Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 ANALISIS TINGKAT KEPEDULIAN MASYARAKAT DESA JELADRI WINONGAN KABUPATEN PASURUAN TERHADAP KESEHATAN LINGKUNGAN (OBSERVASI TIM MAHASISWA KKN 72 UINSA SURABAYA) Mukhammad Alfani. Avril Avida Ichwan. Devina Rahmayani. Ihya' Ulumuddin. Shinta Ratu Putri Unon Purwanto. Nova Lusiana (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabay. Abstract This study aims to analyze the community awareness behavior in Jeladri Village related to environmental health by KKN 72 UINSA Surabaya students, with a special focus on the management of waste and liquid waste generated by households. Through a series of interviews and observations conducted in six hamlets, it was revealed that waste and liquid waste management practices in the village are still done carelessly. For example, many residents burn waste on vacant land or dispose of liquid waste directly on the ground around their homes without adequate treatment. The method used in this research is descriptive qualitative, where purposive sampling technique is applied to obtain relevant information from the selected informants. The results of this study show that the two main factors contributing to this problem are the lack of facilities for waste management and the lack of awareness and knowledge of the community regarding the importance of keeping the environment clean. Therefore, this study emphasizes the urgency of educating the community on proper waste management, as well as the need to improve adequate facilities to support the practice. With these measures, it is hoped that a cleaner and healthier environment can be created, thereby improving the quality of life of the people in Jeladri Village. Keywords: Garbage. Health. Environment. Jeladri Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku kepedulian masyarakat di Desa Jeladri terkait kesehatan lingkungan Oleh Mahasiswa KKN 72 UINSA Surabaya, dengan fokus khusus pada pengelolaan sampah dan limbah cair yang dihasilkan oleh rumah tangga. Melalui serangkaian wawancara dan observasi yang dilakukan di enam dusun, terungkap bahwa praktik pengelolaan sampah dan limbah cair di desa tersebut masih dilakukan secara Contohnya, banyak warga yang membakar sampah di lahan kosong atau membuang limbah cair langsung ke tanah di sekitar rumah mereka tanpa pengolahan yang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, di mana teknik purposive sampling diterapkan untuk mendapatkan informasi yang relevan dari informan yang terpilih. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dua faktor utama yang berkontribusi pada permasalahan ini adalah minimnya fasilitas untuk pengelolaan sampah dan kurangnya kesadaran serta pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan urgensi edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar, serta perlunya peningkatan fasilitas yang memadai untuk mendukung praktik tersebut. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih bersih dan sehat, sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Desa Jeladri. Kata Kunci: Sampah. Kesehatan. Lingkungan. Jeladri Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 PENDAHULUAN Menerapkan gaya hidup sehat sebenarnya cukup sederhana dan tidak memerlukan biaya besar, terutama jika dibandingkan dengan biaya perawatan medis yang dapat menjadi sangat mahal ketika kita mengalami gangguan kesehatan. Dengan melakukan langkahlangkah kecil seperti menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengelola stres, kita dapat mencegah banyak masalah kesehatan yang serius. Biaya yang dikeluarkan untuk menjaga tubuh tetap bugar dan sehat jauh lebih terjangkau daripada biaya pengobatan atau perawatan medis jangka panjang yang mungkin diperlukan jika kesehatan kita terganggu. Oleh karena itu, memilih gaya hidup sehat sejak dini adalah investasi terbaik untuk kesejahteraan jangka panjang1. Gaya hidup sehat seharusnya diterapkan oleh setiap orang karena banyak manfaat yang bisa diperoleh, seperti peningkatan konsentrasi dalam bekerja, kesehatan dan kecerdasan anak, serta keharmonisan dalam keluarga2. Untuk memulai hidup sehat, kita bisa mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang lebih baik. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mencakup tindakan menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri, kelompok, masyarakat, dan lingkungan sekitar 3. Program penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan usaha untuk memberikan pendidikan dan pengalaman kepada setiap individu, anggota keluarga, kelompok, serta masyarakat luas. Upaya ini dapat dilakukan melalui media dan kampanye Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku melalui kepemimpinan, menciptakan lingkungan yang nyaman, serta mengembangkan gerakan pemberdayaan dalam masyarakat4. Keadaan ini berfungsi sebagai refleksi yang membantu masyarakat mengenali, memahami, dan menyelesaikan masalah yang dihadapi individu di lingkungan mereka. Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang mengintegrasikan kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha meningkatkan kesehatan di rumah maupun di lingkungan sosial5. Kesehatan lingkungan adalah bidang ilmu yang menggabungkan aspek ilmiah dan seni untuk mencapai keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup, dengan tujuan menciptakan kondisi yang bersih, sehat, nyaman, dan aman serta mencegah timbulnya Dalam kajian ini, kita mempelajari interaksi antar kelompok masyarakat dan bagaimana perubahan dalam komponen lingkungan dapat mengancam kesehatan Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan lingkungan mencerminkan keseimbangan ekologi yang penting untuk memastikan kondisi kesehatan yang optimal. Sementara itu. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) keseimbangan ekologi dinamis antara manusia dan lingkungannya, yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup yang sehat dan bahagia. Dengan demikian, terdapat hubungan timbal balik yang erat antara manusia dan lingkungan, di mana keduanya saling Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 memengaruhi, menjadikan perhatian terhadap kesehatan lingkungan sebagai faktor krusial untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan Sebagaimana halnya strategi pengelolaan sampah di Jepang melibatkan sistem pemilahan yang sangat terperinci, di mana masyarakat diwajibkan untuk memisahkan sampah ke dalam berbagai kategori seperti sampah organik, kertas, plastik, logam, dan kaca. Setiap kategori memiliki jadwal pengumpulan yang berbeda dan diangkut oleh truk sampah yang terpisah. Jepang juga menggunakan teknologi canggih dalam pengolahan sampah, seperti insinerator dengan efisiensi tinggi dan pembangkit listrik tenaga sampah. Pemerintah Jepang menjalankan peraturan dan undang-undang yang ketat untuk mendukung pengelolaan sampah yang baik, serta melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang Dengan demikian, strategi pengelolaan sampah yang terperinci dan teknologi canggih yang digunakan Jepang merupakan contoh nyata dari kesadaran akan pentingnya kesehatan lingkungan dan dampak positifnya terhadap kesejahteraan masyarakat secara Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas lingkungan adalah dengan melakukan pengelolaan sampah secara efektif. Sampah dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia yang tidak lagi dimanfaatkan. Pada dasarnya, sampah merupakan sisa dari produk atau bahan yang nilai manfaatnya lebih rendah dibandingkan dengan produk yang digunakan, sehingga akhirnya dibuang atau tidak dimanfaatkan lagi. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) pada tahun 2021, jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia, mengkhawatirkan, yaitu 18,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sampah yang berhasil dikelola dengan baik hanya sekitar 13,2 juta ton per tahun, yang berarti hanya sekitar 72,95% dari total sampah yang dihasilkan. Situasi ini disebabkan oleh keterbatasan kapasitas tempat pembuangan sampah, baik di Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun di Tempat Penampungan Akhir (TPA), serta kurangnya upaya pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, pertumbuhan jumlah penduduk juga berkontribusi terhadap meningkatnya volume sampah. Dengan semakin banyaknya penduduk, tentu saja jumlah sampah yang dihasilkan juga akan semakin bertambah, sehingga penting untuk meningkatkan sistem pengelolaan sampah guna mengatasi masalah ini dan menjaga kualitas lingkungan yang lebih baik 8. Sampah yang dihasilkan terus-menerus jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sampah. 9 Beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan yaitu: . Timbunan sampah dapat mengurangi nilai keestetikaan, tumpukan sampah di lingkungan sekitar dapat mengganggu pemandangan, . Sampah organik memiliki kemampuan untuk melakukan proses dekomposisi atau disebut dengan pembusukan, sampah organik basah dapat menghasilkan gas-gas tertentu contohnya gas Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 Gas metana menimbulkan bau busuk dan dapat mengalami penguapan di udara, hal ini akan berdampak pada kualitas udara yang nantinya udara yang ada di sekitar lingkungan sampah dapat tercemar, . Sampah yang tertimbun dapat menghasilkan cairan yang dikenal dengan cairan lindi. Cairan ini akan mengalir dan masuk ke dalam tanah sehingga tanah mengalami kontaminasi dan menyebabkan tanah menjadi rusak dan kehilangan kesuburannya, . Sampah yang menumpuk dapat menimbulkan vektor atau perantara penyakit. Vektor yang dapat menularkan penyakit ke manusia contohnya lalat dan Masalah dalam pengelolaan sampah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah perilaku manusia. Meskipun taraf hidup masyarakat meningkat, kurangnya pengetahuan dan kepedulian terhadap isu sampah dan pelestarian lingkungan sering kali menjadi penyebab utama permasalahan yang muncul. Ketidakpedulian individu terhadap kebersihan lingkungan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang lebih luas. Berbagai aspek dapat mempengaruhi perilaku ini, termasuk tingkat pendapatan, pendidikan, dan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, kesadaran individu akan pentingnya kebersihan juga berperan besar dalam menciptakan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Ketersediaan tempat pembuangan sampah, baik di Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun di Tempat Penampungan Akhir (TPA), juga dapat memengaruhi seberapa baik masyarakat mengelola sampah mereka. Jika fasilitas ini tidak memadai atau tidak tersedia, masyarakat mungkin akan cenderung membuang sampah sembarangan, yang pada akhirnya memperburuk masalah pengelolaan sampah. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan pendidikan masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang baik agar dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan Menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah salah satu tanggung jawab dan kewajiban yang harus dijalankan oleh umat manusia sebagai khalifah di dunia ini. Tugas ini merupakan misi yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap hamba-Nya10. untuk merawat dan melindungi ciptaan-Nya. Namun, dalam praktiknya, banyak individu yang mengabaikan tanggung jawab ini, yang berakibat pada kerusakan lingkungan dan dampak negatif terhadap planet kita. Dalam Al-Qur'an, disebutkan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi adalah hasil dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menekankan pentingnya kesadaran dan tanggung jawab individu dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan bukan hanya berisiko bagi ekosistem, tetapi juga dapat membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menyadari peran kita dalam menjaga dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang. Tindakan kita Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 dalam melindungi bumi adalah bentuk penghormatan terhadap amanah yang telah diberikan kepada kita. Seperti firman Allah yang berbunyi: a a a A AaO E ac OE a aI aE aO aO EIA eA Eac aO a aIEaOA a a Aac EOaO aC aNI aA aa a a a a a a aN a EAA AEa aEac aNI Oa aaO aIA AuTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari . perbuatan mereka, agar mereka kembali . e jalan yang bena. Ay Ar-Rum 41 Dengan demikian, manusia seharusnya mampu merefleksikan diri sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi dan mengelola lingkungan dengan bijak, agar tidak menimbulkan kerusakan pada alam semesta. Upaya ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, damai, dan nyaman bagi semua makhluk hidup yang ada di bumi. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan yang telah dilakukan di enam dusun di Desa Jeladri, terungkap bahwa pengelolaan sampah dan limbah di desa ini masih sangat Lingkungan di sekitar masih tergolong kotor dan tidak sehat, karena banyak warga yang membuang sampah sembarangan tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan. Dengan adanya masalah ini, kegiatan yang direncanakan bertujuan untuk menganalisis pola pikir masyarakat di Desa Jeladri terkait dengan kesehatan lingkungan, khususnya mengenai pengelolaan sampah dan limbah cair dari rumah tangga. Melalui analisis ini, diharapkan akan ada pemahaman yang lebih baik di kalangan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, serta dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari tindakan yang kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan Tujuan penelitian dari hasil wawancara dan survei lapangan di Desa Jeladri adalah untuk menganalisis pola pikir masyarakat terkait dengan kesehatan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah dan limbah cair dari rumah tangga. Melalui analisis pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab serta dampak negatif dari tindakan yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif Menurut Ramdhan, penelitian deskriptif berfungsi untuk menggambarkan hasil dari suatu studi dengan memberikan penjelasan yang mendetail mengenai fenomena yang sedang diteliti. Tujuan utama dari jenis penelitian ini adalah untuk memberikan deskripsi. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 penjelasan, dan validasi tentang kondisi atau situasi yang sedang diamati. Data yang digunakan dalam penelitian deskriptif biasanya bersifat faktual dan bukan sekadar opini. Sementara itu, penelitian kualitatif memiliki karakteristik deskriptif dan cenderung mengandalkan analisis data yang mendalam. Dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh melalui berbagai metode, termasuk observasi dan wawancara11. Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan melalui serangkaian wawancara mendalam dengan sejumlah informan kunci yang dipilih secara purposive sampling. Teknik purposive sampling dipilih karena peneliti ingin mendapatkan informasi yang relevan dari individu-individu yang memiliki pengetahuan atau peran langsung terkait dengan topik Total terdapat enam wawancara yang dilakukan dengan kepala dusun . di enam dusun yang ada di Desa Jeladri. Informan dipilih berdasarkan pertimbangan keterlibatan mereka dalam pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga, sehingga informasi yang diberikan memiliki relevansi langsung dengan fokus penelitian. Wawancara ini dilakukan secara langsung di lokasi masing-masing kasun untuk memahami pola perilaku masyarakat setempat. Setelah data dari wawancara dikumpulkan, proses analisis dilakukan melalui pendekatan analisis tematik. Tahapan pertama adalah transkripsi hasil wawancara, di mana seluruh percakapan dengan informan dicatat secara rinci. Langkah berikutnya adalah melakukan coding, di mana tema-tema utama yang muncul dari data diidentifikasi dan Data yang telah diorganisir kemudian dianalisis untuk menemukan pola atau kesimpulan yang mendalam mengenai perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dan Analisis dilakukan dengan pendekatan induktif, yakni menarik kesimpulan berdasarkan pola yang ditemukan dalam data lapangan tanpa menggunakan teori-teori yang telah ada sebelumnya sebagai acuan utama. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini juga menerapkan metode triangulasi. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dengan data sekunder yang relevan, seperti laporan lingkungan dari pihak berwenang dan studi-studi terdahulu tentang pengelolaan sampah di daerah serupa. Selain itu, data juga diperiksa dengan cara crosscheck kepada pihak lain di luar kasun, seperti masyarakat umum yang juga terlibat dalam pengelolaan lingkungan, untuk memverifikasi keakuratan informasi yang diberikan oleh para informan utama. Melalui proses ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih holistik dan valid mengenai situasi pengelolaan sampah dan limbah di Desa Jeladri. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jeladri, yang terletak di Kecamatan Winongan. Kabupaten Pasuruan. Proses penelitian berlangsung selama 21 hari, dimulai dari tanggal 21 Juni hingga 11 Juli 2024. Dalam penelitian ini, teknik purposive sampling digunakan untuk memilih informan kunci, yaitu kepala dusun . di enam dusun Desa Jeladri. Mereka Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 dipilih berdasarkan peran mereka yang strategis dalam pengelolaan sampah dan limbah, serta pengalaman dan aksesibilitas mereka. Kriteria pemilihan mencakup peran struktural, pengalaman di lapangan, dan ketersediaan untuk diwawancarai. Untuk membandingkan hasil wawancara, observasi langsung, dan data sekunder dari laporan Selain itu, cross-check antara kasun dan wawancara tambahan dengan warga dilakukan untuk memastikan konsistensi informasi. Semua wawancara direkam dan ditranskrip secara rinci untuk memastikan keakuratan dan mendukung analisis lebih lanjut. HASIL PENELITIAN Adapun hasil penelitian dari data wawancara kasun (Kepala Dusu. Data wawancara kasun Tabel 1. Data Pengelolan Limbah Rumah Tangga dan Limbah Cair Rumah Tangga di Desa Jeladri Dusun Nama Pengelolaan sampah Pengelolaan limbah cair Kasun rumah tangga rumah tangga Karang Ploso Bapak A Dibakar, dibuang gitu aja Ya dibuang gitu aja di lahan Beringin Bapak B Dibuang sembarang. Langsung dibuang ke tanah Watu Gede Bapak A. N Tidak ada tempat sampah Langsung jadi dibakar, dibuang di kali belakang rumahnya Tegal Poh Bapak U Dikumpulkan terus Dibuang di dekat rumah karena tanahnya kering jadi limbah cair langsung nyerap Sentono Timur Bapak S Ya dibuang ke sungai. Ya dibuang di sungai atau dibuang dekat rumah Sentono Barat Bapak M. G Dibuang sembarangan. Bikin gorong-gorong untuk peresapan limbah cair Berdasarkan data survei di lapangan . bahwasannya: . Masyarakat warga Jeladri dalam membersihkan lingkungannya dengan cara membakar sampah. Masyarakat warga Jeladri dalam membersihkan cucian dengan cara membuang limbah cucian secara sembarangan, . Masyarakat warga Jeladri dalam membuang saluran atau pipa dari kamar mandi yang mengalirkan air dan limbah cair rumah tangga langsung ke tanah atau lahan kosong yang berada di dekat rumah. PEMBAHASAN Desa Jeladri terletak di Kecamatan Winongan. Kabupaten Pasuruan, dengan ketinggian sekitar 16 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini berada di dataran dan secara administratif berbatasan dengan beberapa desa lainnya: di sebelah utara dengan Desa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 Sumberejo, di sebelah timur juga dengan Desa Sumberejo, di sebelah selatan dengan Desa Cukur Guling dari Kecamatan Lumbang, dan di sebelah barat dengan Desa Sruwi. Desa Jeladri memiliki luas wilayah sekitar 196,3 hektar, yang terdiri dari tanah ladang seluas 183,499 hektar, tanah pemukiman seluas 12,801 hektar, tanah kas desa seluas 3,5 hektar, serta tanah perkantoran yang hanya berukuran 0,25 hektar. Sumber daya air di Desa Jeladri mencakup tiga mata air yang digunakan oleh 197 kepala keluarga, delapan hidran umum yang melayani 500 kepala keluarga, serta sistem pipa sepanjang 1500 meter yang dipakai oleh 400 kepala keluarga. Sayangnya, desa ini tidak memiliki akses ke PDAM. Dari segi usaha. Desa Jeladri menunjukkan potensi yang memadai karena terdapat beberapa jenis usaha, seperti pertambangan batu dan pasir, serta usaha kecil yang dikelola oleh masyarakat, termasuk produksi keripik, mie, jajanan lokal, dan pengerjaan kayu. Namun, meskipun desa ini dinyatakan memadai dalam hal usaha. Desa Jeladri masih menghadapi sejumlah masalah yang belum terselesaikan, terutama terkait dengan pengelolaan sampah rumah tangga dan limbah cair. Dengan jumlah penduduk mencapai 305 jiwa, desa ini sangat memerlukan perhatian lebih terhadap penanganan masalah Saat ini. Desa Jeladri minim akan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang sesuai, yang mengakibatkan praktik pengolahan sampah yang tidak ramah lingkungan. Banyak warga yang membuang sampah langsung ke sungai dan selokan atau mengumpulkan sampah lalu membakarnya di lahan kosong di sekitar rumah mereka. Desa Jeladri juga dihadapkan pada beberapa isu lingkungan yang signifikan. Salah satu masalah utama yang sering dialami adalah kekeringan, terutama pada musim kemarau, yang berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih bagi penduduk. Selain itu, desa ini juga mengalami polusi udara, yang disebabkan oleh debu dan kebisingan akibat aktivitas penambangan batu. Kondisi sanitasi di Desa Jeladri juga membutuhkan perhatian serius. Kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai dan sistem pembuangan limbah yang kurang efektif berkontribusi pada masalah kesehatan lingkungan di desa ini. Sanitasi yang buruk dapat memicu penyebaran penyakit menular, seperti diare dan infeksi saluran pencernaan. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang layak sangat penting untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan kualitas hidup masyarakat di Desa Jeladri. Data wawancara kasun Berdasarkan tabel yang disajikan di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata cara masyarakat di enam dusun yang ada di Desa Jeladri dalam mengelola sampah rumah tangga adalah dengan membuangnya secara sembarangan. Sebagian besar warga juga memilih untuk mengumpulkan sampah dan kemudian membakarnya di lahan kosong. Praktik ini Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 menunjukkan kurangnya kesadaran dan fasilitas yang memadai untuk pengelolaan sampah yang lebih baik. Selain itu, pengelolaan limbah cair rumah tangga di Desa Jeladri juga menunjukkan pola yang sama. Masyarakat cenderung membuang limbah hasil dari aktivitas pencucian, seperti air sisa pencucian baju dan piring, ke lahan kosong yang berada di sekitar rumah mereka. Hal ini sering dilakukan di area belakang atau samping rumah, tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang mungkin timbul terhadap lingkungan. Tindakan ini dapat berpotensi mencemari tanah dan air, serta menimbulkan masalah kesehatan bagi warga. Secara keseluruhan, kebiasaan ini mencerminkan perlunya edukasi dan peningkatan fasilitas pengelolaan sampah dan limbah di Desa Jeladri agar lingkungan menjadi lebih bersih dan Data survei di lapangan . Gambar 1. Pembakaran sampah (Sumber: dokumentasi pribadi, 2. Gambar 2. Pembuangan limbah bekas cuci baju (Sumber: dokumentasi pribadi, 2. Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 Gambar 3. Pembuangan limbah cuci piring/mandi (Sumber: dokumentasi pribadi, 2. Gambar 1, 2, dan 3 merupakan hasil survei lapangan yang dilakukan oleh penulis di Desa Jeladri. Dari dokumentasi foto pada Gambar 1, terlihat bahwa masyarakat setempat melakukan pembakaran sampah rumah tangga sebagai upaya untuk mengurangi jumlah sampah yang ada, tanpa melalui proses pemilahan terlebih dahulu. Gambar 2 menggambarkan bahwa warga membuang limbah dari pencucian baju langsung ke lahan kosong yang terletak di samping atau belakang rumah mereka. Sementara itu. Gambar 3 menunjukkan saluran atau pipa dari kamar mandi yang mengalirkan air dan limbah cair rumah tangga langsung ke tanah atau lahan kosong yang berada di dekat rumah. Dalam hal pengelolaan sampah, masyarakat di Desa Jeladri cenderung memilih untuk membakar sampah atau membuangnya secara sembarangan. Untuk pengelolaan limbah cair, warga biasanya membuangnya ke lahan kosong di sekitar rumah. Kebiasaan ini muncul karena adanya mindset yang diwariskan turun-temurun, di mana masyarakat lebih memilih untuk membakar sampah dan membuang limbah cair sembarangan. Praktik pembakaran dianggap lebih mudah dan praktis dibandingkan harus mendirikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) atau meminta bantuan petugas kebersihan untuk mengangkut Selain itu, banyak warga yang enggan membayar iuran untuk menyewa petugas kebersihan, dan sebagian besar dari mereka memiliki lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk membakar sampah. Akibatnya, masyarakat Desa Jeladri lebih memilih membakar sampah daripada membangun TPS di area rumah mereka. Dari pihak pemerintah Kabupaten Pasuruan, prioritas saat ini lebih banyak diarahkan pada penyediaan jamban untuk setiap rumah, mengingat masih ada rumah yang belum memiliki fasilitas tersebut. Dengan fokus ini, masalah pengelolaan sampah belum dianggap sebagai isu yang mendesak di Desa Jeladri. Mengenai pengelolaan limbah cair, warga Desa Jeladri cenderung membuangnya secara langsung ke lahan kosong di sekitar rumah, baik di halaman depan, belakang, maupun samping. Kebiasaan ini telah berlangsung lama dan dianggap sebagai bagian dari Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 tradisi masyarakat. Alasan di balik tindakan ini adalah karena area-area tersebut tidak tertutup oleh aspal atau paving, yang memudahkan limbah cair untuk terserap ke dalam Selain itu, kondisi lingkungan di Desa Jeladri yang cenderung kering juga mendukung proses penyerapan limbah cair ke dalam tanah. Perilaku masyarakat dalam membuang sampah dan limbah rumah tangga secara sembarangan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk tingkat pendidikan, pendapatan, dan sikap masyarakat. Kurangnya edukasi di sekolah mengenai pengelolaan sampah menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, pendapatan masyarakat yang dianggap rendah membuat mereka kesulitan untuk membangun TPS atau membayar iuran untuk petugas kebersihan. Faktor terakhir adalah rendahnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar, yang sering kali disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kesehatan lingkungan dan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Partisipasi masyarakat di Desa Jeladri dalam pengelolaan sampah masih sangat minim, terlihat dari banyaknya orang yang membakar sampah di pinggir jalan, di sungai, atau di halaman depan dan belakang rumah. Kurangnya pemahaman mengenai dampak negatif dari pembakaran sampah terhadap lingkungan menjadi penyebab utama situasi ini. Penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang konsekuensi dari tindakan tersebut, karena jika kesadaran tidak ditingkatkan, praktik pembakaran sampah akan terus menjadi pilihan utama, yang berpotensi menyebabkan masalah serius seperti pemanasan global, kebakaran, serta pencemaran udara dan air. Limbah dari rumah tangga memiliki dampak signifikan terhadap kualitas air dan tanah di sekitar tempat pembuangan. Ketika limbah rumah tangga tidak dikelola dengan baik dan dibuang sembarangan, bahan berbahaya yang terkandung dalam limbah dapat mencemari sumber air dan tanah. Pencemaran air adalah salah satu dampak utama dari limbah yang tidak dikelola dengan benar. Limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke perairan dapat mengandung bahan kimia berbahaya, logam berat, dan zat organik yang mengotori sumber air, sehingga mengurangi kualitas air dan membahayakan kehidupan akuatik, seperti ikan, hewan air, dan mikroorganisme. Selain itu, limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah di Ketika zat-zat berbahaya meresap ke dalam tanah, hal ini dapat menurunkan kesuburan tanah dan mengganggu pertumbuhan tanaman, serta merusak mikroorganisme penting yang berperan dalam siklus nutrisi dan ekosistem tanah. Oleh karena itu, pengelolaan limbah yang baik sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat di Desa Jeladri12. Selain itu, limbah rumah tangga yang terdiri dari deterjen, produk pembersih, pestisida, dan obat-obatan yang tidak dibuang dengan cara yang benar dapat berpotensi mencemari baik air maupun tanah. Kontaminasi semacam ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 air minum, merusak ekosistem perairan, dan mengancam kehidupan berbagai organisme yang bergantung pada air tersebut. Zat-zat kimia beracun yang terakumulasi di dalam tanah dapat merembes ke dalam sumber air tanah, sehingga merusak kualitas air yang digunakan untuk irigasi pertanian dan sebagai pasokan air minum bagi masyarakat. Dampak jangka panjang dari pencemaran yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga ini bisa sangat serius. Salah satunya adalah penurunan kualitas hidup masyarakat, yang dapat terjadi akibat akses yang terbatas terhadap air bersih dan aman untuk dikonsumsi. Masalah kesehatan juga dapat muncul sebagai akibat dari paparan zat-zat berbahaya yang ada dalam air dan tanah yang terkontaminasi, berpotensi menyebabkan berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan individu dan komunitas. Di samping itu, pencemaran tanah dapat berdampak negatif terhadap hasil pertanian. Tanaman yang ditanam di tanah yang terkontaminasi dapat mengalami penurunan produktivitas, sehingga memengaruhi pendapatan petani dan merugikan ekonomi lokal secara keseluruhan. Penurunan hasil pertanian tidak hanya mengancam ketahanan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi bagi mereka yang bergantung pada pertanian sebagai sumber mata pencaharian. Dengan demikian, pengelolaan limbah rumah tangga yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mendukung keberlanjutan ekonomi13. Berdasarkan dampak yang telah disebutkan di atas, untuk mengurangi masalah sampah di Desa Jeladri dapat dilakukan dengan cara membuat TPS dan TPA. TPS berfungsi sebagai tempat penampungan sampah sementara. Adanya TPS dapat memudahkan warga untuk membuang sampah, menambah keestetikaan lingkungan sekitar dikarenakan dengan adanya TPS meminimalisir jumlah sampah yang berceceran di sekitar Langkah selanjutnya diperlukan adanya TPA dikarenakan menurut DPU . , sampah yang telah memasuki wilayah TPA melalui 4 kegiatan untuk penanganan sampah yakni: . proses pemilahan sampah, . daur ulang sampah anorganik, . pengomposan sampah organic, . perhitungan jumlah sisa hasil buangan . dari ketiga proses di atas. Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sangat penting dalam mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Di TPA, sampah-sampah yang diterima akan melalui proses pemrosesan, yang memungkinkan pengolahan sampah menjadi produk atau bahan baru yang bermanfaat. Salah satu contoh dari proses ini adalah pembuatan pupuk kompos dari limbah organik, yang tidak hanya membantu mengurangi volume sampah tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat 15. Untuk mengatasi masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh limbah cair rumah tangga, salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan membangun bak peresapan atau Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 saluran pembuangan khusus untuk air kotor. Limbah cair rumah tangga biasanya berasal dari sisa-sisa penggunaan air, seperti air sabun dari mencuci, air mandi, air pencucian piring, dan bahkan feses. Jika limbah cair ini dibuang sembarangan, dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap kesehatan lingkungan. Misalnya, jika limbah tersebut dibuang di tanah sembarangan, tanah tersebut berisiko tercemar, yang dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dan kerusakan kualitas tanah itu sendiri. Untuk mengurangi dampak buruk yang diakibatkan oleh pembuangan limbah cair, sangat penting untuk menerapkan strategi penanganan yang tepat. Salah satu cara yang efektif adalah dengan memasang sistem pembuangan yang terkelola dengan baik, misalnya melalui pembangunan bak peresapan khusus yang dirancang untuk menangani limbah cair secara efisien. Dengan demikian, risiko pencemaran tanah dapat ditekan, yang pada gilirannya membantu mempertahankan kesuburan tanah serta menjaga kelestarian lingkungan agar tetap sehat dan aman. Penanganan limbah cair yang memadai tidak hanya memberikan manfaat besar bagi keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat. Dengan mengurangi potensi kontaminasi air tanah dan tanah, risiko penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan dapat diminimalisir. Hal ini membuat kesehatan masyarakat menjadi lebih terlindungi dan terjamin dalam jangka panjang16. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku masyarakat di Desa Jeladri dalam pengelolaan sampah cenderung mengarah pada kebiasaan membakar sampah atau membuangnya secara sembarangan. Dalam hal pembuangan limbah cair, masyarakat memiliki kebiasaan membuangnya di lahan kosong yang berdekatan dengan rumah mereka. Fenomena ini terjadi karena masyarakat setempat telah mengadopsi pola pikir yang diwariskan secara turun temurun, di mana pembakaran sampah dan pembuangan limbah cair secara sembarangan dianggap sebagai praktik yang biasa. Selain itu, ada faktor lain yang mempengaruhi perilaku ini, seperti keberatan untuk membayar iuran pengelolaan sampah dan ketersediaan lahan kosong yang dapat digunakan untuk membakar sampah. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan lingkungan melalui perubahan perilaku dan pengelolaan sampah yang lebih baik. Pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan edukasi tentang dampak negatif dari praktik yang tidak sehat perlu Dengan demikian, diharapkan masyarakat Desa Jeladri dapat bertransisi menuju perilaku yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Desa. Kepala Dusun. Perangkat Desa, serta Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang telah Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang , http://jurnal. id/ojs/index. php/kesling/index Jurnal Kesehatan Lingkungan Mandiri. Volume 3 No. 1 November 2024 E-ISSN 2964-0857 memberikan dukungan moral dan finansial untuk program pengabdian masyarakat ini. Dukungan tersebut sangat berharga, karena telah memungkinkan masyarakat Desa Jeladri untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan pengabdian yang kami lakukan, dan diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi lingkungan dan kesejahteraan mereka. DAFTAR PUSTAKA