Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: DimaSTIKa e-ISSN: 3109-1148 Vol. No. Tahun 2025. Hal. 198Ae207 Problematika Adab dan Akhlak Siswa dalam Proses Pembelajaran di SMA Islam Al Fath Plantungan Muhammad Ali Gunawan1*. Ferry Aji Aprilian2. Elliyya Rochmatassaadah3. Khusnul Khotimah4. Fina Lutfiana Azmi5. Nur Wahid6. Nur Hidayanti7 1,2,3,4,5,6Sekolah Tinggi Islam Kendal Email Corespondensi: muhammadaligunawan@stikkendal. *Corespondensi Author Abstrak Dalam perspektif pendidikan Islam, keberhasilan proses belajar tidak hanya diukur dari penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga dari penerapan nilai-nilai adab dan Namun, kenyataan di sekolah sering menunjukkan masih banyak tantangan dalam pembinaan karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persoalan adab dan akhlak siswa di SMA Islam Al Fath Plantungan, mengidentifikasi faktor penyebab, serta merumuskan langkah-langkah perbaikannya. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara tidak formal, dan penelusuran dokumen selama pelaksanaan PPL. Hasil pengamatan menunjukkan adanya beberapa masalah utama, antara lain rendahnya kedisiplinan, kurangnya sopan santun terhadap guru, minimnya rasa peduli antar siswa, serta kecanduan terhadap gawai. Faktor-faktor penyebab yang muncul meliputi pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, kurangnya penekanan pendidikan karakter di kelas, serta arus teknologi digital. Adapun upaya perbaikan yang direkomendasikan adalah penguatan karakter Islami melalui teladan dan pembiasaan, sinergi sekolah dengan orang tua, pengendalian penggunaan teknologi, serta pembinaan lewat kegiatan ekstrakurikuler bernuansa keislaman. Kata kunci: adab. pendidikan Islam. Abstract In Islamic education, the success of learning is measured not only by knowledge acquisition but also by the integration of manners . and morality . into daily behavior. However, in practice, challenges in character building remain common in schools. This study aims to describe the issues of studentsAo manners and morality at SMA Islam Al Fath Plantungan, to identify the causal factors, and to propose solutions. A descriptive qualitative method was employed, using observation, informal This is an open access article under the CCAeBY-SA license http://creativecommons. org/licenses/bysa/4. Problematika Adab dan Akhlak Siswa dalam Proses Pembelajaran di SMA IslamA. interviews, and documentation during the Teaching Practice Program (PPL). The findings reveal several key problems, namely low discipline, lack of respect toward teachers, limited empathy among peers, and excessive dependence on gadgets. The underlying causes include family upbringing, peer environment, the limited emphasis of character education in class, and the influence of digital technology. The recommended solutions involve strengthening Islamic character through modeling and habituation, enhancing collaboration between schools and parents, managing technology use, and promoting extracurricular activities with Islamic values. Keywords: manners. Islamic education. PENDAHULUAN Perubahan sosial dan kemajuan teknologi informasi membawa dampak signifikan terhadap perilaku dan cara berpikir generasi muda, termasuk dalam konteks pendidikan. Di era digital saat ini, arus informasi yang begitu cepat dan budaya populer yang mendominasi media sosial turut membentuk pola interaksi dan nilai-nilai baru di kalangan siswa. Kondisi ini menimbulkan tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter. Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, tidak hanya bertanggung jawab mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan adab sebagai dasar pembentukan akhlak yang mulia. Dalam konteks pendidikan Islam, adab menempati posisi sentral sebagai ruh dari proses pembelajaran. Adab tidak hanya diartikan sebagai tata krama atau sopan santun, melainkan sebagai wujud penghormatan terhadap ilmu, guru, dan proses belajar itu sendiri. Ketika adab diabaikan, ilmu yang diperoleh kehilangan nilai dan maknanya karena tidak bertransformasi menjadi kebijaksanaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Al-Attas, tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk insan beradab yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan penuh kesadaran moral dan spiritual. 1 Oleh karena itu, problematika adab dan akhlak di kalangan siswa menjadi isu penting yang harus diperhatikan secara serius, terutama di sekolah-sekolah berbasis keislaman seperti SMA Islam Al Fath Plantungan. 1 Abu Hamid Al-Ghazali. IhyaAo Ulumuddin (Beirut: Dar al-Fikr, 2. Muhammad Ali Gunawan, dkk SMA Islam Al Fath Plantungan sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki visi untuk membentuk peserta didik yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Namun, dalam praktiknya, dinamika sosial dan latar belakang siswa yang beragam sering kali melahirkan tantangan tersendiri dalam penerapan nilai-nilai adab di lingkungan sekolah. Beberapa fenomena yang muncul antara lain berkurangnya rasa hormat siswa terhadap guru, menurunnya disiplin belajar, serta melemahnya etika dalam berinteraksi di kelas. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai ideal pendidikan Islam dengan realitas perilaku siswa di lapangan. Melalui penelitian tentang problematika adab dan akhlak siswa dalam proses pembelajaran di SMA Islam Al Fath Plantungan, diharapkan dapat ditemukan pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku siswa, baik dari aspek internal seperti motivasi dan kesadaran diri, maupun dari aspek eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, dan budaya sekolah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk merumuskan strategi yang dapat digunakan oleh guru dan pihak sekolah dalam menumbuhkan kembali kesadaran adab sebagai inti dari pendidikan Islam. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat dan beradab dalam menjalani kehidupan. METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, karena dianggap paling sesuai untuk menggali dan memahami secara mendalam fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Islam Al Fath Plantungan dengan subjek penelitian siswa kelas X dan XI, yang diamati selama kegiatan Program Pengalaman Lapangan (PPL) berlangsung, yaitu pada tanggal 28 Juli hingga 28 Agustus 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi langsung di dalam dan di luar kelas untuk mengamati perilaku serta aktivitas pembelajaran siswa, wawancara informal dengan guru mata pelajaran dan beberapa siswa guna memperoleh informasi yang lebih mendalam, serta dokumentasi berupa catatan kegiatan PPL, aturan tata tertib sekolah, dan laporan pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi Problematika Adab dan Akhlak Siswa dalam Proses Pembelajaran di SMA IslamA. data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan pengujian validitas data melalui triangulasi sumber yang membandingkan informasi dari guru, siswa, dan dokumen untuk memastikan keabsahan serta keakuratan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil SMA Islam Al Fath Plantungan SMA Islam Al Fath Plantungan adalah lembaga pendidikan menengah atas swasta yang berlokasi di Jalan Ki Hajar Dewantara RT 002 RW 04. Desa Tlogopayung. Kecamatan Plantungan. Kabupaten Kendal. Jawa Tengah. Berdiri pada tahun 2013 di bawah naungan Yayasan Fathonah Bina Insani, sekolah ini berlandaskan nilai-nilai Islam dengan tujuan membentuk peserta didik yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia melalui integrasi pendidikan umum dan pendidikan karakter berbasis keagamaan. Dengan status akreditasi C dari BAN-S/M. SMA Islam Al Fath Plantungan Kurikulum Merdeka dan melaksanakan kegiatan belajar enam hari dalam seminggu. Sekolah ini memiliki fasilitas dasar seperti enam ruang kelas, perpustakaan, serta sarana pendukung lain di atas lahan seluas sekitar 630 meter persegi dengan sumber listrik PLN 2. 200 VA. Meskipun tergolong sekolah dengan skala sedang. SMA Islam Al Fath Plantungan memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan membentuk karakter siswa melalui pembelajaran yang bernuansa religius dan keteladanan guru. Adab Sebagai Landasan Bermakna dalam Menuntut Ilmu Dalam tradisi ilmu Islam, adab bukan sekadar tata krama formalitas, ia merupakan cara menghidupkan dan menjaga makna ilmu itu sendiri. Ketika siswa tidak menghormati sumber ilmu dan pengajar, proses internalisasi nilai jadi terganggu, ilmu cenderung menjadi sekadar konsumsi informasi tanpa transformasi Seperti yang ditegaskan oleh Muhaimin, pendidikan Islam selalu menempatkan dimensi akhlak sebagai pondasi dalam membentuk kepribadian peserta didik. 2 Di SMA Islam Al Fath, fenomena ini tampak dalam bentuk interaksi yang mekanis, di mana dialog guruAesiswa berjalan satu arah dan minim nuansa penghargaan terhadap proses belajar. 2 Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. Muhammad Ali Gunawan, dkk Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai keislaman telah menjadi bagian dari kurikulum dan budaya sekolah, penerapannya dalam praktik pembelajaran masih membutuhkan penguatan pada aspek adab dan komunikasi dua arah. Guru memiliki peran penting tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan yang menanamkan nilai penghormatan terhadap ilmu dan proses belajar. 3 Sementara itu, siswa perlu dibimbing untuk memahami bahwa belajar bukan semata memenuhi tuntutan akademik, melainkan bagian dari proses spiritual untuk membentuk diri yang berakhlak dan berilmu. Dengan demikian, pembelajaran di SMA Islam Al Fath dapat berkembang menjadi ruang dialog yang hidup, di mana ilmu dan adab berjalan beriringan membentuk karakter Islami yang Dinamika Sosial-Budaya dan Pengaruh Digital Perubahan nilai yang cepat pada generasi muda sering didorong oleh konsumsi konten digital dan arus budaya populer. Media sosial memberi AurewardAy instan . ike, shar. yang merangsang perilaku mencari perhatian, terkadang di luar norma kesopanan sekolah. Akibatnya, kesabaran menunggu giliran berbicara atau menghargai proses bertanya menjadi tergerus. Sekolah menghadapi tantangan bagaimana mengembalikan nilai-nilai ketekunan, adab bertanya, dan etika dialog dalam era yang serba cepat ini. Hal ini selaras dengan gagasan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang pentingnya program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam menanamkan nilai integritas, religiusitas, kerja sama, kemandirian, dan nasionalisme. Dalam konteks SMA Islam Al Fath, tantangan ini menjadi relevan karena siswa hidup di tengah arus digital yang kuat namun juga berada dalam lingkungan pendidikan yang menekankan nilai-nilai spiritual dan moral. 5 Sekolah perlu memperkuat peran guru sebagai fasilitator yang mampu menghubungkan nilai-nilai Euis Rosita. AuPengembangan Karakter Peserta Didik Di Madrasah Al-Muawanah,Ay Jurnal Praktik Baik Pembelajaran Sekolah Dan Pesantren 01, no. : 28Ae31, https://doi. org/10. 56741/pbpsp. 4 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Penguatan Pendidikan Karakter (Jakarta: Kemendikbud, 2. Royke Lantupa Kumowal. AuModerasi Beragama Sebagai Tanggapan Disrupsi Era Digital,Ay DAAoAT : Jurnal Teologi Kristen 5, no. : 126Ae50. Problematika Adab dan Akhlak Siswa dalam Proses Pembelajaran di SMA IslamA. Islam dengan realitas kehidupan modern siswa. Upaya ini dapat dilakukan melalui pembelajaran kontekstual yang mengaitkan ajaran agama dengan fenomena sosial digital, serta menciptakan ruang dialog yang menumbuhkan kesadaran kritis dan Dengan demikian, sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya. Peran Keluarga dan Jejaring Sosial Siswa yang kurang mendapat arah dan pengawasan konstruktif di rumah rentan mengembangkan kebiasaan non-akademis di luar sekolah. Dalam beberapa kasus, mereka mencari identitas dan pengakuan dari kelompok sebaya yang memiliki norma berbeda, yang akhirnya memengaruhi cara berinteraksi dan berperilaku di kelas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan kuat dari lingkungan keluarga. 6 Oleh karena itu, intervensi sekolah perlu dirancang dengan melibatkan orang tua sebagai mitra strategis dalam membangun konsistensi pendidikan karakter antara rumah dan sekolah. Abuddin Nata menegaskan bahwa keluarga merupakan faktor utama dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam, karena di lingkungan keluargalah anak pertama kali belajar tentang akhlak, disiplin, dan tanggung jawab. 7 Tanpa keterlibatan aktif orang tua, pendidikan karakter di sekolah akan berjalan parsial dan kurang berkelanjutan. Dalam konteks SMA Islam Al Fath, sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan sosial menjadi kunci agar nilai-nilai religius dan moral yang diajarkan di sekolah dapat terus tertanam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa, baik di rumah maupun di masyarakat. Strategi Pembinaan yang Terbukti Efektif dalam Praktik PPL Keteladanan guru: Sikap guru yang konsisten, mengucap salam, datang tepat waktu, menjaga tutur kata, ternyata lebih efektif membentuk perilaku siswa Muhammad Agiel Dwi Putra. Ajat Rukajat, and Khalid Ramdhan. AuImplementasi Pendidikan Karakter Dalam Proses Pembelajaran Akidah Akhlak Di SMP Negeri 1 Karawang Timur,Ay Jurnal Keislaman Dan Ilmu Pendidikan 4, no. : 476Ae90. 7 Abuddin Nata. Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Jakarta: Kencana, 2. Muhammad Ali Gunawan, dkk ketimbang ceramah panjang tentang etika. Keteladanan membuka jalan menuju imitasi positif. Ritual singkat bernilai spiritual: Mengawali pembelajaran dengan doa singkat, kultum singkat, atau latihan refleksi beberapa menit menjadi penanda bahwa suasana kelas adalah ruang nilai, bukan hanya transfer pengetahuan. Pendekatan personal dan restoratif: Ketika ada pelanggaran, pendekatan yang mengedepankan dialog restoratif . emahami motif, memberi kesempatan memperbaik. lebih membangun daripada hukuman semata. Hal ini menumbuhkan tanggung jawab dan empati. Pengelolaan gawai berbasis pembelajaran: Alih-alih melarang total, sekolah dapat merumuskan tugas yang memanfaatkan gadget untuk mencari referensi, membuat portofolio digital, atau presentasi yang terstruktur, sehingga perangkat digital menjadi alat pembelajaran, bukan gangguan. Kaitan dengan Kebijakan Pendidikan Karakter Pengalaman di lapangan relevan dengan kerangka Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang mendorong nilai religiusitas, integritas, kerja sama, kemandirian, dan nasionalisme. Sekolah Islam seperti SMA Islam Al Fath memiliki modal nilai yang kuat untuk menerapkan PPK secara organik, namun butuh perencanaan program yang berkelanjutan, indikator keberhasilan yang terukur, dan pelatihan bagi guru agar implementasi tidak menjadi ritual kosong. Untuk itu, penting bagi sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai PPK ke dalam seluruh aspek kegiatan belajar mengajar, baik melalui kurikulum Guru kemampuan reflektif dan pedagogik agar setiap kegiatan pembelajaran mampu menumbuhkan karakter siswa secara autentik, bukan sekadar formalitas. Selain itu, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga harus diperkuat agar pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menjadi budaya yang hidup dalam keseharian siswa. 8 Dengan pendekatan tersebut. SMA Islam Al Fath dapat menjadi model sekolah Islam yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi Jessy Amelia. AuPeran Keteladanan Guru Pai Dalam Pembentukan Karakter Religius Siswa Smp Negeri 07 Lubuklinggau,Ay Al-Bahtsu 6, no. : 87Ae95. Problematika Adab dan Akhlak Siswa dalam Proses Pembelajaran di SMA IslamA. juga berperan nyata dalam membentuk generasi berkarakter dan berkepribadian luhur sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Implikasi Jangka Panjang Jika problematika adab dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada hasil belajar jangka pendek, melainkan pada kualitas warga negara masa depan: terbentuknya individu yang mungkin cakap secara teknis namun lemah dalam etika Zuhairini dkk. Menegaskan bahwa pendidikan Islam harus dipahami sebagai instrumen pembentukan akhlak dan karakter bangsa. 9 Oleh karena itu, reformasi pembelajaran yang menyatukan aspek kognitif dan akhlak harus diupayakan sebagai bagian dari misi pendidikan nasional dan lokal. Dalam konteks modern yang sarat kompetisi dan tekanan globalisasi, urgensi pendidikan berbasis adab menjadi semakin tinggi. Pembelajaran tidak cukup hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual agar siswa mampu menavigasi kehidupan dengan kebijaksanaan dan empati. 10 Sekolah, terutama yang berlandaskan nilai-nilai Islam seperti SMA Islam Al Fath, memiliki tanggung jawab ganda: mencetak generasi yang berpengetahuan luas sekaligus berkarakter kuat. Upaya ini dapat diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran yang humanis, keteladanan guru, serta budaya sekolah yang menanamkan nilai hormat, tanggung jawab, dan kesantunan dalam setiap interaksi. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya melahirkan insan cerdas, tetapi juga pribadi yang beradab dan siap menjadi pemimpin beretika di masa SIMPULAN Problematika adab dan akhlak siswa di SMA Islam Al Fath Plantungan merupakan isu yang cukup kompleks dan multidimensional. Permasalahan tersebut mencakup berbagai aspek seperti kedisiplinan belajar, etika dalam berinteraksi dengan guru, rendahnya kepedulian sosial antarsiswa, hingga penggunaan gawai 9 Zuhairini and others. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2. Aries Abbas and Marhamah Marhamah. AuPenguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Menengah Kejuruan,Ay Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal 7, no. : 53Ae60, https://doi. org/10. 37905/aksara. Muhammad Ali Gunawan, dkk yang berlebihan di luar kendali. Fenomena ini tidak dapat dipandang secara parsial, karena penyebabnya saling berkaitan antara satu faktor dengan yang lain. Faktor keluarga yang kurang memberikan teladan moral, lingkungan pergaulan yang permisif, lemahnya penanaman pendidikan karakter di rumah maupun sekolah, serta pengaruh negatif teknologi digital menjadi pemicu utama munculnya degradasi adab di kalangan peserta didik. Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan. Penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam harus menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas. Guru berperan tidak hanya sebagai pendidik akademik, tetapi juga sebagai teladan moral dan spiritual bagi siswa. Selain itu, keterlibatan aktif orang tua menjadi faktor penting dalam memastikan kesinambungan pendidikan karakter antara lingkungan sekolah dan rumah. Pengawasan terhadap penggunaan teknologi digital juga harus dilakukan secara bijak, bukan untuk membatasi kreativitas siswa, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran etis dalam memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif. Lebih jauh, sekolah dapat mengembangkan program pembinaan bernuansa Islami yang berorientasi pada pembiasaan, seperti kegiatan keagamaan, mentoring rohani, atau proyek sosial berbasis nilai ukhuwah dan kepedulian. Melalui sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat. SMA Islam Al Fath diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak karimah, berdisiplin, dan berintegritas tinggi. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana pencapaian akademik, tetapi juga wahana pembentukan karakter yang kokoh sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Daftar Pustaka