PEMBINAAN WARGA JEMAAT GKSI SMIRNA PADUDARA MENYADARI PENTINGNYA MEMBERITAKAN INJIL Jenius Harita Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta Email Koresponden: jeniusharita604@gmail. Diterima: 26-09-202 Direview: 21,22-11-2024 Direvisi: 10-12-2024 Diterbitkan: 25-12-2024 Keywords: Church, congregation. Great Commission Kata Kunci: Amanat Agung. Gereja, p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2024. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract The Christian Church of Setia Indonesia (GKSI) Smirna Congregation, located in Denduka Village. South Wewewa Subdistrict. Southwest Sumba Regency. East Nusa Tenggara (NTT), is where the community service program (PkM) is conducted. Based on the results of observations made on the congregation members of GKSI Smirna, it was found that the congregation is not fully aware of their duties and responsibilities in actualizing the Great Commission. This situation arises due to the lack of human resources and an insufficient understanding of the duties and responsibilities as believers in the context of the Great Commission (Matthew 28:19-. Therefore, the solution taken by the service provider was to provide training to the GKSI Smirna congregation in order to address these challenges. The purpose of this PkM is to help the congregation understand the intent and purpose of the Great Commission, as well as to realize that all of God's people must fulfill this In this writing, the methods used include observation, literature study, discussions, and surveys. The results obtained from this training showed that the GKSI Smirna congregation participated in the actualization of the Great Commission. Abstrak Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Jemaat Smirna yang berada di Desa Denduka. Kecamatan Wewewa Selatan. Kabupaten Sumba Barat Daya. NTT, tempat di mana PkM dilaksanakan. Berdasarkan dari hasil observasi yang dilakukan kepada warga jemaat GKSI Smirna, pengabdi melihat jemaat kurang menyadari tugas dan tanggung jawab dalam mengaktualisasikan Amanat Agung. Situasi ini disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia, serta belum memahami tugas dan tanggung jawab sebagai orang percaya dalam teks Amanat Agung (Matius 28:19-. Oleh karena itu pengabdi mengambil langkah sebagai solusi yaitu melakukan pembinaan warga jemaat GKSI Smirna guna menjawab tantangan tersebut. Adapun tujuan dilakukannya PkM ini adalah agar jemaat memahami maksud dan tujuan Amanat Agung disampaikan, serta menyadari bahwa semua umat Allah harus menjadi pelaksana mandat tersebut. Dalam penulisan ini, pengabdi menggunakan metode observasi, studi kepustakaan, diskusi, dan disertakan dengan melakukan survei. Hasil yang diperoleh dari pembinaan ini yaitu Jemaat GKSI Smirna turut dalam mengaktualisasikan Amanat Agung. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 PENDAHULUAN Di era globalisasi yang semakin kompleks ini, masyarakat modern dihadapkan pada berbagai tantangan yang menguji nilai-nilai spiritual dan moral (Legi & Sibarani. Zaman yang diwarnai oleh Pertumbuhan teknologi yang cepat dan aliran informasi yang intens (Kristiyono, 2. , dan pergeseran budaya yang dinamis ini, kerap kali membuat manusia terjebak dalam pola hidup yang semakin jauh dari nilainilai ilahi. Kemajuan teknologi dan keterbukan informasi telah memberikan manfaat dalam berbagai bidang kehidupan(Susilo, 2. , tetapi di sisi lain juga memperkenalkan tantangan baru bagi pertumbuhan rohani (Waruwu et al. , 2. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat (Purba & Nainggolan, 2. , banyak gereja di seluruh dunia menghadapi tantangan yang tidak mudah. Modernitas yang datang bersama kemajuan teknologi menawarkan berbagai kenyamanan dan hiburan instan (Industri et al. , 2. , yang tanpa disadari mampu mengalihkan perhatian umat dari misi utama mereka sebagai saksi Kristus. Salah satu dampak nyata dari fenomena ini terlihat dalam kehidupan jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Smirna di Sumba. Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah masyarakat yang terus berubah, jemaat GKSI Smirna kini menghadapi tantangan serius berupa kurangnya kesadaran mengenai tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pelaksana dalam mewujudkan Amanat Agung. Amanat Agung yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Matius 28:19-20 (Hartono, 2. , memerintahkan orang percaya untuk "pergi dan menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya, serta mengajarkan mereka untuk melakukan segala yang telah Dia perintahkan. " Namun, dalam kenyataannya, jemaat GKSI Smirna tampak jauh dari pemahaman mendalam mengenai tanggung jawab ini. Banyak dari mereka menganggap Amanat Agung sebagai tugas yang hanya terbatas pada para pemimpin gereja, penginjil, atau orang-orang yang terlibat langsung dalam pelayanan formal. Mereka belum sepenuhnya menyadari bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui perkataan maupun Kurangnya kesadaran ini tercermin dari perilaku sehari-hari jemaat yang pasif dalam membagikan kabar baik dan tidak memanfaatkan peluang untuk menjadi saksi Injil di tengah masyarakat sekitar mereka. Meskipun secara formal jemaat sering mengikuti ibadah dan terlibat dalam kegiatan gereja, kehidupan mereka di luar gereja seringkali tidak mencerminkan panggilan mereka sebagai pelaku Amanat Agung. Banyak yang merasa puas hanya dengan menjalankan ritual religius tanpa benar-benar meresapi makna di balik panggilan besar yang Tuhan berikan kepada umat-Nya. Selain itu, dalam kehidupan sosial sebagian besar jemaat lebih memilih untuk beradaptasi dengan tekanan dunia modern daripada menghidupi iman mereka secara aktif di tengah-tengah komunitas. Mereka enggan untuk berdiri teguh sebagai saksi Kristus di hadapan teman, keluarga, atau masyarakat yang berbeda keyakinan. Ketakutan akan penolakan, kenyamanan dalam rutinitas, dan kebiasaan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan menjadi penghalang besar bagi jemaat dalam mengaktualisasikan Amanat Agung. Mereka cenderung melihat kekristenan sebagai identitas pribadi yang terpisah dari tanggung jawab sosial mereka untuk memberitakan Injil. Kondisi ini menciptakan semacam stagnasi spiritual dalam tubuh jemaat GKSI Smirna. Alih-alih menjadi terang dan garam bagi dunia, banyak anggota jemaat merasa bahwa tanggung jawab mereka sebagai umat percaya cukup terpenuhi dengan kehadiran di gereja atau dalam pelayanan internal saja. Banyak yang beranggapan bahwa penginjilan hanyalah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin gereja atau hamba Tuhan (Harefa et al. , 2. Padahal. Yesus memanggil setiap orang percaya untuk terlibat aktif dalam misi-Nya: membawa orang-orang dari kegelapan menuju terang. PEMBINAAN WARGA JEMAAT A (J. Harit. melalui kehidupan yang mencerminkan kasih Kristus dan melalui penyebaran FirmanNya. Dengan tidak aktifnya jemaat dalam menjalankan Amanat Agung, kesempatan besar untuk membawa perubahan positif dan pertumbuhan rohani, baik dalam diri mereka sendiri maupun di lingkungan mereka, seringkali terabaikan. Tantangan tersebut tidak hanya memengaruhi perkembangan rohani jemaat secara individu, tetapi juga berdampak pada misi gereja secara keseluruhan (Marisi et , 2. Jika jemaat tidak menyadari tanggung jawab mereka dalam menyebarkan Injil, maka misi utama gereja untuk menyampaikan kabar baik kepada mereka yang belum mengenal Kristus akan semakin sulit untuk dicapai. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan perhatian khusus dalam membangkitkan kembali kesadaran jemaat akan panggilan dan tanggung jawab mereka sebagai pelaku Amanat Agung (Nggebu, 2. Pembinaan rohani yang lebih mendalam dan terarah sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi ini (Marbun, 2. Gereja perlu berfokus pada pengajaran yang mengedepankan tanggung jawab setiap individu percaya untuk menjadi saksi Kristus yang sesuai dengan isi Alkitab (Baskoro & Purwoto, 2. , baik melalui perilaku yang mencerminkan kasih dan kebenaran, maupun melalui keberanian untuk membagikan Injil kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Dengan adanya pembinaan yang tepat, jemaat diharapkan tidak hanya memahami peran mereka dalam misi global gereja, tetapi juga merasa terdorong untuk menghidupi Amanat Agung dalam setiap aspek kehidupan mereka. Di tengah kompleksitas tantangan tersebut, penting untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang menghambat jemaat GKSI Smirna dalam mengaktualisasikan Amanat Agung. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji sejauh mana pemahaman jemaat terhadap Amanat Agung, faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya kesadaran mereka dalam menjalankan tanggung jawab tersebut, serta strategi pembinaan rohani yang efektif untuk mendorong partisipasi aktif jemaat dalam melaksanakan misi Kristus di tengah masyarakat modern. Di akhir proses pembinaan, diharapkan jemaat GKSI Smirna akan lebih sadar akan panggilan mereka untuk aktif terlibat dalam pemberitaan Injil, baik melalui kata-kata maupun perbuatan, dan menjadi saksi hidup Kristus di tengah dunia yang semakin terpengaruh oleh berbagai tantangan zaman modern. Dengan demikian, kesadaran jemaat akan peran mereka sebagai pelaku Amanat Agung dapat dipulihkan, sehingga gereja dapat menjalankan fungsinya dengan lebih efektif di tengah masyarakat yang terus berubah ini. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini diselenggarakan di GKSI Jemaat Smirna yang berada di Desa Denduka. Kecamatan Wewewa Selatan. Kabupaten Sumba Barat Daya. Nusa Tenggara Timur. Dalam pelaksanaan PkM ini pengabdi menggunakan metode observasi dan survei lapangan. Pengabdi juga mengkolaborasikan dengan studi kepustakaan, yang biasa dikenal dengan istilah library research (Ramanda et al. , 2. Studi kepustakaan dalam konteks ini mengacu pada pengumpulan dan analisis berbagai sumber dari literatur, termasuk Alkitab, artikel, buku, serta pemikiran para ahli yang relevan dan berdampak pada pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang sedang dilakukan (Gulo, 2. Langkah awal yang dilakukan oleh pengabdi adalah memberikan pengajuan kepada bapak BPW . adan pengurus wilaya. , dan bapak Gembala di mana pengabdi sedang melangsungkan praktik kerja lapangan. Proses demikian terlaksana pada tanggal Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 14 April 2024. Setelah mendapatkan persetujuan, pengabdi melanjutkan kepada tahap Tepat pada tanggal 3 Agustus 2024 sesi pertama dilaksanakan. Dalam pertemuan tersebut pengabdi menyampaikan serta menjelaskan pentingnya memberitakan Injil berdasarkan Amanat Agung. Selanjutnya, pada tanggal 18 Agustus 2024 sesi kedua Dalam sesi ini, pengabdi menjelaskan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya dan bagaimana hidup sesuai dengan Kristus melalui buah-buah Roh. Pada sesi terakhir yang berlangsung pada 21 Agustus 2024, kegiatan pembinaan dilanjutkan dengan mengulas kembali materi yang telah dibahas sebelumnya, serta melakukan observasi terhadap jemaat GKSI Smirna dalam menjalani kehidupan sehari-hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesi Pertama: menjelaskan pentingnya Amanat Agung AuMatius 28:18-20Ay Amanat Agung sebagaimana tercantum dalam Matius 28:18-20 menegaskan inti misi yang diberikan Yesus Kristus kepada para pengikut-Nya. Dalam ayat ini. Yesus menegaskan bahwa segala otoritas di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya. Berdasarkan otoritas tersebut. Yesus memerintahkan para murid untuk melaksanakan tugas mulia, yaitu menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya. Tugas ini mencakup tindakan membaptis dalam nama Bapa. Anak, dan Roh Kudus, serta mengajarkan mereka untuk menaati segala perintah yang telah disampaikan oleh Yesus. Dalam penegasan ini. Yesus juga memberikan jaminan kehadiran-Nya yang menyertai para murid hingga akhir zaman. Perintah tersebut tidak hanya mencerminkan puncak dari misi Yesus di dunia, tetapi juga menegaskan tanggung jawab gereja dan setiap individu percaya untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa . ezya, 2. Amanat Agung berfungsi sebagai dasar yang mengarahkan seluruh kehidupan gereja dan setiap pengikut Kristus dalam menjalankan perannya di dunia. Dalam tradisi Kristen, misi ini dipahami melalui beberapa perspektif, yaitu penyebarluasan iman, perluasan Kerajaan Allah, ajakan bagi mereka yang belum beriman untuk bertobat, serta pendirian jemaat-jemaat baru (GP. Oleh karena itu. Amanat Agung bukan sekadar ajakan, tetapi mandat ilahi yang bersifat mengikat. Secara umum gereja diartikan sebagai perkumpulan orang-orang (Hutahaean. Identitas gereja sebagai tubuh Kristus (Ef 1:22-. juga tidak terpisahkan dari misi ini. Sebagai representasi Kristus di dunia, gereja memiliki peran untuk memberikan kesaksian tentang Kristus (Kis 1:. Pemahaman akan peran ini menjadi krusial agar jemaat menyadari tujuan utama keberadaan mereka, yaitu memuliakan Tuhan melalui pemberitaan Injil dan pendisiplinan bangsa-bangsa. Perintah Yesus dalam Amanat Agung bersifat kolektif kepada gereja sekaligus bersifat individu kepada setiap orang Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam 2 Korintus 5:20 dengan menyatakan bahwa setiap orang percaya adalah Auduta-duta KristusAy yang bertugas mengajak orang lain untuk berdamai dengan Allah (Surya & Setinawati, 2. Dengan demikian, tanggung jawab untuk memberitakan Injil tidak terbatas pada pemimpin gereja, pendeta, atau penginjil, melainkan berlaku bagi semua pengikut Kristus. Pelaksanaan Amanat Agung juga bergantung pada kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul 1:8. Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk memberi kuasa kepada para pengikut-Nya agar mereka dapat menjadi saksi-Nya. Dalam konteks ini. Roh Kudus berfungsi sebagai agen utama yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan misi tersebut. Tanpa kehadiran Roh Kudus, upaya manusia dalam menyebarkan Injil PEMBINAAN WARGA JEMAAT A (J. Harit. akan kehilangan makna dan dampak. Pemuridan, yang menjadi inti dari Amanat Agung, juga menegaskan pentingnya tidak hanya menyampaikan Injil, tetapi juga mengajarkan penerapan perintah-perintah Kristus (Matius 28:. Tanpa pemuridan, proses penginjilan akan menjadi dangkal dan kurang efektif. Dalam konteks modern yang dipengaruhi relativisme moral dan penolakan terhadap kebenaran absolut. Amanat Agung menjadi lebih relevan. Gereja dan jemaat perlu dilengkapi dengan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menyampaikan Injil sebagai jawaban atas tantangan spiritual dan moral yang ada. Selain itu. Amanat Agung juga menekankan pentingnya integritas dan kehidupan yang kudus. Kehidupan jemaat harus mencerminkan kebenaran Injil yang mereka beritakan. Sebagaimana dinyatakan dalam 1 Petrus 2:12, hidup yang kudus akan menjadi kesaksian bagi dunia, yang pada akhirnya memuliakan Tuhan. Gambar: 1 Edukasi Sesi Pertama Pelaksanaan sesi pertama yang diadakan pada Sabtu, 3 Agustus 2024, bertempat di salah satu rumah jemaat GKSI Smirna, menunjukkan respons positif dari para peserta. Dari penyampaian materi, jemaat mulai menyadari kembali pentingnya Amanat Agung dan merasa tertantang untuk mengambil bagian secara aktif dalam pelaksanaan misi ini. Kesadaran bahwa penginjilan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemimpin gereja, menjadi pendorong bagi mereka untuk berkomitmen melaksanakan panggilan ini dengan penuh ketaatan kepada Kristus. Sesi Kedua: Peran Roh Kudus dalam Kehidupan Orang Percaya dan Pentingnya Kehidupan yang Dipenuhi Buah Roh Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Tritunggal dan memainkan peran penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Roh Kudus tinggal di dalam dia (Yoh 14:17. 1 Kor 6:. Kehadiran Roh Kudus merupakan tanda keselamatan dan penebusan melalui Kristus (Ef Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 1:13-. Memahami peran Roh Kudus dan pentingnya mengisi kehidupan melalui buah-buah Roh adalah kunci bagi setiap orang percaya untuk menjalani kehidupan Kristen yang produktif, berbuah, dan memuliakan Tuhan. Beberapa fungsi Roh Kudus dalam kehidupan orang Kristen meliputi: pertama, sebagai pembawa kehidupan baru. Saat seseorang menerima Kristus. Roh Kudus memberikan transformasi hidup atau kelahiran baru. Yesus mengajarkan kepada Nikodemus bahwa AuJika manusia tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan AllahAy (Yoh 3:. Proses kelahiran baru ini merupakan karya Roh Kudus yang mengubah manusia lama menjadi manusia baru di dalam Kristus . Kor 5:. Kedua. Roh Kudus bertindak sebagai pengajar dan pembimbing dalam kebenaran bagi orang percaya. Dia berperan sebagai pengajar dan penuntun dalam memahami Yesus menyebut Roh Kudus, sebagai AuRoh kebenaran,Ay akan membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:. (Arifianto et al. , 2. Peran Roh Kudus sangat vital karena Dia memungkinkan kita untuk memahami Firman Tuhan dan menjadi pelaku dari Firman Tuhan. Selain itu. Roh Kudus sebagai penghibur dan Dia disebut sebagai penghibur (Yoh 14:. dan penolong (Yoh 14:. (Endang, 2. Peran ini menjadi sangat penting, terutama ketika kita menghadapi tantangan dan penderitaan. Dalam Roma 8:26, dijelaskan bahwa Roh Kudus mendukung kita dalam kelemahan. bahkan saat kita tidak tahu cara berdoa. Roh Kudus berdoa bagi kita dengan keluhan yang tak terkatakan. Keempat. Roh Kudus berperan dalam menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupan orang percaya. Salah satu bukti nyata pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang Kristen adalah buah Roh. Rasul Paulus menyebutkan sembilan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan pengendalian diri (Gal 5:22-. Karakter tersebut dibentuk oleh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Buah Roh Mencerminkan Keintiman dengan Tuhan: Menghasilkan buah Roh adalah hasil keintiman dengan Tuhan. Rasul Yohanes mengajarkan bahwa orang percaya harus tinggal di dalam Kristus agar dapat menghasilkan buah (Yoh 15:4-. Kehidupan yang menghasilkan buah Roh mencerminkan kedekatan dan kedalaman hubungan seseorang dengan Tuhan, di mana mereka senantiasa bergantung pada-Nya dan dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam menyampaikan materi tentang Roh Kudus kepada peserta pembinaan, pengabdi menggunakan pendekatan yang interaktif dan aplikatif. Pengabdi memulai dengan memberikan pengantar singkat tentang peran Roh Kudus, selanjutnya disertai dengan contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan pengalaman para peserta. Sebagai contoh, pengabdi menjelaskan bagaimana Roh Kudus bekerja sebagai penghibur dalam situasi-situasi sulit, seperti saat mereka mengalami tekanan pekerjaan atau masalah keluarga, dan bagaimana buah-buah Roh seperti kesabaran dan damai sejahtera dapat membantu mereka menghadapinya. Melalui pendekatan ini, para peserta diajak tidak hanya memahami konsep Roh Kudus secara teoritis, tetapi juga mulai menerapkannya secara praktis dalam hidup mereka, dengan tujuan untuk membangun kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus dan menghasilkan buah Roh yang terlihat. Pada hari Minggu, tanggal 18 Agustus 2024 sesi pembinaan yang kedua dilaksanakan di Gereja GKSI Smirna Padudara. Setelah materi disampaikan, jemaat mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka terlihat tergerak oleh penjelasan mengenai peranan Roh Kudus dan pentingnya kehidupan yang dipenuhi oleh buah-buah Roh. Beberapa jemaat mulai menyadari bahwa mereka mungkin belum sepenuhnya mengandalkan Roh Kudus dalam menjalani hidup, dan ada yang merasa tertantang untuk lebih membuka diri terhadap pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan mereka. PEMBINAAN WARGA JEMAAT A (J. Harit. Gambar: 2 Kegiatan Sesi Kedua Sesi Ketiga: Mengulas Materi yang Sudah Disampaikan dan Observasi Perubahan Jemaat GKSI Smirna Pada hari Rabu, tanggal 21 Agustus 2024 merupakan sesi pembinaan yang Dalam proses ketiga berlangsung pemateri mengulas kembali apa yang disampaikan dalam pembinaan sesi pertama dan kedua, serta melihat perubahan yang dialami oleh setiap warga jemaat GKSI Smirna. PkM melalui pembinaan ini mencapai puncaknya dengan pelaksanaan praktik berdasarkan pertemuan pada sesi pertama dan kedua, yaitu tentang Amanat Agung, peranan Roh Kudus, dan pentingnya hidup yang dipenuhi oleh buah-buah Roh. Ulasan ini dilakukan dengan metode interaktif, di mana pengabdi mendorong jemaat untuk mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman pribadi, dan berdiskusi secara terbuka mengenai kesulitan yang mereka hadapi dalam menjalankan peran sebagai saksi Injil. Dengan cara ini, pengabdi dapat mengidentifikasi area-area di mana jemaat masih merasa kurang percaya diri atau kurang memahami konsep yang diajarkan. Selain itu, ulasan ini juga berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada jemaat untuk merefleksikan kembali panggilan mereka secara personal, sehingga mereka lebih siap untuk mengimplementasikan pembelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Setelah melakukan ulasan materi, pengabdi mulai mengamati transformasi yang terjadi dalam kehidupan jemaat setelah mengikuti seluruh proses pembinaan. Observasi ini dilakukan melalui wawancara informal, pengamatan langsung dalam aktivitas gereja, serta interaksi jemaat dengan komunitas sekitarnya. Salah satu perubahan yang signifikan adalah meningkatnya keberanian dan inisiatif jemaat dalam berbicara tentang iman mereka. Jika sebelumnya banyak jemaat yang pasif dan cenderung enggan untuk terlibat dalam percakapan seputar Injil, kini tampak bahwa sebagian dari mereka mulai merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk berbagi kabar baik dengan sesama. Ini merupakan indikasi awal bahwa pemahaman teologis mereka tentang Amanat Agung telah mulai tertanam dengan lebih dalam. Namun, dalam pelaksanaan pembinaan ini, pengabdi juga menghadapi sejumlah tantangan yang cukup berat, terutama terkait dengan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur di GKSI Smirna. Tantangan pertama yang dialami adalah rendahnya tingkat literasi dan pengetahuan teologis dasar di kalangan jemaat. Banyak dari jemaat yang kurang terbiasa dengan istilah-istilah teologis dan konsep-konsep abstrak yang digunakan dalam pembinaan. Jurnal PkM Setiadharma Volume 5 Nomor 3. Desember 2024 Hal ini memaksa pengabdi untuk menyesuaikan gaya pengajaran, menggunakan pendekatan yang lebih sederhana, dan mengaitkannya dengan contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari yang lebih sesuai dengan pengalaman jemaat. Gambar: 3 Kegiatan Evaluasi Selain itu, keterbatasan akses terhadap teknologi dan materi pembelajaran yang lebih modern juga menjadi kendala. Di daerah yang terpencil seperti desa Denduka ini, penggunaan media pembelajaran digital sangat terbatas karena minimnya infrastruktur pendukung seperti internet dan perangkat elektronik. Akibatnya, pengabdi harus mengandalkan metode pembelajaran tradisional, seperti presentasi verbal dan diskusi langsung, yang memerlukan lebih banyak waktu dan kesabaran untuk memastikan semua materi dipahami dengan baik. Meskipun tantangan-tantangan ini cukup menghambat proses pembinaan, hasil yang diperoleh tidaklah mengecewakan. Setelah seluruh rangkaian pembinaan selesai, pengabdi melihat adanya perubahan nyata dalam sikap dan perilaku jemaat. Mereka tidak hanya lebih sadar akan tugas mereka sebagai pelaku Amanat Agung, tetapi juga mulai mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Hal ini terlihat dari peningkatan partisipasi jemaat dalam kegiatan misi lokal, seperti penginjilan sederhana di lingkungan sekitar gereja dan keterlibatan mereka dalam pelayanan sosial. Beberapa jemaat bahkan mulai terlibat dalam pertemuan doa keluarga dan kelompok kecil, di mana mereka membahas topik-topik rohani yang sebelumnya jarang dibicarakan. Lebih lanjut, kehidupan komunitas jemaat GKSI Smirna juga menunjukkan perkembangan yang positif. Hubungan antar jemaat menjadi lebih erat, ditandai dengan meningkatnya saling dukung dalam pelayanan dan dorongan untuk menjaga kesatuan tubuh Kristus. Jemaat mulai menyadari bahwa tugas mereka sebagai saksi Kristus tidak hanya diwujudkan melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan kasih Kristus, baik di lingkungan gereja maupun di luar. Meskipun perubahan ini mungkin tidak terjadi secara drastis atau instan, pengabdi dapat melihat bahwa pembinaan ini telah menanamkan dasar yang kuat bagi pertumbuhan rohani jemaat di masa depan. Tantangan memang masih ada, terutama terkait dengan keterbatasan PEMBINAAN WARGA JEMAAT A (J. Harit. sumber daya dan kebutuhan untuk terus memberikan pendampingan. Namun, hasil awal dari pembinaan ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat dan komitmen yang berkelanjutan, jemaat GKSI Smirna dapat berkembang menjadi komunitas yang lebih kuat dalam menjalankan Amanat Agung dan menjadi saksi hidup bagi Injil di tengah masyarakat yang terus berubah. KESIMPULAN Hasil dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di GKSI Smirna menunjukkan bahwa pembinaan yang berfokus pada Amanat Agung, peran Roh Kudus, dan buah-buah Roh memiliki dampak yang signifikan terhadap pemahaman dan keberanian jemaat untuk menjalankan tugas mereka sebagai saksi Kristus. Materi yang disampaikan dalam tiga sesi pembinaan berhasil membuka wawasan jemaat mengenai tanggung jawab mereka dalam menyebarkan Injil, baik melalui tindakan maupun Proses pembinaan juga memperlihatkan adanya transformasi dalam pola pikir dan sikap jemaat, terutama dalam keberanian mereka untuk berbagi iman. Meski terdapat kemajuan, beberapa tantangan tetap ada, seperti keterbatasan literasi teologis dan sumber daya gereja. Hal ini mengindikasikan perlunya pembinaan yang lebih berkelanjutan dan intensif agar perubahan yang terjadi dapat bersifat permanen. Dengan kolaborasi yang lebih erat antara gereja, pemimpin rohani, dan jemaat, diharapkan GKSI Smirna dapat menjadi komunitas yang tidak hanya memahami panggilannya, tetapi juga menjadi pelaku Amanat Agung yang aktif dalam kehidupan sehari-hari. UCAPAN TERIMA KASIH Pengabdian kepada Masyarakat bisa terlaksana oleh anugerah dari Allah Tritunggal, sehingga kegiatan pembinaan kepada jemaat GKSI Smirna berjalan dengan Pengabdi juga berterimakasih kepada beberapa pihak yang turut serta membantu dan mendukung hingga terselesaikannya kegiatan ini, yaitu . Bpk. Bpw, . Bpk. Gembala GKSI Jemaat Smirna, . Majelis GKSI Smirna, . Lembaga STT SETIA JAKARTA yang telah menyediakan wadah bagi para pengabdi hingga bisa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan baik. DAFTAR PUSTAKA