JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 PERSEPSI GURU SMA TERHADAP ISU PENGADAAN UJIAN NASIONAL Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang1. Adit Trinaldi2. Sophia Rahmawati3. Wahdaniah4. Lusia Oktri Wini5 Universitas Jambi1, 3, 4, 5. SMA Negeri 6 Batanghari Jambi2 Jalan Jambi-Muara Bulian No. KM. 15 Mendalo Darat Jambi1, 3, 4, 5 Jalan Orang Kayo Hitam Ps. Baru Muara Bulian. Kabupaten Batang Hari. Jambi2 Sur-el Korespondensi: sitienik@unja. id1, adit. trinaldi33@guru. rahmawati89@unja. id3, wahdanianurrahmayani@unja. id4, lusiaoktri@unja. Article info ABSTRACT Article history: Received: 05-02-2025 Revised : 20-02-2025 Accepted: 21-04-2025 This research aims to describe high school teachers' perceptions of the issue of administering the National Examination. The research method uses a qualitative research type with a phenomenological approach. Research data were obtained through observation and interviews related to the National Examination Research participants used purposive sampling consisting of nine high school teachers in various generations, namely generation x, generation y, and generation z in Batanghari Regency. The validity of the data used is source triangulation through Miles and Huberman's theory. The results of the study indicate that high school teachers of generations X. Y, and Z in Batanghari Regency agree to hold the National Examination by reviewing student graduation indicators, using technology in its implementation, and can improve learning motivation and student character. Keywords: Teacher Perception. Independent Curriculum, 2025 National Examination ABSTRAK Kata Kunci: Persepsi Guru. Kurikulum Merdeka. Ujian Nasional 2025 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan presepsi guru SMA terhadap isu pengadaan Ujian Nasional. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara terkait fenomena Ujian Nasional. Partisipan penelitian menggunakan purposive sampling yang terdiri dari sembilan orang guru SMA pada berbagai generasi yakni generasi x, generasi y, dan generasi z di Kabupaten Batanghari. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber melalui teori Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru SMA generasi X. Y, dan Z di Kabupaten Batanghari setuju diadakannya Ujian Nasional dengan mengkaji kembali indikator kelulusan siswa ,menggunakan teknologi dalam pelaksanaanya, dan dapat meningkatkan motivasi belajar serta karakter siswa. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Darma. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peranan penting sebagai pondasi keberlangsungan hidup manusia. Pendidikan memiliki tujuan mengembangkan potensi, mencerdaskan manusia, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa yang akan datang. Kunci kesuksesan dari pendidikan dapat terlihat dalam proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa di sekolah. Setelah melewati proses pembelajaran kemampuan siswa dapat diukur melalui tes (Yasa & Indrayani, 2. Sebelum pademi Covid-19 masuk ke Indonesia. Ujian Nasional (UN) menjadi indikator penilai kelulusan siswa. Ujian Nasional berfokus mengevaluasi pembelajaran siswa secara individu dan menjadi tolak ukur untuk menguji nilai pengetahuan siswa secara nasional. Ujian nasional juga bertujuan meningkatkan kualitas guru dalam mengajar, menyelesaikan kesulitan belajar siswa, memperbaiki metode pembelajaran, memotivasi siswa untuk belajar, meningkatkan perhatian dan pengawasan orang tua terhadap perkembangan belajar anak (Adlim , dkk. , 2. Setelah pandemi berlangsung. Ujian Nasional (UN) digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Mulai 2021, pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) telah menggunakan hasil tes berupa Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Survei Karakter (SK), dan Survei Lingkungan Belajar untuk mengukur kompetensi literasi membaca, numerasi peserta didik, sikap, nilai, keyakinan, kebiasaan, kualitas akses input, dan proses pembelajaran baik di kelas maupun di sekolah. Penerapan Asesmen pada jenjang SMA menggunakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) menjadi acuan baru bagi sekolah untuk melihat perkembangan karakter dan kompetensi siswa (Kencana, dkk. Terdapat evaluasi krusial terhadap penerapan ANBK di sekolah yakni kesiapan sekolah memfasilitasi ujian menggunakan teknologi, sosialisasi menyeluruh terkait rapor pendidikan, pengambilan sampel ANBK yang sesuai dengan indikator, penilaian ANBK tidak menilai kepribadian siswa, dan kebijakan ANBK terhadap kesesuaian kurikulum dengan materi ANBK (Nasikhah. R & Sumarsono. B, 2. Penerapan ANBK memicu timbulnya permasalahan motivasi belajar siswa yang menurun karena siswa tidak tertantang untuk belajar lebih giat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa pelaksanaan ANBK telah menurunkan semangat belajar siswa dikarenakan asesmen nasional bukan menjadi syarat kelulusan siswa tetapi untuk memetakan satuan pendidikan. Hal tersebut menyebabkan siswa tidak memiliki target untuk bisa lulus jenjang SMA (Riska , dkk. , 2. Adanya Ujian Nasional yang akan dilaksanakan kembali di tahun 2025 pada jenjang SMA/SMK membawa dampak baik untuk memotivasi siswa dalam belajar dan memiliki karakter akhlak yang baik dengan menghormati guru. Ujian nasional dapat meningkatnya motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru, semakin baiknya sistem manajemen sekolah, dan berkembangnya model atau pola pembelajaran di berbagai sekolah atau pusat sumber belajar lainnya di masyarakat (Siskandar, 2. Karena itu. UN dianggap sebagai bentuk evaluasi sistem pembelajaran yang tepat dalam rangka mendorong perbaikan kualitas masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Menurut (Sujanto, 2. pendekatan pembelajaran saat ini tidak sesuai dengan psikologis siswa. Pendapat ini menguatkan jika harus ada upaya untuk memperbaiki meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pada siswa yaitu dengan melihat berbagai persepsi guru mengenai Ujian Nasional. Oleh karena itu penting diadakan penelitian mengenai persepsi guru terhadap pengadaan Ujian Nasional. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi guru terhadap pengadaan Ujian Nasional yang akan diterapkan pada Jenjang SMA/SMA terakreditasi pada tahun 2025. Maka dari itu penulis mengambil judul AuPersepsi Guru SMA Terhadap Isu Pengadaan Ujian NasionalAy. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan penulis ialah metode kualitatif, metode ini akan menjabarkan isu pengadaan Ujian Nasional yang akan dilaksanakan pada jenjang SMA di tahun 2025 (Hardani et al. , 2. Penulis menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan yang membantu penulis memahami apa yang telah dialami oleh partisipan (Creswell, 2. Pendekatan ini digunakan untuk melihat berbagai fenomena yang terjadi dilapangan secara langsung tentang presepsi guru di Kabupaten Batanghari mengenai pengadaan Ujian Nasional yang akan dilaksanakan tahun 2025. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu triangulasi sumber. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan wawancara terkait fenomena Ujian Nasional. Partisipan penulistan ini menggunakan purposive sampling. Partisipan penelitian terdiri dari sembilan orang guru yang tersebar pada berbagai generasi yakni generasi x, generasi y, dan generasi z di Kabupaten Batanghari. Dua diantara tiga generasi ini pernah mengikuti dan menjadi panitia Ujian Nasional yaitu pada generasi x dan generasi y. Namun, pada guru generasi z hanya sebagian yang mengikuti Ujian Nasional. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini mengkaji persepsi guru SMA terhadap adanya isu pengadaan Ujian Nasional. Penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan informasi terkait persepsi guru tentang adanya isu Ujian Nasional yang diadakan pada tahun 2025 di jenjang SMA. Subjek penelitian melibatkan Guru SMA Kabupaten Batanghari melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara secara langsung. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru berbeda generasi di kabupaten Batanghari, didapatkan hasil bahwa guru pada generasi x, generasi y, dan generasi z setuju dengan diadakannya Ujian Nasional kembali. Berikut ini merupakan hasil kusionel persepsi guru generasi x, generasi y, dan generasi z di Kabupaten Batanghari mengenai pelaksanaa kembali Ujian Nasional 2025. Berikut ini merupakan hasil kusioner persepsiguru generasi x, generasi y, dan generasi z di Kabupaten Batanghari. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Tabel 1. Persepsi Guru terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasional Pertanyaan No. Ujian Nasional akan dihapuskan pada saat pelaksanaan kurikulum Merdeka Ujian Nasional sangat relevan dalam menilai siswa serta kemampuannya pada kurikulum merdeka. Ujian Nasional dapat meningkatkan kualitas pendidikan pada kurikulum merdeka Ujian Nasional menjadi tolok ukur penilaian yang efektif pada pelaksanaan kurikulum merdeka Ujian Nasional menjadi acuan dalam menilai kualitas pendidikan Ujian Nasional akan membuat siswa tersadar akan pentingnya Dibutuhkan pengembangan teknologi dalam pelaksanaan Ujian Nasional pada kurikulum Merdeka Generasi Keterangan: S : Setuju TS : Tidak Setuju R : Ragu-ragu Dari tabel 1 di atas dapat dijabarkan bahwa beberapa guru tidak setuju diadakannya Ujian Nasional karena memberikan tekanan besar pada siswa sehingga siswa menjadi stres menghadapi Ujian Nasional. Namun, setelah melakukan guru lintas generasi, terdapat perbedaan yang signifikan pendapat mengenai presepsi pengadaan Ujian Nasional tahun 2025. Hasil perbedaan tersebut menunjukkan bahwa guru SMA di Kabupaten Batanghari banyak yang setuju diadakan Ujian Nasional Kembali untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan meningkatkan karakter siswa dengan menghormati guru di sekolah. Ujian Nasional dijadikan tolok ukur untuk mengevaluasi dan menilai kompetensi pada siswa. Perihal ini memberikan dampak positif pada siswa dan sekolah maupun sistem pendidikan di Indonesia. Keberhasilan dari pelaksanaan Ujian Nasional tidak terlepas dari peran dan fungsi guru dalam proses Dampak positif dari pelaksanaan UN yang telah dilaksanakan pada 2002-2020 tidak membuat seluruh guru setuju untuk menggantikan sistem evaluasi melalui Asesmen Nasional yang telah diselenggarakan selama 4 tahun belakangan ini. Oleh karena itu. Ujian Nasional lebih baik tetap dikoordinasi oleh pemerintah dengan melakukan perbaikan dan mempertimbangkan berbagai masukan dari tokoh pendidikan, salah satunya ialah guru karena guru adalah sarana guna menyukseskan pendidikan di Indonesia (Tasnur , dkk. , 2. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Berdasarkan dari hasil wawancara guru terhadap isu pengadaan Ujian Nasional terdapat beberapa pendapat yang setuju dan menolak dengan sistem Ujian Nasional yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi, perbaikan indikator kelulusan, motivasi belajar dan karakter siswa. Pembahasan Ujian Nasional Menggunakan Teknologi Penggunaan sistem teknologi informasi dan komunikasi bukanlah hal baru. Semakin maju perkembangan dunia, maka teknologi juga akan semakin maju. Perihal ini juga dijelaskan pada penelitian Trinaldi , dkk. yang menyatakan bahwa teknologi pada saat ini sangat dibutuhkan untuk menunjang kegiatan manusia di berbagai bidang. Lebih lanjut, menurut Pratama dan Rahman . Ujian menggunakan teknologi informasi dan komunikasi akan membuat sistem ujian menjadi lebih efektif dan lebih fleksibel. Berikut merupakan hasil tanggapan dari berbagai guru setiap generasi mengenai Ujian Nasional menggunakan sistem teknologi. Guru A : "Saya setuju diadakan UN kembali tapi sebagai catatannya diubah dalam pola yang berbeda, jangan menggunakan kertas karena akan membengkakkan anggaran ya, tapi sistemnya tidak usah terlalu ribet. Penggunaan teknologi tidak boleh menyusahkan". (Informan guru generasi Y) Pemanfaatan teknologi telah merambah di dunia pendidikan. Dalam Pembelajaran teknologi berperan penting sebagai penerapan pengetahuan ilmiah sehingga tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif dan Teknologi yang digunakan bukan hanya brainware, tetapi juga menggunakan perangkat keras . dan software (Lailan, 2. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru saat ini banyak menggunakan teknologi digital dengan memanfaatkan power point, aplikasi canva, google from dan lain sebagainya. Pemanfaatan teknologi yang semakin pesat dapat diselaraskan dengan pengadaan Ujian Nasional di tahun Menurut (Karuniawati, 2. teknologi sangat dibutuhkan dalam sistem pembelajaran era 4. berdasarkan perihal tersebut pelaksanaan Ujian Nasional dengan pembaharuan berupa Tes Potensi Akademik (TPA) yang dilaksankan pada November 2025 di tingkat SMA akan menggunakan teknologi informasi terbaru. Lebih lanjut, menurut (Sholeh Kurniandini et al. , 2. Teknologi informasi dan komunikasi menjadi urgensi yang di era ini karena pada pelaksanaanya dapat membantu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan di sekolah termasuk Ujian Nasional. Adanya pemanfaatan teknologi akan menghemat anggaran saat pelaksanaan Ujian Nasional karena tidak menggunakan kertas. Perihal ini dijelaskan dalam penelitian (Mabruri & Sanjaya, 2. yang menyatakan jika ujian berbasis computer akan membuat regulasi pelaksanaan ujian menjadi lebihefisien karena menghemat waktu serta menghemat biaya operasional. Guru B :"Kalau bisa UN kali ini sistemnya diganti, jangan seperti tahun yang sudahsudah. Apalagi di kurikulum ini, saya rasa bisa lebih baik jika sistem berbasis teknologi digunakan dalam menunjang keefektifan UN, sehingga tidak ada calo calo di UN, seperti yang sudah- sudah". (Informan guru generasi Z) Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Kurikulum Merdeka yang diterapkan pada masa menteri Pendidikan Nadiem Makarim telah mengubah pola pembelajaran konvensional kepada pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital melalui kurikulum merdeka belajar. Implementasi teknologi dalam kurikulum merdeka diintegrasikan melalui alat dan aplikasi teknologi, seperti pembelajaran daring, konten digital dan platform digital yang kolaborasi sehingga memberikan pengembangan yang lebih besar pada siswa (Nuridayanti, dkk. , 2. Proses Ujian Nasional agar tidak terjadi kecurangan, maka dibutuhkan pengembangan inovasi teknologi terbaru dan lebih aman. Teknologi yang aman membantu siswa tetap terjaga selama menggunakan teknologi saat pelaksanaan Ujian Nasional. Perihal ini juga diungkapkan oleh Paidil & Sari . Peran teknologi terkini akan menyediakan platform digital yang lebih aman. Keamanan tidak terlepas dari sistem kecurangan yang dapat kapan saja terjadi selama ujian nasional berlangsung. Menurut Nabilah, dkk. teknologi exam akan membantu pelaksanaan ujian dengan integritas yang tinggi. Guru C: AuDari yang sudah-sudah ya, sistem UN itu bagus yang sistem dahulu, masalahnya tidak terlalu banyak. UN menggunakan lembar soal dan tetap rahasia. Kalau pakai teknologi itu bagus, tapi seperti yang sudah-sudah, kendala listrik dan kalau mau tetap pakai teknologi ya boleh-boleh saja, asal diperbaiki sistem ujiannya. Ay (Informan guru generasi X) Melalui perkembangan teknologi tersebut, dalam pelaksanaan Ujian Nasional yang akan diadakan lebih baik menerapkan teknologi dalam pelaksanaanya. Ujian Nasional dengan menggunakan kertas akan meningkatkan tingkat kecurangan terutama hadirnya kunci jawaban soal Ujian Nasional. Untuk mengatasi hal tersebut sistem Ujian Nasional dapat disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Namun penggunaan teknologi informasi tidak seutuhnya memiliki manfaat yang signifikan. Perihal ini juga dijelaskan oleh Sobirin, . menyatakan bahwa tidak hanya teknologi yang dibutuhkan untuk melakukan Ujian Nasional berbasis komputer, namun lebih kepada fasilitas-fasilitas pendukungnya. Tidak semua daerah memiliki fasilitas yang memadai. 2 Perbaikan Indikator Kelulusan Ujian Nasional dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, manajemen sekolah budaya akademik, kepemimpinan, dan kualitas guru. Pelaksanaan ujian nasional telah mengalami beberapa perubahan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil ujian. Perubahan terjadi mulai dari beralihnya model pelaksanaan UN berbasis kertas dan pensil menjadi berbasis komputer di tahun 2015--2020 (Handayani, , 2. Indikator kelulusan Ujian Nasional yang lalu belum mencerminkan patokan kelulusan siswa yang menilai proses pembelajaran selama 3 tahun tetapi lebih kepada hasil akhir ujian sebagai patokan kelulusan. Oleh karena itu perlunya penilaian kegiatan pembelajaran untuk dimasukkan dalam indikator kelulusan siswa. Ujian Nasional 2025 memerlukan indikator kelulusan karena indikator ini yang menentukan siswa berhasil atau tidak dalam mengikuti Ujian Nasional. Berikut merupakan pembahasannya. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Guru D: "Gimana ya. UN sendiri bukan menjadi acuan 100% untuk lulus, makanya saya ada setuju dan tidak setujunya. Setuju karena bisa membuat siswa memiliki target, sehingga tidak lengah dalam belajar. Tidak setujunya karena UN tidak dapat dijadikan tolak ukur satu-satunya kelulusan siswa melainkan sebagai evaluasi hasil belajar siswa. Seharusnya semua hasil kegiatan pembelajaran dari kelas 10-12 seharusnya juga menjadi acuan". (Informan guru generasi Z) Guru E : AuSaya tidak setuju jika diadakan Ujian Nasional lagi karena Ujian Nasional bukan menjadi faktor satu-satunya kelulusan siswa, untuk sistemnya harus diubah misalnya 35% penentuan hasil kelulusan dari Ujian Sekolah, lalu langsung di input penilain ke pusat sehingga sekolah tidak membantu kelulusan siswa dan 65% penentuan kelulusan dari Ujian Nasional. Jika ini dilakukan maka akan menghasilkan motivasi belajar siswa yang tinggiAy. (Informan guru generasi Y) Guru F: AuKalau sekarang bagusnya memakai sistem sekolah punya hak lebih daripada Ujian Nasional 2025 dalam menentukan kelulusan siswa sekolahAy (Informan guru generasi X) Penerapan indikator kelulusan Ujian Nasional dapat menggunakan sistem persen. Sistem ini diambil dari penentuan hasil Ujian Sekolah 35% dengan cara nilai harus diinput terlebih dahulu sebelum dilaksanakannya Ujian Nasional. Ujian Nasional yang diselenggarakan setelah Ujian Sekolah memiliki skor 65% penilaian untuk mencapai angka kelulusan. Adanya kombinasi baru dari indikator kelulusan ini akan memperbaiki sistem pendidikan lebih baik lagi. Siswa tidak akan meremehkan guru saat pembelajaran di kelas karena melihat hasil Ujian Sekolah turut berperan penting dalam persyaratan kelulusan. Siswa juga termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya secara khusus agar mencapai target kelulusan mengikuti Ujian Nasional. Perihal ini juga dijelaskan dalam penelitian dari Mutia, dkk. Ujian Nasional bukanlah penentu siswa untuk lulus atau tidak lulus. Sekolah memiliki wewenang lebih terhadap kelulusan siswa. Sekolah menjadi tempat untuk berproses dengan perjalanan yang panjang, oleh sebab itu. Ujian Nasional 2025 lebih baik menjadi penentu kelulusan namun porsi penentu kelulusan tetap di instansi sekolah masing-masing. Motivasi Belajar dan Karakter Siswa Motivasi dan belajar siswa menurun dibandingkan siswa yang melaksanakan UN. Perihal ini membuat karakter siswa semakin menurun setiap tahunnya karena tidak adanya motivasi. Pemberlakuan Ujian Nasional dirasa menjadi kunci untuk menumbuhkan semangat dan motivasi siswa. Berikut merupakan pembahasannya. Guru G: "UN ya? Kalau saya pribadi setuju dengan UN, anak-anak biar ada target untuk belajar, mungkin karena efek covid-19 ya dua tahun kurang lebih belajar daring, jadi sikapnya masih harus ditingkatkan lagi, jika hanya dilihat dari P5 saya rasa masih kurang, karena mereka sudah memiliki persepsi pasti lulus gampang, makanya belajarnya terlalu santai. Kalau ada UN pasti mereka memiliki target, ini bukan lulus atau tidak lulus, ini perihal target ke depan. Banyak dari anak-anak yang bingung saat ditanya cita-cita. Makanya saya setuju sekali dengan adanya UN" (Informan guru generasi Y). Guru H: AuBeda sekali siswa zaman sekarang dengan siswa zaman saya dulu, bukannya ingin membandingkan siapa yang paling baik, motivasi siswa dalam belajar sangat kurang sehingga tidak ada rasa semangat dan karakter yang terintegrasi pancasila pada diri siswaAy (Informan guru generasi Z). Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 Ujian Nasional yang dicanangkan akan membawa dampak positif bagi siswa. Perihal ini juga dijelaskan oleh Tasnur, dkk. bahwa Ujian Nasional memiliki dampak positif yaitu meningkatkan kualitas akademik. Adanya penghapusan Ujian Nasional menyebabkan siswa kehilangan motivasi belajar dan daya saing di tingkat nasional karena merasa tidak perlu mempersiapkan diri dengan khusus untuk mengikuti ujian tersebut (Mutia, dkk. , 2. Penyebab utama terjadinya penurunan motivasi belajar siswa dikarenakan adanya penghapusan Ujian Nasional dan siswa juga sudah terbiasa mengikuti pembelajaran secara daring. Hal ini menyebabkan pandangan untuk lulus dari sekolah sangatlah mudah, sehingga siswa tidak memiliki target yang jelas bahkan bingung dalam menentukan cita-citanya. Penjabaran ini juga dijelaskan oleh Lewis, dkk. bahwa penghapusan Ujian Nasional digunakan untuk meringankan tekanan siswa. Namun berdasarkan hasil observasi di lapangan, tidak adanya Ujian Nasional membuat siswa merasa tidak ada motivasi dan semangat dalam belajar. Perihal ini juga dijabarkan oleh informan lainnya. Guru I : AuSaya setuju diadakan UN tapi dengan sistem yang berbeda dengan memasukan mata Pelajaran tambahan yaitu agama dan PKN sebagai pembentukan karakter utama siswa dalam Ujian Nasional. Lalu untuk pembuatan soal bukan dibuat oleh pusat tetapi diberikan kebebasan pembuatan soal per pulau karena tingkat kemampuan siswa di setiap daerah berbedaAy. (Informan guru generasi X). Penambahan mata pelajaran Agama dan PKN diperlukan oleh untuk membentuk karakter siswa. Mata pelajaran Agama dan PKN akan menumbuhkan dan mengembangkan nilai moral peserta didik. Hal ini sesuai dengan orientasi capaian kognitif dan afektif pada siswa (Hadisaputra, dkk. , 2. Senada dengan hal tersebut pencapaian kognitif dan afektif siswa diukur melalui soal ujian nasional dalam kategori berpikir Tingkat tinggi sehingga dibutuhkan kesiapan khusus bagi siswa (Wijayanti & Retnawati, 2. Selaras dengan pembuatan soal Ujian Nasional sebaiknya tidak dilakukan secara terpusat tetapi disesuaikan dengan kemampuan masingmasing daerah dengan memperhatikan indikator pembuatan soal. SIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa persepsi guru SMA generasi X. Z di Kabupaten Batanghari terhadap isu Ujian Nasional pada November 2025 memberikan respon cukup positif. Ujian Nasional yang akan dilakukan harus memiliki sistem yang lebih baik lagi dengan menggunakan teknologi dan mengkaji indikator kelulusan siswa. Adanya perbaikan tersebut pada Ujian Nasional dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan meningkatkan karakter siswa dengan menghormati guru di sekolah. Siti Enik Mukhoiyaroh Bambang. Adit Trinaldi. Sophia Rahmawati. Wahdaniah, dan Lusia Oktri Wini (Persepsi Guru SMA terhadap Isu Pengadaan Ujian Nasiona. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Juni 2025, 14 Ae 23 DAFTAR PUSTAKA