Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 376-385 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Integrasi Storytelling dan Media Audio-visual untuk Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Anak Usia Dini Nidha Eka Restuti Munawir1. Info Artikel Abstract Keywords: Early Childhood Education. Storytelling. Audio-Visual. Religious Moderation. Tolerance. This study investigates the effectiveness of integrating storytelling activities with audio-visual media to instill religious moderation values in early childhood. Using a pre-experimental quantitative approach with a one-group pre-testAepost-test design, the research involved 20 Group A children at Alam Insan Madani Kindergarten. Bulukumba Regency. Data were collected through participatory observation before and after the intervention and analyzed using descriptive statistics and a paired t-test. The results revealed a significant improvement in childrenAos understanding of religious moderation values, with mean scores rising from 26. ost-tes. the paired t-test confirmed this effect as statistically significant . < 0. These findings indicate that integrating storytelling with audio-visual media provides an effective and enjoyable approach to fostering tolerance, cooperation, empathy, and respect for diversity among young learners Kata kunci: PAUD. Storytelling. Audio-Visual. Moderasi Beragama. Toleransi. Abstrak Penelitian ini mengkaji efektivitas integrasi kegiatan storytelling dengan media audio-visual untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif praeksperimen rancangan satu kelompok pre-testAepost-test, penelitian ini melibatkan 20 anak Kelompok A di TK Alam Insan Madani. Kabupaten Bulukumba. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman nilai-nilai moderasi beragama anak, dengan skor rata-rata meningkat dari 26,50 . re-tes. menjadi 41,80 . ost-tes. uji t berpasangan mengonfirmasi pengaruh ini secara statistik signifikan . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi storytelling dengan media audio-visual merupakan pendekatan yang efektif dan menyenangkan untuk menumbuhkan sikap toleransi, kerja sama, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman pada anak usia dini. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 14 Agustus 2025 30 September 2025 05 Oktober 2025 27 Oktober 2025 Cara Mensitasi Artikel: Munawir. Integrasi Storytelling Dan Media AudioVisual Untuk Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Pada Anak Usia Dini. Jurnal ArRaihanah, 5 . , 376-385, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: A. Nidha Eka Restuti Munawir, skbanidhaekarm@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Gazali Bulukumba. Makassar. Indonesia Email: skbanidhaekarm@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap pertama yang sangat krusial dalam membentuk karakter anak di masa depan. Pada periode ini, yang sering disebut sebagai masa emas . olden ag. , anak menunjukkan kepekaan dan kemampuan luar biasa untuk menyerap rangsangan dari lingkungan sekitarnya. PAUD adalah jenjang pendidikan di mana nilai-nilai dasar kehidupan, termasuk moral dan agama, ditanamkan pada anak. Di fase pembentukan karakter ini, setiap pengalaman belajar akan menjadi bekal sikap dan nilai yang akan memengaruhi perjalanan hidup anak kelak ((Santrock, 2. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan (Morrison, 2. ) bahwa pengalaman masa kanak-kanak menjadi fondasi penting bagi keseluruhan proses belajar dan perkembangan karakter di masa depan. Indonesia, sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa, tidak mengherankan jika dijuluki sebagai bangsa pluralis. Keberagaman ini bukan hanya sebuah potensi yang tidak terukur nilainya, menjadikan bangsa ini kaya dan kuat, namun juga tantangan yang harus dihadapi dalam membentuk karakter generasi penerus agar mampu hidup rukun dalam perbedaan. Salah satu cara menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dilakukan sejak dini pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), melalui pendidikan yang mengedepankan moderasi beragama. Menurut (Kementerian Agama, 2. , moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama yang mengutamakan prinsip keadilan, keseimbangan, serta penghargaan terhadap perbedaan. Dengan prinsip ini, moderasi beragama diharapkan dapat memanifestasikan ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan bermanfaat secara Moderasi beragama harus ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari upaya memahami kemajemukan dan menghargai perbedaan secara aktif. Nilai-nilai berpikir moderat tercermin dalam perilaku keseharian, seperti saling menghormati dan menghindari ekstremisme (Lei, 2. Lebih lanjut, menurut (Hidayati et al. , 2. , moderasi beragama merupakan prinsip hidup yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Penanaman nilai-nilai ini sejak usia dini sangat penting untuk membentuk karakter anak yang inklusif dan cinta damai. Anak usia dini berada pada fase perkembangan kognitif konkret, yang membuat pendekatan pembelajaran yang bersifat naratif dan visual sangat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai abstrak seperti moderasi Hal ini juga disampaikan oleh (Zulfiana et al. , 2. , yang mengungkapkan bahwa moderasi beragama tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk memahami keyakinan agamanya sendiri, tetapi juga untuk menghargai keyakinan orang lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghormati yang kuat dalam masyarakat yang beragam. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini adalah serangkaian sikap dan perilaku yang ditunjukkan secara konsisten oleh anak dalam aktivitas kesehariannya, sebagai wujud pemahaman terhadap ajaran agama yang adil, seimbang, dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai ini tercermin dalam interaksi sosial, pengenalan budaya lokal, dan kecintaan terhadap tanah air. Proses internalisasi nilai-nilai tersebut dilakukan melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak dan terintegrasi dengan lingkup perkembangan nilai agama, moral, serta sosial-emosional anak. Dalam penerapannya di PAUD, penanaman nilai-nilai moderasi beragama dilakukan sesuai dengan Permendikbud No. 137 Tahun 2014. Indikator kemampuan anak usia dini yang diukur mencakup pemahaman nilai-nilai moderasi beragama yang dikembangkan dengan mengadopsi dan mengadaptasi (Permendikbud 137 2014 Standar Nasional PAUD, n. ), khususnya pada lingkup perkembangan nilai agama, moral, serta sosial-emosional. Hal ini diintegrasikan dengan empat pilar moderasi beragama: . toleransi, dengan indikator anak menunjukkan sikap menghargai perbedaan. kerja sama, dengan indikator anak mampu bekerja sama dalam aktivitas kelompok. empati, dengan indikator anak menunjukkan kepedulian terhadap teman. anti kekerasan, dengan indikator anak menolak tindakan kasar atau menyakiti. menghargai budaya lokal, dengan indikator anak mengenal dan menghormati tradisi lokal. cinta tanah air, dengan indikator anak mengenal simbol-simbol kebangsaan dan menunjukkan rasa bangga terhadap tanah air. Hasil observasi awal dan wawancara di TK Alam Insan Madani menunjukkan bahwa sebagian anak belum mampu mencerna, memahami, dan bersikap inklusif terkait adanya perbedaan sosial. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 budaya, dan agama. Hal ini terlihat pada pelaksanaan kegiatan literasi sekolah yang merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Pada kegiatan bercakap-cakap dengan guru terkait perbedaan di lingkungan sosial, masih terdapat anakanak yang menyatakan enggan berteman dengan teman yang berbeda asal kampung, warna kulit, ataupun agama. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama belum sepenuhnya dipahami oleh anak-anak usia dini, padahal usia ini merupakan masa emas dalam pembentukan Menurut Piaget (Santrock, 2. , anak usia dini berada pada tahap perkembangan kognitif praoperasional, di mana pemahaman anak terhadap dunia sekitar dibangun melalui simbol dan cerita. Oleh karena itu, pendekatan yang sejalan dengan tahap perkembangan ini sangat diperlukan dalam pendidikan di sekolah. Salah satu pendekatan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah storytelling atau bercerita. Melalui kegiatan storytelling, anak dapat belajar nilai-nilai kehidupan secara kontekstual dan menyenangkan. Menurut (Ellis & Brewster, 2. , storytelling dapat membantu anak memahami konsep abstrak melalui imajinasi dan visualisasi, serta membentuk sikap dan perilaku yang positif. Storytelling merupakan metode konstruktivis yang membantu siswa merefleksikan perilaku dan nilai-nilai etis secara lebih mendalam. Narasi digunakan sebagai AucerminAy dan AujendelaAy untuk introspeksi diri serta memahami orang lain, sehingga memperkuat internalisasi nilai moral dan nilainilai lainnya (Gunawardena & Brown, 2. Lebih lanjut, storytelling sangat efektif untuk menyampaikan pesan moral, nilai-nilai sosial, serta membangun pemahaman lintas budaya melalui ekspresi kreatif. Metode ini membantu siswa, terutama mereka yang kesulitan dalam literasi tradisional, untuk mengungkapkan pandangan dan pengalaman pribadi dengan lebih kuat dan bermakna (Samuel. Berdasarkan berbagai penelitian terdahulu, gabungan antara media visual dan narasi memberikan efek positif dalam pendidikan nilai pada anak usia dini. Penelitian yang menyelidiki kegiatan storytelling oleh guru PAUD terhadap anak usia 5Ae6 tahun menunjukkan bahwa penggunaan gerakan tubuh, alat peraga, ekspresi vokal, serta gaya bercerita yang bersifat naratif dan interaktif mampu meningkatkan keterlibatan emosional dan kolaborasi anak. Anak-anak memberikan respons verbal dan non-verbal, menjawab pertanyaan, serta turut menciptakan segmen cerita bersama guru. Temuan ini menegaskan bahwa dengan penerapan storytelling yang dipadukan dengan media audiovisual secara mendalam, mampu mendorong partisipasi emosional siswa dalam pembelajaran nilai-nilai moral dan sosial (Xiao et al. , 2. Namun demikian, literatur internasional yang secara khusus menguji penggunaan storytelling berbantu media audio-visual untuk pendidikan nilai moderasi beragama pada anak usia dini masih terbatas, terutama yang menggunakan desain kuantitatif dan analisis efek secara eksperimental. Dengan mempertimbangkan gap ini, penelitian ini memiliki novelty dengan meneliti secara kuantitatif pengaruh integrasi storytelling berbantu media audio-visual terhadap pemahaman nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini, menggunakan desain One-Group Pre-test Post-test. Tujuan penelitian ini adalah untuk . mengukur perubahan pemahaman nilai moderasi beragama sebelum dan sesudah intervensi storytelling berbantu media audio-visual, dan . menyediakan bukti empiris yang dapat mendukung integrasi metode tersebut ke dalam praktik PAUD dan kebijakan kurikulum pendidikan karakter di Indonesia. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini digunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian preexperimental design dan rancangan One-Group Pre test Post test Design. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: OCA Ie X Ie OCC Dimana: OCA: Pre test . engukuran pemahaman nilai moderasi beragama sebelum perlakua. X: Treatment . erlakuan berupa storytelling berbantu media audio-visual ). Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 o OCC: Post test . engukuran pemahaman nilai moderasi beragama setelah perlakua. Subjek Penelitian: Subjek dalam penelitian ini adalah 20 anak dari kelompok A di TK Alam Insan Madani. Kab. Bulukumba. Berikut adalah definisi operasional dari penelitian ini : nilai-nilai Moderasi Beragama pada anak usia dini adalah serangkaian sikap dan perilaku yang ditunjukkan secara konsisten oleh anak dalam aktivitas kesehariannya, sebagai wujud dari pemahaman terhadap ajaran agama secara adil, seimbang, dan menghargai keberagaman, yang tercermin dalam interaksi sosial, pengenalan budaya lokal, dan kecintaan terhadap tanah air. Nilai ini diinternalisasikan melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak dan terintegrasi dengan lingkup perkembangan Nilai Agama dan Moral serta SosialEmosional anak . Kegiatan storytelling berbantu media audio-visual adalah aktivitas pembelajaran yang dirancang secara sistematis di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini, di mana anak-anak mendengarkan dan menyaksikan cerita yang disampaikan melalui media yang memadukan elemen visual dan audio . eperti video animasi, gambar bergerak, atau film pende. , dengan tujuan memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan keberagaman secara imajinatif, konkret, dan menyenangkan sesuai tahap perkembangan kognitif praoperasional anak. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi sebanyak dua kali, yaitu sebelum ( pre tes. dan sesudah perlakuan . ost tes. Pada tahap pre test, peneliti hanya mengamati perilaku anak sesuai indikator yang telah ditetapkan, tanpa memberikan intervensi apa pun. Selanjutnya, pada tahap post test, peneliti menerapkan treatment berupa storytelling yang dibantu media audio-visual , lalu melakukan observasi ulang untuk melihat perubahan perilaku. Dalam penelitian ini, digunakan observasi partisipatif, di mana peneliti turut serta langsung dalam kegiatan eksperimen bersama subjek. B indikator Indikator Nilai Moderasi Beragama dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Indikator Pilar Moderasi Beragama Indikator Pilar Moderasi Beragama Indikator Observasi Toleransi Menghargai perbedaan agama, suku, dan Kerja Sama Bekerja sama Empati Menunjukkan kepedulian terhadap teman. Anti Kekerasan Menolak tindakan kasar dan agresif. Menghargai Budaya Lokal Menghormati dan mengenal budaya lokal. Cinta Tanah Air Mengenal simbol Instrumen yang dipakai berupa lembar observasi yang mencakup catatan anekdot dan daftar centang . Setiap butir penilaian disusun berdasarkan indikator pemahaman nilai-nilai moderasi beragama yang telah dirumuskan sebelumnya. Data hasil observasi akan dianalisis secara kuantitatif melalui beberapa tahap: . Analisis Deskriptif. dengan cara mengolah skor pre test dan post test dengan statistik deskriptif . untuk menggambarkan pemahaman awal dan pemahaman setelah treatment. Uji Prasyarat Analisis. Dengan melakukan uji normalitas pada selisih skor ( gain antara post test dan pre test menggunakan ShapiroAeWilk Test, karena jumlah sampel kurang Menurut (Mohd Razali & Bee Wah, 2. , uji ini bertujuan mengetahui apakah data berasal Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dari populasi berdistribusi normal. Data dianggap normal apabila nilai signifikansi ( P-Valu. > 0,05. Serta . Uji Hipotesis. dengan syarat jika data terdistribusi normal, dilanjutkan dengan uji-t berpasangan (Paired Samples T-Tes. untuk menguji perbedaan rerata skor pre test dan post test. Uji dilakukan pada tingkat signifikansi = 0,05. Hipotesis penelitian diterima apabila nilai signifikansi ( Sig. 2-taile. < 0,05, yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari treatment. Prosedur etis juga diperhatikan: peneliti memperoleh izin resmi dari pihak sekolah, meminta persetujuan orang tua/wali . nformed consen. , memberikan penjelasan kepada anak dengan bahasa yang mudah dipahami, serta menjaga kerahasiaan data dan kenyamanan anak selama kegiatan Dengan demikian, data terkait terdapat integrasi penerapan storytelling dengan media audio-visual untuk menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada Anak Usia Dini di TK Alam Insan Madani Kab. Bulukumba. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian yang dilakuan terhadap 20 anak Kelompok A di TK Alam Insan Madani, yang diukur sebelum . re tes. dan sesudah . ost tes. intervensi berupa kegiatan storytelling berbantu media audio-visual . Penyajian hasil penelitian mencakup tiga tahap utama: analisis deskriptif, uji prasyarat normalitas & uji hipotesis, serta Pembahasan secara keseluruhan hasil penelitian Novelty. GAP dari penelitian, dijelaskan sebagai berikut: Hasil Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai skor pemahaman nilai-nilai moderasi beragama anak sebelum dan sesudah perlakuan. Skor maksimal yang dapat dicapai oleh setiap anak adalah 48. Rangkuman hasil statistik deskriptif disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Statistik Deskriptif Skor Pemahaman Nilai Moderasi Beragama Statistik Pre test (Sebelum Intervens. Post test (Sesudah Intervens. Jumlah Subjek (N) Skor Rata-rata . O) Standar Deviasi (SD) Skor Minimum Skor Maksimum Persentase Pencapaian Rata-rata 55. Berdasarkan Tabel 1, terlihat adanya peningkatan yang jelas pada pemahaman nilai-nilai moderasi beragama anak. Sebelum intervensi, skor rata-rata anak adalah 26. 50, dengan persentase pencapaian hanya 55. 21% dari skor maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman awal anak masih berada pada kategori sedang. Setelah mendapatkan perlakuan, skor rata-rata anak meningkat tajam menjadi 41. 80, dengan persentase pencapaian mencapai 87. Peningkatan ini juga tercermin pada skor minimum yang naik dari 18 menjadi 35, yang mengindikasikan bahwa anak dengan pemahaman terendah pun menunjukkan kemajuan yang signifikan. Adapun hasil dari dampak dari kegiatan storytelling berbantu media audio-visual dari data skor rata-rata yang diperoleh anak pada setiap indikator nilai moderasi beragama sebelum ( pre tes. dan sesudah . ost tes. sebagai berikut: Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tabel 3. Perbandingan Rata-Rata Skor per Indikator (Pre test vs. Post tes. Skor Indikator Nilai Skor Persentase RataModerasi Rata-Rata Pencapaian Rata Beragama (Pre tes. (Pre tes. (Post Persentase Pencapaia Peningkatan (Post Skor Toleransi Kerja Sama Empati Anti Kekerasan 5. Menghargai Budaya Lokal Cinta Tanah Air 4. TOTAL RATA RATA- Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa semua indikator mengalami peningkatan. Peningkatan skor . terbesar terjadi pada indikator Menghargai Budaya Lokal ( 3. dan Toleransi ( 2. Hal ini menunjukkan bahwa aspek-aspek yang sebelumnya kurang dipahami anak . arena sifatnya yang abstrak dan membutuhkan pengenalan spesifi. menjadi bidang yang paling terdampak positif oleh intervensi storytelling berbantu media audio-visual . Indikator yang pada awalnya sudah cukup baik, seperti Anti Kekerasan, juga tetap menunjukkan peningkatan signifikan, mendekati penguasaan penuh . 8%). Untuk memberikan gambaran visual yang lebih intuitif, grafik batang di bawah ini membandingkan skor rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan untuk setiap indikator. Grafik 1. Visualisasi Peningkatan Skor Rata-Rata per Indikator Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Dari data grafik 2 menggambarkan peningkatan skor rata-rata pemahaman anak terhadap indikator-indikator nilai moderasi beragama sebelum dan sesudah intervensi berupa kegiatan storytelling berbantu media audio-visual dari data terlihat bahwa intervensi yang dilakukan tidak hanya berdampak secara umum, tetapi juga efektif dalam mengembangkan setiap komponen spesifik dari nilai-nilai moderasi beragama yang menjadi target penelitian. Dari diagram terlihat pada indikator Menghargai Budaya Lokal menunjukkan peningkatan tertinggi, dari skor rata-rata 3,80 pada pretest menjadi 6,80 pada posttest, dengan selisih sebesar 3,00 poin. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis cerita dan media audio-visual mampu menjembatani konsep budaya lokal yang awalnya abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami oleh anak-anak. Selanjutnya, indikator Toleransi meningkat dari 4,20 menjadi 7,00 ( 2,80 poi. , diikuti oleh Empati . ari 4,30 menjadi 6,90. 2,60 poi. , dan Anti Kekerasan . ari 5,00 menjadi 7,50. 2,50 poi. Kenaikan ini menunjukkan bahwa narasi visual yang sarat dengan nilai moral berhasil menumbuhkan kesadaran sosial dan afeksi anak terhadap keberagaman serta penolakan terhadap tindakan kekerasan. Selain itu peningkatan juga terlihat pada indikator Kerja Sama, dari 4,80 menjadi 7,20 ( 2,40 poi. , menandakan adanya perkembangan kemampuan anak dalam berinteraksi dan bekerja sama secara positif dalam konteks kelompok. Terakhir, indikator Cinta Tanah Air meningkat dari 4,40 menjadi 6,40 ( 2,00 poi. , yang menunjukkan bahwa penggunaan simbol dan cerita kontekstual dalam media pembelajaran dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas nasional sejak usia dini. Secara keseluruhan, grafik ini menunjukkan bahwa storytelling berbantu media audio-visual tidak hanya berdampak secara umum, tetapi juga efektif dalam memperkuat masing-masing komponen nilai moderasi beragama secara terfokus. Lompatan skor pada setiap indikator mencerminkan peningkatan pemahaman yang konkret dan bermakna, sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak usia dini. Hasil Uji Prasyarat Analisis (Uji Normalita. Uji normalitas dilakukan terhadap data selisih . ain scor. untuk memastikan data berdistribusi normal sebelum dilakukan uji hipotesis. Mengingat jumlah sampel (N=. kurang dari 50, digunakan Shapiro-Wilk Test. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk pada Data Selisih (Gain Scor. Uji Statistik Statistic (W) df Sig. (P-Valu. Kesimpulan Shapiro-Wilk 0. Data Berdistribusi Normal Hasil uji normalitas pada Tabel 3 menunjukkan nilai signifikansi ( P-Valu. Sesuai kriteria pengujian dengan tingkat signifikansi =0. 05, nilai P-Value . > 0. Dengan demikian. Hipotesis Nol (HCA) yang menyatakan bahwa data berdistribusi normal dapat diterima. Hasil ini mengonfirmasi bahwa penggunaan uji statistik parametrik (Uji-T Berpasanga. untuk pengujian hipotesis adalah langkah yang tepat. Hasil Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan menggunakan Uji-T Berpasangan (Paired Samples T-Tes. untuk mengetahui apakah peningkatan skor dari pre test ke post test signifikan secara statistik. Tabel 5. Hasil Uji-T Berpasangan Skor Pre test dan Post test Uji Statistik Rata-rata Beda t-hitung df Sig. -taile. Pre test Ae Post test -15. 72 19 < 0. Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan nilai t-hitung sebesar -15. 72 dengan derajat kebebasan . Nilai signifikansi (Sig. 2-taile. yang diperoleh adalah < 0. Berdasarkan kriteria pengujian, jika nilai signifikansi < 0. 05, maka Hipotesis Nol (HCA) ditolak. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Karena nilai signifikansi (< 0. jauh lebih kecil dari 0. 05, maka HCA ditolak dan Hipotesis Alternatif (HC. Secara keseluruhan, hasil analisis data menunjukkan bahwa peningkatan skor rata-rata pemahaman nilai-nilai moderasi beragama dari 26. 50 menjadi 41. 80 adalah signifikan secara statistik. Temuan ini menjawab rumusan masalah dan membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penggunaan kegiatan storytelling berbantu media audio-visual terhadap pemahaman nilai-nilai moderasi beragama anak usia dini di Kelompok A TK Alam Insan Madani sehingga dari hal ini terjawablah jika storytelling berbantu media audio-visual memiliki integrasi menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Anak Usia Dini. Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi berupa kegiatan storytelling berbantu media audiovisual secara signifikan meningkatkan pemahaman nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini. Hasil pretest menunjukkan skor rata-rata 26,50 . ,21%), sementara hasil posttest meningkat menjadi 41,80 . ,08%). Semua indikator moderasiAiseperti toleransi, empati, anti kekerasan, cinta tanah air, kerja sama, dan penghargaan terhadap budaya lokalAimengalami peningkatan, dengan skor tertinggi pada indikator penghargaan terhadap budaya lokal ( 3,. Uji statistik (Paired T-Tes. mengonfirmasi signifikansi perubahan ini . < 0,. Temuan ini mendukung teori perkembangan kognitif Piaget bahwa pada tahap pra-operasional, anak-anak memahami dunia melalui simbol dan imajinasi. Selain itu, hasil ini konsisten dengan pandangan (Santrock, 2. dan (Morrison, 2. mengenai pentingnya stimulasi visual dan naratif dalam membangun karakter anak, serta sejalan dengan (Ellis & Brewster. Penelitian ini juga memperkuat temuan (Aji & Rasidi, 2. mengenai peran media visualnaratif dalam meningkatkan keterlibatan emosional dan pemahaman nilai. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup perlunya integrasi storytelling berbasis media audio-visual dalam kurikulum PAUD sebagai strategi efektif penanaman nilai-nilai moderasi beragama. Bagi guru PAUD, pendekatan ini dapat digunakan untuk menumbuhkan sikap toleran dan cinta tanah air melalui metode yang sesuai perkembangan anak. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan pada desain one-group pre-posttest tanpa kelompok kontrol, ukuran sampel kecil, dan keterbatasan lokasi. Penelitian lanjutan disarankan untuk menggunakan desain eksperimental yang lebih kuat dan sampel lebih luas untuk menggeneralisasi hasil secara nasional. Berdasarkan dari hasil kajian penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan mengembangkan pendekatan integratif antara storytelling dan media audio-visual sebagai strategi pedagogis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia dini. Secara praktis, hasil penelitian menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam meningkatkan pemahaman nilai seperti toleransi, kerja sama, empati, anti kekerasan, penghargaan budaya lokal, dan cinta tanah air. Temuan ini dapat diadopsi oleh guru dalam pembelajaran tematik dan karakter berbasis Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Sedangkan terkait dengan novelty dan GAP Penelitian ini mengisi celah penting dalam literatur yang sebelumnya hanya meneliti metode storytelling konvensional atau penggunaan media visual secara terpisah. Tidak banyak studi yang secara eksplisit menggabungkan dua pendekatan inicerita naratif/ Storytelling dan media audio-visual untuk menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini. Oleh karena itu, pendekatan ini merupakan kontribusi baru dalam strategi pendidikan karakter yang kontekstual dan menyenangkan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi storytelling berbantu media audio-visual memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan pemahaman nilai-nilai moderasi beragama pada anak usia Hasil analisis menunjukkan peningkatan skor rata-rata pemahaman nilai moderasi beragama dari 26,50 pada pre-test menjadi 41,80 pada post-test, dengan persentase pencapaian yang meningkat dari 55,21% menjadi 87,08%. Temuan ini tidak hanya bersifat deskriptif tetapi juga memberikan kontribusi Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dengan memperkaya literatur pembelajaran anak usia dini melalui pengintegrasian storytelling dan media audio-visual, yang sebelumnya masih jarang dieksplorasi. Pendekatan ini terbukti efektif mengembangkan komponen spesifik nilai moderasi beragama, seperti toleransi, kerja sama, empati, anti kekerasan, penghargaan terhadap budaya lokal, dan cinta tanah air. Saran