Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 The Relationship Between Work Posture and Other Factors with Musculoskeletal Complaints in Hip Porters *Karina Anggia Rahmawati. Dwi Wahyuni. Budi Santosa. 1,2,3 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas MH Thamrin Correspondence Author: Karina Anggia Rahmawati, karynanggia6@gmail. Jakarta. Indonesia DOI : https://doi. org/10. 37012/jrik. Abstrak The World Health Organization (WHO) reports that more than 1. 71 billion people worldwide experience musculoskeletal problems that impact productivity and quality of life, with 619 million cases of low back pain in 2020 predicted to increase to 843 million by 2050. Porters are one of the informal sector workers vulnerable to musculoskeletal complaints due to repetitive manual handling activities with heavy loads. This study aims to determine the relationship between work period, work posture, repetition, work duration, and workload with musculoskeletal complaints in porters at Kramat Jati Main Market. East Jakarta. This type of study is quantitative with a cross-sectional design, involving 56 respondents selected by purposive sampling. The research instrument used the Nordic Body Map (NBM) to identify musculoskeletal complaints and the Rapid Entire Body Assessment (REBA) to assess the risk of work posture. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents experienced moderate musculoskeletal complaints . 1%). There was a significant correlation between length of service . =0. , work posture . =0. , and workload . =0. with musculoskeletal complaints. Meanwhile, age, repetition, and work duration were not associated with musculoskeletal complaints. In conclusion, musculoskeletal complaints are influenced by length of service, work posture, and workload. Preventive efforts should focus on controlling work posture, limiting lifting loads, and providing regular health checks for workers with long working periods. Keywords: Musculoskeletal. Years Of Service. Working Posture. Workload. Porter Workers Abstract World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 1,71 miliar orang di dunia mengalami masalah muskuloskeletal yang berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup, dengan 619 juta kasus nyeri punggung bawah pada tahun 2020 yang diprediksi meningkat menjadi 843 juta pada 2050. Pekerja kuli panggul merupakan salah satu kelompok pekerja sektor informal yang rentan mengalami keluhan muskuloskeletal akibat aktivitas manual handling berulang dengan beban berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa kerja, postur kerja, repetisi, durasi kerja, dan beban kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain crosectional, melibatkan 56 responden yang dipilih dengan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal dan Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai risiko postur kerja. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden mengalami keluhan muskuloskeletal kategori sedang . ,1%). Terdapat hubungan signifikan antara masa kerja . =0,. , postur kerja . =0,. , dan beban kerja . =0,. dengan keluhan muskuloskeletal. Sementara itu, umur, repetisi, dan durasi kerja tidak berhubungan dengan keluhan Kesimpulannya, keluhan muskuloskeletal dipengaruhi oleh masa kerja, postur kerja, dan beban Upaya pencegahan perlu difokuskan pada pengendalian postur kerja, pembatasan beban angkat, serta pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja dengan masa kerja panjang. Kata kunci: Muskuloskeletal. Masa Kerja. Postur Kerja. Beban Kerja. Kuli Panggul https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 PENDAHULUAN Gangguan sistem muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSD. merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang signifikan secara global. World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 1,71 miliar orang di dunia mengalami masalah muskuloskeletal yang berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup, dengan 619 juta kasus nyeri punggung bawah pada tahun 2020 yang diprediksi meningkat menjadi 843 juta pada 2050. MSDs menjadi penyebab utama kecacatan global dan menimbulkan beban sosial-ekonomi yang besar. International Labour Organization (ILO) mencatat 2,78 juta kematian akibat kerja dan 374 juta kasus kecelakaan kerja non-fatal setiap tahun, dengan MSDs menjadi salah satu penyakit akibat kerja paling umum, terutama di sektor informal. Di Indonesia. Riskesdas . melaporkan prevalensi gangguan muskuloskeletal mencapai 24,7% dari populasi pekerja. Penelitian lokal juga menunjukkan bahwa sekitar 40,5% penyakit akibat kerja berhubungan dengan pekerjaan fisik, dengan proporsi gangguan muskuloskeletal sebesar 16% (Djaali, 2. Puspitasari dan Saptadi . menyebutkan bahwa pekerja sektor informal memiliki risiko tinggi, dengan 80% pekerja mengalami keluhan pada otot bagian bawah, 60% pada lutut, serta 40% pada punggung, pinggang, dan paha. Kondisi ini memperlihatkan tingginya risiko pekerja informal, khususnya yang terlibat dalam aktivitas manual handling seperti buruh angkut atau kuli panggul. Pekerjaan sebagai kuli panggul menuntut aktivitas fisik berat dengan mengangkat beban melebihi kapasitas normal manusia, dilakukan berulang kali dalam posisi tubuh yang tidak Penelitian sebelumnya menemukan hubungan signifikan antara faktor usia, masa kerja, postur kerja, dan beban angkat dengan keluhan MSDs (Tarwaka, 2015. Alisha et al. Prahastuti et al. , 2021. Yuliana et al. , 2. Pasar Induk Kramat Jati, sebagai salah satu pasar terbesar di Jakarta, memiliki intensitas bongkar muat yang sangat tinggi. Hasil observasi awal menunjukkan pekerja masih mengangkut barang secara manual tanpa alat bantu ergonomis, sering kali dengan postur membungkuk dan repetisi tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko MSDs dan menggambarkan minimnya penerapan prinsip ergonomi dalam aktivitas kerja di sektor informal. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui gambaran keluhan muskuloskeletal dan menganalisis hubungan antara faktor umur, masa kerja, postur kerja, repetisi, durasi kerja, dan beban kerja dengan keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 panggul di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan MSDs serta memberikan rekomendasi pencegahan berbasis ergonomi bagi pekerja sektor informal. METODE Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilaksanakan di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur pada JuniAeAgustus 2025. Populasi penelitian berjumlah 124 pekerja kuli panggul, dengan sampel 56 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Instrumen penelitian adalah kuesioner identitas responden. Nordic Body Map (NBM) untuk mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal, dan Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk menilai risiko postur kerja. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi langsung. Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi variabel dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi deskriptif. HASIL & PEMBAHASAN Pengukuran keluhan Musculoskeletal Disorders (MSD. pada responden menggunakan kuesioner Nordic Body Map (NBM) dilakukan untuk mengetahui bagian tubuh yang paling banyak mengalami keluhan. Hasil distribusi keluhan responden pada 28 bagian tubuh ditunjukkan pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Hasil Pengukuran Musculoskeletal Disorders (MSD. Menggunkan Kuesioner Nordic Body Map Keluhan Muskuluskeletal Bagian Tubuh Leher Atas Leher Bawah Bahu Kiri Bahu Kanan Lengan Kiri Atas Punggung Lengan Kanan Atas Punggung Bawah Tidak Keluhan Keluhan Keluhan Total https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 8 Pinggang 9 Bokong 10 Siku Kiri 11 Siku Kanan Lengan Kiri Bawah Lengan 13 Kanan Bawah Pergelangan Tangan Kiri Pergelangan 15 Tangan Kanan 16 Tangan Kiri Tangan Kanan 18 Paha Kiri 19 Paha Kanan 20 Lutut Kiri 21 Lutut Kanan 22 Betis Kiri 23 Betis Kanan Pergelangan Kaki Kiri Pergelangan Kaki Kanan Telapak Kaki Kiri Telapak Kaki Kanan Hasil analisis distribusi keluhan muskuloskeletal pada 28 bagian tubuh menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengalami keluhan pada lebih dari satu area tubuh. Bagian tubuh dengan keluhan tertinggi dilaporkan pada pinggang sebanyak 37 responden . ,1%), diikuti punggung sebanyak 31 responden . ,4%), dan bahu kiri sebanyak 29 responden . ,8%). Keluhan lain yang cukup tinggi juga dialami pada betis kanan . ,2%), betis kiri . ,6%), serta paha kanan . ,1%). Sementara itu, bagian tubuh dengan keluhan paling rendah adalah leher atas . ,3%) dan lengan kanan . ,8%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluhan terpusat pada area tubuh yang berperan langsung dalam aktivitas mengangkat beban berat, khususnya pada otot punggung bawah, bahu, dan tungkai bawah yang menopang beban saat aktivitas bongkar muat. Temuan ini konsisten dengan penelitian Puspitasari & Saptadi . yang menyebutkan bahwa otot punggung bawah, bahu, lutut, dan tungkai merupakan area paling rentan mengalami gangguan muskuloskeletal pada pekerja sektor informal dengan aktivitas manual handling berulang. https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 Analisis Univariat Sebanyak 56 pekerja kuli panggul menjadi responden penelitian ini. Karakteristik responden dianalisis berdasarkan umur, masa kerja, postur kerja, repetisi, durasi kerja, dan beban kerja. Selain itu, gambaran keluhan muskuloskeletal juga diuraikan untuk mengetahui sebaran tingkat keluhan yang dialami pekerja. Distribusi setiap variabel penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur Variabel Keluhan Muskuloskeletal Rendah Sedang Tinggi Umur <38 Tahun Ou38 Tahun Masa Kerja <8 Tahun Ou8 Tahun Postur Kerja Sedang . Tinggi . Sangat Tinggi . Repetisi atau Frekuensi Angkat Jarang (<15 kal. Sering (Ou15 kal. Durasi Kerja <10 jam Ou10 jam Beban Kerja <45 kg Ou45 kg Frekuensi Persentase (%) Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami keluhan muskuloskeletal kategori sedang . ,1%), diikuti kategori tinggi . ,4%) dan rendah . ,6%). Lebih dari separuh responden berusia <38 tahun . ,3%) dan memiliki masa kerja Ou8 tahun . ,8%). Sebagian besar responden memiliki postur kerja berisiko tinggiAesangat tinggi . ,5%) dengan repetisi angkat yang hampir seimbang antara kategori jarang dan Durasi kerja didominasi oleh kategori <10 jam/hari . ,6%), sedangkan mayoritas beban kerja berada pada kategori <45 kg . %). Temuan ini memperlihatkan bahwa pekerja kuli panggul di Pasar Induk Kramat Jati umumnya memiliki kondisi kerja berisiko, khususnya dari segi postur dan masa kerja, yang berpotensi meningkatkan kejadian keluhan https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 Analisis Bivariat Setelah diperoleh gambaran distribusi setiap variabel melalui analisis univariat, selanjutnya dilakukan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli panggul. Hasil analisis bivariat disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hubungan Faktor Risiko dengan Keluhan Muskuloskeletal Variabel Umur <38 Tahun Ou38 Tahun Masa Kerja <8 Tahun Ou8 Tahun Postur Kerja Sedang . Tinggi . Sangat Tinggi . Repetisi atau Frekuensi Angkat Jarang (<15 kal. Sering (Ou15 kal. Durasi Kerja <10 jam Ou10 jam Beban Kerja <45 kg Ou45 kg Rendah . Keluhan Muskuloskeletal Sedang Tinggi . Total P Value 0,762 0,010 0,179 0,037 0,002 0,762 Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel umur . = 0,. , repetisi angkat . = 0,. , dan durasi kerja . = 0,. tidak berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal. Nilai p > 0,05 pada variabel-variabel tersebut menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna, sehingga dapat diartikan bahwa perbedaan kategori umur, frekuensi angkat, maupun lama kerja tidak memengaruhi tingkat keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli Sebaliknya, variabel masa kerja terbukti berhubungan signifikan dengan keluhan muskuloskeletal . = 0,. Hal ini berarti pekerja dengan masa kerja Ou8 tahun lebih berisiko mengalami keluhan dibandingkan pekerja dengan masa kerja <8 tahun. Variabel postur kerja juga berhubungan signifikan . = 0,. , yang menunjukkan bahwa responden dengan postur kerja berisiko tinggi hingga sangat tinggi lebih rentan mengalami keluhan dibandingkan yang memiliki postur sedang. Selain itu, beban kerja berhubungan signifikan dengan keluhan muskuloskeletal . = 0,. , di mana pekerja yang mengangkat beban Ou45 https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 kg lebih banyak mengalami keluhan dibandingkan pekerja dengan beban <45 kg. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli panggul adalah masa kerja, postur kerja, dan beban kerja, sedangkan umur, repetisi, dan durasi kerja tidak menunjukkan hubungan bermakna. Hubungan Umur terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur dengan keluhan muskuloskeletal pada pekerja kuli panggul dengan nilai p = 0,762 . > 0,. Temuan ini sejalan dengan penelitian Triana et al. , . yang melaporkan tidak adanya hubungan signifikan antara umur dengan keluhan muskuloskeletal. Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian Prahastuti et al. , . yang menemukan adanya hubungan bermakna, di mana semakin bertambah umur risiko keluhan semakin tinggi. Secara teori, bertambahnya usia dapat menurunkan elastisitas otot dan fleksibilitas sendi, sehingga meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal (Tarwaka, 2. Hubungan Masa Kerja terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal dengan nilai p = 0,010 . < 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Prahastuti et al. , . yang menyebutkan bahwa semakin lama masa kerja maka semakin besar kemungkinan pekerja mengalami keluhan muskuloskeletal. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan temuan Dimkatni et al. , . yang melaporkan tidak adanya hubungan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Secara teori, semakin lama seseorang terpapar beban kerja, maka semakin besar pula akumulasi kelelahan otot dan risiko terjadinya cedera (Tarwaka, 2. Hubungan Postur Kerja terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara postur kerja dengan keluhan muskuloskeletal dengan nilai p = 0,002 . < 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Prahastuti et al. , . yang menemukan adanya hubungan signifikan antara postur kerja https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 berisiko dengan keluhan muskuloskeletal. Namun, penelitian Lestari dan Fil Ilmi . menyatakan bahwa postur kerja tidak selalu berkaitan dengan keluhan karena adanya faktor adaptasi pekerja. Menurut teori ergonomi, postur kerja yang tidak alamiah, seperti membungkuk atau mengangkat beban di atas bahu, akan meningkatkan tekanan pada sistem muskuloskeletal (Tarwaka, 2. Hubungan Repetisi terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara repetisi angkat dengan keluhan muskuloskeletal p = 0,762 . > 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hendrarini dan Suwarni . yang melaporkan tidak adanya hubungan signifikan antara repetisi dengan keluhan muskuloskeletal. Namun, penelitian Viki et al. , . menemukan adanya hubungan bermakna, di mana semakin tinggi frekuensi angkat semakin besar risiko keluhan. Secara teori, gerakan yang dilakukan secara berulang tanpa jeda istirahat cukup dapat meningkatkan kelelahan otot dan menyebabkan keluhan muskuloskeletal (Tarwaka, 2. Hubungan Durasi Kerja terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara durasi kerja dengan keluhan muskuloskeletal dengan nilai p = 0,179 . > 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian Triana et al. , . yang juga melaporkan tidak adanya hubungan signifikan antara durasi kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Namun, penelitian Ruliati et al. , . menemukan adanya hubungan bermakna, di mana semakin lama durasi kerja semakin tinggi risiko keluhan Secara teori, semakin panjang durasi kerja harian, semakin besar akumulasi kelelahan otot yang dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal (Tarwaka, 2. Hubungan Beban Kerja terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Kuli Panggul di Pasar Induk Kramat Jati. Jakarta Timur Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara beban kerja dengan keluhan muskuloskeletal dengan nilai p = 0,037 . < 0,. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sartika Supriati et al. , . yang melaporkan bahwa pekerja dengan beban angkat tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami keluhan muskuloskeletal. Namun, penelitian Raraswati https://journal. id/index. php/jrik/article/view/2941/2575 Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Vol 1 . Mei 2025 Page: 26-36 et al. , . menyebutkan bahwa beban kerja tidak berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal, karena faktor lain seperti teknik angkat juga berpengaruh. Secara teori, semakin berat beban yang diangkat maka semakin besar tekanan mekanis pada tulang belakang dan otot, sehingga meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal (Tarwaka, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja kuli panggul di Pasar Induk Kramat Jati mengalami keluhan muskuloskeletal kategori sedang, dengan keluhan tertinggi pada bagian pinggang, punggung, bahu, dan tungkai bawah. Analisis bivariat membuktikan adanya hubungan signifikan antara masa kerja, postur kerja, dan beban kerja dengan keluhan Sementara itu, variabel umur, repetisi angkat, dan durasi kerja tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya upaya pencegahan melalui edukasi tentang teknik angkat yang benar, pengaturan beban kerja sesuai kemampuan fisik, serta penggunaan alat bantu sederhana dalam aktivitas bongkar muat. Selain itu, disarankan agar pekerja mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan dukungan dari pengelola pasar maupun instansi terkait dalam program promosi kesehatan kerja untuk menurunkan risiko gangguan muskuloskeletal. REFERENSI