Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 PENGEMBANGAN KURIKULUM PRACTICAL LIFE DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS 1 MADRASAH IBTIDAIYAH MUMTAZA ISLAMIC SCHOOL Rumiyati S. Dipl Montessori Rasmin1 & Zulfitria2 1,2 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Indonesia Email. yatirm77@gmail. com1, zulfitria@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received: 2025-09-20 Revised : 2025-09-28 Accepted: 2025-09-30 KEYWORDS Practical Life. Curriculum. Emotional Intelligence. MI Mumtaza. Primary Education KATA KUNCI Practical Life. Kurikulum. Kecerdasan Emosional. MI Mumtaza. Pendidikan Dasar ABSTRACT Emotional intelligence is an essential factor influencing studentsAo success in both learning and social life. This study aims to develop a Practical Life Curriculum to enhance the emotional intelligence of first-grade students at MI Mumtaza. The research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. Participants included 25 firstgrade students, two classroom teachers, and two experts in child education and curriculum development who served as validators. Research instruments comprised validation sheets, teacher observation sheets, and an emotional intelligence test based on GolemanAos five aspects: self-awareness, selfregulation, motivation, empathy, and social skills. Data were analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The results revealed that the Practical Life Curriculum was categorized as highly feasible with an average expert validation score of 89%. The practicality aspect reached 87%, and its effectiveness was indicated by the improvement in studentsAo emotional intelligence with an n-gain value of 0. oderate-high categor. These findings demonstrate that Practical Life activitiesAisuch as arranging desks, folding clothes, brushing teeth, and caring for the environmentAifoster independence, responsibility, and social awareness. Thus, the Practical Life Curriculum based on the ADDIE model is proven effective in enhancing the emotional intelligence of students in Islamic-based primary education. ABSTRAK Kecerdasan emosional merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan siswa, baik dalam belajar maupun dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Kurikulum Practical Life sebagai upaya meningkatkan kecerdasan emosional siswa kelas I MI Mumtaza. Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri atas 25 siswa kelas I, dua guru wali kelas, serta dua pakar pendidikan anak dan kurikulum sebagai validator. Instrumen penelitian meliputi lembar validasi, lembar observasi guru, dan tes kecerdasan emosional berdasarkan lima aspek Goleman, yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Practical Life memperoleh kategori sangat layak dengan rata-rata skor validasi ahli sebesar 89%. Aspek kepraktisan mencapai 87%, sedangkan efektivitas 153 | JPI. Vol. No. September 2025 pembelajaran terlihat dari peningkatan skor kecerdasan emosional siswa dengan nilai n-gain sebesar 0,67 . ategori sedang-tingg. Temuan ini membuktikan bahwa aktivitas Practical Life seperti menata meja, melipat pakaian, menyikat gigi, dan merawat lingkungan mampu menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian sosial siswa. Dengan demikian, kurikulum Practical Life berbasis ADDIE terbukti efektif meningkatkan kecerdasan emosional siswa sekolah dasar berbasis Islam. Pendahuluan Perubahan zaman yang semakin cepat di era globalisasi menuntut sekolah dasar untuk tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan pengembangan aspek non-kognitif, khususnya kecerdasan emosional. Menurut Goleman . , kecerdasan emosional memiliki peran lebih besar daripada kecerdasan intelektual dalam menentukan kesuksesan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat menjadi landasan penting bagi keberhasilan belajar, kemampuan bersosialisasi, serta pembentukan karakter positif di masa depan. Laporan OECD Education for 2030 . menegaskan bahwa kompetensi sosial-emosional seperti empati, ketekunan, dan kerja sama menjadi bagian integral dari profil pelajar masa depan yang mampu beradaptasi dengan perubahan dunia. Indonesia, perhatian terhadap aspek ini mulai meningkat, namun implementasinya di tingkat pendidikan dasar masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pengembangan kurikulum yang sistematis dan kontekstual (Wahyuni & Prasetyo, 2. Kondisi serupa juga ditemukan di MI Mumtaza Islamic School. Berdasarkan hasil observasi awal, sebagian besar siswa kelas I masih mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, seperti mudah menangis ketika menghadapi kegagalan, sulit bekerja sama dengan teman, serta kurang mampu menunjukkan empati terhadap sesama. Fenomena ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan model pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mampu menstimulasi perkembangan emosional dan sosial anak sejak dini. Salah satu pendekatan yang diyakini efektif dalam konteks ini adalah penerapan Practical Life Curriculum. Konsep ini berakar pada filosofi Montessori pembelajaran melalui aktivitas kehidupan seharihari yang nyata dan bermakna. Aktivitas seperti menyapu lantai, melipat pakaian, menata meja, menyikat gigi, atau merawat tanaman, tidak hanya melatih keterampilan motorik halus, tetapi juga menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sejumlah penelitian terdahulu (Susanto, 2020. Fauziah, 2021. Nisa, 2. menunjukkan bahwa kegiatan Practical Life dapat meningkatkan konsentrasi, kemandirian, serta kemampuan sosial Namun, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan di sekolah umum dan belum mengintegrasikan pendekatan Practical Life dalam konteks pendidikan Islam berbasis madrasah. Dengan demikian, terdapat research gap berupa kebutuhan untuk mengembangkan kurikulum Practical Life yang tidak hanya membentuk kecerdasan emosional, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai Islami yang menjadi karakteristik utama madrasah ibtidaiyah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan untuk menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana proses pengembangan kurikulum Practical Life untuk siswa kelas I MI Mumtaza? Sejauh mana tingkat validitas dan kepraktisan kurikulum Practical Life yang dikembangkan? Bagaimana efektivitas penerapan kurikulum Practical Life dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa kelas I MI Mumtaza? Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengembangkan kurikulum Practical Life yang sesuai dengan karakteristik siswa kelas I MI Mumtaza. Mengetahui tingkat validitas dan kepraktisan kurikulum yang dikembangkan. Menganalisis efektivitas kurikulum Practical Life berbasis ADDIE dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kurikulum pendidikan dasar Islam, khususnya dalam merancang pembelajaran yang terintegrasi antara aspek akademik dan emosional melalui kegiatan Practical Life yang bermakna. Literature Review Konsep Kurikulum Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 154 serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran (Ornstein & Hunkins, 2. Kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai pedoman pengajaran, tetapi juga sebagai alat untuk mewujudkan visi pendidikan yang berorientasi pada perkembangan peserta didik secara Dengan kata lain, kurikulum adalah sistem yang menghubungkan antara kebutuhan peserta didik, tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Menurut Tyler . , kurikulum harus bersifat dinamis, adaptif, dan kontekstual terhadap perubahan zaman serta kebutuhan abad ke-21. Kurikulum modern menuntut adanya pembelajaran berbasis kompetensi, karakter, dan kreativitas. Dalam konteks pendidikan Islam, kurikulum memiliki dimensi spiritual yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Al-Attas . menegaskan bahwa pendidikan Islam harus membentuk insan beradab . nsan adab. , yaitu manusia yang memiliki ilmu, amal, dan akhlak. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan Islam perlu mengintegrasikan nilai-nilai moral, akhlak, dan spiritual ke dalam seluruh kegiatan pembelajaran. Selain itu, kurikulum berfungsi untuk menyiapkan peserta didik menghadapi kehidupan Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa pembelajaran akan bermakna apabila siswa terlibat langsung dalam aktivitas yang relevan dengan kehidupan mereka. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu menghubungkan teori dan praktik, sehingga menghasilkan peserta didik yang mandiri, berkarakter, dan memiliki keterampilan hidup . ife skill. Practical Life Curriculum Practical Life Curriculum merupakan inti dari metode Montessori yang dirancang untuk membantu sehari-hari. Montessori . menyatakan bahwa aktivitas praktis membantu anak belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, dan disiplin diri. Kurikulum ini melatih anak melalui empat area utama: Care Self (Perawatan Dir. Melatih anak mengurus diri sendiri seperti berpakaian, makan, menjaga kebersihan, dan merawat tubuh. Aktivitas ini meningkatkan rasa tanggung jawab dan percaya diri (Lillard, . Care Environment (Perawatan Lingkunga. Melibatkan anak dalam menjaga lingkungan seperti menyapu, menyiram tanaman, atau merapikan kelas. Nilai yang ditanamkan meliputi kedisiplinan, kebersihan, dan amanah sebagai khalifah di bumi. Care of Others (Keterampilan Sosia. Mengajarkan anak sopan santun, empati, dan kerja sama melalui aktivitas seperti menyapa, membantu teman, dan mengucapkan terima . Care of Learning Tools & Control of Movement: Melatih keterampilan motorik halus seperti menuang air, mengancingkan baju, hingga Aktivitas menumbuhkan kesabaran, ketelitian, dan Kurikulum ini relevan dengan pendidikan Islam karena selaras dengan nilai-nilai akhlakul karimah, seperti disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian Kecerdasan Emosional dan Relevansinya Menurut Goleman . , kecerdasan emosional mencakup lima aspek: Kesadaran diri, . Pengaturan diri, . Motivasi, . Empati, dan . Keterampilan sosial. Aktivitas Practical Life sangat erat kaitannya dengan pengembangan kecerdasan emosional. Kegiatan seperti menyiram tanaman menumbuhkan empati, menyapu melatih kesabaran, dan makan bersama mengembangkan keterampilan sosial. Penelitian Miller . dan Nisa . menunjukkan bahwa keterlibatan anak dalam aktivitas praktis meningkatkan regulasi emosi dan kemampuan sosial mereka secara signifikan. Research Method Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan Research and Development (R&D) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE, yang terdiri dari lima Analysis. Design. Development. Implementation, dan Evaluation. Model ini dipilih karena sistematis, fleksibel, serta sesuai untuk mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan peserta didik. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 155 | JPI. Vol. No. September 2025 Subjek dan Teknik Sampling Penelitian ini melibatkan: A 25 siswa kelas 1 MI Mumtaza Islamic School. A 2 guru kelas, dan A 2 validator ahli . pakar pendidikan dasar dan 1 psikolog ana. Pemilihan dilakukan menggunakan purposive sampling, yaitu berdasarkan kriteria: A Siswa berusia 6Ae7 tahun dan aktif mengikuti kegiatan belajar. A Guru yang memahami karakteristik siswa kelas rendah, dan A Ahli yang memiliki latar belakang pendidikan serta pengalaman relevan. Prosedur Penelitian Berdasarkan Model ADDIE Analysis (Analisi. Meliputi analisis kebutuhan siswa, guru, dan lingkungan belajar. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil menunjukkan perlunya kurikulum yang Islam keterampilan hidup dan kecerdasan emosional. Design (Perancanga. Menyusun rancangan awal kurikulum Practical Life dengan empat tema utama: Care of Self. Care of Environment. Care of Others, dan Care of Learning Tools. Setiap tema berisi: A Tujuan pembelajaran. A Aktivitas mingguan. A Indikator ketercapaian, dan A Instrumen penilaian berbasis observasi. Development (Pengembanga. Kurikulum menggunakan lembar validasi dengan skala Likert 1Ae4, mencakup: A Aspek kesesuaian isi. A Kejelasan indikator. A Relevansi kegiatan, dan A Kelayakan bahasa dan tampilan. Nilai rata-rata Ou 3,2 dikategorikan Ausangat Ay Masukan ahli dijadikan dasar revisi, terutama emosional agar lebih terukur. Implementation (Implementas. Uji coba terbatas dilaksanakan pada 25 siswa selama 4 minggu. Guru menggunakan panduan kurikulum dan lembar observasi, sementara peneliti mendampingi untuk memantau respons, kesulitan, dan dampak terhadap perilaku anak. Evaluation (Evaluas. Dilakukan dua tahap: Formative Evaluation: selama pelaksanaan melalui observasi dan refleksi guru. Summative Evaluation: di akhir kegiatan untuk menilai peningkatan kecerdasan emosional dan kepraktisan kurikulum. Instrumen Penelitian . Lembar Validasi Ahli Ae menilai kesesuaian isi, kejelasan indikator, dan relevansi . Lembar Observasi Aktivitas Siswa Ae mengukur kemandirian, tanggung jawab, empati, dan keterampilan sosial berdasarkan aspek Goleman. Angket Guru dan Orang Tua Ae untuk menilai Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif . ata-rata skor Liker. dan kualitatif . asil observasi dan refleksi gur. Alur Penelitian Secara garis besar, tahapan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: Analisis Kebutuhan Ie Desain Kurikulum Ie Validasi Ahli Ie Revisi Ie Implementasi Terbatas Ie Evaluasi dan Refleksi. Pembahasan Penelitian pengembangan kurikulum Practical Life untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa kelas 1 MI Mumtaza Islamic School melalui model ADDIE menghasilkan beberapa temuan utama yang diperoleh dari proses validasi ahli, uji praktikalitas guru, serta observasi efektivitas terhadap siswa. Validasi Ahli Kurikulum Hasil validasi oleh ahli kurikulum menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan sangat layak dengan rata-rata skor 89% . ategori sangat vali. Aspek yang dinilai meliputi kesesuaian tujuan, isi, strategi pembelajaran, dan instrumen evaluasi. Ahli menyatakan bahwa kegiatan Practical Life telah terintegrasi secara komprehensif dengan nilai-nilai pendidikan Islam dan selaras dengan capaian pembelajaran Fase A Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 156 Masukan utama dari validator berkaitan dengan emosional, terutama pada aspek self-regulation dan Setelah revisi, kurikulum menampilkan indikator yang lebih operasional dan dapat diamati langsung oleh guru. Validasi Psikolog Anak Validasi psikolog anak menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 91%, dengan kategori sangat Psikolog menilai bahwa aktivitas dalam kurikulum Practical Life sesuai dengan prinsip developmentally appropriate practice (DAP) bagi anak usia 6Ae7 tahun. Temuan rinci menunjukkan bahwa: A Kegiatan perawatan diri . eperti menyikat gigi dan melipat pakaia. elf-awarenes. pengaturan diri . elf-regulatio. A Aktivitas perawatan lingkungan dan kerja sama dengan teman meningkatkan empati dan keterampilan sosial. A Aktivitas menumbuhkan konsistensi, tanggung jawab, serta motivasi intrinsik anak. Praktikalitas oleh Guru Penilaian guru terhadap aspek kepraktisan menunjukkan skor rata-rata 87% . ategori sangat Guru menyatakan bahwa kurikulum mudah diterapkan, relevan dengan kondisi kelas, dan memberikan variasi kegiatan yang menarik bagi Selain itu, adanya parenting corner yang melibatkan orang tua juga dinilai memperkuat kesinambungan pembelajaran antara rumah dan Efektivitas Kurikulum Efektivitas kurikulum diukur melalui tes kecerdasan emosional dan observasi perilaku siswa sebelum dan sesudah implementasi. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai n-gain sebesar 0,67, termasuk kategori sedangAetinggi. Secara kualitatif, guru mengamati adanya perubahan perilaku yang positif, seperti: A Siswa lebih mampu mengendalikan emosi ketika bekerja kelompok. A Meningkatnya kepedulian terhadap teman . isalnya membantu saat kesulita. A Bertambahnya menyelesaikan tugas-tugas harian seperti membereskan meja dan peralatan belajar. Diskusi Temuan penelitian ini menguatkan teori Goleman . yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional terdiri dari lima aspek utama Ai self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, dan social skills Ai yang dapat Implementasi kurikulum Practical Life di MI Mumtaza terbukti mampu menstimulasi kelima aspek tersebut secara alami melalui aktivitas keseharian anak. Konfirmasi terhadap Teori dan Penelitian Terdahulu Hasil penelitian ini mengonfirmasi temuan Lillard . bahwa aktivitas berbasis Montessori meningkatkan fokus, kemandirian, dan kontrol diri Demikian pula. Isaacs . menekankan bahwa Practical Life Exercises berfungsi sebagai dasar pembentukan karakter sosial dan emosional. Namun, penelitian ini memperluas konteks dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islamic Education, seperti tanggung jawab sebagai khalifah . dan kepedulian terhadap sesama . Dengan demikian, temuan ini menambahkan dimensi spiritual dan moral yang belum banyak dibahas pada studi Montessori Selain itu, hasil penelitian ini berbeda dengan temuan Nisa . yang berfokus pada peningkatan kemandirian anak melalui aktivitas praktis di taman kanak-kanak. Penelitian ini menambahkan dimensi baru berupa pengukuran langsung kecerdasan emosional siswa sekolah dasar Islam, serta validasi psikolog anak untuk memastikan kesesuaian tahap perkembangan emosional siswa. Implikasi Teoretis Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum berbasis aktivitas nyata dapat menjadi jembatan antara teori kecerdasan emosional Goleman dan pendekatan pembelajaran berbasis nilai Islam. Aktivitas seperti menyiram tanaman, berbagi dengan teman, atau menata alat tulis bukan hanya pembiasaan perilaku, tetapi juga bentuk emotional regulation training yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini sekolah dasar. Keterpaduan Montessori . emandirian dan pengalaman konkre. dan pendidikan Islam . khlak dan tanggung jawa. membentuk model kurikulum yang holistik. Hal ini memperkuat pandangan Al-Attas . bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menumbuhkan adab, bukan sekadar pengetahuan. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 157 | JPI. Vol. No. September 2025 Implikasi Praktis Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap: Guru, dalam bentuk panduan kurikulum dan instrumen observasi yang mudah digunakan untuk menilai perkembangan emosional siswa. Sekolah, sebagai model integrasi pendidikan karakter dan Islam yang kontekstual. Orang tua, melalui parenting corner yang membantu mereka mendukung pembentukan kecerdasan emosional anak di rumah. Selain itu, keberhasilan implementasi dengan nilai n-gain 0,67 menunjukkan bahwa program Practical Life dapat dijadikan strategi pembelajaran berbasis proyek dan kebiasaan . abit-based learnin. di madrasah dasar. Kontribusi Penelitian Penelitian ini memberikan dua kontribusi utama: Kontribusi konseptual: Menyediakan model kurikulum berbasis Practical Life yang nilai-nilai Islam, memperkaya literatur pendidikan karakter di konteks madrasah. Kontribusi empiris: Menunjukkan efektivitas empiris dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa melalui aktivitas sederhana namun bermakna. Kesimpulan Diskusi Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan kurikulum Practical Life berbasis nilai Islam dapat menjadi inovasi kurikulum efektif dalam membentuk kecerdasan emosional siswa sekolah dasar. Kegiatan-kegiatan sederhana seperti merapikan alat tulis, menyiram tanaman, dan membantu teman terbukti menjadi sarana konkret untuk menanamkan empati, tanggung jawab, serta kemandirian Ai yang merupakan fondasi kecerdasan emosional anak usia Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan kurikulum Practical Life berbasis model pengembangan ADDIE yang emosional siswa kelas 1 MI Mumtaza Islamic School. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang dikembangkan layak secara akademis dan psikologis, dengan kegiatan yang sesuai prinsip developmentally appropriate practice (DAP) bagi anak usia 6Ae7 tahun. Aktivitas sederhana seperti menyikat gigi, melipat pakaian, atau menumbuhkan kemandirian, disiplin, empati, dan kemampuan pengaturan emosi. Dari hasil validasi ahli, guru, dan psikolog, kurikulum Practical Life memperoleh penilaian kelayakan tinggi dengan tingkat praktikalitas yang baik, serta menunjukkan peningkatan kecerdasan emosional siswa dengan nilai n-gain 0,67 . ategori sedangAetingg. Hal ini menegaskan bahwa kurikulum ini dapat diterapkan secara realistis di madrasah dengan sumber daya yang ada, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya wacana pengembangan kurikulum pendidikan Islam dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islami ke dalam aktivitas kehidupan nyata. Secara praktis, hasil ini memberikan arah baru bagi madrasah untuk mengadopsi model kurikulum berbasis keterampilan hidup . ife skill. dalam rangka membentuk keseimbangan antara aspek kognitif, emosional, sosial, dan spiritual siswa. Oleh karena itu, kurikulum Practical Life layak dijadikan referensi dan diimplementasikan lebih luas di lembaga Islam pembelajaran yang mendukung pembentukan karakter dan kecerdasan emosional anak. Limitations & Further Research Setiap penelitian memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan sebagai bahan refleksi dan dasar pengembangan studi lanjutan. Keterbatasan dalam penelitian ini meliputi beberapa aspek berikut: Lingkup Penelitian Terbatas Penelitian ini hanya dilakukan pada siswa kelas 1 MI Mumtaza Islamic School dengan jumlah partisipan yang relatif kecil. Kondisi tersebut membatasi generalisasi hasil penelitian Solusi: Keterbatasan ini dapat diminimalkan melalui replikasi penelitian di berbagai madrasah atau sekolah dasar dengan karakteristik sosial dan budaya yang berbeda, serta dengan jumlah peserta yang lebih besar. Durasi Implementasi Singkat Proses implementasi kurikulum Practical Life dilaksanakan dalam waktu yang terbatas, sehingga dampak jangka panjang terhadap perkembangan kecerdasan emosional siswa belum dapat diamati secara menyeluruh. Solusi: Untuk memperoleh hasil yang lebih komprehensif, penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan dalam jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu tahun ajaran penuh. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 158 guna memantau perkembangan dan stabilitas perubahan perilaku anak. Fokus pada Validasi Akademik dan Psikologis Penelitian ini menitikberatkan pada aspek validasi dari ahli kurikulum, guru, dan psikolog Namun, faktor eksternal seperti peran keluarga, lingkungan sosial, serta konteks Solusi: Penelitian berikutnya dapat melibatkan orang tua dan komunitas sekolah secara aktif agar implementasi kurikulum Practical Life lebih holistik dan kontekstual. Instrumen Kecerdasan Emosional Terbatas Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional masih berbasis tes dan observasi guru, sehingga belum memberikan gambaran yang sepenuhnya mendalam mengenai perkembangan emosi anak. Solusi: Penggunaan teknik triangulation seperti wawancara mendalam, jurnal reflektif siswa, dan portofolio kegiatan dapat memperkaya data serta meningkatkan validitas hasil pengukuran. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan yang ditemukan, beberapa rekomendasi untuk pengembangan penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut: Perluasan Lokasi Penelitian Penelitian serupa perlu dilaksanakan di berbagai madrasah atau sekolah dasar dengan kondisi sosial-budaya yang beragam untuk menguji konsistensi dan validitas eksternal kurikulum Practical Life. Implementasi Jangka Panjang Disarankan agar penelitian lanjutan dilakukan dengan periode implementasi yang lebih panjang untuk melihat dampak berkelanjutan terhadap pembentukan kecerdasan emosional dan karakter anak. Keterlibatan Orang Tua Program Practical Life sebaiknya melibatkan orang tua melalui kegiatan rumah tangga sederhana yang mendukung pembiasaan di sekolah, sehingga terjadi kesinambungan antara lingkungan belajar di madrasah dan di Pengayaan Instrumen Evaluasi Evaluasi kecerdasan emosional dapat diperluas dengan pendekatan autentik seperti student reflection journals, portofolio kegiatan, dan penilaian sejawat . eer assessmen. , guna memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh. Integrasi dengan Kurikulum Pendidikan Islam Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan modul Practical Life yang terintegrasi dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga pembentukan kecerdasan emosional anak berjalan seiring dengan penguatan nilai spiritual dan moral Islami. Referensi