SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 17 NO 1 JANUARI 2023 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga ASPEK SIGNIFIKAN LANGGAM KOLONIAL BANGUNGAN LAWANG SEWU DI KOTA SEMARANG Significant Aspects of Colonial Style in Lawang Sewu Building in Semarang City | Received December 25th 2022 | Accepted January 26th 2023 | Available online January 31th 2023 | | DOI 10. 56444/sarga. 413 | Page 64 - 71 | Choirul Amin1. Adi Sasmito2, choirul-amin@untagsmg. Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Indonesia1* adisas@unpand. Universitas Pandanaran. Semarang. Indonesia2 ABSTRAK Lawang Sewu merupakan suatu bangunan monumental yang ikonik di Kota Semarang, dimana keberadaannya tidak lepas dari perkembangan Kota Semarang, yakni keterkaitan dengan periode waktu pembangunannya pada waktu pendudukan Belanda di Indonesia, serta fungsinya pada waktu itu sebagai sebuah kantor perusahaan kereta api, dan juga letaknya yang stategis di jantung Kota Semarang. Berkaitan dengan periode waktu pembangunan, fungsinya dan juga letaknya, ditengarai sebagai dugaan awal gaya bangunan lawang sewu merupakan perpaduan antara bangunan klasik eropa yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia yang kemudian kita kenal dengan langgam kolonial. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan seberapa dalam aspek signifikan sebuah langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Ruang lingkup obyek material penelitian ini adalah bangunan lawang sewu, sedangkan ruang lingkup formal penelitian ini adalah pembuktian seberapa dalam langgam kolonial signifikan pada bangunan Lawang Sewu. Hasil dari penelitian ini adalah bukti kedalaman atau signifikansi langgam atau gaya arsitektur kolonial pada sebuah bangunan ikonik di Kota Semarang yaitu Lawang Sewu. Kata kunci: Aspek Signifikan. Langgam Kolonial. Lawang Sewu ABSTRCT Lawang Sewu is an iconic monumental building in the city of Semarang, where its existence cannot be separated from the development of the city of Semarang, namely its connection with the time period of its construction during the Dutch occupation of Indonesia, as well as its function at that time as a railroad company office, and also its location. strategic location in the heart of Semarang City. With regard to the time period of construction, its function and also its location, it is suspected that the Lawang Sewu building style is a blend of European classical buildings that have been adapted to the tropical climate in Indonesia, which later became known to us as colonial styles. The purpose of this study is to prove how deep the significant aspects of a colonial architectural style or style are in an iconic building in the city of Semarang, namely Lawang Sewu. The scope of the material object of this research is the Lawang Sewu building, while the formal scope of this research is to prove how deep the colonial style is significant in the Lawang Sewu building. The results of this study are evidence of the depth or significance of colonial architectural styles or styles in an iconic building in the city of Semarang, namely Lawang Sewu. Keywords: Significant Aspect. Colonial Style. Lawang Sewu SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Choirul Amin. Adi Sasmito PENDAHULUAN Bangunan bernama Lawang Sewu merupakan suatu nama yang taka sing bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya. Lawang Sewu merupoakan sebuah bangunan Heritage yang dibangun Belanda pada periode masa kependudukannya di Indonesia. Bangunan Lawang Sewu sendiri dibangun oleh perusahaan swasta asal Belanda bernama NIS (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappi. , yakni sebuah perusahaan Belanda yang bergerak dibidang transportasi kereta api. Oleh NIS bangunan Lawang Sewu dibangun untuk dipergunakan sebagai kantor administrasi utama guna menjalankan bisnis perkereta apian di Indonesia. Kantor kereta api NIS yang kemudian kita kenal dengan nama Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904 hingga 1918 . Lawang Sewu dirancang oleh arsitek Belanda P de Rieu, kemudian diteruskan oleh J. Klinkhamer. Oundag serta asistennya C. Citeroen Lawang Sewu telah melalui zaman yang panjang dari pembangunannya pada tahun 1904 hingga sekarang, periode yang panjang tersebut menghasilkan perubahan fungsi yang beragam pula pada bangunan Lawang Sewu, pada masa setelah pendudukan Belanda. Lawang Sewu dikuasai oleh Jepang dan dipergunakan sebagai tempat untuk menahan pasukan Belanda dan pemberontak Indonesia atau bisa disebut berfungsi sebagai penjara, setelah era periode kemerdekaan Indonesia Bangunan Lawang Sewu dikuasai oleh TNI dan dipergunakan sebagai kantor KODAM IV Diponegoro sebagai kantor dari tahun 1949 hingga 1994, sedangkan mulai tahun 1995 hingga sekarang Lawang Sewu difungsikan sebagai area wisata arsitektur heritage dan sejarah perjuangan Kota Semarang serta sejarah perkereta apian di Indonesia. Bangunan Lawang Sewu sebagai tempat wisata di Kota Semarang sangat cocok karena keindahan tampilan atau gaya bangunannya, lokasinya serta kemegahan bangunannya dan juga nilai sejarahnya. Ditilik dari arsitektur gaya bangunannya Lawang Sewu merupakan suatu bukti transisi gaya klasik Eropa yang dibawa Belanda yang kemudian mengadopsi beberapa unsur lokal untuk menyesuaikan dengan iklim tropis yang ada di Indonesia, yang kemudian kita kenal dengan gaya bangunan atau langgam kolonial. Langgam atau gaya bangunan kolonial yang ada di Indonesia ini merupakan suatu perpaduan yang khas yang mungkin tidak ada di tempat tempat lain, dikarenakan langgam atau gaya ini memadukan unsur eropa dengan kaidah kaidahnya yang disesuaikan dengan kondisi iklim tropis yang sebalumnya mungkin tidak terpikirkan oleh Belanda, sehingga keterpaduan akulturasi ini menghasilkan sebuah tampilan yang cukup unik dan menarik untuk diteliti. Kekhasan inilah yang coba peneliti analisa melalui beragam teori bahwa benar gaya arsitektural kolonial dipakai dalam perancangan bangunan Lawang Sewu, sekaligus membuktikan seberapa dalam atau signifikan langgam kolonial dipakai atau dipergunakan dalam sebuah perancangan bangunan Lawang Sewu, sebagai khasanah baru dalam mempelajari bahwa sebuah langgam atau gaya arsitektur dapat berkembang tidak hanya dari periode waktu maupun pemikiran kritis tapi juga dikarenakan perpaduan gaya yang sudah ada ( Eropa ) dengan kondisi dimana bangunan ini dirancang, dalam hal ini untuk mengantisipasi iklim tropis yang ada di Indonesia. Penelitian ini akan membahas dan menganalisa ciri ciri langgam kolonial yang didapat dari berbagai sumber sebagai referensi teori yang dipergunakan sebagai alat analisa, kemudian mencocokannya dengan obyek material penelitian berupa bangunan Lawang Sewu untuk membuktikan kedalaman atau signifikansi langgam tersebut dipergunakan dalam perancangan bangunan Lawang Sewu. SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Aspek Signifikan Langgam Kolonial pada Bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang LANDASAN TEORI Pada bagian ini peneliti mengumpulkan beberapa sumber terkait yang relevan, kemudian disimpulkan sebagai suatu teori yang berisi ciri ciri langgam atau gaya kolonial yang kemudian dipergunakan untuk menganalisa bangunan Lawang Sewu melalui beberapa gambar atau foto yang didapat dari internet untuk membuktikan kedalaman atau signifikansi langgam tersebut digunakan pada bangunan Lawang Sewu, berikut adalah kumpulan ciri ciri yang dihasilkan dari berbagai literature, sebagai alat analisa signifikansi langgam colonial pada bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang : Adanya penggunaan Gable / Gewel berbentuk segitiga pada bagian fasade atau tampak depan bangunan. Adanya penggunaanTower yang dipergunakan sebagai penampung air atau aspek keamanan atau aspek lainnya pada bagian depan samping bangunan. Adanya penggunaan jendela atau model bukaan lain pada bagian atap bangunan atau disebut Dormer dan bagian ini mempunyai atap atau penutup tersendiri yang terhubung dengan atap bangunan. Adanya penggunaan perancangan denah bangunan yang simetris ( teratur dengan kesamaan dimensi dan seimbang ) baik untuk bangunan berlantai satu maupun berlantai Adanya penggunaan penutup bangunan berupa atap bangunan dengan kemiringan yang cukup tajam ( 30A hingga 60A ) untuk mengalirkan air secara cepat kearea luar bangunan untuk mengantisipasi curah debit air di iklim tropis. Adanya penggunaan pilar pilar bergaya eropa yang masif dan menonjol secara tampilan di serambi atau teras atau balkon pada bagian depan, samping atau belakang bangunan. Adanya penggunaan skala bangunan yang cukup tinggi untuk mengantisipasi iklim panas dan membuat bangunan terkesan megah dan mewah. Adanya penggunaan permodelan jendela dan bukaan lain seperti pintu dengan gaya atau bentuk dua daun yang disebut kupu tarung dan bukaan tersebut tanpa sosoran atau Adanya penggunaan serambi atau teras atau balkon yang cukup luas atau lebar sebagai pengganti tritisan, sebagai antisipasi panas masuk kedalam banguan secara langsung METODE PENELITIAN Metode yang diapakai dalam penelitian ini, dijabarkan dalam langkah langkah penelitian seperti dibawah ini : Pemilihan Tema / Judul Penelitian A Pemilihan Obyek bangunan yang akan diteliti, dengan klasifikasi bangunan ikonik di Kota Semarang, kemudian terpilih bangunan Lawang Sewu A Penentuan berdasar dugaan sementara bangunan Lawang Sewu menggunakan langgam atau gaya arsitektur kolonial, berdasarkan periodesasi pembangunan serta kesinambungan fungsi dan sejarahnya terkait Hindia Belanda Teori dan Metode Penelitian yang dipergunakan A Pengumpulan dan klasifikasi teori teori tentang ciri langgam kolonial yang disarikan berdasarkan berbagai sumber literature, sebagai alat atau tools analisa A Pengumpulan dan pemilahan beberapa gambar atau foto Lawang Sewu yang didapat dari internet sebagai obyek yang akan diteliti SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Choirul Amin. Adi Sasmito Hasil Dan Pembahasan serta Kesimpulan A Analisa obyek foto Lawang Sewu menggunakan teori ciri ciri langgam kolonial yang telah di susun untuk membuktikan kedalaman atau signifikansi langgam kolonial pada bangunan Lawang Sewu A Hasil analisa berupa pembahasan akan bukti kesahihan atau signifikan bahwa langgam kolonial dipakai secara valid di dalam bangunan Lawang Sewu, kemudian Gambar 1. Metode Penelitian Sumber : Analisa Penulis HASIL DAN PEMBAHASAN Denah Bangunan Gambar 2. Denah Bangunan Sumber : Jejak Kolonial. Pada gambar denah ini terbukti hasil analisa terkait ciri ciri langgam kolonial yakni aspek simetri yang terlihat dari planning grid pembagian ruang dan penempatan kolom serta pintu. Selain aspek simetri pada gambar denah ini juga terbukti ciri ciri langgam kolonial yakni teras atau SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Aspek Signifikan Langgam Kolonial pada Bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang Tampak Depan Gambar 3. Tampak Depan Sumber : Heritage KAI. Pada gambar tampak depan diatas terbukti hasil analisa terkait ciri ciri langgam kolonial yakni aspek gewel / gabel pada bagian depan atas, kemudian aspek tower, aspek dormer, aspek kemiringan atap, aspek pilar, jendela kupu tarung dan aspek teras/serambi. Tampak Samping Gambar 4. Tampak Depan Sumber : Detik. Pada gambar tampak samping diatas terlihat aspek langgam kolonial berupa gewel/gabel pada bagian depan atas, tower, dormer/jendela atap, kemiringan atap yang cukup, pilar pilar dan jendela double serta teras/serambi. SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Choirul Amin. Adi Sasmito Tampak Belakang Gambar 5. Tampak Belakang Sumber : Sikidang. Pada gambar tampak belakang diatas terlihat aspek langgam kolonial berupa tower, dormer/ jendela atap, kemiringan atap yang cukup, pilar pilar dan pintu jendela double serta teras/ Perspektif Atas Gambar 6. Perpsektif Atas Sumber : Antara News. Pada gambar perspektif atas ini terbukti hasil analisa terkait ciri ciri langgam kolonial yakni aspek gewel / gabel pada bagian depan atas, kemudian aspek tower, aspek dormer, aspek kemiringan atap, aspek pilar, jendela kupu tarung dan aspek teras / serambi. SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARI 2023 Aspek Signifikan Langgam Kolonial pada Bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang Detail Pintu Depan Gambar 7. Detail Pintu Depan Sumber : Antara News. Pada gambar Detail pintu depan ini terbukti hasil analisa terkait ciri ciri langgam kolonial yakni aspek pintu kupu tarung atau pintu double yang terletak pada bagian fasade bangunan lawang sewu, selain aspek pintu double, aspek yang sangat terlihat menonjol pada gambar ini adalah kaitannya dengan skala bangunan terhadap manusia, dimana pada gambar ini sangat terlihat bahwa ketinggian pintu hamper 2x lipat tinggi manusia, selain pintu dan skala pada gambar ini juga menunjukkan pilar pilar masif bergaya eropa. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil setelah melalui bagian hasil dan pembahasan terkait aspek signifikan langgam kolonial pada bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang, tertuang dalam beberapa poin seperti dijabarkan dibawah ini : o Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan Gable / Gewel berbentuk segitiga pada bagian fasade atau tampak depan bangunan. Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan Tower yang dipergunakan sebagai penampung air pada bagian depan samping bangunan. Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan jendela pada bagian atap bangunan atau disebut Dormer yang mempunyai atap atau penutup tersendiri yang terhubung dengan atap Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan perancangan denah bangunan yang simetris ( teratur dengan kesamaan dimensi dan seimbang ) baik untuk denah lantai satu maupun lantai diatasnya. Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan penutup atap bangunan dengan kemiringan yang cukup tajam ( 45A hingga 60A ) berbentuk pelana dan limasan. Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan pilar pilar bergaya eropa yang masif dan menonjol secara tampilan di serambi atau teras atau balkon pada bagian depan, samping dan belakang bangunan. SARGA - VOLUME 17 NO. 1 JANUARY 2023 Choirul Amin. Adi Sasmito Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan skala bangunan yang cukup tinggi untuk mengantisipasi iklim panas dan membuat bangunan terkesan megah dan mewah. Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan model pintu dan jendela dengan gaya atau bentuk dua daun yang disebut kupu tarung dan bukaan tersebut tanpa sosoran atau Terbukti bangunan Lawang Sewu menggunakan serambi atau teras atau balkon yang cukup luas atau lebar sebagai pengganti tritisan, sebagai antisipasi panas masuk kedalam banguan secara langsung Dari kesimpulan diatas, terbukti bahwa bangunan Lawang Sewu menggunakan langgam atau gaya arsitektur kolonial secara mendalam sehingga aspek signifikan langgam kolonial pada bangunan Lawang Sewu di Kota Semarang terbukti dengan valid dan sahih dalam penelitian DAFTAR PUSTAKA