Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Paradoks Standardisasi Akademik dalam Pendidikan Vokasi: Analisis Kritis Kebijakan TKA Melalui Studi Dokumen Permendikdasmen No. 9/2025 Yudhi Hertanto1* & Hendro Prasetyono2 Pascasarjana Ilmu Pendidikan. Universitas Indraprasta PGRI. Indonesia E-mail: yudhihertanto@gmail. com1*, hendro_prasetyono@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-21 Revised : 2025-11-28 Accepted : 2025-11-29 KEYWORDS Academic Standardization. Vocational Education. Academic Ability Test. Vocational High Schools. Educational Policy Analysis KATA KUNCI Standardisasi Akademik. Pendidikan Vokasi. Tes Kemampuan Akademik. Sekolah Menengah Kejuruan. Analisis Kebijakan Pendidikan. ABSTRACT This article examines the paradox of academic standardization in vocational education through a critical analysis of Permendikdasmen No. 9/2025 on the Academic Ability Test (TKA) for vocational high school (SMK) students. The policy positions cognitive ability as the primary instrument for selection and evaluation, whereas vocational education philosophically emphasizes practical competence, technical skills, and industry-based work experience. This study employs a qualitative approach using document analysis, regulatory review, and comparative literature on vocational education, authentic assessment, and washback effect theory. The findings indicate a misalignment between the characteristics of the TKA and the needs of the SMK ecosystem. Emphasis on cognitive testing may shift learning orientation, marginalize vocational competencies, and generate negative washback on teaching strategies and learning processes. The uniform application of TKA also risks narrowing the goals of vocational education, which should ideally respond to labor market The study concludes that academic standardization must be formulated more contextually by positioning competency-based assessment as the primary instrument and the TKA as a proportional complement. A policy reorientation is required to ensure that vocational education remains relevant, adaptive, and capable of producing graduates who meet industry needs. ABSTRAK Artikel ini mengkaji paradoks standardisasi akademik dalam pendidikan vokasi melalui analisis kritis terhadap Permendikdasmen No. 9/2025 tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa SMK. Kebijakan tersebut menempatkan kemampuan kognitif sebagai instrumen seleksi dan evaluasi utama, sementara pendidikan vokasi secara filosofis menekankan kompetensi praktik, keterampilan teknis, dan pengalaman kerja berbasis industri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis dokumen, kajian regulasi, dan komparasi literatur terkait pendidikan vokasi, asesmen autentik, dan teori washback effect. Temuan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara karakteristik TKA dan kebutuhan ekosistem SMK, di mana penekanan pada tes kognitif berpotensi menggeser orientasi pembelajaran, meminggirkan kompetensi vokasional, serta memunculkan dampak balik negatif terhadap strategi pengajaran dan proses belajar. Penerapan TKA secara seragam juga menimbulkan risiko penyempitan tujuan pendidikan vokasi yang idealnya responsif terhadap kebutuhan dunia kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa standardisasi akademik harus dirumuskan secara lebih kontekstual, dengan 268 | JPI. Vol. No. November 2025 menempatkan asesmen berbasis kompetensi sebagai instrumen utama dan TKA sebagai pelengkap yang proporsional. Reorientasi kebijakan diperlukan agar pendidikan vokasi tetap relevan, adaptif, dan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan industri. Penelitian ini perspektif baru dalam merumuskan asesmen vokasional berbasis kompetensi. Pendahuluan Pendidikan vokasi pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pilar strategis pembangunan sumber daya manusia nasional yang dirancang untuk membekali peserta didik dengan kompetensi kerja spesifik dan siap pakai (Oroh, 2. Namun, hingga kini dunia usaha dan dunia industri (DUDI) masih mengeluhkan adanya skills gap dan relevance gap, khususnya terkait kesiapan lulusan dalam aspek hardskills maupun softskills. Berbagai studi bahkan menunjukkan ironi kualitas lulusan, misalnya pada bidang akuntansi, di mana sebagian besar lulusan SMK justru ditempatkan sebagai kasir, yang mengindikasikan rendahnya tingkat kepercayaan industri terhadap kompetensi inti mereka (Ariana Hidayati et al. , 2. Kondisi ini mendorong pemerintah meluncurkan berbagai skema penguatan kebijakan, seperti Revitalisasi SMK (DPR RI, 2020. Widyaningrum, 2. dan pendekatan Link and Match 8 i (Astuti et al. , 2. , yang menekankan peningkatan relevansi kurikulum dan keterampilan praktis sesuai kebutuhan industri (Suparyati & Habsya, 2. Namun, di tengah komitmen revitalisasi yang berorientasi pada spesialisasi keterampilan praktis tersebut, muncul sebuah tegangan kebijakan baru. Terbitnya Permendikdasmen No. 9 Tahun 2025 tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 28 Mei Permendikbudristek No. 31 Tahun 2023 tentang Uji Kesetaraan, menandai perubahan filosofis penting dalam pendekatan evaluasi nasional. Pergeseran dari Uji Kesetaraan yang bersifat opsional pada jalur nonformal menuju TKA yang bersifat terstandar dan wajib bagi siswa kelas XII SMK memperlihatkan orientasi baru pemerintah pada standardisasi mutu berbasis metrik akademik. TKA dirancang untuk memetakan capaian akademik dan mutu satuan akademiknya memunculkan pertanyaan mendasar pendidikan vokasi. Kondisi ini melahirkan paradoks krusial: bagaimana TKA, sebagai instrumen berorientasi akademik, dapat mengukur mutu pendidikan vokasi yang tujuan akhirnya adalah kompetensi kerja praktis (Oroh, 2. ? Paradoks ini memerlukan kajian kritis yang menelaah tidak hanya aspek kebijakan, tetapi juga implikasi pedagogis, kurikuler, dan filosofis terhadap ekosistem SMK. Analisis terhadap isu tersebut merujuk pada tiga kerangka teoretis utama. Pertama, filosofi pendidikan vokasi (Muslim, 2022. Thomson, 1. yang membedakan secara fundamental antara knowing how pengetahuan prosedural dan praktik dengan knowing that, pengetahuan deklaratif yang menjadi ciri pendidikan akademik. Konsekuensi filosofisnya adalah bahwa asesmen vokasi seharusnya berbasis asesmen autentik seperti proyek, portofolio, dan produk, yang mampu mengukur performa dalam konteks nyata, bukan tes tertulis yang cenderung gagal mencerminkan keterampilan riil peserta didik (Ningsih, 2. Kedua, teori Washback Effect (Wen & Chano. Suryanto, 2. yang menegaskan bahwa tes berisiko tinggi . igh-stakes tes. seperti TKA tidak pernah netral dan hampir selalu memengaruhi praktik pembelajaran. Pengalaman Ujian Nasional (UN) memberikan bukti kuat mengenai negative washback, ketika guru terdorong untuk teaching to the test, sehingga fokus pembelajaran bergeser dari pengembangan kompetensi utuh ke strategi mengerjakan soal (Hakim & Saputra, 2. Pola ini berpotensi besar terulang pada SMK apabila TKA diperlakukan sebagai tolok ukur utama. Ketiga, konsep validitas prediktif yang menilai apakah sebuah tes dapat memprediksi keberhasilan di masa depan. Studi empiris di Indonesia (Arif et al. menunjukkan bahwa skor tes akademik seperti Matematika dan Bahasa Inggris memiliki korelasi yang sangat lemah bahkan tidak signifikan terhadap capaian akademik di perguruan tinggi vokasi. Sebaliknya, faktor non-akademik seperti kreativitas dan kemampuan sosial justru memiliki pengaruh lebih kuat. Temuan ini memberikan tantangan serius terhadap asumsi bahwa TKA merupakan alat ukur yang valid untuk menilai mutu satuan pendidikan Bertolak dari paradoks tersebut, penelitian ini difokuskan pada tiga pertanyaan utama sebagai rumusan masalahnya: Bagaimana Permendikdasmen No. 9 Tahun 2025 memposisikan TKA dalam kerangka filosofi pendidikan vokasi, serta bagaimana potensi Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 269 revitalisasi SMK. Apa potensi washback effect TKA terhadap kurikulum, pedagogi, dan praktik asesmen autentik di SMK. Sejauh mana TKA mampu menjawab atau justru mengabaikan tantangan relevansi DUDI, ditinjau dari perspektif validitas prediktif. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini menawarkan kerangka analitis berbasis CIPP untuk mengevaluasi implikasi kebijakan TKA terhadap pendidikan vokasi. Tinjauan Literature Pendidikan Vokasi Tantangan Revitalisasi SMK Pendidikan vokasi memiliki mandat strategis untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi kerja spesifik yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Berbagai literatur menunjukkan bahwa relevansi antara pendidikan SMK dan kebutuhan industri masih menghadapi tantangan fundamental. Oroh . menegaskan bahwa skills gap dan relevance gap menjadi masalah kronis, terutama pada sektor jasa konstruksi dan sektor lain yang membutuhkan tenaga kerja terampil. Temuan empiris lainnya menunjukkan bahwa ketidaksesuaian kompetensi lulusan SMK masih cukup tinggi. misalnya Ariana Hidayati et al. menemukan bahwa lulusan jurusan akuntansi justru banyak ditempatkan sebagai kasir, yang mengindikasikan rendahnya kepercayaan industri terhadap kompetensi teknis mereka. Berbagai studi menyoroti bahwa revitalisasi SMK merupakan agenda strategis negara dalam menjawab krisis relevansi tersebut. Laporan Pusat Penelitian DPR RI . mengemukakan bahwa revitalisasi SMK harus dilakukan melalui integrasi kurikulum yang lebih adaptif, penyelarasan sarana prasarana, serta peningkatan kualitas guru produktif. Implementasi konsep Link and Match 8 i (Astuti. Dami, & Dacholfany, 2. juga dipandang sebagai pijakan penting untuk menghadirkan kesesuaian antara dunia pendidikan dan industri melalui kurikulum bersama, pelibatan industri, peningkatan pembelajaran berbasis proyek, dan sertifikasi Dalam konteks era digital. Ubihatun et al. menegaskan bahwa tantangan pendidikan vokasi tidak hanya terletak pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada kemampuan adaptif seperti literasi digital, komunikasi, dan kolaborasi. Sementara Suparyati & Habsya . menekankan bahwa daya saing lulusan SMK ditentukan oleh kombinasi antara kompetensi teknis dan soft skills yang memungkinkan lulusan beradaptasi dengan pasar kerja global. Namun demikian. Dendi Agustian et al. menemukan bahwa penyerapan lulusan SMK di industri masih rendah karena kualitas kurikulum yang belum responsif, lemahnya hubungan industri, dan keterbatasan fasilitas praktik. Di tengah upaya penguatan pendidikan vokasi tersebut, pemerintah kemudian menerapkan kebijakan baru berupa Permendikdasmen No. Tahun 2025 tentang Tes Kemampuan Akademik (TKA). Menurut GuruInovatif. TKA digagas sebagai standar nasional baru untuk mengukur kemampuan akademik, termasuk bagi siswa SMK. Regulasi ini juga mencabut Permendikbudristek No. 31 Tahun 2023 tentang Uji Kesetaraan (Kemendikbudristek, 2. , sehingga menandai pergeseran paradigmatik dari asesmen nonformal opsional menjadi asesmen akademik Implementasi TKA ini menimbulkan perdebatan luas dan bahkan menuai protes publik sebagaimana dilaporkan Tempo. , karena dianggap tidak sejalan dengan karakteristik pendidikan vokasi yang menekankan knowing how dibandingkan knowing that (Thomson, 1973. Utomo. Asesmen Autentik. Validitas, dan Debat Akademik tentang TKA Literatur pendidikan vokasi menunjukkan bahwa fundamental dalam menilai kompetensi peserta didik. Gulikers. Bastiaens, & Kirschner . 0, dikutip dalam Peneliti JIPMAT, 2. menjelaskan bahwa asesmen autentik mampu mengukur performa nyata dalam konteks kerja, sehingga lebih tepat untuk pendidikan berbasis keterampilan seperti SMK. Ningsih . mempertegas bahwa asesmen memungkinkan siswa menunjukkan keterampilan prosedural dan problem-solving yang relevan dengan kebutuhan industri. Namun, penerapan TKA sebagai tes akademik berbasis pilihan ganda menimbulkan perdebatan serius terkait validitasnya dalam konteks SMK. Zahara . mengingatkan bahwa tes potensi atau kemampuan akademik umumnya dirancang untuk mengukur kemampuan umum seperti verbal, numerik, atau logis, bukan kemampuan vokasional. Hal ini sejalan dengan temuan Susilo & NurAoaini . bahwa tes potensi akademik hanya berkorelasi dengan prestasi kognitif, tetapi tidak Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 270 | JPI. Vol. No. November 2025 berhubungan dengan keterampilan praktik. Bahkan Arif. Kurniawan, & Widhiarta . dalam tinjauan sistematisnya menegaskan bahwa employability lulusan SMK lebih ditentukan oleh kualitas pembelajaran praktik, pengalaman industri, dan pembinaan karir, dibandingkan skor tes akademik. Lestari & Fadhilah . serta Lilik Masamah et al. juga menunjukkan bahwa pengembangan portofolio dan asesmen berbasis proyek jauh lebih efektif dalam mengevaluasi kemampuan siswa SMK, terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan demonstrasi praktik seperti matematika terapan dan matematika Sejumlah studi berbasis evaluasi kurikulum menggunakan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. misalnya Isnaeni et al. Jurnal Pendidikan Vokasi . Mulyadi et . , dan Shofiyani & Salomo . menunjukkan bahwa keberhasilan program vokasional sangat dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran, kesiapan input, dan keterlibatan Oleh karena itu, asesmen yang bersifat tekstual dan tidak mengukur performa cenderung tidak mencerminkan mutu pendidikan vokasi. Dalam perspektif kebijakan publik. Dunn . mempertimbangkan karakteristik sistem dan konteks implementasi berpotensi menciptakan policy failure. Jika TKA diberlakukan tanpa mempertimbangkan karakter vokasi, maka terdapat risiko kontradiksi antara tujuan standardisasi akademik dan tujuan revitalisasi SMK yang berorientasi pada kompetensi Guba & Lincoln . bahkan menekankan pentingnya evaluasi emansipatoris agar kebijakan tidak menekan kelompok tertentu, termasuk siswa vokasi yang memiliki karakteristik belajar berbeda dari siswa jalur akademik. Washback Effect dan Dampaknya terhadap Ekosistem Pembelajaran SMK Konsep washback effect merupakan perspektif penting dalam menganalisis dampak TKA terhadap pembelajaran di SMK. Alderson & Wall . 0, dikutip dalam Suryanto, 2. menjelaskan bahwa tes berisiko tinggi . igh-stakes tes. selalu menimbulkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap perilaku guru dan siswa. Studi empiris di Indonesia menunjukkan bukti nyata bahwa Ujian Nasional (UN) menciptakan negative washback berupa praktik teaching to the test. Penelitian Hakim & Saputra . dan Sukyadi & Mardiani . menunjukkan bahwa guru cenderung memfokuskan pembelajaran pada materi yang keluar dalam tes, mengabaikan kompetensi holistik yang lebih penting bagi perkembangan siswa. Fenomena ini diprediksi juga berpotensi terjadi pada pemberlakuan TKA bagi siswa SMK. Suryanto . menemukan bahwa bahkan tes kemajuan berisiko rendah sekalipun dapat mengubah cara siswa belajar, menyebabkan mereka fokus pada strategi menjawab soal dibandingkan mempelajari keterampilan substantif. Dengan posisi TKA sebagai evaluasi nasional, risiko negative washback semakin besar, terutama apabila sekolah merasa dituntut menunjukkan capaian akademik tertentu agar dianggap berkinerja baik. Dari sudut pandang evaluasi program pendidikan, model CIPP (Stufflebea. yang dijelaskan oleh Sufyan & Hariyati . dan Prasetyo . memberikan kerangka analitis bahwa perubahan asesmen akan memengaruhi konteks, input, proses, dan produk pendidikan. Jika TKA diterapkan tanpa penyesuaian, maka proses pembelajaran di SMK dapat bergeser dari praktik kerja nyata menuju persiapan tes akademik, sehingga melemahkan teaching factory, project-based learning, dan model praktik industri yang selama ini menjadi inti pendidikan vokasi. Penerapan TKA juga menimbulkan implikasi Tempo. melaporkan munculnya petisi dan protes publik di beberapa provinsi karena TKA dianggap membebani siswa SMK yang memiliki karakteristik pembelajaran berbeda dari siswa SMA. Secara konseptual, kebijakan yang tidak memperhatikan stakeholder values berpotensi memicu resistensi, sebagaimana ditegaskan oleh Dunn . Selain itu. PUSMENDIK . mencatat bahwa pelaksanaan TKA dilakukan serentak secara nasional, yang menambah tekanan psikologis bagi siswa dan satuan pendidikan. Dengan demikian, penerapan TKA pada jalur vokasi berpotensi menciptakan ketidaksesuaian filosofis, menurunkan kualitas asesmen autentik, serta memicu negative washback yang dapat mengganggu ekosistem pembelajaran SMK. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis (Sugiyono, 2. , yang bertujuan memahami secara mendalam fenomena kebijakan dan implikasinya dalam konteks spesifik (Creswell, 2. Metode pengumpulan data primer adalah studi dokumen, melalui analisis isi . ontent analysi. terhadap dokumen kebijakan inti (Permendikdasmen No. Tahun 2025 dan Permendikbudristek No. 31 Tahun Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 271 Data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur sistematis terhadap buku referensi (Dunn. Sugiyono, 2. , maupun berbagai jurnal ilmiah dan dokumen pendukung lain yang Analisis data dilakukan secara interpretatif . nterpretative analysi. 1 untuk memahami makna dan potensi dampak kebijakan. Untuk membedah kebijakan secara sistematis, penelitian ini mengadopsi kerangka evaluasi program CIPP (Context. Input. Process. Produc. (Isnaeni et al. Prasetyo, 2. , sebuah model komprehensif yang banyak digunakan dalam evaluasi pendidikan, termasuk teaching factory di SMK dan program pelatihan vokasi (Shofiyani & Salomo, 2. Batasan . penelitian ini adalah fokus pada analisis kebijakan dan potensi dampak . nticipated washbac. , bukan dampak empiris implementatif, mengingat regulasi ini baru Analisis dibatasi eksklusif pada implikasi TKA untuk jenjang SMK. Hasil dan Pembahasan Analisis CIPP mengungkap adanya pertentangan paradigmatik antara filosofi asesmen vokasi yang autentik dengan asesmen akademik terstandar yang diusung TKA, sebagaimana dirangkum dalam Tabel Tabel 1. Perbandingan Paradigmatik: Asesmen Autentik Vokasi vs. Asesmen Akademik Terstandar (TKA) Dimensi Asesmen Autentik Vokasi Tujuan Filosofis Mengukur knowing how . emampuan bekerja/kinerj. (Muslim, 2022. Thomson, 1. Fokus Penilaian Kompetensi terapan, proses, produk, dan softskills . erja sama, berpikir Proyek, portofolio, studi kasus, penilaian berbasis produk, presentasi (Ningsih, 2. Bentuk Instrumen Konteks Penilaian Kontekstual, relevan dengan Asesmen Akademik Terstandar (TKA) Mengukur knowing that . apaian akademik/penget (Permendikdasm en 9/2. Pengetahuan kognitif, literasi Tes tertulis . emungkinan besar Pilihan Gand. Dekontekstual, abstrak, seragam Hasil yang Diharapkan Validitas (Konteks Vokas. dunia kerja (DUDI) (Peneliti JIPMAT. Lulusan kompeten, relevan, dan siap kerja (Oroh, 2. Validitas isi dan relevansi tinggi untuk DUDI secara nasional (GuruInovatif. Lulusan dengan skor TKA tinggi, pemetaan mutu (Permendikdasm en 9/2. Validitas prediktif rendah untuk kesuksesan vokasi (Arif et , 2. Analisis Konteks (Contex. : Miskonsepsi Mutu Pendidikan Vokasi Permen 9/2025 didasarkan pada kebutuhan akan "pemetaan mutu" melalui "penilaian akademik Analisis konteks dalam penelitian ini menemukan adanya miskonsepsi fundamental. Masalah mutu utama SMK bukanlah rendahnya nilai kompetensi dengan DUDI (Ariyana Hidayati et al. Dendi Agustian et all, 2. TKA, dengan demikian, adalah instrumen yang mengukur apa yang mudah diukur dalam pengetahuan akademik secara massal, namun mengabaikan apa yang penting untuk diukur yakni kompetensi vokasi dan relevansi industri (Lilik Masamah, et all, 2. TKA berisiko menjadi distraksi kebijakan yang mengumpulkan data yang salah tentang mutu SMK. Analisis Masukan (Inpu. Gesekan Implementasi Evaluasi input mengkaji kesiapan sistem. Implementasi TKA di SMK menghadapi tiga gesekan utama. Pertama, gesekan logistik, di mana jadwal TKA pada November 2025, berpotensi besar bentrok dengan agenda Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang merupakan inti pembelajaran vokasi. Meskipun ada klaim PKL "tak jadi kendala", hal ini menunjukkan adanya friksi nyata. Pihak SMK menyesuaikan diri dengan agenda TKA. Kedua, gesekan sosial, di mana kebijakan TKA berpotensi menuai protes, petisi, dan pos pengaduan, mengindikasikan rapuhnya dukungan pemangku Ternasuk kemungkinan upaya kecurangan dapat terjadi dalam TKA. Ketiga, gesekan sumber daya, di mana pelatihan guru akan terdislokasi dari peningkatan kompetensi praktik DUDI menjadi strategi sukses TKA. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 272 | JPI. Vol. No. November 2025 Analisis Proses (Proces. : Risiko Negative Washback pada Pedagogi SMK Analisis proses adalah inti kritik. TKA, sebagai instrumen high-stakes untuk pemetaan mutu, hampir pasti akan memicu negative washback (Wen & Chano, 2. Berdasarkan preseden historis UN (Hakim & Saputra, 2020. Sukyadi & Mardiani, 2. , guru SMK memiliki tendensi tertekan untuk "mengajar demi tes" . eaching to the tes. Waktu esensial untuk asesmen autentik . royek, bengkel, portofoli. akan tergerus oleh latihan . soal TKA. Konsekuensi yang bisa jadi tidak terhindarkan adalah kurikulum akan menyempit, mengorbankan kompetensi praktis dan softskills demi skor Ironisnya, proses ini secara langsung menyabotase tujuan program link and match dan revitalisasi SMK. Analisis Produk (Produc. : Validitas Prediktif yang Rendah Evaluasi produk mengkaji lulusan yang Sistem SMK yang prosesnya didorong oleh TKA akan menghasilkan lulusan yang . memiliki skor akademik tinggi, namun merupakan produk yang tidak valid bagi pasar kerja Studi oleh Arif et al. telah membuktikan bahwa TKA dalam upaya mengukur kemampuan akademik adalah prediktor yang buruk untuk kesuksesan di jalur vokasi. DUDI tidak membutuhkan lulusan dengan skor tes akademik tinggi, melainkan lulusan dengan hardskills terapan dan softskills seperti kreativitas, social dua hal yang tidak termuat dalam ukuran TKA. Kebijakan TKA (Permen 9/2. diprediksi akan memperlebar, bukan menutup, "kesenjangan relevansi" lulusan SMK dengan DUDI. Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Permendikdasmen No. 9/2025 menciptakan paradoks mendasar dalam konteks pendidikan Sebagai kebijakan standardisasi akademik. TKA mengedepankan logika seleksi berbasis kemampuan kognitif umum yang tidak sepenuhnya selaras dengan karakteristik, tujuan, dan epistemologi jalur vokasi yang menekankan keterampilan praktik, demonstrasi kompetensi, dan pembelajaran berbasis industri. Kebijakan ini menghasilkan ketegangan antara kebutuhan akan penyetaraan mutu akademik dengan mandat pendidikan vokasi untuk menghasilkan lulusan yang adaptif, terampil, dan memenuhi kebutuhan pasar Hasil analisis menunjukkan bahwa dominasi penilaian kognitif cenderung memarginalkan asesmen autentik, menggeser orientasi pembelajaran guru, dan memunculkan efek balik . ashback effec. yang tidak menguntungkan ekosistem SMK. Di sisi lain, temuan penelitian ini menegaskan perlunya pendekatan kebijakan yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berbasis ekosistem dalam merancang instrumen seleksi di jenjang Standardisasi akademik tidak dapat mempertimbangkan diferensiasi jalur pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi kebijakan asesmen yang menempatkan kompetensi vokasional, keterampilan teknis, serta karakter kerja sebagai indikator utama, sementara kemampuan akademik umum tetap diintegrasikan secara proporsional dan Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat terhindar dari distorsi tujuan, tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, dan mampu membangun ekosistem pembelajaran yang lebih produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Referensi