El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 Volume 24. Nomor 2. Oktober 2025 P-ISSN 2087-3638. E-ISSN 2655-7746 https://ftkjournal-uinmataram. id/index. php/eltsaqafah TUTURAN SARKASME PADA ANAK-ANAK JOKI TOAoI DALAM KOMUNITAS PECINTA PACUAN KUDA DI KABUPATEN BIMA Andri Adiman Universitas Mataram. Indonesia corresponding author: andri38383@gmail. Burhanuddin Universitas Mataram. Indonesia fkip@unram. Saharudin Universitas Mataram. Indonesia saharudin@unram. Article History Submitted: 09 Apr 2025. Revised: 26 Apr 2025. Accepted: 13 Apr 2025 DOI 10. 20414/tsaqafah. Abstract This research based on an interest in sarcasm in the community of horse racing lovers in Panda. Palibelo subdistrict, which is very cruel compared to sarcasm in the community in general. The aim of this research is to discover the forms and functions of sarcasm in this community. This research used a qualitative approach with data collection methods, namely the listening method through note-taking techniques, skilful involvement, free folding and skill methods through face-to-face The result of this research show that the community of horse racing fans useed sarcasm as a means to motivate each other. In addition, in the sarcasm speech used by the horse lover community in Panda village, meanwhile the general function of this study provides information that coarse language is not only bad in social life, there are also positive values contained in it, that is strengthen the sense of brotherhood in community life. Key words: function, form, horse racing, sarcasm Abstrak Penelitian ini didasari oleh ketertarikan terhadap tuturan sarkasme dalam komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda kecamatan Palibelo kabupaten Bima. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk dan fungsi sarkasme dalam komunitas Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data yaitu metode simak melalui teknik catat, libat cakap, bebas libat cakap dan metode cakap melalui teknik cakap semuka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komunitas pecinta pacuan kuda tersebut menggunakan sarkasme sebagai sarana untuk saling memotivasi antarkelompok. Dalam tuturan sarkasme | 353 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. yang digunakan oleh komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda kecamatan Palibelo Kabupaten Bima, ditemukan dua bentuk sarkasme yaitu bentuk ejekan dan bentuk sindiran dengan pola dasar yaitu. pola frase dan pola klausa. Sedangkan fungsi umum pada penelitian ini memberikan informasi bahwa bahasa kasar tidak sematamata buruk dalam hidup bersosial, ada juga nilai positif yang terkandung yaitu mempererat rasa persaudaraan dalam lingkungan bermasyarakat. Kata-kata kunci: bentuk, fungsi, sarkasme, pacuan kuda. PENDAHULUAN Bahasa dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi guna menyampaikan pikiran dan perasaan seseorang kepada lawan bicaranya. Bahasa juga disebut sebagai sarana berkomunikasi yang unik sebab saat ini komunikasi tulis merupakan komunikasi yang mutakhir karena hadirnya media sosial penutur bisa berbicara dengan banyak orang tanpa wajib bertatap muka secara Tidak hanya itu penutur pun bisa memakai emotikon guna menyingkat pesan sebagai wujud untuk mengekspresikan diri sendiri (Hariyanto, 2. Bahasa sebagai perlengkapan komunikasi baik secara perorangan maupun perkelompok. Komunikasi ini bisa terjalin apabila terdapat interaksi antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat. Lewat bahasa manusia bisa mendapatkan data dan informasi dari sesamanya secara sempurna. Peranan bahasa dalam kehidupan manusia sangat besar. Hampir semua kegiatan manusia memerlukan bantuan bahasa, baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi secara lisan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kepada lawan bicara. Dalam realisasinya bahasa tidak pernah lepas dari konteks atau segenap informasi yang berada di sekitar pemakai bahasa, bahkan termasuk juga pemakaian bahasa yang ada di sekitarnya. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sangat beragam. Terjadinya keragaman atau kevariasian ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, melainkan karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Begitu juga dengan ujaran yang dituturkan akan sangat Salah satu yang sering muncul adalah penggunaan bahasa sarkasme. Sarkasme yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat muncul bukan hanya berfungsi untuk menyakiti hati orang lain saja, tetapi dapat juga sebagai kegiatan humor atau selingan guna menghilangkan kepenatan rutinitas hidup. Dalam hal ini bisa berfungsi sebagai bahan sindiran, meremehkan, membuli, dan lain lain. Misalnya, sindiran dalam bahasa Bima yang digunakan oleh joki toAoi atau joki cilik dalam komunitas pecinta pacuan kuda sebagai berikut. AuAu waAoa mu ai kapal randa kaimu jara?Ay . enapa kamu bawa tali kapal buat nuntun kuda?). Pada tuturan tersebut, menyindir sebuah tali tuntun kuda yang dipakai oleh temannya terlalu besar dan kotor mirip dengan tali pengikat kapal. Contoh lain, yaitu: AuMakento Aina waAoa mbeAoe ara pacoa jara yah!Ay (Lain kali jangan bawa kambing di arena pacuan kuda yah!). Pada tuturan tersebut, bermakna | 354 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 bahwa seorang joki toAoi menyindir kuda yang dibawa oleh temannya terlalu kecil, dan belum pantas untuk diadu dalam arena pacu. Contoh berikutnya seperti. AuLaina kaso nente mu re lenga, pala roka jara!Ay (Bukan kasur yang kamu tunggang itu teman, tapi punggung kuda!) Pada tuturan tersebut, bermakna seorang joki toAoi menyindir temannya yang sering jatuh pada saat menunggangi kuda. dijelaskan olehnya bahwa yang sedang ditunggangi itu bukan sebuah kasur melainkan sebuah punggung kuda. Sarkasme bisa dijumpai pada masyarakat di sekitar kita, salah satu penggunaan sarkasme bisa ditemui dalam komunitas pacuan kuda kabupaten Bima. Komunitas pacuan kuda merupakan salah satu bentuk kelompok sosial. Komunitas pacuan kuda ini berfungsi sebagai wadah untuk berinteraksi bagi seseorang yang memiliki ketertarikan dan hobi pada pacuan kuda. Komunitas pacuan kuda ini sebagian besar anggotanya dari anak-anak. Hal ini yang menyebabkan di dalam komunitas pacuan kuda ini akan memunculkan sebuah gaya bahasa yaitu gaya bahasa sarkasme. Hal yang tidak lazim lagi bahwa dalam komunitas pacuan kuda yang berada di Bima banyak muncul sindiran atau ejekan yang terkesan agak kasar, mungkin dipengaruhi oleh suasana di arena pacuan kuda yang sangat panas diterpa matahari, bahkan mungkin pula panas dalam hati dan perasaan individu ataupun kelompok yang sedang adu gengsi dan egonya masing-masing. Oleh karena demikian nilai positif bagi masyarakat sekitar yaitu saling membangkitkan semangat dan daya juang yang tinggi, sekalipun dengan berbagai macam cara salah satunya berupa sindiran Gaya bahasa sarkasme merupakan gaya bahasa yang berupa sindiran atau ejekan kasar. Gaya bahasa sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar yang mengandung ejekan atau sindiran pedas dan menyakiti hati. Sarkasme dapat saja bersifat ironis dapat juga tidak tetapi yang jelas adalah bahwa gaya bahasa ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar (Keraf, 2009:. Dari latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul AuTuturan Sarkasme Pada Anak-Anak Joki ToAoi dalam Komunitas Pacuan Kuda Kabupaten BimaAy. Fokus objek penelitian ini adalah bahasa sarkasme pada komunitas pacuan kuda anak-anak. Penggunaan bahasa sarkasme pada anak-anak joki toAoi dalam komunitas pacuan kuda sangat menarik untuk ditelisik dari segi bentuk dan fungsi. Gaya bahasa sarkasme tersebut berkaitan dengan berbagai aspek yang berhubungan dengan penggunaan atau pemakaian bahasanya, mengingat munculnya satu gaya tuturan dalam suatu komunitas tidak terlepas dari aspek sosial dan budaya penutur bahasa. | 355 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. TINJAUAN PUSTAKA Menurut (Keraf, 2010:. , gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang diperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis . emakai bahas. Gaya bahasa seseorang pada saat mengungkapkan perasaannya baik secara lisan maupun tulisan, dapat memberikan reaksi pembaca atau pendengar berupa tanggapan. (Waridah, 2008:. menyatakan bahwa secara garis besar gaya bahasa terdiri dari empat jenis majas yaitu: majas penegasan, majas pertentangan, majas perbandingan, dan majas sindiran. Majas sindiran ada tiga yaitu ironi, sinisme, dan sarkasme. Ungkapan-ungkapan kasar atau biasa disebut gaya bahasa sarkasme merupakan majas yang memuat makian bahkan menjadi cercaan yang kurang santun untuk didengar serta dapat menimbulkan kesalah-pahaman antara penutur dengan lawan tutur. Ironi di turunkan dari kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi adalah suatu acuan yang ingin mengatakan suatu dengan maksud atau makna berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya atau gaya bahasa untuk mengatakan suatu maksud menggunakan kata-kata yang berlainan atau bertolak belakang dengan maksud tersebut . eraf, 2010: . Sinisme diartikan suatu sindiran yang berbentuk kesangsian dan mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sementara itu menurut (Nurdin dan Mumu, 2002:. Sinisme adalah gaya bahasa yang pengungkapannya lebih kasar. Jadi dapat di simpulkan bahwa sinisme ialah sindiran lebih kasar namun pemakaiannya memakai perasaan atau hati antara penutur dan pendengar (Keraf, 2010:. Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Sarkasme adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir atau sindiran yang sangat tajam dan kasar sehingga menyakitkan hati. Sarkasme dapat bersifat ironis maupun tidak. Sarkasme merupakan bahasa paling kasar dan tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Kata Sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkamos yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja sarkasein yang berarti merobek-robek daging seperti AuanjingAy. Aumenggigit bibir karena marahAy, atau Auberbicara dengan kepahitanAy (Keraf, 2010:143-. Menurut (Camp, 2. , sarkasme dibagi ke dalam 3 jenis yaitu. Propositional Sarkasme Pada sarkasme jenis ini, bentuk dari sarkasme itu sendiri adalah berupa proposition, proposition sarkasme ini juga merupakan jenis yang paling jelas bentuknya. Jenis sarkasme ini langsung mengarah pada maksud atau tujuan dari pembicara yang memang bertujuan menyindir. Akan tetapi antara pernyataan proposition dan maksud dari penutur sebenarnya berlawanan. | 356 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 Lexical Sarkasme Propositional sarkasme lebih mirip pada model implikatur, maka lexical sarkasme lebih mendekati teori semantik. Jenis lexical sarkasme lebih terlihat erat hubungannya dengan skala evaluatif dari penutur daripada jenis propositional sarkasme. Pada propositional sarkasme, pernyataan penutur lebih bersifat pragmatis, sedangkan lexical sarkasme lebih terlihat alamiah dan jelas akan pernyataan-pernyataan ekstrim yang berupa hubungan 15 konvensional berskala normatif. Seringkali dengan kata-kata positif namun memiliki efek negatif. Illocutionary Sarkasme Pada jenis ini, sarkasme tidak hanya dilihat sebagai elemen di dalam suatu tuturan, tetapi juga sebagai satu kesatuan yang utuh termasuk tindak tutur lain yang menyertainya. Illocutionary sarkasme meliputi keseluruhan implikatur umum bahkan dalam lingkup yang yang khusus, seperti tuturan yang menyatakan rasa iba, pujian, dan lain-lain. Penelitian ini memiliki relevansi dengan penelitian-penelitian sebelumnya, baik dari segi objek formal seperti yang telah dilakukan oleh (Setiawan, 2. , (Wijaya, 2. , (Tama, dkk. dan (Sinaga, dkk. , ataupun dari segi objek material seperti yang telah dilakukan oleh (Ihlas, 2. , (Harahap dan Masniadi, 2. , (Rohmanuddin, 2. , dan (Kurniati, 2. Berikut hasil-hasil penelitian tersebut: Pertama, penelitian yang dilakukan oleh (Setiawan, 2. dengan judul AuPenggunaan Gaya Bahasa Sarkasme Pada Komunitas MotorAy. Tujuan Penelitian ini dilatarbelakangi berdasarkan hasil pengamatan peneliti tertarik pada penggunaan gaya bahasa sarkasme pada komunitas motor di area Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dan dilaksanakan melalui tiga tahapan: pertama pra-lapangan, kedua perkerjaan lapangan dan ketiga penulisan laporan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pemahaman tentang ilmu gaya bahasa sarkasme dan dapat menambah referensi penelitian gaya bahasa selain itu dapat memotivasi peneliti baru agar mampu menciptakan penelitian yang lebih kreatif dan inovatif. Persamaan dengan penelitian ini yaitu pada pemilihan objek penelitian yang mengkaji gaya bahasa sarkasme dalam suatu komunitas. Selain persamaan, terdapat perbedaan yang sangat mendasar yaitu pada pendekatan dan kuantitas objek berupa ruang lingkup lapangan penelitian yang akan di teliti. Kedua, yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Wijaya, 2. dengan judul AuSarkasme di Komunitas Mahasiswa (Studi Tentang Penggunaan Sarkasme Dalam Pergaulan Mahasiswa FISIP Universitas Jenderal Soedirman. Purwokert. Ay. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrisikan dan menjelaskan tentang presepsi dan proses penggunaan sarkasme di dalam perilaku sehari-hari mahasiswa fisip Unsoed dalam penggunaan sarkasme. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori interaksi simbolik. Teknik penentuan informan yaitu purposif | 357 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. Penulis mengunpulkan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dengan sasaran mahasiswa Fisip Unsoed yang memiliki kriteria menetap di purwokerto minimal selama dua tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada dua perspektif mahasiswa yaitu sisi negatif dan positif. Sisi negatif di pandang sebagai sesuatu yang menyakiti hati lawan bicaranya berupa informasi emosi kekesalan. Sedangkan sisi positif digunakan sebagai bahasa sehari-hari dalam interaksi mahasiswa digunakan sebagai bahan candaan demi keakraban antara mahasiswa. Persamaan dengan penelitian ini yaitu pada pemilih gaya bahasa sarkasme sebagai objek Selain persamaan, terdapat perbedaan yang sangat mendasar yaitu pada teknik penentuan informan dan sasaran hasil data yang diperoleh. Ketiga, yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Tama, dkk. dengan judul AuSarkasme Bahasa Bajo di Kabupaten Sumbawa BaratAy. Tujuan Penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk, makna dan fungsi sarkasme bahasa Bajo kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak dan metode cakap. Analisis data menggunakan padan intralingual dan padan ekstralingual. Adapun penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Hasil penelitian ini adalah sarkasme bahasa Bajo di kabupaten Sumbawa Barat ialah berupa kata, frasa, dan klausa yang terdapat 35 data, di antaranya 15 dalam bentuk kata, 15 dalam bentuk frasa, dan 5 dalam bentuk klausa. Kemudian dari data tersebut memiliki tiga makna yang terkandung di dalamnya yaitu sindiran, makian dan hinaan. Fungsi dalam penelitian sarkasme bahasa Bajo ini berupa bentuk penolakan, larangan dan perintah. Persamaan dengan penelitian ini yaitu pemilihan objek penelitian gaya bahasa sarkasme dalam bahasa daerah. Adapun perbedaan yang paling mendasar yaitu metode pengumpulan data dan cara menganalisis data. Keempat, yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Sinaga, dkk. dengan judul AuFungsi Sarkasme dalam Bentuk Umpatan Pada Tuturan Masyarakat Kabupaten Kepulauan MerantiAy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah fungsi sarkasme dalam bentuk umpatan dalam tututan masyarakat kabupaten Kepulauan Meranti khususnya di kota Selatpanjang. Dalam bertutur kata, tidak semua masyarakat Selatpanjang berkata dengan sopan. Sopan atau tidaknya bahasa yang digunakan tergantung dengan siapa mereka berkomunikasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan simak, observasi, wawancara, rekam dan catat. Teknik keabsahan data yaitu dengan meningkatkan ketekunan dan triangulasi. Metode analisis yang digunakan adalah melakukan reduksi data dan dilanjutkan dengan display data dan menarik kesimpulan dari hasil analisis data yang telah Persamaan dengan penelitian ini yaitu pemilihan sasaran penelitian berupa bentuk dan fungsi gaya bahasa sarkasme. Adapun perbedaannya yaitu pada teknik pengumpulan data dan metode dalam mereduksi data yang diperoleh. | 358 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 METODE Dengan berpatokan pada jenis dan sumber data, maka metode pengumpulan data yang digunakan berupa metode simak . engamatan atau observas. , dan metode dokumentasi. Metode ini dapat disejajarkan dengan metode pengamatan atau observasi dalam penelitian ilmu sosial (Mahsun, 2017: . Metode simak ini akan digunakan untuk mengumpulkan data penelitian dengan cara menyimak atau mengamati tindakan informan. Metode ini digunakan dalam menyimak atau mengamati informan yaitu anak-anak sebagai joki toAoi saat berbicara dalam komunitas pacuan kuda dengan tujuan untuk mendapatkan data penelitian berupa majas sindiran Sementara itu, metode dokumentasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara mencari dokumen yang berkaitan dengan penelitian. Dokumen dalam penelitian ini berupa foto, video, dan dokumen lainya yang dapat membantu dalam mendapatkan data yang valid. Dokumen yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu berupa foto maupun rekaman video yang diambil saat latihan dan turnamen pacuan kuda diadakan. Setelah dokumen terkumpul peneliti melakukan pengembangan melalui wawancara langsung kepada joki toAoi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengelompokan data, ditemukan bahwa bentuk sarkasme dalam komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima ada dua yaitu sarkasme ejekan dan sarkasme sindiran. Berikut penjelasannya lebih lanjut: Bentuk Tuturan Sarkasme Ejekan Beberapa bentuk tuturan sarkasme ejekan pada komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Bentuk Tuturan Sarkasme Ejekan Sarkasme Sajan poda, ede jara ma jiwa juara, pala ma nente na jiwa karopo! Kanipu BH tis disa mu nente jara naAoe! Jara siwe ndede dima nggana mpa laina di pacoa! Ntika mpoa sangga na, sarumbu jara bini ba nggoma! Benhur ra jara re! Mai raAoa mu? Makento re aina taji kawongga labo jara Weliku mesin dompo mpori di dompo kaimu honggo jaramu ro? Jara juara mpoa nente mu pala ngaha kai uta karamba! Terjemahan Sayang sekali, itu kuda memiliki jiwa jawara, tapi yang tunggang jiwanya kerupuk! Pakai BH saja kalau takut naik kuda besar! Kuda betina itu tugasnya lahiran bukan untuk di pacu! Hiasannya saja yang bagus, tubuh kuda penuh Dokar saja kudanya! Kamu datang bulan ya? Lain kali jangan adu gasing dengan kuda pacu! Saya belikan mesin potong rumput buat potong rambut kudamu yah? Kamu tunggang itu kuda juara tapi tetap makan ikan asin! | 359 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. Ngoapu amamu. Edesi ntadi jara pacoa mbuip si sepemu piti koprasi! Oci kai nae jara ke, paha kai vitamin dokter laina bune jara nggomi paha kai dolu janga! Saha rau ponto joki re aina saha mpoa ponto jara! Ti neemu cepe jaramu labo jimba? Beritahu bapakmu, jangan ternak kuda pacu kalau masih pinjam uang koperasi! Kuda ini cepat besar karena asupannya vitamin dokter bukan seperti kudamu asupannya telur Panaskan juga pantat joki itu, jangan hanya panaskan pantat kuda! Mau tidak kudamu diganti dengan domba? Pada data nomor 1 Sajan poda, ede jara ma jiwa juara, pala ma nente na jiwa karopo! (Sayang sekali, itu kuda memiliki jiwa jawara, tapi joki yang tunggang cuma jiwa kerupuk!). Dalam tuturan ini terbentuk sarkasme dari sebuah kalimat yang diperoleh melalui perbandingan dua frase yaitu jiwa juara dan jiwa karopo Aujiwa kerupukAy atau biasa dengan sebutan Aumental kerupukAy, frase ini dikategorikan sebagai sebuah frase nomina karena pada kata jiwa mewakili daya mental seseorang dan kata karopo dapat diartikan sebagai mental seorang penakut. Hal itu terlihat karena dua frase tersebut memiliki perpaduan yang sempurna untuk sebuah sarkasme, tujuan penutur membandingkan antara jiwa joki toAoi yang menunggangi kuda tersebut tidak sesuai dengan daya juang kuda yang memiliki mental seekor kuda jawara setiap diadakan turnamen perlombaan pacuan kuda. Kanipu BH tis disa mu nente jara naAoe! (Pakai BH saja kalau takut naik kuda besar!) sarkasme ini dapat dilihat pada bagian data nomor 2. Dalam tuturan ini terbentuk sebuah sarkasme dari frase kanipu BH, frase ini termasuk dalam kategori frase verba karena kata kanipu BH secara langsung berdistribusi sebagai kata kerja yang berarti Aupakailah BHAy. Berkaitan dengan sarkasme hal ini tampak jelas karena pelafalan BH tidak lazim/etis untuk sebuah ucapan yang dilontarkan kepada seorang anak-anak, tujuan penutur sarkasme tersebut yaitu melecehkan seorang joki toAoi untuk menggunakan pakaian dalam wanita guna merendahkan secara langsung mental joki toAoi agar termotivasi untuk lebih berani. Jara siwe ndede di ma nggana mpa laina dipacoa! (Kuda betina itu tugasnya melahirkan bukan untuk dipacu!) sarkasme ini dapat dilihat pada data nomor 3. Dalam tuturan ini terbentuk sebuah sarkasme dari adanya frase dima nggana, dapat dikategorikan sebuah frase verba karena distribusi kata nggana terdapat unsur kata kerja yang berarti AumelahirkanAy. Hal ini terlihat karena frase tersebut mewakili ketertindasan perempuan yang tidak punya daya juang untuk bekerja jika dibandingkan dengan daya juang seorang laki-laki. Tujuan penutur yaitu merendahkan seekor kuda betina yang dituggangi oleh seorang joki toAoi yang kalah dalam pertandingan. Oleh karena demikian, mental seorang joki toAoi tersebut digoyahkan karena menunggangi kuda betina yang tak kuat untuk dipacu. | 360 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 Bentuk Tuturan Sarkasme Sindiran Beberapa bentuk tuturan sarkasme sindiran pada komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Bentuk Tuturan Sarkasme Sindiran Sarkasme Sindiran Bauku nente kaimu mbeAoe ara pacoa kai Ntika ai jara bune ai kapa! Caru di pacoa jara re, pala caru walipu di bante! Setoi sewana? Ipi rai jara mu bune ipi rai umpu! Ngemo jara re sampe tiedaku ta garis Spatu fentofe kani jaramu re? Kau star ulu umpu waa mu ede loaku caru saingan! Ndawipu raba dima tahan losa oi ta Neo lalo gaja ma nente boupre! Nahu ma weli weamu tai tahu! Nenti kacia laina kaso nente mu re! Wara tiki abutua aka uma di kani Terjemahan Kenapa kamu tunggang kambing di arena pacuan kuda? Bagus tali kuda itu seperti tali kapal! Cocok dijadikan kuda pacu, tapi lebih cocok lagi untuk dipotong! Sewanya sedikit ya? Laju kudamu kencang seperti keong! Kudamu terbang sampai tak terlihat pada garis finish! Sepatu pentopel yang dipakai kudamu itu? Start duluan keong yang kamu bawa itu biar ada saingan! Bikin bendungan penahan air yang keluar di Terlalu ringan gajah yang tunggang tadi! Aku belikan ampas tahu! Pegang erat, kamu tunggang itu bukan kasur Ada tongkat kakekku di rumah untuk dipakai kudamu! Pada data nomor 1 AuBauku nente kaimu mbeAoe ara pacoa kai jara?Ay (Kenapa kamu menunggangi kambing di arena pacuan kuda?). Dalam tuturan ini merupakan sarkasme sindiran yang terbentuk dari sebuah klausa Bauku nente kaimu mbeAoe, klausa ini dapat dikategorikan sebagai bentuk klausa verba karena distribusi dari kata nente AutunggangAy atau AumenunggangiAy termasuk ciri dari kata kerja, hal ini terlihat karena klausa tersebut dapat mendeskripsikan penindasan seekor kuda bertubuh kecil yang berada dalam arena pacu. Konteksnya, seorang joki toAoi menunggangi seekor kuda dengan ukuran tubuhnya yang lebih kecil dari kuda-kuda pacu pada Ntika ai jara bune ai kappa (Bagus tali kuda itu seperti tali kapa. ini terdapat pada data Tuturan ini merupakan sarkasme sindiran yang terbentuk oleh sebuah frase Ai kappa yang dapat dikategorikan sebagai frase nomina karena peran kata ai AutaliAy termasuk dalam ciri sebuah kata benda, hal ini terlihat karena frase tersebut mendeskripsikan penindasan untuk seorang joki toAoi atas sebuah benda yang telah lama dipakai sehingga sudah tidak layak untuk diperlihatkan ke tempat umum. Konteksnya, penutur menyindir seorang joki toAoi sedang menuntun seekor kuda dengan tali yang cukup besar, kotor dan berbulu seperti tali kapal. Pada data nomor 3 AuCaru di pacoa jara re, pala caru walipu dibante!Ay (Cocok dijadikan kuda | 361 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. pacu, tapi lebih cocok lagi untuk dipotong!). Dalam tuturan ini merupakan sarkasme sindiran yang terbentuk dari sebuah frase Caru walipu dibante yang dapat dikategorikan sebagai sebuah bentuk frase verba karena distribusi dari kata dibante AudipotongAy ciri sebuah kata kerja, hal ini terlihat karena frase tersebut dapat mendeskripsikan sebuah penindasan kepada joki toi dan seekor kuda yang sedang dilatih. Konteksnya, seorang penutur memberikan solusi kepada seorang joki toAoi agar kuda tersebut tidak dipakai lagi untuk di pacu karena sering kalah dalam pertandingan sehingga opsi dari penutur untuk segera memotong kuda tersebut. Fungsi Tuturan Sarkasme Ejekan Sajan poda, ede jara ma jiwa juara, pala ma nente na jiwa karopo! (Sayang sekali, itu kuda memiliki jiwa jawara, tapi yang tunggang cuma jiwa kerupuk!) pada data nomor 1. Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme berupa penyampaian perbandingan yaitu membandingkan antara jiwa tarung seorang joki toAoi dan jiwa tarung seekor kuda, sehingga tuturan tersebut berfungsi merendahkan secara langsung kepada seorang joki toAoi yang kalah pada balapan tersebut. Tujuan penutur memacu mental seorang joki toi supaya ada rasa tanggung jawab dan beban yang besar menunggangi seekor kuda jawara untuk mempertahankan posisi skor waktu kecepatan tertinggi. Kani BH tis disa mu nente jara naAoe! (Pakai BH kalau takut naik kuda besar!) pada data nomor Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme berupa sebuah bentuk perintah, yaitu perintah kepada seorang joki toAoi yang tidak berani menaiki kuda besar, sehingga muncul sarkasme tersebut untuk melecehkan secara langsung dengan keji terhadap seorang joki toAoi yang takut tersebut. Tujuan dan Peran penutur sarkasme ini sangat ampuh untuk membangkitkan semangat seorang joki toAoi yang masih takut. Jara siwe ndede di ma nggana mpa laina di pacoa! (Kuda betina itu tugasnya lahiran bukan untuk dipacu!) pada data nomor 3. Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme berupa penolakan. Sarkasme penolakan seperti ini muncul karena realita yang terjadi dalam pacuan kuda dari zaman dulu jarang sekali kuda betina yang menjadi juara, kalaupun dia juara pasti tidak akan bertahan lama masa jayanya. Oleh karena demikian, penutur sarkasme tersebut mengumpat secara langsung kepada seorang joki toAoi yang menaiki kuda betina tersebut, tugasnya bukan di arena pacu melainkan lepas liar di padang savana untuk dijadikan seekor induk. Fungsi Sarkasme Sindiran Pada data nomor 1 AuBauku nente kaimu mbeAoe ara pacoa kai jara?Ay (Kenapa kamu tunggang kambing di arena pacuan kuda?). Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme sindiran berupa sebuah perbandingan. Tujuan tuturan sarkasme ini berfungsi membandingkan ukuran tubuh seekor kuda seperti ukuran tubuh seekor kambing. Oleh karena itu, penutur menyarankan agar kuda yang berukuran kecil seperti demikian lebih baik di kandangkan atau dilepas ke padang | 362 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 savanna dengan tujuan supaya joki toAoi memikirkan kelayakan seekor kuda pacu baik itu dari segi umur maupun ukuran tubuh kuda. Ntika ai jara bune ai kappa! (Bagus tali kuda itu seperti tali kapal!) data ini terdapat pada Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme sindiran berupa sebuah pernyataan. Tujuan tuturan sarkasme ini befungsi menyatakan bahwa tali yang digunakan oleh joki toAoi untuk menuntun kuda tersebut sangatlah besar dan kotor. Oleh karena itu, penutur menyarankan agar tali kuda tersebut segera diganti dengan yang baru dan layak seperti tali tuntun kuda-kuda yang lainnya dengan tujuan supaya joki toAoi bisa mengetahui dan membedakan tali yang layak untuk dibawa ke arena. Caru di pacoa jara re, pala caru walipu di bante (Cocok di jadikan kuda pacu, tapi lebih cocok lagi untuk di potong!) data nomor 3. Dalam tuturan ini terdapat fungsi sarkasme sindiran berupa sebuah perintah. Tujuan tuturan sarkasme ini untuk memerintahkan kepada seoarang joki cilik bahwa kuda yang di tunggangi tersebut tidak layak untuk dijadikan kuda pacu melainkan hanya layak untuk dipotong. Oleh karena itu, penutur bertujuan melontarkan sarkasme demikian untuk menambah gairah dan ketekunan seorang joki toAoi melatih semua kuda yang ditunggangi baik dari segi fisik maupun dari segi kedekatan emosional antara joki toAoi dengan seekor kuda. KESIMPULAN Gaya bahasa sarkasme yang digunakan oleh komunitas pecinta pacuan kuda di desa Panda kecamatan Palibelo kabupaten Bima merupakan sarkasme yang memiliki daya tarik untuk menunjang perhatian dari pemerhati sosial dan budaya. Sarkasme tersebut tidak hanya sekadar saling mengejek atau menyindir dengan niat merendahkan antar satu sama lain, akan tetapi mengandung unsur untuk saling memotivasi sebagai penunjang rasa persaudaraan, baik itu kelompok dengan joki cilik, maupun antarkelompok dalam sebuah komunitas. Masyarakat dalam komunitas tersebut menunjukan eksistensi sebuah tradisi dan budaya yang kokoh, antara lain seperti memandang bahwa sekejam apapun sarkasme yang dilontarkan oleh seseorang penutur dalam kalangan pecinta pacuan kuda tersebut tidak akan direspons dengan emosi yang berlebihan sampai mengakibatkan perkelahian antar individu maupun kelompok. | 363 This is an open access article under the CCAeBY-SA license Tuturan Sarkasme pada Anak-Anak Joki . (Andri A. Burhanuddin. Saharudi. DAFTAR PUSTAKA Aflikhah. Adik. Gaya Bahasa Sarkasme dan Kekhassan Bahasa Penulis pada Judul Rubrik Kriminal di Surat Kabar Harian Meteor Edisi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ali. Muhammad. Memahami Riset Perilaku dan Sosial. Bandung: Pustaka Cendekia Utama. Anshari. , & AI. Bahasa Sarkasme dalam Berita Olahraga-Studi Kasus Bolatory. Prosiding Konferensi Nasional Komunikasi. Bandung-Indonesia. Hal 184-196. https://scholar. com/scholar?cluster=8021754905604606178&hl=en&oi=scholarr Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Boylan. , & Katz An. Ekspresi Ironis Sekaligus dapat Memperkuat dan Melemahkan Persepsi Kritik. Proses Wacana. https://w. com/doi/abs/10. 1080/0163853X. Camp. Elizabeth. Sarcams. Pretense, and The Semanctics/Pragmatics Distinction. Journal of University of Pennsylvania. Pages, 1-48. https://onlinelibrary. com/doi/10. 1111/j. Dirks. The Effects of Interpersonal Trust On Work Grup Performance. Journal of Applied Psychology, 84, 455-455. https://psycnet. org/doiLanding?doi=10. 1037/00219010. Gischa. Pengertian Majas Sarkasme. Ciri-ciri. Bentuk, dan Contohnya. Diakses pada Tanggal 1 Februari 2024. Ihlas. Transformasi Budaya Pacuan Kuda untuk Pengembangan Karakter Anak Usia Dini. Universitas Negeri Jakarta. Keraf. Gorys. Fungsi Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama. Keraf. Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama. Kridalaksana. Harimurti. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustka. Kurniati. Ati. Pelestraian Buadaya Pacuan Kuda (Pacoa Jar. sebagai Atraksi Parawisata di Bima Nusa Tenggara Barat. Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta. Mahsun. Metode Penelitian Bahasa (Tahapan. Startegi. Metode, dan Teknikny. Depok. Rajawali Pers. PT Rajagrafindo Persada. Masniadi. Rudi dan Harahap. Menggali Motif Ekonomi dan Prioritas Pendidikan Studi pada Joki Cilik Sumbawa. Journal Proceeding Student Conference. https://conference. id/index. php/Student/article/view/1136 Miles. Mathew dan Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode Aemetode Baru. Jakarta: UIP. Nugrahani. Penggunaan Bahasa dalam Media Sosial dan Implikasinya terhadap Karakter Bangsa. | 364 This is an open access article under the CCAeBY-SA license El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA. Vol. No. 1, 2025 Jurnal Stilistika, 3. , 1-18. https://doi. org/10. Nurdin. Yani M. , dan Mumu. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMU. Bandung : CV. Pustaka Seti.