Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Analisis Kekerasan Simbolik Pada Film Mrs. Chatterjee Vs Norway Andi Dody May Putra Agustang1. M Ridwan Said Ahmad2. Ibrahim Arifin3 Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar E-mail: andidody@unm. Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar E-mail: m. ahmad@unm. Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar E-mail: Ibrahim@unm. Abstract. The problem lies in violence not only being a violation but also becoming a discourse that evolves and thrives within society, notably within the realm of filmmaking. Symbolic violence becomes the focus of this research because this form of violence tends to be invisible, unconscious, and less immediately recognized compared to physically visible violence portrayed in the film "Mrs. Chatterjee vs Norway. " This research employs qualitative methods with a content analysis approach. Content analysis aims to understand the meanings and messages contained within the data. The qualitative method using a content analysis approach emphasizes an in-depth analysis of the content of a text, document, or in the context of a film to uncover meanings for understanding the social and cultural contexts that influence the content. The analysis results from the film demonstrate dominance and control exerted by individuals or institutions possessing higher power over individuals who are weaker, be it in terms of gender, social status, or ethnic background. The Reproduction of Power Structures in the film also illustrates how the reproduction of power structures, especially patriarchy, occurs in the relationship between spouses and in the decisions of institutions towards individuals. Contributions that can be made as a step forward in addressing the injustices within the dynamics of power in society include education and awareness of gender equality, policy reforms supporting gender and ethnic equality, strengthening legal support for robust legal protection of individuals, and enhancing social awareness to encourage society to understand and identify acts of violence. Keywords: Film. Symbolic Violence. Content Analysis. Abstrak. yang menjadi persoalan adalah kekerasan tidak hanya sebuah praktik pelanggaran tetapi mejadi sebuah wacana yang berkembang dan hidup ditengah-tengah masyarakat salah satunya pada dunia perfilman. Kekerasan simbolik mejadi fokus pada penelitian ini karena kekerasan ini cenderung takterlihat, tidak disadari serta tidak diketahui secara langsung dibandingkan dengan kekerasan yang berbentuk fisik yang terdapat pada film Mrs. Charterjee Vs Norway. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis Analisis konten bertujuan untuk memahami makna dan pesan yang terkandung dalam data tersebut. Metode kualitatif pendekatan analisis konten adalah metode penelitian yang menitikberatkan pada analisis mendalam terhadap isi suatu teks, dokumen atau dalam konteks pada sebuah film dengan tujuan untuk mengungkapkan makna untuk memahami konteks sosial, budaya, yang mempengaruhi konten. Hasil analisis dalam film menunjukkan dominasi dan kontrol yang diberikan oleh individu atau lembaga yang memiliki kekuasaan lebih tinggi terhadap individu yang lebih lemah, baik dari segi gender, status sosial, maupun latar belakang etnis. Reproduksi Struktur Kekuasaan pada film juga menggambarkan bagaimana reproduksi struktur kekuasaan, terutama patriarki, terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, serta dalam keputusan lembaga terhadap individu. Adapun kontribusi yang bisa dilakukan sebagai langkah maju dalam mengatasi ketidakadilan yang terjadi dalam dinamika kekuasaan di dalam masyarakat adalah pendidikan dan kesadaran akan kesetaraan gender, reformasi kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dan etnis, penguatan dukungan legal yang mendorong perlindungan hukum yang kuat bagi individu dan peningkatan kesadaran sosial dalam upaya mendorong masyarakat untuk memahami dan mengidentifikasi tindakan kekerasan. Kata Kunci : film. Kekerasan Simbolik. Analisis Konten. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Film adalah jenis seni visual yang menggunakan gambar bergerak untuk menceritakan cerita atau menyampaikan pesan kepada penonton. Film ini juga memiliki berbagai genre, seperti drama, komedi,aksi, film ilmiah, horor, dan banyak lagi, setiap genre menawarkan pengalaman yang unik kepada penonton, kemudian film juga dapat menjadi media untuk meyampaikan pesan sosial, politik, atau emosional yang dapat menginspirasi, menghibur atau menggerakkan emosi penonton. Sehigga memungkinkan penonton merasakan pengalaman yang lebih imersif dan mendalam. Mrs. Chatterjee Vs Norway adalah film Bollywood yang rilis pada tahun 2023 dan merupakan film produksi Zee Studios dan Emmay Entertainment yang diangkat dari sebuah kisah nyata Sagarika Chakrborti dalam buku The journey of a Mother. Film Mrs. Chatterjee Vs Norway berkisah tentang sepasang suami istri dengan dua anak yang beasal dari india. Sepasang suami istri tersebut bernama Sagarika Cahtterjee dan Anup Chatterjee. Demi mencari pekerjaan. Sagarika Cahtterjee dan Anup Chatterjee memutuskan untuk tinggal dan menetap di Negara Norwegi. Namun sayangnya mereka menghadapi masalah perbedaan Akibatnya Sagarika Chaterjee sebagai ibu dari dua anak yang tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi tempat dia berasal sehingga membuatnya harus berjuang hidup ditengah masyarakat mayoritas yang mengekang dan membuatnya harus juga berjuang dalam upaya mendapatkan hak asuh anaknya karena oleh layanan kesejahteraan Norway mereka diangap tidak memperlakukan anaknya sebagaimana mestinya. Pada umumnya Sebagian besar kalangan masayarakat meyakini bahwa media massa telah digunakan sebagai alat untuk mentranformasi kekerasan (Chibber, 2. Berdasarkan analisis awal peneliti lakukan pada film menunjukkan beberapa adegan yang berkaitan dengan budaya kekerasan. Pada film tersebut budaya kekerasan dihadirkan dalam bentuk kekerasan fisik dan kekerasan nonfisik. Non fisik yang terdapat pada film tersebut berupa kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik adalah bentuk kekerasan yang tidak menggunakan kekerasan fisik, tetapi menggunakan symbol-simbol untuk mengitimidasi, mengontrol, atau memanipulasi. Kekerasan simbolik dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk kekerasan bahasa, kekerasan budaya dan kekerasan sosial. yang menjadi persoalan adalah kekerasan tidak hanya sebuah praktik pelanggaran tetapi mejadi sebuah wacana yang berkembang dan hidup ditengah-tengah masyarakat salah satunya pada dunia perfilman. Kekerasan simbolik mejadi fokus pada penelitian ini karena kekerasan ini cenderung tak terlihat, tidak disadari serta tidak diketahui secara langsung dibandingkan dengan kekerasan yang berbentuk fisik yang terdapat pada film Mrs. Charterjee Vs Norway. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melihat dan menganalisis kekerasan simbol yag terdapat pada film tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis konten yang terdapat film kemudian dideskriptifkan dalam bentuk Kekerasan sering dikaitkan dengan representasi di media. Film ini juga menjadi sebuah alat untuk mempersentasi realitas dalam masyarakat dimana realitas ini menjadi sebuah cerita yang didesain semenarik mungkin untuk menjadi daya Tarik bagi penikmat film (Rusmana, 2. Sehingga untuk Gambar-gambar kekerasan tersebut kecenderungannya dinormalisasi karena mewakili apa yang umum dan normal dalam dunia visual yang diatur sedemikian rupa sehingga pemirsa terbiasa tidak mampu berbuat apa-apa. Faktanya, gambaran media telah menciptakan dunia yang sulit membedakan antara realitas, simulasi, hiper-realitas, dan kebohongan. Seluruh gambar dan teks disusun sedemikian rupa sehingga ilustrasi kekerasan lebih kuat, halus dan meyakinkan bagi Kekerasan dalam film, novel, siaran dan iklan merupakan bagian dari industri budaya yang tujuan utamanya adalah mencapai jumlah penonton yang tinggi dan kesuksesan komersial. Didukung oleh fungsi film yaitu sebagai alat penyampai ide dan konsep serta dapat memberikan dampak dalam Film dipandang sebagai alat untuk menghadirkan Aurealitas sosialAy yang dihadirkan sebagai realitas media. Realitas media yang diciptakan oleh film merupakan hasil refleksi para pembuat film yang dalam perkembangannya mengikuti kebutuhan pasar (Baudrillard, 1. Program tontonan masyarakat pada umumnya hanya berisi kekerasan sangat jarang mempertimbangkan aspek pendidikan, etis, dan efek traumatis pada penonton atau penikmat tontonannya (Hananta, 2. Film sering kali mencerminkan dan mempengaruhi budaya masyarakat Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 di mana film tersebut diproduksi. Beberapa film menggambarkan atau mengkritik budaya kekerasan, baik secara langsung maupun melalui plot yang kompleks. Beberapa film secara eksplisit menggambarkan realitas kekerasan. Film yang menonjolkan budaya kekerasan sering kali bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, membawa perubahan sosial, atau menyampaikan pesan penting tentang dampak negatif konflik dan perilaku kekerasan. Namun pada sisi lain dampak dari film yag mempertontonkan kekerasan simbolik masuk pada wilayah alam bawah dasar sebagai sebuah duri yang mempengaruhi psikologi penontonnya. Seperti pada penelitian yang dilakukan dengan metaanalisis terhadap berbagai studi yang menginvestigasi pengaruh film kekerasan terhadap perilaku pemirsa muda. Hasil ini menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap adegan kekerasan dalam film dapat secara signifikan meningkatkan kecenderungan perilaku agresif pada remaja. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap konten kekerasan dalam industri perfilman (Smith, 2. Sehingga pada dasarnya budaya kekerasan merujuk pada suatu lingkungan sosial dimana kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang normal atau menjadi sebuah bagian yang diterima secara luas dari kehidupan sehari hari. Budaya kekerasan bisa muncul dalam berbagai bentuk, termasuk fisik, verbal, atau emasional yang agresif dan merugikan,serta dapat mengarah pada penderitaan dan trauma psikologis pada individual atau pada kelompok tertentu. Faktor- faktor yan mempengaruhi pembentukan budaya kekerasan dianggap sebagai norma atau bagian yang diterima untuk menyelesaikan masalah, kehadiran konflik yang terus menerus dan kurangnya penegakan hukum yang efektif terhadap pelanggaran kekerasan. Budaya kekerasan juga bisa megacu pada pandangan, nilai dan praktik yang secara tidak langsung mendukung atau membenarkan tindakan kekerasan, baik dalam lingkungan keluarga, masayarakat, maupun institusi-institusi tertentu. Pada tingkat yang lebih luas, budaya kekerasan dapat diwujudkan melalui media massa, hiburan popular, atau narasi kolektif yang menormalisasi atau bahkan mengagungkan kekerasan. Penanggulangan budaya kekerasan membutuhkan perubahan dalam pemahaman masyarakat tentang resolusi konflik yang sehat, pembentukan norma yang menekankan keadilan, serta peningkatan kesadaran akan dampak negatif dari perilaku kekerasan. Upaya-upaya pencegahan dan intervensi yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat secara kolektif penting untuk mengatasi dan mencegah penyebaran budaya kekerasan. Pada mulanya kekerasan simbolik adalah istilah yang dipopulerkan oleh sosiolog Perancis yang bernama Pierre Bourdieu. Ini merupakan bentuk dominasi yang bukan bersifat fisik melainkan psikologis atau simbolik (Alya Denisa, 2. Kekerasan simbolik terjadi ketika seseorang atau kelompok menggunakan kekuatan simbolik, seperti budaya, bahasa, atau norma sosial, untuk menindas, atau mendiskriminasi orang lain. Kekuatan simbolik ini seringkali tersembunyi dan secara tidak sadar diterima oleh individu atau masyarakat yang dituju. Contohnya dapat berupa stereotip gender yang mempengaruhi pandangan dan perlakuan terhadap perempuan di masyarakat, atau diskriminasi terhadap kelompok minoritas melalui penggunaan bahasa yang menyinggung atau norma sosial yang diskriminatif. Kekerasan simbolik dapat menciptakan ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang berkepanjangan tanpa harus melakukan tindakan fisik atau kekerasan langsung. Dalam konteks sosial dan budaya, kesadaran akan kekerasan simbolik penting untuk memahami bagaimana kekuasaan dan dominasi dapat terwujud secara tidak langsung melalui struktur dan institusi sosial, serta norma-norma yang diterima secara umum. Hal ini disebabkan karena legitimasi atau otoritas yang dimiliki oleh pelaku yang pada akhirnya melanggengkan relasi kekeuasaan melalui penerimaan dan pengakuan yang sah. (Amaliah, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten. Analisis konten adalah metode penelitian kualitatif yang digunakan untuk menganalisis isi dari berbagai jenis data, seperti teks, gambar, audio, ataupun video. Analisis konten bertujuan untuk memahami makna dan pesan yang terkandung dalam data tersebut (Sugiyono, 2. Metode kualitatif dengan pendekatan analisis konten merupakan metode penelitian dengan yang menitikberatkan pada analisis Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 mendalam terhadap isi suatu teks, dokumen atau dalam konteks pada sebuah film. Dimana tujuan utamanya adalah untuk mengungkap makna data yang dikumpulkan dan memahami konteks sosial, budaya, atau sejarah yang mempengaruhi konten. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi pola, tema, atau symbol yang muncul dari konten yang dianalisis (Neuendorf, 2. Pengumpulan data dilakukan dengan menonton film Mrs. Chatterjee Vs Norwegia untuk memahami konteks, alur cerita, serta karakter dari pemeran dari film tersebut. Kemudian mengidentifikasi bagianbagian film seperti dialog, adegan atau motif visual yang secara spesifik menampilkan kekerasan Kemudian data tersebut diinterpretasikan dengan menghubungkan teori-teori yang relevan dengan kekerasan simbolik. Teknik validasi data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yaitu menguji reliabilitas data dalam kaitannya dengan hasil penelitian tentang tanda-tanda kekerasan simbolik dalam unsur adegan dan tuturan Dialog film Mrs. Chatterjee Vs Norwegia, memverifikasi data yang diperoleh dari berbagai sumber. Data yang dianalisis kemudian diverifikasi dengan referensi buku, artikel, jurnal dan penelitian lainnya yang membantu dalam mencapai validitas data mengenai kekerasan simbolik dalam film AuMrs. Chatterjee vs. NorwegiaAy. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada film AuMrs. Chatterjee vs NorwayAy ini mengisahkan tentang seseorang ibu tunggal, yaitu Mrs. Chatterjee yang berjuang untuk mendapatkan hak asuh anaknya yang diculik oleh Lembaga perlindungan anak di Norwegia, dimana Mrs. Chatterje ini merupakan seorang imigran yang berasal dari India. Dalam film ini mengangkat juga isu-isu tentang hak asuh, imigrasi, serta adanya perbedaan Film ini menyoroti ketidakadilan yang dialami oleh Mrs. Chatterjee dalam sistem yang di dominasi oleh Lembaga berwenang yang diperankan oleh laki-laki. Film ini sendiri terinspirasi dari kisah nyata yang mendapatkan sedikit perubahan. Secara terinci kita bisa melihat kekerasan simbolik berdasarkan pendekatan patriarki dalam film AuMrs. Chatterjee vs NorwayAy ini pada dalam dari menit 6:10-6:51 seorang tokoh yang Bernama Anirudh yang menjadi sosok suami dari Chatterjee, dimana pada scene tersebut Anirudh sama sekali mengabaikan dan tidak mau mendengar penjelasan dari sang istri dan melanjutkan mobil dikala sang istri sedang berbicara, hal ini secara tidak langsung dapat terlihat adanya kekerasan simbolik yang dalam sikap dominasi laki-laki yang mengabaikan pendapat Wanita serta tidak menghargai pendapat Wanita. Dalam kosep kekerasan bourdie, kekerasan simbolik ini terkait dengan pengusan atas kapital budaya. Anirudh sebagai suami pada dasarnya merasa memiliki otoritas lebih tinggi secara sosial dan kultural, sehingga mengabaikan pendapat atau penjelasan dari istrinya adalah cara untuk mempertahankan posisinya yang lebih tinggi dalam hirarrki gender yang telah terbentuk pada masayarakat mereka berasal. Bourdieu juga menguraikan bahwa kekuatan dan dominasi tidak hanua berasal dari individu secara langsung, tetpai juga dari struktur sosial yang telah ada dan diterima secara umum. Dalam konteks ini perilaku Anirudh mencermin bagaimana norma-norma patriarki yang ada dalam masyarakat dapat membentuk interaksi antara pria dan Wanita, dimana proa memiliki kontrol yang lebih besar dan dihargai lebih dalam hal keputusan dan komunikasi (Bourdieu. Dominasi Maskulin, 2. Dalam menit 07:58-8:34, pada scene ini terlihat bahwa debika lupa membawa tugas pohon kehidupan shubh ke sekolah dan terlihat ada 2 guru dari sekolah tersebut yang seolah mengejek titik hitam pada muka debika, serta ada 1 guru yang mendatangi debika dengan tatapan yang kurang mengenakan serta berbicara dengan nada suara yang tinggi, dalam scene kita bisa melihat dengan jelas adanya kekerasan simbolik karena perbedaan etnis antara debika serta guru-guru di sekolah tersebut yang memungkinkan mereka merasa lebih superior dibandingkan dengan debika. Dalam kacamata Bourdieu kekerasan terjadi pada hubungan antar entnis atau antar kelompok dalam Situasi dimana guru guru sekolah mengejek Debika atau menunjukkan tatapan yang merendahkan dan nada suara yang kurang mengenakkan dapat dilihat manifestasi kekerasan simbolik yang berkaitan dengan dominasi sosial berdasarkan perbedaan etnis. Bourdieu berpendapat bahwa masyarakat memiliki struktur kekuasaan tersembuyi yang mempengaruhi interaksi antar individu (Bourdieu. Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste, 1. Dalam kasus ini, perbedaan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 etnis antara Debika dan guru-guru menciptakan kesenjangan kekuasaan yang terinternalisasi. Guruguru yang merasa lebih superior karena kesamaan budaya atau latar belakang etnis mereka, menggunakan kekuatan simbolik untuk menekankan ketidakcukupan atau perbedaan Debika sebagai cara untuk mempertahankan posisi mereka. Perilaku mereka baik dalam bentuk ejekan maupun tatapan merendahkan, mencermikan kontrol sosial yang lebih tinggi yang diberikan kepada kelompok yang dianggap lebih tinggi dalam hirerarki sosial berdasarkan etnis. Hal ini sejalan dengan konsep Bourdieu tentang bagaimana kontrol sosial dalam masayarakat bisa terintrernalisasi melalui penggunaan simbol termasuk verbal dan nonverbal. Dalam menit 12:10-14:51, dalam scene terdapat 3 wanita norwegia yang Bernama Matilda. Sia, serta seorang Wanita yang Bernama Allis yang merupakan pihak berwenang dari Norwegia memfitnah debika dengan mengatakan bahwa suaminya tidak ikut berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga sehingga terjadi sedikit konflik antara debika dan anirud, dinama anirud berpikiran bahwa debika melaporkannya kepada ketiga Wanita norwegia tersebut, anirud yang berpura-pura mendapatkan telepon dari kantor dan memasuki sebuah kamar kemudian disusul oleh debika, di dalam kamar terjadi perkelahian dan anirud melakukan tindak kekerasan kepada debika sampai debika meringis kesakitan. Scene ini kita bisa melihat adanya sebuah kekerasan simbolik dengan cara memfitnah debika, dimana ini mengakibatkan debika menjadi tersudutkan oleh sang sumai serta ketiga Wanita tersebut serta pada scene ini juga anirud memperlihatkan dengan jelas dominasinya dengan cara membentak debika dan tidak mau mendengarkan penjelasan debika terlebih dahulu, dimana aniud sudah termakan oleh emosi dan keegoisannya sendiri sehingga melakukan tindak kekerasan kepada debika karena anirud merasa dirinya kepada keluarga yang hanya mempunyai tugas bekerja saja dan tidak ikut serta berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga yang merupakan tugas wajib dari debika. Dalam kacamata bordieu ,tindakan yang Matilda. Sia, dan Allis yang memberikan informasi yang salah bisa memicu terjadi konflik kekerasan dimana menurut bordieu menekan bahwa kekersan simbolik sering kali terjadi melalui manipulasi informasi atau kata-kata yang di maksud untuk menkan dan mengontrol induvidu lain (Bourdieu. Distinction: A Social Critique of the Judgment of Taste, 1. Menit 17:10-18:19. Adegan pada menit ini memposisikan Lembaga Anak Norwegia merasa pasangan suami istri ini tidak mampu untuk mensejahterakan anak-anaknya, mereka melihat adanya sistem patriarki yang masih kental dalam keluarga ini, sehingga mereka akan mengambil hak asuh anak-anaknya. Kekerasan Simbolik pada scene ini jelas memperlihatkan adanya sikap meremahkan terhadap keluarga ini karena pemikiran kuno yang masih kental dan sistem patriarki yang secara tidak sadar diterapkan yang menitik beratkan kepada debika sebagai seorang Wanita. Tatanan patriarki menyebabkan perempuan menjadi subordinasi, termarginalkan, bahkan memperoleh ketidakadilan dalam masyarakat karena posisi maupun peran sosial tidak lepas dari pengaruh identitas gender yang dimiliki seseorang. Tatanan patriarki mengabsahkan superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan (Mutiah, 2. Pada menit 20:56- 21:55. Scene ini. Aniruddh terlibat konflik dengan debika dan menyalakan debika atas apa yang terjadi kepada keluarga mereka. Aniruddh mengatakan bahwa debika tidak cakap dalam mengurus anak serta mengurus rumah sehingga hal ini bisa terjadi serta Aniruddh pada scene ini dengan jelas memperlihatkan sikap keegoisannya, dimana dia hanya berpikir dengan adanya kejadian ini bisa berdampak pada kewarganegaraannya serta reputasi dirinya dikantor menjadi jelek. Jika, dikaitkan dengan kekerasan simbolik, maka terlihat jelas Aniruddh yang merendahkan serta meneriaki debika yang memperlihatkan adanya dominasi kekuasaan laki-laki yang sangat kuat kepada seorang Wanita. Pada scane ini yang terjadi penyalahgunaan kekuaasaan dan dominasi anirud pada sacane ini menggunakan kekuasaannya dalam hubungannya untuk merendahkan Debika, menyalahkan dia atas situasi yng terjadi pada keluarga mereka, dan bahkan mengeksploitasi ketidaktahuan atau perasaan rendah diri Debika. Sikap merendahkan dan menyalahkan ini mencerminkan dominasi yang kuat dari Anirud terhadap Debika, yang sejalan dengan pandangan Boridieu tentang bagaimana kekeresan simbolik bisa berkembang dari struktur kekuasaan yang tidak seimbang dalam hubungan, kontrol dan penekanan Anirudh menunjukkan sikap keegoisan dan kontrol Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 yang kuat memandang Debika hanya sebagai tanggung jawabnya dalam mengurus anak dan rumah tangga, tanpa mengakui peran atau kontribusi Debika yang lebih luas. Hal ini mencerminkan reproduksi structural kekuasaan patriarki dimana peran dan nilai perempuan dalam keluarga dinilai Sikap Anirudh yang mencerminkan bagaimana individu dapat menggunakan kekuasaan mereka untuk menekan individu dalam hubungan, sesuai dengan teori Bordieu tentang kontrol sosial dan kekerasan simbolik. Pembenaran dan dominasi Anirudh yang memberikan alasan terhadap dominasinya dengan menyatakan bahwa situasi yang dialaminya akan. Berdampak pada kewarganegaraan dan reputasi di tempat kerja. Hal ini mencerminkan bagaimana individu menggunakan alasan yang tidak terkait dengan kebenaran situasi untuk membenarkan dominasi atau perlakuan yang tidak adil terhadap individu lain. Menit 30:31-31:04. Adegan ini Debika dan Aniruddh menemui pengacara yang Bernama Sunil Kapoor yang telah di tunjuk oleh pemerintah sebagai pengacara buat mereka. Terlihat pada Scene ini Debika berkonsultasi dengan Sunil Kapoor, akan tetapi Aniruddh terus saja memotong pembicaraan Debika serta menegur cara Debika menyampaikan pendapatnya secara fakta. Sikap Aniruddh ini menujukkan ada pengontrolan yang ketat atas hak bicara Debika yang secara tidak langsung menyuruh Debika untuk diam dan tidak usah bersuara kecuali dirinya. Pada scane ini menunjukkan adanya dominasi dalam komunikasi dimana tindakan Anirudh yang terus memotong pembicaraan Debika dan menegurnya atas cara menyampaikan pendapat. Anirudh mencoba untuk mengontrol alur percakapan dan pemikiran Debika yang secara tidak langsung menghambat kebebasannya dalam berekspresi. Hal ini menunjukkan struktur kekuasaan dimana Anirudh merasa memiliki kontrol penuh atas pembicaraan dab membatasi ruang bagi Debika untuk menyampaikan pandangannya dan Tindakan Aniruddh yang mengontrol percakapan ini juga mencerminkan dinamika kekuasaan dalam hubungan rumah tangga. Bourdieu menyoroti bagaimana dalam masyarakat, terutama dalam hubungan antar gender, dominasi dan kontrol dapat tercermin dalam komunikasi sehari-hari di mana salah satu pihak merasa memiliki otoritas yang lebih tinggi untuk menentukan cara berbicara dan berekspresi (Bourdieu. Dominasi Maskulin, 2. Menit 32:59-34:01, pada menit ini Debika serta Aniruddh berkesempatan menemui anak-anak mereka setelah tiga hari berpisah. Debika yang menitikkan air mata mendapatkan teguran oleh pihak Lembaga, dinama Debika tidak boleh menagis didepan anak-anaknya serta tidak boleh membuat ikatan keluarga sehingga secara paksa langsung mengambil Kembali anak Debika. Scene ini jelas menunjukkan adanya dominasi atas wewenang pihak Lembaga Norwegia atas hak Debika kepada anak-anaknya sendiri serta hak Debika sebagai manusia, dimana pada scene ini petugas Lembaga di dominasi dengan laki-laki. Pada scane ini dominasi wewenang lembaga Norwegia dalam adegan tersebut menunjukkan dominasi yang kuat atas hak-hak Debika sebagai ibu dan individu. Mereka mengeluarkan teguran keras kepada Debika, bahkan melarangnya menangis di depan anak-anaknya dan membatasi ikatan keluarga, serta secara paksa mengambil kembali anak-anaknya. Hal ini mencerminkan kontrol sosial yang kuat yang dipegang oleh lembaga dan otoritas mereka terhadap individu, menunjukkan bagaimana struktur kekuasaan lembaga tersebut menindas hak-hak individu. Dominasi Gender dalam Kekuasaan juga menyoroti bahwa dalam adegan ini petugas lembaga yang mendominasi kejadian ini adalah seorang laki-laki. Ini mencerminkan hierarki gender yang terinternalisasi dalam struktur kekuasaan. Pandangan Bourdieu tentang reproduksi sosial menekankan bagaimana konstruksi sosial seperti gender dapat memengaruhi pengalaman individu dalam masyarakat, dan di sini, dominasi lembaga oleh laki-laki dapat menambahkan dimensi gender terhadap kontrol sosial dan kekerasan simbolik yang dialami Debika. Penekanan atas Hak Individu sikap lembaga yang membatasi ekspresi emosional Debika, seperti larangan menangis di depan anakanaknya, menunjukkan kontrol yang kuat atas perilaku dan hak-hak individu. Hal ini mencerminkan bagaimana kekuasaan lembaga tersebut dapat membatasi kebebasan individu dalam mengekspresikan emosi atau menjalin ikatan keluarga. Menit 47:51-49:08. Scene ini memperlihatkan Debika dengan terbata-bata berusaha mengeluarkan pendapatnya kepada sang hakim serta anggota Lembaga lainnya, akan tetapi Debika tidak mendapat respon yang hangat. Debika tidak didengar pendapatnya oleh sang hakim dan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Aniruddh sama sekali tidak membantu Debika pada scene ini, dia hanya diam. Dominasi serta kekerasan simbolik yang dilakukan oleh sang hakim serta anggota Lembaga lainnya yang didominasi oleh laki-laki ini dengan cara mengabaikan Debikan dan terus melabeli Debika bahwa dia tidak layak dalam mengasuh anak-anaknya sendiri. Pada scane ini Dominasi dalam ruang pengadilan sang hakim dan anggota lembaga lainnya, yang mayoritas didominasi oleh laki-laki, menunjukkan sikap yang merendahkan dan mengabaikan Debika ketika ia berusaha menyampaikan pendapatnya di Tidak mendengarkan atau memberi respon yang hangat kepada Debika merupakan bentuk kekerasan simbolik yang termanifestasi melalui penolakan mendengarkan sudut pandang atau pendapat individu yang lebih lemah atau yang dianggap kurang berkuasa. Sehingga yang muncul ketidakadilan dalam komunikasi. Debika, meskipun berusaha keras untuk menyampaikan pendapatnya, tidak dihargai atau didengarkan dengan serius oleh pihak yang berwenang. Hal ini mencerminkan ketidaksetaraan dalam komunikasi dan akses terhadap pengaruh di dalam ruang pengadilan, yang dapat menguatkan pandangan Bourdieu tentang bagaimana kekuasaan dan akses terhadap kekuasaan secara sosial sangat ditentukan oleh struktur kekuasaan yang ada dalam Reproduksi struktur kekuasaan yang nampak ketika sang hakim dan anggota lembaga mengabaikan pendapat Debika dan terus melabelinya sebagai tidak layak dalam mengasuh anakanaknya sendiri, hal ini juga mencerminkan reproduksi struktur kekuasaan yang ada dalam Bourdieu menyoroti bagaimana struktur kekuasaan yang ada, terutama yang didominasi oleh kelompok berkuasa, dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan penilaian terhadap individu-individu yang lebih lemah atau yang kurang berkuasa. Menit 56:00-56:19. Scene ini Debika memberitahukan Aniruddh bahwa anak mereka sebenarnya tidak Bahagia dan memita tolong umtuk menyewa pengacara swasta yang tidak terikat dengan pemerintahan Norwegia ini, akan tetapi Aniruddh diam saja dan bersikap seakan-akan tidak peduli, dia hanya memikirkan kewarganegaraannya sendiri, secara tidak langsung ini membuat Debika merasa diabaikan dan tidak dihargai sebagai seorang istri, dinama Aniruddh hanya terus-menerus mempertahankan keegoisannya. Pada scane ini ketidaksetaraan dalam hubungan dimana sikap Aniruddh yang diam dan tampak tidak peduli terhadap keinginan Debika untuk menyewa pengacara swasta menyoroti ketidaksetaraan dalam hubungan mereka. Hal ini mencerminkan dominasi dan ketidaksetaraan kekuasaan di mana keinginan atau kebutuhan Debika tidak dihargai atau diperhatikan dengan serius oleh Aniruddh. Yang nampak jelas adalah penolakan terhadap kebutuhan pasangan dimana siikap Aniruddh yang terus mempertahankan keegoisannya, terutama dengan hanya memikirkan kewarganegaraannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan atau keinginan Debika, mencerminkan ketidakadilan dalam hubungan tersebut. Bourdieu menyoroti bagaimana kekuasaan dan kontrol dalam hubungan sering kali dapat mengarah pada ketidaksetaraan dalam keputusan atau keinginan antara pasangan. Yang terjadi adalah pengabaian dan tidak diharaganya pendapat pasangan yang dimana sikap Aniruddh yang hanya mempertahankan kepentingannya sendiri dan mengabaikan keinginan Debika menciptakan perasaan pengabaian dan tidak dihargai. Ini mencerminkan kekerasan simbolik dalam hubungan, di mana suara atau kebutuhan individu yang lebih lemah atau kurang berkuasa diabaikan atau tidak dihargai. Menit 60:06:51. Scene ini Aniruddh melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga kepada Debika dengan cara menampar, menyeret Debika dari lantai satu sampai ke lantai dua, kemudia mengurung Debika kedalam kamar. Tindak kekerasan yang dilakukan Aniruddh ini secara tidak langsung menujukkan bahwa adanya perbedaan kekuatan antara Wanita dan laki-laki, dimana Wanita dianggap tidak bisa melawan dan lemah. Pada scane ini struktur kekuasaan dan reproduksi sosial yang dimana pada teori Bourdieu menyoroti bagaimana struktur sosial menciptakan dan mempertahankan ketidaksetaraan kekuasaan. Dalam hal ini, tindakan kekerasan Aniruddh terhadap Debika mencerminkan reproduksi struktur kekuasaan yang memungkinkan dominasi fisik oleh pria terhadap wanita sebagai bagian dari hierarki sosial yang ada. Simbolisme kekuasaan di mana pria, karena dominasi fisiknya, merasa berhak untuk mendominasi dan mengendalikan wanita. Ini juga mencerminkan pandangan yang diinternalisasi dalam masyarakat di mana perempuan dianggap lemah dan tidak berdaya dibandingkan dengan pria. Reproduksi Budaya Patriarki yang diakui dalam teori Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Bourdieu. Budaya patriarki menghasilkan norma dan nilai-nilai yang mempertahankan ketidaksetaraan antara pria dan wanita, termasuk dominasi fisik sebagai bentuk ekspresi kekuasaan. Pada menit 60:30:29. Anurag dan seorang dari Lembaga Nowergia membuat rencana dengan mengelabui Debika dengan memberikan hak asuh anak-anaknya kepada Anurag yang dibantu oleh Aniruddh dalam mempengaruhi Debika agar setuju, dimana Anurag serta pihak Lembaga ini hanya mencari keuntungan saja. Secara tidak langsung mereka menanggap Debika bodoh dan mudah untuk ditipu serta mereka beranggapan bahwa tidak mungkin Debika akan melawan mereka. Pada scane ini Ketidaksetaraan Kekuasaan dan Penyalahgunaan dimana tindakan Anurag dan anggota lembaga Norwegia yang berkolaborasi dengan Aniruddh dimana mereka memanfaatkan kelemahan Debika dan merasa bisa mendominasi situasi tanpa perlawanan yang signifikan dari pihak Debika. Hal ini mencerminkan penyalahgunaan kekuasaan yang mendalam dan ketidaksetaraan dalam akses terhadap sumber daya yang dimiliki oleh para pihak. Sehingga yang terjadi adalah dominasi dan manipulasi dimana mereka menganggap Debika sebagai seseorang yang mudah dikendalikan dan dipengaruhi sehingga merencanakan sesuatu tanpa memperhitungkan hak dan kepentingan Debika sebagai individu. Tindakan ini juga mencerminkan ketidakadilan dan ketidakberpihakan terhadap Debika. Mereka merasa bahwa Debika tidak akan mampu atau tidak akan berani melawan mereka dalam upaya untuk merebut hak asuh anak-anaknya. Hal ini Kembali lagi memperlihatkan adanya patriarki yang dilakukan oleh laki-laki kepada Wanita, yang beranggapan Wanita lemah dan tidak sanggup untuk melawan mereka. KESIMPULAN Struktur Kekuasaan dan Kekerasan Simbolik pada teori Bourdieu membantu memahami bagaimana struktur sosial seperti hierarki gender dan perbedaan etnis dapat mempengaruhi interaksi antara individu dan memunculkan kekerasan simbolik. Adegan-analisis dalam film menunjukkan dominasi dan kontrol yang diberikan oleh individu atau lembaga yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi terhadap individu yang lebih lemah, baik dari segi gender, status sosial, maupun latar belakang Reproduksi Struktur Kekuasaan pada film ini juga menggambarkan bagaimana reproduksi struktur kekuasaan, terutama patriarki, terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, serta dalam keputusan lembaga terhadap individu. Kekuatan dan dominasi yang diterapkan oleh tokoh laki-laki dalam berbagai adegan mencerminkan reproduksi struktur sosial yang tidak adil, dimana perempuan seringkali terpinggirkan dan diabaikan dalam pengambilan keputusan. Ketidaksetaraan Akses dan Pengaruh: Analisis teori Bourdieu juga menyoroti ketidaksetaraan dalam akses terhadap pengaruh dan kekuasaan di dalam masyarakat. Kasus-kasus dalam film menunjukkan bagaimana individu atau kelompok yang dianggap lebih tinggi dalam hierarki sosial dapat dengan mudah menindas individu yang kurang berkuasa atau yang dianggap lebih lemah. Penyalahgunaan Kekuasaan dan Ketidakadilan yang di mana individu atau lembaga menggunakan kekuasaannya untuk keuntungan pribadi dan menindas individu lain, seperti dalam penyalahgunaan informasi, penyalahgunaan hukum, atau kekerasan fisik dalam rumah tangga. Berdasarkan analisis tersebut, terdapat beberapa saran dan kontribusi yang bisa diambil sebagai langkah maju dalam memahami dan mengatasi ketidakadilan yang terjadi dalam dinamika kekuasaan di dalam masyarakat yang pertama pendidikan dan kesadaran diaman Edukasi tentang kesetaraan gender, hak asuh anak, serta penghapusan stereotip gender dan ras perlu ditingkatkan. Kesadaran akan pentingnya penghargaan terhadap individu dan hak-haknya sangatlah krusial. Kedua, reformasi kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dan etnis dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam pengadilan atau lembaga yang menentukan hak asuh anak. Ketiga, penguatan dukungan legal yang mendorong perlindungan hukum yang kuat bagi individu yang menjadi korban kekerasan atau penyalahgunaan kekuasaan. Hal ini dapat termasuk penguatan regulasi terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan manipulasi informasi. Dan yang kelima, peningkatan kesadaran sosial dalam upaya mendorong masyarakat untuk memahami dan mengidentifikasi tindakan kekerasan simbolik, seperti penggunaan kata-kata, stereotip, atau sikap merendahkan, dan bagaimana hal ini dapat merugikan individu atau kelompok yang lebih lemah atau Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 1. Januari-April 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 kurang berkuasa. Secara umum sangat penting untuk terus mengkaji, mendiskusikan, dan bertindak atas permasalahan ketidakadilan dalam kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat. Pemahaman atas teori-teori seperti yang diusung oleh Bourdieu dapat membantu kita dalam melihat dan memahami dinamika kompleks tersebut serta mengusulkan langkah-langkah yang lebih inklusif dan adil bagi semua individu dalam masyarakat DAFTAR PUSTAKA