Al-Mabhats : Jurnal Penelitian Sosial Agama Juli Ae Desember 2025 | p. DOI: https://doi. org/10. 47766/almabhats. e-ISSN: 2615-5. p-ISSN: 2548-3838 Internalisasi Nilai-Nilai Sosial dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. Dwi Adhi Widodo1*. Syaiful Hadi1. Misbahun Nidhom1 1 Sekolah Tinggi Islam Kendal. Indonesia ARTICLE HISTORY Received: 03-02-2025 Accepted: 17-06-2025 Publishe: 31-06-2025 Keywords: Internalization of Social Values. Islamic Religious Education. Humanistic Character. Adaptive Learning Strategies, the Society 5. 0 Era Kata Kunci: Internalisasi Nilai Sosial. Pendidikan Agama Islam. Karakter Humanis. Strategi Pembelajaran Adaptif. Era Society 5. Abstract: The emergence of Society 5. 0 represents a paradigm shift that integrates technology deeply into daily life while posing challenges such as social character degradation and digital individualism. This study qualitatively examines the strategic role of Islamic Religious Education (PAI) in fostering humanistic character and spirituality among learners in response to these changes. Through systematic literature review with descriptive-analytical design, findings reveal that digital-humanistic pedagogy, which positively integrates technology with ethical values, effectively internalizes social values in PAI. The implementation of blended learning and the "Kurikulum Merdeka" curriculum facilitates the transformation of abstract values into concrete social actions via projectbased learning. Moreover, this research reconceptualizes PAI educators as mediators of digital ethics ("uswah hasanah digital"), transcending their traditional role as knowledge In conclusion, adaptive and contextualized PAI serves as a crucial moral foundation in shaping devout individuals who are also responsible digital citizens. This underscores the importance of synergy between technology and value-based education to preserve humanity amid modernization pressures. Abstrak: Perkembangan Era Society 5. 0 membawa pergeseran paradigma yang menempatkan teknologi sebagai bagian integral kehidupan, namun sekaligus menghadirkan tantangan berupa degradasi karakter sosial dan individualisme digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter humanis dan spiritualitas peserta didik guna menjawab dinamika zaman tersebut. Menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka . ibrary researc. dengan desain deskriptif-analitis, penelitian ini mensintesis berbagai literatur primer dan sekunder secara sistematis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai sosial dalam PAI di era modern dilakukan melalui strategi pedagogi digital-humanis yang mengintegrasikan teknologi secara positif dengan nilai-nilai adab. Penggunaan blended learning dan Kurikulum Merdeka terbukti efektif mentransformasi nilai abstrak menjadi aksi nyata melalui pembelajaran berbasis proyek sosial. Selain itu, kebaruan penelitian ini mereposisi peran guru PAI bukan sekadar pengajar, melainkan sebagai mediator nilai dan etika digital . swah hasanah digita. Kesimpulannya. PAI yang adaptif dan kontekstual berfungsi sebagai fondasi moral yang krusial dalam membentuk pribadi yang saleh sekaligus warga digital yang bertanggung jawab. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya sinergi antara teknologi dan pendidikan nilai untuk menjaga dimensi kemanusiaan di tengah arus modernisasi. A 2025 Authors Under The License CC-BY SA 4. Corresponding Author: A dwiadhiwidodo@gmail. https://doi. org/10. 47766/almabhats. Al Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom PENDAHULUAN Perkembangan Era Society 5. 0 menandai pergeseran paradigma peradaban manusia yang menempatkan teknologi sebagai bagian integral dari kehidupan sosial. Integrasi kecerdasan buatan, big data, dan konektivitas digital telah membentuk pola interaksi baru yang serba cepat, terbuka, dan terhubung lintas batas (Chigbu & Makapela. Namun, transformasi tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan penguatan karakter sosial peserta didik (Effendi et al. , 2. Fenomena individualisme digital, berkurangnya sensitivitas empatik, serta meningkatnya interaksi virtual yang minim nilai etis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi memerlukan fondasi moral dan sosial yang kokoh. Dalam konteks ini, pendidikan memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan bahwa modernisasi tidak mengikis dimensi kemanusiaan. Perkembangan era modern membawa perubahan yang begitu cepat dan mendalam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi informasi, arus globalisasi, serta modernisasi menghadirkan peluang dan tantangan yang begitu nyata bagi generasi muda. Di satu sisi, akses informasi yang luas dan interaksi global membuka wawasan baru bagi peserta didik. Namun di sisi lain, perubahan ini tidak jarang menimbulkan persoalan sosial, seperti krisis moral, melemahnya karakter, dan menurunnya kesadaran spiritual (Fitriya et al. , 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa, tanpa bimbingan dan pendidikan yang menekankan nilai-nilai moral dan spiritual, generasi muda berisiko kehilangan arah dan pedoman dalam bersikap serta bertindak di tengah kompleksitas kehidupan modern. Arus globalisasi membawa tantangan bagi pendidikan Islam dalam menjaga identitas moral serta spiritual peserta didik. Globalisasi menghadirkan berbagai nilai, gaya hidup, dan cara pandang baru yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai keislaman. Dalam situasi seperti ini. Pendidikan Agama Islam tidak cukup hanya disampaikan sebagai pengetahuan normatif dan teoritis, tetapi perlu dikembangkan secara kontekstual dan membumi. Pendidikan Agama Islam harus mampu menyentuh realitas kehidupan peserta didik, menjawab persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam keseharian, serta membimbing mereka agar dapat bersikap bijak, kritis, dan tetap berpegang pada nilai moral dan spiritual Islam di tengah dinamika kehidupan modern (Sudirman et al. , 2. Perubahan besar dalam pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda telah terjadi akibat perkembangan zaman modern dan digitalisasi. Akses informasi yang mudah serta pengaruh budaya global seringkali disertai penguatan nilai moral dan spiritual yang memadai dalam sistem pendidikan. Hal ini mengakibatkan banyak remaja muncul dengan fenomena sosial yang menjadi tanda adanya krisis moral seperti, kecenderungan hedonisme, menurunnya rasa tanggung jawab, berkurangnya kesadaran spiritual, dan rendahnya empati terhadap orang lain. Pandangan ini juga terlihat ketika digitalisasi mempercepat penyebaran budaya populer tanpa adanya pengawasan nilai yang kokoh dari pendidikan agama dan keluarga. Situasi ini tidak hanya disebabkan oleh kesalahan AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. individu, namun juga mencerminkan adanya kekurangan dalam pendidikan karakter dan spiritual yang fleksibel terhadap perkembangan zaman. Di tengah pergeseran nilai dan norma akibat dinamika globalisasi. Pendidikan Agama Islam (PAI) menempati posisi sentral sebagai benteng moral dalam ekosistem PAI tidak direduksi menjadi sekadar doktrin hafalan, melainkan bertransformasi menjadi ruang dialektika nilai yang memandu peserta didik mengaplikasikan ajaran Islam di tengah kompleksitas interaksi sosial (Jaschok & Chan. Saada, 2. Tujuan utamanya adalah mencetak individu yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran relasional yang seimbang terhadap pencipta dan lingkungannya. Sebagai instrumen pembentuk karakter, pendidikan Islam memikul tanggung jawab krusial untuk menanamkan prinsip kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi lintas sektoral . ekolah, keluarga, dan masyaraka. Melalui pendekatan yang bertumpu pada realitas keseharian, pendidikan ini membantu peserta didik menghayati nilai-nilai kebaikan menjadi sebuah praksis hidup. Konsekuensinya, proses edukasi ini bermuara pada lahirnya generasi muda yang tidak sekadar unggul secara rasional, namun juga tangguh secara etis dan mampu merajut kohesi sosial di masyarakat (Heni Julaika Putri et , 2. Namun, realitas pembelajaran PAI di era modern masih menghadapi berbagai Pembelajaran sering kali lebih menekankan aspek kognitif dan belum sepenuhnya menyentuh dimensi afektif dan aplikatif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran Pendidikan Agama Islam agar mampu menjawab tantangan zaman dan berkontribusi secara nyata dalam membentuk karakter dan spiritual peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter dan spiritual peserta didik di era modern, serta mengidentifikasi strategi dan tantangan dalam implementasinya. METODE Penelitian berjenis kualitatif dengan metode studi pustaka yang bersifat deskriptif Pendekatan ini dipilih untuk melakukan penelaahan, pengumpulan, dan analisis mendalam terhadap berbagai sumber tertulis guna memperoleh pemahaman komprehensif mengenai peran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik di era modern. Sejalan dengan pemikiran (Bjyrndal et al. , 2024. Goodman, 2. , metode ini memungkinkan peneliti untuk menyatukan berbagai pandangan tokoh serta temuan terdahulu guna membangun kajian teoretis yang kuat dan argumen ilmiah yang sistematis tanpa harus melakukan observasi langsung di lapangan. Tabel 1. Kriteria Pemilihan dan Relevansi Sumber Literatur Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom Kriteria Kredibilitas Sumber Relevansi Tematik Kebaruan (Recenc. Kelengkapan (Holisti. Deskripsi Prosedur Pemilihan Mengutamakan sumber primer dari jurnal ilmiah nasional dan internasional yang terindeks, serta buku teks otoritatif dari tokoh pendidikan Islam. Penyeleksian literatur menggunakan kata kunci spesifik: "Pendidikan Agama Islam", "pendidikan karakter", "spiritualitas", dan "era modern". Memilih literatur yang membahas dinamika digitalisasi, globalisasi, dan perkembangan Era Society 5. Menyatukan berbagai pandangan tokoh . eperti Al-Ghazali. Zakiah Daradjat, dan Ahmad Tafsi. serta dokumen kebijakan Tujuan Penjaminan Data Menjamin validitas dan otoritas ilmiah argumen yang dibangun dalam Memastikan data yang dianalisis fokus pada inti permasalahan dan tidak meluas ke tema yang tidak Menjamin bahwa solusi dan strategi yang ditawarkan bersifat aktual dan adaptif terhadap tantangan zaman. Memungkinkan terbentuknya sintesis konseptual yang menyeluruh dan tidak bias pada satu sudut pandang Proses pemilihan dan penentuan sumber literatur dilakukan melalui penelusuran sistematis pada database ilmiah untuk menjamin kelengkapan dan relevansi data. Sumber data diklasifikasikan menjadi dua kategori: sumber primer yang terdiri dari artikel jurnal ilmiah nasional maupun internasional bertema PAI dan pendidikan karakter, serta sumber sekunder yang mencakup buku teks, dokumen kebijakan pendidikan, dan hasil penelitian relevan lainnya. Penentuan literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi yang ketat melalui penggunaan kata kunci spesifik seperti Pendidikan Agama Islam, pendidikan karakter, spiritual peserta didik, dan era modern guna memastikan setiap referensi memiliki keterkaitan langsung dengan fokus kajian. Data yang telah terkumpul kemudian diolah menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. melalui tahapan identifikasi, kategorisasi, dan interpretasi tematik terhadap gagasan-gagasan utama dari berbagai sumber. Analisis dilakukan secara interaktif melalui proses reduksi dan interpretasi untuk menemukan pola internalisasi nilai yang berkembang dalam praktik pembelajaran PAI di era 5. Teknik memungkinkan peneliti untuk menyusun sintesis konseptual yang solid dalam mengidentifikasi tantangan sekaligus merumuskan solusi implementatif bagi penguatan karakter humanis dan spiritualitas peserta didik di tengah dinamika digitalisasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep dan Tujuan Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam (PAI) didesain sebagai proses edukasi berkelanjutan untuk menginternalisasi ajaran Islam, dengan tujuan melahirkan individu beriman dan berakhlak mulia di ranah pribadi, sosial, dan kebangsaan. Esensi PAI tidak sebatas pada transfer ilmu agama secara teoretis, tetapi ditekankan pada aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam tindakan keseharian (Dwi Adhi Widodo & Hadi, 2. Sejalan dengan akar AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. terminologi pendidikan dalam bahasa Arab yang mencakup tiga dimensi utama: al-taAolim . ransmisi pengetahua. , al-tarbiyah . engasuhan dan pembinaan holisti. , serta al-taAodib . embinaan yang berorientasi pada penyempurnaan karakter dan mora. Para pakar pendidikan sepakat bahwa esensi PAI bermuara pada internalisasi nilai Menurut Zakiah Daradjat. PAI adalah proses pembinaan kepribadian Muslim yang berfokus pada keimanan, ketakwaan, dan akhlak karimah, yang menegaskan bahwa pendidikan agama bukan sekadar penyampaian dogma, melainkan pembentukan karakter secara utuh (Kafa Aula et al. , 2. Pandangan ini diperkuat oleh Ahmad Tafsir, yang memaknai pendidikan Islam sebagai upaya bimbingan secara sadar guna membentuk karakter esensial seorang Muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dari beberapa penjelasan diatas secara garis besar, pendidikan dalam Islam dikenal dengan beberapa istilah seperti taAolim, tarbiyah, dan taAodib. TaAolim lebih menekankan pada kegiatan mengajar atau menyampaikan ilmu, tarbiyah mengandung makna merawat dan menumbuhkan potensi peserta didik, sedangkan taAodib berfokus pada pembentukan akhlak dan perilaku yang baik. Di antara ketiganya, istilah tarbiyah paling banyak digunakan dalam konteks pendidikan agama Islam, karena menggambarkan proses mendidik secara menyeluruh, mulai dari ilmu, karakter, hingga akhlak. Bahkan para ahli seperti Zakiah Daradjat dan Ahmad Tafsir juga menegaskan bahwa pendidikan agama Islam bukan hanya soal memberikan pengetahuan agama, tetapi lebih dari itu yaitu membimbing, mengasuh, dan membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dengan kata lain, pendidikan agama Islam adalah proses memanusiakan manusia sesuai ajaran Islam, agar ia tumbuh sebagai pribadi yang baik, berkarakter, dan mampu membawa kebaikan bagi lingkungan Tujuan Pendidikan Agama Islam Dalam filosofi Al-Ghazali, tujuan esensial pendidikan berorientasi pada pembentukan insan kamil . anusia paripurn. guna mencapai kebahagiaan duniawi dan Hal ini direalisasikan melalui pencarian ilmu yang dibarengi dengan aktualisasi fadhilah . eutamaan mora. Al-Ghazali menegaskan bahwa pendidikan melampaui batas akumulasi pengetahuan kognitif. ia merupakan wahana spiritual untuk mencapai taqarrub ilallah . edekatan dengan Alla. Dengan mensinergikan keilmuan, amal, dan keluhuran akhlak, pendidikan diproyeksikan mampu mencetak individu yang memiliki ekuilibrium antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kedalaman Ketika pendidikan mampu membentuk karakter seperti itu, maka manusia akan mampu menjalani kehidupan dunia dengan bijaksana, penuh kedamaian, dan bermanfaat bagi sesama. Lebih dari itu, ia juga akan meraih kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak. Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Al-Ghazali adalah proses memuliakan manusia, membimbingnya menuju kebajikan, dan menuntunnya untuk menemukan kebahagiaan dunia dan akhirat secara seimbang. Secara filosofis, orientasi utama pendidikan Islam berpusat pada pembinaan Muhammad Athiyyah Al-Abrasyi menegaskan bahwa konstruksi akhlak merupakan jiwa dari sistem pendidikan Islam. Pendidikan budi pekerti sebagai ruh pendidikan Islam, yang menetapkan keluhuran akhlak sebagai capaian tertinggi. Konvergensi pemikiran ini bermuara pada kesimpulan bahwa tujuan sejati pendidikan Islam adalah mencetak profil manusia yang mengintegrasikan akhlak mulia dengan kepribadian yang utuh. Namun, penekanan pada akhlak tidak berarti mengabaikan aspek pendidikan Pendidikan Islam tetap memberi perhatian yang seimbang terhadap pengembangan jasmani, akal, ilmu pengetahuan, serta keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik dan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembinaan kepribadian, kepekaan rasa, dan kematangan jiwa. Oleh karena itu, pendidikan Islam hadir sebagai proses menyeluruh yang berupaya menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan, keterampilan, dan akhlak dalam diri peserta didik. Pendidikan Islam harus memperhatikan kehidupan agama dan kehidupan dunia secara bersamaan. Pendidikan Islam tidak membatasi diri hanya pada pembinaan aspek spiritual semata, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam kehidupan duniawi secara bertanggung jawab. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar mampu menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat, sebagaimana tersirat dalam sabda beliau yang mengajak umat Islam untuk bekerja dan beramal bagi kehidupan dunia tanpa melupakan persiapan untuk kehidupan akhirat (Syam, 2. Dengan keseimbangan inilah pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan manusia yang beriman, berakhlak mulia, produktif, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Peserta Didik Pendidikan Agama Islam (PAI) berperan vital sebagai instrumen pembentuk karakter yang menjembatani keimanan teoretis dengan perilaku praktis keseharian, seperti kejujuran dan tanggung jawab sosial. Konsep karakter ini memiliki ekuivalensi dengan konsep akhlak dalam Islam, yang menurut Al-Ghazali merupakan kondisi kejiwaan yang menetap dan menghasilkan perbuatan secara spontan (Delviany et al. Karena akhlak identik dengan karakter yang mengakar, proses pendidikannya tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan pendekatan yang holistik dan berkesinambungan melalui keteladanan, pembiasaan, serta internalisasi nilai agar karakter mulia tersebut menyatu secara utuh dalam kepribadian peserta didik. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat di era digital telah mengubah cara hidup, bekerja, dan belajar manusia, membawa manfaat sekaligus AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. tantangan baru bagi dunia pendidikan. Peserta didik terpapar arus informasi luas, budaya populer, dan nilai-nilai instan yang belum tentu sejalan dengan prinsip moral dan spiritual, sehingga berdampak nyata pada pembentukan karakter dan perilaku mereka. Dalam konteks ini. PAI berperan penting sebagai media transfer ilmu sekaligus benteng moral yang membantu siswa menyaring pengaruh negatif teknologi. PAI berfungsi sebagai fondasi pembentukan karakter religius yang menyeimbangkan iman dan etika sosial, sehingga peserta didik dapat menggunakan teknologi secara proporsional tanpa kehilangan identitas diri. Transformasi karakter yang melampaui kesalehan ritual ini membutuhkan sinergi instrumen pedagogis, seperti keteladanan guru, pembiasaan tindakan positif, dan penguatan kultur religius yang terintegrasi dalam lingkungan sekolah. Strategi ini sangat esensial dalam membentuk karakter humanis yang adaptif di era 5. Peran Pendidikan Agama Islam dalam Menumbuhkan Spiritual Peserta Didik Urgensi PAI bersentral dalam mengonstruksi kecerdasan spiritual peserta didik, yang ditandai dengan transformasi pemahaman kognitif menjadi praksis nilai-nilai Islam di kehidupan nyata. Efektivitas transformasi ini sangat bergantung pada penerapan pendekatan pembelajaran integratif . ognitif, afektif, dan psikomotori. yang didukung oleh strategi variatif, seperti experiential learning dan pemanfaatan teknologi. Selain itu, habituasi keagamaan dan keteladanan pendidik di lingkungan sekolah menjadi prasyarat mutlak bagi keberhasilan internalisasi nilai. Pada akhirnya, penyelenggaraan PAI yang holistik ini berimplikasi langsung pada terbentuknya profil siswa yang memiliki integritas ibadah yang kuat, kecakapan sosial yang harmonis, serta empati sosial yang (Abdullah et al. , 2. Selain membentuk karakter dan spiritual. Pendidikan Agama Islam juga berkontribusi terhadap ketahanan mental dan emosional peserta didik. Kesadaran spiritual yang kuat membantu peserta didik lebih tangguh dalam menghadapi tekanan hidup, mampu mengendalikan diri dari pengaruh negatif lingkungan, serta menghindari perilaku menyimpang. Dalam konteks era globalisasi yang sarat dengan budaya konsumtif dan hedonisme. Pendidikan Agama Islam berfungsi sebagai benteng moral yang membekali peserta didik dengan nilai-nilai kesabaran, empati, dan tanggung jawab, sehingga mereka mampu menjalani kehidupan modern secara bijak tanpa kehilangan jati diri keislaman. Dalam konteks sekolah modern, penanaman nilai spiritual perlu dilakukan secara dialogis dan reflektif agar peserta didik tidak merasa terpaksa, melainkan tumbuh kesadarannya secara alami. Pembelajaran PAI yang humanis akan membantu peserta didik memahami bahwa nilai spiritual memiliki relevansi langsung dengan kehidupan Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Era Modern Relevansi pendidikan PAI praktis, dan terhubung erat dengan kehidupan nyata serta konteks sehari-hari peserta didik dan masyarakat, maka diperlukan strategi pembelajaran yang kontekstual dan humanis. Pendekatan pembelajaran aktif, diskusi nilai, studi kasus, serta pemanfaatan media digital dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik. Guru PAI perlu mengaitkan materi dengan realitas sosial yang dihadapi peserta didik, seperti pergaulan, media sosial, dan tantangan moral remaja. Menuru Alawiyah dan Ritonga , strategi dalam pembelajaran adalah suatu ide tentang aktivitas yang melibatkan teknik, metode, dan beragam alat serta fasilitas dalam proses belajar mengajar, yang dirancang untuk mencapai tujuan Pendidikan (Alawiyah et al. , 2023. Ritonga et al. , 2. Dalam pengertian yang lebih luas, strategi pendidikan mencakup perancangan, pelaksanaan, penilaian, pengembangan, dan perbaikan yang bertujuan untuk menentukan dan menilai perubahan cara berpikir, pendekatan metode, teknik, prosedur, serta aturan atau batasan untuk mencapai keberhasilan (Sodiq et al. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran PAI juga menjadi strategi penting di sekolah modern. Media digital, video edukatif, dan platform pembelajaran daring dapat dimanfaatkan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai keislaman secara kreatif dan Berikut beberapa strategi yang dapat di gunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di era modern: Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Era Digital Era disrupsi digital, integrasi teknologi ke dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan sebuah urgensi pedagogis. Pemanfaatan aplikasi, platform daring, dan multimedia berfungsi ganda: menyajikan materi secara komprehensif sekaligus mengontekstualisasikan nilai keislaman dengan realitas kehidupan siswa agar lebih bermakna (Pudyastuti et al. , 2. Strategi instruksional yang inovatif ini dirancang selaras dengan perkembangan teori belajar modern guna memfasilitasi keterlibatan aktif dan kemandirian siswa tanpa dibatasi ruang kelas. Terciptanya iklim pembelajaran yang interaktif dan penuh afirmasi positif ini secara signifikan mampu meningkatkan motivasi serta kreativitas siswa, sehingga proses edukasi berlangsung secara partisipatif dan efektif. Strategi Pembelajaran Abad 21 Strategi pembelajaran abad 21 ini menekankan pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif yang sangat dibutuhkan siswa dalam menghadapi dinamika dan tantangan perubahan zaman. Melalui strategi ini, siswa tidak hanya diajak memahami materi secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk berpikir mendalam, berani mengemukakan gagasan, bekerja sama dengan orang lain, serta mampu menyampaikan pendapat secara santun dan efektif, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata (Naim et al. , 2. Strategi pembelajaran ini sangat relevan karena pembelajaran tidak hanya berorientasi AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan keterampilan dan karakter siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan kontekstual dengan kehidupan nyata (Nurmayuli, 2. Blended Learning dan Pembelajaran Interaktif Strategi pembelajaran berbasis blended learning merupakan perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses belajar. Melalui blended learning, materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan di mana saja, baik secara online maupun offline, sehingga pembelajaran berlangsung lebih efektif, efisien, fleksibel, dan tidak kaku. Pemanfaatan aplikasi seperti Google Classroom berfungsi sebagai media pendukung untuk mengelola dan menyampaikan materi pembelajaran yang telah disiapkan (Sodiq et al. , 2. Pendekatan yang Mengintegrasikan Nilai Moral dan Etika Pendekatan instruksional yang mengintegrasikan nilai moral dan etika mentransformasi esensi pendidikan menjadi sarana strategis bagi pembentukan Melalui desain pembelajaran kontekstual yang mengedepankan diskusi, refleksi, keteladanan, serta pengalaman empiris, peserta didik difasilitasi untuk menginternalisasi nilai-nilai keislaman. Orientasi fundamental dari metode ini adalah memastikan bahwa pemahaman etika agama melampaui batas kognitif semata, sehingga dapat teraktualisasi secara utuh dan menetap dalam perilaku kehidupan siswa seharihari. Strategi Kontekstual dan Merdeka Belajar Kurikulum Merdeka diimplementasikan sejak tahun 2020 sebagai substitusi adaptif terhadap Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat. Pendekatan ini mereduksi kepadatan materi untuk memfokuskan pembelajaran pada pengembangan karakter, kompetensi, dan kreativitas melalui metode partisipatif dan berbasis proyek. Dalam ekosistem ini, pendidik difungsikan sebagai fasilitator yang merancang kurikulum operasional secara mandiri dan mengelola Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Orientasi strategis kurikulum ini bermuara pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan industri, serta penguatan integrasi nasional. (Hamdalah et al. , 2. Kurikulum Merdeka merupakan instrumen kebijakan adaptif yang mengedepankan paradigma student-centered dan pembelajaran partisipatif. Orientasinya tidak terbatas pada capaian kognitif, melainkan mencakup pembentukan karakter dan kemandirian melalui peran fasilitatif guru serta keleluasaan adaptasi lokal. Sejalan dengan filosofi tersebut, strategi instruksional PAI masa kini bertransformasi menjadi ekosistem yang Integrasi blended learning dan platform digital tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas teknologis, tetapi juga sebagai medium untuk memperluas otonomi belajar Implikasi nyatanya terlihat pada penguatan akuntabilitas personal, di mana Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom kecakapan manajemen waktu dan literasi informasi menjadi wujud konkret dari internalisasi nilai disiplin dan kejujuran di era digital. Analisis lebih mendalam terhadap penerapan Kurikulum Merdeka mengungkap bahwa pembelajaran berbasis proyek . roject based learnin. efektif dalam menjembatani kesenjangan antara teori agama dan praktik sosial. Melalui proyek-proyek sosial yang terintegrasi, nilai-nilai abstrak seperti empati, keadilan, dan kepedulian kolektif bertransformasi menjadi aksi nyata yang dapat diobservasi. Strategi ini secara praktis memposisikan guru PAI bukan sebagai satu-satunya otoritas kebenaran, melainkan sebagai fasilitator dan mediator yang membantu peserta didik menemukan relevansi nilai Islam dalam memecahkan masalah sosial di era globalisasi. Dinamika strategi pembelajaran abad 21 yang menekankan pada berpikir kritis dan kolaborasi juga berkontribusi pada pembentukan karakter inklusif. Dengan mengintegrasikan metode diskusi dan studi kasus terkait tantangan moral remaja, peserta didik dilatih untuk berkomunikasi secara santun dan menghargai perbedaan pendapat dalam kerangka moderasi beragama. Dengan demikian, keberhasilan strategi pembelajaran PAI di era modern diukur dari sejauh mana teknologi digital dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran etis dan etika digital, sehingga peserta didik mampu menjadi individu yang saleh sekaligus warga digital yang bertanggung jawab. Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter dan Spiritual Guru PAI memiliki peran sentral dalam keberhasilan pembelajaran. Selain sebagai pendidik, guru juga berperan sebagai teladan moral dan spiritual bagi peserta didik. Sikap, perilaku, dan cara berinteraksi guru akan menjadi contoh nyata bagi siswa dalam mengamalkan nilai-nilai Islam. Di era modern, guru PAI dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, dan literasi digital agar mampu menyampaikan pembelajaran yang relevan dan bermakna. Guru yang mampu membangun hubungan humanis dengan peserta didik akan lebih efektif dalam menanamkan nilai karakter dan spiritual. Menurut Mubarak dan Fauzi, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebaiknya memiliki tiga peran sosial, yaitu (Mubarak & Fauzi, 2. Bersikap inklusif, objektif, dan tidak diskriminatif Artinya guru selalu ramah, adil, dan terbuka dalam berinteraksi dengan semua anggota masyarakat tanpa membeda-bedakan, sehingga menjadi teladan bagi siswa dan komunitas. Kemudia seorang guru juga mampu membangun komunikasi yang efektif dan harmonis, yaitu guru mampu menyampaikan pesan, membimbing, dan berdialog dengan berbagai pihak secara santun dan saling menghargai, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan kolaboratif. Ketiga, menjadi agen moral dan teladan kehidupan, yakni guru PAI tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga menunjukkan sikap dan perilaku yang AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. konsisten dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat meniru dan menginternalisasi akhlak yang baik dalam diri mereka. Bersikap Adaptif Guru PAI juga diharapkan memiliki sikap adaptif, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan budaya di tempat mereka bertugas, baik di sekolah maupun di sekitar tempat tinggal. Sikap ini tercermin dari kesediaan mereka untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat dan bahkan berperan lebih dari sekadar peserta, memberikan kontribusi dan menjadi teladan dalam setiap kegiatan yang berlangsung. Bersikap Komunikatif Bersikap komunikatif atau melakukan pendekatan komunikatif adalah cara belajar bahasa yang menekankan kemampuan menggunakan bahasa secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan membantu peserta didik mengembangkan keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara seimbang, dengan menyadari bahwa keempat keterampilan tersebut saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain (Asiah, 2. Guru perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik agar dapat membangun hubungan yang harmonis dengan siswa, rekan pendidik, dan masyarakat sekitar. Keterampilan akan lebih efektif jika guru mau terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat. Dengan ikut serta dalam berbagai kegiatan komunitas, guru dapat lebih memahami kondisi, kebutuhan, dan budaya masyarakat, sehingga hubungan yang terjalin menjadi lebih hangat, saling menghargai, dan memudahkan guru dalam membimbing serta mendampingi Keberhasilan pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat bergantung pada keteladanan guru PAI yang mampu mengonstruksi lingkungan belajar religius dan menginternalisasikan nilai moderasi beragama . ahmatan lil Aoalami. Guru berperan strategis tidak hanya sebagai sumber ilmu tetapi juga sebagai teladan nyata yang mencerminkan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab, sehingga pengaruhnya terhadap moral dan spiritual siswa lebih efektif dibandingkan pembelajaran teori semata. PAI bertransformasi menjadi mediator nilai yang proaktif dengan mengarahkan teknologi sebagai media dakwah dan penyebaran konten positif, membangun ekosistem pembelajaran kontekstual yang menguatkan kesadaran religius sekaligus literasi etika digital siswa. Dengan lingkungan belajar yang religius dan internalisasi nilai moderasi, guru tidak hanya membentuk siswa yang saleh secara spiritual, tetapi juga warga yang toleran, peduli, dan berkontribusi positif dalam masyarakat majemuk. Strategi ini sangat relevan dalam era 5. 0 untuk membangun karakter humanis yang adaptif dan responsif terhadap dinamika sosial modern. Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom Kebaruan penelitian terletak pada reposisi peran guru PAI sebagai mediator nilai dan etika digital, sebuah dimensi yang belum tereksplorasi secara mendalam pada penelitian-penelitian internalisasi nilai sebelumnya. Jika penelitian terdahulu lebih fokus pada keteladanan guru dalam aspek ritualistik dan perilaku tatap muka, penelitian menegaskan bahwa di era Society 5. 0, guru PAI harus menjadi role model dalam pemanfaatan teknologi secara bijak . swah hasanah digita. Guru berperan aktif membantu peserta didik menyaring arus informasi dan budaya populer yang tidak sejalan dengan prinsip moral Islam, sehingga teknologi berubah dari potensi ancaman menjadi sarana penguatan keimanan. Kontribusi unik dari penelitian adalah formulasi strategi transinternalisasi nilai melalui pembiasaan praktik sosial berbasis teknologi. Guru PAI tidak hanya mengajarkan moderasi beragama secara teoritis, tetapi mengintegrasikannya dalam interaksi virtual yang inklusif dan dialogis. Hal ini menjawab tantangan krisis moral digital seperti cyberbullying dan hedonisme dengan cara membangun kesadaran etis peserta didik sebagai warga global. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kerangka kerja praktis bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar religius yang adaptif dan tetap membumi di tengah kompleksitas digitalisasi. Tabel 2. Perbandingan dengan Penelitian Sebelumnya Aspek Fokus Keteladanan Metode Internalisasi Karakter Luaran Penelitian Sebelumnya (Umu. Karakter personal dan perilaku ibadah di lingkungan sekolah. Dominasi metode ceramah dan Terbentuknya pribadi yang saleh secara individual. Kebaharuan Karakter personal ditambah literasi etika digital dan keteladanan dalam ruang siber. Integrasi pembelajaran berbasis proyek sosial dan diskusi reflektif tentang realitas Terbentuknya karakter humanis-digital yang inklusif, toleran, dan adaptif terhadap Tantangan dan Solusi Implementasi Pendidikan Agama Islam di Era Modern Pendidikan Islam kontemporer dihadapkan pada urgensi internalisasi nilai religius di tengah ambivalensi dampak teknologi digital. Meskipun teknologi mengakselerasi proses pembelajaran, ketiadaan pembinaan karakter yang komprehensif berpotensi memicu degradasi spiritual peserta didik. Merespons hal tersebut, pendidikan Islam harus beradaptasi melalui pendekatan integratif yang mensinergikan pemanfaatan teknologi positif dengan pengembangan domain kognitif, afektif, dan psikomotorik berbasis nilai Islam. Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada komitmen pendidik dan institusi dalam mengintegrasikan nilai-nilai agama secara holistik ke dalam kurikulum, program ekstrakurikuler, dan literasi digital, sehingga tercipta iklim pembelajaran yang relevan, sarat inspirasi, dan efektif dalam membentuk karakter religius (Hanif et al. , 2. AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. Keterbatasan tenaga didik juga merupakan tantangan terbesar dalam pengelolaan pendidikan agama Islam. Banyak guru yang belum memiliki pemahaman yang komprehensif tentang manajemen pendidikan Islam yang sejalan dengan perkembangan Minimnya pelatihan dan peningkatan profesional bagi para pendidik sering kali menjadi penghalang untuk mencapai hasil pendidikan yang optimal (Abnisa & Azis. Kompleksitas tantangan PAI menuntut penyesuaian metode pembelajaran agar sesuai dengan karakter siswa milenial yang visual, cepat bosan, dan dekat dengan teknologi, sambil tetap menjadi role model dan fasilitator yang kreatif. Selain itu, guru juga menghadapi risiko paparan konten negatif yang bertentangan dengan nilai agama dan harus mampu menanamkan nilai moral serta spiritual dalam konteks dunia maya. Perbedaan latar belakang budaya dan sosial siswa semakin menekankan pentingnya strategi pembelajaran yang inklusif, dialogis, dan adaptif agar pendidikan agama tetap relevan dan bermakna bagi semua peserta didik (Nofrianti & Arifmiboy, 2. Implementasi PAI di sekolah modern tidak terlepas dari berbagai tantangan, seperti dominasi pembelajaran kognitif, keterbatasan waktu, serta pengaruh negatif media Selain itu, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman nilai agama dan praktik nyata dalam kehidupan peserta didik. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan sinergi antara sekolah, guru, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Penguatan budaya religius sekolah, pelatihan guru, serta integrasi nilai PAI dalam seluruh aktivitas pendidikan menjadi solusi strategis agar PAI benar-benar realistis. Dalam menghadapi tantangan tersebut juga, perubahan dan inovasi menjadi kunci penting dalam pengembangan pendidikan nasional. Upaya tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah pusat maupun daerah, tetapi membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari semua pihak. Mulai dari institusi pendidikan . asar, menengah, atas, hingga perguruan tingg. , sektor ekonomi, politik, sosial, budaya, hingga lembaga keagamaan dan masyarakat luas, semuanya perlu bergerak bersama untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang lebih baik (Sulaiman et al. , 2. Al-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. No. Dwi Adhi Widodo. Syaiful Hadi. Misbahun Nidhom Gambar 1. Model Pedagogi Digital Humanis Gambar 1 menjelaskan model pedagogi digital-humanis sebagai inti transformasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era Society 5. 0, dengan menekankan integrasi antara teknologi dan internalisasi nilai sosial secara sistematis. Secara konseptual, alur model menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar instrumen pembelajaran, melainkan ekosistem yang membentuk pengalaman belajar melalui pendekatan blended learning dan proyek sosial berbasis digital. Kebaruan utama terletak pada dua dimensi strategis, yaitu pertama, transinternalisasi nilai berbasis pengalaman digital-proyek sosial yang memungkinkan peserta didik mengaktualisasikan nilai empati, tanggung jawab, dan toleransi dalam ruang fisik dan siber secara simultan. dan kedua, reposisi guru PAI sebagai mediator nilai dan etika digital . swah hasanah digita. yang berfungsi sebagai kurator moral sekaligus fasilitator literasi digital. Sintesis kedua aspek tersebut menghasilkan model karakter humanis-digital yang inklusif, adaptif, dan berdaya sosial, sehingga pembelajaran PAI tidak lagi bersifat normatif-doktrinal, tetapi kontekstual dan aplikatif dalam menjawab tantangan krisis kemanusiaan di era digital. Dengan demikian, bagan ini menegaskan pergeseran paradigma pendidikan Islam menuju pendekatan konstruktif yang menjadikan teknologi sebagai medium strategis dalam memperkuat dimensi etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial peserta didik. Solusi inovatif untuk menghadapi tantangan implementasi pendidikan agama Islam di era 5. 0 dengan strategi internalisasi nilai-nilai sosial sebagai pembentukan karakter Strategi tersebut mencakup penggunaan metode pembelajaran kreatif dan interaktif yang sesuai dengan karakter siswa modern, seperti pembelajaran berbasis proyek dan media digital interaktif agar materi lebih menarik dan mudah dipahami. AL-Mabhats: Jurnal Penelitian Sosial Agama Ae Vol. 10 No. Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Strategi Pembentukan Karakter Humanis di Era 5. Pengintegrasian teknologi secara positif juga ditekankan, memanfaatkan platform digital untuk dakwah dan edukasi Islami sembari mengajarkan etika digital yang baik. Guru berperan sebagai teladan maupun fasilitator yang menginspirasi melalui perilaku seharihari, sehingga nilai-nilai Islam dapat hidup dalam moral dan spiritual siswa. Pendekatan inklusif dan dialogis penting dilakukan dengan menghargai keberagaman budaya, sosial, dan kemampuan siswa agar pembelajaran relevan dan dapat diterima semua peserta didik. Selain itu, penguatan karakter dan nilai moral dilakukan secara konsisten melalui pembiasaan, kegiatan keagamaan, dan refleksi harian, sehingga pemahaman agama tidak sekadar teori tetapi diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Terakhir, kolaborasi erat antara guru, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter dan spiritual siswa secara Strategi holistik ini siap menghadirkan pendidikan agama Islam yang adaptif dan humanis di tengah dinamika era industri 5. KESIMPULAN Internalisasi nilai-nilai sosial dalam PAI merupakan strategi krusial dalam membentuk karakter humanis yang adaptif terhadap dinamika Era Society 5. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi ini tidak lagi bertumpu pada penyampaian norma secara teoretis, melainkan melalui integrasi pedagogi digital-humanis yang memanfaatkan teknologi sebagai medium penguatan etika. Data analisis membuktikan bahwa penerapan metode blended learning dan Kurikulum Merdeka berbasis proyek sosial mampu mentransformasi nilai-nilai abstrak seperti empati dan tanggung jawab menjadi praktik sosial nyata yang dapat diobservasi dalam interaksi digital maupun fisik peserta didik. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada reposisi peran guru PAI sebagai mediator nilai dan etika digital . swah hasanah digita. , yang berperan menyaring pengaruh negatif globalisasi sekaligus membimbing kesadaran moral peserta didik di ruang siber. Dengan demikian, argumentasi mengenai internalisasi nilai sosial sebagai strategi pembentukan karakter humanis didasarkan pada temuan bahwa PAI yang adaptif mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyeimbangkan kecakapan teknologi dengan kematangan spiritual. Implikasinya, penguatan karakter humanis di era modern memerlukan sinergi berkelanjutan antara inovasi metodologi pembelajaran, keteladanan guru dalam literasi digital, serta kolaborasi aktif dengan lingkungan sekolah dan keluarga. REFERENSI