LISTRA Jurnal Linguistik Sastra Terapan Vol. No. Bulan Oktober 2025, pp. https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index || Representasi Masyarakat Indonesia dalam Novel AuRinduAy Karya Tere Liye: (Analisis Strukturalisme Geneti. Etik setyaningsih 1. Muatofa 2. Sariban 3 *1-3 Universitas Islam Darul AoUlum Lamongan. Indonesia 1 etiksetyaningsih1@gmail. 2 tofa09@unisda. 3 sariban@unisda. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur masyarakat, struktur keagamaan, dan pandangan dunia pengarang sebagai representasi masyarakat Indonesia dalam novel Rindu karya Tere Liye. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menganalisis kutipan-kutipan dalam novel yang mencerminkan aspek sosial dan religius. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rindu menggambarkan masyarakat Indonesia yang harmonis, religius, dan kaya budaya, tercermin dalam interaksi antar tokoh yang memiliki latar belakang beragam. Struktur keagamaan dalam novel ini menekankan pentingnya hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, keyakinan, dan akhlak yang baik, yang terlihat dalam kegiatan seperti sholat berjamaah, pengajian, dan majelis ilmu. Selain itu, novel ini juga mengangkat ketegangan antara kekuasaan dan perjuangan moral, dengan menyoroti bahaya penindasan ide dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan strukturalisme genetik yang digunakan untuk mengungkap representasi masyarakat Indonesia dalam novel Rindu. Penelitian ini tidak hanya mengkaji aspek sosial dan religius, tetapi juga menelaah refleksi nilai budaya dan ideologi dalam tokoh, konflik, dan alur cerita, sehingga memberikan perspektif baru dalam memahami sastra sebagai cerminan dinamika sosial dan budaya di Indonesia. Kata kunci: struktur masyarakat, struktur keagamaan, pandangan dunia, strukturalisme genetik. ABSTRACT This study aims to describe the social structure, religious structure, and worldview of the author as a representation of Indonesian society in the novel Rindu by Tere Liye. Using a qualitative method, this research analyzes excerpts from the novel that reflect social and religious aspects. The findings indicate that Rindu portrays Indonesian society as harmonious, religious, and culturally rich, as seen in the interactions between characters from diverse backgrounds. The religious structure in this novel emphasizes the importance of human relationships with God through worship, faith, and good morals, which are evident in activities such as congregational prayers, religious studies, and scholarly Furthermore, the novel highlights tensions between power and moral struggle by addressing the dangers of ideological oppression and resistance against injustice. The novelty of this research lies in the use of genetic structuralism to reveal the representation of Indonesian society in Rindu. This study not only examines social and religious aspects but also explores the reflection of cultural values and ideology in the characters, conflicts, and storyline, providing a new perspective on understanding literature as a reflection of social and cultural dynamics in Indonesia. Kata Kunci: social structure, religious structure, worldview, genetic structuralism. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Karya sastra merupakan cerminan kehidupan manusia yang menggambarkan makna hidup dan realitas sosial dalam masyarakat. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam pendidikan serta penyampaian nilai-nilai moral (Alma'ruf & Nugraheni, 2017:. Dalam kajian sastra, berbagai teori digunakan untuk memahami hubungan antara teks sastra dengan realitas yang melatarbelakanginya. Salah satu pendekatan yang relevan dalam analisis karya sastra adalah strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann. Pendekatan ini menekankan bahwa karya sastra https://e-jurnal. id/index. php/LISTRA/index listra@unisda. merupakan hasil strukturasi yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial, budaya, dan historis masyarakat tempat pengarang berada (Fananie, 2000:. Dengan demikian, strukturalisme genetik menghubungkan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam memahami teks sastra secara lebih mendalam. Dalam dunia sastra, novel menjadi salah satu bentuk karya yang mampu menggambarkan realitas kehidupan dengan cara yang imajinatif. Sebagai bentuk prosa, novel memiliki unsur intrinsik seperti tema, alur, tokoh, dan latar yang menyusun keseluruhan cerita. Selain itu, novel juga memiliki unsur ekstrinsik yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, dan sejarah yang melatarbelakanginya (Ratna, 2013:. Salah satu novel yang menarik untuk dikaji menggunakan pendekatan strukturalisme genetik adalah Rindu karya Tere Liye. Novel ini menampilkan berbagai aspek kehidupan sosial, agama, serta nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakat Indonesia pada masa tertentu. Novel Rindu mengisahkan perjalanan panjang para jamaah haji Indonesia pada awal abad Dalam novel ini, pengarang menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh dengan makna religius dan sosial. Kisah dalam novel ini tidak hanya menampilkan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual serta pergulatan batin tokoh-tokohnya. Selain itu, novel ini juga mencerminkan hubungan antarmanusia, konflik moral, dan dinamika sosial yang terjadi pada masa tersebut. Oleh karena itu, novel Rindu sangat relevan untuk diteliti dengan pendekatan strukturalisme genetik guna memahami bagaimana struktur masyarakat, struktur keagamaan, serta pandangan dunia pengarang direpresentasikan dalam teks sastra. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kajian terhadap novel Rindu masih terbatas pada analisis tematik dan nilai moral. Penelitian terdahulu lebih banyak membahas aspek intrinsik novel tanpa mengaitkannya dengan konteks sosial-historis yang melatarbelakangi karya ini. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menggunakan teori strukturalisme genetik untuk menganalisis bagaimana novel Rindu merefleksikan kondisi sosial dan pandangan dunia pengarangnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: Mendeskripsikan struktur masyarakat yang digambarkan dalam novel Rindu karya Tere Liye. Menganalisis struktur keagamaan yang terepresentasi dalam novel. Mengungkap pandangan dunia pengarang yang tercermin dalam novel Rindu. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami novel Rindu tidak hanya dari segi estetika sastra, tetapi juga sebagai refleksi dinamika sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat pada masa novel ini ditulis. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Ratna . , metode kualitatif menekankan pada data alamiah serta relevansinya dengan konteks sosial dan budaya. Dalam konteks penelitian sastra, metode ini memungkinkan analisis mendalam terhadap makna yang terkandung dalam teks. Penelitian ini juga menggunakan analisis hermeneutika, yang berasal dari kata hermeneuein . ahasa Yunan. , yang berarti menafsirkan atau menginterpretasikan. Hermeneutika tidak hanya mengurai permukaan teks tetapi juga menggali makna yang lebih dalam, termasuk simbol-simbol yang terkandung dalam teks sastra. Sumber data dalam penelitian ini ada 2 yaitu Data Primer dalam penelitian ini adalah novel Rindu karya Tere Liye, yang dijadikan objek utama dalam analisis. Sumber Data Sekunder meliputi berbagai buku dan literatur terkait teori strukturalisme genetik Lucien Goldmann serta referensi lain yang relevan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Data diperoleh melalui langkah-langkah berikut: Membaca novel Rindu karya Tere Liye secara mendalam. Mengidentifikasi makna yang terkandung dalam teks. Menandai data yang relevan. Memasukkan data ke dalam korpus data untuk dianalisis lebih lanjut. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen utama. Oleh karena itu, validasi terhadap peneliti mencakup pemahaman teori, metode, serta kesiapan dalam melakukan analisis data secara kritis. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan: Novel Rindu karya Tere Liye sebagai bahan utama penelitian. Alat tulis untuk mencatat data penting. Buku teori dan dokumen pendukung. Korpus data. Tabel analisis data. eknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Analisis Deskriptif: Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh data yang diperoleh, kemudian dikaitkan dengan permasalahan penelitian, serta dilakukan identifikasi dan pendeskripsian data secara sistematis. Analisis Isi: Teknik ini digunakan untuk mencari makna dalamn teks yang terdapat dalam objek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis hermeneutika untuk mengkaji novel Rindu karya Tere Liye. Teknik analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis isi, dengan sumber data utama berasal dari novel tersebut. Proses penelitian ini bertujuan untuk memahami struktur sosial, fakta kemanusiaan, serta pandangan dunia pengarang dalam novel yang Hasil dan Pembahasan Hasil Struktur Masyarakat Umum yang Tergambar dalam Novel AuRinduAy Karya Tere Liye Pembahasan pada sub bab struktur masyarakat umum yang tergambar dalam novel Rindu karya Tere Liye akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kajian strukturalisme Kajian ini bertujuan untuk menggali hubungan antara struktur sosial, individu, dan sejarah dalam novel tersebut. Struktur masyarakat dalam Rindu dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti hubungan antar individu dalam keluarga, perbedaan status sosial, nilai-nilai budaya yang ada, serta pengaruh perubahan sosial dan sejarah terhadap kehidupan karakterkarakternya. Melalui analisis ini, diharapkan dapat terungkap bagaimana kondisi sosial dan budaya dalam masyarakat berperan dalam membentuk pola pikir dan tindakan tokoh-tokoh dalam novel, serta bagaimana perkembangan masyarakat itu sendiri tercermin dalam narasi Berikut adalah beberapa aspek struktur masyarakat umum yang dapat diidentifikasi dalam novel Rindu karya Tere Liye ini: Struktur Masyarakat sebagia Mahluk Sosial Struktur masyarakat sosial dalam sebuah novel merupakan cara masyarakat secara luas memiliki hubungan sosial, norma, nilai, kelas sosial, dan hierarki sosial digambarkan dan diorganisir dalam cerita tersebut. Dalam kajian strukturalisme genetik, struktur masyarakat sosial tidak hanya dipahami sebagai gambaran statis, tetapi juga sebagai produk dari dinamika sosial yang berkembang seiring waktu, baik dalam konteks sejarah maupun budaya. Struktur ini mencakup bagaimana individu atau kelompok dalam novel berinteraksi, saling memengaruhi, dan dipengaruhi oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang ada dalam masyarakat pada saat itu. Berikut merupakan data struktur masyarakat umum yang tergambar dalam novel Rindu Karya Tere Liye. Bonda Upe menggeleng. Saat ini, ia bahkan menyesal kenapa mengacungkan tangan, menawarkan diri menjadi guru mengaji saat sholat berjamaah pertama kali di kapal. Ini bukan kota palu. Ini kapal haji dengan penumpang datang dari mana saja. Bagaimana jika ada yang tahu tentang dirinya. Tentang kisahnya di Batavia (Rindu. Tere Liye: . Kutipan tersebut menunjukan bahwa sebagai mahluk sosial, tentunya saling membutuhkan satu sama lain, sama halnya seperti data tersebut yang menggambarkan kondisi ketika sedang perjalanan haji dengan naik kapal, saat itu sedang diadakan musyawarah untuk memilih guru Kegiatan musyawarah tersebut merupakan kegiatan yang mencerminkan masyarakat Indonesia sebagai mahluk sosial, dan tokoh Bonda Upe meskipun ada rasa sesal telah bersedia menawarkan diri, namun langkah Bonda Upe merupakan bagian representasi dari masyarakat Indonesia karena ketika di kampung halamannya ia juga sebagai guru mengaji. AuAkhirnya hari yang ditunggu datang juga, bukan?Ay Pejabat Tinggi Pelabuhan menyalami, sambil menepuk-nepuk akrab bahu pemimpin rombongan. AuBegitulah. Meneer. Sudah lama sekali kapal ini dinantikan. Ay Orang yang dipanggil Daeng Andipati itu tertawa pelan. (Rindu. Tere Liye: . Dari kutipan di atas, menunjukan gambaran masyarakat secara umum ialah sebagai mahluk sosial yang dibuktikan dengan kalimat. AuPejabat Pelabuhan menyalami, sambil menepuk-nepuk akrab bahu pemimpin rombongan. Kalimat tersebut menunjukan ciri khas gambaran masyarakat Indonesia yakni melakukan jabat tangan sebagai mahluk sosial saat menyapa rekan maupun saudara. AuMasih ada sisa makan malam. Ambo. Orang tua ini lapar, terlalu asyik dengan pena dan kertas, hingga terlewat jadwal makan. Ay Gurutta duduk di sebelah Ruben. (Rindu. Tere Liye: Dalam kutipan ini, terdapat gambaran tentang hubungan sosial antara dua tokoh, yakni Gurutta dan Ruben. Gurutta, yang merupakan sosok pemimpin atau guru agama dihormati oleh masyarakat, menunjukkan sifat yang sederhana dan penuh perhatian terhadap orang lain. Interaksi ini mencerminkan adanya struktur masyarakat tradisional yang masih mengedepankan nilai-nilai hormat kepada sosok yang dituakan atau dianggap memiliki otoritas moral dan spiritual. Permintaan Gurutta kepada Ambo terkait sisa makan malam menunjukkan pola hubungan yang informal namun penuh rasa hormat. Hal ini menggambarkan bahwa dalam struktur masyarakat yang diwakili oleh tokoh-tokoh ini, ada hierarki sosial yang tetap terjaga, namun diimbangi dengan kehangatan dan rasa saling peduli. Gurutta yang "terlalu asyik dengan pena dan kertas" hingga melewatkan jadwal makan juga mengindikasikan posisi sosialnya sebagai seorang intelektual atau pemikir. Dalam konteks masyarakat sosial, ini mencerminkan adanya pengakuan terhadap peran tokoh agama atau pemimpin spiritual sebagai pusat ilmu pengetahuan, yang tidak hanya bertanggung jawab secara spiritual tetapi juga berperan dalam menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan kepada Interaksi yang santai namun tetap terstruktur ini mencerminkan aspek institusi sosial, khususnya keluarga atau anggota kecil, yang berfungsi sebagai tempat berinteraksi dan mempererat solidaritas sosial. Dengan demikian, kutipan ini menjadi representasi struktur masyarakat sosial yang mengedepankan nilai-nilai penghormatan, kehangatan, dan fungsi institusi sebagai pengikat hubungan sosial. AuTapi sebelum aku menjawabnya, izinkan aku meyampaikan rasa simpati yang mendalam atas kehidupanmu yang berat dan menyesakkan. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Maka saat itu ditakdirkan kepada kita, insya Allah karena kita mampu memikulnya. Ay (Rindu. Tere Liye: . Kutipan tersebut merepresentasikan struktur masyarakat sosial melalui relasi emosional, empati, dan solidaritas yang terjalin di antara tokoh-tokohnya. Dalam konteks ini, dialog tersebut menunjukkan adanya nilai-nilai sosial yang mendasari hubungan antarindividu dalam masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan hidup. Pernyataan "rasa simpati yang mendalam atas kehidupanmu yang berat dan menyesakkan" mencerminkan adanya nilai solidaritas yang tinggi dalam masyarakat. Simpati yang diungkapkan bukan hanya sekadar bentuk perhatian, tetapi juga menunjukkan bahwa dalam struktur masyarakat yang tergambar dalam novel ini, empati menjadi landasan penting dalam menjalin hubungan sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat di dalam cerita memiliki norma untuk saling mendukung, terutama saat menghadapi ujian kehidupan. Pernyataan "tidak semua orang sanggup menjalaninya" menunjukkan pengakuan terhadap perjuangan individu, yang dalam konteks sosial dapat diartikan sebagai penghargaan terhadap pengalaman dan keberanian seseorang dalam menjalani kehidupan yang sulit. Kalimat ini memperlihatkan hierarki sosial berbasis pengalaman hidup, di mana mereka yang berhasil menghadapi cobaan berat dipandang dengan rasa hormat dan kekaguman. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa struktur masyarakat dalam novel Rindu karya Tere Liye mencerminkan hubungan sosial yang erat, norma budaya yang kuat, serta dinamika hierarki sosial yang berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan strukturalisme genetik, novel ini menampilkan bagaimana individu berinteraksi dalam komunitas, menunjukkan nilai empati, solidaritas, serta penghormatan terhadap pemimpin spiritual dan sosial. Berbagai kutipan dalam novel memperlihatkan karakter yang saling mendukung dalam perjalanan kehidupan mereka, baik dalam konteks musyawarah, interaksi sosial sehari-hari, maupun dalam menghadapi cobaan hidup. Struktur Masyarakat yang Beragama Struktur masyarakat beragama yang tergambar dalam novel mencerminkan pola kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai spiritual dan religius. Dalam masyarakat beragama, kehidupan sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari ajaran agama yang menjadi panduan moral, etika, dan sosial. Hal ini terlihat dari tokoh-tokoh yang mempraktikkan keyakinan mereka melalui ritual keagamaan, pengambilan keputusan berdasarkan ajaran agama, dan pembentukan hubungan sosial yang dilandasi oleh nilai-nilai religius. Tokoh-tokoh dalam novel sering kali digambarkan menjalankan peran mereka sesuai dengan norma agama, seperti mematuhi kewajiban ibadah, menjaga hubungan antarindividu dengan prinsip kasih sayang dan keadilan, serta menghadapi ujian hidup dengan sikap sabar dan tawakal. Kehidupan beragama ini tidak hanya menjadi identitas individu, tetapi juga membentuk struktur sosial yang lebih luas. Dalam konteks strukturalisme genetik, fenomena ini mencerminkan hubungan dialektis antara individu, masyarakat, dan sistem kepercayaan yang melingkupi mereka. Selain itu, struktur masyarakat beragama dalam novel sering kali menampilkan dinamika konflik yang muncul dari perbedaan interpretasi ajaran agama atau tantangan eksternal yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Konflik ini menunjukkan adanya perubahan atau ketegangan dalam struktur sosial, yang dapat ditelusuri melalui analisis mendalam terhadap tindakan, dialog, dan pengalaman tokoh-tokoh dalam cerita. Berikut data yang menunjukkan struktur masyarakat umum dalam bidang agama pada novel Rindu karya Tere Liye. Ada yang bersedia menjadi guru mengaji anak- anak?Ay Gurutta bertanya lagi. Hening sejenak. Saling tatap. AuSaya bersedia. Gurutta. Ay Akhirnya satu suara jamaah perempuan di belakang terdengar. AuSaya mengajar mengaji anak-anak di pesantren Kota Palu. Akan menyenangkan jika bisa mengajar juga di kapal ini. Ay (Rindu. Tere Liye: . Kutipan di atas menggambarkan interaksi sosial yang berlandaskan nilai-nilai religius dalam kehidupan masyarakat. Dialog antara Gurutta dan jamaah menunjukkan adanya struktur sosial yang menempatkan agama sebagai pusat aktivitas dan interaksi antarindividu. Gurutta, sebagai tokoh agama, memegang peran sentral dalam memimpin, membimbing, dan mengorganisasi kegiatan keagamaan. Pertanyaannya mengenai siapa yang bersedia menjadi guru mengaji mencerminkan nilai kolektivitas dalam masyarakat beragama, di mana pendidikan agama dianggap sebagai tanggung jawab bersama. Respon salah satu jamaah perempuan yang bersedia mengajar mengaji menunjukkan sikap ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai agama mendorong individu untuk berkontribusi secara aktif dalam komunitas, terutama dalam hal pendidikan keagamaan. Penyebutan "mengajar anak-anak di pesantren Kota Palu" menegaskan latar belakang keagamaan tokoh tersebut, di mana pesantren menjadi simbol institusi pendidikan agama yang penting dalam masyarakat Muslim. Selain itu, suasana hening dan saling tatap di antara jamaah sebelum salah satu dari mereka menawarkan diri menunjukkan proses internalisasi nilai-nilai agama dalam diri mereka. Hening tersebut bukan hanya jeda, tetapi cerminan dari kesadaran religius dan tanggung jawab moral yang mereka rasakan. Keputusan untuk menjadi guru mengaji tidak sekadar tugas, tetapi juga bentuk pengabdian spiritual. Dalam konteks struktural, kutipan ini menunjukkan bagaimana masyarakat beragama mengorganisasi dirinya melalui peran-peran tertentu, seperti tokoh agama, pendidik, dan anggota komunitas yang mendukung aktivitas keagamaan. Interaksi dalam kutipan ini juga memperlihatkan harmoni dan keselarasan yang terbentuk melalui nilai-nilai religius yang dipegang bersama. Melalui pendekatan strukturalisme genetik, kutipan ini dapat dibaca sebagai representasi dari kehidupan masyarakat yang menempatkan agama sebagai elemen fundamental dalam struktur sosialnya. Tindakan tokoh-tokoh dalam kutipan ini mencerminkan bagaimana nilainilai agama tidak hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga membentuk dinamika hubungan sosial yang lebih luas. Novel ini, melalui adegan tersebut, mengungkapkan pentingnya peran agama dalam membangun solidaritas dan tanggung jawab sosial dalam Gurutta menatap wajah-wajah semangat di sekitarnya. AuTerakhir, setiap lepas shalat Shubuh, aku akan mendirikan majlis ilmu di masjid ini. Insya Allah dimulai besok pagi. Kita bisa membahas banyak hal. Jika kalian sempat silakan datang, kita bisa belajar bersama. Ay (Rindu. Tere Liye: 58-. Kutipan ini mencerminkan struktur masyarakat yang beragama melalui peran tokoh agama sebagai pemimpin spiritual dan penggerak aktivitas keagamaan. Gurutta, sebagai pemimpin yang dihormati, mengambil inisiatif untuk mendirikan majlis ilmu, sebuah forum diskusi keagamaan yang diadakan setelah shalat Subuh. Ajakan ini tidak hanya menunjukkan tanggung jawab Gurutta sebagai seorang ulama, tetapi juga menegaskan pentingnya pendidikan agama sebagai bagian dari kehidupan masyarakat beragama. Pernyataan Gurutta tentang Aumendirikan majlis ilmuAy dan Aubelajar bersamaAy menekankan nilai-nilai inklusivitas dan kesederhanaan dalam struktur masyarakat beragama. Belajar tidak hanya menjadi tugas individu, tetapi juga menjadi kegiatan kolektif yang memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Masjid sebagai tempat berlangsungnya majlis ilmu menjadi simbol sentral dalam struktur sosial masyarakat beragama, berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga pusat pendidikan dan pengembangan spiritual. Melalui pendekatan strukturalisme genetik, adegan ini dapat dilihat sebagai representasi nilai-nilai sosial dan religius yang membentuk struktur masyarakat. Gurutta sebagai tokoh agama berfungsi sebagai elemen struktural yang menggerakkan dinamika sosial, sementara respons jamaah mencerminkan internalisasi nilai-nilai religius yang memengaruhi tindakan kolektif mereka. Kutipan ini menegaskan bahwa dalam masyarakat yang beragama, pendidikan agama dan kegiatan spiritual tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial mereka. Wajah pimpinan serdadu itu merah padam. AuAku tahu siapa kau. Ahmad Karaeng. Kau berbahaya bagi pemerintah Hindia Belanda. Jangan kira kami tidak tahu kau setiap bulan membuat pertemuan besar di Katangka, menyebarkan paham terlarang. Kolonel Vooren hanya menunggu waktu tepat untuk menangkap kau dan pengikut-pengikutmu. Kami selalu mengawasi kau setiap detik. Ay AuItu hanya pengajian, membahas tentang nasihat agama. Tidak ada paham terlarang di sana. Kecuali jika Kompeni punya defenisi baru soal baik-buruk sebuah paham. Ay Wajah tua Gurutta tetap tenang dan sabar, meski komandan itu berseru-seru hingga ludahnya terciprat kemana-mana. (Rindu. Tere Liye: . Kutipan ini menggambarkan interaksi antara seorang tokoh agama yang bernama Ahmad Karaeng atau Gurutta, dengan seorang pimpinan serdadu Hindia Belanda. Dialog ini menampilkan dinamika struktur masyarakat yang beragama dalam situasi yang penuh tekanan di bawah pemerintahan kolonial. Gurutta berperan sebagai pemimpin spiritual yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga menjadi simbol perlawanan moral terhadap ketidakadilan kolonial. Pernyataannya bahwa pertemuan yang dilakukan hanyalah "pengajian, membahas tentang nasihat agama" menunjukkan bagaimana aktivitas keagamaan menjadi bagian penting dari struktur sosial masyarakat. Pengajian tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah dan pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang berkumpul untuk memperkuat solidaritas dan membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi tekanan Reaksi serdadu Belanda yang mencurigai pengajian sebagai "paham terlarang" mencerminkan bagaimana kekuatan kolonial memandang kegiatan keagamaan sebagai ancaman potensial terhadap otoritas mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur masyarakat beragama, meskipun tampak damai dan religius, memiliki kekuatan sosial dan politik yang signifikan. Pengajian yang dilakukan Gurutta di Katangka menjadi bukti bahwa agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai moral, kesetaraan, dan perlawanan terhadap penindasan. Sikap tenang dan sabar Gurutta dalam menghadapi tuduhan menunjukkan keteguhan seorang pemimpin agama yang berpegang pada prinsip kebenaran. Wajahnya yang tetap tenang meski menghadapi seruan keras dan ancaman menggambarkan bagaimana agama menjadi sumber kekuatan bagi individu dalam situasi yang sulit. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat beragama memiliki hierarki sosial di mana pemimpin spiritual memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan moralitas komunitas. Kesimpulan dari hasil pemaparan data tersebut ialah struktur masyarakat beragama dalam novel Rindu karya Tere Liye digambarkan melalui tokoh-tokoh yang menjadikan agama sebagai pedoman moral, sosial, dan spiritual dalam kehidupan mereka. Agama tidak hanya membentuk identitas individu, tetapi juga menjadi dasar interaksi sosial, seperti dalam pengajaran mengaji, majlis ilmu, dan pengajian. Selain itu, novel ini menunjukkan bagaimana agama dapat menjadi alat perlawanan terhadap ketidakadilan, sebagaimana terlihat dalam konflik antara Gurutta dan pemerintah kolonial Belanda. Pembahasan Novel Rindu karya Tere Liye menghadirkan gambaran struktur masyarakat yang kompleks melalui interaksi sosial dan nilai-nilai budaya yang berkembang dalam kehidupan para Dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik, dapat dilihat bagaimana novel ini tidak hanya merepresentasikan hubungan sosial antarindividu tetapi juga mengungkap dinamika sosial yang berkembang dalam konteks sejarah dan budaya. Dua aspek utama yang dibahas dalam struktur masyarakat adalah sebagai makhluk sosial dan sebagai masyarakat yang beragama. Struktur Masyarakat sebagai Makhluk Sosial Struktur masyarakat sosial dalam novel Rindu digambarkan melalui berbagai interaksi yang menunjukkan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, serta hierarki sosial. Tokoh-tokoh dalam novel memperlihatkan keterikatan sosial yang erat, di mana mereka saling berinteraksi dalam berbagai situasi kehidupan, baik dalam perjalanan haji, dalam keseharian, maupun dalam menghadapi tantangan hidup. Salah satu contoh interaksi sosial yang ditampilkan adalah melalui musyawarah dalam memilih guru mengaji di kapal. Peristiwa ini menegaskan bahwa masyarakat dalam novel masih menjunjung tinggi nilai kolektif dan kebersamaan dalam mengambil keputusan. Selain itu, tokoh seperti Bonda Upe juga menunjukkan bagaimana individu dalam masyarakat berperan aktif sesuai dengan pengalaman dan keahlian yang dimilikinya. Interaksi antarindividu juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam kutipan yang menggambarkan seorang pejabat pelabuhan yang menyalami dan menepuk bahu pemimpin rombongan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sopan santun dan kebiasaan menyapa dengan hangat menjadi bagian dari budaya masyarakat yang tergambar dalam novel. Hubungan sosial yang erat juga dapat dilihat dalam percakapan antara Gurutta dan Ruben, di mana adanya rasa hormat terhadap sosok yang dituakan dan peran intelektual dalam masyarakat diakui dengan penuh penghargaan. Selain itu, novel juga menggambarkan bagaimana empati dan solidaritas menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Pernyataan simpati terhadap kehidupan yang penuh tantangan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki norma sosial yang mengajarkan untuk saling mendukung dalam menghadapi kesulitan. Dengan demikian, novel Rindu menampilkan struktur masyarakat yang mengedepankan kebersamaan, rasa hormat, dan kepedulian sosial yang tinggi. Struktur Masyarakat yang Beragama Struktur masyarakat dalam novel Rindu juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang menjadi pedoman dalam kehidupan tokohnya. Agama tidak hanya menjadi bagian dari identitas individu tetapi juga membentuk cara mereka berinteraksi dan mengambil keputusan dalam kehidupan sosial. Keberagamaan dalam novel ini ditampilkan melalui berbagai aktivitas seperti pengajaran mengaji, majlis ilmu, dan pengajian, yang memperlihatkan bagaimana agama menjadi pusat kehidupan masyarakat. Salah satu adegan yang mencerminkan hal ini adalah ketika Gurutta bertanya siapa yang bersedia menjadi guru mengaji bagi anak-anak di kapal. Respon dari salah satu jamaah perempuan menunjukkan bahwa pendidikan agama dianggap sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas individu tertentu. Hal ini mencerminkan bahwa dalam masyarakat beragama, kepedulian terhadap pendidikan spiritual merupakan bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas. Selain itu. Gurutta berperan sebagai pemimpin spiritual yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga menggerakkan masyarakat melalui forum diskusi keagamaan setelah shalat Subuh. Kegiatan ini menunjukkan bahwa dalam struktur masyarakat beragama, masjid berfungsi lebih dari sekadar tempat ibadah. ia juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan Gurutta mengajak jamaah untuk belajar bersama, yang mencerminkan inklusivitas dan pentingnya pendidikan agama dalam kehidupan masyarakat. Konflik antara Gurutta dan pemerintahan kolonial Belanda juga memberikan gambaran tentang bagaimana agama berperan dalam membentuk kesadaran sosial dan politik. Pemerintah kolonial mencurigai pengajian yang diadakan oleh Gurutta sebagai ancaman, meskipun sebenarnya hanya membahas ajaran agama. Hal ini menunjukkan bahwa agama dalam novel Rindu tidak hanya menjadi pedoman moral, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan alat untuk membangun solidaritas dalam menghadapi tekanan eksternal. Berdasarkan analisis terhadap struktur masyarakat dalam novel Rindu karya Tere Liye, dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang tergambar dalam novel memiliki ikatan sosial yang erat serta menjadikan agama sebagai pilar utama dalam kehidupan mereka. Sebagai makhluk sosial, tokoh-tokoh dalam novel menampilkan interaksi yang mencerminkan nilai kebersamaan, rasa hormat, dan empati terhadap sesama. Sementara itu, sebagai masyarakat yang beragama, mereka menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai pedoman dalam kehidupan, baik dalam pendidikan, pengambilan keputusan, maupun dalam menghadapi tantangan sosial dan politik. Dengan demikian, novel Rindu tidak hanya menyajikan kisah perjalanan haji semata, tetapi juga merepresentasikan bagaimana struktur masyarakat dibentuk oleh dinamika sosial dan nilai-nilai religius yang kuat. Pendekatan strukturalisme genetik membantu memahami bagaimana hubungan antara individu, sejarah, dan budaya dalam novel ini saling berinteraksi untuk membentuk narasi yang kaya akan makna sosial dan spiritual. Simpulan Novel Rindu karya Tere Liye menggambarkan struktur masyarakat yang kompleks melalui hubungan sosial, nilai budaya, dan aspek keagamaan yang mewarnai kehidupan para Melalui pendekatan strukturalisme genetik, dapat disimpulkan bahwa masyarakat dalam novel ini terdiri dari individu-individu yang saling berinteraksi dalam berbagai konteks, mulai dari kehidupan keluarga, musyawarah sosial, hingga dinamika keagamaan yang berperan penting dalam membentuk karakter dan tindakan tokoh. Sebagai makhluk sosial, masyarakat dalam novel ini menunjukkan ciri khas budaya Indonesia, seperti nilai gotong royong, penghormatan terhadap pemimpin, serta sikap solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan. Interaksi antar tokoh juga memperlihatkan adanya hierarki sosial yang tetap terjaga, tetapi diimbangi dengan kehangatan dan rasa kepedulian. Selain itu, aspek keagamaan menjadi fondasi utama dalam kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam novel ini. Agama tidak hanya berperan sebagai pedoman moral dan spiritual, tetapi juga sebagai alat perjuangan dalam menghadapi tekanan eksternal, seperti pengaruh kolonialisme. Peran tokoh agama dalam novel menunjukkan bahwa nilai-nilai religius menjadi penggerak utama dalam membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat. Dengan demikian, novel Rindu tidak hanya menyajikan cerita perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga menjadi refleksi dari perjalanan sosial dan spiritual masyarakat. Struktur masyarakat yang digambarkan dalam novel ini memperlihatkan bagaimana interaksi sosial dan nilai-nilai agama membentuk identitas serta dinamika kehidupan para tokohnya. Daftar Pustaka