Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 ISSN (Onlin. : 2797-6424 Journal homepage: https://ejurnal. id/index. php/HealthPublica Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Kelas 7 SMPN 23 Tangerang Prita Delvia Yollanda. Laras Sitoayu. Rachmanida Nuzrina Profesi Dietisien. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Universitas Esa Unggul Jakarta Corresponding Author Email: pritadelvia842@student. ABSTRACT Article Info Anemia is a public health problem with a high prevalence in the world, especially in Submitted : 19/04/2025 In Reviewed : 13/01/2026 developing countries like Indonesia. This condition results from low hemoglobin Accepted : 27/05/2026 levels in the blood, which can cause fatigue, decreased concentration, and even Available online : 31/05/2026 impaired growth and development, especially in adolescents. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and attitudes and the incidence of anemia in adolescent girls. This is an observational cross-sectional The population is 141 people, and the sample is 58 people. Data collection used a questionnaire. Data analysis in this study was conducted using SPSS and the ChiSquare test. The results of this study indicate that knowledge and attitude variables are significantly associated with anemia among adolescent girls at SMPN 23 Tangerang . -value = 0. Based on the results, knowledge is lacking due to insufficient information about anemia, and poor attitudes stem from inattention to food intake and adherence to iron tablet use. It is hoped that students will pay more attention to their food intake and be obedient in taking iron tablets. Keywords: anemia, knowledge, attitudes, adolescent girls ABSTRAK Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya masih tinggi di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini terjadi akibat rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, yang dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga gangguan pertumbuhan dan perkembangan, khususnya pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian anemia pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah populasi yaitu 141 orang dan jumlah sampel yaitu 58 orang. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data pada penelitian ini menggunakan SPSS dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan anemia pada remaja putri di SMPN 23 Tangerang . -Value 0. Berdasarkan hasil, pengetahuan kurang karena tidak adanya informasi tentang anemia, dan sikap kurang karena tidak memperhatikan asupan makan serta ketaatan dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Diharapkan siswa lebih memperhatikan asupan makanan mereka dan patuh dalam mengonsumsi tablet tambah darah. Kata Kunci: anemia, pengetahuan, sikap, remaja putri PENDAHULUAN Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 sehingga dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, serta penurunan produktivitas, khususnya pada remaja. Menurut World Health Organization (WHO), anemia merupakan masalah kesehatan global yang banyak terjadi pada perempuan usia reproduktif dan remaja karena meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan menstruasi (WHO, 2. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja masih tergolong tinggi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi anemia pada kelompok usia 15Ae24 tahun mencapai 32% (Kemenkes RI, 2. Riskesdas Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan remaja lakilaki akibat kehilangan darah saat menstruasi, peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan, serta pola konsumsi yang kurang seimbang (Masthalina, 2. Diet yang dilakukan remaja putri sering kali mengurangi asupan zat besi, yang merupakan salah satu zat gizi penting untuk pembentukan hemoglobin. Selain faktor biologis, kejadian anemia pada remaja juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan perilaku Pengetahuan yang rendah mengenai penyebab, gejala, dampak, dan pencegahan anemia dapat menyebabkan remaja kurang memperhatikan pola makan bergizi seimbang serta menurunkan konsumsi sumber zat besi. Kebiasaan diet yang tidak sehat demi menjaga penampilan juga berkontribusi terhadap rendahnya asupan zat besi pada remaja putri sehingga meningkatkan risiko terjadinya anemia (Andriastuti et , 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan remaja putri mengenai anemia berhubungan dengan meningkatnya risiko kejadian anemia (Hasyim, 2. Pengetahuan yang kurang terkait penyebab, gejala, dan pencegahan anemia dapat menyebabkan remaja kurang memperhatikan asupan gizi dan pola makan yang sehat. Selain itu, sikap negatif terhadap konsumsi makanan bergizi seimbang dan rendahnya kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah turut meningkatkan risiko anemia pada remaja putri (Aspihani et al. , 2. Sebaliknya, penerapan pola makan sehat dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia dapat membantu menurunkan kejadian anemia pada remaja putri (Manila & Adriani. Dampak anemia tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi aspek kognitif dan akademik remaja. Remaja putri yang mengalami anemia cenderung memiliki kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan remaja dengan kadar hemoglobin normal karena suplai oksigen ke jaringan tubuh dan otak berkurang (Apriliani et al. , 2. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, mudah lelah, serta menurunnya kemampuan mengikuti proses pembelajaran di Berdasarkan survei awal yang dilakukan di Puskesmas Panunggangan. Tangerang, pada tanggal 31 Oktober 2023, prevalensi anemia pada usia 15 - 24 tahun mencapai 46. Di SMPN 23 Tangerang, dari 141 siswi kelas 7 yang diskrining, ditemukan 22 siswi mengalami anemia ringan, 19 siswi mengalami anemia sedang, dan 1 siswi mengalami anemia berat. Jumlah ini menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah yang signifikan di kalangan remaja putri. Melihat tingginya angka kejadian anemia dan pentingnya peran pengetahuan serta sikap terhadap kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 23 Tangerang. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan cross-sectional, yaitu pengukuran variabel independen dan dependen dilakukan pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 November 2023 di SMPN 23 Tangerang yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Panunggangan. Tangerang. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai anemia, sedangkan variabel dependen adalah kejadian anemia pada remaja putri. Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VII SMPN 23 Tangerang yang berjumlah 141 orang. Besar sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow dan diperoleh sebanyak 58 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling (Lemeshow et al. , 1. Pengumpulan data pengetahuan dan sikap dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur. Variabel pengetahuan diukur menggunakan 15 pertanyaan pilihan ganda tentang pengertian, penyebab, gejala, dampak, dan pencegahan anemia. Variabel sikap diukur menggunakan 10 pernyataan dengan skala Likert yang terdiri Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 dari pilihan sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Pengetahuan dikategorikan menjadi baik dan kurang, sedangkan sikap dikategorikan menjadi positif dan negatif berdasarkan skor yang diperoleh Kejadian anemia diukur berdasarkan kadar hemoglobin menggunakan alat Easy Touch Hemoglobin Meter. Responden dikategorikan mengalami anemia apabila kadar hemoglobin <12 g/dL dan tidak anemia apabila kadar hemoglobin Ou12 g/dL sesuai standar World Health Organization (WHO, 2. Sebelum digunakan, kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitas pada 20 remaja putri di luar lokasi Hasil uji validitas menunjukkan seluruh item pertanyaan memiliki nilai r hitung > r tabel, sedangkan hasil uji reliabilitas memperoleh nilai CronbachAos Alpha > 0. 60 sehingga kuesioner dinyatakan valid dan reliabel. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0. HASIL Analisis Univariat Tabel 1 menunjukkan bahwa kelompok usia remaja putri terbanyak adalah usia 11 sampai 12 tahun dengan jumlah 56 orang . 6%), sedangkan kelompok usia remaja putri paling sedikit adalah usia 13 sampai 14 tahun dengan jumlah 2 orang . 4%). Tabel 1. Frekuensi Karakteristik Kelompok Usia Remaja Putri Variabel Usia 11-12 Tahun 13-14 tahun Total Berdasarkan Tabel 2, gambaran frekuensi pengetahuan tentang anemia pada remaja putri terbanyak yaitu pengetahuan kurang, berjumlah 36 orang . 1%), sedangkan pengetahuan remaja putri yang paling sedikit yaitu pengetahuan baik, berjumlah 22 orang . 9%). Kemudian, variabel sikap menunjukkan bahwa sikap remaja putri yang terbanyak adalah sikap negatif, yaitu 36 orang . 1%), sedangkan sikap remaja putri yang paling sedikit adalah sikap positif, yaitu 22 orang . 9%). Selanjutnya, kejadian anemia pada remaja putri terbanyak yaitu 41 orang . 7%), sedangkan kejadian remaja putri yang tidak anemia sedikit yaitu 17 orang . 3%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Variabel Pengetahuan Baik Kurang Sikap Positif Negatif Kejadian Anemia Tidak Anemia Anemia Analisis Bivariat Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 58 remaja putri, diketahui remaja putri yang mempunyai pengetahuan kurang cenderung menderita anemia yang tinggi, yaitu berjumlah 36 orang . 1%), dan sebaliknya, remaja putri yang mempunyai pengetahuan baik cenderung tidak menderita anemia yang rendah, yaitu berjumlah 17 orang . 3%). Hasil analisis hubungan antara pengetahuan dan kejadian anemia pada remaja putri kelas 7 SMPN 23 Tangerang dengan uji chi-square menunjukkan nilai p-Value = 0. 0001 ( < 0. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan remaja putri kelas 7 SMPN 23 Tangerang dan kejadian anemia. Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 Kemudian, dari variabel sikap diketahui bahwa remaja putri memiliki sikap negatif cenderung anemia yang tinggi, yaitu berjumlah 36 orang . ,1%), dan sebaliknya, remaja putri yang memiliki sikap positif cenderung tidak anemia yang rendah, yaitu berjumlah 17 orang . ,3%). Hasil analisis hubungan antara sikap dan kejadian anemia pada remaja putri kelas 7 SMPN 23 Tangerang dengan uji chi-square menunjukkan nilai p-Value = 0. 0001 ( < 0. , sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara sikap remaja putri kelas 7 SMPN 23 Tangerang dan kejadian anemia. Tabel 3. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Anemia Remaja Putri Anemia Tidak Anemia Total P- Value Variabel Pengetahuan Remaja Putri Kurang 0,0001 Baik Total Sikap Remaja Putri Negatif Positif 0,0001 Total PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kejadian anemia pada remaja putri kelas VII di SMPN 23 Tangerang. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 58 responden, sebagian besar remaja putri berada pada kelompok usia 11 - 12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai anemia . 1%) serta sikap negatif terhadap upaya pencegahan anemia . 1%). Selain itu, sebanyak 41 responden . 7%) diketahui mengalami Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku kesehatan seseorang, termasuk dalam pencegahan anemia. Remaja yang memiliki pengetahuan yang baik cenderung lebih mampu menerapkan pola makan bergizi seimbang, mengonsumsi makanan sumber zat besi, serta memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan mengenai anemia dapat menyebabkan remaja tidak memahami pentingnya asupan zat besi dan pencegahan anemia sejak dini. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Izdihar et al. yang menyatakan bahwa pengetahuan yang baik berhubungan dengan perilaku pencegahan anemia yang lebih positif pada remaja putri. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya anemia karena remaja kurang memahami sumber makanan kaya zat besi, gejala anemia, serta dampaknya terhadap kesehatan (Hasyim. Aspihani et al. , 2. Berdasarkan hasil kuesioner, masih banyak responden yang belum memahami pengertian anemia secara tepat serta belum mengetahui jenis makanan yang dapat membantu mencegah anemia. Sebagian besar remaja belum memahami bahwa makanan seperti daging merah, hati, ikan, telur, sayuran hijau, dan kacang-kacangan merupakan sumber zat besi yang penting untuk pembentukan hemoglobin. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai gizi seimbang dan anemia masih perlu ditingkatkan. Menurut World Health Organization (WHO) . , remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia karena kebutuhan zat besi meningkat selama masa pertumbuhan dan menstruasi. Oleh karena itu, pemenuhan asupan zat besi dan edukasi gizi menjadi komponen penting dalam pencegahan anemia pada remaja. Selain pengetahuan, sikap juga berperan dalam membentuk perilaku kesehatan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan anemia. Sikap negatif tersebut terlihat dari rendahnya perhatian terhadap gejala anemia, seperti pusing, lemas, dan mudah lelah, serta kurangnya kesadaran akan dampak jangka panjang anemia terhadap kesehatan reproduksi dan kehamilan di masa mendatang. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Situmeang et al. yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap dan kejadian anemia pada remaja putri . < Penelitian Rahmawaty dan Sulistyoningtyas . juga menyebutkan bahwa remaja dengan sikap Health Publica : Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 7 No. 01 / Mei, 2026 positif terhadap konsumsi makanan bergizi dan tablet tambah darah memiliki risiko anemia yang lebih rendah dibandingkan remaja dengan sikap negatif. Tingginya angka kejadian anemia pada penelitian ini menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup serius pada remaja putri. Kondisi anemia pada remaja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, produktivitas, serta prestasi akademik. Jika tidak ditangani, anemia pada remaja putri juga dapat meningkatkan risiko komplikasi saat kehamilan di masa depan, seperti bayi dengan berat lahir rendah dan stunting (WHO, 2. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa pendidikan gizi, penyuluhan kesehatan, serta program suplementasi tablet tambah darah secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap positif, dan mencegah anemia sejak dini pada remaja putri. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja putri kelas 7 di SMPN 23 Tangerang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang . ,1%) dan sikap negatif . ,1%) terhadap pencegahan anemia, yang berkontribusi terhadap tingginya prevalensi anemia . ,7%). Uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan kejadian anemia . -value = 0,. , di mana remaja dengan pengetahuan kurang dan sikap negatif lebih rentan mengalami anemia. Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya yang mengaitkan pengetahuan dan sikap terhadap kejadian anemia, meskipun ditemukan perbedaan dengan penelitian lain yang melaporkan sikap yang lebih positif terhadap pencegahan anemia. DAFTAR PUSTAKA