64 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal: Peran Kecerdasan Emosional dan Resolusi Konflik Andi Nahliah Bungawali Fakultas Psikologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia bungawali@unm. Abstrak. Penelitian ini mengkaji masalah kesehatan mental ibu pada masa perinatal dan mengaitkannya dengan kecerdasan emosional serta resolusi konflik. Penulis menggunakan metode yang narrative review dengan mempelajari berbagai literatur dari tahun 2014-2025. Penelitian ini menggaris bawahi pentingnya ibu dan keluarga menjaga kesehatan mental ibu pada masa perinatal dan memahami cara menanganinya serta kaitan kecerdasan emosional sebagai resolusi konflik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan ibu mengalami masalah kesehatan mental pada masa perinatal salah satunya lingkungan sosial seperti keluarga. Keluarga terdekat juga dianggap mampu untuk menangani dan mencegah masalah kesehatan mental tersebut. Kecerdasan emosional pun dianggap sebagai solusi agar ibu tidak mengalami masalah kesehatan mental. Kecerdasan emosional dianggap sebagai fondasi untuk resolusi konflik yang efektif, akan tetapi hal ini membutuhkan bantuan keluarga dan pasangan. Review ini dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan pasangan atau keluarga dalam memahami kondisi ibu terutama terkait mengenali emosi, berkomunikasi secara efektif, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Kata Kunci: Ibu Perinatal. Kecerdasan Emosional. Resolusi Konflik This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 65 PENDAHULUAN Kehidupan berkeluarga memerlukan adaptasi pada setiap tahapnya, tidak terkecuali ketika keluarga memasuki tahap childbearing. Childbearing merupakan masa transisi ketika pasangan pertama kali menjadi orangtua (Klobusar, 2. Para peneliti menemukan bahwa pasangan secara konsisten akan mengalami penurunan kepuasan pernikahan (Kurdek, 1995. Williamson & Lavner, 2. Ketika kepuasan pernikahan menurun, maka akan berisiko meningkatkan depresi terutama dikalangan wanita (Yang et al. , 2. Penelitian ini berfokus pada ibu yang telah menjalani 5 tahun pertama pernikahan dan telah memiliki anak atau sedang menjalani kehamilan. Dahulu penelitian yang dilakukan oleh Belsky & Hsieh . menjelaskan bahwa terjadi penurunan kepuasan pernikahan selama 5 tahun pertama pernikahan, terlebih ketika anak pertama lahir. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa terdapat perubahan yang terjadi pada keluarga yang baru saja memiliki anak dan perubahan tersebut memperlihatkan bahwa wanita yang selalu mengalami konflik (Marcus & Heringhausen, 2. Secara tradisional hingga saat ini perempuan masih memiliki peran besar pengasuhan anak dalam Perempuan mengalami perubahan besar pada masa transisi saat menjadi orang tua (Baxter et al. , 2. Gejala tekanan emosional ibu termasuk diantaranya gejala depresi dan kecemasan meningkat selama dan setelah kehamilan ((Fontein-Kuipers et al. Schmied et al. , 2. Bahkann penelitian terdahulu menunjukkan bahwa gejala depresi wanita pada periode setelah melahirkan cenderung tinggi dan biasanya lebih tinggi di negara-negara non-barat dan berkembang. Hamil pertama kali membuat pasangan dan ibu hamil mengalami hal yang tidak Hal ini mungkin dapat ditangani oleh beberapa pasangan tapi pasangan lainnya mungkin akan mengalami kesulitan dan stress (Buultjens et al. , 2. Memiliki anak akan membuat terjadinya perubahan peran sosial yang akan diikuti dengan peran psikologis untuk menyesuaikan dengan peran baru. Perubahan pada perempuan saat mengalami childbearing akan membuat masalah emosional (Galdiolo et al. , 2. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan sifat stres dari persalinan yang dibuktikan dengan meningkatnya kadar kortisol, pekerjaan rumah tangga, ketidakseimbangan tugas keluarga, dan kecemasan terhadap perkembangan dan kesehatan bayi. Masalah emosional juga muncul seiring dengan anak menangis dan berterikak, kurang tidur, dan berbagai perubahan hidup berturut-turut yang semakin meningkat seiring dengan kelahiran anak pertama (Alehagen et al. , 2. Berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya merupakan contoh konflik terkait perubahan peran perempuan childbearing yang dapat menimbulkan masalah emosional. Nnodum, et al . mengemukakan bahwa penting untuk belajar menghadapi konflik daripada menghindarinya. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan keterampilan resolusi konflik dalam keluarga. Resolusi konflik adalah proses mefasilitasi akhir konflik secara damai dengan melibatkan proses berbicara secara kooperatif 66 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 sehingga terbentuk pemilihan rencana yang baik untuk kedua pasangan (Heitler, 2. Emotional Intelligence diklaim mampu untuk membantu individu dalam mempertahankan emosional yang positif dan menangani konflik dengan lebih efektif, sehingga dapat memberi solusi konflik perkawinan dan berkontribusi pada kesejahteraan perkawinan (Kaur & Junnarkar, 2. Resolusi konflik atau dikenal sebagai rekonsiliasi dikonseptualisasikan sebagai proses yang terlibat dalam memfasilitasi akhir konflik secara damai dengan memenuhi setidaknya beberapa kebutuhan masing-masing pihak dan menangani kepentingan Heitler . melihatnya sebagai pemecahan masalah kolaboratif dan proses berbicara bersama secara kooperatif yang mengarah pada pemilihan rencana tindakan yang dapat dirasakan baik oleh kedua pasangan. Manajemen konflik dan resolusi sangat penting untuk memiliki kehidupan kerja yang produktif serta kehidupan keluarga dan komunitas yang harmonis. Keterampilan resolusi konflik yang dapat diperoleh adalah diskusi, komunikasi tertulis, klarifikasi tujuan, kompromi, diplomasi, fokus pada masalah, negosiasi, dan mengakomodasi orang lain adalah: mediasi, pemungutan suara, menghormati pihak lain dan pembangunan perdamaian kreatif (Heitler, 2007. Schreiner. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa resolusi konflik merupakan proses penciptaan solusi yang disepakati bersama. Oleh karena itu, resolusi konflik diperlukan untuk menyelesaikan perbedaan yang pasti akan terjadi. Pada resolusi konflik diperlukan Emotional Intelligence (EI). Emotional Intelligence ini diperlukan agar individu mampu untuk memahami emosi sendiri dan emosi orang lain sehingga individu dapat memberi label yang tepat pada emosi yang dirasakan. Ketika individu mampu untuk memahami dan mengelola emosi secara positif, maka individu dapat menghilangkan stres, dapat berkomunikasi secara positif, berempati dengan orang lain, dan meredakan konflik yang terjadi (Segal et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode narrative review. Penulis melakukan pencarian tinjauan literatur dengan mengumpulkan artikel terbaru dari basis data daring yang terpercaya, seperti Google Scholar. PubMed, dan Scopus dalam kurun waktu 10 tahun terakhir 2014-2024. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kata kunci Aoemotional intelligenceAo. Aoconflict resolutionAo. AoprenatalAo. AochildbearingAo. Aokecerdasan emosionalAo. Aoresolusi konflikAo. Penulis membaca abstrak pada tiap artikel yang ditemukan sebagai tahap pertama dari narrative review untuk mendapatkan literatur yang sesuai. HASIL DAN PEMBAHASAN Melalui analisis dengan metode narrative review dan setelah menyeleksi berbagai literatur yang sesuai dengan topik penelitian serta membaca abstrak dari berbagai artikel, maka penulis mengambil 4 poin penting untuk memudahkan dalam perbandingan hasil analisis literatur. 4 poin penting yang peneliti maksud yaitu tujuan penelitian, variabel. Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 67 metode penelitian, dan temuan penelitian. 4 poin tersebut dapat membantu dalam memberikan perbedaan dan kesamaan dari berbagai literatur yang didapatkan. Berikut hasil analisis penelitian sesuai dengan poin-poin yang dimaksud: Tabel 1. Penelitian Terdahulu Artikel Porter. Lewis, . Watson. , & Galbally. Perinatal maternal mental development: A MPEWS Infant Behavior Development, (Kaur Junnarkar, 2. Tujuan Penelitian Penelitian ini kecemasan dan selama periode . dan postnatal . asca Metode Penelitian Variabel X: Penelitian ini Kesehatan pada metode ibu perinatal Variabel Y: dengan analisis Perkembangan Mplus Versi 8 Variabel Temuan Penelitian Hasil penelitian bahwa gejala yang dialami mampu untuk masalah sosialemosional anak usia 12 Hasil masa maternal sebagai faktor sosial emosinal Oleh identifikasi dan 68 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Adeponle. Groleau. Gureje. , & Kirmayer. Helpseeking severe perinatal Nigeria: Implications for SSM Mental Health, 3, https://doi. 1016/j. Penelitian ini langkahlangkah untuk bantuan dan mengobati ibu Selain penelitian ini proses budaya mental dalam Variabel Depresi Nigeria Variabel Pengaruh X: Penelitian ini di metode Y: berdasarkan data dari studi EXPONATE (Expanding Care Perinatal Women with Depressio. intervensi dini untuk merawat ibu pada masa Penelitian ini bahwa depresi perinatal yang kurang diobati Banyak yang bersikap Keluarga sebagai bagian penting dalam . eluarga dan . memiliki Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 69 Monk. Dimidjian. Galinsky. Gregory. Hoffman. Howell. Miller. Osborne. Rogers. Saxbe. , & D'Alton. The parenthood in prenatal care for 2-generation American Journal Obstetrics Gynecology Penelitian ini prenatal pada otak bayi dan oleh ibu. Variabel X: Studi Literatur Dampak Variabel Perkembangan definisi depresi Pengasuh adalah bentuk norma budaya adalah somatik dan psikologis. Penelitian ini bahwa periode penting dalam otak janin yang sangat pesat. Faktor lingkungan ibu prenatal dapat Selain perinatal akan 70 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 MFM, https://doi. 1016/j. Gaviria. Duque. Vergel. , & Restrepo, . Perinatal Prevalence and Revista Colombiana de Psiquiatrya, 48. , 166-173. https://doi. 1016/j. Penelitian ini antara gejala dengan faktor terjadi dalam terakhir pada ibu hamil. orangtua baru perilaku, dan Oleh sebab itu karena periode prenatal dan dengan masa remaja dalam Variabel X: Studi cross- Hasil Faktor penelitian ini Variabel Y: berdasarkan Gejala depresi sumber terdapat tiga perinatal ibu yang memiliki dengan gejala perinatal, yaitu Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 71 Lodha. Jahangir. Karia. DeSousa. Appasani. , & Withers, . Perceptions of lowincome mothers and families in Mumbai. India. Asian Journal of Psychiatry, 71, https://doi. 1016/j. ekonomi yang Faktor-faktor gejala depresi yang signifikan selama periode Penelitian ini Variabel X: Studi cross- Penelitian . sia, tingkat convenience bahwa 93% persepsi dan pendidikan, dan pekerjaa. tidak familiar Variabel kesadaran dan konsep depresi di persepsi perinatal, 45% kalangan ibu tentang yang depresi tidak percaya di perinatal, sikap bahwa wanita antenatal dan mental selama postnatal, serta kehamilan dan kerabat yang pasca mental selama para ibu hamil 50% tidak percaya wanita 72 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 pemerintah di Mumbai. India mental setelah percaya bahwa seorang ibu tidak mencintai bayinya jika dia depresi setelah 78% ibu 47,8% dari ibu hamil yang perinatal, dan tidak dapat peran anggota keluarga atau ibu dengan Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 73 Nnodum. Ugwuegbulam. Agbaenyi. Emotional Intelligence and Conflict Resolution Repertoire Couples Tertiary Institutions Imo State. Journal Education and Practice, 7. Galdiolo. Gaugue. Mikolajczak. & Van Cappellen. Development of Trait Emotional Intelligence in Response to Childbirth: A Longitudinal Couple Perspective. Frontiers in Psychiatry, 11, https://doi. 3389/fpsyt. Penelitian ini emosional dan resolusi konflik pada pasangan suami-istri di Institusi Pendidikan Tinggi Negara Bagian Imo. Nigeria. Penelitian ini kelahiran anak orang tua Variabel X: Metode Penelitian pada pasangan dengan suami-istri menggunakan terdapat Variabel Y: instrumen CouplesAo positif antara Conflict Resolution emosional dan Repertoire Scales (CCRRS) resolusi konflik dan Emotional pada pasangan Intelligence suami istri. Scales Couples (EISC). Variabel Kelahiran anak . Variabel Kecerdasan orang tua Metode penelitian yang Berdasarkan hasil penelitian orang tua pada stabil selama Akan self-control kelahiran anak. Terdapat 74 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Gayathri. , & Meenakshi. Emotional Intelligence Through the Bhagavad-gita for Conflict Resolution. Middle-East Journal of Scientific Research, 22. , https://doi. 5829/idosi. Penelitian ini emosional dari Bhagavad-Gita dan bagaimana dalam resolusi Hal bahwa ketika satu pasangan emosional dari Variabel X: Metode yang Hasil Kecerdasan emosional dari kualitatif Bhagavad-Gita Bhagavad-Gita Variabel Penerapan prinsip-prinsip Bhagavad-Gita resolusi konflik dalam resolusi maka baiknya hasil yang akan Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 75 pikiran tenang. Kestabilan dicapai melalui perbedaan di dunia ini. Pandey. Penelitian ini Variabel X: Metode Penelitian ini Sajjanapu. , & bertujuan Kecerdasan penelitian yang menemukan Sangwan. Study on menganalisis Variabel Y: yaitu survei responden Effect of korelasi antara Gaya Emotional Intelligence on emosional (EI) konflik Conflict Resolution Style. gaya avoiding. Indian Journal of strategi Science and Technology, 8. Selain itu, penelitian https://doi. org/1 ini 17485/ijst/201 mengetahui 5/v8iS6/71215 apakah faktor dan responden emosional dan dan avoiding. Berdasarkan jenis kelamin, 76 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Vismara. Rolly. Agostini. Sechi. Fenaroli. Molgora. , et . Perinatal Parenting Stress. Anxiety, and Penelitian ini i tingkat stress Variabel pada penelitian ini adalah Stress pada ibu dan ayah baru Metode yang yang dilakukan berusia 3 bulan dan 6 bulan. Jika dilihat dari setelah berusia 35 tahun. Hal ini dibuktikan bahwa skor EI kelompok usia kelompok usia 20-25 tahun, memiliki skor EI Penelitian ini memiliki skor pada 3 atau 6 Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 77 Depression Outcomes in First-Time Mothers and Fathers: A 3- to 6-Months Postpartum Follow-Up Study. Frontiers in Psychology, 7:938. https://do org/10. 3389/fp pada ibu dan bulan setelah melahirkan dari Stress yang dialami sejak bulan ke3 sedangkan Penelitian ini mental antar Berdasarkan hasil dari berbagail literatur review yang telah dianalisis, dapat diketahui bahwa kecerdasan emosional pada ibu sangat penting karena dapat memengaruhi kehidupan sosial anak dan perkembangan otak janin (Monk et al. , 2022. Porter et al. , 2. Orang tua baru biasanya akan mengalami masa transisi, tidak sedikit yang mengalami depresi. Oleh sebab itu, peran sosial sangat diperlukan dalam menjaga kesehatan mental ibu. Penelitian oleh Vismara, et al . menunjukkan bahwa pada masa perinatal tidak jarang ibu akan mengalami stres pengasuhan, kecemasan, dan depresi terutama pada 36 bulan pasca melahirkan. Depresi pada ibu bisa disebabkan oleh faktor sosial seperti yang diungkapkan dalam penelitian Gaviria, et al . , faktor sosial yang dimaksud adalah putusnya hubungan percintaan dengan pasangan, masalah ekonomo yang serius, dan kematian anggota keluarga. Faktor-faktor sosial tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan munculnya depresi yang signifikan secara klinis selama periode perinatal. Lingkungan sosial yang dianggap mampu untuk mengatasi masalah mental atau depresi yang dialami ibu pada masa perinatal ternyata tidak sepenuhnya dapat terwujud. Pada penelitian yang dilakukan oleh Adeponle, et al . menunjukkan bahwa keluarga menganggap depresi yang terjadi pada ibu perinatal merupakan hal negatif dan dianggap sebagai pelanggaran norma budaya sehingga kurang diobati. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah depresi pada masa 78 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 perinatal merupakan masalah kesehatan masyarakat utama yang kurang diobati, padahal para pasien/ibu menganggap depresi yang dialami adalah masalah psikologis. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Lodha, et al . menunjukkan bahwa 93% dari 106 partisipan tidak familiar dengan konsep depresi perinatal, 45% responden tidak percaya bahwa wanita dapat mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan, 50% tidak percaya wanita dapat mengalami masalah kesehatan mental setelah melahirkan, 77% responden percaya bahwa seorang ibu tidak mencintai bayinya jika dia mengalami depresi setelah melahirkan, 78% ibu percaya depresi perinatal sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, 47,8% dari ibu hamil yang diperiksa positif mengalami depresi perinatal, dan banyak responden tidak dapat mendefinisikan peran anggota keluarga atau pasangan dalam mendukung ibu dengan depresi perinatal. Melihat berbagai faktor penyebab munculnya depresi, stress pengasuhan, dan kecemasan serta pengaruh budaya dalam mengatasi depresi pada ibu perinatal maka penting bagi ibu untuk memiliki kecerdasan emosional (EI) untuk menemukan resolusi dari konflik yang dialami. Kecerdasan emosional diperlukan agar ketika penyebab depresi muncul ibu dapat mengendalikan diri agar tidak tercipta berbagai hal yang mengganggu kesehatan mental. Nnodum, et al . menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan emosional dan resolusi konflik pada suami isri. Galdiolo, et al . menemukan bahwa kecerdasan emosional pada orang tua secara umum stabil selama periode kehamilan, akan tetapi terdapat hubungan negatif yang signifikan pada perkembangan kecerdasan emosional antar pasangan. Pernyataan tersebut mengartikan bahwa ketika satu pasangan tidak dapat mengatasi aspek emosional dalam pengasuhan, maka pasangan lainnya akan mengkompensasi. Gayathri & Meenakshi . menunjukkan dalam penelitiannya bahwa salah satu hal yang bisa membuat emosi stabil adalah dengan fokus pada tugas dan kewajiban. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Pandey, et al . menunjukkan bahwa terdapat perbedayaan tingkat kecerdasan emosional antara laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki skor kecerdasan emosional yang lebih tinggi, walapun ternyata antara skor kecerdasan emosional dari tinggi sampai rendah memiliki gaya resolusi konflik yang berbeda. Jika dilihat berdasarkan usia ternyata setiap individu kecerdasan emosionalnya akan meningkat, tetapi menurun saat berusia 35 tahun ke atas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil narrative review yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai faktor yang menyebabkan masalah kesehatan mental pada ibu di masa Lingkungan sosial dianggap sebagai hal yang dapat membantu ibu dalam mengatasi masalah kesehatan mental, tetapi lingkungan sosial banyak yang masih keliru terhadap berbagai masalah kesehatan mental yang dialami oleh ibu. Bahkan, keluarga ada yang menganggap hal tersebut bukan masalah dan tidak tau cara mengatasi masalah kesehatan mental yang dialami oleh ibu seperti depresi, stress pengasuhan, ataupun Kesenjangan Persepsi Kesehatan Mental Ibu Perinatal 79 Kekeliuran dalam mempersepsikan masalah kesehatan mental pada ibu bisa dipengaruhi oleh sosial budaya. Kecerdasan emosional dianggap sebagai solusi agar ibu tidak mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi. Ketika lingkungan tidak mengerti cara untuk menangani, setidaknya ibu memiliki kecerdasan emosional sebagai faktor protektif dalam menghadapi tantangan emosional pada masa perinatal. Kecerdasan emosional dianggap sebagai fondasi untuk resolusi konflik yang efektif, akan tetapi hal ini membutuhkan bantuan pasangan atau suami. DAFTAR PUSTAKA