JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Pengelolaan Program Alfamart Class Sebagai Teaching Factory di SMK Negeri 1 Gowa Desy Fitriani1*. Faridah1. Sri Hastuti1 Program Studi Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia. *Corresponding Author: Desy Fitriani. Program Studi Administrasi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia. desyf051202@gmail. DOI: 10. 29303/jpap. A 2026 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Abstrak: Penelitian ini mengkaji pengelolaan program Alfamart Class sebagai Teaching Factory di SMK Negeri 1 Gowa, yang mencakup proses kemitraan, pelaksanaan, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses kemitraan, pelaksanaan, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program Alfamart Class sebagai Teaching Factory di SMK Negeri 1 Gowa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang SDM sekaligus pembina Business Center, serta ketua jurusan pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Proses kemitraan berawal dari inisiatif sekolah melalui jurusan pemasaran, yang kemudian diformalisasi melalui penandatanganan MoU antara Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Dalam pelaksanaannya, program dilakukan bertahap mulai dari seleksi peserta oleh pihak Alfamart, pembelajaran teori dan praktik di Business Center, hingga Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Alfamart. Kegiatan pembelajaran dirancang dengan proporsi 30% teori dan 70% praktik, melibatkan guru tamu dari Alfamart, serta pelatihan Training of Teacher (ToT). Evaluasi dilakukan secara berkala melalui monitoring bersama pihak Alfamart 3. Keberhasilan program didukung oleh kesiapan sarana sekolah, komitmen kedua belah pihak, dan antusiasme siswa, meskipun masih ada kendala seperti keterbatasan fasilitas praktik, penyesuaian jadwal kegiatan antara sekolah dan Alfamart, serta keterbatasan kuota peserta. Kata Kunci: Pengelolaan. Alfamart Class. Teaching Factory. Kemitraan. Pendahuluan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia disiapkan oleh pemerintah untuk menghasilkan tenaga kerja kompeten yang siap memasuki dunia kerja dan beradaptasi dengan perkembangan IPTEK. Namun, tantangan besar muncul dari tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik . , pada tahun 2024 angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) relatif tinggi, yaitu 7,49%. Walaupun angka pengangguran mengalami penurunan pada tahun 2025 menjadi 6,81%. Masalah utama terletak pada rendahnya daya serap industri serta ketidaksesuaian . antara kompetensi lulusan dan kebutuhan nyata di lapangan. Oleh karena itu, sekolah kejuruan diwajibkan menjalin kemitraan yang erat dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kemitraan adalah kerja sama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah dengan Usaha Besar (Peraturan Pemerintah RI Nomor 17 Tahun. Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 menginisiasi revitalisasi SMK dengan menekankan kebijakan Link and Match untuk menyinkronkan kurikulum sekolah dengan standar industri (BPK, 2. Kerja sama antara sekolah kejuruan dan DUDI mencakup beberapa bentuk konkret, yaitu sinkronisasi kurikulum, praktik kerja industri atau magang, serta perekrutan (Ixtiarto & Sutrisno, 2. Di samping itu, pendidikan di SMK juga diarahkan untuk mencetak lulusan yang produktif, ___________ Sitasi: Fitriani. Faridah, & Hastuti. Pengelolaan Program Alfamart Class Sebagai Teaching Factory di SMK Negeri 1 Gowa. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 298Ae302. https://doi. org/10. 29303/jpap. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan tanggap terhadap perubahan, serta mampu berinovasi dalam lingkungan sosial dan ekonomi yang terus berkembang (Prasetyowati et al. , 2. Pelaksanaan kemitraan antara SMK dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), industri memiliki karakteristik pengembangan yang berlandaskan pada kebijakan yang memperkuat yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pedoman pelaksanaan kerja sama, sehingga kegiatan kemitraan dapat berjalan secara terarah sesuai dengan tujuan yang telah di sepakati (Purnamawati & Yahya, 2. Salah satu model implementatif yang menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan industri adalah Teaching Factory (TEFA), yaitu pendekatan pembelajaran berbasis industri di lingkungan sekolah melalui kolaborasi dengan dunia industri. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 pasal 6 yang menyatakan bahwa AuPenyelenggaraan Pendidikan Vokasi Industri berbasis kompetensi harus dilengkapi LSP, pabrik dalam sekolah, dan UTKAy (BPK. Ayat tersebut mengacu pada konsep Aupabrik di dalam sekolahAy atau yang dikenal dengan istilah Teaching Factory. Teaching Factory sebuah konsep pendidikan yang diterapkan di SMK meliputi pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi serta produksi barang maupun jasa (Direktorat Pembinaan SMK, 2. Dalam konteks industri ritel modern, program Alfamart Class yang merupakan hasil kolaborasi antara PT. Sumber Alfaria Trijaya TBK. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) muncul sebagai TEFA mengintegrasikan kurikulum bisnis ritel. Tujuan utama program ini adalah menghasilkan lulusan SMK yang siap langsung bekerja di industri ritel modern, dengan pendidikan yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kompetensi. Ciri khas Teaching Factory adalah adanya Business Center sebagai laboratorium praktik dan unit usaha sekolah. Berbeda dengan penelitian (Hamidah, 2. lebih menekankan pada peran program teaching factory dalam meningkatkan daya tarik dan citra sekolah melalui strategi pemasaran, (Rambe, 2. membahas integrasi nilai kewirausahaan dalam pembelajaran melalui program Alfamart Class, serta (Ayana, 2. Menilai efektivitas program Alfamart Class dari sisi peningkatan kompetensi siswa, penelitian ini secara khusus difokuskan untuk mengkaji bagaimana proses terbentuknya kemitraan SMK Negeri 1 Gowa dengan industri ritel Alfamart, bagaimana pelaksanaan program Alfamart Class dijalankan sebagai Teaching Factory, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 298-302 Oleh karena itu, pengelolaan Teaching Factory Alfamart Class di satuan pendidikan seperti SMK Negeri 1 Gowa menarik untuk dikaji, mengingat potensi dan karakteristik lokal yang unik serta komitmen sekolah dalam menjalankan program berbasis industri ini. Berdasarkan observasi di SMK Negeri 1 Gowa, pengelolaan Alfamart Class dilakukan melalui mekanisme seleksi siswa, keterlibatan pengajar dari Alfamart, serta tersedianya business center yang memberikan pengalaman kerja riil bagi siswa. Model ini tidak hanya berfungsi sebagai laboratorium praktik melalui Business Center, tetapi juga sebagai jalur cepat untuk menyerap tenaga kerja berkualitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam proses kemitraan SMK dengan Alfamart dan pelaksanaan program Alfamart Class sebagai Teaching Factory, serta faktor penghambat dan pendukung sekaligus menilai efektivitasnya dalam mempersiapkan lulusan yang siap bekerja di industri ritel modern. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam pengelolaan Program Alfamart Class, khususnya terkait proses kemitraan dengan Alfamart, pelaksanaan program, serta faktor pendukung dan Pendekatan ini dipilih karena mempermudah deskripsi hasil penelitian dalam bentuk teks naratif sehingga lebih mudah dipahami. Teknik pengumpulan data meliputi observasi pelaksanaan Alfamart Class. wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang sumber daya manusia sekaligus pembina Business Center, dan siswa. serta dokumentasi berupa MoU antara SMK Negeri 1 Gowa dengan Alfamart, sinkronisasi kurikulum, pelaksanaan program, dan data siswa program Alfamart Class yang berkaitan dengan kemitraan antara SMK dan Alfamart. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode untuk memastikan validitas informasi yang diperoleh (Susanto et al. , 2. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi tahap pengumpulan data, reduksi data, dan penarikan Hasil dan Pembahasan Proses Kemitraan Kemitraan antara SMK Negeri 1 Gowa dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamar. Merupakan bentuk kolaborasi antara pendidikan vokasi dan dunia Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan industri untuk mendukung peningkatan kompetensi peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian, proses kemitraan diawali oleh inisiatif sekolah melalui jurusan pemasaran yang kemudian berkoordinasi dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bidang pemasaran untuk menjalin kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Pihak sekolah kemudian memohon izin dan rekomendasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, yang menyambut baik inisiatif tersebut dengan mengajukan permohonan resmi kepada PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamar. di Kawasan Industri Makassar (KIMA) untuk menjalin kerja sama. Setelah dilakukan komunikasi dan koordinasi antara kedua belah pihak, pihak Alfamart menindaklanjuti dengan meninjau langsung kesiapan sekolah dari aspek sarana dan prasarana, sumber daya manusia, serta kesesuaian program keahlian. Setelah melalui tahap verifikasi dan kesepakatan bersama, kerja sama tersebut selanjutnya diformalkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Dinas Pendidikan dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamar. Adapun ruang lingkup MoU sebagai dasar pelaksanaan bentuk kerja sama meliputi sinkronisasi kurikulum berbasis industri, pembentukan kelas industri Alfamart Class, pelatihan guru melalui Training for Teacher (ToT), pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), serta peluang rekrutmen lulusan. Hal ini menunjukkan bahwa kemitraan antara sekolah dan industri tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencakup integrasi dalam pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan konsep link and match yang menekankan pentingnya keselarasan antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja (Slamet, 2. Proses kemitraan ini mencerminkan implementasi konsep link and match, di mana hubungan . antara sekolah dan industri dibangun melalui kesepakatan formal, sedangkan kesesuaian . diwujudkan melalui sinkronisasi kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang berbasis pada kebutuhan riil Proses peninjauan, verifikasi kesiapan sekolah, hingga penyusunan ruang lingkup kerja sama menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menguntungkan sekolah, tetapi juga memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri. Hal ini sejalan dengan prinsip mutual benefit bahwa kemitraan akan berkelanjutan apabila memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Selain itu, (Sumbodo et al. , . Menjelaskan bahwa pengelolaan SMK yang berorientasi industri perlu didukung oleh kerja sama yang kuat dengan dunia usaha dan dunia industri agar proses Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 298-302 pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Tujuan utama kemitraan ini adalah mencetak lulusan yang siap kerja. Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah Pasal 3 ayat . yang menyatakan bahwa AuPendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesionalAy. Sekolah berupaya menciptakan pengalaman belajar yang menyerupai situasi dunia kerja sebenarnya, di mana siswa tidak hanya memahami teori pemasaran, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung melalui praktik di laboratorium ritel atau business center yang dibangun menyerupai toko Alfamart. Dari sisi peran dan kontribusi, sekolah dan pihak Alfamart memiliki tanggung jawab yang saling Sekolah menyediakan sarana dan prasarana, tenaga pendidik, dan peserta didik, sedangkan Alfamart memberikan dukungan pelatihan bagi guru produktif melalui Training for Teacher (TOT), menyediakan guru tamu, serta membantu pengadaan fasilitas praktik seperti rak etalase dan produk-produk dari Alfamart. Selain itu. Alfamart juga terlibat langsung dalam proses seleksi peserta, pembekalan siswa sebelum praktik kerja lapangan (PKL), serta evaluasi Kemitraan ini tidak hanya menjadi bentuk hubungan fungsional antara lembaga pendidikan dan industri, tetapi juga mencerminkan transformasi pendidikan kejuruan menuju sistem yang adaptif, produktif, dan selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian, proses kemitraan dalam program Alfamart Class tidak dapat dipahami hanya sebagai tahap awal pembentukan program, melainkan sebagai aspek krusial yang menentukan kualitas implementasi Teaching Factory. Kekuatan kemitraan inilah yang menjadi dasar keberhasilan atau efektivitas pelaksanaan program pada tahap berikutnya. Pelaksanaan Program Alfamart Class Pelaksanaan Program Alfamart Class di SMK Negeri 1 Gowa merupakan bentuk implementasi model pembelajaran Teaching Factory, yaitu pendekatan pendidikan dengan sistem kerja yang diterapkan di Model ini memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang mendekati kondisi kerja nyata sehingga dapat meningkatkan kompetensi kerja mereka. Tahapan awal pelaksanaan program dimulai dengan proses seleksi peserta yang dilakukan langsung oleh pihak Alfamart untuk memastikan siswa yang Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan mengikuti program memiliki karakter, kedisiplinan, serta kemampuan komunikasi sesuai dengan standar kerja industri ritel modern. Setelah proses seleksi, kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara bertahap mulai dari kelas X hingga kelas XII. Kelas X hingga awal kelas XI, siswa memperoleh pembelajaran teori dasar mengenai bisnis ritel dan pemasaran dengan alokasi waktu sekitar 12-14 jam per minggu untuk mata pelajaran produktif. Selanjutnya, pada kelas XI, siswa mulai melakukan praktik di Business Center yang dirancang menyerupai lingkungan kerja ritel modern. Praktik ini mencakup kegiatan operasional toko seperti penataan produk, pengelolaan stok, pelayanan pelanggan, dan penggunaan sistem kasir. Pada kelas XII, siswa melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di gerai Alfamart selama sekitar 5 hingga 6 bulan dengan bimbingan supervisor industri. Pembelajaran dalam program ini menerapkan komposisi sekitar 30% teori dan 70% praktik. Komposisi tersebut sesuai dengan karakteristik pendidikan kejuruan yang menekankan penguasaan keterampilan praktis sebagai bekal memasuki dunia kerja (Probonegoro et al. , 2. Siswa sebagai peserta utama dalam Program Alfamart Class merupakan pihak yang secara langsung merasakan dampak dari implementasi kemitraan dan pembelajaran berbasis Teaching Factory. Oleh karena itu, perspektif siswa menjadi indikator penting dalam menilai kualitas dan relevansi program, khususnya dalam kaitannya dengan kesiapan kerja. Program Alfamart Class pengalaman belajar yang lebih aplikatif dibandingkan dengan kelas reguler. Praktik di Business Center dan PKL memberikan gambaran nyata mengenai sistem kerja di kepercayaan diri dan kesiapan kerja mereka setelah Hal ini sejalan dengan konsep Teaching Factory yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman kerja nyata agar siswa memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri (Nurtanto et al. Selain itu, keterlibatan guru tamu dari pihak Alfamart menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran. Pihak Alfamart secara berkala mengirimkan guru tamu untuk memberikan materi terkait praktik industri ritel, baik secara langsung maupun melalui platform daring seperti Zoom Meeting. Kehadiran guru tamu ini memperkaya wawasan siswa tentang praktik kerja terkini serta memperkuat koneksi antara teori di sekolah dan kebutuhan di lapangan. Pihak Alfamart juga memberikan pelatihan Training for Teacher (ToT) bagi guru produktif untuk melanjutkan pembelajaran sesuai standar Alfamart. Juli 2026. Volume 10. Nomor 2, 298-302 Evaluasi Program Alfamart Class di SMK Negeri 1 Gowa dilakukan sebagai bagian integral dari pengelolaan kemitraan berbasis industri. Evaluasi Program Alfamart Class dilakukan melalui monitoring bersama antara pihak sekolah dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamar. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai keterlaksanaan program dan kesesuaian pembelajaran dengan kurikulum hasil sinkronisasi sekolah dan industri. Evaluasi dilakukan melalui penilaian kinerja siswa selama PKL oleh supervisor pelanggan, ketelitian, tanggung jawab, dan kerjasama. Hasil penilaian tidak hanya menjadi evaluasi pembelajaran, tetapi juga menjadi dasar rekomendasi rekrutmen bagi siswa yang menunjukkan kinerja yang Faktor Pendukng dan Penghambat Keberhasilan pelaksanaan Program Alfamart Class di SMK Negeri 1 Gowa tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang memengaruhi jalannya program tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi komitmen antara SMK Negeri 1 Gowa dan Alfamart, ketersediaan Business Center sebagai sarana praktik pembelajaran, sinkronisasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, serta antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran berbasis praktik. Sementara itu, faktor penghambat yang ditemukan antara lain keterbatasan fasilitas praktik yang belum sepenuhnya menyerupai gerai ritel sebenarnya, penyesuaian jadwal kegiatan antara sekolah dan pihak industri, serta keterbatasan kuota peserta program sehingga tidak semua siswa jurusan pemasaran dapat mengikuti Alfamart Class. Namun demikian, jika dilihat dari keseluruhan proses pelaksanaan, pengalaman praktik yang diperoleh siswa, serta peluang rekrutmen yang diberikan oleh pihak Alfamart, program Alfamart Class dapat dikatakan cukup efektif dalam meningkatkan kesiapan kerja peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa kemitraan antara SMK Negeri 1 Gowa dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Telah mampu menciptakan model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja melalui pendekatan Teaching Factory. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Program Alfamart Class di SMK Negeri 1 Gowa merupakan bentuk implementasi kemitraan antara sekolah dan dunia industri dalam mendukung pembelajaran berbasis Teaching Factory. Proses Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan kemitraan diawali oleh inisiatif sekolah melalui jurusan pemasaran yang kemudian diformalkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman antara Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Pelaksanaan program dilakukan secara sistematis melalui seleksi peserta oleh pihak industri, pembelajaran bertahap mulai dari penguatan teori hingga praktik di Business Center, serta Praktik Kerja Lapangan (PKL) di gerai Alfamart dengan komposisi pembelajaran sekitar 30% teori dan 70% praktik. Evaluasi program dilakukan melalui monitoring bersama antara pihak sekolah dan Alfamart, serta penilaian kinerja siswa selama PKL, yang juga menjadi dasar pertimbangan peluang rekrutmen oleh pihak Keberhasilan pelaksanaan program didukung oleh komitmen kemitraan yang kuat, sinkronisasi kurikulum dengan kebutuhan industri, serta antusiasme siswa dalam mengikuti program tersebut. Namun demikian, pelaksanaan program masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas praktik yang belum sepenuhnya menyerupai gerai ritel yang sebenarnya, penyesuaian jadwal antara kegiatan sekolah dan industri, serta keterbatasan kuota Secara keseluruhan. Program Alfamart Class dinilai optimal dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapan kerja siswa karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja di bidang ritel modern. Daftar Pustaka