalam 2 minggu dari belakang, rekam medis, dan catatan resep digunakan untuk berat badan awal 60 kg menjadi 50 kg, tidak ada gangguan mengumpulkan data utama dan sekunder dalam studi kasus pada sistem respirasi, kardiovaskular, musculoskeletal, neurologi hanya saja di sistem pencernaan yaitu pasien mengeluh nafsu makan berkurang 2 minggu SMRS, mual Pasien 1 laki Ae laki dengan usia 54 tahun, islam, diagnosa muntah 4 x/hari, jumlah 200 cc. ada nyeri pada daerah ulu hati medis diabetes mellitus tipe II, keluhan nafsu makan dengan skala 3 seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul. Hasil berkurang 2 minggu SMRS, mual dan muntah 5 kali, pemeriksaan didapatkan Ureum = 119 mg/dl. Kreatinin= 1,73 mengalami penurunan berat badan 10 kg dalam 2 minggu dari mg/dl, pemeriksaan GDS tanggal 27 april 2025= 400 mg/dl. berat badan awal 60 kg menjadi 50 kg, dan nyeri pada bagian Terapi obat Novorapid 14 unit 3x 1 (SC), metrodinazole 3X ulu hati dengan skala 3, nyeri yang dirasakan seperti ditusuk- 500 mg IV. Omeprazole 1x 40 mg IV. Ondansentron 2X 1 tusuk dan hilang timbul. Ada luka pada kaki disebelah kanan ampul dan Ranitidine 1x 1 ampul dan Diet DM 1990 kkal dikarena terkena batu dan luka makin membesar, dan pasien . tidak tahu jika memliki riwayat penyakit diabetes Kesadaran compos mentis, dilakukan Pemeriksaan tanda-tanda vital: S = Masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah 36,9 C. RR: 20 x/m. N: 93 x/menit, dan TD: 134/74 mmHg. dan tindakan dilakukan edukasi diet seimbang. Tahap awal Tidak ada riwayat medis pasien. Menurut pasien, tidak ada mengkaji dan menanyakan makanan yang disukai dan tidak riwayat keluarga diabetes, penyakit jantung. TBC, atau kondisi disukai dan timbang berat badan. Dilanjutkan, memberikan terapi obat injeksi novorapid 14 unit disuntik di subcutan, memantau asupan makanan pasien dan menanyakan apakah Pasien 2 laki Ae laki dengan usia 56 tahun, islam, diagnosa masih merasakan mual dan muntah. Menganjurkan pada medis diabetes mellitus tipe II, keluhan nafsu makan pasien untuk makan sedikit tapi sering. Memberikan edukasi berkurang 1 minggu SMRS, mual dan muntah 6 kali, kesehatan tentang diet seimbang pada diabetes melitus mengalami penurunan berat badan 10 kg dalam 1 minggu dari kepada pasien dan keluarga dan Memberikan obat injeksi berat badan awal 58 kg menjadi 48 kg, dan nyeri pada bagian ranitidine 1 ampul, ondasentron 1 ampul, dan omeprazole 40 ulu hati dengan skala 5, nyeri yang dirasakan seperti ditusuk- tusuk dan hilang timbul, dan pasien tidak tahu jika memliki riwayat penyakit diabetes. Kesadaran compos mentis. Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan dan edukasi dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital TD : 163/93 mmHg, diet nutrisi selama 4x24 jam masalah ketidakstabilan nutrisi N : 99x/menit. RR : 20 x/menit. S : 36 AC. Pasien memiliki Penulis melakukan evaluasi dengan tercapainya yang riwayat penyakit maag. Anggota keluarga tidak ada yang diinginkan yaitu hasil GDS hari keempat menurun menjadi = mempunyai riwayat penyakit jantung. TBC, diabetes, dan lain- 141 mg / dl dan pasien sudah bisa menghabiskan 1 porsi makanan. TD :125/80 mmHg. N : 89 x/menit. RR : 20 x/menit. S : 36,5 AC. BB : 50 kg. TB : 165 cm. IMT : 18 kg/m3 . Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Pasien tampak segar dan rileks. 29-04-2021 30-04-2021 Pasien 2 keluhan utama nafsu makan berkurang 1 minggu SMRS, mual dan muntah 6 kali, mengalami penurunan berat 241 mg/dl 141 mg/dl Tabel 2. Pemeriksaan GDS dan Porsi Makanan Pada Pasien 2 badan 10 kg dalam 1 minggu dari berat badan awal 58 kg menjadi 48 kg, tidak ada gangguan pada sistem respirasi, kardiovaskular, musculoskeletal, neurologi hanya saja di sistem pencernaan yaitu pasien mengeluh ada muntah yang berisi cairan, frekuensi muntah 6 x/hari, jumlah 350 cc. nyeri pada daerah ulu hati dengan skala 5 seperti ditusuktusuk dan hilang timbul. Hasil pemeriksaan didapatkan pemeriksaan GDS = 246 mg/dl. Terapi obat Lavemir 1 X 10 1 porsi makanan 1 porsi makanan Tanggal 14 Mei 2021 15 Mei 2021 16 Mei 2021 17 Mei 2021 Hasil GDS 246 mg/dl 220 mg/dl 162 mg/dl 110 mg/dl Porsi Makanan 4 suap makanan 4 suap makanan A porsi makanan 1 porsi makanan Pembahasan Pasien 1 ada keluhan nafsu makan berkurang sejak dua unit SC. Omeprazole 1x 40 mg IV. Ondansentron 3X 1 ampul minggu SMRS, mual dan muntah lima kali, mengalami dan Ranitidine 1x 2 ampul, buscopan 1x 1 ampul dan Diet DM penurunan berat badan 10 kg dalam dua minggu dari 500 kkal . berat badan awal 60 kg menjadi 50 kg, dan nyeri pada bagian ulu hati dengan skala 3, nyeri yang dirasakan Masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah dan tindakan dilakukan edukasi diet seimbang. Tahap awal mengkaji dan menanyakan makanan yang disukai dan tidak seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul, dan ada luka di kaki sebelah kanan. Kesadaran compos mentis, disukai dan timbang berat badan. Dilanjutkan, memberikan dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital tekanan terapi obat injeksi lavemir 10 unit disuntik di subcutan, darah 134/74 mmHg, nadi 93 x/menit, pernapasan 20 memantau asupan makanan pasien dan menanyakan apakah x/menit, suhu 36,9 AC. Pasien tidak mempunyai masih merasakan mual dan muntah. Menganjurkan pada riwayat penyakit terdahulu dan riwayat penyakit pasien untuk makan sedikit tapi sering. Memberikan edukasi kesehatan tentang diet seimbang pada diabetes melitus kepada pasien dan keluarga dan Memberikan obat injeksi ranitidine 2 ampul, ondasentron 1 ampul, buscopan 1 ampul. Pasien 2 datang dengan keluhan nafsu makan berkurang satu minggu SMRS, mual dan muntah enam kali, mengalami penurunan berat badan 10 kg dalam omeprazole 40 mg. Setelah dilakukan tindakan asuhan satu minggu dari berat badan awal 58 kg menjadi 48 keperawatan dan edukasi diet nutrisi selama 4x24 jam kg, dan nyeri pada bagian ulu hati dengan skala 5, nyeri masalah ketidakstabilan nutrisi teratasi. Penulis melakukan yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk dan hilang evaluasi dengan tercapainya yang diinginkan yaitu hasil GDS =Pasien menghabiskan 1 porsi makanan. TD : 122/84 mmHg. N : 99 x/menit. RR : 20 x/menit. S : 36 AC. BB : 48 kg. TB : 155 cm. IMT Kesadaran pemeriksaan tanda-tanda vital TD : 136/96 mmHg. N : 96 x/menit. RR : 20 x/menit. S : 36,4 AC. pasien memiliki : 19 kg/m3 . Pasien tampak rileks dan tidak pucat. riwayat penyakit maag dan keluarga tidak mempunyai Tabel 1. Pemeriksaan GDS dan Porsi Makan Pasien 1 riwayat penyakit. Tanggal 27-04-2021 28-04-2021 Hasil GDS 400 mg/dl 275 mg/dl Porsi Makanan 8 suap makanan 8 suap makanan Berdasarkan Brunner & Suddarrth . 5 : hal. Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 keluhan utama pada pasien diabetes melitus yaitu mungkin muncul pada pasien diabetes melitus yaitu : poliuria, polidipsia, polifagia, keletihan, kesemutan, ketidakstabilan kadar glukosa darah, defisit nutrisi, luka, penurunan berat badan, penglihatan kabur. Teori kekurangan volume cairan, resiko infeksi, kelelahan, dan kasus mempunyai perbedaan manisfestasi klinis, gangguan integritas kulit, dan kurang pengetahuan. pada kasus pasien 1 dan 2 tidak ditemukan terjadinya Pada penglihatan kabur, karena kedua pasien belum sampai Dari ke enam diagnosa keperawatan pada tahap komplikasi ke bagian mata. tersebut ada 1 diagnosa keperawatan yang tidak terdapat di teori antara lain : nyeri akut. Sedangkan Pada pada teori ada 7 diagnosa keperawatan yang mungkin pemeriksaan kimia darah dan gula darah sewaktu Dari 7 diagnosa keperawatan tersebut ada 2 dengan hasil, ureum 119 mg/dl, kreatinin 1,73 mg/dl, diagnosa yang tidak ditemukan di kasus yaitu : resiko SGOT 21 u/l. SGPT 24 u/l, dan pemeriksaan gula darah infeksi dan kelelahan. sewaktu dilakukan setiap hari, 400 mg/dl, 275 mg/dl, 241 mg/dl, dan 141 mg/dl. Sedangkan pada pasien 2 Perencanaan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan hasil, ureum 30 mg/dl, kreatinin 1,0 mg/dl, 1 dan 2 antara lain :, kaji tanda-tanda vital, kaji status SGOT 30 u/l. SGPT 32 u/l, hasil GDS, 246 mg/dl, 220 nutrisi pasien, kaji alergi dan intoleransi makanan, kaji mg/dl, 162 mg/dl, 110 mg/dl. Menurut Kardiyudiani & asupan makan pasien, identifikasi makanan yang Susanti . 9 : hal. pemeriksaan diagnostik pada disukai, anjurkan pasien makan sedikit tapi sering, pasien diabetes melitus yaitu tes HbA1C, tes gula darah edukasi diet seimbang diabetes pada pasien dan puasa, tes gula darah postprandial, tes toleransi keluarga, berikan semangat dan motivasi kepada glukosa oral, tes insulin serum puasa. Dalam hal ini, pasien, dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menunjukkan bahwa teori dan kasus memiliki menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang Pada kasus, pemeriksaan diagnostik yang dilakukan adalah pemeriksaan kimia darah dan gula Implementasi dilakukan mengkaji kebiasaan makan, darah sewaktu, karena dengan pemeriksaan kimia alergi dan toleransi makanan, mengkaji makanan yang darah dan gula darah sewaktu sudah cukup untuk disukai dan tidak disukai, memantau asupan makanan, mendiagnosa diabetes melitus. mengkaji frekuensi mual dan muntah, memberikan Dari kasus ditemukan 6 diagnosa keperawatan yaitu : anjuran makan sedikit tapi sering, membersihkan luka ketidakstabilan kadar glukosa darah, defisit nutrisi, ganggren dan mengganti perban, memberikan edukasi nyeri akut, defisit volume cairan . , dan kesehatan tentang diet seimbang diabetes melitus, gangguan integritas kulit. Menurut Mubarak dan mengukur tanda-tanda vital, dan memberikan obat Chayatin . 5 : hal. diagnosa keperawatan yang Pada pasien 1 memberikan obat injeksi Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 novorapid 20 unit, ranitidine 1 ampul, ondasentron 1 Keberhasilan pada pasien 1 dikarenakan pasien dan ampul, dan omeprazole 40 mg, diit lunak. IVFD : II keluarga bekerja sama dengan baik dalam menjalani NaCl 0,9% 30 tpm/24 jam. Pada pasien 2, memberikan pengobatan diet yang diberikan dan didukung oleh obat injeksi lavemir 10 unit, ranitidine 2 ampul, keluarga tidak membawakan makanan dari luar saat ondasentron 1 ampul, inj. buscopan 1 ampul, dan pasien di rawat di rumah sakit dan dibuktikan dari omeprazole 40 mg, diit lunak. IVFD : I NaCl 0,9% 20 nafsu makan pasien meningkat menjadi normal tpm/24 jam. kembali dengan dibukti dengan pasien sudah bisa menghabiskan 1 porsi makanan tanpa adanya mual dan Evaluasi pasien 1 pada hari ke 4 hari perawatan, hari muntah dan gula darah normal dengan hasil keempat data subjektif pasien mengatakan tidak ada pemeriksaan diagnostik gula darah sewaktu pada hari mual dan muntah. Data objektif keadaan umum : ke-4 yaitu : 141 mg/dl mengalami penurunan tampak baik, kesadaran : compos mentis. TD : 125/80 dibandingkan dari hari pertama yaitu : 400 mg/ dl. mmHg. N : 89 x/menit. RR : 20 x/menit. S : 36,5 AC. BB: 50 kg. TB : 165 cm. IMT : 18 kg/m3 . erat badan Penyebab ketidakberhasilan pada pasien 2 yaitu, dalam kuran. , pasien tampak segar dan rileks, konjungtiva perawatan di rumah sakit, pasien masih susah untuk merah muda, membran mukosa lembab, pasien sudah menjalani diet yang sudah dianjurkan dikarenakan bisa menghabiskan 1 porsi makanan. Berdasarkan data pasien masih merasakan mual saat ingin makan dan subjektif dan objektif yang ditemukan pada pasien 1 muntah, dan juga saat perawatan di rumah sakit, jika yaitu defisit nutrisi teratasi dan tujuan tercapai. hasil dari pemeriksaan diagnostik sudah normal dan pasien tidak mempunyai keluhan yang parah boleh di Data subjektif dari evaluasi pasien 2 pada hari keempat lakukan rawat jalan. Pada pasien 2 menunjukan bahwa terapi menunjukkan bahwa pasien masih merasa mual hasil terakhir dari pemeriksaan GDS normal : 141 dan muntah dua kali. Kondisi umum ditunjukkan oleh mg/dl, dengan keluhan masih sedikit mual dan data objektif: sakit sedang. TD: 163/93 mmHg. N: 99 muntah 1 kali, sehingga pasien sudah di bolehkan x/menit. RR: 20 x/menit. S: 36 AC. BB: 48 kg. TB: 155 cm. pulang dan dilakukan. IMT: 19 kg/m3 . pasien tampak lemah. Kesimpulan konjungtiva anemia. selaput lendir pucat. Penatalaksanaan kasus diabetes mellitus II yang makan banyakAiempat suap dari satu porsi makanan. masalah utamanya merupakan ketidakstabilan kadar gula Berdasarkan data subjektif dan objektif pasien 2, target belum tercapai dan kekurangan gizi belum diatasi. darah berhubungan dengan resistensi insulin melalui tindakan keperawatan adalah edukasi diet DM. Edukasi diet DM berhasil significant dalam menurunkan hasil glukosa dan meningkatkan nafsu makan dimana hasil GDS= 141 mg/dl. Tingkat keberhasilan antara kedua pasien ditemukan pada pasien 1 berhasil dibandingkan pasien 2. Dalam hal ini, penulis menyimpulkan bahwa faktor umur dan jenis kelamin tidak menjadi patokan utama dalam Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 suatu keberhasilan dan tercapai asuhan keperawatan. International melainkan kerja sama dan motivasi antar penulis, pasien dan https://idf. keluarga, serta dorongan dalam diri pasien yang menjadi faktor pendukung utama tercapai keberhasilan asuhan Diabetes Federation. Retrieved From: Mubarak & Chayatin. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. EGC: Jakarta Keluarga merupakan nilai dalam kehidupan Tim Pokja SDKI DPP PPNI . Standar Diagnosis pasien dan sekaligus sebagai sumber daya yang membantu Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus dalam penyembuhan pasien sehingga keluarga sangat penting Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia dilibatkan dalam proses perawatan. Tim Pokja SIKI DPP PPNI . Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi 1. Jakarta: Dewan Pengurus Referensi