Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4. April 2025 ISSN: 27342488 KRITIK SASTRA DALAM FILM CATATAN HARIAN MENANTU SINTING: SOSIOLOGI SASTRA Yosia R. E Sianturi1 . Yessa Ronauli Pardosi2. Tasya Aulia Rusdi3 . Mory Nadya Ompusunggu4 . Safinatul Hasanah Harahap5 Email: yosiarolaseuklesiasianturi@gmail. com 1 , yessaronauli@gmail. tasyarusdi14@gmail. com3 , ompusunggumorynadya@gmail. com 4, finahrp@gmail. Universitas Negeri Medan ABSTRAK Film Catatan Harian Menantu Sinting karya Sunil Soraya merupakan film drama komedi yang menggambarkan realitas kehidupan rumah tangga dalam budaya Batak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kritik sosial dalam film ini melalui pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi terhadap film dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengangkat kritik terhadap budaya patriarki, konflik menantu-mertua, tekanan sosial dalam pernikahan, kesenjangan peran gender, dan ekspektasi terhadap anak laki-laki dalam keluarga. Kritik sosial yang disajikan dalam film ini merepresentasikan realitas masyarakat dan memberikan refleksi bagi penonton tentang pentingnya perubahan pola pikir dalam keluarga. Kata Kunci: Kritik Sosial. Film. Sosiologi Sastra. Patriarki. Gender. ABSTRACT The film Catatan Harian Menantu Sinting by Sunil Soraya is a comedy -drama that portrays the realities of family life within Batak culture. This study aims to analyze the social criticism presented in the film through the lens of literary sociology. The research employs a descriptive -qualitative method, with data collected through film observation and literature review. The findings indicate that the film critiques patriarchal culture, conflicts between daughters-in-law and mothers-in-law, social pressures in marriage, gender role disparities, and the expectation of having a male child within the The social criticism conveyed in the film represents societal realities and provides audiences with a reflection on the importance of shifting perspectives within the family structure. Keywords: Social Criticism. Film. Literary Sociology. Patriarchy. Gender. PENDAHULUAN Sastra memiliki peran penting dalam merefleksikan kondisi sosial masyarakat. Film sebagai salah satu bentuk sastra modern sering kali digunakan untuk mengkritisi berbagai fenomena sosial, termasuk isu-isu gender, relasi keluarga, dan budaya patriarki (Damono. Film bukan hanya menjadi hiburan semata, namun film juga digunakan untuk menyampaikan pesan moral bagi masyarakat setiap adegannya. Film sering dimanfaatkan sebagai alat komunikasi yang mampu mengungkap berbagai kegelisahan masyarakat (Trianita & Azahra, 2. Film memiliki peran yang sangat penting di kehidupan modern. Film memiliki keunggulan yakni, menggambarkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Menurut Yousfat dalam Trianita dan Azahra . , film dapat dianggap menjadi media yang paling efektif dibandingkan media lainnya karena memiliki keunggulan tersebut. Salah satu film yang mengandung kritik sosial terhadap peran gender dan ekspektasi keluarga adalah Catatan Harian Menantu Sinting, yang menggambarkan kehidupan rumah tangga pasangan muda dalam budaya Batak. Dalam masyarakat Indonesia, pernikahan sering kali tidak hanya melibatkan dua individu, tetapi juga keluarga besar. Hal ini sering kali menyebabkan konflik antara pasangan dengan keluarga, terutama dalam sistem patriarki yang masih kuat. Film ini memberikan gambaran bagaimana tekanan sosial dan ekspektasi budaya terhadap perempuan dalam pernikahan masih menjadi persoalan yang dihadapi dalam masyarakat. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra, yang menelaah bagaimana karya sastra . mencerminkan dan mengkritisi fenomena sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi film dan studi literatur. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi elemen-elemen sosial dalam film yang merefleksikan fenomena budaya, pernikahan, dan gender dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dalam Film AuCatatan Harian Menantu SintingAy yang disutradarai oleh Sunil Soraya terdapat empat kritik sosial, yakni: Kritik terhadap Budaya Patriarki dalam Keluarga Batak Budaya patriarki merupakan sistem yang tidak mendukung kesetaraan dan keseimbangan, sehingga peran perempuan seringkali dianggap kurang berarti (Karkono, dkk. Budaya patriarki masih menjadi sistem sosial yang kuat dalam banyak keluarga di Indonesia, termasuk dalam budaya Batak. Sistem ini menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga dan penentu utama dalam berbagai aspek kehidupan, sementara perempuan sering kali dianggap memiliki peran domestik yang terbatas pada urusan rumah tangga. Film Catatan Harian Menantu Sinting terdapat kritik terhadap budaya patriarki terlihat melalui pengalaman yang dialami oleh tokoh Minar. Sebagai seorang menantu perempuan, ia dihadapkan pada tekanan sosial yang besar, terutama dalam hal kewajiban memiliki anak laki-laki. Minar diharapkan segera melahirkan anak laki-laki agar dapat diterima sepenuhnya dalam keluarga suaminya. Pandangan ini menunjukkan bahwa dalam sistem patriarki, nilai seorang perempuan sering kali diukur dari kemampuannya memberikan keturunan, khususnya anak laki-laki yang dianggap sebagai penerus keluarga. Selain itu, film ini juga menampilkan bagaimana ibu mertua, yang dalam hal ini adalah Mamak Mertua, berperan dalam mempertahankan sistem patriarki. Mamak Mertua memiliki kendali yang kuat terhadap kehidupan rumah tangga Minar dan Sahat. Ia sering kali ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, memberikan tekanan kepada Minar, serta menuntut agar Minar mengikuti standar keluarga suaminya. Hal ini mencerminkan bagaimana perempuan yang lebih tua dalam budaya patriarki sering kali menjadi bagian dari sistem yang membatasi kebebasan perempuan yang lebih muda. Kritik dalam film ini menyoroti bagaimana patriarki tidak hanya melibatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan, tetapi juga perempuan yang sudah terbiasa dengan sistem ini sehingga mereka justru menjadi agen yang mempertahankan tradisi tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem patriarki telah tertanam dalam struktur keluarga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Film ini memberikan refleksi bagi masyarakat bahwa sistem patriarki dapat membawa dampak negatif terhadap perempuan, terutama dalam pernikahan. Harapan yang dibebankan kepada perempuan untuk memenuhi standar tertentu, seperti memiliki anak laki-laki atau tunduk pada kendali mertua, menunjukkan perlunya perubahan pola pikir dalam keluarga. Dengan demikian, film ini berperan dalam mengkritik norma sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat serta mengajak penonton untuk berpikir lebih kritis terhadap peran gender dalam rumah tangga. Konflik Menantu dan Mertua: Representasi Ketegangan dalam Struktur Keluarga Konflik antara menantu dan mertua sering kali terjadi dalam keluarga, yang dapat memengaruhi dinamika hubungan antar anggota keluarga. Ketegangan ini umumnya disebabkan oleh perbedaan pandangan, nilai, dan harapan antara keduanya, yang sering dipengaruhi oleh faktor sosial atau budaya. Menantu, baik pria maupun wanita, sering kali merasa tidak diterima sepenuhnya oleh keluarga pasangan mereka, sementara mertua cenderung merasa berhak untuk mengawasi atau mengatur kehidupan anak mereka, yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada menantu. Salah satu penyebab utama yang memperburuk konflik ini adalah perbedaan pandangan mengenai peran masing-masing dalam keluarga. Mertua, terutama yang berpegang pada pandangan tradisional, sering merasa memiliki otoritas lebih dalam pengambilan keputusan yang melibatkan anak mereka. Sebaliknya, menantu yang berasal dari latar belakang berbeda sering merasa bahwa hak mereka untuk membuat keputusan bersama pasangan tidak Ketegangan ini semakin terasa jika menantu merasa diperlakukan sebagai pihak luar dalam keluarga besar. Selain itu, ekspektasi sosial dan budaya yang mengharuskan menantu menyesuaikan diri dengan keluarga pasangan juga dapat memperburuk situasi. Dalam beberapa budaya, wanita sering diharapkan untuk mengikuti keinginan mertua, terutama dalam hal pengelolaan rumah tangga atau pola asuh anak. Ketegangan menjadi semakin besar jika menantu merasa dipaksa untuk memenuhi tuntutan yang tidak adil atau tidak realistis dari mertua, yang sering kali lebih memprioritaskan tradisi atau norma keluarga ketimbang kebebasan individu. Konflik seperti ini dapat berdampak negatif bagi hubungan keluarga yang lebih luas, termasuk hubungan pasangan itu sendiri. Suami atau istri mungkin merasa terpojok antara mendukung pasangan atau menjaga hubungan baik dengan orang tua mereka. Jika ketegangan ini tidak diselesaikan dengan baik, bisa menimbulkan frustrasi berkepanjangan dan bahkan perpecahan dalam keluarga. Namun, konflik ini dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Komunikasi yang terbuka serta pemahaman yang mendalam terhadap perspektif masing-masing dapat membantu pasangan mengatasi ketegangan tersebut. Penyelesaian yang efektif sering kali melibatkan kompromi, penyesuaian harapan, serta sikap saling menghargai dan memahami. Dengan cara ini, hubungan antara menantu dan mertua dapat menjadi lebih harmonis dan membawa manfaat bagi seluruh keluarga. Kesenjangan Peran Gender dalam Rumah Tangga Film ini memperlihatkan bagaimana peran domestik masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Meskipun Minar dan Sahat sama-sama bekerja. Minar tetap harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga, sedangkan Sahat memiliki kebebasan yang lebih besar. Hal ini mencerminkan realitas dalam banyak keluarga di Indonesia, di mana perempuan masih memiliki beban ganda dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan (Oakley, 1. Film Catatan Harian Menantu Sinting secara gamblang menampilkan isu kesenjangan peran gender dalam rumah tangga, yang tercermin dalam karakter Minar dan Sahat. Meskipun keduanya merupakan pasangan muda yang sama-sama bekerja, beban domestik secara tidak proporsional tetap dijatuhkan kepada Minar. Ia harus menjalankan pekerjaan rumah tangga sendirian, sementara Sahat tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan dalam urusan domestik. Hal ini mencerminkan struktur sosial yang masih mengakar dalam masyarakat kita, di mana perempuan secara tradisional dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan rumah, terlepas dari status pekerjaan atau pendidikan mereka. Fenomena beban ganda ini tidak hanya membatasi waktu dan energi perempuan, tetapi juga memengaruhi keseimbangan relasi dalam rumah tangga, di mana kontribusi perempuan sering kali tidak mendapat pengakuan yang setara. Dalam kerangka sosiologi sastra, isu ini penting karena mencerminkan sistem nilai masyarakat yang belum sepenuhnya adil terhadap perempuan. Teori peran gender menunjukkan bahwa pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin merupakan konstruksi sosial, bukan hal yang alamiah atau kodrati. Oleh karena itu, ketika film ini menggambarkan realitas yang dialami Minar, sesungguhnya ia sedang menyoroti dan mengkritisi struktur sosial yang timpang tersebut. Representasi ini mengajak penonton untuk berpikir kritis terhadap pola relasi dalam keluarga dan menantang norma-norma tradisional yang membatasi peran perempuan hanya pada ranah domestik. Dengan menyuarakan pentingnya kesetaraan dalam peran dan tanggung jawab rumah tangga, film ini berkontribusi dalam mendorong perubahan pola pikir masyarakat menuju pembagian peran yang lebih adil. Pendekatan sosiologi sastra yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bagaimana karya sastra dapat menjadi medium yang kuat dalam menyampaikan realitas sosial dan memantik kesadaran kolektif akan isu kesetaraan gender (Hapsari, 2. Ekspektasi Sosial terhadap Anak Laki-laki sebagai Pewaris Catatan Harian Menantu Sinting merupakan film yang menampilkan realitas kehidupan rumah tangga pasangan muda yang harus menghadapi tekanan sosial serta campur tangan keluarga besar. Film ini mengangkat isu patriarki, di mana seorang menantu perempuan diharapkan untuk menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan keluarga suaminya. Salah satu tema utama yang diangkat dalam film ini adalah harapan sosial terhadap anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Dalam banyak budaya di Indonesia, anak laki-laki masih lebih diutamakan dibandingkan anak perempuan, karena dianggap sebagai pewaris garis keturunan dan pemimpin dalam keluarga (Bourdieu, 2. Melalui alur ceritanya, film ini secara implisit mengkritik pemikiran tersebut dengan menggambarkan dampak negatif dari ekspektasi yang berlebihan. Tekanan semacam ini tidak hanya membebani pasangan muda, tetapi juga sering kali menyudutkan perempuan apabila mereka belum memiliki anak atau hanya memiliki anak perempuan. Padahal, secara biologis, jenis kelamin anak ditentukan oleh faktor genetik dari pihak laki-laki, bukan perempuan. Selain itu, film ini memperlihatkan bagaimana keterlibatan keluarga besar dalam rumah tangga dapat menjadi tantangan bagi pasangan suami istri. Campur tangan mertua, terutama ibu mertua, sering kali menjadi sumber konflik yang mempersulit kehidupan menantu perempuan. Budaya yang masih menuntut menantu perempuan untuk tunduk dan mengikuti keinginan keluarga suami membuat mereka kehilangan kebebasan dalam mengambil keputusan. Pesan sosial yang disampaikan dalam film ini dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran gender dalam rumah tangga. Dengan menampilkan realitas yang dihadapi banyak perempuan dalam keluarga patriarki, film ini mendorong perbincangan mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam pernikahan serta perlunya batasan yang jelas antara rumah tangga pasangan muda dan pengaruh keluarga besar. Lebih dari sekadar hiburan. Catatan Harian Menantu Sinting berfungsi sebagai media refleksi sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Film ini dapat menjadi sarana edukasi bagi pasangan muda agar lebih memahami pentingnya membangun hubungan yang sehat dan independen tanpa tekanan dari tradisi yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Film ini secara tidak langsung mengkritik pandangan ini dengan menunjukkan bagaimana ekspektasi semacam itu dapat menimbulkan tekanan bagi pasangan muda, terutama bagi perempuan yang sering kali disalahkan jika mereka belum memiliki anak atau hanya memiliki anak perempuan. Kritik sosial yang disampaikan dalam film ini dapat berkontribusi pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap peran gender dan pernikahan. Dengan menampilkan realitas yang dihadapi banyak perempuan dalam rumah tangga, film ini mendorong diskusi tentang pentingnya kesetaraan gender dalam pernikahan serta perlunya perubahan pola pikir dalam keluarga patriarki. Selain itu, film ini juga dapat menjadi media edukasi bagi pasangan muda untuk memahami pentingnya batasan antara kehid upan rumah tangga dan campur tangan keluarga besar. KESIMPULAN Film Catatan Harian Menantu Sinting tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung kritik sosial yang kuat terhadap budaya patriarki, konflik menantu-mertua, kesenjangan peran gender, dan ekspektasi sosial dalam pernikahan. Melalui pendekatan sosiologi sastra, dapat dilihat bahwa film ini merefleksikan realitas yang masih dihadapi oleh banyak perempuan di Indonesia. Dengan demikian, film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk menyuarakan perubahan sosial yang lebih adil dalam keluarga dan DAFTAR PUSTAKA