ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Volume 1 . Juni 2025, 21-36 ISSN: x-x (Onlin. x-x (Prin. Tersedia online: https://rumahjurnal. id/index. php/arted Bentuk Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy di Sanggar Tari Kemrincing. Kecamatan Ambarawa. Kabupaten Semarang Inayatul Munayah1*. Eny Kusumastuti2 Universitas Negeri Semarang. Indonesia1,2 Email: inayanaya1729@students. Abstrak: Tari Laskar Klinthing adalah tari tradisional kerakyatan yang mengangkat kisah perjuangan Baru Klinthing dalam mencari ayahnya di Gunung Telomoyo, berlatar legenda Rawa Pening. Kabupaten Semarang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pertunjukan tari Laskar Klinthing di Sanggar Tari Kemrincing. Kecamatan Ambarawa. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan teknik reduksi, penyajian data, dan Hasil menunjukkan pertunjukan terdiri dari tiga bagian: pembuka, inti, dan penutup. Unsur pendukung meliputi tema keprajuritan, gerak murni dan maknawi, iringan gamelan laras pelog dan alat musik modern, serta properti seperti jaran kepang, miniatur naga, dan lidi. Rias bergaya gagahan, dengan kostum dan tatanan rambut yang dikreasikan. Pertunjukan dibawakan oleh penari dan pengrawit . ika live gamela. , dan biasanya berlangsung di ruang terbuka agar lebih interaktif dengan penonton. Kata Kunci: Bentuk Pertunjukan Tari. Tari AyLaskar KlinthingAy. Sanggar Tari Kemrincing. Abstract: Laskar Klinthing dance is a traditional folk dance that tells the story of Baru Klinthing's struggle to find his father on Mount Telomoyo, set in the legend of Rawa Pening. Semarang Regency. This study aims to describe the performance form of Laskar Klinthing dance in Kemrincing Dance Studio. Ambarawa District. The method used is qualitative with a phenomenological approach, through observation, interviews, and documentation, and analyzed with reduction, data presentation, and verification techniques. The results show that the performance consists of three parts: opening, core, and Supporting elements include the theme of warriors, pure and meaningful movements, pelog-tuned gamelan accompaniment and modern musical instruments, and properties such as jaran kepang, miniature dragons, and sticks. The make-up is gagahan style, with customized costumes and hairdo. Performances are performed by dancers and pengrawit . f live gamela. , and usually take place in open spaces to be more interactive with the audience. Keywords: Form of Dance Performance. Laskar Klinthing Dance. Kemrincing Dance Studio DOI: 10. 70078/arted. A Penulis. Diterbitkan oleh CV ALFA EDU KARYA. CC BY SA: Artikel ini didistribusikan di bawah ketentuan Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Pendahuluan Seni tari menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kondisi masyarakat sekitar. Elemen atau unsur pendukung dalam suatu tarian mengandung makna filosofis yang dapat menggambarkan masyarakat pendukungnya, salah satunya adalah Tari AuLaskar KlinthingAy. Tari AuLaskar KlinthingAy merupakan kesenian yang berasal dari Kecamatan Ambarawa. Kabupaten Semarang. Tari AuLaskar KlinthingAy menceritakan tentang kisah legenda Baru Klinthing yang berlatarkan di Rawa Pening. Kabupaten Semarang. Tari AuLaskar KlinthingAy adalah tari tradisional kerakyatan yang menceritakan perjuangan Baru Klinthing untuk mencari dan mendapatkan pengakuan dari ayahnya yaitu Ki Hajar Salokantara. Kesenian tradisional kerakyatan termasuk bagian dari kebudayaan, dan tercipta dari akal dan budi manusia yang diungkapkan dengan penuh keindahan, karena pada dasarnya manusia senang dengan keindahan sehingga seni juga merupakan hasil karya cipta dari jiwa dan pikiran manusia (Kusumastuti dkk, 2020. Tari AuLaskar KlinthingAy berasal dari kata Laskar yang berarti prajurit dan Klinthing diambil dari nama Baru Klinthing (Wawancara dengan Ino Sanjaya, 16 Januari 2. Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk ke dalam jenis tari yang memadukan jenis tari tradisi dan modern. Unsur tradisi dapat dilihat pada elemen gerak seperti gerak debeg, gejug, lampah tigo. Sedangkan unsur modern dapat dilihat dalam gerak yang menggunakan lifting, sikap lilin, dan gerakan meroda. Selain itu, dari unsur iringan, alat musik yang digunakan tidak hanya menggunakan instrumen gamelan saja, tetapi juga menggunakan alat musik modern seperti biola, terompet, drum, dan saxophone. Tari AuLaskar KlinthingAy disajikan dalam bentuk tari kelompok yang dipadukan dengan konsep sendratari. Tari AuLaskar KlinthingAy merupakan tarian yang menggunakan properti utama jaran kepang. Jaran Kepang berasal dari kata Jawa jaran, yang berarti kuda, dan kepang, yang berarti kuda boneka yang terbuat dari bambu yang dijalin (Kusumastuti dkk, 2. Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk salah satu tarian yang sering dipentaskan oleh Sanggar Tari Kemrincing. Sanggar Tari Kemrincing adalah sanggar tari yang terletak di Kecamatan Ambarawa. Kabupaten Semarang, yang didirikan oleh Ino Sanjaya. Penciptaan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan ide cerita salah satu legenda dari Kabupaten Semarang, yaitu Baru Klinthing. Tarian ini menggambarkan prajuritprajurit Baru Klinthing yang bertugas mendampingi Baru Klinthing ketika mencari ayahnya di Gunung Telomoyo. Baru Klinthing adalah seorang anak berwujud ular dan naga yang dilahirkan oleh seorang wanita bernama Ni Ari Wulan. Saat Baru Klinthing mulai beranjak dewasa, ia menanyakan sosok ayahnya kepada ibunya, hingga suatu hari Baru Klinthing mencari keberadaan ayahnya di Gunung Telomoyo. Setelah Baru Klinthing bertemu dengan sang ayah yaitu Ki Hajar Salokantara, beliau tidak mengakui Baru Klinthing sebagai anaknya, dan memberinya berbagai syarat untuk membuktikan bahwa Baru Klinthing adalah anaknya. Baru Klinthing pun gagal untuk memenuhi syarat tersebut dan Baru Klinthing diminta untuk bertapa hingga menjadi manusia. Setelah sekian lama bertapa, tubuh Baru Klinthing dipenuhi oleh tanaman. Warga desa setempat yang sedang berburu hewan untuk kegiatan pesta rakyat tanpa sadar membunuh dan memotong tubuh Baru Klinthing untuk dimasak. Vol. No. Juni 2. 22 Munayah & Kusumastuti Baru Klinthing kemudian menjelma menjadi anak kecil yang tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka. Baru Klinthing mencoba meminta makanan kepada para warga, namun seluruh warga menolak kecuali Mbok Rondo. Sebagai bentuk terima kasih. Baru Klinthing memberikan pesan kepada Mbok Rondo untuk menaiki lesung apabila terjadi Baru Klinthing kembali ke pesta rakyat dan menantang para warga untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah. Namun, seluruh warga gagal mencabut lidi dan akhirnya Baru Klinthing sendiri yang mencabut lidi tersebut. Setelah lidi berhasil dicabut, muncul semburan air besar yang menenggelamkan desa dan menyerupai rawa yang selanjutnya dijuluki Rawa Pening, yang berarti genangan air yang bening (Rahman dkk, 2. Melalui legenda Baru Klinthing ini, seniman asal Ambarawa yaitu Ino Sanjaya terinspirasi untuk menciptakan tari dengan menggunakan latar belakang cerita rakyat daerah setempat. Tari AuLaskar KlinthingAy diciptakan pada bulan September 2023. Latar belakang Ino Sanjaya menciptakan karya ini adalah melihat antusias masyarakat Kecamatan Ambarawa yang sangat tinggi terhadap kesenian, khususnya jaran kepang. Tari Jaran Kepang adalah produk rekreasi kreatif masyarakat pelaku, pendukung, sekaligus penonton. Proses tersebut sering disebut dengan pendidikan seni berbasis masyarakat dimana seni diciptakan, dilakukan dan ditonton oleh masyarakat itu sendiri (Kusumastuti, 2. Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy mendapatkan respon yang positif oleh masyarakat atau penonton. Melalui bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, penonton menjadi mengetahui tentang legenda yang ada di Kabupaten Semarang, khususnya Baru Klinthing. Pola Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari pembuka, inti, dan penutup. Unsur pendukung dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy di antaranya adalah: tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tata rias busana, pelaku, panggung, dan penonton. Unsur pendukung dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy membantu koreografer untuk menyampaikan makna yang ada di dalam tari tersebut. Penelitian terdahulu yang relevan dengan topik dalam penelitian ini telah dilakukan oleh Muhammad Khamdhani dan Lesa Paranti dalam penelitian berjudul Bentuk Pertunjukan Tari Jaran Kepang di Paguyuban Langen Turonggo Jati Desa Muncar Kabupaten Semarang dalam Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni. Volume 9. Nomor 2. Tahun 2024 (Khamdhani & Paranti, 2. Penelitian ini membahas bentuk pertunjukan Tari Jaran Kepang terdiri dari elemen tema, gerak, iringan, pelaku, tata rias dan busana, tempat pertunjukan, properti, dan penonton. Tari Jaran Kepang memiliki tema AukeprajuritanAy yang menggambarkan sekelompok prajurit sedang menunggang kuda. Elemen gerak dalam tarian ini terdiri dari gabungan antara gerak murni dan maknawi. Iringan yang digunakan adalah seperangkat alat gamelan Jawa baik laras pelog maupun Pelaku dalam Tari Jaran Kepang terdiri dari 8-10 penari putra dan pengrawit berjumlah 15 orang. Tata rias yang digunakan oleh penari adalah rias wayang berupa gagahan atau bagusan, sedangkan tata busana yang digunakan terdiri dari beskap berwarna hitam dan jarik kipas yang keduanya menggambarkan seorang prajurit yang gagah dan berani. Vol. No. Juni 2025 | 23 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Tari Jaran Kepang ditampilkan di panggung arena yang dapat disaksikan oleh seluruh kalangan masyarakat. Properti yang digunakan tentunya jaran kepang sebagai properti wajib. Penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian Tari AuLaskar KlinthingAy, yaitu latar belakang cerita yang berbeda meskipun jenis tariannya sama, yaitu jaran kepang. Unsur pendukung seperti gerak, iringan, pelaku, dan kostum juga memiliki perbedaan dengan unsur pendukung Tari AuLaskar KlinthingAy. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam terkait bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis terkait bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy di Sanggar Tari Kemrincing. Alasan peneliti mengkaji bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy karena penciptaan tari ini berawal dari sebuah legenda atau cerita rakyat khas daerah setempat, yaitu Baru Klinthing, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam. Selain itu. Tari AuLaskar KlinthingAy belum pernah diteliti sebelumnya, sehingga penelitian ini dapat memberikan informasi data terkait Tari AuLaskar KlinthingAy. Metode Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan mempelajari fenomena tentang apa yang terjadi oleh subjek penelitian secara utuh, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan metode ilmiah (Moleong, 2016, hlm. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yaitu mengacu pada kenyataan, atau kesadaran tentang suatu benda secara jelas, memahami arti peristiwa dan kaitannya terhadap masyarakat yang berada di situasi tertentu, untuk memahaminya memulai dengan diam (Moleong. Penelitian dilakukan di Sanggar Tari Kemrincing yang berlokasi di Kecamatan Ambarawa. Kabupaten Semarang. Provinsi Jawa Tengah. Penelitian menggunakan tahapan ilmiah dalam mengumpulkan data melalui teknik observasi, wawancara, dan Data penelitian terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data Data primer merupakan data utama yang diperoleh secara langsung di lapangan, seperti melalui narasumber atau informan. Sedangkan data sekunder adalah sumber data tambahan yang diambil tidak secara langsung di lapangan, seperti melalui buku, dokumen, foto, dan statistik (Nugrahani, 2014, hlm. Peneliti melakukan observasi terkait bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy yang terdiri dari pola pertunjukan dan unsur pendukung Tari AuLaskar KlinthingAy. Selain observasi, peneliti juga melakukan wawancara dengan koreografer Tari AuLaskar KlinthingAy sekaligus pendiri Sanggar Tari Kemrincing, yaitu Ino Sanjaya. Teknik dokumentasi digunakan peneliti untuk memperoleh data terkait bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Dokumentasi yang digunakan berupa foto, video, buku, dan jurnal ilmiah. Seluruh data yang terkumpul selanjutnya dilakukan keabsahan data agar dapat dipertanggungjawabkan dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan teknik yang bertujuan untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang lain (Moleong, 2016, hlm. Vol. No. Juni 2. 24 Munayah & Kusumastuti Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Data yang sudah diabsahkan selanjutnya adalah dianalisis. Miles dan Huberman dalam menjelaskan bahwa analisis data terdiri dari tiga alur yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan (Miles & Huberman, 2007, hlm. Data diseleksi kembali untuk mengidentifikasi informasi yang utama dan relevan, kemudian disajikan dalam bentuk naratif atau deskriptif, sehingga dapat ditarik kesimpulan sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Penentuan Metode dan Pendekatan Penetapan Lokasi dan Subjek Penelitian Jenis dan Sumber Data Teknik Pengumpulan Data (Observasi. Wawancara. Dokumentas. Teknik Keabsahan Data (Triangulasi Sumber. Triangulasi Teknik. Triangulasi Wakt. Teknik Analisis Data (Reduksi Data. Sajian Data. Penarikan Simpula. METODE PENELITIAN KUALITATIF: Bentuk Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy di Sanggar Tari Kemrincing Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Gambar 1. Alur Penelitian Bentuk Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy di Sanggar Tari Kemrincing Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Gambar 1 menunjukkan tahapan sistematis penelitian yang terdiri dari penentuan metode dan pendekatan penelitian, penetapan lokasi dan subjek penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik keabsahan data, dan teknik analisis data yang menggunakan model Miles dan Huberman. Tahapan tersebut dilakukan secara berurutan dan saling berkaitan untuk memperoleh pemahaman yang utuh terhadap bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Hasil Hasil penelitian terdiri dari gambaran umum Sanggar Tari Kemrincing sebagai lokasi penelitian ini. Selain itu, peneliti juga mendapatkan hasil penelitian berupa bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy yang terdiri dari pola pertunjukan dan unsur pendukung Tari AuLaskar KlinthingAy di antaranya: tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tara rias busana, pelaku, panggung, dan penonton. Vol. No. Juni 2025 | 25 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Gambaran Umum Sanggar Tari Kemrincing Sanggar Tari Kemrincing merupakan salah satu sanggar yang berlokasi di Kecamatan Ambarawa. Kabupaten Semarang. Sanggar Tari Kemrincing sudah didirikan pada tahun 2019, namun baru diresmikan dan mendapat akta peresmian pada tahun 2020. Ino Sanjaya, selaku pemilik Sanggar Tari Kemrincing mendirikan sanggar ini karena melihat antusias masyarakat Ambarawa dari berbagai kalangan usia terhadap kesenian sangatlah tinggi, sehingga Ino Sanjaya berkeinginan untuk mendirikan sanggar tari. Selain antusias masyarakat, adanya dorongan dari rekan-rekan Ino Sanjaya yang menyarankan untuk membuat sanggar tari menjadi sebuah motivasi baginya untuk mendirikan Sanggar Tari Kemrincing (Wawancara dengan Ino Sanjaya, 16 Januari Hingga saat ini. Sanggar Tari Kemrincing mempunyai peserta didik berjumlah 135 anak. Sanggar Tari Kemrincing sering menjadi pengisi acara dalam suatu kegiatan. Salah satu karya tari yang sering dipentaskan adalah Tari AuLaskar KlinthingAy. Bentuk Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy Pola Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk ke dalam ketagori tari kelompok, namun juga semi sendratari. Pola bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari pembuka, inti, dan penutup. Pembuka Tari AuLaskar KlinthingAy diiringi oleh alat musik saxophone dan tabuhan gending gamelan yang dilakukan oleh pengrawit dan sinden serta Lagu yang dinyanyikan berisi syair yang menceritakan tentang kisah Baru Klinthing. Bagian inti pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy yaitu menceritakan Baru Klinthing yang mencari keberadaan ayahnya di Gunung Telomoyo, dan didampingi oleh prajurit-prajurit berkuda. Bagian penutup pada pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menceritakan Baru Klinthing yang menancapkan lidi ke tanah untuk melakukan sayembara. Namun, tidak ada satu orang pun bisa mencabut lidi tersebut. Akhirnya Baru Klinthing yang mencabut lidi dan seketika air menyembur dari tanah sampai menjadi sebuah rawa. Saat ini, rawa tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Semarang sekaligus menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar, yaitu Rawa Pening. Unsur Pendukung Tari AuLaskar KlinthingAy Bentuk pertunjukan suatu tarian tentunya mempunyai unsur atau elemen pendukung yang saling berkaitan. Unsur pendukung dalam suatu tarian merupakan elemenelemen penting yang membentuk kesatuan pertunjukan secara utuh. Dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, unsur atau elemen pendukung terdiri dari tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tata rias busana, pelaku, panggung, dan penonton. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masing-masing unsur tersebut mempunyai peran penting dalam memperkuat penyampaian makna cerita rakyat Baru Klinthing. Vol. No. Juni 2. 26 Munayah & Kusumastuti Tema Koreografer Tari AuLaskar KlinthingAy yaitu Ino Sanjaya mengambil cerita legenda Baru Klinthing sebagai latar belakang penciptaan Tari AuLaskar KlinthingAy. Kisah Baru Klinthing diceritakan dengan modifikasi berupa penambahan pasukan prajurit berkuda yang mendampingi Baru Klinthing saat mencari keberadaan ayahnya, yaitu Ki Hajar Salokantara (Wawancara dengan Ino Sanjaya, 16 Januari 2. Tema yang digunakan dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy adalah keprajuritan. Tema keprajuritan ini diwujudkan melalui karakter gerak yang tegas, rampak, dan energik di setiap ragam geraknya. Gerak Gerak dalam bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan perpaduan dari gerak maknawi dan murni. Gerak maknawi dalam Tari AuLaskar KlinthingAy menggambarkan Baru Klinthing beserta prajurit berkuda yang gagah dan pemberani saat mencari ayah Baru Klinthing di Gunung Telomoyo hingga akhirnya Baru Klinthing membuat sebuah desa menjadi rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening. Gambar 2. Gerak Tari AuLaskar KlinthingAy (Sumber: Penulis, 2. Gambar 2 menggambarkan pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy dengan para penari menggunakan properti jaran kepang. Gerak penari saat menggunakan properti jaran kepang adalah gerak yang gagah. Meskipun terdapat penari perempuan, gerak yang dilakukan tetap gagah agar makna tari dapat tersampaikan dengan baik. Contoh gerak maknawi lain dapat terlihat dalam gerak tangan penari yang menyerupai bentuk naga. Melalui gerak tersebut, dapat membantu koreografer untuk menyampaikan makna tari yang menceritakan bahwa Baru Klinthing memiliki wujud ular dan naga. Selain gerak maknawi, terdapat gerak murni dalam Tari AuLaskar KlinthingAy. Beberapa gerak murni yang digunakan adalah gerakan mengayunkan tangan dan mengayunkan properti jaran kepang. Gerak yang digunakan dalam Tari AuLaskar KlinthingAy adalah gerak yang energik, rampak, dan didominasi oleh penggunaan properti jaran kepang. Tari AuLaskar KlinthingAy memadukan unsur gerak tradisi dan gerak modern dalam pertunjukannya. Gerak tradisi ditandai dengan adanya penggunaan gerak seperti sembahan, lampah tigo, ulap-ulap. Sedangkan gerak modern yang digunakan adalah gerak lifting, roll depan, dan sikap lilin. Kombinasi antara gerak tradisi dan gerak modern tersebut menjadikan Tari AuLaskar KlinthingAy tampil dinamis dan atraktif, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal yang menjadi akar kekuatannya. Vol. No. Juni 2025 | 27 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Iringan Iringan merupakan unsur pendukung yang sangat berkaitan erat dengan sebuah tarian. Iringan dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan seperangkat alat gamelan dengan laras pelog dan menggunakan alat musik modern berupa saxophone, terompet, drum, dan biola. Tari AuLaskar KlinthingAy adalah tarian khas Kabupaten Semarang, sehingga alat musik khas Kabupaten Semarang juga digunakan untuk mengiringi Tari AuLaskar KlinthingAy sebagai ciri khas Kabupaten Semarang. Alat musik ini bernama bende, biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan jaran kepang di Kabupaten Semarang (Wawancara dengan Ino Sanjaya, 16 Januari 2. Dalam pembuatan iringan Tari AuLaskar KlinthingAy. Ino Sanjaya berkolaborasi dengan salah satu komunitas di Ambarawa yang fokus pada bidang karawitan bernama Nayanika, dengan komposer bernama Antonius Lana Alrest Autistik Dinesti. Dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy tidak selalu menggunakan live musik gamelan, tetapi juga menggunakan iringan musik dalam bentuk MP3. Penggunaan iringan dalam bentuk MP3 memungkinkan fleksibilitas pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy lebih mudah dipentaskan dalam berbagai situasi. Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy tidak selalu menggunakan iringan musik secara langsung, yaitu gamelan dan alat musik modern, sehingga pengrawit tidak selalu hadir dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Properti Properti sebagai unsur pendukung tari dapat membantu koreografer dalam menyampaikan makna yang terkandung dalam tari tersebut. Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan beberapa properti, di antaranya adalah: jaran kepang, miniatur naga yang ditopang dengan tongkat hingga menyerupai liong seperti yang ada di tarian suku Tionghoa, dan lidi. Keseluruhan properti dapat memberikan gambaran kepada para penonton terkait makna tari tersebut, seperti ketika Baru Klinthing menancapkan lidi hingga menjadi Rawa Pening. Gambar 3. Properti Tari AuLaskar KlinthingAy (Sumber: Penulis, 2. Gambar 3 merupakan properti miniatur naga yang menyerupai liong dalam suku Tionghoa. Dalam menggunakan properti ini, empat penari memegang tongkat yang diayunkan ke kanan dan kiri serta atas dan bawah secara bergantian. Properti ini dimainkan di awal dan akhir pertunjukan. Properti menggambarkan wujud Baru Klinthing yang berupa ular dan naga. Vol. No. Juni 2. 28 Munayah & Kusumastuti Tata Rias Wajah dan Rambut Tata rias adalah unsur pendukung tari yang bertujuan agar karakter tokoh dalam tari dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton. Rias wajah dapat digunakan untuk memperjelas garis-garis wajah, menutupi kekurangan yang ada di wajah, bahkan dapat memunculkan karakter tokoh dalam pertunjukan tari. Riasan yang digunakan oleh penari Tari AuLaskar KlinthingAy adalah rias wayang dengan karakter gagahan, yang bertujuan untuk memperkuat kesan tegas, berani, dan tangguh dari tokoh yang diperankan, terutama para prajurit yang mendampingi Baru Klinthing. Gambar 4. Tata Rias Wajah Tari AuLaskar KlinthingAy (Sumber: Penulis, 2. Gambar 4 adalah rias karakter gagahan yang digunakan oleh penari. Rias wajah penari laki-laki dan penari perempuan hampir sama, yang membedakan hanya penggunaan Godeg yang digunakan oleh penari perempuan adalah godeg yang biasanya digunakan untuk perempuan, sedangkan godeg penari laki-laki menggunakan godeg laki-laki. Selain godeg, terdapat ornamen-ornamen tambahan dan penggunaan rias cenderung lebih tebal agar karakter penari terlihat lebih tegas. Biasanya, tata rias rambut yang digunakan adalah menggunakan sanggul cepol dan dihiasi dengan aksesoris irah-irahan, baik penari perempuan maupun penari laki-laki. Penggunaan sanggul cepol tidak hanya bertujuan untuk memberikan kesan estetis dan kerapian, tetapi juga menjadi karakter visual dalam pertunjukan. Tata rias rambut penari Tari AuLaskar KlinthingAy tidak memiliki pakem di setiap pertunjukannya, sehingga para penari mengkreasikan dalam penggunaan rias rambut. Tata Rias Busana Tata rias busana yang digunakan oleh para penari biasanya dikreasikan oleh para Rincian busana terdiri dari: kain jarik berwarna hitam, rompi, celana berbahan satin, buntal, ilat-ilatan, klat bahu, sabuk, kalung, sumping, gelang, dan kerincingan yang dipasang di kaki penari. Ketika penari bergerak, suara kerincingan turut memperkuat dinamika gerakan dan irama tari. Tata rias busana didominasi oleh tiga warna, yaitu hijau, hitam, dan emas yang masing-masing memiliki makna yang mendalam. Warna hijau menggambarkan Baru Klinthing yang berwujud ular, sedangkan warna hitam menggambarkan kehidupan Baru Klinthing yang suram, dan warna emas menggambarkan akhir cerita dari kisah Baru Klinthing, di mana Rawa Pening sekarang menjadi tempat mata pencaharian masyarakat sekitar dan menjadi destinasi wisata di Kabupaten Semarang. Keseluruhan busana ini tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga media visual yang memperkuat karakter dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Vol. No. Juni 2025 | 29 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Tata rias busana atau kostum yang digunakan oleh seluruh penari Tari AuLaskar KlinthingAy adalah sama, hal ini bertujuan agar tidak ada penonjolan karakter tokoh. Selain itu, karena Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk ke dalam jenis tari kelompok, sehingga sulit jika hanya menonjolkan satu karakter tokoh saja (Wawancara dengan Ino Sanjaya, 16 Januari 2. Pelaku Dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, pelaku terdiri dari penari dan pemain musik atau pengrawit. Penari Tari AuLaskar KlinthingAy berjumlah 10-12 orang, yang terdiri dari penari laki-laki dan perempuan yang terbagi rata. Sedangkan pengrawit terdiri dari 15 orang pengrawit, di antaranya terdapat 1 sinden dan 1 penggerong. Latar belakang para penari biasanya berasal dari pelatih dan siswa Sanggar Tari Kemrincing, serta pamong budaya. Panggung Panggung pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk ke dalam panggung outdoor, seperti di lapangan terbuka. Penonton dapat menyaksikan pertunjukan secara langsung dan lebih dekat dengan para penari. Hal ini menciptakan suasana yang lebih akrab dan interaktif, sehingga penonton dapat merasakan emosi dan energi yang dipancarkan oleh para penari secara lebih intens. Selain itu, panggung terbuka mencerminkan karakteristik seni tari tradisional kerakyatan yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa pembatas. Gambar 5. Panggung Tari AuLaskar KlinthingAy (Sumber: Penulis, 2. Gambar 5 menunjukkan tempat pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy yang dilaksanakan di lapangan terbuka, yaitu di Alun-Alun Bung Karno. Ungaran pada saat kegiatan Festival Oengaran Menari. Namun, di bagian atas lapangan tetap diberi karpet untuk melindungi kaki penari dari permukaan tanah yang kasar atau kotor yang dapat menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan saat menari. Vol. No. Juni 2. 30 Munayah & Kusumastuti Penonton Penonton dapat menyaksikan pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy secara lebih dekat, sehingga semakin banyak penonton, maka penari akan semakin bersemangat untuk mementaskan tarian yang dibawakan. Penonton Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, hal ini menunjukkan bahwa tarian ini mampu menarik perhatian masyarakat luas dan diminati oleh berbagai usia. Antusiasme dan apresiasi yang diberikan penonton menjadi bentuk dukungan terhadap seniman untuk terus berkarya dan mempertahankan eksistensi budaya Pembahasan Gambaran Umum Sanggar Tari Kemrincing Sanggar Tari Kemrincing merupakan wadah bagi masyarakat Ambarawa untuk menyalurkan bakat dan minatnya terhadap bidang kesenian. Nama dari Sanggar Tari Kemrincing sendiri berasal dari kata AukemrincingAy yang terinspirasi dari salah satu aksesoris yang biasa dipakai oleh penari dibagian kaki ketika menggunakan kostum tari kerakyatan. Aksesoris berupa kerincingan dari bahan kuningan yang berjumlah banyak dan melingkari kaki penari, sehingga ketika penari bergerak maka kerincingan tersebut akan berbunyi dengan nyaring. Kemudian Ino Sanjaya menggunakan kata AukemrincingAy sebagai nama sanggarnya, karena beliau berharap Sanggar Tari Kemrincing akan didengar oleh masyarakat lebih luas lagi. Sanggar Tari Kemrincing cukup berbeda dengan sanggar tari lainnya yang ada di Ambarawa. Biasanya sanggar tari di Ambarawa lebih fokus kepada kesenian jaran kepang. Sedangkan Sanggar Tari Kemrincing fokus kepada tari tradisional dan tari kreasi. Sanggar Tari Kemrincing mempunyai 4 pelatih dengan latar belakang kesenian yang berbeda, yaitu kesenian Semarang. Yogyakarta. Surakarta Kasunanan dan Mangkunegaran. Materi yang diberikan kepada peserta didik sanggar pun juga Materi yang sudah dipelajari nantinya akan diujikan dalam kegiatan ujian Selain ujian tari. Sanggar Tari Kemrincing juga mengadakan ujian pementasan, dimana seluruh peserta didik terlibat dalam pembuatan sendratari yang nantinya akan dipentaskan di depan penonton. Hal ini dapat memberikan pengalaman dan melatih rasa percaya diri peserta didik untuk tampil di depan penonton. Bentuk Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy Pola Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy Pola pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari bagian pembuka, inti, dan penutup yang menceritakan bagaimana Baru Klinthing dan prajurit berkuda dalam mencari keberadaan ayah Baru Klinthing di Gunung Telomoyo, hingga akhirnya Baru Klinthing membuat sebuah rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening. Penggunaan lagu yang menceritakan kisah Baru Klinthing melalui lirik pada bagian pembuka membantu koreografer dalam menyampaikan makna. Selanjutnya, pada bagian inti para penari mulai menggunakan properti jaran kepang dan terdapat properti lidi yang nantinya akan digunakan untuk menggambarkan adegan menancapkan lidi hingga menjadi sebuah rawa yang kini Vol. No. Juni 2025 | 31 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni menjadi Rawa Pening. Gerak di dalam bagian inti adalah gerak yang rampak, energik, dan dinamis. Beberapa ragam gerak yang digunakan adalah sembahan, lampah tigo. Pada bagian penutup ditandai dengan gerak tangan penari yang menggambarkan seperti naga. Properti naga yang ditopang menggunakan tongkat di bagian penutup pertunjukan ini juga dimainkan oleh para penari. Melalui bantuan properti, hal ini juga membantu koreografer untuk menggambarkan wujud Baru Klinthing. Unsur Pendukung Tari AuLaskar KlinthingAy Bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari unsur atau elemen pendukung yang saling melengkapi dan menghasilkan pertunjukan yang memberikan pengalaman estetis bagi para penonton. Menurut Soedarsono, untuk menyajikan sebuah pertunjukan tari, dibutuhkan penari, busana, penata rias, pemain musik . ika iringan musik secara langsun. , panggung pertunjukan, dan penonton (Soedarsono, 1998, hlm. Jazuli menambahkan bahwa terdapat elemen dasar tari dan elemen pendukung Elemen dasar tari adalah gerak, ruang dan waktu, sedangkan elemen pendukung terdiri dari musik, tema, tata busana, tata rias, tempat pentas, tata cahaya dan properti (Jazuli, 2016, hlm. Berdasarkan teori bentuk pertunjukan yang dikemukakan oleh Soedarsono dan Jazuli, maka bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tara rias busana, pelaku, panggung, dan penonton. Tema Penggunaan tema dalam bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, sang koreografer yaitu Ino Sanjaya menggunakan tema yang bersumber dari apa yang ada di lingkungan sekitarnya, yaitu cerita legenda Baru Klinthing. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Murgiyanto, bahwa tema dalam tari bersumber dari apa yang diamati, didengarkan, dipikirkan, dan dirasakan (Murgiyanto, 2002, hlm. Berdasarkan pendapat Murgiyanto, bahwa Ino Sanjaya menggunakan tema yang bersumber dari apa yang diamati, didengarkan, dipikirkan, dan dirasakan olehnya. Tema yang digunakan dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy adalah Tema keprajuritan tercermin melalui gerakan-gerakan yang tegas, rampak, dan energik, yang menggambarkan semangat juang dan keberanian Baru Klinthing bersama prajurit. Karakter prajurit juga ditunjukkan melalui rias karakter gagahan yang digunakan oleh penari serta melalui pemilihan kostum para penari yang menggambarkan seorang prajurit. Gerak Gerak dalam tari berasal dari tubuh tidak pernah menyimpang dari masa lampau dan lingkungan pelakunya (Cahyono, 2. Selanjutnya, menurut Soedarsono, gerak terbagi menjadi empat, yaitu: . gerak maknawi, yang diutarakan lewat simbol-simbol Gerak yang dibawakan secara imitatif dan interpretatif melalui gesture, . gerak murni yang mengutamakan keindahan dan tidak mengandung makna, . gerak adalah penguat ekspresi yang bernama buton signal, . gerak berpindah tempat (Soedarsono, 1. Vol. No. Juni 2. 32 Munayah & Kusumastuti Berdasarkan dua pendapat tersebut, dapat dilihat di dalam bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan gerak-gerak yang bersumber dari lingkungan sekitar, seperti penggunaan gerak yang menyerupai bentuk naga, karena Baru Klinthing berwujud ular dan naga. Selain itu, gerak dalam pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan perpaduan antara gerak maknawi dan gerak murni. Iringan Iringan mempunyai beberapa fungsi, di antaranya adalah: . sebagai iringan ritmis sebuah tarian, . sebagai ilustrasi pendukung suasana tari, . kombinasi antara 2 fungsi secara harmonis (Hadi, 2003, hlm. Berdasarkan pendapat Hadi, maka iringan yang digunakan Tari AuLaskar KlinthingAy adalah iringan ritmis, karena iringan berfungsi untuk mengatur tempo, dinamika, dan ketukan gerak tari. Iringan menggunakan seperangkat alat gamelan dengan laras pelog dan menggunakan alat musik modern berupa saxophone, terompet, drum, dan biola, serta menggunakan bende sebagai alat musik yang sering digunakan untuk mengiringi pertunjukan jaran kepang di Kabupaten Semarang. Penggunaan kombinasi antara alat musik tradisional dan modern menciptakan nuansa yang menyegarkan tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Properti Bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan beberapa properti untuk menyampaikan makna yang mendalam kepada para penonton. Properti merupakan pelengkap pertunjukan yang digunakan penari saat pentas (Soedarsono, 1. Sesuai dengan pendapat Soedarsono, bahwa properti sebagai pelengkap yang digunakan penari saat pentas. Pada pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, properti seperti miniature naga, lidi, dan jaran kepang digunakan oleh penari untuk mendukung ekspresi gerak serta merepresentasikan karakter dan alur cerita yang disampaikan dalam tarian. Tata Rias Wajah dan Rambut Tata rias wajah merupakan seni dalam menggunakan alat dan bahan kosmetik untuk menghasilkan peran dalam seni, dan perlu memperhatikan jarak penari dengan penonton (Sumarni, 2. Sedangkan tata rias rambut adalah mengubah rambut penari menjadi lebih rapi dan dapat memunculkan karakter yang dibawakan (Juniawati dkk, 2018, hlm. Berdasarkan pendapat dari Sumarni dan Juniawati, dkk bahwa rias wajah dan rambut akan menghasilkan peran dalam seni, maka pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan riasan yang menghasilkan peran prajurit melalui rias wayang dengan karakter gagahan dan tata rambut yang rapi serta memunculkan karakter dalam Tari AuLaskar KlinthingAy. Tata Rias Busana Tata rias busana yang digunakan oleh penari terdiri dari: kain jarik berwarna hitam, rompi, celana berbahan satin, buntal, ilat-ilatan, klat bahu, sabuk, kalung, sumping, gelang, dan kerincingan yang dipasang di kaki penari. Hal ini sejalan dengan pendapat Vol. No. Juni 2025 | 33 ARTED: Jurnal Ilmiah Seni dan Pendidikan Seni Lestari bahwa tata rias busana adalah keterampilan untuk mengubah, melengkapi apa yang digunakan oleh penari dari atas sampai ujung kaki (Lestari, 1. Dengan demikian, tata rias busana tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap penampilan saja, tetapi juga menjadi unsur penting untuk membentuk karakter tokoh dalam Pelaku Pelaku merupakan penyaji di dalam suatu pertunjukan yang terlibat langsung maupun tidak langsung untuk menyajikan bentuk seni pertunjukan (Cahyono, 2. Sesuai dengan pendapat Cahyono, pelaku terdiri dari penari dan pengrawit, serta pihak yang terlibat di belakang pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy. Penari berperan sebagai tokoh utama yang menyampaikan alur cerita, sedangkan pengrawit bertugas mengiringi tari dengan menggunakan alat musik gamelan jika pertunjukan diselenggarakan dengan menggunakan live musik, dan pelaku di balik layar seperti penata rias dan busana termasuk ke dalam pelaku pertunjukan. Panggung Panggung merupakan tempat atau lokasi di mana pertunjukan diselenggarakan. Panggung terbagi menjadi 2, yaitu: . indoor, pertunjukan yang dilakukan di dalam ruangan, . outdoor, pertunjukan yang dilakukan di luar ruangan . iasanya untuk seni pertunjukan kerakyata. , untuk kalangan bangsawan biasanya pertunjukan dilakukan di pendapa, yaitu bangunan joglo yang mempunyai 4 tiang dan bersifat terbuka (Murgiyanto, 1983, hlm. 98Ae. Berdasarkan pendapat Murgiyanto, maka panggung yang digunakan untuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy termasuk ke dalam panggung terbuka . , sehingga penari dan penonton memiliki jarak yang lebih Penonton Peran penonton sangat penting dalam suatu pertunjukan. Penonton merupakan manusia yang menyaksikan atau menghayati suatu pertunjukan tari (Murgiyanto, 1992. Interaksi emosional yang terjalin antara penonton dan pertunjukan mampu memperkuat makna yang ingin disampaikan, sehingga pesan moral dan nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam tari dapat tersampaikan secara lebih efektif dan Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy adalah bentuk ekspresi budaya yang disampaikan melalui unsur tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tata rias busana, pelaku, panggung, dan partisipasi penonton. Penelitian ini menunjukkan bagaimana elemen-elemen pertunjukan saling bersinergi dalam membentuk makna tari secara mendalam. Novelty penelitian terletak pada pengungkapan secara detail makna setiap elemen pendukung tari yang belum banyak dikaji sebelumnya, khususnya tentang Tari AuLaskar KlinthingAy. Hasil penelitian ini penting karena dapat menjadi rujukan dalam upaya pelestarian seni tradisional kerakyatan dan memperkuat kesadaran masyarakat tentang budaya setempat melalui pertunjukan tari. Vol. No. Juni 2. 34 Munayah & Kusumastuti Kesimpulan Pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy terdiri dari pembuka, inti, dan penutup dengan menggabungkan unsur tradisional dan modern melalui unsur pendukung tari. Dalam bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy, unsur pendukung tari terdiri dari tema, gerak, iringan, properti, tata rias wajah dan rambut, tata rias busana, pelaku, panggung, dan penonton. Tari AuLaskar KlinthingAy bertemakan keprajuritan dengan menggunakan gabungan antara gerak murni dan gerak maknawi. Tari AuLaskar KlinthingAy diiringi oleh seperangkat alat musik gamelan laras pelog dan alat musik modern yaitu saxophone, terompet, drum, dan biola. Properti yang digunakan adalah jaran kepang, miniatur naga, dan lidi. Tari AuLaskar KlinthingAy menggunakan rias gagahan, baik penari laki-laki maupun perempuan, dengan rias rambut dan busana yang dikreasikan namun tetap dominan dengan warna hijau, hitam, dan emas. Pelaku dalam pertunjukan terdiri dari penari dan pengrawit apabila pertunjukan menggunakan live gamelan. Tari AuLaskar KlinthingAy ditampilkan di lapangan terbuka, sehingga dapat disaksikan secara lebih dekat oleh penonton. Penelitian ini memberikan pemahaman yang mendalam terkait bentuk pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy yang berperan dalam menyampaikan nilai-nilai budaya dan pesan moral. Hal ini mempunyai implikasi penting bagi pendidikan seni, pelestarian budaya, dan perkembangan pertunjukan tradisional sebagai media komunikasi Saran yang dapat diberikan adalah agar memperkenalkan Tari AuLaskar KlinthingAy ke masyarakat lebih luas lagi. Untuk penelitian selanjutnya, dapat mengkaji Tari AuLaskar KlinthingAy dari sudut pandang yang berbeda. Selain itu, mengintegrasikan nilai-nilai budaya pertunjukan Tari AuLaskar KlinthingAy ke dalam pembelajaran di sekolah juga dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya di kalangan peserta didik sebagai generasi muda. Referensi