ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. The Relationship Between Coping Mechanisms and Stress Levels Among Adolescents Experiencing Parental Conflict at SMK Negeri 3 Bekasi City Cindy Arta Lestari1*. Lisna Nuryanti2. Arabta M Peraten Pelawi2 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKES Medistra Indonesia. Jl Cut Mutia. Kota Bekasi *Correspondence: Cindy Arta Lestari. Address: Jl Cut Mutia. Kota Bekasi. Indonesia. Email: novjulmei@gmail. Received: 1 Mei 2025 U Revised: 20 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT Stress is a state of physical and psychological tension that can disrupt both mental and physical health. According to the 2018 Basic Health Research (Riskesda. , approximately 19 million adolescents in Indonesia experienced mental health disorders. Stress is commonly defined as a process in which individuals evaluate an event as a threat, challenge, or danger. This study aimed to examine the relationship between coping mechanisms and stress levels among adolescents experiencing parental conflict at SMK Negeri 3 Bekasi City. A quantitative method was used to describe phenomena based on collected data. The study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach to assess the relationship between independent and dependent variables. Data were collected through questionnaires distributed to 216 adolescents aged 15Ae18 years using a simple random sampling technique. The results of the Pearson Chi-Square test revealed a significant relationship between coping mechanisms and stress levels . = 0. This finding indicates that coping mechanisms are strongly associated with adolescent stress in the context of parental conflict. These results may serve as a reference for educators, parents, and adolescents to better understand the importance of adaptive coping strategies in managing stress caused by family ABSTRAK Stress adalah ketegangan fisik dan psikologis yang menyebabkan gangguan pada kesehatan dan mental. Pravalensi gangguan mental remaja pada 2018 menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. didapatkan sebanyak 19 juta remaja mengalami gangguan mental. Stress merupakan proses seseorang menilai suatu peristiwa sebagai ancaman, tantangan atau Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena berdasarkan data yang diperoleh. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel Metode kuantitatif yang dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada 216 remaja di SMK Negeri 3 Kota Bekasi dengan memakai teknik Simple Random Sampling. Responden yang digunakan pada penelitian ini yaitu remaja tengah di umur 15-18 tahun. Berdasarkan uji pearson chi-square diketahui bahwa nilai p sebesar 0,000 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi. Hasil penelitian ini diharapkan bisa sebagai acuan bagi tenaga pendidik, orang tua dan remaja dalam memahami pentingnya mekanisme koping adaptif untuk mengatasi stress akibat pertengkaran orang tua. Keywords: stress. coping mechanisms. parental conflict. cross-sectional study Pendahuluan Masa remaja ialah fase peralihan yang berasal dari anak-anak ke dewasa, disertai perubahan pertumbuhan serta perkembangan sangat menonjol. Pada fase ini, remaja dihadapkan pada tantangan besar dalam mengontrol diri dengan kehidupan dewasa meskipun secara fisiologis dan psikologis mereka belum sepenuhnya matang (Nurwela & Israfil, 2. Dalam perspektif perkembangan, masa remaja sering disebut sebagai periode AuStrom and 31 | E-ISSN: 2963-6434 StressAy karena adanya kecenderungan perilaku yang lebih emosional dan beresiko seperti gangguan suasana hati, kecemasan serta konflik dalam hubungan sosial termasuk konflik dengan orang tua (Buchanan et al. , 2. Berdasarkan definisi dari WHO, remaja adalah individu yang berusia 10 Ae 19 tahun. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapan kategori remaja hingga usia 24 tahun selama mereka belum menikah dan menurut Santrock A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Cindy Arta Lestari et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing . , remaja berusia 11 Ae 18 tahun serta remaja dibagi menjadi 3 bagian yaitu masa remaja awal . Ae 14 tahu. , remaja tengah . Ae 18 tahu. dan remaja akhir . Ae 21 tahu. Pada fase remaja tengah . Ae 18 tahu. , mereka mulai mengembangkan kapasitas kognitif Di fase perkembangan remaja tengah, mereka sangat membutuhkan teman sebaya, sering mengalami keresahan dan bingung jika dihadapkan suatu konflik serta mempunyai keinginan yang besar dalam mencoba hal baru (Putro, 2. Interaksi dengan teman sebaya memiliki peran penting dalam pekrembangan sosial dan emosional remaja. Hubungan ini dapat meningkatkan keterampilan sosial, harga diri serta kepercayaan diri. Namun disisi lain, teman sebaya padahal dapat memberikan efek negatif seperti perasaan kesepian akibat penolakan sosial bahkan mendorong kepribadian menyimpang yaitu merokok, konsumsi alkohol dan penyalahgunaan Sehingga keluarga terutama orang tua sangat penting untuk membentuk karakter dan kesejahteraan emosional remaja. Keluarga yang harmonis merupakan faktor utama dalam membentuk perkembangan psikologis yang sehat bagi remaja. Namun menurut Laporan Statistik Indonesia menunjukan bahwa kasus perceraian orang tua meningkat signifikan dari 447. 743 kasus pada tahun 2021 menjadi 516. 334 kasus pada Konflik pertengkaran orang tua dapat menimbulkan dampak negatif pada remaja, termasuk meningkatnya tingkat stress dan gangguan mental (Sofyan & Pandikar, 2. Menurut Erick Erickson yang dikutip dalam (Syamsu Yusuf, 2006:. juga menegaskan bahwa pengalaman dalam lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Di lingkungan perkotaan, dinamika keluarga mengalami perubahan akibat tuntutan sosial dan Kesibukan orang tua, ketegangan hubungan, serta konflik yang terjadi dalam rumah tangga dapat menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan remaja. Situasi ini sering kali berujung pada kondisi AuBroken HomeAy yang berdampak pada kesejahteraan emosional dan psikologis anak (Hartanti & Salsabila, 2. Pertengkaran yang tidak terkendali dapat mmeicu kekerasan dalam rumah tangga dimana anak-anak menjadi korbam dari emosi orang tua yang tidak Siklus ini dapat berlanjut hingga masa dewasa serta memengaruhi pola hubungan interpersonal remaja di masa depan (Sofyan & Pandikar, 2. Studi menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga memiliki korelasi signifikan dengan tingkat stress pada remaja. Remaja yang berasal dari keluarga harmonis cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik serta kemampuan adaptasi yang lebih tunggi. Sebaliknya remaja yang mengalami konflik keluarga yang berkepanjangan rentan mengalami gangguan psikologis termasuk kecemasan, depresi dan stress pasca trauma (Nurwela & Israfil, 2. Gangguan kesehatan mental pada remaja semakin meningkat secara global. WHO melaporkan bahwa 1 dari 7 remaja . %) mengalami gangguan kesehatan mental sedangkan di indonesia angka pravalensinya mencapai 6,1% (Maulana et al. , 2. Faktor eksternal yang dapat memicu stress pada remaja mencakup tekanan akademik, konflik dengan teman sebaya, ketidakharmonisan dalam keluarga (Dafiq et al. Sehingga diperlukan mekanisme koping yang efektif untuk remaja dalam mengatasi tekanan dan tantangan yang mereka alami. Mekanisme koping ialah strategi yang dipakai seseorang untuk mengelola tekanan dan stres, baik melalui strategi adapftif maupun maladaptif (Ertanti Rizky Nur Rachmah, 2. Strategi kopig yang efektif mencakup penggunaan strategi berbasis tugas, dukungan sosial dari teman sebaya dan keluarga serta regulasi emosi yang positif (Yoduke et al. , 2. Menurut kurnia . menjelaskan bahwa koping berfokus pada emosi https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 32 Cindy Arta Lestari et al. lebih efektif memiliki tingkat stress yang lebih rendah (Laila et al. , 2. Namun dalam fase remaja tengah yang lebih mengutamakan hubungan dengan teman sebaya serta kurangnya kasih sayang dari orang tua dapat menyebabkan remaja mencari pelarian yang kurang sehat seperti perilaku menyimpang dan kecenderungan menarik diri dari keluarga (Mistiani, 2. Dalam studi pendahuluan yang dilakukan di SMK Negeri 3 Kota Bekasi, ditemukan bahwa 78% dari 100 siswa pernah melihat pertengkaran orang tua dengan intensitas 21% sering melihat pertengkaran tersebut dan sebanyak 62% remaja tidak nyaman berbagi masalah dengan teman, 43% remaja memilih keluar rumah sebagai bentuk distraksi dan 38% remaja merasa tegang atau takut saat melihat orang tua bertengkar. Dan hal yang mengkhawatirkan yaitu 27% remaja pernah memiliki pemikiran untuk melukai diri sendiri. Data ini menunjukkan bahwa stress akibat konflik orang tua merupakan isu yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi serta penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai pentingnya mekanisme koping yang adaptif dalam mengelola stres pada remaja yang mengalami konflik orang Metode Penelitian dilakukan di SMK Negeri 3 Kota Bekasi kepada remaja khususnya remaja tengah diumur 15-18 tahun dengan teknik Simple Random Sampling dan sampel penelitian ini sebanyak 140 responden yang dilakukan selama 1 hari pada 05 Agustus 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross-Sectional. Mekanisme koping diukur dengan kuesioner yang telah digunakan oleh Mumun Maemunah . dan tingkat stress diukur dengan kuesioner Perceived Stress Scale. Uji analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi mekanisme koping dan distribusi frekuensi tingkat stress serta uji analisa bivariat untuk menganalisis hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress menggunakan SPSS melalui Uji Chi-Square dengan nilai P 0,000 (<0,. yang menandakan bahwa terdapat hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress remaja. Hasil Tabel 1. Distribusi frekuensi mekanisme koping dan Tingkat stes remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi . Variabel Mekanisme koping Maladaptif Adaptif Tingkat stres Ringan Sedang Berat Tabel 1, dari 140 responden didapatkan 110 . 6%) responden mengalami mekanisme koping adaptif dan 30 . 4%) responden mengalami mekanisme koping maladaptif. Sedangkan 33 | E-ISSN: 2963-6434 responden mengalami tingkat stress ringan sebanyak 5 . ,0%), 105 . 0%) responden mengalami tingkat stress sedang dan 28 . responden mengalami tingkat stress berat. Cindy Arta Lestari et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Tabel 2. Hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress . Tingkat Stress Mekanisme Koping Ringan Sedang Berat Maladaptif Adaptif Berdasarkan tabel 2, dari 140 responden didapatkan 0 . %) responden mengalami mekanisme koping maladaptif dengan tingkat stress ringan, 13 . 3%) responden mengalami mekanisme koping maladaptif dengan tingkat stress sedang dan 17 . 1%) responden mengalami mekanisme koping maladaptif dengan tingkat stress berat sedangkan 7 . 0%) responden mengalami mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress ringan, 92 . 7%) responden mengalami mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress sedang dan 11 . 9%) responden mengalami mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress berat. Pembahasan Analisis Mekanisme Koping Remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi Dari tabel 1 didapatkan distribusi frekuensi mekanisme koping remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi dari 140 responden sebagian besar sebanyak 110 . 6%) responden termasuk kedalam kategori adaptif. Dari analisis kuesioner mekanisme koping, dikatakan adaptif karena remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi sering berdiskusi dengan teman untuk bercerita tentang masalah yang dialami remaja salah satunya pertengkaran orang tua, sehingga remaja mendapatkan afirmasi yang positif serta lingkungan yang menyebabkan remaja merasakan masalah tersebut lebih ringan, akan selesai atau Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian (Mubarokah, 2. dengan mewawancarai 3 remaja tengah yang pernah merasakan kejadian pertengkaran orang tua di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dengan hasil penelitian menunjukkan P-Value remaja memiliki mekanisme koping adaptif dengan cara mencari dukungan berupa sharing ke teman, saudara atau media sosial. Selain itu remaja memakai strategi koping yang berfokus pada emosi . motional focused copin. untuk mengelola respon emosional tanpa mengubah sumber stress dengan menggunakan penilaian positif yaitu menerima keadaannya dari masalah yang sedang dihadapi. Dikarenakan mekanisme koping adaptif remaja yang sering digunakan berupa sharing atau bercerita kepada teman, maka penting untuk remaja dapat memilih teman yang baik dan suportif agar mendapatkan dukungan emosional yang positif dan afirmasi yang positif untuk Menurut (Aulia & Adiono, 2. mengatakan bahwa teman yang baik dapat memberikan dukungan emosional ke arah yang positif karena memiliki empati, mampu memahami perasaan orang lain dan memberikan respon yang penuh dengan perhatian. Oleh sebab itu, penggunaan mekanisme koping bergantung pada cara individu menghadapi masalahnya, karena setiap orag unik serta memiliki mekanisme koping yang berbeda. Dikarenakan mekanisme koping muncul secara tiba tiba saat seseorang merasa tertekan atau terancam oleh suatu keadaan. Sehingga saat remaja mengalami masalah atau stress, mereka cenderung terbuka dengan temannya untuk mendapatkan afirmasi positif dan dukungan sosial dalam menghadapi masalah remaja itu sendiri. Namun penting bagi remaja harus memilih teman yang baik agar dukungan yang diterima benar benar membantu mereka dalam menghadapi masalah dengan cara sehat dan positif. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 34 Cindy Arta Lestari et al. Analisis Tingkat Stress Remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi Dari tabel 1 didapatkan distribusi frekuensi tingkat stress remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi dari 140 responden sebagian besar 105 . responden termasuk dalam kategori tingkat stress Dari teori serta analisis kuesioner, dikatakan stress sedang karena stress ini hanya terjadi selama beberapa jam hingga beberapa hari yang menyebabkan gangguan kesehatan pada remaja misalnya geliah serta tegang dan merasa tidak yakin dapat mengatasi masalah. Hasil penelitian ini sejalan dengan (MarAoatussholihah, 2. didapat dari 61 siswa sebanyak 35 . 4%) siswa di SMKN 6 Pandeglang mengalami tingkat stress sedang dan dari 49 siswa sebanyak 30 . 2%) siswa SMAN 9 Pandeglang mengalami tingkat stress sedang. Penelitian ini menunjukan bahwa stress pada remaja salah satunya dikarenakan pernah mengalami pertengkaran orang tua yang membuat perubahan perilaku pada anak sehingga konsentrasi dan mudah tersinggung. Selain itu remaja sulit mengontrol emosi dan sulit menghadapi tantangan sehingga menunjukan sifat agresif berupa tindakan verbal maupun non Menurut analisa peneliti, fase perkmbangan remaja tengah mereka rentan mengalami stress dikarenakan mereka memiliki emosi yang bergejolak, pengendalian diri yang belum sempurna atau labil, sulit membuat keputusan, suka mencoba hal yang baru dan sulit memecahkan masalah. Hal ini menyebabkan remaja rentan mengalami stress sehingga pada penelitian ini dikatakan remaja mengalami tingkat stress sedang karena fase perkembangan mereka harus menyesuaikan diri dengan banyak hal. Jika masalah tidak teratasi, maka remaja akan merasa kecewa, gelisah, merasa dirinya sebagai orang yang gagal atau tidak bisa menyelesaikan masalah sehingga timbulah stress. 35 | E-ISSN: 2963-6434 Sehingga, keluarga mempunyai arti penting untuk mempengaruhi tingkat stress remaja serta membantu mengatasi stress dengan meberikan dukungan emosional, memberikan bantuan berupa barang atau jasa serta memberikan nasihat atau Analisis Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Stress Remaja Dalam Kejadian Pertengkaran Orang Tua Di SMK Negeri 3 Kota Bekasi Berdasarkan tabel 2 menunjukan adanya hubungan signifikan antara mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi. Hal ini dibuktikan melalui analisa statistik yang mengasilkan nilai . = 0,000<0,. yang menunjukan terdapat hubungan bermakna antara mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi. Penelitian ini searah dengan penelitian (Purnama et al. , 2. dan (MarAoatussholihah, 2. dikatakan bahwa adanya hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress remaja yang mengatakan bahwa seseorang melakukan mekanisme kopung dengan berbagai cara untuk mengatasi stress. Mekanisme koping yang digunakan individu saling berbeda dengan individu lainnya karena mekanisme koping berhubungan dengan strategi seseorang dan tingkat stress yang dialaminya. Sehingga mekanisme koping berhibungan dengan tingkat stress untuk mengatasi tingkat stress yang dialami. Yang artinya semakin benar mekanisme koping yang digunakan maka semakin rendah tingkat stress yang dirasakan. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebanyak 0 . %) responden memiliki mekanisme koping maladaptif tetapi tingkat stress ringan, sebanyak 13 . 3%) responden memiliki mekanisme koping maladaptif tetapi tingkat stress sedang, sebanyak 17 . 1%) responden memiliki Cindy Arta Lestari et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing mekanisme koping maladaptif tetapi tingkat stress berat dan sebanyak 7 . 0%) responden memiliki mekanisme koping adaptif tetapi tingkat stress ringan, sebanyak 92 . 7%) responden memiliki mekanisme koping adaptif tetapi tingkat stress sedang serta sebanyak 11 . 9%) responden memiliki mekanisme koping adaptif tetapi tingkat stess berat. Sehingga dalam penelitian ini disimpulkan bahwa remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi mengalami mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress sedang karena mekanisme koping adaptif tidak digunakan sepenuhnya dengan baik. Hal ini terbukti dari pengisian kuesioner walaupun remaja sering bercerita kepada temanya, remaja sebelum tidur masih sering melamun, jarang terbuka dengan oang tuanya sehingga timbulah sttress yang terjadi hanya dalam beberapa hari. Penelitian berikut searah dengan penelitian (Syarifah Masthura et al. , 2. didapat 1 . responden memakai mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress ringan, 24 . responden memakai mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress sedang dan 4 . responden memiliki mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress berat. Sehingga walaupun remaja cenderung memiliki mekanisme koping yang adaptif mereka juga bisa mengalami tingkat stress sedang karena mekanisme koping adaptif hanya mampu mengontol masalah bukan menyelesaikan masalah hingga akrnya sehingga jika mekanisme koping adaptif stress tetap ada meskipun kondisi masalahnya berkurang. Sehingga menurut peneliti untuk remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi harus memiliki kegigihan dan motivasi jika terdapat permasalahan dirumah seperti orang tua bertengkar. Remaja diharuskan mencari dukungan sosial seperti dukungan waktu, saran atau nasihat, emosional maupun apreisasi agar tidak mengalami sedih yang berkepanjangan serta memakai afirmasi positif untuk meningkatkan efikasi diri atau kepercayaan diri. Berdasarkan analisis kuesioner, laki laki mengalami mekanisme koping maladaptif karena remaja laki laki jarang bercerita tentang masalahnya serta remaja laki laki terbiasa merokok saat menghadapi masalah. Sedangkan perempuan mengalami mekanisme koping adaptif karena perempuan lebih terbuka dan suka bercerita tentang hal yang dialaminya. Penelitian ini searah pada penelitian (Ardyani et al. , 2. didapatkan bahwa perempuan lebih menggunakan mekanisme koping adaptif sebanyak 78 . 3%) responden karena perempuan cenderung terbuka tentang sesuatu yang terjadi di kehidupannya, cenderung berfikir luas serta mudah mendapatkan jalan alternatif dalam menyelesaikan masalahnya sedangkan responden laki laki sebanyak 82 . 7%) responden mengalami mekanisme koping maladaptif karena mereka menggunakan akal untuk menghadapi masalah menggunakan semua cara tanpa memikirkan akibat yang kemungkinan Sehingga jika mekanisme koping adaptif ini berhasil dilakukan maka remaja akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sejak awal munculnya stressor. Karena penelitian ini pertengkaran orang tua dapat cenderung membuat remaja lebih terbuka dengan teman daripada keluarga, hal ini perlu diperhatikan oleh orang tua khususnya di umur remaja tengah agar mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dari orang tuanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan (Ramadhani & Hendrati, 2. di SMA Kota Kediri didapatkan laki laki kebanyakan mengalami stress berat sebanyak 12 . responden karena laki laki enggan membicarakan masalah mereka karena merasa bahwa sikap terbuka dapat dianggap sebagai kelemahan dan perempuan kebanyakan mengalami stress ringan sebanyak 33 . 3%) responden karena perempuan lebih sering berbagi masalah dengan orang lain seperti teman, keluarga dan rekan kerja. Menurut Ramun . menyatakan wanita umumnya lebih terbuka dibandingkan pria. https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 36 Cindy Arta Lestari et al. Dan wanita lebih berani mencari informasi tambahan terkait masalah yang dihadapi sehingga kecemasan akibat stressor tidak berkembang (Keperawatan, 2. Hal ini pula karena perempuan mampu mengelola stressnya sendiri dibanding laki laki. Serta laki laki memiliki 1,3 kali lebih besar untuk mengalami stress berat dibanding perempuan (Ramadhani & Hendrati. Sehingga remaja baik perempuan atau laki laki membutuhkan dukungan dari lingkungan terutama keluarganya agar remaja mendapatkan perkembangan kepribadian emosional yang optimal untuk menghindari remaja mengakses konten vidio yang tidak pantas, terlibat dalam pergaulan bebas, mengonsumsi alkohol atau merokok yang berdampak negatif bagi perkembangan jiwa remaja. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi didapatkan kesimpulan dari 140 responden mengalami mekanisme koping adaptif sebanyak 110 responden dan mekanisme koping maladaptif sebanyak 30 responden serta mengalami tingkat stress ringan sebanyak 7 responden, tingkat stress sedang sebanyak 105 responden dan tingkat stress berat sebanyak 28 responden. Selain itu dari segi jenis kelamin didapat bahwa dari 126 responden perempuan 103 diantaranya mengalami mekanisme koping adaptif dan tingkat stress sedang sebanyak 99 responden sedangkan dari 17 responden laki laki 7 diantaranya mengalami mekanisme koping maladaptif dan tingkat stress berat sebanyak 7 Maka dari analisis bivariat didapatkan remaja SMK Negeri 3 Kota Bekasi mengalami mekanisme koping adaptif dengan tingkat stress sedang sebanyak 92 responden sehingga hasil uji Chi-Square menunjukan nilai 0,000 (< 0,. yang berarti terdapat hubungan mekanisme koping dengan tingkat stress remaja dalam kejadian pertengkaran orang tua di SMK Negeri 3 Kota Bekasi. Referensi