Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Dharmaning Brahmana dalam Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra I Wayan Juliana Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia julianawayan69@gmail. Abstract This research is motivated by the lack of studies on the transfer of the Aswamedha Parwa text into Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra (GYRK), especially from the perspective of brahmana ethics, amidst the rampant transformation of Balinese literature that often ignores the moral dimension. The purpose of the research is to analyze the representation of brahmana dharma and the concept of lascarya . in GYRK, and to revitalize the philosophical values of Balinese Hinduism through a hermeneutic The method used is textual hermeneutic analysis from the perspective of Hindu literature and philosophy. Primary data are taken from the GYRK and Aswamedha Parwa texts, while secondary data include brahmana ethics literature such as Sarasamuscaya and Agastya Parwa. The results of the study show that Tri Kaya Parisudha . houghts, speech, deed. and lascarya are actualized through the actions of four brahmanas who face moral dilemmas, such as food sacrifices in conditions of famine. The transformation of yadnya from a horse sacrifice ritual to a social sacrifice reflects the adaptation of Balinese Hindu ethical values to the challenges of modernization, such as individualism and poverty. Conflicts between characters in the text are resolved through spiritual integrity, such as sewaka dharma . incere devotio. that goes beyond formal obedience. The conclusion of the study confirms that GYRK not only revitalizes traditional philosophical values, but also becomes a medium for intergenerational ethical dialogue, bridging local wisdom with modern demands through the holistic actualization of dharma. This study contributes to the study of religious literature with a hermeneutic analysis model that integrates text, context, and philosophy, while also offering an adaptive ethical paradigm in responding to global moral degradation. Keywords: Uccawreti Brata. Lascarya. Tri Kaya Parisudha. Hindu Philosophical Values Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya kajian mengenai alih wahana teks Aswamedha Parwa ke dalam Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra (GYRK), khususnya dari perspektif etika brahmana, di tengah maraknya transformasi sastra Bali yang sering mengabaikan dimensi moral. Tujuan penelitian adalah menganalisis representasi dharmaning brahmana dan konsep lascarya . dalam GYRK, serta merevitalisasi nilai filosofis Hindu Bali melalui pendekatan hermeneutik. Metode yang digunakan adalah analisis hermeneutik secara tekstual dari perspektif sastra dan filsafat Hindu. Data primer diambil dari teks GYRK dan Aswamedha Parwa, sementara data sekunder meliputi literatur etika brahmana seperti Sarasamuscaya dan Agastya Parwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tri Kaya Parisudha . ikiran, ucapan, perbuata. dan lascarya teraktualisasi melalui tindakan empat brahmana yang menghadapi dilema moral, seperti pengorbanan makanan dalam kondisi kelaparan. Transformasi yadnya dari ritual korban kuda menjadi pengorbanan sosial merefleksikan adaptasi nilai etika Hindu Bali terhadap tantangan modernisasi, seperti individualisme dan kemiskinan. Pertentangan antar tokoh dalam teks diresolusi melalui integritas spiritual, seperti https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sewaka dharma . engabdian tulu. yang melampaui kepatuhan formal. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa GYRK tidak hanya merevitalisasi nilai filosofis tradisional, tetapi juga menjadi medium dialog etis antargenerasi, menjembatani kearifan lokal dengan tuntutan modern melalui aktualisasi dharma yang holistik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sastra religius dengan model analisis hermeneutik yang mengintegrasikan teks, konteks, dan filsafat, sekaligus menawarkan paradigma etika adaptif dalam merespons degradasi moral global. Kata Kunci: Uccawreti Brata. Lascarya. Tri Kaya Parisudha. Nilai Filosofis Hindu Pendahuluan Fenomena alih wahana karya sastra dari genre satu ke genre lain semakin banyak terjadi dewasa ini. Alih wahana ini seakan menegaskan bahwa sastra adalah seni yang dinamis dengan segala bentuk kreativitas dan perubahannya. Kendati dalam proses alih wahana terjadi perubahan pada narasinya, makna dan pesan moralnya tetap sama (Cika. Dinamika alih wahana terjadi dalam berbagai proses atau bentuk, yaitu alih-bentuk dari suatu bentuk cerita ke cerita lain dengan atau tanpa perubahan, yang jelas substansinya masih sama (Putra, 2021: . Jadi, alih wahana merupakan bidang kritis untuk membicarakan dan memperbincangkan bagaimana ideologi-ideologi merasuk ke dalam bentuk-bentuk baru (Damono, 2. Pengaruh sastra luar terhadap sastra lokal nusantara sebagai hasil alih wahana keberadaannya terasa kuat. Sebagaimana sastra Bali tradisional mendapat pengaruh dari luar seperti sastra Jawa Kuno dan epos Mahabharata dan Ramayana dari India (Agastia. Creese, 2012. Putra, 2. Dalam hal ini jelaslah bahwa sastra Bali tradisional tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw, 1. , sastra juga tidak jatuh dari langit (Damono, 2. Berkaitan dengan alih wahana Jauss . Suarka. menjelaskan bahwa karya sastra merupakan orchestra yang menyuarakan suara-suara terbaru. Sejalan dengan pendapat Jauss, sebuah alih wahana dari satu genre kedalam genre lain penting dilakukan untuk memperluas suara-suara terbaru kepada pembacanya. Hal yang sama dan bahkan lebih jelas terjadi dalam sastra Bali tradisional. Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra . elanjutnya disebut GYRK) merupakan sebuah karya yang lahir dari proses alih wanaha yang bersumber pada Aswamedha Parwa (Agastia. Geguritan yadnya ring Kuruksetra disusun oleh Dokter Ida Bagus Rai dengan menyadur kisah Aswamedha Parwa bagian ke-90. Teks ini mengisahkan empat Brahmana miskin namun senantiasa melaksanakan ucca wretti brata (Westa, 2. Dalam menjalankan kehidupannya yang sederhana, empat Brahmana tidak pernah mengeluh dengan keadaannya dan selalu melaksanakan penyucian diri dengan melaksanakan brata. Analisis ini difokuskan pada aspek dharmaning brahmana dalam GYRK, karena belum pernah dibahas peneliti. Absennya kajian aspek dharmaning brahmana dari perspektif agama Hindu dikarenakan teks GYRK bukan tergolong dalam ithiasa maupun purana meskipun di dalamnya termuat ajaran agama Hindu. Fokus penelitian sebelumnya terletak pada sikap kritis tokoh tikus sebagai penggerak cerita. Penelitian sebelumnya tentang GYRK pernah dilakukan dalam bentuk publikasi oleh Parmini . , skripsi oleh Atmaja . Fokus penelitian terhadap teks GYRK ditelaah dari perspektif upaya menuju kelepasan hingga telaah struktur GYRK secara Parmini . memandang GYRK dari perspektif panca karma yoga, selain itu Parmini menekankan bahwa adaptasi dari Aswamedha Parwa, tidak hanya menjadi medium penyebaran ajaran Hindu tetapi juga refleksi kritis atas tantangan spiritual Atmaja . mengkaji struktur teks secara forma dan nartif disertasi analisis nilai meliputi nilai agama yang terdiri atas tatwa, susila, dan upacara. Dari sejumlah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penelitian yang ada, belum ada kajian yang menelaah dharmaning brahmana secara Sebagaimana diungkapkan Creese . , transformasi sastra Bali sering kali mengabaikan analisis mendalam terhadap dimensi etika karena fokus pada aspek estetika dan struktur. Artikel ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menganalisis representasi dharmaning brahmana dan konsep lascarya dalam GYRK. Orisinalitas penelitian ini dilihat berdasrkan penerapan pendekatan hermeneutik yang mengintegrasikan teks sastra dan filsafat Hindu. Pendekatan hermeneutik sejalan dengan teori Ricoeur . tentang interpretasi teks sebagai dialektika antara makna literal dan simbolis, yang memungkinkan pembacaan multidimensi terhadap nilai-nilai Tri Kaya . ikiran, ucapan, perbuata. dalam GYRK (Stephen, 2. Kajian kali ini juga menekankan pentingnya melaksanakan sebuah brata uccawreti . atihan spiritual keta. sebagai bentuk pengendalian diri, yang sejalan dengan pandangan Kant (Graham, 2. mengenai kehendak baik sebagai dasar moralitas memperkaya Zoetmulder . tentang tyaga . dan satya . sebagai ajaran kebenaran tertinggi. Lebih lanjut, analogi interpretasi sikap brahmana yang mengutamakan dharma di atas kepentingan pribadi. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah kombinasi dari teori struktural (Zaimar, 2. untuk melihat psikologis tokoh didukung teori sosiologi sastra dengan pendekatan karya dan lingkungan (Damono, 2. Konsep sastra sebagai dulce and utile dari Horace (Teeuw, 1. digunakan untuk menganalisis fungsi geguritan dalam mendidik masyarakat pembacanya. Kajian ini disajikan menjadi empat bagian utama yaitu: . konsep tri kaya dan lascarya, . representasi etika empat Brahmana, . transformasi yadnya dan . relevansi kontekstual GYRK. Uraian ini tidak saja bermanfaat terhadap pendalaman teks sastra Bali tradisional, tetapi pada pemahaman bagaimana ajaran agama Hindu dapat berpengaruh terhadap etika dan tata krama umatnya. Metode Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini baik dalam teknik pengumpulan data maupun dalam analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan dua teknik yaitu, studi pustaka dan teknik mencatat. Studi pustaka dilakukan dengan membaca teks GYRK untuk melihat secara menyeluruh dan utuh konstruksi struktur teks, dilanjutkan dengan memberikan penandaan dengan mencatat bagian-bagian yang penting pada teks GYRK. Sumber data primer terdiri dari naskah Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra (GYRK) dan Aswamedha Parwa, sedangkan sumber data sekunder meliputi literatur terkait etika brahmana seperti Sarasamuscaya dan Agastya Parwa. Data yang telah dikumpulkan dari studi kepustakaan tersebut akan dianalisis berdasarkan cara kerja teori yang digunakan. Hasil analisis disajikan sesuai poin-poin utama yang dinyatakan pada akhir bagian Hasil dan Pembahasan Konsep Trikaya dan Lascarya Ada ungkapan bahwa pekerjaan yang paling sulit adalah pekerjaan menjaga Tidak ada yang bisa mengikat pikiran yang mudah berganti dan berubah setiap saat tanpa dikehendaki. Jelasnya, pikiran tidak dapat terkendali tanpa adanya kesadaran kuat dari pengendalinya, sehingga perlu melatih pikiran dengan jalan mengajaknya Dalam pembahasan ini, telaah terhadap geguritan yadnya ring kuruksetra terbatas pada keselarasan pikiran dan tindakan empat brahmana. Keselarasan pikiran dan tindakan empat brahmana teraktualisasi kedalam tindakan yang bisa disebut dengan Lascarya adalah sebuah konsepsi nilai diri yang mengacu pada aktivitas psikis seseorang yang melakukan dengan ikhlas tanpa embel-embel kepentingan terhadap apa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang mereka lakukan pada orang lain. Kata lascarya dalam bahasa Jawa Kuna juga dapat disepadankan dengan kata tyaga yang berarti AopenyerahanAo. AomelepaskanAo. AomengorbankanAo. AoTerbebas dari nafsu atau rasa cinta. Ao AoTidak berkepentinganAo (Zoetmulder, 2. Dalam buku Pulau Bali karya Miguel Covarrubias, digambarkan bahwa masyarakat Bali merupakan masyarakat yang santun, baik dalam tindakan maupun Masyarakat Bali cenderung tidak pernah mau menerima pemberian orang begitu saja, namun pada kesempatan lain mereka akan membalas pemberian tersebut . Hal ini terjadi karena kebanyakan orang Bali memiliki konsep ngemaang . daripada nampi . Ketika menerima . akan terjadi pergolakan bathin bahwa si penerima memiliki hutang kepada si pemberi. Masyarakat Bali mengenal istilah yen ngemaang apang las tusing dadi ingetang . alam memberi mestilah ikhlas jangan selalu diinga. Keadaan seperti ini akan menghindarkan mereka ke dalam Sesonggan . : Lega Seluk yang berarti Aomenceritakan kemana-mana atau menuntut karena pernah memberi sesuatu. Ao Konsep Lascarya dapat dilaksanakan dalam ranah yang lebih luas. Dalam melaksanakan pekerjaan, masyarakat sepantasnya bekerja dengan ikhlas terhadap pekerjaannya tanpa mengeluh. Pekerjaan adalah kewajiban . yang sudah sepantasnya dikerjakan berlandaskan keikhlasan. Dalam GYRK konsep lascarya ditunjukan melalui perbuatan baik oleh setiap brahmana. Sebagaimana yang dikemukakan oleh filsuf Kant dalam karyanya yang terkenal AuThe Groundwork to the Metaphysics of MoralsAy. Dalam karyanya ini. Kant mengetengahkan karakter fundamental dan rasional dari pemikiran dan tindakan moral. Berikut kutipan pemikiran Kant mengenai kebaikan dan kejahatan. Tidak ada satupun di dunia ini bahkan dalam kehidupan setelah dunia ini yang dapat diyakini sebagai kebaikan tanpa kualifikasi keinginan yang baik. Kecerdasan, kecerdikan, pemikiran, dan potensi-potensi pikiran lainnya, apa pun namanya atau keberanian, keteguhan hati, dan ketekunan sebagai kualitas temperamen, adalah merupakan hal baik dan diinginkan. Kekuasaan, kekayaan, kehormatan, kesehatan, kesejahteraan, kepuasan dengan kondisi seseorang yang kemudian disebut kebahagiaan, akan berubah menjadi kesombongan dan bahkan sikap arogan jika tidak ada hal baik mengoreksi pengaruh hal-hal tersebut dalam pikiran dan prinsip tindakan membuat hal-hal tersebut dapat diterima universal. Dengan demikian, kehendak yang baik merupakan dasar dari kondisi yang sangat diperlukan bagi tumbuhnya kebahagiaan (Kant dalam Graham, 2. Kebaikan muncul akibat dari sebuah pikiran yang baik dan tulus. Secara alamiah kebaikan sudah ada dalam setiap watak manusia secara universal. Perasaan simpati muncul disebabkan karena adanya perasaan merasakan hal yang sama. Begitu pula halnya dalam GYRK, empat brahmana yang sempat mengalami kelaparan beberapa hari akibat bencana kekeringan kemudian kedatangan tamu tua renta saat mereka akan menyantap Analisis mendalam terhadap Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra (GYRK) mengungkap bahwa konsep lascarya . dan Tri Kaya . ikiran, ucapan, perbuata. teraktualisasi secara konkret melalui tindakan empat brahmana dalam situasi dilematis, sekaligus merefleksikan dinamika etika yang kompleks dalam konteks transformasi sastra dan realitas sosio-kultural Bali. Keempat brahmana ayah, istri, anak, dan menantu menunjukkan keselarasan antara manacika . ikiran tulu. , wacika . capan santu. , dan kayika . erbuatan ikhla. melalui pengorbanan makanan mereka kepada tamu tua renta meski dalam kondisi kelaparan. Brahmana lanang, sebagai kepala keluarga, menegaskan prinsip tyaga . dengan menyatakan ngarahina https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH ngamargiang dharma: sehari-hari menjalankan kebenaran . , yang tidak hanya mencerminkan kewajiban moral . tetapi juga spiritualitas Hindu dalam mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi. Istri brahmana mengaitkan lascarya dengan Catur Purusa Artha, menekankan keseimbangan antara kewajiban spiritual . dan tanggung jawab material . , sementara anak brahmana menghadapi konflik antara putra sesana . akti pada orang tu. dan altruisme, memilih menolong tamu dengan argumen I bapa ne sampun tua, tan bina kadi anak alit, sane patut kapiara: ayah yang sudah renta tidak lain seperti balita, haruslah dirawat . , sesuai ajaran Sarasamuscaya . tentang definisi Auputra sejatiAy. Menantu brahmana, di sisi lain, menunjukkan sewaka dharma . engabdian tulu. yang melampaui kepatuhan formal, merefleksikan konsep karma yoga dari Bhagavad Gita. Transformasi nilai dari Aswamedha Parwa ke GYRK tidak hanya mengalihkan yadnya dari ritual korban kuda menjadi pengorbanan sosial, tetapi juga merevitalisasi etika Hindu Bali melalui metafora Auseduk: laparAy yang mengkritik individualisme Tindakan brahmana mencerminkan filosofi ngemaang . yang dijelaskan Covarrubias . Konsep lascarya dalam GYRK juga beresonansi dengan teori Kant tentang Aukehendak baikAy (Graham, 2. , tetapi diperkaya dimensi spiritual Hindu, di mana keikhlasan diyakini sebagai jalan mencapai moksa. Meski tindakan brahmana mungkin dianggap utopis dalam realitas modern. GYRK menjawabnya melalui metafora ujian spiritual: pengorbanan total justru menjadi kunci kebebasan sejati . , sesuai ajaran Sarasamuscaya. Penelitian ini tidak hanya menegaskan relevansi GYRK sebagai medium edukasi moral yang kontekstual terutama dalam resolusi dilema antargenerasi tetapi juga memperkaya kajian sastra religius dengan model analisis hermeneutik interdisipliner yang mengintegrasikan teks dan filsafat Hindu. Temuan ini membuka ruang untuk eksplorasi lanjutan, seperti perbandingan lascarya dengan konsep ahimsa dalam tradisi lain atau studi empiris tentang internalisasi nilai GYRK dalam pendidikan karakter generasi muda Bali. Secara keseluruhan. GYRK menjadi simbol integritas moral yang menjembatani tradisi dan modernitas, menawarkan paradigma etika holistik untuk merespons degradasi moral global Representasi Etika Empat Brahmana Tokoh brahmana yang menjadi sentral penceritaan dalam GYRK merepleksikan laku . Etos keteguhan nan suci inilah yang sekiranya ingin dimunculkan sebagai dasar pikiran dan perbuatan seorang brahmana oleh dokter Ida Bagus Rai. Dalam GYRK, dokter Ida Bagus Rai dengan tegas menggambarkan dharmaning brahmana, yang senantiasa menjaga pikiran. Aktualisasi pikiran menjadi penting dalam menunjukkan identitas dari kaum brahmana yang ditekankan berulang kali oleh dokter Ida Bagus Rai dalam GYRK. Pengendalian diri sendiri dalam kondisi lapar menjadi penekanan berulang kalii. Syduky mrupa gygodan, bangyt pisan mangulgulin: lapar adalah wujud godaan, hal itu amatlah mengganggu. Dokter Ida Bagus Rai menyadari bahwa rasa lapar merupakan kondisi yang dapat mengganggu keteguhan diri, beliau memberikan gambaran latihan lapar oleh para empat brahmana dengan melaksanakan ucca wreti brata. Hasil latihan dan keterbiasaan lapar dari empat brahmana ini menjadikan mereka mampu tetap berpikir dan berbuat yang tepat sebagaimana dharma mereka sebagai brahmana. Pada bait 18-31 GYRK, brahmana lanang sebagai kepala keluarga menyatakan: tiwas titiange tan sipi, durus puniki unggahang, kanggeang wantah akedik, sampunang sengsaya malih, titiang polih wiakti antuk, ngarahina ngamargiang dharma: miskin hamba tak terperikan, silakan ini dinikmati, maklumi hanya sedikit, tidak usah ragu, saya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mendapatkannya karena, sehari-hari menjalankan kebenaran. Ucapan ini menunjukkan keselarasan antara manacika . yang tulus untuk berbagi, wacika . yang santun, dan kayika . menyerahkan makanan. Meski terancam kelaparan, brahmana ini mengutamakan dharma sebagai kewajiban moral. Hal ini sejalan dengan teori Kant tentang Aukehendak baikAy . sebagai dasar moralitas (Graham, 2. , di mana tindakan etis muncul dari niat dalam diri, bukan pamrih. Namun. GYRK memperkaya konsep ini dengan konteks Hindu Bali, lascarya tidak hanya rasional, tetapi juga spiritual, karena diyakini sebagai jalan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi. Konflik batin yang dialami anak brahmana . memperlihatkan dinamika antara putra sesana . ewajiban berbakt. dan lascarya. Meski ayahnya melarang, anak tersebut bersikeras membantu tamu tua dengan argumen: AuAyah yang sudah renta, haruslah dirawatAy. Di sini, lascarya tidak sekadar pengorbanan, tetapi juga penghormatan terhadap hierarki nilai dalam dharma. Tindakan ini sesuai dengan ajaran Sarasamuscaya yang mendefinisikan Auputra sejatiAy sebagai seseorang yang berperilaku dengan etika. Nihan singngah anak, ikang uarananing anAtha, tumulung kadang kalaran doning uakitnya, dAnAkina donya antuknya angarjana, panganining daridya donyan pasuruhan, ikang mangkana, yatikAnak ngarannya: yang sebenarnya disebut putra adalah orang yang menolong waktu kesusahan, yang segala tenaganya dipergunakan untuk menolong keluarga yang kesakitan, yang mendanakan hasil keuntungannya dengan memberi makan pada orang yang melarat. Orang yang demikian barulah disebut putra (Sarasamuscaya. Konsep Tri Kaya dalam Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra berfungsi sebagai filter moral yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan material, sebagaimana tercermin dalam tindakan istri brahmana yang menegaskan Audharma dan artha pantas dibagiAy. Pernyataan ini menunjukkan bahwa lascarya . tidak hanya terbatas pada ranah Peran menantu brahmana dalam GYRK, menawarkan eksplorasi mendalam tentang konsep sewaka dharma . engabdian tulu. yang melampaui kepatuhan formal. Meski dilarang oleh brahmana lanang . untuk memberikan makanannya kepada tamu tua renta, menantu tersebut bersikeras dengan argumen Aumengabdikan diri kepada junjunganAy. Tindakan ini bukan sekadar pembangkangan, melainkan bentuk pengabdian yang berakar pada kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral. Dalam budaya Bali, hubungan menantu-mertua seringkali diatur oleh hierarki ketat, di mana kepatuhan dianggap sebagai keutamaan. Namun. GYRK menggeser paradigma ini dengan menegaskan bahwa sewaka dharma tidak terbatas pada ketaatan struktural, tetapi pada komitmen untuk menjaga dharma keluarga secara holistik termasuk merawat tamu sebagai perwujudan yadnya . engorbanan suc. Dengan demikian, menantu brahmana menjadi simbol agensi moral yang mengutamakan nilai inti lascarya . di atas norma sosial yang rumit. Konteks filosofis tindakan ini diperkuat oleh kutipan dalam Agastya Parwa yang menyatakan bahwa Aupikiran lebih berharga daripada perkataanAy. Pernyataan ini menjelaskan mengapa motivasi internal menantu meski bertentangan dengan otoritas mertua tetap dianggap suci. Dalam tradisi Hindu Bali, manacika . dipandang sebagai sumber utama tindakan etis, karena konsep tersebut mencerminkan kesadaran murni yang bebas dari pamrih. Motivasi menantu untuk menolong tamu tua tidak lahir dari keinginan untuk dipuji atau diakui, melainkan dari refleksi mendalam tentang kewajiban sebagai bagian dari keluarga brahmana. Hal ini sejalan dengan konsep niskAma karma dalam Bhagavad Gita, di mana tindakan tanpa keterikatan pada hasil dianggap sebagai bentuk ibadah tertinggi. Dengan kata lain. GYRK tidak hanya menggambarkan konflik antargenerasi, tetapi juga menawarkan resolusi etis yang berlandaskan pada integritas pikiran . sebagai fondasi moral. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Temuan ini secara langsung melengkapi penelitian Creese . yang menyatakan kecenderungan penelitian sastra Bali kerap mengabaikan analisis etika demi fokus pada estetika dan identitas kultural. GYRK justru membuktikan bahwa sastra Bali mampu mengeksplorasi kompleksitas moral melalui dialog antartokoh, bahkan dalam konteks transformasi teks klasik. Konflik antara menantu dan mertua bukan sekadar dramatisasi naratif, melainkan medium untuk mempertanyakan ulang hierarki nilai dalam masyarakat seperti otoritas versus kebijaksanaan, atau kepatuhan versus integritas GYRK menunjukkan bahwa etika dalam sastra Bali tidak statis, konsep ini berevolusi melalui interaksi antara nilai tradisional . ewaka dharm. dan tantangan kontemporer . ndividualisme, kemiskina. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi celah akademis yang diidentifikasi Creese, tetapi juga menegaskan bahwa sastra transformatif seperti GYRK dapat menjadi cermin kritis bagi dinamika sosio-spiritual masyarakat Bali modern, sekaligus panduan untuk merespons degradasi moral dengan kearifan yang adaptif harus diaktualisasikan dalam konteks material . tanpa mengabaikan spiritualitas, sehingga menciptakan keselarasan antara kewajiban moral . dan kesejahteraan duniawi. Hal ini sejalan dengan filosofi Catur Purusa Artha, di mana dharma menjadi fondasi untuk mencapai artha . dan moksa . ebebasan spiritua. , sekaligus mengkritik dikotomi yang sering memisahkan keduanya. Temuan ini memperkaya teori Rubinstein . tentang etika Hindu dengan menambahkan dimensi praktis, bahwa lascarya bukan sekadar ideal filosofis, tetapi juga strategi survival dalam kondisi krisis, seperti kelaparan yang dialami brahmana. Dalam situasi tersebut, istri brahmana tidak hanya mempertahankan integritas spiritual melalui pengorbanan makanan, tetapi juga menjamin kelangsungan harmoni sosial . dengan menghindari konflik akibat Dengan demikian. GYRK menegaskan bahwa etika Hindu bersifat holistik nilainilai luhur seperti lascarya dan Tri Kaya tidak hanya relevan dalam ritual, tetapi juga menjadi panduan konkret untuk bertahan dalam kesulitan, sekaligus merevitalisasi relevansi dharma sebagai prinsip yang adaptif dan aplikatif dalam realitas sosio-kultural Transformasi Konsep Yadnya Penelitian ini mengungkap bahwa lascarya dalam Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra berfungsi sebagai rekontekstualisasi etis nilai-nilai Aswamedha Parwa diadaptasi tanpa kehilangan esensi, tetapi diperkaya dengan konteks sosio-kultural Bali. Contoh nyata terlihat pada transformasi konsep yadnya . orban suc. yang tidak lagi terbatas pada ritual fisik seperti pengorbanan kuda dalam teks asli, tetapi meluas menjadi pengorbanan sosial melalui tindakan berbagi makanan dalam kondisi kelaparan. Hal ini berbeda dengan adaptasi Kakawin Ramayana yang lebih fokus pada preservasi struktur naratif (Suardana, 2. , sementara GYRK justru menekankan dimensi moral Dengan demikian, teks ini menjadi contoh konkret bagaimana transformasi sastra tidak hanya melestarikan warisan filosofis, tetapi juga menjadi medium edukasi moral yang relevan bagi generasi muda, sebagaimana ditegaskan Fox . tentang peran naratif dalam internalisasi nilai etika. Melalui pendekatan ini. GYRK tidak hanya mempertahankan makna sakral yadnya, tetapi juga merevitalisasinya sebagai tindakan sehari-hari yang responsif terhadap tantangan kemiskinan dan individualisme modern. Temuan ini menegaskan bahwa adaptasi sastra bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, di mana nilai-nilai luhur tidak hanya diwariskan, tetapi juga diaktualisasikan secara kontekstual untuk menjawab masalah kekinian, sekaligus memperkaya khazanah kajian sastra religius dengan perspektif yang dinamis dan aplikatif. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Geguritan Yadnya Ring Kuruksetra, tidak hanya mempertahankan nilai filosofis Aswamedha Parwa, tetapi juga merevitalisasinya melalui pendekatan kontekstual yang adaptif terhadap realitas sosio-kultural Bali. Transformasi naratif yadnya . orban suc. dari ritual pengorbanan kuda dalam teks asli menjadi pengorbanan sosial seperti berbagi makanan dalam kondisi kelaparanmenjadi bukti konkret bagaimana GYRK mengalihkan fokus dari simbolisme religius murni ke tindakan etis sehari-hari. Misalnya, tindakan empat brahmana yang mengorbankan kebutuhan pribadi demi menolong tamu tua renta tidak hanya merefleksikan ajaran dharma Hindu, tetapi juga merespons tantangan kemiskinan dan individualisme modern. Proses ini sejalan dengan konsep ethical recontextualization, di mana nilai-nilai luhur dipertahankan tanpa mengabaikan relevansi kontekstual, sebagaimana dijelaskan Wiana . tentang pentingnya adaptasi budaya dalam menghadapi degradasi etika global. Dengan demikian. GYRK tidak hanya menjadi medium pelestarian, tetapi juga ruang dialog antara tradisi dan dinamika zaman. Keempat brahmana, ayah, istri, anak, dan menantu menjadi simbol integritas moral yang menjembatani tradisi dan modernitas melalui aktualisasi Tri Kaya . ikiran, ucapan, perbuata. dan lascarya . Brahmana lanang, misalnya, menegaskan dharma sebagai pemimpin keluarga dengan mengedepankan prinsip tyaga . , sementara anak brahmana mengonfrontasi otoritas ayahnya demi menjunjung putra sesana . yang tercermin dalam tindakan menolong tamu. Konflik ini tidak hanya menggambarkan ketegangan antargenerasi, tetapi juga menawarkan resolusi etis yang berakar pada kesadaran spiritual. Menantu brahmana, dengan sikap sewaka dharma-nya, menunjukkan bahwa pengabdian tulus melampaui kepatuhan formal sebuah kritik halus terhadap rigiditas hierarki sosial. Dalam konteks global di mana nilai-nilai individualistik mengikis kohesivitas komunitas, keempat tokoh ini menjadi paradigma tentang bagaimana integritas moral dapat menjadi penangkal degradasi etika, sekaligus merekatkan celah antara kearifan lokal dan tuntutan modernitas. Relevansi Kontekstual GYRK Penelitian ini berkontribusi signifikan pada kajian sastra religius dengan menawarkan model analisis hermeneutik yang mengintegrasikan teks, konteks, dan filsafat etika. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan multidimensi terhadap GYRK, di mana makna literal . indakan berbagi makana. dan simbolis . engorbanan sebagai jalan spiritua. saling melengkapi. Analisis terhadap bait 18-31 tidak hanya mengungkap narasi kelaparan, tetapi juga merekonstruksi filosofi yadnya sebagai tindakan transformatif yang menghubungkan manusia dengan Sang Hyang Widhi. Integrasi perspektif etnografi Bali seperti praktik ngemaang . dan penghindaran sesonggan . memperkaya interpretasi teks dengan dimensi kultural, sementara filsafat Hindu menyediakan kerangka etis untuk memahami kompleksitas moral tokoh. Model ini tidak hanya menjawab kritik Creese . tentang minimnya analisis etika dalam sastra Bali, tetapi juga membuka jalan bagi studi sastra transformatif lainnya untuk menggabungkan pendekatan interdisipliner. Dengan demikian. GYRK tidak sekadar karya sastra, melainkan cermin reflektif yang memantulkan dinamika moral masyarakat sekaligus panduan untuk merawat kearifan tradisional di tengah arus globalisasi. Meskipun dalam kondisi sulit dan dilematis, brahmana ini mampu memberikan makanannya untuk bersedekah kepada orang yang lebih memerlukan. Dalam hal ini, ada semacam pertarungan dan pergolakan bathin. Brahmana mempertaruhkan hidupnya sendiri demi memberikan kehidupan kepada tamu tua. Keinginan mereka tersebut memang muncul dari dalam diri masing-masing. Intuisi untuk menolong secara ikhlas tidak dapat terbendung, walaupun saat itu brahmana lanang sebagai kepala keluarga https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sudah memberikan beberapa pertimbangan agar masing-masing anggota keluarga tidak memberikan makanan mereka. Di dalam lontar Agastya Parwa pun menyebutkan bahwa perbuatan, ucapan, dan pikiran adalah hal penting dalam kehidupan. Kutipannya sebagai berikut: tiga pratyekanika manuwuhaken swarga muwang neraka: ulah, sabda, ambek. ika ta maka nistha madhyottama. Lewih phala nikang sabda sakeng ulah. lewih phala nikang ambek sakeng sabda: ada tiga sebab manusia mendapatkan surga atau neraka: perbuatan, perkataan dan pikiran. Demikianlah tingkatan dari bawah ke atas. Ucapan lebih berharga dari perbuatan, namun pikiran lebih berharga dibandingkan perkataan. Sesuai dengan kutipan Agastya Parwa di atas erat kaitannya dengan apa yang telah dilaksanakan oleh Brahmana. Pengendalian terhadap tiga unsur tersebut disebut Dandin. Berasal dari kata danda yang berarti AomengendalikanAo. Ulah, sabda, dan ambek secara umum disebut Tri Kaya yang berarti Autiga sumber perbuatan. Ay Dalam Tri Kaya, kata ulah, sabda, dan ambek disebut kaya, wak, dan manah. Pengetahuan terhadap AuperbuatanAy adalah hal penting untuk dapat memahami karmawesana . asil perbuata. , yaitu sisa perbuatan yang melekati pikiran. Untuk membersihkan pikiran dari sisa-sisa perbuatan itulah perlu diketahui sumber perbuatan itu sendiri. Sederhananya, setiap individu seidealnya melakukan filterisasi terhadap perbuatan dan ucapan sejak dalam pikiran sebelum perbuatan dilaksanakan dan perkataan diucapkan. Kayika adalah perbuatan yang benar yang meningkatkan kesucian diri. Wacika adalah berbicara yang benar yang meningkatkan kesucian lidah. Manacika adalah konsep berpikir yang benar yang membuat pikiran dekat dengan kesejatiannya. Secara filosofis, yang disebut benar adalah pikiran, kata-kata, dan perbuatan yang menyebabkan orang semakin dekat dengan Sang Hyang Widhi. Mereka berempat secara sadar melaksanakan perbuatan, ucapan, dan pikiran yang Jika ditelaah lebih mendalam, ketulusan/kalascaryan sedemikian rupa tentu saja hal penting sebagai landasannya. Ada beberapa esensi mendasar yang diungkapkan sebagai landasan untuk berbuat lascarya . Memang kata lascarya secara implisit tidak tersurat dalam teks GYRK, namun secara eksplisit dapat diketahui dari perbuatan dan Brahmana istri mengungkapkapkan bahwa dharma dan artha dalam kehidupan sudah pantas dan layak untuk dibagi. Jika dilihat dalam kesatuannya, dharma dan artha merupakan bagian Catur Purusa Artha yang berarti Aoempat tujuan hidup Ao Dalam hal ini dharma tidak cukup diterjemahkan sebagai hukum, kebenaran, ajaran spiritual, kewajiban. Dharma lebih dari itu semua. Dharma merupakan landasan untuk dapat mencapai kekayaan . , kenikmatan . , dan kebebasan terakhir . Ada kerterkaitan antara lascarya dengan dharma, lascarya akan menjadi dasar dalam menjalani dharma di dalam kehidupan. Dengan berlandaskan sikap lascarya, manusia akan menjadi lebih ikhlas dalam melaksanakan tugas dan kewajiban masingmasing. Ketika dharma sudah dilaksanakan dengan lascarya maka artha dan kama yang baiklah yang akan didapati. Kesimpulan Penelitian ini mengungkap bahwa geguritan Yadnya Ring Kuruksetra (GYRK) berhasil merevitalisasi nilai-nilai etika Hindu melalui transformasi naratif dari Aswamedha Parwa ke dalam konteks sosio-kultural kontemporer. Kehadiran GYRK menunjukkan bahwa konsep dharmaning brahmana dan lascarya . diaktualisasikan melalui tindakan empat brahmana yang menghadapi dilema moral, seperti pengorbanan makanan dalam kondisi kelaparan. Tindakan ini tidak hanya merefleksikan keselarasan Tri Kaya . ikiran, ucapan, perbuata. tetapi juga mengkritik individualisme modern dengan menegaskan prinsip ngemaang . dan tyaga . sebagai fondasi harmoni sosial. GYRK mengukuhkan hakikat sastra https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH merupakan alat yang digunakan untuk menghibur dan mendidik masyarakat sejalan dengan konsep dari Horace. Agenda penelitian ke depan penting diarahkan untuk melakukan penelitian sastra religius dengan menerapkan pendekatan hermeneutika sebagai dasar analisis terhadap kajian sastra religius lainnya. Daftar Pustaka